Proses Kognitif dalam Konseling Individu

Konseling individu menuntut konselor untuk melakukan kinerja kognitif selama menerima informasi dari konseli. Ketidak-efektifan kinerja kognitif konselor selama proses konseling berdampak merugikan terhadap proses konseling, diantaranya:

  1. Pemahaman empati yang tidak akurat. Empati menuntut konselor untuk bisa memahami kerangka acuan internal (internal frame of references) secara objektif dan komprehensif. Ketiadaan proses kognitif yang tepat membuat pemahaman yang objektif dan komprehensif menjadi sulit tercapai.
  2. Respon attending, yakni pelacakan pesan verbal (verbal tracking) yang tidak runtut atau melompat-melompat. Ketika konseli mengutarakan suatu pesan, maka pendalaman berikutnya oleh konselor diharapkan tidak jauh dari topik pesan tersebut. Proses kognitif yang tidak efektif menjadikan verbal tracking sulit dilaksanakan.
  3. Fokus konseling pada lingkungan atau situasi eksternal (dari luar diri) konseli. Selama proses konseling, konselor diharapkan senantiasa memfokus (memperhatikan) kondisi internal dari dinamika psikologis konseli, misalnya persepsi konseli tentang kenyataan yang dialaminya, penilaian konseli tentang kondisi yang dihadapi, pandangan pribadi tentang suatu keadaan, dan seterusnya. Proses kognitif yang tidak tepat mendorong konselor mendalami situasi eksternal, misalnya kapan suatu peristiwa dialami konseli, di mana kejadian peristiwa tersebut, bagaimana tanggapan orang di sekitar konseli atas kejadian tersebut, dan lain-lain. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat memfokus pada kondisi eksternal membutuhkan proses kognitif yang tidak terlalu kompleks dibandingkan dengan berusaha memahami dinamika psikologis dari kondisi kerangka acuan internal.

Saat ketiga dampak di atas terjadi, maka konseling yang memiliki nilai bantuan bagi konseli tidak akan terwujud. Oleh karena itu, apa saja proses kognitif yang terjadi saat konselor menangkap pesan dari konseli?

Setidaknya terdapat empat proses kognitif yang perlu dilakukan konselor yang terjadi secara siklusitas. Berikut ini bentuk proses kognitif tersebut.

  1. Menangkap pesan dari ungkapan konseli. Di tahap ini konselor dituntut untuk mampu menerima secara tepat, akurat dan komprehensif akan pesan-pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan konseli. Sangat diharapkan dalam proses ini konselor tidak melupakan satu atau lebih pesan yang disampaikan konseli. Oleh karena itu, jika pesan konseli terlalu panjang maka konselor dapat menggunakan teknik komunikasi penyimpulan (summary) bagian, parafrase, ataupun teknik lain yang relevan. Jika konselor merasa tidak terlalu yakin dalam memahami pesan yang disampaikan konseli, maka konselor dapat menggunakan teknik komunikasi klarifikasi (clarrification) atau teknik lain yang relevan.
  2. Menginterpretasi pesan konseli dari pendekatan konseling yang diaplikasikan. Sebagaimana diketahui bahwa pelaksanaan konseling diharapkan didasarkan pada suatu pendekatan konseling, baik satu pendekatan tertentu ataupun eklektik atau integratif. Apapun pendekatannya, konselor dalam tahapan ini diharapkan mampu mengaplikasikan konsep dari pendekatan konseling untuk memahami dinamika psikologis yang terjadi dalam kerangka acuan internalnya. Penginterpretasian pesan konseli dari perspektif pendekatan tertentu mendorong konselor untuk senantiasi memahami konseli dari sudut pandang internal konseli, bukannya kondisi atau situasi eksternal yang telah dibahas sebelumnya. Di proses inilah, konselor yang menggunakan pendekatan Person Centered, misalnya, akan melihat dan memahami dengan cara yang berbeda dinamika psikologis konseli dibandingkan dengan konselor yang menggunakan pendekatan Reality Therapy. Di tahap ini, konselor juga dituntut untuk mampu mengintegrasikan antar pesan konseli sehingga menjadi pola yang bermakna sebagaimana dilihat dari perspektif pendekatan konseling tertentu.
  3. Merancang arah pembicaraan berikutnya. Pemahaman konselor akan kondisi internal konseli yang dipandu oleh pendekatan tertentu diharapkan memberikan nilai implikatif bagi konselor dalam mengorientasikan arah pembicaraan konseling berikutnya. Arah pembicaraan ini tentunya relevan dengan topik pembicaraan konseli sebelumnya (verbal tracking) dan terpandu sesuai dengan koridor pendekatan konseling yang diaplikasikan.
  4. Menentukan teknik komunikasi konseling yang relevan. Setelah ditentukan arah pembicaraan konseling berikutnya, konselor diharapkan dapat memilih teknik komunikasi konseling yang tepat. Pemilihan ini penting karena esensinya teknik komunikasi konseling diarahkan untuk menjaga netralitas ujaran konselor. Ketidaktepatan teknik komunikasi konseling yang diterapkan konselor berresiko terhadap gagalnya proses konseling mengingat inti dari proses konseling adalah komunikasi.

Dari penjelasan kognitif tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa setidaknya ada dua hal yang mendasari konseling individu, yakni (1) teknik komunikasi konseling, dan (2) pendekatan konseling. Di sisi lain, dari paparan ini dapat dianalisis beberapa hambatan yang seringkali menyebabkan konseling tidak efektif.

  1. Mind skills, berkaitan dengan motif dan berbagai ujaran pribadi (self-talk) yang mempengaruhi kinerja kognitif. Saat konselor mendengarkan informasi dari pesan konseli, maka sebenarnya konselor juga melakukan proses self-talk dalam pikirannya. Isi self talk yang terkait mind skills bisa jadi menguntungkan maupun merugikan. Pada konselor pemula, sering kali ujaran dalam pikiran mereka berkaitan dengan tuntutan untuk segera mencarikan solusi atas hambatan yang dialami konseli, menuntut untuk memberikan respon atas ungkapan konseli secepatnya, melarang untuk melakukan kesalahan, dan lain-lain. Self-talk semacam ini membuat konselor sibuk dengan dirinya-sendiri, dan melupakan diri untuk memfokus pada informasi yang diberikan konseli. Resiko lebih jauh dari konselor yang terhayut dalam mind skills yang tidak tepat adalah terjadinya counter-transference pada konselor yang tidak disadarinya.
  2. Kemampuan menangkap informasi dari ungkapan verbal dan non-verbal konseli. Di samping dikarenakan faktor mind skills sebagaimana dijelaskan di atas, kemampuan menangkap informasi juga dipengaruhi oleh faktor inteligensi dan jumlah pokok-pokok informasi yang harus diproses konselor (cognitive load). Oleh karena itu, konselor diminta untuk bisa mengorganisir informasi yang diperoleh dari konseli ke dalam pola-pola yang bermakna. Kebermaknaan pola informasi yang ditangkap ini, salah satunya, disesuaikan dengan pendekatan konseling yang diaplikasikan. Sebagai contoh, konselor dengan pendekatan Person Centered akan terbantu untuk mengorganisir informasi dari konseli dari pola inkongruensinya sehingga menghasilkan sesuatu yang dikeluhkan dalam proses konseling.
  3. Tingkat pemahaman pendekatan konseling. Konselor, agar dapat menjalankan konseling secara efektif, dituntut untuk menguasai pendekatan konseling yang diaplikasikan dalam konseling secara komprehensif dan mendalam. Pemahaman ini tidak cukup hanya pada level menghafal atau mengenali, melainkan pada level analisis. Dengan demikian konselor mampu memahami konseli perspektif yang diterapkannya dalam konseling.

Sebagai penutup, paparan ini dimaksudkan untuk memperjelas peran pendekatan konseling dan keterampilan komunikasi konseling dalam konseling individu. Pengalaman praktik, perbaikan motif dalam konseling dan self-talk, kemauan untuk mendalami konsep pendekatan konseling, dan kesadaran untuk memperhatikan etika dalam konseling diperlukan untuk meningkatkan kualitas konseling yang selama ini dipandang sebelah mata oleh banyak kalangan. Semoga bermanfaat!

Foto Profil dari Sunawan

Tentang Sunawan

Sunawan, Ph.D. adalah seorang tenaga pengajar pada Jurusan Bimbingan Konseling FIP Universitas Negeri Semarang. Saat ini dia berfokus pada isu-isu tentang belajar, motivasi, konseling individual, dan statistik.
Tulisan ini dipublikasikan di Konseling individu dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco