SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Budaya Kekerasan dalam Perspektif Nilai-Nilai dan Etika Masyarakat Jawa
November 9th, 2015 by Uke Pramudita

     Suatu kebudayaan akan menuntun tingkah laku manusia, sedangkan budaya berfungsi memaksa bagi masyarakat. Nilai adalah alat ukur sesuatu yang dianggap baik atau buruk. Etika yaitu suatu kepantasan atau kesopanan. Bila dikaitkan satu dengan yang lain sesuai dengan masyarakat Jawa dimana kebudayaan Jawa identik dengan kebudayaan yang halus, ini sesuai dengan nilai-nilai dan etika masyarakat Jawa yaitu hormat, rukun, danisin. Akan tetapi pada masalalu masyarakat Jawa adalah etnis yang keras dan menjadi “bangsa penakluk” dibuktikan dengan kerajaan Majapahit yang sukses menaklukan hampir seluruh Asia Tenggara.

     Budaya kekerasan merupakan gagasan yang mendasari perilaku masyarakat  dalam melakukan tindakan kekerasan. Meskipun bertolak belakang dengan etika Jawa akan tetapi budaya kekerasan sudah ada terlebih dahulu yang mana diwariskan dari generasi ke generasi. Pada masa kerajaan  kekerasan timbul akibat dari adanya Perjanjian Giyanti, disini wayang merupakan alat media untuk mensosialisasikan kekerasan. Kekerasan pada masa reformasi 1998 dimana terjadi amok masa yang sangat anarkis dengan melakukan pembakaran dan pembunuhan, kekerasan tersebut bertujuan untuk menjatuhkan peralihan kekuasaan. Namun kekerasan bisa dijinakan, sebagai salah satu contohnya adalah fenomena saat masa mendatangi pisowanan ageng 20 Mei sebenarnya memiliki potensi kekerasan apalagi kondisi perut yang lapar akan tetapi dapat diantisipasi dengan model gunungan garebeg. Makanan tersebut tidak berupa gunungan akan tetapi makanan dan minuman diberikan secara gratis di pinggir-pinggir jalan.

     Budaya alus dan budaya kasar dapat diperumpamakan dengan cerita pertarungan wayang antara Arjuna dan Buto Cakil. Yang mana pertarungan tersebut adalah symbol kekerasan yang berujung pertarungan antara kutub alus (Arjuna) dan kutub kasar (cakil). Dalam  struktur masyarakat Jawa watak alus mempunyai nilai derajat yang tinggi, yaitu identik dengan para bangsawan sedangkan watak kasar itu identik dengan wong cilik.


3 Responses  
  • Diah Rohmatul Laeli writes:
    November 19th, 20153:20 pmat

    bagaimana jika artikel tersebut dikaitkan dengan kondisi masyarakat jawa pada saati ini kak 🙂

  • Farika Tri Ariyanti writes:
    November 21st, 20154:48 pmat

    Sebaiknya tulisan religi dan etika jawa di atas diganti dengan judul, smgt menulis kakak 🙂

    • Uke Pramudita writes:
      November 22nd, 20155:38 amat

      Terima kasih kakak buat masukanya


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar