SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Kontribusi Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Air
November 18th, 2015 by Uke Pramudita

  • Latar Belakang

     Air merupakan kebutuhan pokok penduduk sehari-hari, sehingga dapat dikatakan penduduk tidak dapat hidup tanpa air. Dalam rumah tangga, air digunakan untuk air minum, memasak, mencuci, mandi, membersihkan misal : mengepel atau cuci kendaraan dan untuk keperluan lain. Kebanyakan, rumah tangga juga membuang air sisa atau limbah yang seharusnya dikelola dengan baik untuk menjaga kebersihan lingkungan, karena genangan air limbah dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

     Di sisi lain, pertambahan jumlah penduduk yang tajam dan pertumbuhan ekonomi yang terus dipacu telah menyebabkan kebutuhan sumber air meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas dan bahkan melebihi ketersediaannya. Hal tersebut menyebabkan kelangkaan sumberdaya air. Perempuan sebagai subyek sentral di sektor domestik mempunyai peran penting dalam pengelolaan khususnya pemanfaatan sumberdaya air di lingkungan rumah tangga, sehingga pemberdayaan perempuan agar mampu mengoptimalkan penggunaan air harus segera dilakukan

     Mengingat campur tangan manusia terhadap alam ibarat pisau bermata dua yaitu bersifat merusak atau melestarikan alam, maka pilihan kedualah yang tentunya kita dukung dalam jangka waktu ke depan. Campur tangan manusia yang peduli lingkungan bisa sangat bermanfaat bagi kelestarian alam, walaupun hanya dilakukan sebagian kecil anggota masyarakat.

     Jika selama ini, orang berpikir bahwa upaya pelestarian alam adalah tugas para pecinta alam, peneliti, pendidik, masyarakat adat, organisasi non pemerintah dan pemerintah semata, kini sudah waktunya untuk merubah pikiran seperti itu. Siapapun berperan dalam upaya pelestarian alam dan lingkungan, termasuk perempuan.

     Sehingga dari sini saya akan memaparkan bagaimana kontribusi perempuan dalam pengelolaan sumber daya air di desa Rahtawu, dan sejauhmana peran perempuan dalam pemanfaatan sumber daya air di desa Rahtawu. Mengingat bahwa, meskipun desa Rahtawu letaknya berada pada lereng Gunung Muria yang notabenya banyak sumber mata air. Namun ketersediaan air bersih mereka mengalami kelangkaan pada saat musim kemarau.

  • PEMBAHASAN

     Dalam KTT Bumi tahun 2002 yang diselenggarakan di Johannesburg, masalah air merupakan salah satu isu utama yang dibicarakan di samping masalah sanitasi. Pada konvensi itu disebutkan bahwa penduduk dunia yang tidak memiliki akses terhadap air bersih adalah sekitar satu milyar. Sedangkan menurut Human Development Index, 2002, yang dikeluarkan oleh UNDP antara lain dikatakan bahwa masih ada sekitar 16 negara di mana penduduk yang memiliki akses terhadap “improved water sources” kurang dari 50% sedangkan sekitar 1,2 milyar penduduk yang kurang memiliki akses terhadap “clean water”.

     Air sebagai kebutuhan penting dalam keluarga, dimana sebuah keluarga akan membutuhkan puluhan liter air bersih per hari untuk keperluan sehari-hari. Tidak jarang dalam memenuhi kebutuhan air bersih, banyak yang harus membeli air dari para penjual air dengan harga yang relatif tinggi atau mengambil air langsung ke sumber air yang umumnya cukup jauh dari tempat tinggal. Ini disebabkan karena sumur dan sumber air mengering akibat musim kemarau. Hampir semua penduduk dari desa Rahtawu mengandalkan kebutuhan air bersih dari sumber mata air, mengingat letak desa Rahtawu yang berada di lereng Gunung Muria sehingga banyak terdapat banyak sumber air.

     Sebagaimana keberadaan air di daerah pegunungan yang mengalir sepanjang masa, air di desa Rahtawu merupakan benda sosial yang bisa diakses oleh semua masyarakat. Ketika air dikelola dengan baik akan sangat berguna untuk beraktivitas. Sehingga disini peran ibu dalam penggunaan air di dalam keluarga memiliki andil besar, hal ini terkait dengan aktivitas seorang ibu yang membutuhkan air untuk memasak, mencuci dan membersihkan rumah.

     Pelibatan partisipasi perempuan dalam pengelolaan sumber daya air sangat penting. Dalam budaya partiarkis, peran perempuan terpinggirkan. Kontrol terhadap sumber daya alam yang menopang kehidupan perempuan sebagian besar masih jauh dari jangkauan tangan perempuan. Padahal aktivitas keseharian perempuan sangat terkait dengan ketersediaan air bersih di keluarga. Beberapa peran perempuan di desa Rahtawu dalam penggunaan air di keluarga bisa terlihat dari beberapa wawancara yang saya lakukan dengan Ibu Sunarti, Ibu Widi dan Ibu Sun yang hampir serupa mengatakan ”Mengelola air di keluarga untuk MCK, memasak dan kebutuhan sehari-hari”. Pelibatan perempuan dalam menjaga melindungi atau merawat sumber air seperti mengecek selang, menjaga air terus mengalir untuk mandi, mencuci dan buang air besar jika suami tidak di rumah merupakan aktivitas nyata adanya peran perempuan dalam turut merawat sumber air. Selain sebagai pengguna, perempuan juga bisa dan dapat diaktifkan dan difungsikan sebagai pengelola prasarana dan sarana air bersih, dengan membentuk kelompok swadaya masyarakat di bidang air bersih, sehingga sangat memungkinkan untuk mengelola prasarana dan sarana air bersih dengan wilayah pelayanan terbatas atau di lingkungan sekitarnya. Penyediaan air bersih yang dilakukan oleh komunitas ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan penyediaan air bersih di lingkungannya.

     Dalam hasil wawancara dengan Ibu Sunarti tentang bagaimana usaha untuk mendapatkan air bersih, beliau menjelaskan bahwa pengorbanan atau biaya yang dikeluarkan oleh warga desa Rahtawu sebagai bentuk usaha untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan air keluarga antara lain dengan cara membeli selang, pralon atau pipa yang mengalirkan air bersih dari sumber mata air hingga cekdam penampungan, kemudian dialirkan ke beberapa rumah warga yang tergabung dalam suatu kelompok. Dimana dalam tiap kelompok tersebut diadakan iuran untuk biaya perawatan atau perbaikan saluran air. Pembuatan cekdam untuk bak penampungan air sebelum dibagi atau disalurkan ke rumah warga membutuhkan biaya untuk membeli bahan material antara Rp 100.000,- sampai dengan Rp 1.500.000,- yang ditanggung secara bersama dan pengerjaannya juga dilakukan secara bergotong-royong.

     Meskipun sudah ada usaha yang dilakukan untuk mendapatkan air bersih namun ada beberapa keluarga yang mengalami kesulitan air. Pada musim kemarau akan mengalami kesulitan pasokan air bersih. Hal itu dikarenakan debit air kurang kuat sehingga aliran air tidak mencapai ke bak penampungan di rumah-rumah warga desa Rahtawu. Akibatnya warga yang kekurangan pasokan air bersih terpaksa mencari sumber mata air baru dan berjalan jauh untuk mendapatkan atau mengambil air atau mengungsi ke rumah sanak saudara yang airnya masih mengalir serta menggunakan air sungai.

     Bagi warga yang sulit mendapatkan air bersih, itu terjadi bukan hanya karena musim kemarau yang menyebabkan kekeringan. Namun ada beberapa factor dari manusia itu sendiri yang menyebabkan sulit mendapatkan air bersih, yaitu karena kelalaian dan tidak adanya kesadaran untuk menjaga air bersih agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Misalnya saja seperti peralon yang rusak maka air akan berkurang dikarenakan debit air kurang kuat sehingga aliran air tidak mencapai ke bak penampungan di rumah-rumah warga, maupun non teknis misalnya tersumbatnya saluran air. Itu semua terjadi karena sebagian besar warga tidak pernah terlibat dalam merawat sumber air, tidak pernah terlibat dalam menjaga, melindungi atau merawat sumber air seperti mengecek selang, menjaga air agar terus mengalir untuk mandi, mencuci dan buang air besar.

     Antropolog Julian Steward (1902-1972) menciptakan istilah, membayangkan ekologi budaya sebagai metedologi untuk memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Dalam Teori Perubahan Budaya : Metodologi Evolusi Multilinear (1955), ekologi budaya merupakan “cara-cara dimana perubahan budaya yang disebabkan oleh adaptasi terhadap lingkungan.” Ini berarti bahwa sementara lingkungan mempengaruhi karakter adaptasi manusia, itu tidak menentukan hal itu. Dilihat dalam jangka panjang, hal ini berarti bahwa lingkungan dan budaya berada pada lebih atau kurang trek evolusi terpisah dan bahwa kemampuan satu untuk mempengaruhi yang lain tergantung pada bagaimana masing-masing terstruktur.

     Ekologi budaya mengakui bahwa ekologi lokal memainkan peran penting dalam membentuk budaya suatu daerah. Dimana salah satu dalam metode dari Steward digunakan untuk menilai seberapa banyak pola-pola perilaku dipengaruhi aspek lain dari budaya, misalnya saja seperti di desa Rahtawu yang kekeringan dan sulit mendapat air bersih, jika selama ini dalam budaya kita orang berfikiran bahwa upaya pelestarian alam adalah tugas para pecinta alam, peneliti, pendidik, masyarakat adat namun kini upaya pelestarian alam dan lingkungan dapat dilakukan oleh perempuan, apalagi masalah air yang mana disini perempuan lebih banyak dalam penggunaanya. Perempuan bisa dan dapat diaktifkan dan difungsikan sebagai pengelola prasarana dan sarana air bersih, dengan membentuk kelompok swadaya masyarakat di bidang air bersih.

     Seringkali orang memandang sebelah mata perempuan, namun perempuan-perempuan di desa Rahtawu memiliki konstribusi dalam pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhan air mereka, misalnya saja mereka menjaga melindungi atau merawat sumber air seperti mengecek selang, menjaga air terus mengalir untuk mandi, mencuci dan buang air besar jika suami tidak di rumah merupakan aktivitas nyata adanya peran perempuan dalam turut merawat sumber air. Dari sini dapat kita lihat bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa mengerjakan pekerjaan tersebut, namun perempuan juga dapat melakukanya.

  • Kesimpulan

     Usaha-usaha pengelolaan sumber daya air di desa Rahtawu sudah dilakukan oleh beberapa perempuan tetapi masih terbatas pada pengaturan dan pemanfaat air di ruang domestik atau rumah. Pembuatan dan pemeliharaan saluran air sebagai usaha pemenuhan kebutuhan air bersih keluarga bisa dilakukan secara bersama.

     Terdapat kontribusi perempuan dalam pengelolaan sumber daya air di desa Rahtawu, walaupun masih terbatas dalam pengaturan air di rumah seperti untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, MCK dan mewakili suami jika sedang tidak ada di rumah atau pergi. Peran perempuan dalam pemanfaatan sumber daya air di desa Rahtawu masih terbatas di ruang domestik dengan mengelola air di rumah untuk berbagai macam keperluan.


13 Responses  
  • Sefira Rizki Ayu Nindia writes:
    November 19th, 20151:15 amat

    good

  • Diah Rohmatul Laeli writes:
    November 21st, 20156:46 amat

    semangat menulis artikel selanjutnya kakak 🙂

  • Nur Awaliya Maulida writes:
    November 22nd, 20153:34 amat

    Sebaiknya keterangan “latar belakang” dihilangkan. Karena pembaca sudah mengerti jika diawal sebuah artikel adalah latar belakang. Terima kasih kakak 🙂

    • Uke Pramudita writes:
      November 22nd, 20155:38 amat

      Terima kasih kakak buat masukanya

  • Sekar Arum Ngarasati writes:
    November 22nd, 201512:05 pmat

    Tampilan blognya rapi, semangat menulis ya uke 🙂

    • Uke Pramudita writes:
      November 26th, 20151:51 amat

      terima kasih ayas 🙂

  • Rossy Juliana (Rojul) writes:
    November 22nd, 20153:25 pmat

    Artikelnya menarik ke. Semangat ngblog lagi 😀

    • Uke Pramudita writes:
      November 26th, 20151:52 amat

      terima kasih dek oci..

  • renny ayuningsih writes:
    November 22nd, 201510:12 pmat

    Blognya sudah menarik dari tampilannya. tingkatkan lagi.

  • Siti Fatimah writes:
    November 23rd, 201512:38 amat

    semangat mbak uke

  • inggit silvia writes:
    November 23rd, 20158:41 amat

    semangat cantikkkkkk

  • Nurul Aripin writes:
    November 26th, 201512:55 amat

    mampir juga ke blog saya ya

  • Uke Pramudita writes:
    November 26th, 20151:53 amat

    terima kasih teman-teman buat masukan dari kalian semua..


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar