SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
David Ricardo
December 4th, 2015 by Uke Pramudita

     David Ricardo lahir di Inggris-London pada tanggal 19 April 1772, merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Bapak dan ibunya adalah keturunan Yahudi dari Portugis yang kemudian pindah ke Belanda. Ia berkebangsaan Inggris yang hidup di awal abad ke 18 yang sangat mementingkan peran dunia usaha untuk bergerak dinamis guna menggerakan perekonomian sebuah negara. Buku yang dikarangnya berjudul “Principles of Political Economy and Taxation (1817).

Beberapa teori David Ricardo

  1. Teori Uang

     Latar belakang teori uang adalah pada periode 1809-10, Inggris mengalami inflasi besar karena biaya perang dan bank of England mencabut standar emas. Ricardo menciptakan kontroversi dengan menulis studi ekonomi pertamanya, the High Price Of Bullion (1811), dimana dia mengatakan bahwa inflasi negerinya diakibatkan karena Bank Of England menerbitkan bank note berlebihan. Ricardo percaya pada teori kuantitas uang yang ketat, yang juga dianut oleh David Hume, yang menyatakan bahwa tingkat harga umum terkait erat dengan perubahan jumlah uang beredar dan kredit. Untuk memulihkan situasi keuangan Di inggris, Ricardo menganjurkan pembukaan pembayaran oleh Bank Of England. Solusinya dinyatakan sebagai berikut :”pemecahan yang saya tawarkan untuk menanggulangi persoalan dalam keuangan kita adalah bank harus pelan-pelan menurunkan jumlah uang yang beredar sampai sebanding dengan logam (mulia) yang direpresentasikannya, atau dengan kata lain, sampai harga emas dan perak turun sampai senilai uangnya”(Ricardo 1876 :287 ). Ricardo mengakui kemungkinan munculnya “konsekuensi paling buruk perdagangan dan komersial negara” sebagai akibat dari tindakan deflasioner ini, tetapi dia mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk memulihkan keuangan agar mencapai nilai yang tepat dan wajar.” menurut Ricardo, hal ini tidak akan banyak menganggu jika kebijakan tersebut dilaksanakan secara bertahap ringkasnya, Ricardo memilih standar nilai tukar emas, yang bertujuan agar harga emas sama nilainya dengan uang kertas (banknote). Bank sentral tidak boleh memiliki kekuasaan bebas menetukan sendiri kebijakannya :”pihak yang mengeluarkan uang kertas harus mengatur pengeluarannya itu berdasarkan harga emas, dan bukan berdasarkan kuantitas uang kertas yang beredar”(1876:403).

  1. Teori/Hukum pertumbuhan ekonomi (Law of Diminishing of Return)

     Di tangan David Ricardo (1772-1823) teori pertumbuhan klasik mengalami pengembangan  lebih lanjut. Pengembangan ini berupa penjabaran model pertumbuhan menjadi suatu model yang lebih tajam, baik dalam konsep-konsep yang dipakai maupun dalam hal mekanisme  proses pertumbuhan itu sendiri.

     Proses pertumbuhan yang dibayangkan oleh Ricardo ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut :

Ø  Tanah terbatas jumlahnya.

Ø  Tenaga kerja (penduduk ) yang meningkat (atau menurun) sesuai dengan apakah tingkat upah diatas atau dibawah tingkat upah minimal [yang oleh Ricardo disebut tingkat upah alamiah (natural wage)].

Ø  Akumulasi capital terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik capital berada diatas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.

Ø  Dari waktu ke waktu terjadi kemajuan teknologi.

Ø  Sector pertanian dominan.

     Dengan terbatasnya tanah, maka pertumbuhan penduduk ( tenaga kerja ) akan menghasilkan produk marginal (marginal product) yang semakin menurun. Ini tidak lain adalah hukum produk marginal yang makin menurun atau lebih terkenal dengan nama the law of diminishing return.  Selama buruh yang dipekerjakan pada tanah tersebut bisa menerima tingkat upah diatas tingkat upah “alamiah”, maka penduduk (tenaga kerja) akan terus bertambah, dan ini akan menurunkan lagi produk marginal tenaga kerja, dan selanjutnya menekan kebawah tingkat upah. Proses ini akan berhenti apabila tingkat upah pada tingkat upah alamiah. Apabila, misalnya, timgkat upah ternyata turun dibawah tingkat upah alamiah, maka jumlah penduduk (tenaga kerja) menurun. Dan tingkat upah akan naik kembali pada tingkat upah alamiah. Pada posisi ini jumlah penduduk konstan. Jadi dari segi factor produksi tanah dan factor produksi tenaga kerja, ada stu kekuatan dinamis yang selalu menarik perekonomian kearah tingkat upah minimum, yaitu bekerjanya the law of diminishing return.

     Ricardo mengatakan bahwa akumulasi dan kemajuan teknologi cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Artinya  bisa mempelambat bekerjanya the law of diminishing  return sehingga memperlambat pula penurunan tingkat hidup kearah tingkat hidup minimal. Tetapi antara akumulasi capital dan teknologi itu sendiri terdapat perbedaan peranan. Ricardo mengatakan  bahwa akumulasi capital memang bisa memperlambat penurunan  produktivitas tenaga kerja. Apabila sipekerja diberi perlengkapan alat-alat yang lebih banyak , produktivitas meningkat. Tetapi ini ada batasnya . menurut dia, akumulasi capital hanya akan dilakukan orang apabila capital menerima imbalan (keuntungan) yang cukup. Tetapi factor produksi capital inipun, apabila diterapkan pada pekerja yang menggarap sebidang tanah (sumber alam ) tertentu, akan mengalami pula penurunan produktivitas  marginalnya. Dengan lain perkataan, akumulasi capital itu sendiri akan terkena oleh bekerjanya the law of diminishing return. Akibatnya penduduk marginal dari capital terus menurun dengan adanya proses akumulasi capital tersebut. Ini selanjutnya berakibat menurunnya imbalan (keuntungan) yang diterima oleh para penanam modal. Proses akumulasi capital ini akan berhenti apabila tingkat keuntungan diperoleh penanam modal turun sampai pada tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk mendorong mereka melakukan investasi. Dan apabika akumulasi capital berhenti, maka produktivitas tenaga kerja (dus, tingkat upah) juga tidak akan bisa dipertahankan pada tingkat yang tinggi (diatas tingkat upah alamiah ). Kita lihat disini bahwa pada akhirnya the law of diminishing return menang, meskipun ada akumulasi capital.

     Inilah inti dari proses pertumbuhan ekonomi (kapitalis) menurut Ricardo. Proses ini tidak lain adalah proses tarik-menarik antara kedua kekuatan dinamis, yaitu antara :

    Ø   The law of diminishing return, dan

    Ø   Kemajuan teknologi

     Ricardo menyimpulkan bahwa akhirnya the law of diminishing return lah yang akan menang. Akhirnya keterbatasan factor produksitanah (yang bisa ditafsirkan sebagai keterbatasan “sumber-sumber alam”) akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara hanya bisa tumbuh sampai batas yang dimungkinkan oleh sumber-sumber alamnya.

     The law of diminishing return berbunyi : “ apabila salah satu input tetap, sedang input-input lain ditambah penggunaanya (variable) maka tambahan out put yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input variable tersebut mula-mula menarik, akan tetapi kemudian seterusnya menurun, apabila input variable tersebut terus ditambah”) (Boediono 1999:20-21). Tambahan output yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input variable tersebut  tidak lain adalah produk marginal (marginal product) dari input variable tersebut. Oleh sebab itu the law of diminishing marginal product. Dalam perekonomian Ricardo, input yang tetap adalah tanah, dan input variabelnya adalah tenaga kerja dan capital. Produk marginal dari tenaga kerja dan capital. Produk marginal dari tenaga kerja dan dari capital akan menurun dengan semakin banyaknya kedua input variable ini digunakan (pada sebidang tanah yang tetap). Apabila pada suatu periode, tingkat upah masih diatas tingkat upah alamiah, tetapi tingkat keuntungan sudah pada tingkat keuntungan minimal, maka yang terjadi adalah :

   Ø Pertumbuhan penduduk terus berlangsung, tetapi

   Ø akumulasi capital berhenti

     Apabila kemajuan teknologi cukup cepat, maka akibat dari the law of diminishing return bisa dihambat atau bahkan dinetralisir. Jadi menurut pandangan Ricardo, proses pertumbuhan merupakan perpacuan antara the law of diminishing return yang “menarik kebawah“ perekonomian tersebut.

     Ricardo (bersama Malthus) mengembangkan hukum pendapatan yang menurun atau berkurang. Ricardo mengembangkan hukum ini pada 1815 dalam bukunya yang berjudul Essay On The Influence Of Law Price Of Corn On The Profits Of Stock. Pendekatan yang dipakai nya merupakan benih bagi teorisasi abstrak yang dipakai dalam Principles yang terbit pada 1817. Tesis utama Ricardo adalah kelangkaan tanah akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Dalam mengembangkan “model jagung”ini, Ricardo menggunakan sejumlah asumsi sederhana. Pertama, dia mengasumsikan satu pertanian besar memproduksi jagung (corn). (di inggris, istilah “corn” berarti pula gandum dan hasil pertanian lainnya). Kedua, dia mengasumsikan upah tetap riil yang konstan (setelah inflasi) berada pada level subsiten, berdasarkan “{hukum besi upah” yang dianut oleh Malthus dan Ricardo. Ketiga, dia mengasumsikan capital tetap, satu sekop per pekerja untuk memproduksi hasil jagung.

     Oleh karena itu, dalam model jagung Ricardo ini, semua input (tanah, tenaga kerja, dan capital atau modal ) dikaitkan dengan harga jagung. Saat tenaga kerja bertambah, diperlukan pula tambahan tanah untuk mendapatkan tambahan hasil-sebab tanah yang sudah dipakai berkurang kesuburannya atau produktivitasnya. Bahkan jika ditambahkan lagi tenaga kerja dan modal untuk kuantitas tanah yang sama, akan tetap sama atau tidak bertambah. Akibatnya adalah output bersih akan menurun, dan pertumbuhan ekonomi merosot.

  1. Teori Sewa Tanah (land rent) / Distribusi Pendapatan

     Dalam teori tentang sewa tanah ia menjelaskan bahwa jenis tanah berbeda-beda. Ada yang subur, kurang subur hingga tidak subur sama sekali. Produktivitas tanah yang subur lebih tinggi. Dengan demikian, untuk menghasilkan satu-satuan unit produksi diperlukan biaya-biaya (biaya rata-rata dan biaya-biaya marginal) yang lebih rendah pula. Makin rendah tingkat kesuburan tanah, jelas makin tinggi pula biaya rata-rata dan baiya marjinal untuk mengolah tanah tersebut. Makin tinggi biaya-biaya, dengan sendirinya keuntungan perhektar tanah menjadi semakin kecil pula. Berdasarkan penjelasan diatas, layak jika untuk sewa tanah yang lebih subur lebih tinggi dibandingkan dengan sewa tanah yang kurang subur, apalagi yang tidak subur. Teori tentang sewa tanah sebetulnya pernah dibahas oleh kaum fisiokrat dan Adam Smith. Akan tetapi, menurut kaum fisiokrat dan Adam Smith tingkat sewa ditentukan oleh tanah yang paling subur. Hal ini sangat bertolak belakang denga teori Ricardo. Bagi Ricardoyang menentukan tingginya tingkat sewa bukanlah tanah yang paling subur, melainkan tanah marjinal (marjinal land), yaitu tanah yang paling tidak subur yang terakhir sekali masuk pasar. Perbedaan ininsangat prinsipil bagi Ricardo. Dalam studinya tentang factor-faktor yang menentukan tinggi rendahnya sewa tanah Ricardo menggunakan analisis yang sama sekali baru dalam pembahasan ekonomi, yaitu pendekatan analisis marjinal (marginal analysis). Analisis marjinal ini dikemudian hari ternyata sangat penting dalam pengembangan teori-teori ekonomi, setelah dikembangkan oleh pakar-pakar neoklasik. (Deliarnov 2007:52-53).

     Teori distribusi pendapatan yang pertama kali. Ricardo juga mengemukakan konsekuensi praktis dari teorinya ini. Teori distribusi Ricardo mengandung tiga elemen; teori sewa, sebuah teori untuk menjelaskan upah dan sebauh teori Laba. Teorinya memperlihatkan bagaimana pendapatan nasional dibagi menjadi tiga kategori ini, dan apa yang terjadi pada sewa, upah dan laba ketika ekonomi tumbuh. Dalam menganalisa sewa Ricardo mengikuti Malthus (1970) sebelumnya, yaitu teori sewa diferensial. Upah pekerja, menurut Ricardo, tergantung pada keperluan subsistensi yaitu kebutuhan minimum yang diperlukan pekerja agar dapat bertahan hidup. Berbeda dengan Smith, Ricardo menginterpretasikan kebutuhan minimum ini dalam arti yang konvensional ketimbang dalam arti fisik, kebutuhan minimum “tergantung kepada lingkungan dan adat istiadat orang” (Ricardo 1951-5, vol.1, hlm.97). Ketika standar umum kehidupan meningkat, upah minimum yang dapat dibayarkan kepada pekerja juga meningkat.

     Terakhir, Ricardo berpendapat bahwa keuntungan atau laba adalah residu, atau yang disimpan oleh kapitalis setelah membayar sewa kepada pemilik tanah. Ricardo juga berpendapat bahwa rata-rata keuntungan akan sama dalam setiap industri karena jika satu industri memperoleh keuntungan yang lebih tinggi, akan lebih banyak modal yang masuk ke industry itu yang kemudian akan menurunkan harga dan keuntungan. Demikian juga, modal akan meninggalkan industry yang memperoleh laba yang rendah. Hal ini akan cenderung menaikkan harga dan keuntungan.

  1. Hukum Upah Besi dan Penurunan Profit Menurut Ricardo (Teori upah alami)

     Teori upah alami (natural Wages), Ricardo menjelaskan bahwa nilai tukar suatu barang ditentukan oleh ongkos yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut. Ongkos itu berupa biaya untuk bahan mentah dan upah buruh yang besarnya hanya cukup untuk dapat bertahan hidup (subsisten) bagi buruh yang bersangkutan. Upah buruh yang besarnya hanya cukup untuk sekedar dapat bertahan hidup ini disebut upah alami (natural wage). Menurut Ricardo, kalAu harga yang ditetapkan lebih besar dari biaya-biaya (termasuk upah alami), dalam jangka pendek perusahaan akan menikmati laba ekonomi. Adanya laba ini akan menarik perusahaan-perusahaan lainnya masuk pasar. Masuknya perusahaan-perusahaan baru berarti produksi akan meningkat, dan sebagai akibatnya akan terjadi kelebihan produksi (over supply) di pasar. Kelebihan penawaran barang akan mendorong harga-harga turun kembali pada keseimbangan semula. Karena biaya-biaya bahan mentah relative konstan, Ricardo menyimpulkan bahwa yang paling menentukan tingkat harga adalah tingkat upah alami, yang besarnya hanya cukup agar para buruh dapat bertahan hidup saja (hidup secara subsisten). Menurut Ricardo, besarnya tingkat upah alami ini ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan setempat (custom). Biasanya tingkat upah alami ini naik proporsional dengan standar hidup masyarakat. Akan tetapi, teori yang semula dimaksudkan untuk menjelaskan tentang nilai tukar suatu barang atau komoditas ini akan diterangkan kemudian oleh kaum sosialis dicap sebagai teori upah besi (iron law of wages). Teori ini akan mengikat kaum buruh pada suatu lingkaran setan yang tidak mungkin dilepaskan.(Deliarnov 2007:53).

     SISTEM Ricardo berakibat tragis bagi semua orang kecuali pemilik tanah. Buruh dalam sistem Ricardo adalah unit-unit yang seperti mesin dan hanya mendapatkan upah subsisten dalam jangka panjang. Jika upah naik, pekerja akan punya lebih banyak anak, yang pada gilirannya akan menaikkan pasokan (supply) tenaga kerja, dan memaksa upah turun kembali. Jadi, “hukum besi upah” Ricardo menghadirkan gambaran tragis bagi pekerja atau buruh.

     Pandangannya tentang profit juga tak lebih baik. Kapitalis tak dilihat sebagai pandangan hidup yang memiliki “ kecenderungan untuk berusaha, melakukan barter dan perdagangan” tetapi sebagai segerombolan orang yang menjemukan dan seragam yang secara mekanis menyimpan dan mengumpulkan capital. Profit hanya dapat meningkat dengan menurunkan upah, dan Vice Versa. Dalam sistem Ricardo, tidak ada ruang untuk upah tinggi dan profit tinggi pada saat bersamaan. Dalam Principles, Ricardo menyebut hubungan yang berkebalikan antara upah dan profit ini sebagai “teorema distribusi fundamental”. Dia berkali-kali mengatakan,”jika upah naik, maka profit akan turun” (Ricardo 1951 vol.1:111) dan “profit tergantung kepada upah’’(1951 vol.1:143 35).

     Yang lebih buruk, dalam jangka panjang profit atau laba cenderung jatuh karena “hukum pendapatan yang menurun”. Dibawah pandangan Ricardo yang buram ini, upah yang tinggi akan memicu pertambahan penduduk, yang berarti lebih banyak mulut yang harus disuapi, dan itu penggunaan tanah bertambah karenanya produktivitasnya menurun. Harga gandum akan naik, pemilik tanah akan untung, tetapi profit pekerja menurun karena kapitalis harus membayar pekerja lebih tinggi agar mereka tidak kelaparan (karena naiknya harga makanan).

  1. Teori Keuntungan Komparatif (comparative advantage)

     Teori keuntungan komparatif ini dikembangkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.

     Ricardo mengemukakan salah satu hukum terbesar dalam ilmu ekonomi, keuntungan komparatif , yang menjadi pukulan telak bagi proteksionisme. Seperti telah dikemukakan diatas, Ricardo mendukung perdagangan bebas semasa perdebatan corn law pada 1813-1815, tetapi kontribusinya yang terpenting untuk perdagangan bebas muncul beberapa tahun kemudian ketika dia mengembangkan hukum keuntungan komparatif di babVII dari Principles (1817).

     Hukum ini menyatakan bahwa “Perdagangan Bebas Akan Menguntungkan Kedua Belah Pihak, Dan Yang Paling Mengejutkan Adalah Perdagangan Bebas Akan Membuat Satu Negara Melakukan Spesialisasi Meskipun Suatu Negara Memiliki Keuntungan Absolute Dalam Produk Tertentu”. Teori Ricardo lain yang paling terkenal dan sering dianggap sebagai andalan utama system perdagangan bebas adalah teori keuntungan berbanding (comparative advantage). Berdasarkan teori ini, menurut Ricardo, setiap kelompok masyarakat atau negara sebaiknya menghkhususkan diri menghasilkan produk-produk yang dihasilkan lebih efisien. Selanjutnya, kelebihan produksi atas kebutuhan dapat diperdagangkan. Hasilnya dapat digunakan untuk membeli barang-barang lain yang tidak dibutuhkan lebih banyak. Ini jauh lebih banyak dibandingkan jika barang-barang tersebut harus dihasilkan sendiri. Dengan teori keuntungan berbanding itu, tidak diragukan lagi, Ricardo dianggap sebagai arsitek utama perdagangan bebas. Berkat pengaruh Ricardo, timbul gerakan anticorn law antara tahun 1820 hingga 1850, suatu gerakan yang menentang diaturnya tata niaga jagung di Inggris.

     Ahli ekonomi mengingat Ricardo terutama karena teori keunggulan komparatifnya. Teori ini memberikan justifikasi yang benar-benar digunakan oleh setiap ekonom untuk mendukung perdangan bebas. Tetapi Ricardo juga memberikan sumbangan ilmu ekonomi yang abadi. Ia menjelaskan bagaimana pendapatan nasional didistribusikan diantara upah, laba, dan sewa. Bagaimana distribusi pendapatan berubah dari masa ke masa, dan apa konsekuensi dari perubahan distribusi pendapatan bagi Inggris. Ia juga mengembangkan teori nilai kerja. Dalam the Wealth of Nations, Adam Smith berpendapat bahwa suatu Negara akan mengeskpor barang ke Negara ini lebih efisien dalam memproduksi barang tersebut. Smith menyebutnya sebagai “keunggulan absolit”. Menurut Ricardo, tidak ada masalah apabila suatu Negara kurang efisisen dalam memproduksi semua barang. Ia berpendapat perdagangan tergantung pada keunggulan komparatif, ataun efisiensi relatif, ketimbang pada keunggulan absolute. Ricardo kemudian menunjukkan bahwa Negara akan cenderung menjual barang-barang yang relative lebih efisien dalam produksinya, atau yang relative kurang inefisien dalam produksinya. Melalui spesialisasi, maka setiap negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan luar negeri. Sebuah contoh yang sederhana akan membantu menjelaskan teori ini. Anggap saja Jepang dan Amerika Serikat masing-masing memproduksi dua barang mobil dan beras. Di Amerika, seorang pekerja dapat memproduksi sebuah mobil atau satu ton beras dalam satu tahun tertentu. Di Jepang, seorang petani bisa memproduksi dua ton beras setahun, dan seorang pekerja pabrik dapat memproduksi tiga mobil dalam satu tahun. Untuk kedua barang tersebut pekerja Jepang jelas lebih produktif dibandingkan pekerja Amerika. Namun, pekerja Jepang relative lebih efisien dalam produksi mobil dan pekerja Amerika kurang inefisien dalam produksi beras. Pekerja Jepang tiga kali lebih efisien dalam industri mobil sedangkan inefisiensi pekerja Amerika hanya setengah dari efisiensi pekerja Jepang dalam menghasilkan beras. Yang didemonstrasikan Ricardo adalah bahwa Jepang dan Amerka sama-sama akan mendapatkan untung dari spesialisasi  dalam apa yang relatif lebih baik dalam produksi dan kemudian mereka akan saling berdagang.

     Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan lintas negara. Negara memproduksi sebagian kebutuhannya sendiri dan mengekspor kelebihannya, kemudian mengimpor apa yang tidak diproduksinya. Alasan negara melakukan perdagangan internasional didasari oleh teori Keuntungan Komparatif (comparative advantage), yang akan dijelaskan leih lanjutr di bagian bawah. Namun secara sederhana, adanya perdagangan akan menciptakan spesialisasi, yaitu setiap negara dapat menspesialisasikan pada barang dan jasa tertentu. Spesialisasi akan meningkatkan produktivitas, yang dalam jangka panjang akan meningkatkan standar hidup semua negara yang terlibat didalamnya. Perdagangan internasional merupakan jalan untuk menuju kemakmuran negara-negara.

  1. Teori Nilai Kerja

     Latar belakang dari teori ini adalah menentukan “ukuran nilai yang tetap” tetapi dia tidak memfokuskan pada emas sebagai unit nilai terdasar, tetapi pada kuantitas nilai kerja (bukan upah). Dalam tradisi klasik, Ricardo menitikberatkan pada teori nilai ongkos produksi, yakni bahwa harga umumnya ditentukan oleh ongkos (supply) ketimbang utilitas (demand). Dia menyadari ada perkecualian dalam teori biayanya ini, seperti “lukisan dan patung antic, buku dan uang langka, anggur dengan kualitas istimewa”(Ricardo 1951 :12),dan adanya dampak dari mesin. Tetapi mesin dan capital tak lain dari “tenaga kerja yang diakumulasikan”(1951:410). Dia kemudian menulis,” pendapat saya bahwa, dengan sedikit perkecualian, kuantitas kerja yang dipergunakan pada komoditas-komoditas akan menentukan tingkat pertukarannya satu sama lain adalah tidak benar sepenuhnya, tetapi saya mengatakan bahwa ini adalah perkiraan yang paling dekat dengan kebenaran, sebagai pedoman untuk mengukur nilai relative”(De Vivo 1987:193).

DAFTAR PUSTAKA

Boediono. 1999. Teori Pertumbuhan Ekonomi. BPFE. Yogyakarta

Deliarnov. 2007. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. PT. Raja Grafindo. Jakarta

Presman Steven. 2002. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. PT. Raja Grafindo. Jakarta

Skousen Mark. 2006. Sejarah Pemikiran Ekonomi Sang Maestro Teori-teori Modern. PT. Prenada Media. Jakarta

http://yasinta.net/perdagangan-internasional-dan-keuntungan-komparatif-international-trade-and-comparative-advantage/


One Response  
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar