SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek
December 4th, 2015 by Uke Pramudita

  • Latar Belakang

     Pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terencana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.Pembangunan sepertinya sebagai suatu fenomena yang tidak habis-habisnya dibahas dalam kerangka kajian keberlangsungan hidup manusia. Fenomena ini melekat sebagai salah satu cirri kehidupan m anusia yang kerap mengalami perubahan menurut berbagai dimensi yang ada.

     Konsep  pembangunan biasanya melekat dalam konteks kajian suatu perubahan, pembangunan disini diartikan sebagai bentuk perubahan yang sifatnya direncanakan, setiap orang atau kelompok orang tentu akan mengharapkan perubahan yang mempunyai bentuk lebih baik bahkan sempurna dari keadaan yang sebelumnya, untuk mewujudkan harapan ini tentu harus memerlukan suatu perencanaan. Seperti fenomena pembangunan yang berada di Kudus, pembangunan yang dilakukan akan menjadikan ikon baru Kota Kretek. Dengan bangunan tersebut, Kudus diharapkan bisa mengokohkan diri sebagai Kota Kretek. Melihat fenomena pembangunan yang tidak habis-habisnya dibahas, maka saya bermaksud untuk memaparkan sebuah laporan yang akan membahas dan mengupas lebih jauh tentang pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek.

  • Pembahasan

     Pembangunan pada hakekatnya adalah suatu proses transformasi masyarakat dari suatu keadaan pada keadaan yang lain yang makin mendekati tata masyarakat yang dicita-citakan, dalam proses transformasi itu ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu keberlanjutan dan perubahan, tarikan antara keduanya menimbulkan dinamika dalam perkembangan masyarakat.

     Pengetian sosiologi pembangunan adalah cara menggerakan masyarakat untuk mendukung pembangunan dan masyarakat adalah sebagai tenaga pembangunan dan dampak pembangunan.

     Terkait dengan sosiologi pembangunan, saya melakukan observasi dilakukan pada hari selasa, 27 Desember 2014 pukul 11.00 di kota Kudus dekat dengan terminal yang merupakan daerah perbatasan antara Kudus dengan desa Karang Anyar. Dalam observasi saya mewawancarai salah seorang yang terlibat dalam pembangunan, dan yang menjadi narasumber saya adalah beliau bapak Tri Joko Waluyo yang menjabat sebagai Management Konstruksi, beliau berasal dari Semarang.

     Pembangunan ini terletak di desa Jati Wetan jalan R. Agil Kusumadya atau berjarak sekitar setengah kilometer dari terminal Induk Kudus dikawasan Tanggul Angin yakni desa paling selatan di kota Kudus yang berbatasan dengan desa Karang Anyar yang ada di kabupaten Demak.

     Pembangunan dibiaya sepenuhnya oleh PT Djarum, PT Djarum merupakan perusahaan rokok yang berada di Kudus dan merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Pembangunan yang difasilitasi oleh PT Djarum akan dinamakan Gerbang Kudus Kota Kretek karena di kota Kudus merupakan kota yang memproduksi berbagai macam jenis rokok, sehingga kota kretek adalah identitas dari kota Kudus. Pembangunan ini diklaim sebagai bangunan termegah tidak hanya tingkat nasional namun pembangunan gerbang ini termegah tingkat Asia Tenggara denganbiaya pembangunan gerbang menelan kurang lebih 16 miliar.

     Bentuk dari bangunan ini didesain menyerupai daun tembakau yang merupakan bahan utama pembuatan rokok dengan struktur penyangga replika daun tembakau yang didesain menyerupai bunga cengkeh, sehingga ada dua replika bahan campuran rokok kretek di bangunan tersebut. Tinggi bangunan sekitar 12 meter dari permukaan jalan dengan lebar 21 meter yang dapat memayungi sisi kanan dan kiri ruas jalan. Sedangkan replika daun tembakaunya memiliki 100 tulang bahan dasar dari logam yang berbahan stainless khusus yang didatangkan dari Australia, yang akan dibagi menjadi dua yaitu 50 tulang berada disebelah kanan dan 50 tulang lagi berada disebelah kiri, sedangkan untuk penyangganya dibangun tepat dimedian jalan.

     Tahap pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek telah dimulai sejak akhir 2013 lalu. Tahap awal dilakukan dengan membongkar bangunan lama di kawasan Taman Tanggul Angin. Bangunan tersebut, yakni replika Menara Kudus yang telah lama menjadi ikon untuk menyambut pengendara yang memasuki wilayah Kudus. Kawasan Taman Tanggul Angin terletak di jalur Pantura, yang merupakan jalan nasional. Tahap kedua yakni pengecoran pondasi sebagai dasar bangunan. Pembangunan ini ditargetkan selesai pada bulan Januari 2015 mendatang.

     Gerbang tersebut diproyeksikan akan menjadi ikon baru Kota Kretek. Dengan bangunan gerbang futuristik tersebut, Kudus diharapkan bisa mengokohkan diri sebagai Kota Kretek. Karena, selama ini jargon tersebut memicu perdebatan di sejumlah kota lain di Indonesia, yang memiliki industri rokok besar. Perdebatan tersebut terkait klaim beberapa kota lain selain Kudus, sebagai kota pertama munculnya rokok kretek.

     Dengan dibangunya Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) yang dipadukan dengan tata cahaya dengan penataan dan kekuatan yang sangat fantastis sehingga bakal menjadi daya tarik tersendiri untuk Kota Kudus. Gerbang Kudus yang bisa dijadikan ikon baru tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan promosi objek wisata yang ada di Kudus. Diharapkan ketika ada pengunjung yang melihat Gerbang Kudus Kota Kretek juga tertarik berkunjung ke objek wisata lain yang ada di Kudus, objek wisata yang tidak hanya didominasi wisata religi, karena ada pula objek wisata alam maupun wisata kuliner.

     Meskipun pembangunan gerbang difasilitasi oleh PT Djarum namun pemerintah juga berperan atau ikut andil dalam pembangunan ini. Peran dari pemerintah itu sendiri adalah pemerintah memberikan izin atas pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek, pemerintah memfasilitasi dengan menyediakan lahan untuk pembangunan tersebut, meresmikan pembangunan yang akan di kerjakan. Selain itu pemerintah juga sering meninjau perkembangan pembangunan dan melihat langsung proses pembangunan gerbang tersebut.

     Untuk mengerjakan pembangunan ini, bekerjasama dengan kontruktor dengan sistem borongan. Untuk jumlah pekerjanya ada 40an orang. Untuk jam kerjanya sendiri yaitu jam kerja normal dimulai pada jam 7 pagi hingga jam 4 sore, tidak adanya sistem kerja sif. Para pekerja mendapatkan jatah makan dari proyek hanya 1 kali dalam sehari yaitu hanya makan siang. Sampai sekarang belum pernah terjadi kecelakaan kerja oleh para pekerja, walaupun semisal nantinya terjadi kecelakaan kerja dalam proses pembangunan sudah di kover asuransi untuk para pekerja.

     Masalah dalam pembangunan ini yaitu karena lokasi pembangunan gerbang berada tepat di tengah-tengah dua jalur, yakni Kudus-Demak dan Demak-Kudus yang merupakan akses utama pantura timur, sehingga dengan kehadiran Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) yang saat ini sedang dalam tahap penyelesaian memicu kemacetan di kawasan Tanggulangin, sebab kawasan tersebut bisa menjadi semakin padat.

     Sebelum proyek bernilai 16 miliar itu dilakukan, ada sejumlah pro dan kontra yang terjadi di masyarakat. Pada awal pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek, terjadi kontra terhadap pembongkaran replika Menara Kudus di tanam tersebut. Replika itu selama ini menjadi ikon selamat datang untuk menyambut masyarakat dari luar kota yang masuk ke Kudus. Pembongkaran itu dinilai menghilangkan esensi Kudus yang selama ini dikenal sebagai Kota Religius.

     Selain itu pemberian nama Monumen Kudus Kota Kretek pada desain awal, dinilai menghilangkan trademark Kudus sebagai Kota Santri dan Kota Religius. Padahal selama ini trademark tersebut telah menjadi identitas Kabupaten Kudus yang telah dikenal masyarakat di Jawa Tengah, bahkan Indonesia. Nama monumen yang membubuhkan trademark Kota Kretek, juga dianggap sejumlah kalangan hanya menjadi sarana promosi salah satu perusahaan rokok di Kudus.

     Beberapa pendapat lain dari masyarakat, simbol monumen dianggap tidak mencerminkan Kabupaten Kudus. Desain yang mereplika daun tembakau dan cengkih dianggap tidak berhubungan dengan masyarakat di Kudus. Karena, Kabupaten Kudus bukan penghasil tembakau dan cengkih, kabupaten kecil di Jawa Tengah ini penghasil produk olahan bahan tersebut.

     Pendapat yang kontra dari sejumlah masyarakat di Kudus tersebut, tak membuat pemerintah mengurungkan niatnya. Pemkab tetap membongkar replika Menara Kudus, untuk selanjutnya diganti dengan monumen. Namun, adanya pendapat kontra itu, pemkab merubah nama bangunan yang sebelumnya bernama Monumen Kudus Kota Kretek, berubah menjadi Gerbang Kudus Kota Kretek.

  • Kesimpulan

     Pembangunan Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) merupakan pembangunan yang difasilitasi oleh PT Djarum. Tahap pembangunan telah dimulai sejak akhir 2013 dan ditargetkan selesai pada bulan Januari 2015. Bentuk dari bangunan ini didesain menyerupai daun tembakau yang merupakan bahan utama pembuatan rokok. Pembangunan ini diklaim sebagai bangunan gerbang termegah tingkat Asia Tenggara dengan biaya mencapai kurang lebih 16 milyar.

     Dengan dibangunya Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK) yang bisa dijadikan ikon baru tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan promosi objek wisata yang ada di Kudus. Meskipun pembangunan gerbang difasilitasi oleh PT Djarum namun pemerintah juga berperan dalam pembangunan ini. Dan sebelum proyek bernilai 16 miliar itu dilakukan, ada sejumlah pro dan kontra yang terjadi di masyarakat.


One Response  
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar