Mendidik Diri Jadi Indonesia: Memanusiakan Lian Di Depan Kita

Asslamu’alaikum…

Kali ini saya akan berbagi salah satu dari tugas kuliah saya yang sangat unik. Artikel ini membahas tentang kebikan-kebaikan yang penulis lakukan selama bebrapa bulan terakhir. Tugas Studi Masyarakat Indonesia ini menurut saya sangat menantang karena membahasakan kebaikan sendiri dalam tulisan tidaklah mudah, apalagi mebuat tlisan agar tidak terkesan sombong atau pamer. So, baca dulu aja deh dan jangan lupa sent argumen kamumengenai artkel ini ke email wafianmuf.wm@gmail.com agar kita bisa bertukar pikian. Semoga bermanfaat…

Manusia merupakan mahluk sosial yang saling membutuhkan manusia lainya untuk keberlangsungan hidup. Interaksi yang baik sangat dibutuhkan agar terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Ada istilah jawa yang mengatakan sopo nandur bakalan ngunduh maknanya, siapa yang menanam maka dia yang akan mendapatkan hasilnya. Seseorang yang melakukan kebaikan akan dibalas kebaikan begitu sebaliknya. Banyak orang yang termotivasi untuk selalu berbuat kebaikan karna filsafat jawa tersebut..

Tuhan mengajarkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan bahkan berlomba-lomba dalam kebaikan, maka seseorang jika melakukan hal tersebut akan mendapatkan derajat disisi Tuhan. Siapapun, dimanapun, dan kapanpun membantu orang lain bisa dilakukan. Membantu orang lain merupakan suatu kewajiban sebagai hamba Tuhan yang taat.

Dalam penulisan ini akan menceritakan mengenai lima kebaikan yang dilakukan oleh penulis sendiri selama satu semester ini. Kebaikan terebut dilakukan secara individu kepada individu dan individu kepada kelompok.

1. Amplop Cinta untuk Penumpang

Transportasi bus umum masih menjadi andalan saya untuk pulang ke kampung halaman. Ketika di dalam bus saya sering mendapatkan sesuatu yang unik dan belum pernah saya temui sebelumnya, dari mulai tausiah di dalam bus, ayam berkeliaran di bawah kursi bus, di marahin pengamen, dan sebagainya. Hal yang paling menonjol adalah hadirnya para pengamen jalanan yang masuk ke dalam bus serta para pedangang asongan yang naik ketika bus berhenti di terminal. Hal itu sudah menjadi kultur dalam dunia transportsi bus ekonomi. Hingga sebelumnya, saya menyiapkan uang receh untuk para pengamen dan uang kecil untuk membeli makanan di pedangan asongan. Sepanjang perjalanan dari Semarang menuju Kebumen, wilayah Magelang paling banyak pengamenya. Namun ketika saya pulang desember 2016 ini saya bertemu dengan seorang anak perempuan kecil sekitar umur 10 tahun menaiki bus sambil membawa amplop yang kemudian dibagikan kepada seluruh penupang. Anak itu tidak berkata apapun dan tidak menghiraukan tatapan para penumpang. Gadis kecil itu hanya focus pada amplopnya dan berharap ketika dia mengambilnya kembali ada uang di dalamnya. Saat itu aku sedang memegang buah anggur yang dibungku plastic mika. Mata gadis kecil itu menatap buah ungu tersebut dan telunjuknya menunjuk kearah pembungkus plastic mikanya. Dua menit yang lalu saya baru membelinya di pedagang asongan dan baru saya makan dua buah tapi tatapan mata anak itu mengisyaratkan bahwa ia sangat menginginkanya. Uang receh yang saya siapkan untuk dimasukan ke dalam aplop saya masukan kembali ke dalam saku jaket saya dan menggantinya dengan memberikan semua anggur yang saya punya. Sempat terfikir untuk membaginya menjadi dua, namun saya teringat ucapan ayah saya “berikan sesuatu yag terbaik untuk orang lain, jangan ragu-ragu, dan jangan setengah-setengah”. Akhirnya saya memberikanya kepada anak kecil tersebut.

Kondisi anak tersebut membuat saya bertanya-tanya kondisi pendidikan dan kesehatanya. Anak seusia dia sewajarnya sedang senangnya bermain dengan teman-temannya di sekolah. Ternyata orang tuanya juga bekerja sebagai pedagang asongan yang bekerja bersama dengan anak kecil itu. Kondisi itu mengingatkan saya dengan kemiskinan kultural yaitu kemiskinan yang bersifat alamiah dimana penduduk berada di lingkungan miskin sejak kecil sehingga menghasilkan kemiskinan berikutnya (Yuniarti, 2012). Anak tersebut sedari kecil melihat orang tuanya mengamen, mengemis, atau menjajakan asongan maka akan mempunyai kecenderungan anak tersebut mengikuti apa yang dilihat dari orang tuanya. Alasan yang sering dieluhkan para orang tuanya adalah kondisi ekonomi yang sulit, sehingga anak dijadikan media untuk mencari uang dengan cara mengemis atau mengamen.

Dalam penelitian Yuniarti (2012) tentang eksplorasi anak, pengamen atau pengemis jalanan anak bekerja selama 8-10 jam. Hal itu berdampak pada kondisi psikologis dan perkembangan anak. Terlebih lagi pandangan masyarakat mengenai anak jalanan yang tidak berpendidikan, tidak menganal sopan santum, liar, dan pandangan negative lainya sehingga menyebabkan anak tidak memiliki ruang untuk besosialisai dengan masyarakat lainya. Bahkan masyarakat bisa mengenali anak jalanan dari gaya penampilanya, kulit hitam kusam karena terkena terik matahari dan asap kendaraan, rambut ikal, lengan bertato, minum-minuman keras dan celana bolong dibagian lutut. Masyarakat lebih memilih menghindar ketika bertemu dengan seorang yang berciri-ciri seperti itu, namun pandangan masyarakat mengenai hal tersebut pernah saya pupuskan karena pernah saya jumpai seorang pengamen jalanan berpenampilan rapi, rambut disiir rapi, mengucapkan salam dan lagu yang disampaikan merupakan kritik untuk politik di negeri ini bukan hanya asal menyanyi.

Pengalaman pribadi saya tersebut merupakan salah satu permasalahan sosial di Indonesia yang masih menjadi fenomena. Masyarakat seakan-akan bungkam dan enggan untuk ikut campur dengan masalah anak jalanan.

2. Membantu mengajar di TPQ DelikSari

Sore itu 30 november 2016 saya pergi ke Desa Delik Sari untuk melakukan kegiatan rutin, yaitu membantu ibu Yanti mengajar ngaji. Desa DelikSari tidak jauh dari pusat Kota Semarang namun keadanya memprihatinkan tidak seperti di kota yang mempunyai fasilitas lengkap. Disini rata-rata bekerja sebagai pemulung. Ibu yanti merupakan seseorang yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak-anak sekolah dan melindungi anak-anak agar tetap mengenal agama islam. Beliau membuka TK dan TPQ.

Setiap senin hingga jum’at saya dan teman-teman membantu ibu Yanti mengajar TPQ secara bergantian. Sore itu saya bertemu dengan anak kelas lima SD bernama Aziz. Dia mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar membaca Al Qur’an dan menghafal surat-surat. Saya berusaha membantunya dengan apa yang saya bisa. Ketika mendengarnya menghafal surat-surat Al Qur’an saya merasa bahwa dari manapun dia berasal dengan kondisi yang seperti apapun aka nada seseorang yang mempunyai semangat dalam dirinya dan berkeinginan untuk maju. Walaupun berada di lingkungan yang kurang mendukung namun dia tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Mental seperti inilah dibutuhkan negeri ini agar tetap berjalan harmonis. Dalam hal ini keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk pribadi seseorang karena keluarga merupakan tempat proses belajar yang pertama, namun lingkungan masyarakat juga mempunyai andil, banyak anak-anak yang menjadi menyimpang akibat lingkungan yang tidak sehat. Keangkuhan anak ini terhadap penyimpangan negative di lingkunganya membentuk pribadi yang mandiri dan berani. Tinggal tangan-tangan seperti kita yang tersadarkan untuk membantu mereka menemukan arah dan harapan hidupnya, walaupun hanya sedikit tapi bagi mereka itu hal luar biasa.

Di TPQ ini saya meenemukan sebuah pengorbanan dari satu relawan yang mendikasikan hidupnya untuk menjamin akhlak anak-anak. Anak-anak yang polos ini banyak menjadi sasaran dari banyak pihak yang ingin memurtadkan dan menjauhkan dari ajaran islam dengan memperkenalkan kesenangan. Oleh karena itu satu relawan akan menjadi rapuh jika tidak dibantu oleh relawan lainya. Saya dan teman-teman berusaha membantu relawan tersebut (Ibu Yanti) untuk menguatkannya dibawah tekanan dari pihak yang membencinya. Secara tidak langsung terjadi konflik batin antar kelompok beragama disini. Konflik dimana masyarakat tidak mengetahui apa yang terjadi. Konflik ini tidak menimbulkan kerusakan material. Masyarakat menjadi objek dari konflik terebut. Cooser menjalaskan kondisi semaca ini tidak selamanya menimbulakn hal negative. Dengan koflik yang terjadi justru menimbulkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap anggota kelompok (Handoyo, 2007:106) . Sama seperti yang terjadi kepada saya dan para relawan lainya. Menjadi semakin semangat ketika sedang bersaing dengan kelompok lain.

3. Perempuan di atas Panggung

Perempuan adalah mahluk ciptaan Tuhan yang mempunyai banyak keistimewaan. Tanggal 25 desember 2016 di mushola depan rumah saya mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulidan tersebut dilaksanakan rutin satu tahun sekali dengan sisitem rolling antar mushola per RW. Dalam kegiatan seperti ini terlihat ruang yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pernah suatu ketika saya protes kepada ketua RW karena tidak menampilkan perempuan dalam kegiatan yang mengundang banyak orang. Perempuan hanya diberi ruang dibelakang layar, menyiapkan makanan minuman bagi tamu undangan dan snack bagi para jamaah. Di panggung hanya terlihat laki-laki yang sudah berumur dan dianggap mumpuni. Dalam pandangan saya hal itu sangat disayangkan, banyak dari generasi muda yang mempunyai peluang besar untuk tampil mempertunjukan kemampuan diri.

Diskusi saya dengan ketua RW tidak sia-sia. Generasi muda khususnya perempuan diberi ruang untuk tampil di depan panggung. Ketika itu saya mengajukan diri menjadi pembawa acara ketika kelas dua SMA. Pada tahun berikutnya saya mengajukan kakak perempuan saya dan qoriah dari perempuan muda anak Kepala Desa. Hingga desember 2016 lalu saya tidak mengajukan diri lagi namun saya diminta untuk menjadi pembawa acara dalam peringatan mauled nabi. Hal itu bukan karena penyampaian saya bagus dan pandai dalam berbahasa namun masyarakat khususnya panitia kini menyadari pentingnya generasi muda untuk melanjutkan kehidupan. Jika hanya orang tua yang mendapatkan ruang terus menerus diberi tanggung jawab tanpa memperhatikan para pemuda, maka tidak ada nama generasi muda karena hanya orang tua yang mendapatkan ruang. Situasi ini tidak saya sia-siakan, saya mengajak sepupu perempuan kelas 3 SMP untuk menemani saya menjadi pembawa acara. Alasanya masih sama, generasi muda di desa saya harus berani unjuk gigi tampil di atas panggung agar ada generasi muda yang terus terlibat dalam kegiatan desa.

Mengubah mainset masyarakat mengenai peran perempuan tidaklah mudah. Masyarakat desa masih menganggap perempuan adalah pendamping laki-laki dan pelayan laki-laki. Bahkan dalam masyarakat Jawa ada anggapan bahwa kewajiban perempuan adalah 3M (Macak, Masak, Manak). Macak artinya adalah berdandan, masak yaitu memasak, dan manak adalah beranak atau melahirkan anak. 3M tersebut adalah persembahan kepada laki-laki sebagai perempuan yang patuh pada laki-laki (Handayani, 2013). Pandangan semacam itu membuat perempuan desa hanya berada dibelakang layar dan dinormorduakan. Moore dalam Handayani meyatakan bahwa pembagian peran gender terdiri dari peran domestic dan peran public. Perempuan mendapatkan peran domestic sedangkan laki-laki mempunyai peran public. Pembagian peranan tersebut terjadi secara alami begitu saja atau karena bentukan budaya (Handayani, 2013). Pembagian peranan laki-laki dan perempuan banyak terbentuk dari sentuhan budaya masayarakat.

4. Pertemuan yang Menjadi Kenangan

Indonesia yang beragam benar-benar saya rasakan ketika 21-23 oktober 2016. Ketika itu saya menjadi panitia dalam kegiatan Esai Competition tingkat nasional yang terdiri dari seluruh mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia. Para finalis berasal dari Jawa Tengah, Bandung, Malang, Medan, Makassar, dan Kalimantan Barat. Disana saya menemukan kultur yang berbeda terutama dalam hal bahasa. Kebiasaan kami panitia menyebut semua para finalis dengan “kakak” ternyata mempunyai makna yang berbeda bagi orang Medan, Makassar, dan Kalimatan Barat. Kakak disana ditujukan bagi seorang perempuan sedangkan laki-laki di panggil abang. Ketika dipertengahan malam ada salah satu finalis asal Medan, Dolly namanya kebingungan mencari transportasi untuk pulang. Dia harus cepat kembali karena akan ada ujian tengah semester yang sangat berharga baginya. Sayapun membantunya untuk mecarikan tiket pesawat dan pembayarnya secara online. Namun bang Dolly tidak bisa membayarnya karena jumlah uang di ATM tidak sesuai dengan dengan yang ditawarkan oleh layanan jasa tersebut. Ia dan temanya hanya mempunyai uang cash yang didapat dari hadiah kejuaraanya sebagai juara 1. Akhirnya saya teringat dengan ATM organisasi saya yang mencukupi nominal itu. Sebagai bendahara agaknya saya harus mengetahui hal tersebut. Bersama dengan bendahara senior saya berniat untuk mengambil ATM di kos saya namun menyesalnya pintu kos sudah terkunci. Rasa menyesal dalam hati kami akibat tidak enak hati memberitahukan hal ini kepada bang Dolly. Sebuah misi membantu yang gagal. Terlihat ada kekecewaan ketika kami memberitahukan kabar tersebut. Akhirnya pagi harinya mereka mereka pulang menggunakan kereta sampai Jakarta dan menaiki pesawat hingga Medan.
Hari berikutnya kami mengadakan field trip dengan turun ke kota. Kota masih menjadi tujuan utama para wisatawan. Dianggap sebagai pusat peradaban yang penuh dengan fasilitas terbaik, modern, dan menguntungkan. Seperti yang dikatakan oleh Dosen Sosiologi dan Antropologi Unnes, Nurul Fatimah (2016) kota dapat dijadikan sebagai barometer suatu negara, sehingga dengan melihat keadaan kota dapat diketahui majunya suatu negara. Kami berkunjung ke Lawang Sewu dan Sam Poo Kong yang merupakan sebuah peninggalan sejarah yang mempunyai cerita mistik dan heroik. Ketika sampai ditempat tujuan, saya bertugas membelikan tiket masuk. Para finalis dari berbagai universitas ini sangat antusias saat berkunjung ditempat bersejarah itu. Saya membantu teman-teman untuk mengambil foto dan video. Trend masa kini dari para remaja yaitu berfoto selfie dan wefie. Seperti yang dikatakan oleh Andhika Saputra dalam seminar Peradaban Islam (2016) bahwa sekarang ini manusia berada dalam jerat postmodernisme dimana bukan lagi makna dan keindahan namun hasrat yang menjadi ego untuk diutamakan. Selfi atau wefie dianggap menjadi sebuah hal wajib sebagai kepuasan hasrat oleh pelaku.

Selesai dari kegiatan field trip menujukkan berakhirnya rangakaian kegiatan Esai Competition yang diadakan oleh ERC FIS UNNES ini. kedekatan kami selaku panitia dengan para finalis membuat tiga hari yang singkat ini menjadi sebuah memori yang indah. Salah satu finalis dari Makassar, Nur Amin Mt mengatakan bahwa setiap tempat mempunyai kenangan untuk dijadikan guru dan setiap orang juga dapat dijadikan guru. Obrolan seperti itulah yang menjadikan mereka ada di kenangan indah saya.

5. Solidaritas Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Pernikahan merupakan hal yang didambakan oleh semua orang. Pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang menjadi satu namun pernikahan merekatkan dua keluarga menjadi keluarga yang lebih besar. Terutama di masyarakat desa kondisi kekeluargaannnya masih sangat dipegang teguh.
Pada tanggal 12 september 2016 tepatnya ketika hari raya Idul Adha saya menghadiri pernikahan saudara saya. Pernikahan itu digelar secara sederhana mengundang penggulu untuk datang ke rumah, walupun sudah ada aturan dari pemerintah untuk melangsungkan pernikahan di KUA tapi masyarakat desa masih tetap mengesahkan hal itu. Ketika pernikahan telah berjalan, terlihat masyarakat saling membantu tanpa ada yang mengkomando, terlebih lagi ayah dari mempelai istri satu bulan sebelumnya meninggal dunia. Sehingga keprihatinan masyarakat sangat terlihat terbukti dengan sound system, penataan kursi, pemanggilan penggulu, memasak, dan lain-lain dilakukan masyarakat sekitar dengan suka rela. Teman-teman dari ayah mempelai seperti berperan sebagai wedding organizer. Rasa persaudaraan yang kental adalah dasarnya. Merasa senasib sepenanggngan. Durkheim mengatakan ini adalah solidaritas mekanik, suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersam dan diperkuat oleh pengalaman bersama (Hammidah, 2011). Hubungan antar masyarakat tadi justru akan menguatkan kekeluargaan antar individu maupun kelompok. Kondisi tersebut muncul pada masyarakat yang sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif. Masyarakat berduyun-duyun membantu acara pernikahan itu karena mempunyai kesamaan rasa sepenanggungan.
Ketika itu saya membantu membagikan snack atau pacitan (dalam bahasa masyarakat sekitar). Hal itu saya lakukan karena rasa persaudaraan dan keprihatinan. Sedari kecil orang tua saya mengajarkan untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan terutama saudara sendiri. Almarhum merupakan sosok paman yang baik selama hidup sehingga ada rasa ingin membalas budi.

Pada dasarnya keikhlasan seseorang dalam melakukan kebaikan itu tidak mutlak benar karena masih ada hal yang diinginkan, yaitu pahala dari Tuhan. Cerita heroic yang saya sampaikan diatas merupakan wujud dari rasa kepedulian terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan. kebaikan yang kita lakukan akan menumbukan kebaikan-kebaikan berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Hammalah. 2011. Kontribusi Tradisi Lokal Terhadap Solidaritas Masyarakat. UIN SUKA
Handayani, Ayu Ike. 2013. Peran Gender dalam Tradisi Kolak Ayam. Jurnal UNAIR
Handoyo, Eko, dkk. 2007. Studi Masyarakat Indonesia. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang
Yuniarti, Ninik. 2012. Eksploitasi Anak Jalanan sebagai Pengamen dan Pengemis di Terminal Tidar oleh Keluarga. Jurnal Unnes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco