Assalamu’alaikum…

Kali ini saya akan memosting salah satu artikel dari tugas kuliah mata kuliah sosoilogi pembangunan. Artikel ini berisi tentang keadaan dusun delik sari di tengah pembangunan yang semakin berkembang. Seperti sebelumnya, please sent argumen kamu mengenai artikel ini ke email wafianamuf.wm@gmail.com agar kita bisa bertukar pikiran. Selamat membaca…

Pembangunan merupakan suatu fenomena yang menjadi tujuan utama berjalannya kehidupan setiap negara di dunia. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang terjadi secara terus menerus menuju pada kondisi yang lebih baik, namun dalam setiap proses pembangunan banyak terjadi masalah yang terjadi. Salah satunya adalah kemiskinan. Kemiskinan merupakan suatu fenomena yang terjadi disetiap negara dan dapat menjadi barometer maju mundurnya pembangunan disuatu negara.

Dusun Delik Sari merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Sukorejo, kecamatan Gunung Pati, Kabupaten Semarang yang mempunyai tingkat kemiskinan tinggi. Hal ini karena rata-rata masyarakat berprofesi sebagai pemulung dan sopir angkot. Kondisi ini diperparah dengan ketidakmerataan pembangunan. Pemerintah telah menyalurkan tangannya untuk membantu keluar daari jalur kemiskinan, namun bantuan hanya sekedar menyalurkan. Banyak terjadi ketidak adilan dalam proses pembangunan karena ketidaktahuan masyarakat untuk mengelola bantuan tersebut. Stereotip masyarakat sendiri mengenai keturunan pemulung dan orang pinggiran juga merupakan salah satu factor yang menyebabkan masyarakat terus terikat dalam jurang kemiskinan.

Oleh karena itulah pemerintah dan para relawan terus berusaha untuk menuntaskan kemiskinan dengan pembangunan. Suparlan mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah karena kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang bila dibandingakan dengan standar kehidupan yang berlaku di masyarakat sekitarnya. Pembangunan sebagai serangkaian upaya direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah dam bentuk kebijakan, program atau proyek yang secara trencana mengubah cara-cara hidup atau kebudayaan dari sesuatu masyarakat sehingga masyarakat warga masyarakat tersebut dapat hidup lebih baik atau lebih sejahtera dari pada sebelum adanya pembangunan tersebut (Suparlan, 1997)

A. Sejarah Dusun Deliksari

Sejarah adanya Dusun Deliksari adalah bermula pada gelandangan, pemulung, dan pengemis yang ada di daerah Semarang kota yang berada di pinggiran sungai. Kemudian ada yayasan yang dipimpin oleh seorang Belanda atau warga menyebutnya Berder yang beragama Khatolik. Dia berusaha mengumpulkan para gelandangan, pemulung, dan pengemis tersebut kemudian ditempatkan dikontrakan-kontrakan untuk tinggali. Setelah masa sewa kotrakan tersebut habis seluruh gelandangan dan pengemis tersebut akhirnya di pindah (bedhol desa) ke daerah Kecamatan Gunungpati seperti yang kita ketahui sekarang ini dan menjadi Dususn Deliksari. Pihak dari berder pun yang telah memberikan tanah di Deliksari kemudian juga membantu untuk membuatkan rumah semi permanen untuk mereka. Berder banyak membantu para gelandangan dan pengemis tersebut tanpa meminta imbalan apapun. Saat ini memang sudah tidak seperti dahulu lagi, berder tidak banyak lagi membantu masyarakat Deliksari karena sudah berganti pemimpin.

B. Keadaan dan Kondisi Pembangunan Delik Sari

Dusun Deliksari terdapat satu RW yang terdiri dari enam RT yaitu RT 1 sampai dengan RT 6. Setiap RT kira-kira ada sekitar 35-40 kepala keluarga. Rumah-rumah warga yang tinggal di sana kebanyakan adalah rumah semi permanen yang terbuat dari papan dan kayu. Hal tersebut dikarenakan kondisi tanah yang labil menyebabkan dusun Deliksari sangat rawan terjadinya tanah longsor. Sehingga untuk meninimalisir kerugian yang akan dialami warga salah satu antisipasinya adalah rumah mereka dibuat semi permanen. Aliran air di sana kurang baik sehingga ketika terjadi hujan besar selokan-selokan yang berada di sekeliling rumah warga meluap sampai ke jalan-jalan. Jalan di sana adalah dari paving yang disusun namun , dibeberapa RT di Dusun Deliksari masih dari tanah. Tempat pembuangan sampah di Deliksari pun berada di tepi sungai sehingga sungai di sana banyak sekali sampah-sampah rumah tangga yang berserakan. Di belakang beberapa rumah warga juga terdapat karung-karung besar yang berisi sampah-sampah yang dikumpulkan dari berbagai tempat. Dusun Deliksari merupakan salah satu dusun yang berada di wilayah Kota Semarang, dimana hampir seluruh warganya bermatapencaharian sebagai pemulung, gelandangan, dan pengemis. Hal tersebut merupakan suatu mata pencaharian yang turun temurun sehingga masyarakat Deliksari merasa bahwa pekerjaan yang demikian adalah sebuah pekerjaan yang sudah sejak lahir melekat dalam diri mereka.

Keterkaitan dengan pembangunan dan kemiskinan yang ada di Dusun Deliksari juga disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah sifat malas dari masyarakat itu sendiri. Mereka terlalu berlebihan dalam mengharapkan bantuan dari pihak luar seperti Unnes dan instansi-instansi lainnya sehingga banyak diantara mereka yang tidak berusaha lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk kesejahteraan hidupnya. Akibatnya pembangunan di Dusun Deliksari pun sulit untuk berkembang karena dari warganya sendiri pun belum adanya kesadaran untuk maju dengan usaha mereka sendiri. Masih adanya ketergantungan dari pihak luar yang menjadi pengaruh pada Dusun Deliksari. Selain sifat malas, warga Dusun Deliksari juga masih kurang tingkat kesadarannya terhadap pentingnya pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari sebagian orang tua yang lebih memilih anaknya ikut menjadi pemulung untuk membantu mereka bekerja daripada bersekolah. Sehingga anak-anak dengan lingkungan yang demikian tidak memiliki semangat sekolah yang tinggi dan juga tidak adanya motivasi dari pihak keluarga untuk sekolah. Dengan alasan itulah pembangunan yang berada di Dusun Deliksari menjadi kurang berkembang. Dillihat dari pembangunan fisik pun tidak mengalami banyak perubahan karena keadaan lingkungan yaitu kontur tanah di Dusun Deliksari yang labil menyebabkan tanah sering bergerak sehingga ketika musim penghujan tiba di sana sering mengalami banjir maupun tanah longsor.

Kemiskinan menjadi faktor utama yang menjadi perkembangan pembangunan di Dusun Deliksari. Sudah menjadi turun temurun mereka bekerja sebagai pemulung, pengamen, dan pengemis serta sifatnya yang malas sehingga mereka enggan untuk mencoba pekerjaan yang lebih baik demi meningkatkan perekonomian mereka sendiri. Terbukti bahwa di sana hanya beberapa remaja yang mau bekerja di pabrik, kebanyakan mulai dari anak-anak sudah diajari untuk menjadi pemulung dan pengamen. Meskipun beberapa warga ada yang bekerja sebagai sopir angkot tetapi penghasilan mereka pun juga harus dibagi dua dengan pemilik angkot. Atas dasar itu juga mengapa warga Deliksari terlalu mengharapkan bantuan dari pihak luar.

Selain sifat malas warga Deliksari, faktor yang menghambat pembangunan di desa Deliksari disebabkan karena bantuan yang disalurkan oleh instansi-instansi tertentu tidak berkelanjutan. Dalam arti bantuan tersebut hanya berlangsung beberapa selang waktu saja. Setelah pihak dari instansi tidak lagi mengelola, bantuan yang telah diberikan tidak dikembangkan atau tidak dilanjutkan lagi oleh warganya. Contohnya bantuan berupa upaya penanaman tanaman obat. Sebelumnya budidaya tanaman obat ini berjalan. Namun setelah masa pendampingan pengelola berakhir. Tanaman obat tersebut menjadi terbengkalai. Warga desa tidak meneruskannya lagi.
Hal tersebut di atas, disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan warga. Mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukan setelah tanaman obat yang mereka tanam memasuki masa panen, kemana mereka menjual dan menyalurkannya. Ketidaktahuan tersebut tidak sepenuhnya kesalahan warga, akan tetapi hal ini juga dapat dikatakan kesalahan dari instansi yang memberikan bantuan itu juga. Karena ketidak-konsistenannya instansi—instansi tersebut dalam memberikan bantuan. Mereka kurang memberikan langkah-langkah yang komplit bagaimana dan apa yang seharusnya mereka lakukan setelah diberikan bantuan, dan setelah para pengelola tidak lagi melakukan pendampingan secara langsung.

Akan tetapi permasalahan tersebut sebetulnya bisa saja diatasi apabila sumber daya manusia Desa Deliksari memadai. Mereka bisa saja berinisiatif sendiri dan melakukan langkah-langkah sendiri untuk mengembangkan usaha tersebut. Salah satu langkahnya yaitu mereka bisa mencari link informasi, mengenai pengelolaan lanjutan dari bantuan yang telah diberikan. Namun sekali lagi karena kurangnya inisiatif warga dan sifat malas warga itu sendiri akhirnya apapun bantuan dan pembangunan yang masuk akan sulit untuk dikembangkan. Sehingga pembangunan di Desa Deliksari terhambat dan kemiskinan akan terus melanda warga Desa Deliksari.

C. Analisis

Kemiskinan merupakan suatu keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kemiskinan. Kemiskinan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor dari dalam kelomok masyarakat itu sendiri maupun faktor dari luar masyarakat baik faktor ekonomi maupun faktor non ekonomi seperti faktor lingkungan maupun perubahan-perubahan sosial.

Francois Railon menyebutkan bahwa modernisasi merupakan proses dimana berlangsung transformasi di segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, kultural, dan sebagainya . Transformasi tersebut terjadi perubahan-perubahan yang merombak dasar, susunan dan corak masyarakat lama (Railon, 20
Teori modernisasi memandang bahwa permasalahan pembangunan disebabkan oleh faktor manusia dan nilai budaya, teori tersebut menganggap bahwa hal yang menghambat proses pembangunan bukan dari luar manusia melainkan dari manusia itu sendiri. selain itu faktor yang menghambat pembangunan adalah nlilai-nilai budaya dimana dalam nilai budaya tersebut terdapat aturan-aturan yang disadari atau tidak peraturan-peraturan tersebut dapat menghambat proses-proses pembangunan.

Teori modernisasi melihat bahwa masalah pembangunan merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi, Bert F. Hoselith mengatakan bahwa modal tersebut tidak hanya modal ekonomi saja melainkan juga modal non ekonomi seperti kondisi lingkungan, yang terpenting dalam masalah pembangunan bukanlah jumlah modal yang dimiliki melainkan juga ada atau tidaknya keterampilan kerja dari masyarakat tersebut. ketrampilan kerja tersebut merupakan modal pembangunan yang paling produktif, apabila keterampilan kerja tersebut tidak dimiliki maka masyarakat tersebut akan sulit untuk berkembang.

Teori modernisasi beranggapan bahwa kemiskinan disebabkan oleh ketidakmampuan negara untuk beradaptasi dengan modernisasi yang disebaban oleh kalangan budaya juga sejalan dengan teori perilaku yang mengatakan kemiskinan itu sebagai persoalan tingkah laku(academia.edu). Modernitas lebih melihat bahwa kemiskinan ini disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor yang ada didalam masyarakat tersebut, dimana pembangunan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi saja melainkan pembangunan juga harus memperhatikan pengembangan kreatifitas yang dimilki oleh masyarakat.

Teori modernisasi sesuai untuk digunakan dalam mengkaji masalah kemiskinan dan pemerataan pembangunan yang ada di Dusun Deliksari karena kemiskinan yang ada di Dusun Deliksari disebabkan karena kurangnya minat dari masyarakat untuk mengembangkan kreativitas yang dimiliki.Hal ini dapat dilihat dari penduduk Dusun Deliksari sebelum adanya bedol desa oleh yayasan berder. Masyarakat tersebut memiliki mata pencaharian sebagai peulung dan pengamen, sampai saat ini pun mayoritas dari masyarakat tersebut mash memiliki matapencaharian sebagai pemulung. Hal ini menunjukkan bahwa masyarak tidak berniat untuk mengembangkan kreativitas yang dimiliki dengan mencari mata pencaharian yang lain selain menjadi pemulung. Kurangnya keinginan untuk berkembang juga terlihat dari bagaimana masyarakat tersebut sangat tergatung dari bantuan-bantuan yang diberikan oleh lembaga-lembaga tertentu.

Jika dikaitkan dengan teori modernisasi kemiskinan di desa delik sari diakibatkan oleh k faktor-faktor internal. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa teori modernisasi memandang bahwa permasalahan pembangunan disebabkan oleh faktor manusia dan nilai budaya, teori tersebut menganggap bahwa hal yang menghambat proses pembangunan bukan dari luar manusia melainkan dari manusia itu sendiri.Kebiasaan masyarakat deliksari merupakan factor utama yang menghambat kemajuan dari masyarakat tersebut. Salah satu contohnya adalah suatu program yang dilakukan oleh pemerintah desa deliksari yang bekerjasama dengan UNNES. Dalam kerjasama pemberdayaan masyarakat desa deliksari pemerintah desa mengadakan suatu program pelatihan dan kewirauasahaan dalam penanaman suatu tumbuhan pangan. Namun program tersebut hanya berjalan selama 2 minggu. Hal ini dikarenakan suatu pendapatan dan hasil yang kurang dengan modal yang tinggi. program ini merupakan suatu program yang bersifat jangka panjang sehingga untuk mempeoleh hasil yang maksimal dibutuhkan kesabaran. Namun masyakat desa deliksari merupakan masyarakat yang tergolong konsumtif. Hal ini dikarenakan masyarakat desa deliksari kurang memiliki keminatan dan kebiasaan untuk memproduksi/mengolah.

Hal inilah yang dipandang sebagai factor utama penyebab kemiskinan jika dikaitkan dengan teori modernisasi. Karena teori modernisasi lebih memandang bahwa penyebab kemiskinan disebabkan oleh faktor manusia dan nilai budaya, dan penghambat proses pembangunan bukan dari luar manusia melainkan dari manusia itu sendiri.

Kesimpulanya kemiskinan dapat mengakibatkan berbagai masalah, dengan kata lain kemiskinan dapat menimbulkan dampak yang diantaranya adalah tingginya tingkat kriminalitas, tingkat SDM atau pendidikan masyarakat miskin yang rendah, dan semakin menurunnya tingkat kesehatan masyarakat. Kemiskinan terjadi karena beberapa indikator yaitu, tingkat pendidikan yang rendah, kurangnya kreativitas individu, pengaruh lingkungan hidup atau tempat tinggal dan faktor keturunan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.academia.edu/13722898/Makalah_Kemiskinan_dan_teori_pembangunan?auto=download