Laporan Pemetaan Awal Struktur Agraria Di Desa Talunombo Kabupaten Wonogiri

Salam Ceria…

Generasi Muda Berprestasi…

Dalam postingan kali ini, Saya akan mempublikasikan tugas Semester 4 dalam mata kuliah “Sosiologi Pedesaan.” Tugas tersebut membahas tentang sejarah kemunculan Teori Sosiologi Klasik. Apakah Kalian sudahpaham? Kalau belum sebagai penambah wawasan saja, Silahkan lebih lanjut di baca artikel dibawah ini.

Gambaran Umum Masyarakat

Wonogiri merupakan suatu daerah yang terletak dibagian utara dari provinsi Jawa Tengah. Daerah tersebut, berasal dari dua kata yakni wana yang berarti alas (sawah) dan giri yang berarti gunung.

Jadi, daerah Wonogiri dapat diartikan sebagai suatu daerah yang banyak lahan pertaniannya, khusus untuk kecamatan tertentu saja misalnya di desa Talunombo. Dimana, yang menjadi fokus dari penelitian penulis adalah di desa Talunombo. Sebab, disana suasana pedesaannya masih terlihat, dengan banyaknya dari masyarakat yang bermata pencaharian sebagai. Suasana pedesaan lainnya, terlihat dari sikap masyarakat yang masih menjunjung tinggi rasa kegotongroyongan, baik untuk membantu tetangga yang sedang mendirikan rumah, hajatan, bersih desa, maupun kegiatan lainnya.
Dalam perkembangannya, kabupaten Wonogiri merupakan suatu daerah yang sederhana, kemudian mulai berkembang melalui penyusunan bentuk organisasi baik dalam bidang pemerintahan maupun bidang politik yang masih dalam taraf terbatas dan sangat sederhana. Dari situlah, menjadi tolak ukur bagi masyarakatnya untuk berjuang demi perkembangan serta kemajuan daerah tersebut, menjadi simbol penyemangat bagi masyarakatnya untuk selalu bersatu dan berjuang bersama-sama demi mewujudkan kota Wonogiri yang sukses, menuju pada masyarakat yang adil, damai dan sejahtera. Selain itu, masyarakat mampu bersikap secara demokratis, agamis dan mampu berdaya saing secara jujur.
Awalnya, masyarakat di desa Talunombo mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Sebagai petani, karena daerah Sumberagung masih terdapat banyak lahan yang kosong sehingga banyak dari masyarakatnya yang mengolah lahan tersebut menjadi pertanian. Sedangkan sebagai nelayan, desa Talunombo terdapat waduk yang airnya tidak pernah surut, dengan adanya waduk tersebut sangat membantu perekonomian masyarakatnya baik melaui hasil ikannya maupun air dari waduk tersebut yang sekarang ini digunakan warganya sebagai sumber air bersih yakni PDAM. Waduk tersebut diberi nama “Waduk Gajah Mungkur”, selain itu waduk juga berfungsi sebagai daerah pariwisata yang menambah retribusi daerah.
Apabila dilihat dari segi mata pencahariannya, masyarakat di desa Talunombo yang awalnya homogen sekarang ini menjadi heterogen, karena mereka mempunyai aktivitas dalam mempertahankan hidupnya dengan cara yang berbeda-beda. Maksudnya, dalam pekerjaannya tidak hanya sebagai petani dan nelayan saja, namun telah bervariasi yakni ada yang menjadi guru, polisi, dokter, perawat, bidan, pedagang, buruh pabrik, dan lain sebagainya. Berikut yang akan dijelaskan oleh penulis mengenei kehidupan masyarakat dikelurahan Talunmbo, Baturetno, kab. Wonogiri, antara lain :
a. Sistem Religi
Sistem religi maupun keagamaan di daerah pengamatan, dari mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam dengan bebagai aliran yakni Muhammadiyah, NU (Nadhlatul Ulama), LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan juga agama lainnya seperti Kristen. Biasanya yang beragama Kristen tersebut hanya mengikuti pihak dari keluarga pengantin yang beragama Kristen atau mereka datang sebagai pendatang saja. Hubungan atau interaksi antara masyarakat yang beragama Islam sangat baik, namun bagi Islam yang beraliran NU dan LDII kadang masih bersikap tertutup dengan masyarakat umum lainnya, hal tersebut nampak ketika mereka yang beraliran NU apabila menjemur pakaian, dan pakaian tersebut jatuh dan diambilkan oleh tetangganya, maka mereka akan menyuci lagi baju tersebut, karena telah diambil oleh orang lain akan menjadi najis atau tidak suci menurut pandangan mereka.
b. Sistem Sosial
Ditinjau dari aspek sosial, sikap saling membantu diantara warganya masih ada, meskipun sekarang ini sudah mulai luntur diakibatkan mereka sudah mulai membentuk suatu kelompok maupun komunitas yang mempunyai tujuan tertentu, semisal dalam perbaikan taraf kehidupan. Hubungan antara tetangganya masih dapat dikatakan rukun dan damai meskipun juga terdapat konflik baik secara fisik maupun batin, hal itu wajar mengingat bahwa masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. Ras, agama, dan kebudayaan.
c. Sistem Saran dan Prasarana
Ditinjau dari aspek sarana dan prasarana, semisal dalam sarana peribadatan di desa Talunombo ini sudah dapat dikatakan baik, karena telah terdapat tempat peribadatan seperti masjid yang sebagian besar masyarakatnya beragama Islam. Dimana bangunan dalam sarana peribadatan tersebut, sudah permanen dan terawat dengan baik sehingga masyarakat dapat beribadah secara nyaman. Sarana kesehatannya sudah cukup memadai karena telah terdapat puskesmas, medika, RSUD, namun untuk rumah sakit khusus anak-anak dan ibu hamil belum ada.
d. Mata Pencaharian
Sebagian besar penduduk di daerah Wonogiri berprofesi sebagai petani, lantaran daerah tersebut banyak sekali lahan pertaniannnya, selain itu juga sebagian ada yang bekerja sebagai nelayan, karena di Wonogiri terdapat sebuah waduk yang besar dinamakan waduk Gajah Mungkur. Selain pekerjaan diatas penduduknya juga bekerja sebagai buruh, dokter, wiraswasta, PNS, dan lain-lain. Berikut merupakan gambar sawah yang diambil di Kelurahan Talunombo, Baturetno, Wonogiri.

.

PEMBAHASAN

A. Struktur Penguasaan Tanah
Setiap organisasi maupun bidang sosial yang berada dalam masyarakat mencakup pendidikan, ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya pasti mempunyai struktur sosialnya masing-masing. Struktur merupakan suatu tatanan yang membentuk kelompok dalam masyarakat. Berdasarkan buku teori sosiologi (Ritzer, 2012 : 436) menyatakan bahwa struktur sosial sebagai berikut :
“Struktur sosial merupakan sekumpulan hubungan-hubungan sosial teroganisir yang dengan berbagai cara menyiratkan para aggota masyarakat atau kelompok.”
Sesuai dengan penelitian tentang struktur agraria di pedesaan, maka penulis terlebih dahulu akan menjelaskan tentang struktur kepemilikan lahan pertanian di desa Talunombo, kecamatan Baturetno, kabupaten Wonogiri. Dimana, dalam desa tersebut terdapat 3 bentuk struktur kepemilikan tanah, sebagai berikut :
1. Petani kaya, seorang petani yang mempunyai lahan pertanaia yang luas dan modal besar dalam kegiatan usaha pertanaiannya tersebut.
2. Petani kecil, seorag petani yang hanya memiliki sebidang tanah saja dan mengalami kesulitan dalam menghadapai petani-petani kaya.
3. Petani gurem (buruh tani), seorang petani yang tidak memiliki tanah pertanian sama sekali sehingga kelompok tersebut harus menjual tenaganya kepada tuan-tuan tanah untuk melangsungkan hidupnya.
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 9/2011 tentang penataan Tata Ruang wilayah (RTRW) Wonogiri, salah satunya terdapat peraturan tentang lahan persawahan yang dibagi menjadi dua jenis, sebagai berikut :
1. Lahan basah
Merupakan suatu area persawahan yang dikembangkan pada dataran rendah (seperti di desa Talunombo, kecamatan Baturetno) yang memiliki kandungan air tinggi. Bahkan jenis lahan pertanian ini tidak pernah mengalami kekeringan, karena memiliki kandungan air yang berasal dari sungai maupun saluran irigasi. Sehingga, tidak jarang lahan ini selalu tergenang air sepanjang waktu.
2. Lahan kering
Merupakan suatu area persawahan yang dikembangkan pada dataran tinggi (seperti kecamatan Batuwarno) yang memiliki kandungan air rendah. Jenis lahan ini, cenderung gersang dan tidak memiliki sumber air yang pasti seperti sungai maupun saluran irigasi. Sehingga, sawah tadah hujan tidak cocok untuk ditanami padi, namun pada saat curah hujan sedang naik tanah tersebut dapat ditanamai padi .
Berdasarkan penjelasan dari 2 jenis lahan pertanian tersebut, maka di desa Talunombo tergolong ke dalam lahan basah. Karena di desa tersebut mempunyai kandungan air yang melimpah, dimana berasal dari aliran Waduk Gajah Mungkur. Sehingga, lahan pertanian di desa ini cocok untuk ditanami padi yang membutuhkan lahan yang selalu memiliki kandungan air tetap, agar bisa tumbuh dan akhirnya akan memberikan hasil panen yang melimpah. Apabila, sumber air tersebut jauh untuk di jangkau akibat curah hujan yang rendah maka petani di desa Talunombo beralih dari menanam padi digantikan dengan menanam beberapa jenis tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air yang banyak, seperti : jagung, kedelei, kacang hijau, kacang tanah, oyong, cabai, dan lain-lain. Cara pengolahan lahan basah, dalam hal ini akan dijelaskan tentang cara pengolaha tanah saat persiapan penanaman padi, sebagai berikut :
1. Pembersihan
Sebelum sawah ditanami benih padi, maka harus di cangkul dan dibersihkan terlebih dahulu dari rumput-rumput liar yang tumbuh pada lahan yang akan ditanami tersebut. Namun, dalam membersihkan jerami atau rumput sebaiknya jangan dibakar, karena pembakaran jerami tersebut dapat menghilangkan kandungan yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman.
2. Pencangkulan
Kemudian proses selanjutnya adalah pecagkulan, dimana lahan pertanian yang akan di cangkul harus digenagi air terlebih dahulu. Apabila musim penghujan belum tiba, maka petani di desa Talunombo biasanya menggunakan saluran irigasi yang diambil dari aliran waduk Gajah Mungkur. Air digunakan agar tanah menjadi lunak serta jerami dan rumputnya cepat membusuk. Pekerjaan pencangkulan ini, dilanjutkan dengan memperbaiki tanggul-tanggul yang bocor.
3. Pembajakan
Setelah pecangkulan, maka proses selanjutnya adalah pembajakan. Namun, sebelum proses pembajakan terlebih dahulu sawah harus digenangi air. Dalam proses pembajakan harus dimulai dari tepi atau dari tengah petakan sawah. Proses pembajakan mempunyai tujuan dalam mematikan dan membenamkan rumput, dan membenamkan bahan-bahan organis seperti : pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos sehingga bercampur dengan tanah. Selesai pembajakan sawah digenagi air lagi selama 5-7 hari untuk mempercepat pembusukan sisa-sisa tanaman dan melunakan bongkahan-bongkahan tanah.
4. Penggaruan
Setelah proses pembajakan, maka proses selanjutnya adalah proses penggaruan. Dimana, proses ini berbeda dengan proses proses pembajakan, karena pada saat penggaruan genangan air harus dikurangi terlebih dahulu. Sehingga, cukup hanya untuk membasahi bongkahan-bongkahan tanah saja. Penggaruan dilakukan berrulang-ulang sehingga sisa-sisa rumput terbenam dan mengurangi perembesan air ke bawah.
B. Status dan Bentuk Kepemilikan Tanah
Setiap lapisan masyarakat yang terdapat pada suatu daerah tertentu pasti mempunyai struktur maupun kedudukan. Dimana setiap masyarakat berhak untuk menduduki status dalam daerahnya masing-masing. Berdasarkan pada buku pengantar sosiologi (Soekanto, 2012 : 210) menjelaskan tentang pengertian kedudukan (status), sebagai berikut :
“Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.”
Di desa Talunombo sendiri terdapat lahan pertanian yang masih luas, berbeda dengan desa lainnya yang berada di luar kabupaten Wonogiri. Hal tersebut, tampak dari sistem mata pencaharian masyarakatnya yang mayoritas sebagai petani. Status lahan pertanian di desa Talunombo di bagi menjadi 2, antara lain :
1. Tanah milik negara
Merupakan tanah yang dikuasai langsung oleh pihak negara, sehingga tidak dapat dimiliki secara perorangan. Namun, di desa Talunombo tanah milik negara tersebut dapat di olah masyarakat menjadi lahan pertanian. Dimana masyarakat yang mengelola tanah tersebut tidak akan mempunyai sertifikat tanah dan kapan saja tanah tersebut dapat disita oleh pihak negara. Menurut isu akhir-akhir ini, tanah milik negara di desa tersebut tidak boleh lagi di olah masyarakat menjadi lahan pertanian karena lahan tersebut akan ditanami pohon jati oleh pihak negara.
2. Tanah milik sendiri
Merupakan tanah yang dapat dimiliki secara perorangan dan dapat diperjual-belikan kepada orang lain. Kepemilikan atas lahan pertanian dapat diperoleh dari warisan keluarga maupun dari proses jual beli. Bagi yang mempunyai lahas pertanian tersebut mempunyai hak penuh atas lahannya. Maksudnya dalam menentukan jenis tumbuhan yang akan ditanam sesuai dengan keinginan pemilik tanah. Kemudian, tanah tersebut akan diolah sendiri atau membutuhkan bantuan dari orang lain juga sesuai denga keinginan pemilik tanah.
Setiap daerah pedesaan identik dengan lahan pertanian, sehingga setiap desa tersebut pasti terdapat bentuk-bentuk kepemilikan tanah. Berikut akan dijelaskan betu-bentuk kepemilikan tanah yang berada di desa Talunombo, sebagai berikut :

1. Pemilikan tanah bersama (tanah proyek), jenis tanah ini dapat dimiliki secara bersama oleh masyarakat yang tinggal di desa Talunombo. Dimana, lahan ini dapat digarap oleh masyarakat secara bergantian, karena tanah milik bersama ini luasnya tidak sebanding dengan banyaknya penduduk di desa Talunombo.
2. Pemilikan tanah pribadi, jenis tanah ini dimiliki oleh perorangan yang di dapat melalui proses jual beli dari orang lain maupun diperoleh dari warisa keluarga.
3. Sewa tanah, jenis tanah ini hanya dimiliki dalam jagka waktu tertentu saja sesuai dengan kontrak yang dibuat antara penyewa dengan pemilik tanah. Biasanya masyarakat didesa Talunombo sistem sewanya adalah satu kali panen, takni sekitar 5-6 bulan.
4. Sistem bagi hasil, jenis pengolahan lahan ini dengan cara memberika lahan pertanian kepada orang lain untuk diolah dengan sistem bagi hasil. Maksudnya pada saat panen tiba hasilnya tersebut akan dibagi sama rata antara pemilik tanah dengan penggarap tanah.
C. Distribusi Kepemilikan Tanah
Distribusi kepemilikan tanah sangat penting keberadaannya, karena dapat digunakan untuk menjamin kebutuhan masyarakat di daerah pedesaan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani maupun berkecimpung dalam bidang agraria. Lahan pertanian di desa Talunombo yang dimiliki oleh masyarakat yang tidak hanya bergantung pada pertanian dalam menghidupi kebutuhannya, misalnya mereka selain menjadi petani juga mempunyai pekerjaan lainnya yakni sebagai pedagang, wiraswasta, PNS, pekerjaan dibidang kesehatan, dan lain sebagainya. Mayoritas masyarakat yang mempunyai lahan pertanian namun pekerjaan utamanya bukan di bidang pertanian sangat memerlukan jasa orang lain (buruh tani) dalam mengolah lahannya tersebut.
Berdasarkan pada hasil pengamatan lahan pertanian di desa Talunombo, menunjukkan bahwa distribusi kepemilikan tanahnya tidak merata karena pemilikan tanah di desa tersebut memang masih terpusat kepada beberapa orang saja yang memiliki starata tinggi. Masyarakat di desa Talunombo sendiri tidak semuanya memiliki lahan pertanian. Karena tidak semua masyarakat yang tinggal di desa tersebut sebagai penduduk asli. Bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanaian biasanya milik warga lain untuk diolahnya baik dengan sistem kontrak dengan memberikan uang maupun dengan sistem bagi hasil. Sedangkan bagi warga yang tidak mempunyai lahan permukiman biasanya menyewa rumah warga, namun status penduduknya masih menjadi warga di desa Talunombo.
Bagi mereka yang tidak mempunyai tanah biasanya dapat di bedakan mejadi 2 kelompok. Pertama, orang kaya yang pekerjaanya sebagai pengusaha maupun pekerjaan lainnya yang mempunyai prestise tinggi. Kedua, orang miskin yang tidak mempunyai uang dalam membeli lahan pertanian dan juga tidak mendapatkan warisan tanah dari keluarganya.
D. Ketunaksimaan (Landlessness)
Berdasarkan pada buku yang berjudul tentang Dua Abad Penguasaan Tanah (Tjondronegoro dan Wiradi, 1984 : 303) menyatakan tentang pengertian ketunaksimaaan yakni sebagi berikut :
“Tunakisma mutlak, yaitu mereka yang benar-benar tidak memiliki tanah dan tidak mempuanyai tanah garapan .(sebagian besar dari mereka ini adalah buruh tani dan hanya sebagian kecil saja yang memag pekerjaannya bukan bertani).
Masyarakat yang memiliki lahan pertanian belum tentu dapat mencerminkan pengguasaan terhadap tanahnya tersebut. Sebab, terdapat berbagai cara yang dilakukan orang lain dalam menguasai tanah yakni dengan 2 sistem :
1. Sewa, yakni dengan cara menyewa kepada orang yang mempunyai lahan pertanian dengan cara memberikan uang sesuai dengan kontrak perjanjian maupun dengan cara memberikan sebagian hasil pannennya kepada pemilik tanah.
2. Gadai, yakni apabila pemilik tanah sedang membutuhkan uang untuk digunakan pada keperluan yang mendesak. Misalnya uangnya digunakan untuk hajatan anaknya maupun terdapat salah satu anggota keluarga yang sedang sakit parah sehingga membutuhkan banyak uang. Biasanya, selain menjual tanahnya pemilik tanah akan mengadaikan tanahnya kepada orang lain yang mempunyai banyak uang. Dimana dalam proses mengadaikan ini dengan jaminan sertifikat tanahnya akan diberikan kepada pihak pengadai, apabila pemilik tanah mampu mengembalikan uang sesuai dengan batas yang telah ditentukannya maka sertifikat tersebut akan dikembaikan, namun apabila si pemilik tidak dapat mengembalikan uangnya maka tanah tersebut akan menjadi milik si pengadai.
Distribusi lahan pertanian yang tidak merata mengakibatkan sebagian masyarakat tidak mempunyai tanah pertanian. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yakni :
1. Kemiskinan
Masyarakat yang tinggal di desa Talunombo tidak semuanya berada pada tingkat yang tinggi. Terdapat beberapa masyarakat yang tergolong sebagai kelompok miskin yang hanya mengandalkan tenaganya untuk menjadi buruh petani bagi tuan-tuan tanah. Bagi mereka penghasilan dari buruh tani tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka saja, sehingga mereka tidak mampu untuk membeli lahan pertanian.
2. Tidak mempunyai warisan lahan pertanian
Bagi masyarakat yag tinggal di desa Talunombo, biasanya mengadalkan tanah warisan yang diberikan oleh orangtuanya. Namun, bagi mereka yang tidak berasal dari keluarga yang berada dan orangtuaya tidak memiliki tanah maka anaknya juga tidak akan mendapat warisan.
3. Menjual lahan pertanian
Bagi masyarakat yang awalnya mempunyai tanah, namun karena ada keperluan tertentu, misalnya terjerat hutang maka si pemilik tanah akan menjual tanahnya kepada orang lain. Sehingga menyebabkan mereka tidak lagi mempunyai lahan pertanian.
4. Warga pindahan
Warga pindahan merupakan bukan penduduk asli di desa Talunombo melainkan mereka yang berasal dari luar daerah yang menempati permukiman dari hasil warisan yang di berikan oleh sanak keluarganya. Namun adapula warga yang pindah ke desa Talunombo yang tidak mempunyai tanah, sehingga mereka menyewa rumah penduduk yang tidak ditempati. Biasanya penduduk dari kota yang pindah ke desa tersebut mengalami kebangkrutan pada usaha yang dirintis, sehingga mereka memutuskan untuk pindak ke desa dengan harapan untuk menata kehidupan menjadi lebih baik lagi. Dalam kasus ini seperti kisah yang dialami oleh bapak Gino (salah satu warga pindahan yang berasal dari kecamatan Giriwoyo) awalnya ia mempunyai anak sebagai pengusaha material bangunan. Namun, anaknya mengalami kebangkrutan sehingga bapak Gino dan isterinya dipindahkan ke desa Talunombo denga membeeli rumah dari salah satu warga yang sudah meninggal sedangkan anaknya tidak tinggal di desa tersebut.
5. Diambil oleh sanak keluarga
Masyarakat yang tinggal di desa Talunombo yang pada awalnya mempunyai tanah dari hasil warisan yang diberikan oleh orangtua mereka, namun adanya perebutan warisan tersebut menyebabkan lahan pertanian tersebut diminta oleh sanak keluarga yang lain. Dalam hal ini, akan dicontohkan pada kasus salah satu warga di desa Talunombo, sebut saja namanya mbah Tukiyem. Beliau merupakan seorang nenek yang berumur 70 tahun, dimana ia ditinggal oleh suaminya dari umur 58 tahun tanpa mempunyai keturunan. Sehingga, masa tuanya tidak ada anggota keluarga yang menemani. Akhirnya ada salah satu keponakannya yang menawarkan diri untuk merawat mbah Tukiyem selama hidupnya, namun dengan satu syarat yakni lahan pertanian dan rumah miliknya harus diberikan kepada keponakannya. Alhasil mbah Tukiyem menyetujui permintaan dari keponakannya tersebut dengan menyerahkan sertifikat tanah miliknya kepada keponakannya. Namun, setelah sertifikat sudah dibalik namakan menjadi milik keponakannya, mbah Tukiyem dibuatkan rumah dibelakang rumah aslinya dengan ukuran yang sangat sempit sekitar 5 x 7 m. sedangkan keponakannya tersebut menempati rumah asli mbah Tukiyem bersama dega isteri dan anaknya.
E. Pendapatan dan Distribusinya
Kita tahu bahwa pendapatan yang diperoleh dari masyarakat di daerah pedesaan sebagian besar berasal di bidang pertanian. Telah disebutkan diatas, bahwa mayoritas masyarakat di desa Talunombo bermata pencaharian sebagai petani sehingga pendapatan yang diperoleh juga berasal dari hasil petanian. Hal ini tampak terlihat adanya area persawahan yang luas, apabila anda sedang pergi ke desa Talunombo. Dalam mengolah lahan pertanianya, bagi pemilik dapat mengolah persawahannya sendiri maupun membutuhkan bantuan dari orang lain (buruh tani). Biasanya petani di desa Talunombo hasil panen padinya disimpan dalam rumah atau dikonsumsi sendiri. Namun, apabila hasil panennya banyak dan sedang membutuhkan banyak uang maka masyarakat di desa tersebut akan menjual padinya kepada pengepul atau tengkulak.
Pendapatan dan distribusi menjadi pendorong seseorang untuk mampu bertahan hidup, dengan memenuhi segala kebutuhannya. Masyarakat di desa Talunombo tidak semuanya mempunyai tanah pertanian sebagai pendorong ekonominya, maka untuk itu mereka memiliki cara lain untuk bertahan hidup. Bagi penyewa tanah, sebelumnya terjadi kesepakatan antara pemilik tanah dengan penyewa tanah. Dimana, tanah tersebut apakah akan diolah berdua maupun hanya diolah oleh penyewa tanah saja. Apabila tanah tersebut diolah berdua antara penyewa tanah dengan pemilik tanah maka hasil panenya akan dibagi sama rata dengan syarat pemilik tanah hanya membayar seperempat biaya yang dikeluarkan dari pengolahan sawah tersebut. Sedangkan apabila sawah hanya diolah oleh penyewa saja maka pemilik akan mengajukan sejumlah uang untuk beberapa masa panen
Bagi masyarakat yang mempunyai lahan pertanian hanya mengandalkan hidupnya di sektor agraris. Mereka menggarap sawah untuk memenuhi kebutuhannya, tak jarang adapula yang menyewakan sawahnya, dan juga menyewakan dengan sistem bagi hasil. Jadi, tidak semua lahan tanah yang ada di desa Talunombo dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang juga dapat menghasilkan keuntugan untuk menopang ekonomi keluarga..
Bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanian mendapat sumber penghasilannya, selain diperoleh dari sistem sewa juga dapat diperoleh dengan cara mejual tenaganya kepada tuan-tuan tanah untuk membatu mengolah tanahnya. Selain di bidang petanian, mereka mendapatkan penghasilan dengan cara berdagang baik di pasar maupun di dalam rumah masing-masing. Barang yang biasaya di jual antara lain : sembako, sayur-mayur, rokok, mainan, baju, dan lain sebagainya. Selain berdagang, masyarakat di desa Talunombo ada yang bekerja sebagai PNS seperti Bidan, Guru, dan Polisi. Keberadaan PNS di Desa Rejosari jumlahnya masih sangat sedikit, hal ini karena tidak semua warganya mampu mengeyam pendidikan yang tinggi.
F. Kemiskinan di Pedesaan
Dalam menentukan tingkat kemiskinan pada setiap daerah biasanya menggunakan pendapatan perkapita yag terdapat pada daerah masing-masing. Kemiskinan menjadi salah satu tolak ukur suatu wilayah dikatakan belum sejahtera, dan makmur. Kategori miskin di berbagai wilayah memepunyai indikator yang berbeda-beda, hal ini sesuai dengan keadaan masyarakat sekitarnya. Berikut merupakan beberapa kriteria masyarakat di desa Talunombo yang dikatakan miskin, sebagai berikut :
1. Ukuran rumah yang sempit
Biasanya masyarakat yang tinggal pada rumah yang sempit dengan ukuran kira-kira 7 x 8 m dalam satu keluarga. Dalam rumah tersebut haya beralaskan lantai tanah dengan fasilitas kamar mandi yang berada di luar rumah dengan kondisi yang tidak layak untuk dipakai. Kemudian rumah yang ditempati tersebut terbuat dari kayu dan bambu yang diperoleh dari hasil alam.
2. Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap
Kriteria masyarakat yang dikatakan miskin adalah bagi mereka yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap seperti halnya pekerja buruh tani yang hanya bekerja pada saat masa panen tiba. Sehingga pada saat tertentu mereka tidak mempunyai penghasilan untuk memperthankan hidupnya.
3. Tidak mempunyai rumah dan lahan pertanian
Bagi mereka yang tidak mempunyai rumah dan lahan petanian biasanya menyewa lahan kepada warga lain, sehingga setiap bulan atau tahunnya harus membayar uang sewa kepada pemilik tanah. Apabila si penyewa tidak diimbangi dengan pendapatan yang tepat maka akan mengaami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tulisan ini dipublikasikan di Artikel Kuliah Sosiologi & Antropologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco