Tujuan bangsa Indonesia begitu jelas tercantum di dalam UUD 1945, namun dalam usaha untuk mencapainya banyak mengalami hambatan, tantangan, dan ancaman baik dari dalam maupun luar negeri. Tentunya untuk menghadapi semua yang terjadi, Indonesia memerlukan sebuah kekuatan yang berupa ketahanan nasional.
Ketahanan nasional merupakan kondisi dinamis suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar dan dalam yang secara langsung dan tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mengejar tujuan nasional. Ketahanan nasional yang dinamis ini membuat Indonesia harus selalu dikembangkan dan dibina agar memadai sesuai perkembangan zaman.
Sejak kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia tidak pernah luput dari persoalan ketahanan nasional, salah satunya yaitu di bidang ekonomi. Terlebih seiring akan dilaksanakan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) pada tanggal 31 Desember 2015.
Kesiapan Indonesia dalam menghadapai MEA 2015 dapat dilihat dari perbandingan aspek pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekspor nasional serta pendapatan perkapita nasional masyarakat Indonesia. Kesiapan Indonesia jika dilihat dari aspek pertumbuhan ekonomi Berdasarkan laporan pertumbuhan ekonomi yang dilansir oleh IMF pada tahun 2012, terlihat bahwa pada 10 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat stabil di kisaran 5,5% ± 1% dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 6,11%. Sejak tahun 2007 hingga 2012, tingkat pertumbuhan hampir selalu di atas 6% dengan pengecualian tahun 2009 (4,6%) sejalan dengan krisis ekonomi global akibat kegagalan sektor kredit properti dimana sebagian besar negara bahkan mengalami pertumbuhan minus. Tren tersebut berbeda bila dibandingkan dengan Singapura yang memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 6,55%, namun fluktuasinya sangat tinggi mulai dari 14,7% (2010) setelah mengalami kontraksi -1,3% (2009).
Demikian pula halnya dengan Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam yang tidak lepas dari imbas krisis global tahun 2009, sehingga turut mengalami pertumbuhan yang minus. Pertumbuhan ekonomi Vietnam memang menunjukkan tingkat yang selalu lebih tinggi dibandingkan Indonesia dari periode 2002 hingga 2010, namun terlihat mulai mengalami overheating dan melambat pertumbuhannya. Sedangkan Myanmar mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang hampir mirip dengan Indonesia, secara umum pertumbuhan ekonomi masyarakat ASEAN tidak lebih jauh dan lebih tinggi dari pertumbuhan Indonesia, oleh karena itu daya saing Indonesia ditingkat ASEAN masih cukup kuat.
Dalam beberapa kondisi, perekonomian Indonesia mengalami tantangan dalam menghadapi MEA 2015. Pemberlakuan MEA pada 2015 menjadi sebuah realita yang harus dihadapi oleh berbagai sektor industri, ditengah perbandingan kebutuhan pasar dengan tenaga kerja industri yang terjadi saat ini.
Jumlah penduduk yang mencapai 50 persen dari penduduk ASEAN dan jumlah pendapatan perkapita yang lebih kecil dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapore dan Thailand, maka MEA 2015 sebenarnya lebih menguntungkan bagi pengembangan ekonomi Indonesia, terutama dalam pemerataan pendapatan.
Dalam menghadapi MEA 2015, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan daya saing produk Indonesia mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar berpotensi menjadi pasar bagi produk sejenis dari negara tetangga. Peningkatan daya saing ini mencakup baik produk unggulan maupun yang bukan unggulan. Di samping itu, parlemen Indonesia dapat membantu tugas pemerintah dimaksud dengan mempersiapkan berbagai regulasi yang bertujuan melindungi pasar Indonesia dari serbuan barang produk negara-negara ASEAN. Langkah semacam ini bukan dimaksudkan sebagai langkah proteksi terhadap pasar Indonesia tetapi semata-mata untuk mencari keseimbangan antara ekspor dan impor.
Namun demikian pemerintah tidak hanya memberikan kesempatan kepada perusahaan swasta besar, tetapi juga memberi kesempatan bagi Usaha Mikro Kecil Mengah (UMKM). Karena ekonomi nasional saat ini banyak didorong oleh kontribusi industri kreatif dengan melibatkan banyak generasi muda yang memiliki kreatifitas dan inovasi yang berorientasi pada UMKM. UMKM harus dirangkul dan dibantu untuk dapat menjual produk-produknya baik ke dalam negeri maupun luar negeri.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, jumlah Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga kini telah mencapai 55,2 juta yang tersebar di seluruh Indonesia. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia memiliki peran strategis. Per akhir tahun 2012, jumlah UMKM di Indonesia 56,53 juta unit dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto 59,08 persen. Hal itu jelas bahwa baik UKM maupun UMKM di Indonesia memiliki potensi yang besar dalam hal ketahanan nasional dalam bidang ekonomi.
Ketahanan di bidang ekonomi dapat ditingkatkan melalui pembangunan nasional yang berhasil, namun tidak dapat dilupakan faktor-faktor non teknis dapat mempengaruhi, karena saling terkait dan berhubungan, misalnya stabilitas ekonomi. Jadi faktor-faktor yang terkait dengan faktor-faktor non teknis harus diperhatikan. Dengan demikian ketahanan ekonomi diharapkan mampu memelihara stabilitas ekonomi melalui keberhasilan pembangunan, sehinga menghasilkan kemandirian perekonomian nasional dengan daya saing yang tinggi.
Dalam upaya mewujudkan ketahanan nasional yang optimal diharapkan pemerintah lebih berupaya dalam memperhatikan dan menghentikan proses deindustrialisasi yang muncul di negara ini. Majunya perdagangan seharusnya dapat menjadi ujung tombak majunya industri-industri unggulan, bukan sebaliknya. Melalui perdagangan yang maju akan meningkatkan permintaan terhadap produk, yang akhirnya akan mendorong peningkatan volume produksi dan penyerapan tenaga kerja. Jangan sampai terjadi perdagangan yang maju hanya memunculkan pedagang-pedagang sebagai penjual produk impor, sedang industri dalam negeri justru mati karena produknya kalah bersaing dengan produk impor tersebut.