Perkembangan Psikososial dan Moral

24

LatarBelakang

Masa kanak-kanak dimulai setelah masa bayiyang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Selama periode ini (kira-kira 11 tahun bagi wanita dan 12 tahun bagi pria) terjadi sejumlah perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun psikologis.

Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi 2 yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari 2 sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual.

RumusanMasalah

  1. Apasaja tahap-tahap perkembangan personal dan sosial?
  2. Apasaja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial?
  3. Bagaimana perkembangan perasaan dan emosi?
  4. Bagaimana pandangan Piaget dan Kohlberg tentang perkembangan moral?

Tujuan

  1. Untukmengetahuitahap-tahap perkembangan personal dan sosial
  2. Untukmengetahuifaktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial
  3. Untukmengetahuiperkembangan perasaan dan emosi
  4. Untukmengetahuipandangan tentang perkembangan moral

PEMBAHASAN

  1. Perkembangan Personal dan Sosial

Pada waktu anak mengembangkan kecakapan kognitifnya, mereka juga mengembangkan konsep diri,cara berinteraksi dengan orang lain,dan sikap terhadap dunia.Pemahaman perkembangan personal dan sosial ini sangat penting bagi guru karena dapat digunakan untuk dasar pemberian motivasi,mengajar,dan berinteraksi dengan peserta didik.

Pakar psikologi yang mengembangkan teori perkembangan personal dan sosial adalah Erik Erikson.Teori Erikson mengemukakan delapan tahap perkembangan manusia, yaitu : kepercayaan versus ketidakpercayaan,otonomi versus malu dan ragu, inisiatif versus rasa bersalah,upaya versus inferioritas,identitas versus kebingungan, imitasi versus isolasi,generativitas versus stagnasi, dan integritas versus putus asa.

Kepercayaan versus ketidakpercayaan.Perkembangan kepercayaan membutuhkan pengasuhan yang hangat dan bersahabat.Hasil positifnya adalah rasa nyaman dan berkurangnya ketakutan sampai titik minimal.Ketidakpercayaan akan tumbuh jika bayi diperlakukan terlalu negatif atau diabaikan.

Otonomi versus malu dan ragu.Tahap ini terjadi pada masa bayi akhir dan masa belajar berjalan.Setelah memercayai pengasuhnya,sang bayi mulai menemukan bahwa tindakannya adalah tindakannya sendiri.Mereka menegaskan indepedensi dan menyadari kehendaknya sendiri.Jika bayi dibatasi terlalu banyak atau dihukum keras,mereka akan mengembangkan rasa malu dan ragu.

Inisiatif versus rasa bersalah.Tahap ini berhubungan dengan masa kanak-kanak awal,sekitar usia 3-5 tahun.Saat anak merasakan dunia sosial yang lebih luas, mereka mendapat lebih banyak tantangan ketimbangan saat bayi.Anak harus lebih aktif dan mempunyai tujuan.

Upaya versus inferioritas.Thap ini dialami anak pada usia sekolah dasar 6-11 tahun. Inisiatif ini berhubungan dengan banyak pengalaman baru.Tatkala anak masuk sekolah dasar menggunakan energinya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan intelektual.Masa kanak-kanak akhir menjadikan anak bersemangat untuk belajar,saat imajinasi mereka berkembang.Bahayanya muncul rasa rendah diri (inferioritas),ketidak produktivan dan inkompetensi.

Identitas versus kebingungan.Tahap ini terjadi pada masa remaja.Remaja berusaha untuk mencari tahu jati dirinya,apa makna dirinya,dan kemana mereka akan menuju. Mereka berhadapan dengan peran baru dan status dewasa (seperti pekerjaan dan pacaran).

Intimasi versus isolasi.Tahap ini terjadi pada masa dewasa awal.Tugas perkembangannya adalah membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bahaya yang mungkin muncul kalau mengalami kegagalan dalam tugas perkembangan ini akan terisolasi secara sosial.

Generativitas versus stagnasi.Tahap ini terjadi pada masa dewasa pertengahan, sekitar usia 40-50 tahun.Generativitas berarti mentransmisikan sesuatu yang positif kepada generasi selanjutnya.

Integritas versus putus asa.Tahap ini berhubungan dengan masa dewasa akhir,sekitar usia 60 sampai meninggal.Orang tua merenungi kembali hidupnya, memikirkan hal-hal yang telah mereka lakukan.Kalau evaluasi retrospektif positif, mereka akan mengembangkan rasa integritas,sebaliknya individu akan putus asa tatkala renungannya negatif.

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
  2. Keluarga

Sejumlah studi telah membuktikan ,bahwa hubungan pribadi di lingkungan keluarga (rumah) yang antara lain hubungan ayah dengan ibu,anak dengan saudaranya, dan anak dengan orang tua,mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan sosial anak.

Cara pendidikan anak yang digunakan oleh orang tua sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak,utamanya pada tahun-tahun awal kehidupan.Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang demokratis,barangkali akan melakukan penyesuaian yang paling baik.Mereka aktif secara sosial dan mudah bergaul.Sebaliknya , mereka yang dimanjakan cenderung menjadi tidak aktif dan menyendiri.Anak-anak yang dididik otoriter,cenderung menjadi pendiam dan tidak suka melawan,keingintahuan dan kreativitas mereka terhambat oleh tekanan orang tua.

  1. Sekolah

Ketika anak-anak memasuki sekolah,guru mulai memasukkan pengaruh terhadap sosialisasi mereka,meskipun pengaruh teman sebaya biasanya lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh guru dan orang tua.Studi tentang perbedaan antara pengaruh teman sebaya dengan pengaruh orang tua terhadap keputusan anak pada berbagai tingkatan umur,menemukan bahwa dengan meningkatnya umur anak,jika nasihat yang diberikan oleh keduanya berbeda,maka anak cenderung lebih terpengaruh oleh teman sebaya.

  1. Masyarakat

Sejak anak mulai sekolah,anak memasuki usia geng,yaitu usia yang pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat.Namun tidak berarti tanpa resiko,sebab kehidupan geng turut memengaruhi perkembangan berbagai macam perilaku sosial.Pengaruh geng disamping membantu anak-anak menjadi pribadi yang mampu bermasyarakat, sebaliknya kehidupan geng menopang perkembangan kualitas perilaku sosial tertentu yang tidak baik,seperti sombog,kenakalan dan sebagainya yang kadang-kadang meresahkan orang tua,guru dan masyarakat.

Penerimaan dan penghargaan secara baik masyarakat terhadap diri anak,lebih-lebih terhadap peserta didik,mendasari adanya perkembangan sosial yang sehat,citra diri yang positif dan juga rasa percaya diri yang mantap.Sebaliknya,perkembangan sosial yang sehat,citra diri yang positif,dan rasa percaya diri yang mantap bagi anak akan menimbulkan pandangan positif terhadap masyarakatnya,sehingga anak lebih berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

  1. Perkembangan Perasaan dan Emosi

Perasaan dan emosi merupakan bagian integral dari keseluruhan aspek psikis manusia.Sebagai fungsi psikis,perasaan dan emosi mempunyai pengaruh terhadap fungsi psikis lainya,seperti pengamatan,tanggapan,pemikiran dan kemauan.

  • Pengertian Perasaan dan Emosi

Chaplin (1989:163) memberikan definisi perasaan sebagai pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh perangsang eksternal maupun bermacam-macam keadaan jasmani.Max Scheber (dalam Efendi ,1990:79) membagi perasaan ke dalam empat kelompok,yaitu:

  • Perasaan penginderaan, yaitu yang berhubungan dengan penginderaa, misalya rasa panas, dingin dan sebagainya.
  • Perasaan vital, yaitu perasaan yang dialami seseorang yang berhubungan dengan keadaan tubuh, misalnya rasa lelah, lesu, segar, dll.
  • Perasaan psikis, yaitu perasaan yang menyebabkan perubaha-perubahan psikis , misalnya senang, sedih, dll.
  • Perasaan pribadi yaitu perasaan yag dialami seseorang secara pribadi, misalnya perasaan terasing, suka, tidak suka, dll.

Perasaan erat kaitanya dengan emosi. Perasaan merupakan bagian dari emosi, dan tidak terdapat perbedaan yang tegas antara perasaan dengan emosi. Dalam beberapa hal perasaan mempunyai arti yang sama dengan emosi, namun adakalanya tidak demikian. Yang jelas emosi lebih bersifat intens daripada perasaan, lebih ekspresif, ada kecenderungan untuk meletus, dan emosi dapat timbul dari kombinasi beberapa perasaan, sehingga emosi mengandung arti yang lebih kompleks dari perasaan.

  • Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku

Terdapat beberapa teori yang membahas hubungan antara emosi dengan tingkah laku, yaitu :

  • Teori Sentral

Menurut teori ini, gejala kejasmanian timbul sebagai akibat dari emosi yang dialami oleh individu. Jadi individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian megalami perubahan-perubahan dalam jasmaninya.

  • Teori Perifir

Perubahan psikologis yang terjadi dalam emosi disebabkan adanya perubahan psikologis. Perubahan fisiologis ini menyebabkan perubahan psikologis yang disebut emosi. Menurut teori ini, orang susah karena menangis, orang senang karena tertawa bukan tertawa karena senang.

  • Teori Kedaruratan Emosi

Teori ini dikemukakan oleh W.B Cannon yang diperkuat oleh P.Bard kemudian dikenal dengan teori Cannon-Bard. Teori ini menyatakan bahwa emosi merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergensi atau darurat.

Emosi juga berhubungan dengan motif. Emosi dapat berfungsi sebagai motif yang dapat memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu dapat berbuat atau bertingkah laku. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh emosi tersebut, bisa bersifat positif maupun negatif. Hal ini dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya :

  1. Ketika kita mengetahui saudara kita tertimpa bencana, timbul rasa haru, simpati kemudian kita tergerak untuk memberikan sumbangan.
  2. Sekelompok supporter sepakbola yang menyaksikan tim ke-sebelasan favorit kalah, timbul perasaan kecewa, jengkel, marah lalu bertindak brutal dengan merusak stadion.
  3. Pelajar saling mengolok-olok, kemudian timbul kemarahan, sakit hati, atau dendam, yang akhirnya menyebabkan perkelahian atau tawuran antarpelajar.
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

Sejumlah studi tentang emosi anak telah mengungkapkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan dan faktor belajar. Beberapa kondisi,baik kondisi yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, dapat menyebabkan dominannya dan menguatnya emosi seseorang.Kondisi- kondisi tersebut adalah:

  • Kondisi yang ikut mempengaruhi emosi dominan
  1. Kondisi kesehatan
  2. Suasana rumah
  3. Cara mendidik anak
  4. Hubungan dengan para anggota keluarga
  5. Hubungan dengan teman sebaya
  6. Perlindungan yang berlebihan
  7. Aspirasi orang tua
  8. Bimbingan
  • Kondisi yang menunjang timbulnya emosionalitas yang menguat
  1. Kondisi fisik. Apabila kondisi fisik terganggu karena kelelahan, kesehatan yang buruk,atau perubahan yang berasal dari perkembangan,maka anak akan mengalami emosionalitas yang menguat atau meninggi.
  2. Kondisi psikologis.Pengaruh psikologis yang penting antara lain tingkat kecerdasan,tingkat aspirasi dan kecemasan.
  • Tingkat intelektual yang buruk. Anak yang tingkat intelektualnya rendah,rata-rata mempunyai pengendalian emosi yang kurang dibandingkan dengan anak yang pandai pada tingkatan umur yang sama.
  • Kegagalan mencapai tingkat aspirasi.Kegagalan yang berulang-ulang dapat mengakibatkan timbulnya keadaan cemas,sedikit atau banyak.
  • Kecemasan setelah pengalaman emosional tertentu yang sangat kuat. Contoh,akibat lanjutan dari pengalaman yang menakutkan,akan mengakibatkan anak takut kepada setiap situasi yang dirasakan mengancam.
  1. Kondisi lingkungan.Ketegangan yang terus menerus,jadwal yang ketat dan terlalu banyak pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan.
  1. Perkembangan Moral

Perkembangan kognitif dan personal anak-anak adalah berbeda dengan orang dewasa,dan mereka juga berbeda dalam penalaran moralnya.Piaget mengkaji perbedaan tersebut dengan mengamati anak-anak yang sedang bermain.Berdasarkan temuan hasil pengamatan itu ,Piaget membagi dua tahap perkembangan moralyaitu heteronomous (anak-anak) dan otonomous (orang dewasa).Berbeda dengan itu,Lawrence Kohlberg membagi tahap perkembangan moral kedalam tiga tahap utama yaitu prakonvensional,konvensional, dan pascakonvensional. Kohlberg percaya bahwa perkembangan struktur logika yang diusulkan oleh Piage adalah penting untuk melanjutkan bidang-bidang penalaran dan keputusa moral.

  1. Pandangan Piaget

Piaget meluangkan banyak waktunya untuk mengamati anak-anak yang sedang bermain marbles dan menanyakan aturan main kepada mereka.Pertanyaan- pertanyaan yang diajukan adalah berkisar isu-isu pencurian,kebohogan,hukuman, dan keadilan.Dinyatakan bahwa dengan memahami anak-anak menalarkan aturan main tersebut,maka seseorang dapat memahami perkembangan moral mereka. Satu hal yang ditangkap oleh Piaget adalah bahwa sebelum anak berusia 6 tahun, mereka bermain tanpa menggunakan aturan. Pada usia 2-6 tahun anak-anak mengungkapkan kesadaran tentang aturan bermain namun tidak memahami tujuan atau pentingnya untuk mengikuti aturan bermain.Pemikiran menang dalam permainan tidak ada pada diri anak,dan jika ada pemikiran seperti itu,kemenangan itu tidak didasarkan oleh adanya aturan tertentu.

  1. Pandangan Kohlberg

Anak-anak yang berusia antara 10-12 tahun telah mampu menggunakan dan mengikuti aturan secara sadar.Pada usia ini setiap anak yang sedang bermain akan mengikuti aturan yang sama.Anak-anak memahami bahwa adanya aturan itu untuk mengarahkan permainan dan mengurangi pertentangan antarpemain.Mereka memahami bahwa aturan adalah sesuatu yang diyakini oleh setiap orang,sehingga apabila setiap orang ingin mengubahnya,maka aturan itu dapat diubah.

Kohlberg menyusun teori perkembangan moral terdiri dari tiga level utama dengan dua tahap pada setiap level.Konsep penting memahami teori Kohlberg adalah internalisasi,artinya perubahan perkembangan dari perilaku yang dikontrol secara internal.

Preconventional reasoning (penalaran prakonvensional), merupakan level terbawah dari perkembangan moral dalam teori Kohlberg.Anak tidak menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral.Penalaran moral dikontrol oleh hukuman dan ganjaran eksternal.

Conventional reasoning (penalaran konventional),adalah tahap kedua dari teori Kohlberg.Pada tahap ini internalisasi masih setengah-setengah. Anak patuh secara internal pada standar tertentu,tetapi standar itu pada dasarnya ditetapkan oleh orang lain,seperti orang tua atau aturan sosial.

Pascaconventional reasoning (penalaran pasca konvensional),level yang tertinggi,moralitas sudah sepenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar eksternal. Individu mengetahui aturan-aturan moral alternatif,mengeksplorasi opsi,dan kemudian memutuskan sendiri kode moral apa yang terbaik bagi dirinya.

Kesimpulan

Perkembangan sosial merupakan pencapaian dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial anak sangat di pengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau norma-norma kehidupan masyarakat serta mendorong atau memberi contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial disebabkan oleh keluarga, sekolah dan masyarakat. Perasaan dan emosi merupakan bagian integral dari keseluruhan aspek psikis manusia.Sebagai fungsi psikis,perasaan dan emosi mempunyai pengaruh terhadap fungsi psikis lainya,seperti pengamatan,tanggapan,pemikiran dan kemauan. Perkembangan kognitif dan personal anak-anak adalah berbeda dengan orang dewasa,dan mereka juga berbeda dalam penalaran moralnya.

Saran

Dari pembahasan diatas, kami memberi saran sebagai berikut:

  1. Sebagai calon pendidik yang baik kita harus memahami sifat dan karakteristik setiap anak didiknya.
  2. Sebagai calon pendidik yang baik kita harus mengerti dan memahami dengan perkembangan emosi setiap anak didiknya.

3 comments

  1. Makasih infonya kaka 🙂

  2. tambahin contoh kasus sama daftar pustaka ya, biar lebih keren okayy

  3. sebagai calon pendidik kita sudah sepatutnya mampu menerima berbagai karakteristik dari masing2 siswa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: