Universitas negeri semarang atau yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan unnes sudah dikenal sebagai universitas konservasi. Dari konservasi lingkungan hingga moral mahasiswanya. Dari segi lingkungan Unnes sudah cukup gencar dalam mengampanyekan dan melakukan penghijauan. Mulai dari adanya mata kuliah umum konservasi hingga pelaksanaan penanaman satu bibit pohon bagi setiap mahasiswa.
Cara ini bisa dibilang berhasil, hampir semua area fakultas di unnes hijau dengan pepohonan walaupun memang belum terlalu merata. Salah satu kawasan terimbun adalah jalan di fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, fakultas bahasa dan seni hingga ke rektorat. kita bisa merasakan bagaimana sejuknya rerimbunan pohon yang masih asri ketika menyusurinya.
Tidak hanya konservasi lingkungan yang dilakukan, konservasi budaya dan moral juga sangat digalakkan. Selain itu unnes juga telah menggalakkan konservasi moral dan mewajibkan setiap mahasiswanya untuk memiliki 11 nilai konservasi seperti religius, jujur, cerdas, adil, tanggung jawab, peduli, toleran, demokratis, cinta tanah air, tangguh dan santun. Namun, sudahkah mahasiswa unnes menerapkan nilai-nilai tersebut ?
Mari kita ambil salah satu nilai seperti jujur. Mungkin indikator termudah untuk membuktikan kejujuran mahasiswa adalah saat ujian datang. Sudahkah para mahasiswa mengerjakan ujiannya secara mandiri ? atau tengok kanan kiri ? atau bahkan terus menunduk memandangi smartphone ? saya rasa ketiga praktek tersebut masih terus dilakoni bahkan ketiganya sekaligus. Dan terkadang para dosen pun merasa sungkan untuk sekedar mengingatkan meskipun sudah terang-terangan terlihat.
Banyak yang mengatakan bagi pelajar “nge-peck” itu biasa. Baiklah, anggap saja hal itu biasa. Tapi apakah kasus kehilangan dompet atau bahkan laptop di area kampus atau bahkan di tempat ibadah kampus masih dianggap hal yang lumrah ? jangankan benda-benda berharga, bahkan kantin kejujuran pun sering mengalami kerugian akibat hilangnya uang. Bukankah sudah jelas terlihat bahwa kejujuran mahasiswa sudah luntur dari hal sepele hingga ke hal yang bisa dibilang luar biasa.
Contoh lain adalah masalah kesantunan. Tidak sedikit dosen yang kadang mengeluh atau lebih tepatnya mengingatkan para mahasiswa agar mengirim pesan pada dosen dengan kata-kata yang lebih sopan. Bukankah itu saja sudah menunjukkan bahwa kesantunan mahasiswa pada dosen juga masih dirasa kurang ?
Mungkin hal-hal tersebut masih bisa dibilang masalah kecil namun bukankah untuk membangun moral yang berkualitas perlu dimulai dari hal-hal kecil. Sebenarnya masih banyak masalah-masalah yang lebih besar berkaitan dengan moral jika kita mau menelisik lebih jauh.
Bukankah universitas merupakan tempat pengembangan ilmu tertinggi di negeri ini ? setinggi apap pun ilmu jika manusia yang memilikinya tidak mempunyai moral yang cukup baik, ilmu tersebut tidak akan bisa bermanfaat atau bahkan akan merusak dan membutakan manusia. Maka dari itu, masih dibutuhkan pemaksimalan berkaitan dengan konservasi moral. Agar konservasi yang dilakukan tidak hanya berbasis lingkungan saja tapi benar-benar mendasar hingga moral mahasiswanya.
Sehingga nantinya Unnes dapat benar-benar menjadi tempat pengembangan ilmu bagi para generasi muda yang tetap cinta lingkungan dan menjadi garda utama universitas pejuang konservasi di Indonesia.
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan ini adalah karya saya sendiriĀ dan bukan jiplakan.