Pemuda Kelahiran Bandar Lampung ini Diakui sebagai Hacker Kelas Dunia

Dunia internet memang memberikan banyak peluang dan revolusi aliran informasi. Teknologi ini telah banyak mengubah jalan cerita dunia dan nasib banyak orang. Namun ibarat sebuah pedang, internet adalah pedang bermata dua yang harus terus diwaspadai penggunaannya. Seorang anak bangsa asal Bandarlampung mengerti tentang fakta tersebut.

Jim Geovedi adalah pemuda yang memahami bagaimana potensi sistem keamanan dari dunia internet. Sebagai seorang yang memiliki keahlian peretasan, Jim, jika dia mau, bisa setiap saat keluar masuk ke pusat data merekam percakapan, menyalin surat elektronik atau sekedar mengintip aktifitas anda di dunia maya mengingat hampir seluruh informasi dan teknologi terkoneksi satu sama lain.

Jim-Geovedi-Hacker-Satelit-1

Gambar 1. Jim Geovendi

Lebih dari itu, dia bisa saja mencuri data-data penting seperti lalu lintas transaksi bank, laporan keuangan perusahaan atau bahkan mengamati sistem pertahanan negara.

“Kalau mau saya bisa mengontrol internet di seluruh Indonesia,“ kata Jim dalam percakapan dengan Deutsche Welle. Saat saya tanyakan itu kepada pengamat IT Enda Nasution, dia mengaku percaya Jim Geovedi bisa melakukan itu.

Meski memiliki kemampuan yang cukup berbahaya, Jim mengaku dirinya lebih memilih untuk memanfaatkan celah-celah internet untuk pengembangan sistem keamanan. Reputasinya sebagai hacker telah mendunia, hilir mudik Berlin, Amsterdam, Paris, Torino, hingga Krakow. Dirinya sering menjadi pembicara pertemuan hacker internasional. Dalam sebuah pertemuan hacker dunia, Jim pernah memperagakan cara meretas satelit: ya, Jim bisa mengubah arah gerak atau bahkan menggeser posisi satelit. Keahliannya ini bisa anda lihat di Youtube.

Pada tahun 2004, Jim pernah diminta membantu KPU (saat itu data pusat penghitungan suara Pemilu diretas-red) yang kena hack. Saya disewa untuk mencari tahu siapa pelakunya (seorang hacker bernama Dani Firmansyah akhirnya ditangkap-red).

Kemudian pada tahun 2012 Jim memutuskan pindah ke London dan mendirikan perusahaan jasa sistem keamanan teknologi informasi bersama rekannya. Dia menangani para klien yang membutuhkan jasa pengamanan sistem satelit, perbankan dan telekomunikasi. Dua tahun terakhir, dia mengaku tertarik mengembangkan artificial intelligence komputer.

Meski kemampuannya telah diakui secara internasional, namun Jim Geovedi menolak disebut ahli. Dalam wawancara, Jim lebih suka menganggap dirinya “pengamat atau kadang-kadang partisipan aktif dalam seni mengawasi dari tempat yang jauh dan aman.“

Menariknya Jim bukan lulusan sekolah IT ternama. Pemuda kelahiran Bandarlampung ini setelah lulus SMA, harus menjalani kehidupan jalanan yang keras di kampung halamannya sebagai seniman grafis. Beruntung seorang pendeta memperkenalkan dia dengan komputer dan internet. Sejak itu, Jim Geovedi belajar secara otodidak: menelusuri ruang-forum-forum chatting para hacker dunia.

dw.com

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/pemuda-kelahiran-bandarlampung-ini-diakui-sebagai-hacker-kelas-dunia/

Komunitas Adat di Kalimantan Timur Raih Penghargaan PBB

Komunitas Adat Dayak Benuaq di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur, mendapatkan penghargaan bergengsi, Equator Prize, sebagaimana diumumkan secara resmi oleh Badan Program Pembangunan PBB atau UNDP dalam konferensi pers di Sekretariat PBB di New York, AS, akhir September yang lalu.

Sebagaimana dilansir oleh Bisnis.com, Komunitas Adat Muara Tae mendapatkan Equator Prize atas upaya mereka dalam mempertahankan, melindungi dan memulihkan hutan dan wilayah adat mereka yang masih tersisa, dari gempuran logging, tambang, dan perkebunan sawit.

Hutan, tanah dan alam merupakan landasan materi dan spiritual yang menyediakan keamanan pangan, kesehatan (apotek alam) dan kelangsungan budaya Komunitas Dayak Benuaq di Muara Tae.

Sejak 20 tahun terakhir Muara Tae telah kehilangan lebih dari separuh lahan dan hutan mereka sejak 1971 oleh HPH, tambang, dan sawit. Perusahaan tersebut antara lain PT Sumber Mas (milik Josh Sutomo), PT London Sumatra Group (Lonsum) yang kemudian dibeli oleh Salim Group, PT Gunung Bayan Pratama Coal (milik Low Tuck Kwong), PT Borneo Surya Mining Jaya (Surya Dumai Grup milik Keluarga Fangiono), dan PT Munte Waniq Jaya Perkasa (TSH Resouces Bhd Grup anak dari PT First Resources Limited).

Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut telah menyebabkan Masyarakat Adat di Muara Tae kehilangan sumber-sumber penghidupan mereka. Sumber-sumber air menjadi kering dan kini mereka harus berjalan satu kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Pemimpin perjuangan Masyarakat Adat Muara Tae, Petrus Asuy menyatakan bahwa penghargaan ini adalah bukti perjuangan Masyarakat Adat Muara Tae tidak salah, bahkan menjadi tauladan. Tuduhan bahwa mereka menghambat pembangunan ternyata tidak terbukti.

Sejak awal, Muara Tae tidak pernah menyerahkan wilayah adat mereka kepada perusahaan-perusahaan tersebut dan melakukan perlawanan. Dalam perjuangan panjang perlawanan tersebut, Muara Tae mengalami berbagai bentuk kekerasan, intimidasi dan kriminalisasi.

Selain harus menghadapi perusahaan, mereka juga harus mempertahankan diri dari pihak pemerintah yang mendukung perusahaan, bahkan dengan komunitas yang berbatasan dengan mereka sebagai akibat dari strategi perusahaan untuk mengambil wilayah adat mereka melalui tangan lain.

Menurut Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan, Muara Tae adalah contoh nyata penyelamat hutan yang diperlukan oleh dunia saat ini. Upaya seperti ini yang harus mendapatkan dukungan dari dunia internasional dan khususnya perlindungan oleh Negara.

Selama ini masyarakat Adat di Muara Tae tetap berupaya sekuat tenaga menjaga hutan adat mereka. Mereka sudah berkali-kali menghadang buldozer perusahaan, hingga kemudian di tahun 2011 mereka mendirikan Pondok Jaga dan melakukan berbagai pembibitan dan penanaman pohon. Di tengah terjangan buldozer, Muara Tae mulai merehabilitasi wilayah adat mereka yang rusak dengan menanam kembali berbagai jenis pohon.

Muara Tae mentargetkan untuk merehabilitasi 700 Hektar wilayah adat mereka yang telah rusak. Mereka juga melakukan pemetaan wilayah adat dan mengidentifikasi keanekaragaman hayati yang ada di hutan adat mereka. Tahun lalu, Muara Tae melakukan Ritual Adat Gugug Tau’tn selama 64 hari, sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan, menenangkan leluhur dan berdamai dengan alam.

Kini hutan yang tersisa merupakan rumah dari sejumlah besar jenis burung, termasuk burung Enggang yang erat kaitannya dengan budaya dan adat suku Dayak di Kalimantan. Diperkirakan terdapat sekitar 20 spesies reptil dan hutan yang juga menjadi habitat dari beruang madu dan Bekantan tersebut. Demikian pula berbagai macam tanaman herbal untuk pengobatan dan ritual ada seperti akar kayu kuning hingga jenis kayu seperti Ulin, Gaharu dan Meranti.

PBB yang melihat upaya masyarakat adat tersebut, kemudian menganugerahi Muara Tae dengan Penghargaan Equator Prize, suatu penghargaan yang diberikan kepada Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal yang berupaya memerangi kemiskinan, melindungi alam dan memperkuat ketahanan dari perubahan iklim. Muara Tae secara khusus mendapatkan Equator Prize atas upaya melindungi dan mengamankan hak mereka atas tanah, wilayah dan sumberdaya alam.

dayakMasyarakat Dayak Berkumpul Melakukan Sumpah Adat, menentang Pengerusakan Hutan Adat Tahun lalu (Foto: Forest Watch Indonesia)

Campaigner Environmental Investigation Agency (EIA), Tomasz Johnson yang selama ini ikut mendukung perjuangan Muara Tae menyatakan banyak orang berpikir bahwa penyebab deforestasi sangat kompleks. Masyarakat Adat di Muara Tae menunjukkan bahwa solusinya sangat sederhana, yaitu kita harus mendukung Masyarakat seperti Muara Tae, yang selama ini tetap berjuang melindungi tanah adat mereka.

Equator Prize merupakan penghargaan oleh Equator Initiative, suatu program partnership yang diprakarsai oleh UNDP dan bekerja sama dengan badan-badan lain di PBB seperti UNEP, CBD dan UN Foundation, serta pemerintah Norway, Jerman, AS, Swedia dan organisasi-organisasi konservasi di tingkat internasional. Tahun ini Equator Prize menerima 1.461 nominasi dari 126 negara. 20 di antaranya mendapatkan Equator Prize, selain Komunitas Adat Dayak Benuaq di Muara Tae, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung juga mendapat penghargaan yang sama.

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/komunitas-adat-di-kalimantan-timur-raih-penghargaan-pbb/

Misool Eco Resort Indonesia Terpilih Sebagai Salah Satu Ecolodge Terbaik di Dunia

1Dikutip dari www.travel.nationalgeographic.com , Indonesia yang diwakili oleh Misool Eco Resort masuk di daftar salah satu ecolodge terbaik di dunia bersanding dengan 25 ecolodge dari negara lain. Ecolodge sendiri merupakan sebutan bagi penginapan ramah lingkungan dan menekankan pada alam

Tidak mudah untuk mencapai resort ini namun ketika sampai disana semua perjuangan akan terbayar lunas dengan pemandangan di sekitar resort. Terletak di pusat Coral Triangle paling terkenal se Asia Tenggara, Misool menyediakan pemandangan bawah laut yang menakujubkan. Keindahan bawah lautnya dihiasi dengan beragam jenis ikan laut yang konon jumlahnya lebih banyak daripada spesies burung di Amazon.

Misool Eco Resort menyediakan sebanyak 13 bungalow. Semua bungalow dibangun dengan sumber daya lokal mulai dari kayu bangunan hingga makanan yang disediakan semuanya berasal dari daerah setempat.

Ada beberapa pilihan aktivitas yang dapat dilakukan di resort ini, diantaranya berkunjung ke desa setempat serta berinteraksi dengan penduduk disana, mendayung, spa, snorkeling serta diving.

Tarif yang ditawarkan untuk menginap minimal selama 7 hari adalah $ 5.466.

Informasi selengkapnya :

www.misoolecoresort.com

https://travel.nationalgeographic.com/travel/best-ecolodges-photos-traveler

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/misool-eco-resort-indonesia-terpilih-sebagai-salah-satuecolodge-terbaik-di-dunia/

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas

RUP RISET SAINS UNTUK RAKYAT

Group Riset Sains untuk Rakyat (SURak) adalah kelompok riset di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang fokus kegiatannya adalah mengembangkan teknologi yang sesuai untuk komunitas-komunitas terutama di pedesaan, yang menghadapi berbagai kesulitan karena keadaan alam dan minimnya akses ke berbaai sumber daya. Terkait dengan ketersediaan listrik, yang merupakan salah satu pemacu pertumbuhan ekonomi, Grup Riset SURak (Sains Untuk Rakyat) mengembangkan sistem PLTB yang murah, mudah, dan bisa difungsikan dengan baik, hanya dengan sedikit pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat awam.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS (PLTB)

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas bukan hal yang baru, dan sudah beberapa orang maupun organisasi yang memilikinya. Tetapi pertanyaannya adalah:

Bagaimana bisa membuat PLTB tersebut bisa difungsikan dengan mudah dan murah?

Bagaimana sebuah PLTB tersebut bisa berfungsi dengan pemeliharaan dan perawatan oleh masyarakat yang notabene awam yang juga menikmati energi listriknya?

Banyak kali kita dengar PLTB dibangun dan berhasil difungsikan, tetapi seberapa lama? Seberapa betah masyarakat menggunakannya?

GAMBARAN SISTEM PLTB MINI

Sistem PLTB Mini yang dikembangkan SURak terdiri atas reaktor biogas yang terintegrasi dengan kandang dan alat pembangkit tenaga listrik yang dapat dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar biogas maupun bahan bakar konvensional (sistem hybrid). Reaktor biogas sederhana yang tidak sulit perawatannya dibangun terintegrasi dengan kandang, sehingga kotoran sapi bisa digelontor langsung dari kandang dan tidak menambah “pekerjaan baru” bagi pemilik sapi. Sistem integrasi dirancang sedemikian rupa sehingga mempermudah proses pembuangan kotoran sapinya. Kotoran sapi yang biasanya dibuang, dapat dikonversi menjadi biogas yang akan menjadi sumber energi yang mampu menerangi satu perkampungan kecil.

biogas

Gambar 1. Konsep Dasar Pembangkit Listrik Tenaga Biogas

Semua peralatan dibuat sesederhana mungkin dan disertai dengan pelatihan dan pendampingan sampai masyarakat memahami betul cara kerjanya. Tanpa ada segala sesuatu yang disembunyikan, maka diharapkan masyarakat nanti pada saatnya bisa menduplikasinya sendiri di wilayah sekitarnya. Dengan demikian PLTB bisa berkembang dengan sendirinya dengan swadaya masyarakat. Tentunya ini memperingan kerja dari PLN terutama di daerah yang infrastrukturnya kurang memadai.

Reaktor biogas yang dibuat terintegrasi dengan kandang membuat ternak sapi pada kampung akan terkonsentrasi di 1 tempat, sehingga tidak lagi ada lingkungan kurang sehat karena memelihara sapi dimana kandangnya dijadikan satu dengan rumah seperti yang biasa kita lihat selama ini. Kotoran sapinya pun langsung masuk ke dalam reaktor dan akan terdegradasi di dalamnya, sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan, baik bau, lalat, dan resiko penyakit dan kesehatan lainnya.

Generator yang dipakai untuk membangkitkan tenaga listriknya merupakan modifikasi generator berbahan bakar bensin yang banyak beredar di pasaran, sehingga sama sekali tidak membutuhkan suku cadang khusus maupun ketrampilan khusus dalam pemeliharaannya. Biasanya digunakan mesin bensin kompatible dengan merek terkenal dari Jepang yang sudah banyak beredar di masyarakat. Bahkan di daerah yang terpencil sekalipun, tidak terlalu sulit membeli suku cadangnya. Generator ini telah dimodifikasi sedemikian rupa supaya bisa beroperasi dengan dua macam bahan bakar, yaitu bensin premium dan biogas, supaya jika nantinya bisa dioperasikan baik dengan bensin, biogas, maupun campuran keduanya. Pemeliharaannya pun mudah, sama dengan merawat sepeda motor 4 langkah (4 stroke engine) biasa. Cukup dengan mengganti oli, membersihkan saringan udara, dan membersihkan karburator secara periodik.

PLTB ini sendiri juga sangat sederhana karena hanya melayani beberapa rumah saja, sehingga tidak membutuhkan jaringan yang rumit dan sistem pengamanan yang canggih. Masyarakkat awam pun akan mampu memelihara jaringannya sendiri, hanya membutuhkan pelatihan dan pendampingan selama beberapa waktu awal.

KALKULASI KONVERSI ENERGI

Berikut ini adalah contoh kalkulasi nilai ekonomi untuk konversi kotoran sapi menjadi biogas. Seekor sapi dewasa rata-rata menghasilkan 25 kg kotoran per hari. Untuk setiap 20 ekor sapi, diperlukan volume reaktor biogas 40 m3 dan bisa dihasilkan rata-rata 20 m3 biogas per hari dengan pengisian kotoran sapi secara rutin setiap hari.  Biogas sejumlah ini setara dengan energi senilai 12 kWh.

12kwh ini akan bisa dipakai sampai dengan 6 rumah untuk penerangan selama 10 jam dengan daya 100-200 watt per rumah. Kelompok 6 rumah yang berdekatan akan memudahkan koordinasi perawatan biogas, misalnya 1 kepala rumah tangga bertugas memelihara PLTB 1 minggu 1 kali, untuk menjaga supaya semua sistem berjalan dengan baik.

Estimasi bioaya untuk instalasi sistem PLTB mini ini adalah 100jt per unit (harga di Pulau Jawa). Koreksi harga tergantung kesulitan lokasi dan harga bahan bangunan di lokasi. Harga tersebut belum termasuk sapinya. Dengan investasi tersebut, PLTB ini bisa beroperasi dengan bahan bakar nyaris GRATIS. Belum lagi dengan biaya perawatan yang sangat minim, dan dapat dioperasikan dengan swadaya dan swapikir masyarakat.

KALKULASI PENGHEMATAN BAHAN BAKAR

Pada generator listrik berbahan bakar bensin, untuk menghidupkan genset 1.200 watt selama 10 jam minimal dibutuhkan bahan bakar bensin sebesar 3 liter. Artinya dalam sehari jika membeli bahan bakar non subsidi rata-rata membutuhkan uang sejumlah Rp.9.000 x 3 liter = Rp.27.000/hari. Dalam 1 bulan dibutuhkan biaya Rp.27.000 x 30 hari = Rp. 810.000 per bulan atau dalam satu tahun biayanya Rp.810.000 x 12 = Rp.9.720.000 per tahun (sengan catatan, tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak). Jika digunakan bahan bakar biogas (bisa menggantikan bensin), maka nilai penghematannya adalah senilai lebih dari 9 juta rupiah per tahun. Lebih dari itu, instalasi ini bisa memacu tumbuhnya industri kecil yang dapat memberikan tambahan penghasilan bagi komunitas yang memakainya.

Jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak fosil, baik dengan diesel maupun bensin, PLTB ini tidak memiliki KETERGANTUNGAN terhadap ketersediaan bahan bakar minyak. Sedangkan sapi yang kotorannya dipakai untuk sumber energi juga akan bertambah nilainya, seperti kita ketahui bahwa di pedesaan, memelihara sapi adalah salah satu cara untuk “menabung” bagi orang di pedesaan.

Tidak pernah ada kata rugi untuk energi hijau, semuanya kembali pada bagaimana kita menyikapnya. Sebelum terlambat, lebih baik kita memulainya sekarang.

Source : https://mesinbiogas.wordpress.com/2013/01/17/pembangkit-listrik-tenaga-biogas-pltbmini-berbasis-pemberdayaan-masyarakat-desa-oleh-grup-riset-sains-untuk-rakyat/

Belimbing Wuluh sebagai Sumber Energi Alternatif

Energi adalah suatu hal yang tak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari. Dari hari ke hari kebutuhan akan energi semakin meningkat, peningkatan ini dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu, gaya hidup, kepuasan manusia yang tak ada hentinya, semakin majunya peradaban manusia dan lain-lain. Energi berdasarkan sumbernya dibedakan atas 2 yaitu energi yang terbarukan dan yang tidak terbarukan. Energi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah energi yang tidak terbarukan. Dengan demikian energi tersebut semakin lama akan semakin berkurang. Contoh dari energi yang tak terbarukan adalah minyak bumi yang berasal dari fosil-fosil yang telah berjuta-juta tahun berada di dalam perut bumi.

belimbing wuuh

Gambar 1. Belimbing Wuluh

Melihat hal tersebut, maka dibutuhkan suatu energi yang terbarukan sehingga dapat mengurangi penggunaan energi yang tak terbarukan seperti minyak bumi. Melihat potensi dari belimbing wuluh yang tumbuh subur di Indonesia maka penulis ingin memaparkan penggunaan dari belimbing wuluh sebagai medai sumber energi alternatif.

Belimbing wuluh yang dalam bahasa latin dikenal dengan nama avverhoa bilimbi adalah tanaman asli Amerika yang tumbuh subur di daerah yang banyak mendapat sinar matahari langsung tetapi cukup kelembaban udaranya. Belimbing Wuluh merupakan tumbuhan berbatang keras yang memiliki ketinggian mencapai 11 m. Biasanya ditanam di tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari. Batangnya keras dan tidak bercabang banyak. Buahnya berwarna hijau muda, berbentuk lonjong sebesar ibu jari dan rasanya asam. Buahnya sering dipakai untuk memasak sehingga sering disebut juga belimbing sayur ataupun untuk membersihkan noda yang menempel pada kain seperti kuningan dan tembaga. Daunnya yang kecil berhadap-hadapan. Bunganya berbentuk bintang dan berwarna merah muda keunguan. Gambar dibawah ini menunjukkan belimbing wuluh.

Kandungan dan Khasiat Belimbing Wuluh: Belimbing wuluh bermanfaat sebagai anti radang karena mengandung flavon. Selain itu, kaliumnya melancarkan keluarnya air seni (diuretik) sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Belimbing wuluh juga mampu mengeluarkan dahak dan menurunkan panas. Buahnya mengandung zat: asam-kalium-akolat. Ini adalah salah satu kegunaan dari belimbing wuluh diluar sebagai sumber energi alternatif.

Belimbing wuluh yang tumbuh subur di pekarangan rumah, dapat disulap menjadi zat pengurai yang mampu menghasilkan tenaga listrik alternatif, di tengah keluhan warga akan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Untuk menciptakan energi listrik tersebut, awalnya belimbing yang biasa digunakan sebagai sayuran ini dihaluskan untuk diambil airnya. Selanjutnya, dengan menggunakan media tanah yang ditaruh dalam gelas bekas air mineral ini, air belimbing ini disuntikan secukupnya.

  • Selanjutnya, masing masing gelas berisi tanah bercampur sari air belimbing ini dihubungkan dengan rangkaian kawat lempengan tembaga dan seng, guna mengalirkan arus listrik. Hasilnya, energi listrikpun tercipta dengan tegangan yang lumayan, yakni hingga mencapai 5 volt, cukup untuk menghidupkan lampu penerangan. Tegangan yang dihasilkan ini juga lebih besar dari tegangan satu buah batu baterai.

Alat dan Bahan yang diperlukan:
1) Belimbing Wuluh
2) Blender
3) Gelas plastic
4) Tanah
5) Air
6) Lempeng tembaga (sebagai elektroda positif)
7) Lempeng seng (sebagai elektroda negatif)
8) Kabel

Cara pembuatan Energi Alternatif dari Blimbing Wuluh:

  1. Blender blimbing wuluh sampe halus (jadi jus belimbing wuluh; masak jus apel) sehingga diperoleh cairan yang menyerupai air (tanpa serabut/ampas).
  2. Siapkan gelas-gelas plastik dan diisi dengan tanah liat (bukan tanah berpasir ataupun yang mengandung sampah). Gelas tersebut dapat berasala dari sisa minuman air mineral.
  3. Masukan jus blimbing wuluh tersebut ke dalam gelas-gelas plastik yang sudah diisi tanah
  4. Susun berderet gelas-gelas yang sudah diisi tanah dan jus blimbing wuluh
  5. Buat rangkaian elektroda dengan menyambungkan antara lempeng tembaga dan lempeng seng menggunakan kabel (kira-kira dengan kabel masing-masing 15cm)
  6. Susun rangkaian elektroda tersebut ke dalam gelas-gelas tanah yang telah disiapkan sebelumnya, dengan susunan lempeng tembaga-lempeng seng-lempeng tembaga dan begitu seterusnya, jadi satu gelas akan berisi susunan satu lempeng tembaga dan satu lempeng seng dari rangkaian elektroda yang berbeda
  7. Siapkan dua rangkaian elektroda dengan kabel yang lebih panjang dan hanya menggunakan satu lempeng saja, satu tembaga dan satu seng. Untuk gelas terluar (gelas pertama dan terakhir yang hanya memiliki satu lempeng: gelas pertama lempeng tembaga dan gelas terakhir lempeng seng) disambungkan dengan rangkaian elektroda baru ini. Gelas pertama dengan yang rangkaian seng, gelas terakhir disambungkan dengan rangkaian tembaga. Ujung dari dua kabel rangkaian terakhir inilah yang akan disambungkan dengan lampu yang akan dinyalakan.
  8. Jadilah rangkaian sederhana pembangkit energi alternatif ini. Satu gelas bisa menghasilkan energi sebesar 0,5 volt, jadi untuk menghasilkan energi yang lebih besar tinggal menambahkan jumlah gelas dalam rangkaian yang akan dibuat. Satu gelas rangkaian ini bisa bertahan kurang lebih selama 15 hari.

Menurut penulis, energi listrik ini tercipta karena belimbing wuluh yang memiliki tingkat keasaman tinggi hingga dapat menghantarkan ion dan elektron yang ada pada lempengan tembaga dan seng. Sehingga terciptalah arus listrik. Rata-rata, 10 butir belimbing wuluh ini mampu menciptakan tegangan listrik hingga mencapai 2,5 volt atau setara dengan satu buah batu baterai kering. Bahkan menurut pengalamannya, energi listrik dari belimbing sayur ini dapat bertahan lama hingga mencapai satu bulan.

Menurut penulis, pengembangan dari belimbing wuluh sebagai sumber energi alternatif harus terus dikembangkan karena potensi dari belimbing tersebut tumbuh di Indonesia sangat tinggi. Sehingga nantinya setelah berkembang, energi listrik alternatif ini dapat dikemas dalam bentuk produk energi yang praktis layaknya baterai. Sehingga, dapat dikembangkan sebagai salah satu energi alternatif ditengah tarif listrik yang dampaknya kian terasa berat bagi rakyat kecil.

Source : https://majalahenergi.com/forum/energi-baru-dan-terbarukan/bioenergy/belimbing-wuluh-sebagai-sumber-energi-alternatif

Potensi Energi Terbarukan Masa Depan : Pembangkit Listrik Tenaga Gravitasi

Perlu energi besar yang dipunyai satelit bumi itu untuk tetap stay pada orbitnya, jadi mari kita membayangkan jika angin dapat ditahan dengan kincir, dan air dapat ditahan dengan bendungan lalu menggerakan turbin, kenapa magnetic gravitasi tidak dapat ditahan dengan sebuah materi ? [that’s a sustainable resource, SUMPAH!]

walnya saya berimajinasi untuk menampung elektron gravitasi tetapi itu memerlukan materi yang lebih kecil dari elektron itu sendiri, sepertinya tambah ribet. jadi ngapain tidak memanipulasi efeknya saja, yaitu menggunakan magnetik bumi dengan prinsip hukum alam/universal :

  1. Bumi & benda angkasa lainnya yang mempunyai gerak teratur dan memiliki kutu-kutup aliran magnetik yang mengakibatkan gravitasi.
  2. Terdapat dua magnetic bumi yaitu Utara [U] dan Selatan [S]
  3. Setiap magnet selalu mengikuti arah kutup yang sejenis, misalnya muatan U akan “berusaha” mengarah ke Utara dan sebaliknya.

Visual sistematika kerjanya kira-kira begini :

Step 1.

step 1

Step 2.

step 2

Step 3.

step 3

Step 4.

step 4

“Kekekalan Energi”, maka harus ada tambahan energi untuk memicu re-posisi mekanik pada posisi semula dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa “energi untuk memicu terjadinya proses pengubahan energi harus tidak lebih besar dari pada energi yang dihasilkan” karena jika energinya lebih besar maka percuma.

Teori diatas masih berupa gagasan. Jadi, silakan beruji coba 🙂

Source : https://kokowrite.wordpress.com/2012/02/15/menuju-pembangkit-listrik-tenaga-gravitasi/

Pembangkit Listrik Tenaga Ombak dengan Kombinasi Sistem Bandul Magnet dengan Solar Cell (PLTOBMSC)

Pembangkit listrik tenaga ombak dengan Kombinasai sistem bandul magnet dengan solar cell untuk laut tenang adalah alat pembangkit listarik yang memanfaatkan eneri gelombang air laut yang di konfersi untuk menggerkan bandul dan pemanfaatana cahaya matahari yang di olah oleh solar cell untuk menghasilkan energi listrik , sistem kerja alat ini pemanfaatan teknologi ini sanagat cocok di gunakan di daerah kepulauan yang memiliki wilayah laut yang luas contonya wilayah kepulauan indonesia.

bandul1

bandul2

Kelebihan teknologi ini adalah selain tidak mengunakan bahan bakar dan ramah lingkungan teknologi ini juga tidak perlu menggunakan energi gelombang yang besar yang tentunya bisa di gunakan di wilayah perairan mana saja, asalkan daerah perairan tersebut memiliki gelombang yang kontinu dan bisa memaksimalkan dua sumber energi sekaligus untuk menghasilkan energi listrik.

Konsep yang akan di aplikasikan dalam alat ini yaitu dengan menggunakan energi gelombang air laut yang menggerakan komponen yang di integrasiak dengan sistem bandul dan di padukan dengan solar cell yang bisa bekerja secar terus menerus yang bisa di aplikasikan di kawasan pantai mana saja tampa harus memiliki gelombang yang besar berikut adalah alat yang kami rancang.

Angin yang melintas di atas permukaan laut, pasang surut gelombang air laut, dan luas  area yang terkena sinar matahari makan  ke tiga kompenen geratis  yang tersedia di alam tersebut  tidak akan henti-hentinya menghasilkan energi yang tidak kunjung  habis selama alat yang di gunakan tidak mengalami kerusakan dan bisa bekerja dengan optimal. Adapaun prinsip kerja alat tersebut sangat sederhana. Pembangkit listrik  di disain seperti pelampung berbentuk kotak dengan  bagian atasnya  di pasang solar cell,  yang memilki ukuran maksimal 1m3  dengan harapan Pembangkit listrik  bisa berpungsi pada saat kondisi gelombang lemah alat masih bisa berpungsi menghasilkan energi listrik. Komponen Pembangkit listrik   yang di pasang   di dalamnya   terisolasi  dengan tujuan agar komponen alat  bisa terhindar dari kerusakan  yang di sebabkan oleh masuknya  air laut kedalam sesin pembangkit listrik. Pembangkit listrik  ini di pasang secar terapung di laut, alat satu dengan alat lain saling terhubung dengan cara di ikat bergandengan yang kemudaian di  ikat pada tiang untuk menahan Pembangkit listrik   supaya tidak berpindah atau terbawa gelombang. Pembangkit listrik  akan bekerja ketika sebuah gelombang melintas di bagian bawal Pembangkit listrik  yang akan menggerkan komponen di dalam kotak tersebut dan mengubahnya dari energi mekanik menjadi energi listrik  dan sinar matahari yang di konpersi oleh Solar Cell untuk menjadi enegri listrik. Proses selanjutnya adalah menghubungkan alat yang satu dan yang lainya kemudian energi yang di hasilkan di masuka ke rangkanyan penguat  daya yang di simpan ke batrai.

Source : https://dedeirpanriswandi.blogspot.co.id/2014/01/pembangkit-listrik-tenaga-ombak-dengan.html

Potensi Implementasi Piezoelektrik Sebegai Pembangkit Energi Listrik Tenaga Pijakan

piezo
Gambar 1. Konsep Dasar Piezoelektrik
Sumber gambar : https://www.limitsizenerji.com/images/stories/piezoelektrik_bir.gif
Selama ini pembangkit listrik yang dibangun oleh manusia banyak yang bergantung pada energi yang berasal dari alam.Sehingga untuk membangkitkan listrik diperlukan suatu instrumen yang dapat mengubah energi alam tersebut untuk menjadi energi listrik.Lalu bagaimana jika pembangkit listrik tersebut menggunakan tenaga manusia?hal ini bukan berarti manusia harus berlari diatas suatu treadmill ataupun benda-benda lain sejenisnya  hingga tercipta suatu gesekan yang akhirnya dapat membangkitkan listrik seperti halnya tikus-tikus dalam fim kartun.Akan tetapi,pembangkit listrik ini hanya membutuhkan tenaga pijakan kaki manusia.
Konsep ini berdasarkan material piezoelektrik dimana material ini dapat mengubah suatu tekanan menjadi energi listrik.Sehingga apabila material ini ditempatkan di tempat yang banyak dilalui oleh orang dapat membangkitkan energi listrik yang besar.Berdasarkan riset teknologi piezoelektrik dapat membangkitkan listrik sebesar 60 watt dalam satu kali pijakan.Tekanan yang kuat dari pijakan manusia dapat menyuplai tegangan listrik 1 sampai 3,5 volt.
Teknologi Piezoelektrik tidak terbatas hanya pada pijakan saja akan tetapi teknologi ini berlaku pada beban mekanis seperti pada jalan raya,rel kereta,atapun pada landasan pesawat terbang.Teknologi ini berlaku selama ada perubahan temperatur,gerakan,massa suatu beban,dan juga getaran yang dihasilkan.Bahan piezoelektrik tidak bisa digunakan untuk pengukuran statis.Pengukuran statis sendiri ialah pengukuran yang digunakan untuk mengukur volume zat padat yang bentuknya teratur.Bahan dengan piezoelektrik bersifat reversibel dimana selain dari energi tekan yang dapat diubah menjadi energi listrik,piezoelektrik juga dapat diubah dari energi listrik menjadi energi tekan.Contoh bahan piezoelektrik buatan manusia misalnya Barium titanate dan zirconate titanate.Sedangkan material dari alam yang dapat dijadikan bahan piezoelektrik ialah berlinite, kuarsa, turmalin, dan garam rossel.
Konsep dari teknologi ini tentunya dapat diterapkan diberbagai tempat salah satunya di kampus.Kampus merupakan tempat potensial bagi teknologi ini untuk diterapkan.Jika teknologi ini ditempatkan pada area yang yang dilewati oleh banyak orang tentunya energi listrik yang dihasilkan dapat dimanfaakan untuk keperluan kampus lainnya yang memerlukan energi listrik.Sehingga dengan memanfaatkan piezoelektrik ini energi yang dihasilkan pun ramah lingkungan.Selain itu di dalam kampus energi ini juga dapat dikembangkan menjadi energi yang kedepannya mungkin dapat menggantikan energi fosil yang semakin menipis.Namun disisi lain kelemahan teknologi ini ialah masih mahalnya infrastruktur yang dibutuhkan apalagi untuk skala rumah tangga akan tetapi dengan adanya dukungan dari pemerintah dan gebrakan inovasi dari instansi tertentu terutama perguruan tinggi bukan mustahil teknologi dapat segera diterapkan.
Source : https://cidagent40.blogspot.co.id/

NARESCAMP 2015 : Aksi Nyata Untuk Warga Desa Ngesrepbalong

Foto Kegiatan 2

Narescamp atau Nasional Research Camp adalah kompetisi penelitian berbasis pengabdian. Narescamp ini dilaksanakan selama tiga 3 hari di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah. Kompetisi tingkat nasional ini terbuka untuk semua mahasiswa PTN atau PTS yang ada di Indonesia.

Desa Ngesrepbalong pada tahun ini merupakan desa binaan dari UKM Penelitian (UKMP) Universitas Negeri Semarng yang pada beberapa kesempatan sebelum diadakannya Narescamp ini para pengurus UKMP telah melaksanakan beberapa pengabdian di desa ini diantaranya: plangisasi menuju curug lawe, pelatihan veltikultur, pelatihan pembuatan sirup terong belanda dan beberapa pengabdian lainnya.

Untuk tahun ini, finalis Narescamp terdiri dari 9 besar tim terbaik yang telah lolos seleksi tahap 1 yaitu seleksi Idea Concept Project (ICP) dari para juri. Finalis tersebut yaitu:

  1. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Eva Oktavikasari dan judul DONGENG SI EDUBORI: IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER DI SD NEGERI 1 NGRESEPBALONG
  2. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Saiful Pratama dan judul “BOPANG SERONG” : Bolu Pisang Lapis Selai Terong Belanda sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah Komoditi Pisang dan Terong Belanda di Dusun Gunungsari, Desa Ngesrep Balong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal
  3. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Amalia Erlynandita P H dan judul WORMER – SISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DENGAN IMPLEMENTASI USAHA TERNAK CACING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA NGESREP BALONG
  4. Universitas Diponegoro dengan ketua Rita Sugiarto dan judul HORTEA: Peningkatan Nilai Tambah Limbah Padat The Menjadi Boneka Horta Sebagai Souvenir Khas Dusun Gunungsari Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal
  5. Universitas Negeri Yogyakarta dengan ketua Nita Nurwijayanti dan judul UNCANG JERAMI BATIK:UPAYA PENDAYAGUNAAN LIMBAH JERAMI DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA
  6. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Pentarina Intan Laksmitawa dengan judul NAGASAKI (BONEKA TANGAN KAOS KAKI) SEBAGAI MEDIA PROMOSI HIDUP SEHAT BERBASIS CERITA PADA ANAK MENUJU INDONESIA BEBAS DBD 2020
  7. UIN Maliki Malang dengan ketua Nurtamin dengan judul Pengembangan Edu-Tourism Kebun Teh di Dusun Wisata Gunungsari, Desa Ngasrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah
  8. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Umi Thoifah Amalia dengan judul “Gunungsari Green School (GGS) Solusi Cerdas Anak Gemar Bercocok Tanam Dengan Semangat Kearifan Lokal”
  9. Universitas Airlangga dengan ketua Irfan Mustofa dengan judul Teh Diajeng Manis sebagai Produk Ekonomi Kreatif Berkhasiat Antioksidan Dan Karminatif Guna Menarik Wisatawan serta Meningkatkan Perekonomian Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan

Jum’at 2 Oktober 2015

Narescamp (National Research Camp) tahun 2015 ini dibuka di gedung LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Universitas Negeri Semarang. Pada pembukaan kali ini Narescamp dibuka langsung oleh bapak Pak Much Aziz Muslim S.Kom., M.Kom. selaku ketua Pendamping UKM Penelitian Unnes.

Sebelum keesokan harinya para peserta menjalankan penelitian dan pengabdian di desa Ngesrepbalong. Para finalis Narescamp terlebih dahulu mendapat pengarahan secara langsung dari bapak Pak Prof. Dr. Totok Sumaryanto Florentinus M.Pd selaku ketua LP2M. Pengarahan yang diberikan yaitu terkait pentingnya penelitian dan pengabdian bagi mahasiswa. Pada sesi pengarahan tersebut para finalis begitu antusias menyerap setiap materi yang disampaikan oleh bapak Prof Totok hingga kemudian terjadi diskusi aktif dari kedua belah pihak.

Setalah para finalis dan panitia selesai melaksanakan solat Jum’at bagi putra dan solat dhuhur bagi putri di Masjid Ulul Albab. Kemudian secara bersama-sama kita berangkat menuju Desa Ngesrepbalong menggunakan Truck Polisi. Meskipun perjalanan dari Unnes hingga ke Ngesrepbalong cukup jauh dan melewati jalan yang kurang bersahabat namun tak menyurutkan niat seluruh peneliti dan pengabdi terbaik dari seluruh Indonesia ini untuk menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi langsung kepada masyarakat desa Ngesrepbalong yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Sekitar pukul 15.30 WIB kita semua baru sampai di desa Ngesrepbalong. Cuaca yang masih sejuk, pepohonan yang masih rindang hingga sambutan warga yang begitu ramah kepada kami menjadi kesan yang tak terlupakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di desa Ngesrepbalong.

Supaya lebih menguatkan kesan pengabdian, homestay para finalis Narescamp langsung menginap bersama ke rumah-rumah masyarakat sekaligus agar lebih banyak kesempatan bagi para peserta Narescamp untuk megakrabkan diri dengan masyarakat setempat.

Tepat pukul 19.30 WIB setelah semua finalis selesai menjalankan ibadah solat isya’. Para finalis langsung berkumpul di Aula Ngesrepbalong untuk ramah tamah bersama para sesepuh warga setempat. Beberapa sesepuh yang hadir yaitu berasal dari perwakilan kepada dusun, kepala RT 01, kepala RT 02, Kepala 03, Kepala Karang Taruna dan Kepala KWT (Kelompok Wanita Tani). Acara ramah tamah tersebut bertujuan untuk meminta izin secara resmi terkait akan melaksanakan acara pengabdian selama 3 hari di desa ini sekaligus untuk konsolidasi terkait pelaksanaan pengabdian maupun penelitian pada keesokan harinya.

Sabtu, 3 Oktober 2015

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Puncak acara Narescamp yaitu penelitian dan pengabdian dilaksanakan pada hari ini. Untuk menyesuaikan audience yang dituju. Pengabdian dibagi menjadi 2 kelompok besar yang secara bergantian melakukan pengabdian serta kelompok yang tidak melaksanakan pengabdian bisa mempersiapkan pengabdian mereka ataupun merasakan field trip ke curug lawe yang jaraknya kurang lebih hanya 30 menit jalan kaki dari desa ngesrepbalong.

Tim Unnes yang mewakilkan 3 tim delegasi dalam grand final Narescamp 2015 ini, ketiganya melakukan pengabdian pada pagi hari di SDN 01 Ngesrepbalong. Seluruh murid-murid SD tersebut dengan antusias menerima dengan baik setiap ilmu yang dibagikan oleh ketiga tim unnes tersebut yang melakukan pengabdian di masing-masing kelas yang berbeda. Meskipun beberapa siswa belum bisa teratur karena masih suka berlarian sesuka hati mereka, namun itu masih dalam batas wajar anak SD. Hal terpenting dari semua ini adalah semua nilai moral yang disampaikan dapat diserap dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pukul 11.00 semua finalis kembali berkumpul di aula. Pak Much Aziz Muslim S.Kom., M.Kom. selaku pendamping UKMP UNNES memberikan materi pengarahan mengenai pentingnya penerbitan prosiding. Beberapa hal yang disampaikan yaitu dengan menerbitkan prosiding maka hasil gagasan dari para peneliti maupun pengabdi muda tidak hanya berhenti sampai laptop mereka saja namun juga akan terpublikasi secara luas sehingga bisa bermanfaat bagi keberlanjutan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Selain itu dengan menerbitakan prosiding juga akan menaikkan nilai branding diri khusunya untuk para mahasiswa yang ingin melamar menjadi dosen maupun para dosen yang ingin segera naik pangkat menjadi professor. Melalui pengarahan dari pak Aziz ini terlihat antusias yang luar biasa dari seluruh finalis untuk memperbanyak kesempatan untuk menerbitkan prosiding.

Selanjutnya 6 tim finalis lainnya melakukan pengabdian dengan mencari sendiri objek pengabdiannya, tentunya setelah dibantu oleh pimpinan sesepuh warga setempat yang telah berkonsolidasi pada malam hari sebelumnya. Seluruh finalis bagitu antusias serta penuh semangat untuk membagikan ilmu yang mereka miliki untuk diaplikasikan langsung kepada masyarakat. Begitupun masyarakat begitu tertarik dengan setiap hal yang disampaikan oleh para finalis. Harapannya yaitu apa yang disampaikan dapat mengakar kepada masyarakat dan terjadi keberlanjutan sehingga dapat meningkatkan keterampilan serta kesejahteraan warga setempat.

Diterangi oleh bulan yang dengan gagahnya menunjukkan keperkasaannya dan dengan diiringi alunan angin malam yang dinginnya cukup menusuk tulang. Pada malam ini, seluruh finalis Narescamp berkumpul di Aula untuk mendiskusikan serta menggagas berbagai ide mereka untuk Ngesrepbalong. Harapannya apa yang mereka diskusikan dan mereka gagas pada malam itu bisa didengar oleh petinggi negeri sehingga mampu menaikkan taraf kehidupan masyarakat ngesrepbalong.

Minggu, 4 Oktober 2015

Keesokan harinya, para finalis terlebih dahulu berjalan-jalan menikmati sejuknya pagi di area kebun teh yang letaknya tak jauh dari desa Ngesrepbalong. Pemandangan yang cukup indah dengan hamparan kebun teh yang sangat luas menjadikan tempat ini cocok digunakan untuk mengabadikan moment kebersamaan dengan berfoto-foto sekaligus refreshing sebelum para finalis mempresentasikan gagasan mereka di hadapan para dewan juri.

Tepat pukul 09.15 WIB presentasi pertama dimulai dengan kontingen tim Universitas Diponegoro dan diakhiri dengan presentasi tim dari UIN Maliki Malang tepat pada pukul 12.00 WIB. Pada tahap presentasi, seluruh tim masing-masing mendapat kesempatan presentasi selama 10 menit serta 8 menit tanya jawab. Untuk juri dari Narescamp kali ini merupakan dosen dengan 3 latar belakang yang berbeda yaitu keteknikan, mipa dan sosial yang didatangkan langsung dari Universitas Negeri Semarang. Ketiga juri tersebut yaitu Pak Bayu Triwibowo S.T., M.T., Pak Fajar Arif Setyawan M.Pd, Bu Martien Herna Susanti S.Sos, M.Si

Selama presentasi para finalis telah memaparkan hasil pengabdian dan penelitian mereka dengan berbagai metode dan media yang sangat baik. Para juri yang diberi amanah untuk menilai gagasan mereka pun memberikan pertanyaan yang tak kalah luar biasanya sehingga diskusi tanya jawab dari kedua belah pihak berjalalan secara efektif.

Ketika para finalis melakukan presentasi, disaat bersamaan beberapa panitia yang juga sebelumnya pernah melakukan penelitian maupun pengabdian di desa maupun di luar desa Ngesrepbalong ini juga melakuka presentasi di ruang sebelah untuk melengkapi jurnal prosiding Narescamp yang akan dibantu diterbitkan dan juga mendapatkan ISBN oleh bapak Pak Much Aziz Muslim S.Kom., M.Kom.

Setelah semua selesai melakukan presentasi, para finalis istirahat sekaligus makan bersama untuk yang terakhir kalinya di rumah bu kadus. Setelah itu kemudian finalis kembali ke homestay untuk mengemasi barang mereka untuk persiapan pulang dan kemudian kembali berkumpul di SDN Ngesrepbalong 01 untuk menghadiri pengumuman juara Narescamp 2015.

Detik-detik yang ditunggu telah tiba. Pengumuman juara menjadi salah puncak acara Narescamp kali ini. Lebih dari sekedar kompetisi, harapannya melalui berbagai gagasan terbaik dari mahasiswa Indonesia yang telah diterapkan langsung ke masyarakat tersebut bisa menjadi solusi nyata bagi warga Ngesrepbalong.

Berdasarkan rekap penilaian dari panitia yaitu dengan akumulasi penilaian 30% nilai ICP, 30% nilai implementasi gagasan dan 40% nilai presentasi di hadapan dewan juri maka dipilihlah 6 juara utama yaitu:

Juara 1. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Amalia Erlynandita P H

Juara 2. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Eva Oktafikasari

Juara 3. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Saiful Pratama

Juara Harapan 1. Universitas Diponegoro dengan ketua Rita Sugiarto

Juara Harapan 2. Universitas Airlangga dengan ketua Irfan Mustofa

Juara Harapan 3. UIN Maliki Malang dengan ketua Nurtamin

Semoga apa yang telah di implementasikan oleh seluruh finalis Narescamp bisa terus berlanjut kebermanfaatannya bagi warga setempat dan semoga dari ajang Narescamp kali ini lahir para peneliti dan pengabdi terbaik yang mampu menjadi solusi bagi bangsa ini.

#Narescamp2015

#SatuAksiSejutaInspirasi

Source : https://handisemangat.blogspot.com/2015/10/narescamp-2015-satu-aksi-sejuta.html

Rancang Bangun Sistem Pandu “Panggilan Darurat” Berbasis SOS, Optimalisasi Teknologi Sensor Kecelakaan Pada Kendaraan Bermotor Sebagai Upaya Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Jalan Raya Untuk Mengurangi Korban Meninggal Dunia yang Disebabkan Terlambatnya Pertolongan Medis

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian terbesar yang ada di Indonesia. Jumlah korban yang begitu besar memberikan dampak berupa kerugian materi dan sosial yang tidak sedikit. Berbagai tindakan preventif hingga perbaikan lalu lintas dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait belum menunjukkan hasil yang sesuai diharapkan.

Berdasarkan data Kepolisian menyebutkan, jumlah kecelakaan di Indonesia pada tahun 2012 terjadi 109.038 kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang dengan potensi kerugian sosial ekonomi sekitar Rp 203 triliun per tahun atau 2,9-3,1 % dari pendapatan domestik bruto/PDB Indonesia.[1] Kebanyakan korban meninggal pada saat kecelakaan disebabkan oleh terlambatnya pertolongan pertama medis pada korban kecelakaan. Padahal jika sesaat setelah kecelakaan tenaga medis bisa langsung memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan maka sudah pasti angka kematian pada saat kecelakaan jalan raya bisa ditekan.

Setiap waktu musibah kecelakaan lalu lintas di berbagai lokasi memang susah untuk dihindari, sebagai langkah antisipasi terhadap korban luka agar segera mendapatkan pertolongan pertama, diperlukan suatu sistem yang memungkinkan korban kecelakaan dapat mendapatkan bantuan secepat mungkin sesaat setelah terjadi kecelakaan. Inovasi tersebut adalah Sistem Pandu “Panggilan Darurat” berbasis SOS, Optimalisasi pertolongan pertama pada kecelakaan jalan raya sebagai solusi mengurangi korban meninggal dunia dengan fitur teknologi telepon di mobil untuk tindakan cepat ke bantuan layanan darurat.

Fungsi Sistem Pandu (Panggilan Darurat) ditanam pada sistem yang memiliki integrasi dengan teknologi di bagian mobil sehingga begitu terjadi kecelakaan hebat, Pandu secara otomatis membuat panggilan ke pusat darurat terdekat dan memberikan sinyal lokasi kecelakaan lalu kemudian operator segera mengirimkan bantuan ke tempat kejadian untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan untuk meminimalisir adanya korban meninggal dunia.

Urgensi Sistem Pandu “Panggilan Darurat”

Sistem ini terdiri dari penerima GPS, perangkat sensor, perangkat komunikasi ke pusat operator terdekat dan sambungan antena. Jika pengemudi dengan mobil yang dilengkapi Sistem Pandu “Panggilan Darurat” mengalami kecelakaan, maka sistem secara otomatis menghidupkan sistem SOS dengan menghubungkan telepon ke nomor darurat. Pengemudi atau penumpang bisa berbicara dengan petugas penyelamat dan menjelaskan kondisinya. Selain itu, Sistem Pandu “Panggilan Darurat” meneruskan informasi kepada pusat penerima panggilan darurat tentang waktu kecelakaan, lokasi kecelakaan, jenis kendaraan dan arah kendaraan. Sistem mengenali kecelakaan, jika Airbag terbuka dan mengembang. Tapi pengemudi juga bisa secara manual melakukan telepon darurat dengan Sistem Pandu “Panggilan Darurat” dengan begitu Ambulans bisa datang lebih cepat datang.

Jika terjadi kecelakaan, dengan adanya Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini maka korban bisa lebih cepat ditemukan supaya nyawanya bisa diselamatkan. Jika tim penyelamat bisa tiba tepat waktu pada setiap kecelakaan, maka setiap tahun akan lebih banyaj nyawa lagi yang bisa diselamatkan di Indonesia. Sepertinya tidak ada kerugian yang ditimbulkan dengan diterapkannya Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini. Biayanya pemasangannya juga tidak terlalu mahal, cukup seharga pemasangan GPS biasa dengan sedikit tambahan sistem komunikasi untuk menghubungkan ke sistem operator terdekat.

Diagram Sistem Pandu “Panggilan Darurat”

Untuk dapat bekerja dengan baik, Sistem Pandu “Panggilan Darurat” terdiri dari beberapa bagian sistem yaitu Sistem Pandu (Panggilan Darurat) pada kendaraan, pendeteksian lokasi sumber SOS, pusat sistem panggilan darurat dan pertolongan secepatnya.

sistem pand

Gambar 1. Diagram Sistem Pandu “Panggilan Darurat”

Gambar diagram tersebut diatas saling berkolaborasi untuk dapat menjadi sebuah sistem yang diberi nama Sistem Pandu “Panggilan Darurat” yang tentu saja tujuan utamanya untuk membuat sebuah sistem yang terstruktur agar bisa dengan segera memberikan pertolongan pertama pada saat kejadiaan kecelakaan yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja dengan tujuan untuk menekan anka kematiaan saat kecelakaan yang dikarenakan terlambatnya kedatangan pertolongan medis. Berikut penjelasannya per step bagian-bagiannya:

a.       Sistem Pandu “Panggilan Darurat” Pada Kendaraan

Sebuah Panggilan darurat akan menyala secara otomatis dari mobil secepatnya sesaat setelah terjadi kecelakaan yang serius. Sistem ini juga dapat dihidupkan secara manual oleh pengendara dengan menekal tombol yang ada di microphone yang otomatis menghidupkan sistem SOS yang terhubung langsung ke pusat operator terdekat sehingga pertolongan dapat dengan segera dibutuhkan kepada yang membutuhkan.

Sistem Pandu berikut ini terdiri dari 2 komponen, komponen pertama yaitu komponen Sistem Sensor GPS dan Sistem Komunikasi.

Sistem Sensor GPS adalah sistem yang terdiri dari beberapa sensor yang bisa berfungsi secara otomatis menghidupkan GPS apabila terjadi rangsangan berupa kecelakaan serius. Komponennya terdiri dari:

1.      Sensor Sentuh

Sensor yang otomatis akan menyalakan sinyal SOS jika tersentuh, sensor ini ditanam didalam kap mobil sehingga hanya bisa tersentuh jika terjadi kecelakaan pada mobil (Kap mobil hancur).

2.      Sensor Kecepatan

Sensor ini merupakan sensor yang mendeteksi kecepatan pada mobil, apabila terlihat kecepatan yang tidak rasional pada mobil maka sensor akan segera mengirimkan sinyal SOS ke pusat operator pusat terdekat.

3.      Sistem Airbag

Sistem airbag merupakan sistem yang otomatis menyala jika mobil terjadi kecelakaan. Sensor juga dipasang pada sistem airbag ini sehingga sesaat setelah terjadi kecelakaan dapat langsung mengirimkan sinyal SOS ke pusat operator terdekat untuk menghindari kemungkinan terburu yang bisa terjadi.

4.      Sistem Roll-Over

Sistem ini bekerja jika setir mobil bergulir secara berlebihan (banting setir) yang biasanya disebabkan adanya kecelakaan sehingga bantuan dari pusat operator terdekat akan segera datang.

5.      Sensor pada tempat duduk penumpang

Sensor ini ditempatkan pada tempat duduk penumpang, sensor akan bekerja jika terjadi pergeseran tempat duduk penumpang yang berlebihan.

Kemudian komponen yang kedua yaitu sistem komunikasi, yang berfungsi sebagai media komunikasi dengan pusat operator terdekat (secara manual) saat terjadi hal yang tidak diinginkan. Komponennya terdiri dari:

1.      Speakers

Berfungsi sebagai komunikasi satu arah dari pusat operator terdekat apabila terdapat informasi penting yang harus pengendara ketahui.

2.      Microphone

Berfungsi bila ada panggilan darurat yang bisa dilakukan secara manual kepada pusat operator terdekat.

3.      Pengolahan data dan sensor

Berfungsi untuk mengolah data dan sensor yang telah diberi rangsangan untuk selanjutnya diteruskan ke antena.

4.      Antena

Menyebarkan sinyal ke satelit untuk mendapatkan informasi seputar lokasi GPS mobil yang selanjutnya segala informasi tersebut bisa ditangkap oleh pusat operator terdekat.

b.      Pendeteksian Lokasi Sumber SOS

Setelah mobil yang mengalami kecelakaan mengirimkan sinyal daruratnya maka satelit menangkap sinyal tersebut dan membaca data GPS yang tertanam pada mobil tersebut sehingga dapat diketahui lokasi akurat mobilnya, jenis mobil serta pemiliknya. Segala informasi tersebut didistribusikan oleh sistem pandu ini ke pusat operator terdekat melalui jaringan GSM (Mobile Network).

Jadi sistem pandu ini tidak hanya memanfaatkan sistem GPS saja dalam pemanfaatannya, namun juga merupakan kombinasian antara GSM dan GPS untuk penyelematan pertama pada kecelakaan lalu lintas.

c.       Pusat Sistem Panggilan Darurat

Setelah sinyal SOS disalurkan melalui jaringan GSM (Mobile Network) maka selanjutnya diterima di Pusat Sistem Panggilan Darurat yang selanjutnya Pusat Sistem Panggilan Darurat ini terbagi menjadi 33 bagian sesuai jumlah provinsi yang ada di Indonesia yang selanjutnya masing-masing bagian tersebut diberi nama Pusat Operator Terdekat. Pusat Operator Terdekat ini harus siap tersedia selama 24 jam penuh untuk menerima panggilan darurat yang sawaktu-waktu bisa muncul.

Pusat Operator Terdekat harus selalu siap bekerja dengan cepat. Sesaat setelah sinyal SOS sampai ke pusat operator terdekat, informasi yang muncul pada layar harus segera ditangkap untuk kemudian diteruskan ke pihak yang bersangkutan. Operator juga harus mencoba berkomunikasi terlebih dahulu kepada pengirim sinyal SOS untuk mendapatkan informasi, jika masih belum ada respon bantuan harus segera diirimkan tanpa ditunda-tunda.

d.      Pertolongan Secepatnya

Setelah berbagai informasi mengenai waktu kecelakaan, lokasi kecelakaan, jenis kendaraan dan arah kendaraan diketahui maka bantuan harus dengan segera didatangkan. Kedatangan bantuan harus datang secepat mungkin karena semakin cepat bantuan datang semakin banyak pula nyawa yang akan terselamatkan.

Potensi Sistem Pandu “Panggilan Darurat”

Potensi Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini tentu saja agar bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa yang tak tertolong karena terlambatnya bantuan medis yang datang. Seperti yang kita ketahui Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² merupakan satu ukuran yang sangat luas untuk sebuah negara, sehingga masih banyak daerah terpencil yang sangat jauh dari keramaian sehingga saat kecelakaan yang bisa datang kapan saja dan dimana saja terjadi tak selalu ada orang disekitar TKP (Tempak Kejadian Perkara) yang datang untuk menolong atau sekedar menelpon ambulans untuk mencari bantuan.

Memang pertolongan pertama ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita atau si korban kecelakaan bisa sembuh dari penyakit yang dialami. Namun setidaknya pertolongan pertama ini biasanya diberikan oleh orang-orang disekitar korban yang diantaranya akan menghubungi petugas kesehatan terdekat. Pertolongan ini harus diberikan secara cepat dan tepat sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh bahkan kematian. Maka dari itu dengan adanya Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini, jika benar-benar bisa diterapkan di Indonesia diharapkan tidak ada lagi kasus korban kecelakaan yang meninggal karena terlambatnya pertolongan medis datang.

Jenis pertolongan disini tidak semata-mata hanya sekedar bantuan ambulans. Jika terjadi kasus lain seperti perampokan di jalan, kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba atau ada korban sekaran yang butuh pertolongan dengan segara bisa juga memanfaatkan Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini. Jadi bantuan yang datang bisa juga berupa bantuan dari pihak kepolisian, pihak pemadam kebakaran atau mungkin jika diperlukan bantuan helicopter bisa juga didatangkan dalam beberapa kasus yang benar-benar mendesak.

Source : https://handisemangat.blogspot.co.id/2014/11/rancang-bangun-sistem-pandu-panggilan.html