Mengenal Iwan Sunito, Diaspora Indonesia yang sukses berbisnis properti di Australia

Diaspora, istilah ini mulai populer digunakan di Indonesia, meski belum banyak yang begitu memahaminya. Namun, istilah yang dipinjam dari sejarah jewish ini adalah fatka yang sedang terjadi diantara anak-anak bangsa Indonesia. Bahwa bukan hanya Indonesia saja yang memiliki jutaan generasi diaspora di berbagai belahan dunia, Cina sudah lebih dahulu melakukannya berabad-abad lampau, kemudian disusul oleh India.

Diaspora Indonesia adalah warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di luar negeri karena belajar, bekerja atau berbisnis, orang Indonesia yang sudah berganti menjadi warga negara setempat, atau orang keturunan Indonesia karena pernikahan orang Indonesia dengan orang asing, maupun orang asing yang cinta dengan Indonesia.

diaspora indonesia

Salah satu diaspora Indonesia yang hidup sukses di negeri orang adalah Iwan Sunito. Pria kelahiran Surabaya ini adalah pengusaha properti besar di negara kanguru, Australia. Kerajaan bisnisnya dimulai dari mendirikan Crown Group Holdings (Crown Group), perusahaan berbasis di Sydney yang mengkhususkan diri dalam pengembangan properti, investasi properti dan hotel.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1994 oleh Iwan Sunito yang seorang arsitek bersama seorang temannya Paul Sathio yang seorang insinyur ini telah menjadi perusahaan holding yang merajai pasar pembangunan properti di Australia.

Iwan yang dahulu mengaku bukan anak yang pintar di sekolah karena sering tidak naik kelas ketika SD sampai SMA di Pangkalan Bun, Kalimantan. Namun berkat kerja keras kedua orang tuanya Iwan mampu pergi ke Australia dan mengambil kuliah, dan meraih Sarjana Teknik dibidang Aristektur. Kemudian melanjutkannya ke jenjang Master untuk manajemen konstruksi di negara yang sama. Semenjak kuliah itulah pengalamannya dibidang konstruksi diasah, bahkan pria yang sebenarnya memiliki kegemaran menggambar pesawat ini rela untuk tidak dibayar hanya untuk mencari pengalaman.

Bermodal perusahaan Crown, kata Iwan, satu per satu proyek properti dia kerjakan. Dia mengaku, kali pertama menggarap proyek besar adalah mengerjakan hunian bagi warga Australia dan hingga saat ini perusahaannya terus berkembang.

“Sudah 18 tahun kami telah mengembangkan aset menjadi US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 35 triliun. Kalau buat beli kuaci penuh tuh,” tawa dia.

Pria yang percaya dengan hukum 10.000 jam ini selalu menekankan bahwa pengalaman itu penting meskipun kita memiliki keterbatasan, bahasa misalnya.

“Biarpun saya punya keterbatasan bahasa Inggris tapi toh bisa jadi yang terbaik di Australia. Saya juga tidak lupa dengan bahasa jawa lho, karena logatnya tetap tidak bisa hilang,” paparnya.

Iwan yang beberapa waktu lalu hadir dalam Kongres Diaspora Ketiga ini, memiliki tips tentang bagaimana agar bangsa Indonesia bisa menjadi pemain properti yang sukses. Pertama, memulai. Kesuksesan, Iwan bilang tidak datang dengan sendirinya, namun harus melalui perjuangan dan kerja keras. “Mau bangun rumah nggak cuma fisiknya saja, tapi harus dipadukan dengan imajinasi dan sebagainya,” tuturnya.

Menurut Iwan, sukses tidak hanya tentang harta. “Saya nggak pernah punya visi bikin proyek satu juta dolar atau berapapun, yang penting kerjakan bahkan untuk hal-hal kecil. Kan saya pernah kerja cuci piring selama lima tahun dengan gaji tiga dolar di Australia,” kenang dia.

Kedua, sambungnya, menemukan peta jalan menuju kesuksesan dan ketiga, bermimpi yang terbaik. Sedangkan bagi para generasi muda yang ingin mengikuti jejak pengusaha sukses, Iwan berpesan untuk mulai menunjukkan kepada dunia tentang kekuatan-kekuatan kita.

“Kita punya budaya yang nggak mau terlalu menyombongkan diri, padahal di negara barat kekuatannya digembar gemborkan. Kita harus tunjukkan aset yang kita miliki bukan kekurangan dan apa yang sudah terjadi, bukan menjadi,” sarannya.

dari berbagai sumber

Jumlah Diaspora Indonesia Dipercaya yang Terbesar Ketiga di Dunia

Diaspora saat ini makin mendapatkan perhatian dari pemerintah Indonesia. Jumlahnya dari tahun ke tahun pun meningkat. Namun, terkait kuantitas, Indonesia kalah dengan Tiongkok dan India. Posisi penyumbang diaspora terbesar ditempati Tiongkok dan posisi kedua ditempati India. Kedua posisi ini seiring dengan total populasi kedua negara tersebut.

Saat ini tercatat sebanyak 7 juta diaspora yang tercatat sebagai anggota sebagaimana dijelaskan oleh Mohammad Al-Arief Presiden dari IDN-Global, wadah yang menaungi diaspora Indonesia di seluruh dunia.

“Tiongkok menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Tak heran bila jumlah diasporanya juga paling banyak. Demikian juga India. Kalau memakai ukuran jumlah penduduk, seharusnya Indonesia menempati posisi nomor tiga sebagai penyumbang diaspora di dunia. Tetapi, kita saja masih kalah dengan Filipina,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pembukaan Kongres Diaspora Indonesia Ketiga di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Rabu (12/8/2015).

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meresmikan Kongres Diaspora Indonesia Ketiga 12-14 Agustus lalu. (Foto: Kemlu.go.id)

Kalla mengatakan, diaspora Indonesia layak belajar dari diaspora Tiongkok maupun India. Mereka mengelana ke negeri orang dan tetap berkontribusi pada negara asalnya. Bahkan, sambung Kalla, banyak dari orang Tiongkok dan India yang berhasil menjadi pemimpin-pemimpin perusahaan dan organisasi global di luar negeri.

“Para diaspora pergi ke negeri orang karena menginginkan sesuatu yang lebih baik. Baik untuk mengembangkan pengetahuan, karir, dan sebagainya. Harapannya, mereka juga bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia,” kata Kalla.

Salah satu keuntungan besar bagi Indonesia dengan adanya diaspora adalah jejaring luas ke berbagai negara. Mereka, kata Kalla, bisa berperan dalam membuka akses pasar di banyak negara sehingga ekspor Indonesia bisa berkembang.

Marketeers.com

Asal Nama “Surabaya”, bukan Hiu dan Buaya

PADA umumnya, masyarakat Kota Surabaya menyebut asal nama Surabaya adalah dari untaian kata Sura dan Baya atau lebih popular dengan sebutan Sura ing Baya, dibaca Suro ing Boyo. Paduan dua kata itu berarti “berani menghadapi tantangan”. Ada juga yang menyebut berasal dari kata Cura Bhaya atau Curabhaya. Penulisan nama Surabaya pun berubah ejaannya sesuai dengan zaman pemakaiannya. Sebelum ditulis dengan kata Surabaya sekarang ini, pernah pula ditulis: Surabaia, Soerabaia, Seoarabaja dan Surabaja.

Berdasarkan filosofi kehidupan, warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai, Sura (Suro) dan Baya (Boyo), menggambarkan dua perjuangan hidup antara darat dan laut. Di dua alam ini ada dua penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, tetapi dapat bertemu di muara sungai. Dua makhluk itu adalah ikan Sura (Suro) dan Buaya (Boyo).

Perlambang kehidupan darat dan laut itu, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda. Begitu pulalah warga Surabaya ini, mereka berasal dari berbagai suku, agama, etnis dan ras, namun dapat hidup rukun dalam bermasyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan, ejaan nama Surabaya awalnya adalah: Curabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I dari tahun Caka 1280 atau 1358 M. Dalam prasasti itu tertulis Curabhayatermasuk kelompok desa di tepi sungai sebagai tempat penambangan yang dahulu sudah ada (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji pracasti).

Dalam sejarah, nama Surabaya terdapat pada buku: Negarakartagama tahun 1365 M. Pada bait 5 disebutkan: Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun. Artinya: Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun. Jenggala adalah Sidoarjo dan Buwun adalah Bawean.

 

Surapringga

 

Cerita lain menyebutkan Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Tetapi, dalam sejarah pemerintahan regent atau kebupatian (kabupaten), serta keadipatian (kepatihan) Surabaya disebut Surapringga.

Dari berbagai sumber, terungkap salah satu kepala pemerintahan yang cukup melegenada adalah Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.

Suatu keanehan, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Kalau sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama Hujunggaluh itu “hilang” dan kemudian sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh. Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14. Kemudian mengapa nama Surapringga tidak begitu popular.

 

Mitos Cura-bhaya

 

Ada lagi sumber lain yang mengungkap tentang asal-usul nama Surabaya. Buku kecil yang diterbitkan PN.BalaiPustaka tahun 1983, tulisan Soenarto Timoer, mengungkap cerita rakyat sebagai sumber penelitian sejarah. Bukunya berjudul: Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia “Mitos Cura-Bhaya”. Dari tulisan sepanjang 61 halaman itu, Soenarto Timoer membuat kesimpulan, bahwa hari jadi Surabaya harus dicari antara tahun-tahun 1334, saat meletusnya Gunung Kelud dan tahun 1352 saat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke Surabhaya (sesuai Nagarakrtagama, pupuh XVII:5).

Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama semula Hujunggaluh, karena perubahan nama menunjukkan adanya suatu motif. Motif dapat pula menunjukkan perkiraan kapan perubahan itu terjadi. Bahwa Hujunggaluh itu adalah Surabaya yang sekarang dapat diteliti dan ditelusuri berdasarkan makna namanya, lokasi dan arti kedudukannya dalam percaturan negara.

Ditilik dari makna, nama “Hujung” atau ujung tanah yang menjorok ke laut, yakni tanjung, dapat dipastikan wilayah ini berada di pantai. “Galuh” artinya emas. Dalam bahasa Jawa tukang emas dan pengrajin perak disebut: Wong anggaluh atau kemasan seperti tercantum dalam kamus Juynboll dan Mardiwarsito. Dalam purbacaraka galuh sama artinya dengan perak.

Hujunggaluh atau Hujung Emas, bisa disebut pula sebagai Hujung Perak, dan kemudian menjadi “Tanjung Perak” yang terletak di muara sungai atau Kali Emas (Kalimas). Nah, bisa jadi Tanjung Perak sekarang itulah yang dulu bernama Hujung galuh.

Dilihat dari lokasi Surabaya sekarang, berdasarkan prasasti Klagen, lokasi Hujunggaluh itu sebagai jalabuhan. Artinya, tempat bertemu para pedagang lokal dan antarpulau yang melakukan bongkarmuat barang dengan perahu. Diperkirakan, kampung Galuhan sekarang yang ada di Jalan Pawiyatan Surabaya, itulah Hujunggaluh, Di sini ada nama kampung Tembok. Konon tembok itulah yang membatasi laut dengan daratan.

Tinjauan berdasar arti kedudukannya, pada tahun 905, Hujunggaluh tempat kedudukan “parujar i sirikan” (prasati Raja Balitung, Randusari, Klaten). Parujar adalah wali daerah setingkat bupati. Bisa diartikan, bahwa Hujunggaluh pernah menjadi ibukota sebuah daerah setingkat kabupaten, satu eselon di bawah kedudukan “raka i sirikan”, pejabat agung kerajaan setelah raja.

Nah, sejak kapan Hujunggaluh berubah menjadi Surabaya? Mamang, perubahan nama tidak sama dengan penggantian tanggal lahir atau hari jadi. Namun, hingga sekarang belum ada satupun prasasti atau data otentik yang resmi menyebut perubahan nama Hujunggaluh menjadi Surabaya.

Mitos dan mistis sejak lama mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Maka mitos Cura-bhaya yang dikaitkan dengan nama Surabaya sekarang ini tentunya dapat dihubungkan pula dengan mitologi dalam mencari hari jadi Surabaya. Perubahan nama dari Hujunggaluh menjadi Surabaya dapat direkonstruksi dari berbagai sudut pandang.

Bencana alam meletusnya gunung Kelud tahun 1334 membawa korban cukup banyak. Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya perubahan di muara kali Brantas dengan anaknya Kalimas. Garis pantai Hujunggaluh bergeser ke utara. Timbul anggapan pikiran mistis yang mengingatkan kembali kepada pertarungan penguasa lautan, yakni ikan hiu yang bernama cura, melawan penguasa darat, buaya (bhaya). Dalam dunia mistis kemudian menjadi mitos, bahwa untuk menghentikan pertikaian antara penguasa laut dengan darat itu, maka digabungkan namanya dalam satu kata Cura-bhaya atau sekarang Surabaya.

Mitos ikan dengan buaya ini sudah ada pada abad XII-XIII, sebagai pengaruh ajaran Budha Mahayana melalui cerita Kuntjarakarna. Reliefnya terpahat di dinding gua Selamangleng, Gunung Klotok, Kediri.

Bagaimanapun juga, mitos ikan dan buaya yang sekarang menjadi lambang Kota Surabaya, hanyalah merupakan sepercik versi lokal, tulis Soenarto Timoer. Jadi mitos cura-bhaya, hanya berlaku di Hujunggaluh. Cura-bhayaadalah nama baru pengganti Hujunggaluh sebagai wujud pujian kepada sang Cura mwang Bhaya yang menguasai lautan dan daratan.

 

Jung Ya Lu dan Suyalu

 

Kendati sudah diyakini bahwa Junggaluh atau Hujunggaluh atau Ujunggaluh adalah cikal-bakal Kota Surabaya, ternyata tentang lokasinya pernah menjadi perdebatan. Peristiwa itu terjadi waktu pembahasan penetapan perubahan Hari Jadi Kota Surabaya pada tahun 1975.

Pembahasan mengenai lokasinya diperoleh dari beberapa pendapat. Prof.Dr.N.J.Krom, sebagai salah satu sumber misalnya menyitir nama Junggaluh dari sejarah Tiongkok. Pendapat ini diperkuat pula oleh Drs.Oei Soen Nio, dosen sejarah Tiongkok dari Seksi Sinologi Jurusan Asia Timur, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Nama Junggaluh itu disebutkan dalam ejaan Cina tertulis, kata Sugalu. Kata Sugalu itu menurut mereka harus dibaca Jung Ya Lu. Nah, dengan demikian maka ucapannya lebih mendekati Junggaluh daripada Sedayu.

Inilah, masalahnya. Sebab, ada pula ahli sejarah yang menerjemahkan kata Sugalu itu sebagai Sedayu, yaitu suatu nama desa di Kabupaten Gresik sekarang.

Pendapat Prof Dr. Suwoyo Woyowasito lain lagi. Menurut guru besar ini, tidak menyebut Sugalu, tetapi Suyalu. Dengan dasar perkembangan bunyi, telah dapat membuktikan bahwa Suyalu adalah perubahan bunyi lafal Tionghoa dari kata Junggaluh atau Hujunggaluh.

Suatu data lagi mengungkapkan, bahwa Shihpi, salah seorang panglima tentara Tartar yang semula mendarat di Tuban. Setelah tiba di Su-ya-lu memerintahkan tiga pejabat tinggi dengan naik perahu cepat ke jembatan terapung Majapahit (the floating bridge of Majapahit). Ke tiga pejabat tinggi yang berangkat dari Su-ya-lutersebut tentunya melalui sungai menuju ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto.

Kenyataan ini membuktikan, bahwa sungai yang dilalui adalah Kali Brantas, bukan Bengawan Solo. Bahkan dapat dikatakan bahwa Su-ya-lu terdapat di pantai dan muara Kali Brantas. Ini juga sesuai dengan faktor dari sumber Prasasti Kelagen (1037 AD) yang dilengkapi dengan faktor dari buku Chu-fan-Chi-kua (1220 AD). Pada buku itu dinyatakan bahwa Hujunggaluh terletak di pantai dan muara Kali Surabaya.

Maka dengan demikian, para anggota Panitia Khusus (Pansus) Penetapan Hari Jadi Surabaya yang kemudian didukung oleh pleno DPRD Kota Surabaya tahun 1975 itu, sependapat bahwa: “Su-ya-lu sama dengan Hujunggaluh yang terletak di pantai, di muara Kali Surabaya dan tidak sama dengan Sedayu yang sekarang terletak di tepi sungai Bengawan Solo, dengan muaranya yang baru di Ujung Pangkah, Gresik.”

Tidak hanya itu, fakta ini juga diperkuat lagi berdasarkan kidung Harsa Wijaya yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

“Mangke wus wonten Jung Galuh sampun akukuto lor ikang Tegal Bobot Sekar sampun cirno linurah punang deca tepi siring ing Canggu”.

Artinya: “Sekarang (tentara Tartar) sudah ada di Jung Galuh dan sudah membuat benteng sebelah utara Tegal Bobot Sekar (sari) dan para lurah desa di wilayah Canggu sudah musnah.” – Tegal Bobot Sekar atau Tegal Bobot Sari, sekarang menjadi Kecamatan Tegalsari di Kota Surabaya.

Begitulah sedikit kisah tentang nama Surabaya yang dikaitkan dengan Junggaluh atau Hujunggaluh. ***

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam *)

Pesona Bedug Terbesar di Dunia, dari Purworejo

Purworejo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Tengah. Ciri khas yang biasa terdapat pada alun-alun sebuah kabupaten/kota yang ada di Indonesia adalah adanya sebuah Masjid Agung ataupun Masjid Raya. Di kabupaten Purworejo terdapat sebuah Masjid Agung bernama Darul Muttaqin, yang berdiri diatas tanah wakaf seluas 9.000 m2 dengan luas bangunan dan serambi masjid sekitar 1.050 m2.

 

Arsitektur bangunan Masjid Agung Purworejo meniru bentuk Masjid Agung Keraton Surakarta. Masjid Agung yang berada di Jalan Mayjen Sutoyo, Kelurahan Sindurejan, Kecamatan Purworejo dan letaknya bersebelahan dengan KUA Kecamatan Purworejo ini dibangun pada tahun 1834 M. Setelah beberapa kali mengalami renovasi, saat ini bangunan dan serambi masjid memiliki daya tampung sebanyak 2.000 orang.

 

Masjid ini memiliki berbagai fasilitas yang membuat nyaman umat muslim yang beribadahdi rumah Allah tersebut, diantaranya adalah tempat parkir yang luas, papan informasi masjid, tempat wudhu, serta toilet yang bersih.

Salah satu yang menjadi daya tarik masjid adalah adanya sebuah bedug yang diyakini merupakan bedug terbesar di dunia, dibuat sekitar tahun 1834 M dari bongkot/pangkal pohon jati bercabang lima (pendowo) dengan diameterdepan194cm, diameter belakang 180 cm, panjang 292 cmyang berasal dari Dusun Pendowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, menjadikan masjid ini tidak sepi dari pengunjung yang terlihat terus berdatangan setiap waktu, baik untuk beribadah maupun sekedar melihat bedug terbesar di dunia yang menjadi warisan budaya Islam dan mengagumkan banyak orang.(imam/foto: bimasislam)

https://bimasislam.kemenag.go.id/

Rafflesia Gadutensis, Bunga Langka yang Hanya Ada di Sumatera Barat

Bunga Rafflesia, bunga parasit yang menghasilkan bau busuk ini memiliki 27 jenis spesies. 17 diantaranya berada di Indonesia dengan enam diantaranya tumbuh di Sumatera. Dari enam jenis tersebut tiga jenis berada di provinsi Sumatera Barat.

Tiga jenis yang ditemukan di Sumatera Barat ini, yakni Rafflesia arnoldi, Rafflesia gadutensis dan Raflesia haseltii. Khusus R. gadutensis, Yuliza Rahma, seorang peneliti rafflesia dari Universitas Andalas Padang, menjelaskan bahwa sulit menemukan jenis rafflesia yang sedang mekar berkembang di alam. Namun, beberapa waktu lalu dia menemukan bunga rafflesia yang sedang mekar di Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta, kota Padang.

Rafflesia Gadutensis (Foto: Destrian Eristha/mongabay.co.id)

“Rafflesia gadutensis ini, hanya terdapat di kota Padang, tepatnya di kawasan Gunung Gadut dan kawasan Tahura Bung Hatta,” jelas Yuliza

Rafflesia gadutensis, pertama kali ditemukan oleh W. Meijer pada tahun 1984 di kawasan Ulu Gadut, Padang Sumatera Barat. Bunga yang dalam nama lokal spesies disebut dengan nama cindawan harimau ini secara tampilan fisik sangat berbeda dengan bunga rafflesia yang lain, dengan memiliki bentuk corak khas dan ukurannya yang lebih kecil. Bunga rafflesia jenis ini memiliki diameter sekitar 40-60 cm, dengan lima kelopak berbintik putih.

Namun rafflesia yang ditemukan secara khusus hanya di Sumatera Barat ini juga bertahan hidup sama seperti rafflesia jenis lainnya yaitu tumbuh pada inangnya.

“Bunga ini diperkirakan memiliki proses tumbuh selama lima tahun dalam fase dari biji, kuncup, bunga dan biji kembali (proses layu)”, ujarnya

“Bunga ini adalah primadona Kota Padang, identitas bagi warga kota karena bentuknya yang cantik dan unik. Kelestarian populasinya perlu kita jaga.”

disadur dari mongabay.co.id

Anton Lucanus, Ilmuwan Australia Seorang Pecinta Indonesia

Kegiatan utamanya adalah penelitian di bidang biologi molekuler, namun Anton Lucanus (21) yang asal Australia ini juga sempat jadi aktor figuran film Tjokroaminoto hingga membuat LSM sosial di Indonesia. Serba bisa!

Perkenalannya dengan Indonesia sejak usia dini, 6 tahun, saat menginjak bangku SD di Perth, Australia. “Bahasa Indonesia sebenarnya wajib di Australia waktu saya SD, umur 6 tahun,” tutur Anton Lucanus dalam perbicangan dengan detikcom pada Jumat (7/8/2015) lalu.

Dua tahun berikutnya, saat berusia 8 tahun, Anton pertama kali pergi ke Indonesia dalam rangka liburan keluarga ke Bali. Disusul 7 tahun berikutnya, Anton mengikuti program pertukaran pelajar di sekolahnya untuk ke Indonesia.

“Umur 15 tahun saya ke Jakarta, membantu anak-anak di panti asuhan, di Puskesmas, itu hanya 10 hari. Sejak itu saya sudah menjadi pecandu Indonesia dan sejak itu saya balik lagi. Ada teman yang ke Indonesia dan dia mengajakku memperdalam bahasaku,” kenang dia.

Anton berada di labnya (Foto: dok. Anton Lucanus/detik.com)

Salah satu yang membuat Anton ‘kecanduan’ dan kemudian mempelajari bahasa Indonesia adalah keramahan warganya. Namun, dia melihat ironi di balik keramahan orang Indonesia, masalah sosial yang kompleks.

“Kita bisa lihat dari negara Australia, semua orang sangat mampu dan semuanya begitu sempurna. Kita tidak punya pikiran masalah seperti yang ada di Indonesia, tunawisma ada banyak, banyak yang harus dilakukan dan mau membantu,” jelas pemegang gelar sarjana sains dalam bidang anatomi dan biologi manusia dari The University of Western Australia.

Dalam bidang sains yang ditekuninya itu, Anton pernah menjalani pertukaran pelajar dan belajar di bidang biologi molekuler Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menjalani kursus singkat biologi molekuler di University of California, Los Angeles-AS, hingga menjadi peneliti riset di Lembaga Eijkman Jakarta.

“Di Eijkman saya bisa dapat sampel darah dari seluruh Indonesia yang terkena penyakit aneh. Mereka (Lembaga Eijkman) mendiagnosis virus yang baru,” tuturnya.

Risetnya di Indonesia fokus pada virus demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya. Saat dihubungi detikcom, posisi Anton di Singapura untuk melanjutkan riset biologi molekuler di untuk penyakit kanker payudara.

“Proyek aku di Indonesia sudah selesai. Sekarang saya pelatihan lagi di bidang breast cancer, mencoba cari molekul yang menjadi penyebab breast cancer,” tutur pria yang kini menjalani penelitian kanker payudara di Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore (NUS).

Bergelut mengotak-atik virus selama di Indonesia tak membuat kehidupan Anton hanya ‘terinkubasi’ hanya di dalam laboratorium. Sebaliknya, dia bahkan meneruskan kerja sosial yang sudah akrab digelutinya sejak masa sekolah. Anton pun mendirikan LSM Feed Indonesia yang bertujuan memberi makan para tunawisma dan anak-anak jalanan.

“Feed Indonesia mencoba melakukan sesuatu yang baik, membagi makanan ke orang tunawisma di Indonesia, dua kali per minggu. Seperti ke kawasan Senen, banyak orang tunawisma di sana yang hidup Rp10 ribu per hari. Kita juga fokus pada anak-anak, bayi dan wanita hamil. Juga anak-anak jalanan di Jakarta Utara,” kata penerima beasiswa New Colombo Plan dari Pemerintah Australia ini.

Detik.com

Tugu Wayfinder dari Diaspora untuk Bangsa Indonesia

Ada pemandangan berbeda di Taman Vanda. Lima buah tugu dengan tinggi berbeda kini tampak menghiasi sisi utara taman di samping kantor Bank Indonesia, Jalan Merdeka Bandung Jawa Barat.

Di lima tugu terbuat dari plat besi tersebut tertulis Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia. Dari masing masing tugu tersebut tertulis namanama kota besar di masingmasing benua. Satu yang unik, tak hanya nama kota saja yang tertulis, tetapi jarak dari tugu ke kota tersebut juga ditulis.

Tugu Wayfinder

Misalnya, pada tugu bertuliskan Europe warna ungu tencantum 15 kota di benua Eropa, di antaranya Moscow 9377 km, Istanbul 9.558 km, Berlin 10.868 km, Paris 11.667 km, London 10.633 Madrid 12.235 km. Begitu juga dengan tugu bertuliskan Asia yang berwarna merah tertulis 15 kota yang berada di benua Asia, di antaranya Singapura 968 km, Kuala Lumpur 1.327 km, Beijing 5.208 km, dan Hongkong 3.297 km.

Jarak yang tertulis dalam tugu tersebut adalah jarak sebenarnya dihitung dari tugu ke kota-kota yang dimaksud. Menurut Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung Arief Prasetya, tugu penunjuk arah ke lima benua tersebut bernama Wayfinder. Wayfinder terdiri dari lima tugu yang mewakili masing-masing benua dan memiliki ujung melengkung berupa panah penunjuk arah.

Wayfinder ini merupakan hadiah yang diberikan oleh para warga Indonesia di luar negeri yang tergabung dalam Diaspora Indonesia. “Ini adalah penujuk arah untuk melihat benua-benua atau kota-kota di dunia dari Diaspora Indonesia. “(Diaspora) Orang Indonesia yang belajar dan bekerja di kota-kota tersebut.

“Ini hadiah dari mereka,” ujar Arief, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil bersama anggota Diaspora Indonesia meresmikan Wayfinder di Taman Vanda. Emil mengatakan Wayfinder merupakan simbol dan pengingat bahwa ada orangorang Indonesia yang saat ini sedang mengembara di penjuru dunia.

Emil mengapresiasi atas dipilihnya Kota Bandung oleh Diaspora Indonesia sebagai lokasi berdirinya Wayfinder. Arah dari masing-masing tiang yang mengarah ke lima benua sudah sesuai dengan perhitungan akurat. “(Meski di luar negeri) Mereka itu hatinya tetap ada di Tanah Air dan tetap ingin berkontribusi. Oleh karena itu, mereka datang ke Jakarta untuk konferensi dan ke Bandung untuk memberikan hadiah simbolis ini,” katanya.

Koran-sindo.com

Aplikasi permainan Balap Karung yang Indonesia banget

Balap karung adalah salah satu permainan tradisional yang sering ada ketika perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Meski perayaan kemerdekaan 17 Agustus sudah lewat beberapa hari yang lalu, keseruan balap karung rasanya tetap berkesan. Namun untuk Anda yang ingin merasakannya kembali, Anda tidak perlu menunggu satu tahun lagi agar bisa merasakan kehebohan balap karung. Sebab, sudah ada aplikasi permainan balap karung berbasis Android.

karung merdeka

Aplikasi permainan bernama Karung Merdeka yang dikembangkan oleh NED Studio ini menurut Debora Lovita Christy Co-Founder NED Studio, adalah upayanya untuk ikut melestarikan budaya Indonesia. Permainan 2D yang didesain lucu ini cukup dimainkan dengan cara menekan layar secepat-cepatnya sembari bersaing dengan pemain lainnya untuk mencapai garis finish.

“Game lakukan sebagai wujud melestarikan budaya permainan tradisional yang rutin hadir dalam setiap perayaan kemerdekaan di seluruh penjuru Indonesia setiap tahunnya,” kata Debora

Permainan yang dikembangkan dalam waktu relatif singkat ini memberikan permainan balap karung yang dapat dilakukan dimana saja setiap waktu, langsung dalam genggaman. Apalagi, dengan fitur permainan yang variatif, desain karakter yang lucu, dan background music yang memacu semangat, game balap karung ini juga sangat menantang pemainnya.

karung merdeka

“Level yang semakin tinggi, tentu semakin sulit ditaklukkan. Desain lapangan yang dihadirkan juga kental dengan nuansa lokal Indonesia. Permainan ini juga disajikan dengan desain yang sangat menarik dan suasananya seperti membawa penggunanya dalam kemeriahan perayaan 17 Agustus,” tambah Debora.

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/08/25/aplikasi-permainan-balap-karung-yang-indonesia-banget-2/

7 Board Game Luar Negeri Bertema Indonesia

Board game memang tumbuh dan berkembang pesat di eropa, terutama di Jerman. Setiap tahun banyak bermunculan board game-board game baru dari Jerman atau negara lain. Dari tahun 1990 hingga sekarang tercatat ada setidaknya 7 board game luar negri “bertema” Indonesia. Berikut daftarnya judul-judulnya:.

1. Papua – 1992

Board game Papua dibuat oleh Thilo Hutzler asal Jerman. Board game ini menceritakan bagaimana menyelematkan diri menuju perahu sebelum dijadikan sup oleh suku pedalaman di Papua.

2. Java – 2000

Pembuat board game Java adalah Michael Kiesling & Wolfgang Kramer yang keduanya merupakan orang Jerman. Pulau Jawa terkenal dengan tanahnya yang subur, oleh karena itu pemain di permainan ini akan membuat irigasi lalu membajak sawah. Kemudian pemain juga berlomba membuat desa. Pemain dengan peradaban paling maju yang jadi pemenang.

3. Bali – 2001

Bali diciptakan oleh Uwe Rosenberg yang juga orang Jerman. Menceritakan tentang dalang wewayangan yang akan berpetualang dari satu pulau ke pulau lain (tapi ternyata malah tidak ada pulau Bali nya sama sekali). Dalang akan menantang dalang lain di suatu pulau. Jika ia paling sukses menebar wewayangan dia memenangkan permainan.

4. Indonesia – 2005

Indonesia yang merupakan karya Joris Wiersinga, orang Belanda, masuk ke deretan board game paling rumit di dunia. Pemain adalah pedagang yang ditunjuk Sultan dari Solo (mungkin maksudnya Mataram). Memperebutkan komoditi pangan dan juga kapal dengan menguasai pelabuhan. Pemain yang pada akhirya paling kaya adalah pemenangnya.

5. Borneo – 2007

Borneo atau yang sekarang bernama Kalimantan menjadi judul board game karya Paolo Mori, orang Itali. Borneo berceritakan pemain yang bertindak sebagai pedagang rempah-rempah pada abad ke-17. Sehingga setiap pemain harus lebih sukses dari pemain lain untuk menunjukkan bahwa dialah juragan rempah-rempah paling terkenal.

6. Batavia – 2008

Mengambil asal nama Jakarta, Batavia dibuat oleh Dan Glimne & Grzegorz Rejchtman yang berasal dari Swedia. Di Batavia, pemain adalah bagian dari kongsi dagang Hindia Timur: Inggris, Belanda, Swedia, Denmark dan Perancis (Ya, Indonesia tidak termasuk). Pemain harus berlomba untuk mengunjungi setiap Pos Perdagangan milik lawan.

7. Expedition Sumatra – 2010

Ekspedisi Sumatra adalah buah karya Jens Jahnke & Britta Stöckmann dari Jerman. Board game ini menceritakan pemain sebagai anggota tim dari balai observasi hewan lindung eropa. Pemain akan menelusuri petak-petak dalam papan yang disimbolkan sebagai hutan-hutan di Sumatra. Tugas pemain adalah menemukan dan membawa keluar hewan-hewan yang terancam punah sebelum diincar oleh pemburu liar.

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/08/26/7-board-game-luar-negeri-bertema-indonesia/

Kenapa 25 itu selawe, 50 itu siket, 60 itu sewidak

Dalam bahasa Jawa, terdapat penyimpangan pola penamaan bilangan yang konon memiliki falsafah yang amat mendalam jika dikaitkan dengan penyebutan usia seseorang. Jika dicermati dengan seksama, penyimpangan ini memang berbeda dari lazimnya penyebutan angka-angka di kepulauan melayu atau nusantara.

Penyimpangan tersebut terjadi mulai dari beberapa angka belasan hingga sampai angka 60. Ya, sampai angka 60 saja! Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa penyebutan tersebut memang erat kaitannya dengan usia manusia, mengingat usia 60 merupakan rata-rata panjang usia seseorang.

Dalam bahasa Jawa, angka 11 tidak disebut sebagai ‘sepuluh siji’, 12 bukan ‘sepuluh loro’, 13 bukan ‘sepuluh telu’ dan seterusnya hingga angka 19 yang tidak disebut sebagai ‘sepuluh songo’. Namun, angka 11 disebut sebagai ‘sewelas’, 12 disebut sebagai ‘rolas’ dan seterusnya hingga 19 yang disebut sebagai ‘songolas’.

Apa makna dibalik semua ini? Mengapa sepuluhan diganti dengan welasan?

Filosofinya, bahwa pada usia 11 tahun hingga 19 tahun adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis. Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja.

Sementara dalam banyak bahasa, bilangan 11 hingga 19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan teen, sehingga para remaja pada usia tersebut disebut teenagers.

Seterusnya, bilangan 21 hingga 29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada.

Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua, dan begitu seterusnya hingga dua puluh sembilan.

Sedangkan dalam bahasa jawa tidak demikian, angkaa 21 tidak disebut sebagai ‘rongpuluh siji’, 22 tidak disebut rongpuluh loro, dst, melainkan 21 disebut selikur, 22 disebut rolikur, dan seterusnya hingga 29 yang disebut songo likur, kecuali angka 25 yang disebut sebagai selawe.

Di sini terdapat satuan Likur yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi.

Mengapa disebut demikian? Falsafahnya, bahwa pada usia 21 hingga 29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, baik itu berupa pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.

Bahkan yang lebih menarik, angka 25 memiliki sebutan khusus, yang mana bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe.

Apa maknanya, Selawe konon merupakan singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok, itulah puncak asmaranya seorang laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebutlah (25) pada umumnya seorang laki-laki berumah tangga (dadi manten),

Memang tidak semua orang menikah pada usia tersebut, tapi jika dirata-rata memang di antara usia 21-29. Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah.

Dari angka 30 hingga 49, penamaan angka dibaca normal seusai pola urutan, misalnya telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst.

Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50. Mestinya, angka ini disebut sebagai limang puluh, namun sebutan populernya tidaklah demikian, angka 50 lebih sering disebut dengan seket.

Apa makna dibalik semua ini? Konon SEKET merupakan kependekan dari kalimat SEneng KEthonan, artinya suka memakai kethu / alias tutup kepala/topi/kopiah dan sebagainya.

Hal ini menandakan usia seseorang semakin lanjut, dan tutup kepala merupakan lambang dari semua itu. Selain itu tutup kepala merupakan alat untuk menutup rambut yang mulai botak atau memutih.

Di sisi lain, tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang sedang beribadah. Memang demikian, pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya. Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Lain 50, lain pula 60. Angka ini tidak populer dengan sebutan enem puluh, tapi lebih sering diseut dengan sewidak atau suwidak.

Usut punya usut, konon sewidak merupakan kependekan dari ‘SEjatine WIs wayahe tinDAK’.

Maknanya, sesungguhnya pada usia tersebut sudah saat seseorang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini. Maka kalau usia kita sudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/08/26/kenapa-25-itu-selawe-50-itu-siket-60-itu-sewidak/