Penemu Kromosom 23, Pria Kelahiran Pekalongan

Ilmu genetika modern saat ini dianggap sebagai salah satu bidang eksplorasi sains yang masih penuh misteri. Berbagai penyakit baru dapat teridentifikasi melalui penelitian genetika yang rumit. Namun siapa sangka ternyata ilmuwan yang lahir di Indonesia memiliki peran besar dalam perkembangan genetika. Dia adalah Joe Hin Tjio.

Ilmuwan yang lahir di Pekalongan 2 November 1919 ini menemukan jumlah sebenarnya dari kromoson manusia pada tahun 1955 yang lalu di Swedia, ketika dirinya hanya menjadi ilmuwan tamu. Penemuannya saat itu membuat gempar dunia ilmu pengetahuan karena saat itu para ilmuwan sangat mempercayai bahwa kromosom yang dimiliki manusia adalah berjumlah 24 bukan 23 seperti yang ditemukan oleh Joe Hin Tjio bersama dengan Albert Levan yang berasal dari Spanyol.

Wallpapers Market

Gambar 1. Kromosom

Lalu siapa sebenarnya Joe Hin Tjio? Menurut ensiklopedia Britannica Tjio kecil yang lahir dari keluarga Cina, bersekolah di sekolah penjajah Belanda, kemudian sempat mendalami fotografi mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer profesional. Namun Tjio memutuskan untuk kembali bersekolah di bidang pertanian dengan kuliah di Sekolah Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman hibrida yang tahan terhadap penyakit. Sejak berkuliah itulah Tjio mendapatkan pondasi ilmu genetika.

Sempat dipenjara selama tiga tahun saat masa pendudukan Jepang, Tjio melanjutkan pendidikannya ke Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai cytogenetik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman. Di sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of Genetics di Lund Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Di sinilah penemuannya yang menghebohkan itu ia lakukan.

Joe Hin Tjio

Pada tahun 1955, Tjio menemukan teknik yang baru untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel, karena itu dirinya digelari sebagai bapak dari ilmu cytogenetik modern –ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas– yang merupakan sebuah cabang utama ilmu genetika. Penelitiannya yang lain di tahun 1959 menemukan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome ternyata memiliki tambahan kromosom dalam sel-sel mereka.

Di sisa 37 tahun terakhir karirnya, Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health) Washington. Di sana Tjio mengkompilasi koleksi-koleksi foto-foto ilmiah yang mendokumentasikan penelitian-penelitiannya yang luar biasa. Ternyata bakat fotografi terpendamnya tersalurkan juga di NIH. Prestasi Tjio pun tak bisa dipandang remeh, bahkan sangat membanggakan, terbukti dengan anugerah Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy tahun 1962.

25 hari setelah ultahnya yang ke-82 Tjio tutup usia tanggal 27 November 2001, di Gaithersburg, Maryland, Amerika.

https://indonesiaproud.wordpress.com

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/penemu-kromosom-23-pria-kelahiran-pekalongan/

Karno Dimedjo, Eksplorasi Planet Mars, dan Masa Depan Indonesia

Saya yakin, pembaca tidak mengenal Karno Dimedjo yang saya maksudkan di sini, setidaknya karena 2 alasan, satu; karena beliau bukan orang yang terkenal, kedua..karena beliau sudah wafat sejak bertahun-tahun lalu waktu saya masih SMP. Beliau adalah kakek saya, bapak dari bapak saya.

misi mars nasa

Bapak saya sangat sering bercerita tentang kakek. Bagaimana sejak kecil hingga wafat, mbah saya ini (para tetangga dulu sering memanggil beliau dengan mBah Amat) tidak pernah tinggal di luar kampungnya. Bahkan tak pernah pergi jauh dari kampungnya.  Bahkan ketika invasi Belanda dan Jepang makin bertambah menjadi-jadi, beliau lebih memilih menjaga pertahanan di pintu masuk kampung kami di Wonosalam, sebuah dusun pertanian yang kecil di lereng Merapi…tak begitu jauh dari gua-gua pertahanan Jepang di sekitar Kaliurang, Yogyakarta. Namun tulisan ini takkan bercerita tentang kisah heroik kakek saya dalam mengangkat senjata melawan Belanda atau Jepang. Bukan.

Kisah ini lebih sederhana.

Ada sekelumit kisah dialog singkat saya dengan beliau..di suatu pagi, beberapa tahun sebelum beliau meninggal dunia. Pagi itu beliau sedang menanam puluhan bibit pohon kelapa di halaman belakang rumah beliau yang sangat luas. Saya ingat, kami berdialog seperti ini (dalam bahasa Jawa):

“mBah, ini kira-kira minggu depan sudah tinggi dan berbuah ya, mBah?”

(Sambil tersenyum) “Ya tidak. Pohon ini perlu setidaknya 10 tahun lagi sebelum tumbuh besar dan berbuah”

“Lha nanti 10 tahun lagi, mbah masih kuat naik pohon dan ambil buahnya?”

(Sekali lagi, beliau tersenyum) “Nanti kamu yang memanjat pohon dan ambil buahnya. Petikkan untuk Mbah, ya. Jangan lupa, kamu nanti juga harus menanam”

Saya tidak habis pikir waktu itu, beliau jelas sudah sangat sepuh, dan mungkin tak akan sempat menikmati hasilnya menanam kelapa. Setidaknya..tak kuat lagi memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya. Saya bertanya kembali..

“Mbah, kenapa menanam kelapa kalau mbah gak akan bisa menikmati hasilnya?”

Jawabannya, tak saya fahami waktu itu.

“Ya inilah makna hidup yang sebenarnya. Simbah ini hidup di dunia, untuk membuatkan jalan buat kami (generasi saya) dan mempersiapkan kamu menghadapi hidup di masa mu nanti”

——

Minggu-minggu terakhir ini, dunia gegap gempita menyambut pengumuman NASA yang menyatakan bahwa mereka menemukan air di permukaan planet Mars, yang kemudian memunculkan keyakinan bahwa Mars, settidaknya pernah menjadi planet yang dihuni oleh organisme hidup, di masa lalu.

Seperti dalam film Interstellar, di mana manusia berusaha mencari ruang hidup baru di luar planet bumi, NASA pun merencanakan hal yang sama. NASA telah mengungkapkan misi mereka dengan rinci untuk mendaratkan manusia ke Mars dalam beberapa dekade mendatang, paling cepat tahun 2050. NASA menjelaskan tentang teknologi dan infrastruktur yang akan dibutuhkan untuk membuat misi ke Mars menjadi nyata. Menariknya, rencana NASA ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengirim manusia untuk tinggal di Planet Mars,  tidak hanya pergi lalu kembali. “Seperti Program Apollo, kami memulai perjalanan ini untuk semua umat manusia. Namun tidak seperti Apollo, kita akan ke Mars untuk menetap di sana secara permanen.” Kata NASA.

Tahun 2050, memang masih lama. Orang-orang yang sekarang bekerja di NASA pun mungkin takkan lagi ada di NASA beberapa dekade lagi. Mereka, membuatkan jalan bagi siapapun generasi mendatang..untuk mengeksplorasi kemungkinan mencari tempat hidup baru di luar bumi, meskipun mereka mungkin takkan bisa menikmatinya. Pun, misi-misi luar angkasa AS (lewat NASA) juga dilapangkan jalannya…sejak berpuluh tahun lalu di era JF Kennedy. Ingat pidatonya yang luar biasa waktu mencanangkan AS harus pergi ke bulan menjelang akhir dekade 60-an.

“We choose to go to the moon. We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win, and the others, too.

It is for these reasons that I regard the decision last year to shift our efforts in space from low to high gear as among the most important decisions that will be made during my incumbency in the office of the Presidency.”

—-

Waktu pertama kali ke Malaysia pada tahun 2001, pesawat saya berputar 2 x untuk menunggu giliran landing. Dari situ, dari jendela pesawat saya melihat ke bawah, terdapat ruas jalan yang lebar, bagus, dan….kosong sama sekali. Dalam 2 x putaran pesawat, saya tak melihat satupun mobil yang melewati jalan tersebut. Saya sempatkan bertanya kepada salah satu kawan saya yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan kontruksi jalan tol “mengapa jalan tersebut begitu lebar, namun begitu kosong?” Jawabnya singkat “15-20 tahun lagi pasti sudah ramai”.

Setiap hari, saya melihat anak-anak kecil berbondong-bondong menuju sekolah. Saat ini, mereka mungkin tak terpikir…apa jadinya Indonesia 20 tahun dari sekarang, saat mereka dewasa nanti. Atau 50 tahun dari sekarang, saat anak anak mereka dewasa.  Memang..belum saatnya mereka berpikir sejauh itu.

Itu lah tugas kita..menyiapkan jalan untuk mereka. Melapangkan setapak yang terjal..agar di masa depan, jalan-jalan generasi di bawah kita…lebih halus, lebih mudah dilewati.

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/karno-dimedjo-eksplorasi-planet-mars-dan-masa-depan-indonesia/

Pemuda Kelahiran Bandar Lampung ini Diakui sebagai Hacker Kelas Dunia

Dunia internet memang memberikan banyak peluang dan revolusi aliran informasi. Teknologi ini telah banyak mengubah jalan cerita dunia dan nasib banyak orang. Namun ibarat sebuah pedang, internet adalah pedang bermata dua yang harus terus diwaspadai penggunaannya. Seorang anak bangsa asal Bandarlampung mengerti tentang fakta tersebut.

Jim Geovedi adalah pemuda yang memahami bagaimana potensi sistem keamanan dari dunia internet. Sebagai seorang yang memiliki keahlian peretasan, Jim, jika dia mau, bisa setiap saat keluar masuk ke pusat data merekam percakapan, menyalin surat elektronik atau sekedar mengintip aktifitas anda di dunia maya mengingat hampir seluruh informasi dan teknologi terkoneksi satu sama lain.

Jim-Geovedi-Hacker-Satelit-1

Gambar 1. Jim Geovendi

Lebih dari itu, dia bisa saja mencuri data-data penting seperti lalu lintas transaksi bank, laporan keuangan perusahaan atau bahkan mengamati sistem pertahanan negara.

“Kalau mau saya bisa mengontrol internet di seluruh Indonesia,“ kata Jim dalam percakapan dengan Deutsche Welle. Saat saya tanyakan itu kepada pengamat IT Enda Nasution, dia mengaku percaya Jim Geovedi bisa melakukan itu.

Meski memiliki kemampuan yang cukup berbahaya, Jim mengaku dirinya lebih memilih untuk memanfaatkan celah-celah internet untuk pengembangan sistem keamanan. Reputasinya sebagai hacker telah mendunia, hilir mudik Berlin, Amsterdam, Paris, Torino, hingga Krakow. Dirinya sering menjadi pembicara pertemuan hacker internasional. Dalam sebuah pertemuan hacker dunia, Jim pernah memperagakan cara meretas satelit: ya, Jim bisa mengubah arah gerak atau bahkan menggeser posisi satelit. Keahliannya ini bisa anda lihat di Youtube.

Pada tahun 2004, Jim pernah diminta membantu KPU (saat itu data pusat penghitungan suara Pemilu diretas-red) yang kena hack. Saya disewa untuk mencari tahu siapa pelakunya (seorang hacker bernama Dani Firmansyah akhirnya ditangkap-red).

Kemudian pada tahun 2012 Jim memutuskan pindah ke London dan mendirikan perusahaan jasa sistem keamanan teknologi informasi bersama rekannya. Dia menangani para klien yang membutuhkan jasa pengamanan sistem satelit, perbankan dan telekomunikasi. Dua tahun terakhir, dia mengaku tertarik mengembangkan artificial intelligence komputer.

Meski kemampuannya telah diakui secara internasional, namun Jim Geovedi menolak disebut ahli. Dalam wawancara, Jim lebih suka menganggap dirinya “pengamat atau kadang-kadang partisipan aktif dalam seni mengawasi dari tempat yang jauh dan aman.“

Menariknya Jim bukan lulusan sekolah IT ternama. Pemuda kelahiran Bandarlampung ini setelah lulus SMA, harus menjalani kehidupan jalanan yang keras di kampung halamannya sebagai seniman grafis. Beruntung seorang pendeta memperkenalkan dia dengan komputer dan internet. Sejak itu, Jim Geovedi belajar secara otodidak: menelusuri ruang-forum-forum chatting para hacker dunia.

dw.com

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/pemuda-kelahiran-bandarlampung-ini-diakui-sebagai-hacker-kelas-dunia/

Komunitas Adat di Kalimantan Timur Raih Penghargaan PBB

Komunitas Adat Dayak Benuaq di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur, mendapatkan penghargaan bergengsi, Equator Prize, sebagaimana diumumkan secara resmi oleh Badan Program Pembangunan PBB atau UNDP dalam konferensi pers di Sekretariat PBB di New York, AS, akhir September yang lalu.

Sebagaimana dilansir oleh Bisnis.com, Komunitas Adat Muara Tae mendapatkan Equator Prize atas upaya mereka dalam mempertahankan, melindungi dan memulihkan hutan dan wilayah adat mereka yang masih tersisa, dari gempuran logging, tambang, dan perkebunan sawit.

Hutan, tanah dan alam merupakan landasan materi dan spiritual yang menyediakan keamanan pangan, kesehatan (apotek alam) dan kelangsungan budaya Komunitas Dayak Benuaq di Muara Tae.

Sejak 20 tahun terakhir Muara Tae telah kehilangan lebih dari separuh lahan dan hutan mereka sejak 1971 oleh HPH, tambang, dan sawit. Perusahaan tersebut antara lain PT Sumber Mas (milik Josh Sutomo), PT London Sumatra Group (Lonsum) yang kemudian dibeli oleh Salim Group, PT Gunung Bayan Pratama Coal (milik Low Tuck Kwong), PT Borneo Surya Mining Jaya (Surya Dumai Grup milik Keluarga Fangiono), dan PT Munte Waniq Jaya Perkasa (TSH Resouces Bhd Grup anak dari PT First Resources Limited).

Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut telah menyebabkan Masyarakat Adat di Muara Tae kehilangan sumber-sumber penghidupan mereka. Sumber-sumber air menjadi kering dan kini mereka harus berjalan satu kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Pemimpin perjuangan Masyarakat Adat Muara Tae, Petrus Asuy menyatakan bahwa penghargaan ini adalah bukti perjuangan Masyarakat Adat Muara Tae tidak salah, bahkan menjadi tauladan. Tuduhan bahwa mereka menghambat pembangunan ternyata tidak terbukti.

Sejak awal, Muara Tae tidak pernah menyerahkan wilayah adat mereka kepada perusahaan-perusahaan tersebut dan melakukan perlawanan. Dalam perjuangan panjang perlawanan tersebut, Muara Tae mengalami berbagai bentuk kekerasan, intimidasi dan kriminalisasi.

Selain harus menghadapi perusahaan, mereka juga harus mempertahankan diri dari pihak pemerintah yang mendukung perusahaan, bahkan dengan komunitas yang berbatasan dengan mereka sebagai akibat dari strategi perusahaan untuk mengambil wilayah adat mereka melalui tangan lain.

Menurut Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan, Muara Tae adalah contoh nyata penyelamat hutan yang diperlukan oleh dunia saat ini. Upaya seperti ini yang harus mendapatkan dukungan dari dunia internasional dan khususnya perlindungan oleh Negara.

Selama ini masyarakat Adat di Muara Tae tetap berupaya sekuat tenaga menjaga hutan adat mereka. Mereka sudah berkali-kali menghadang buldozer perusahaan, hingga kemudian di tahun 2011 mereka mendirikan Pondok Jaga dan melakukan berbagai pembibitan dan penanaman pohon. Di tengah terjangan buldozer, Muara Tae mulai merehabilitasi wilayah adat mereka yang rusak dengan menanam kembali berbagai jenis pohon.

Muara Tae mentargetkan untuk merehabilitasi 700 Hektar wilayah adat mereka yang telah rusak. Mereka juga melakukan pemetaan wilayah adat dan mengidentifikasi keanekaragaman hayati yang ada di hutan adat mereka. Tahun lalu, Muara Tae melakukan Ritual Adat Gugug Tau’tn selama 64 hari, sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan, menenangkan leluhur dan berdamai dengan alam.

Kini hutan yang tersisa merupakan rumah dari sejumlah besar jenis burung, termasuk burung Enggang yang erat kaitannya dengan budaya dan adat suku Dayak di Kalimantan. Diperkirakan terdapat sekitar 20 spesies reptil dan hutan yang juga menjadi habitat dari beruang madu dan Bekantan tersebut. Demikian pula berbagai macam tanaman herbal untuk pengobatan dan ritual ada seperti akar kayu kuning hingga jenis kayu seperti Ulin, Gaharu dan Meranti.

PBB yang melihat upaya masyarakat adat tersebut, kemudian menganugerahi Muara Tae dengan Penghargaan Equator Prize, suatu penghargaan yang diberikan kepada Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal yang berupaya memerangi kemiskinan, melindungi alam dan memperkuat ketahanan dari perubahan iklim. Muara Tae secara khusus mendapatkan Equator Prize atas upaya melindungi dan mengamankan hak mereka atas tanah, wilayah dan sumberdaya alam.

dayakMasyarakat Dayak Berkumpul Melakukan Sumpah Adat, menentang Pengerusakan Hutan Adat Tahun lalu (Foto: Forest Watch Indonesia)

Campaigner Environmental Investigation Agency (EIA), Tomasz Johnson yang selama ini ikut mendukung perjuangan Muara Tae menyatakan banyak orang berpikir bahwa penyebab deforestasi sangat kompleks. Masyarakat Adat di Muara Tae menunjukkan bahwa solusinya sangat sederhana, yaitu kita harus mendukung Masyarakat seperti Muara Tae, yang selama ini tetap berjuang melindungi tanah adat mereka.

Equator Prize merupakan penghargaan oleh Equator Initiative, suatu program partnership yang diprakarsai oleh UNDP dan bekerja sama dengan badan-badan lain di PBB seperti UNEP, CBD dan UN Foundation, serta pemerintah Norway, Jerman, AS, Swedia dan organisasi-organisasi konservasi di tingkat internasional. Tahun ini Equator Prize menerima 1.461 nominasi dari 126 negara. 20 di antaranya mendapatkan Equator Prize, selain Komunitas Adat Dayak Benuaq di Muara Tae, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung juga mendapat penghargaan yang sama.

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/komunitas-adat-di-kalimantan-timur-raih-penghargaan-pbb/

Misool Eco Resort Indonesia Terpilih Sebagai Salah Satu Ecolodge Terbaik di Dunia

1Dikutip dari www.travel.nationalgeographic.com , Indonesia yang diwakili oleh Misool Eco Resort masuk di daftar salah satu ecolodge terbaik di dunia bersanding dengan 25 ecolodge dari negara lain. Ecolodge sendiri merupakan sebutan bagi penginapan ramah lingkungan dan menekankan pada alam

Tidak mudah untuk mencapai resort ini namun ketika sampai disana semua perjuangan akan terbayar lunas dengan pemandangan di sekitar resort. Terletak di pusat Coral Triangle paling terkenal se Asia Tenggara, Misool menyediakan pemandangan bawah laut yang menakujubkan. Keindahan bawah lautnya dihiasi dengan beragam jenis ikan laut yang konon jumlahnya lebih banyak daripada spesies burung di Amazon.

Misool Eco Resort menyediakan sebanyak 13 bungalow. Semua bungalow dibangun dengan sumber daya lokal mulai dari kayu bangunan hingga makanan yang disediakan semuanya berasal dari daerah setempat.

Ada beberapa pilihan aktivitas yang dapat dilakukan di resort ini, diantaranya berkunjung ke desa setempat serta berinteraksi dengan penduduk disana, mendayung, spa, snorkeling serta diving.

Tarif yang ditawarkan untuk menginap minimal selama 7 hari adalah $ 5.466.

Informasi selengkapnya :

www.misoolecoresort.com

https://travel.nationalgeographic.com/travel/best-ecolodges-photos-traveler

Source : https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/13/misool-eco-resort-indonesia-terpilih-sebagai-salah-satuecolodge-terbaik-di-dunia/

NARESCAMP 2015 : Aksi Nyata Untuk Warga Desa Ngesrepbalong

Foto Kegiatan 2

Narescamp atau Nasional Research Camp adalah kompetisi penelitian berbasis pengabdian. Narescamp ini dilaksanakan selama tiga 3 hari di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah. Kompetisi tingkat nasional ini terbuka untuk semua mahasiswa PTN atau PTS yang ada di Indonesia.

Desa Ngesrepbalong pada tahun ini merupakan desa binaan dari UKM Penelitian (UKMP) Universitas Negeri Semarng yang pada beberapa kesempatan sebelum diadakannya Narescamp ini para pengurus UKMP telah melaksanakan beberapa pengabdian di desa ini diantaranya: plangisasi menuju curug lawe, pelatihan veltikultur, pelatihan pembuatan sirup terong belanda dan beberapa pengabdian lainnya.

Untuk tahun ini, finalis Narescamp terdiri dari 9 besar tim terbaik yang telah lolos seleksi tahap 1 yaitu seleksi Idea Concept Project (ICP) dari para juri. Finalis tersebut yaitu:

  1. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Eva Oktavikasari dan judul DONGENG SI EDUBORI: IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER DI SD NEGERI 1 NGRESEPBALONG
  2. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Saiful Pratama dan judul “BOPANG SERONG” : Bolu Pisang Lapis Selai Terong Belanda sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah Komoditi Pisang dan Terong Belanda di Dusun Gunungsari, Desa Ngesrep Balong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal
  3. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Amalia Erlynandita P H dan judul WORMER – SISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DENGAN IMPLEMENTASI USAHA TERNAK CACING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA NGESREP BALONG
  4. Universitas Diponegoro dengan ketua Rita Sugiarto dan judul HORTEA: Peningkatan Nilai Tambah Limbah Padat The Menjadi Boneka Horta Sebagai Souvenir Khas Dusun Gunungsari Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal
  5. Universitas Negeri Yogyakarta dengan ketua Nita Nurwijayanti dan judul UNCANG JERAMI BATIK:UPAYA PENDAYAGUNAAN LIMBAH JERAMI DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA
  6. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Pentarina Intan Laksmitawa dengan judul NAGASAKI (BONEKA TANGAN KAOS KAKI) SEBAGAI MEDIA PROMOSI HIDUP SEHAT BERBASIS CERITA PADA ANAK MENUJU INDONESIA BEBAS DBD 2020
  7. UIN Maliki Malang dengan ketua Nurtamin dengan judul Pengembangan Edu-Tourism Kebun Teh di Dusun Wisata Gunungsari, Desa Ngasrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah
  8. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Umi Thoifah Amalia dengan judul “Gunungsari Green School (GGS) Solusi Cerdas Anak Gemar Bercocok Tanam Dengan Semangat Kearifan Lokal”
  9. Universitas Airlangga dengan ketua Irfan Mustofa dengan judul Teh Diajeng Manis sebagai Produk Ekonomi Kreatif Berkhasiat Antioksidan Dan Karminatif Guna Menarik Wisatawan serta Meningkatkan Perekonomian Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan

Jum’at 2 Oktober 2015

Narescamp (National Research Camp) tahun 2015 ini dibuka di gedung LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Universitas Negeri Semarang. Pada pembukaan kali ini Narescamp dibuka langsung oleh bapak Pak Much Aziz Muslim S.Kom., M.Kom. selaku ketua Pendamping UKM Penelitian Unnes.

Sebelum keesokan harinya para peserta menjalankan penelitian dan pengabdian di desa Ngesrepbalong. Para finalis Narescamp terlebih dahulu mendapat pengarahan secara langsung dari bapak Pak Prof. Dr. Totok Sumaryanto Florentinus M.Pd selaku ketua LP2M. Pengarahan yang diberikan yaitu terkait pentingnya penelitian dan pengabdian bagi mahasiswa. Pada sesi pengarahan tersebut para finalis begitu antusias menyerap setiap materi yang disampaikan oleh bapak Prof Totok hingga kemudian terjadi diskusi aktif dari kedua belah pihak.

Setalah para finalis dan panitia selesai melaksanakan solat Jum’at bagi putra dan solat dhuhur bagi putri di Masjid Ulul Albab. Kemudian secara bersama-sama kita berangkat menuju Desa Ngesrepbalong menggunakan Truck Polisi. Meskipun perjalanan dari Unnes hingga ke Ngesrepbalong cukup jauh dan melewati jalan yang kurang bersahabat namun tak menyurutkan niat seluruh peneliti dan pengabdi terbaik dari seluruh Indonesia ini untuk menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi langsung kepada masyarakat desa Ngesrepbalong yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Sekitar pukul 15.30 WIB kita semua baru sampai di desa Ngesrepbalong. Cuaca yang masih sejuk, pepohonan yang masih rindang hingga sambutan warga yang begitu ramah kepada kami menjadi kesan yang tak terlupakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di desa Ngesrepbalong.

Supaya lebih menguatkan kesan pengabdian, homestay para finalis Narescamp langsung menginap bersama ke rumah-rumah masyarakat sekaligus agar lebih banyak kesempatan bagi para peserta Narescamp untuk megakrabkan diri dengan masyarakat setempat.

Tepat pukul 19.30 WIB setelah semua finalis selesai menjalankan ibadah solat isya’. Para finalis langsung berkumpul di Aula Ngesrepbalong untuk ramah tamah bersama para sesepuh warga setempat. Beberapa sesepuh yang hadir yaitu berasal dari perwakilan kepada dusun, kepala RT 01, kepala RT 02, Kepala 03, Kepala Karang Taruna dan Kepala KWT (Kelompok Wanita Tani). Acara ramah tamah tersebut bertujuan untuk meminta izin secara resmi terkait akan melaksanakan acara pengabdian selama 3 hari di desa ini sekaligus untuk konsolidasi terkait pelaksanaan pengabdian maupun penelitian pada keesokan harinya.

Sabtu, 3 Oktober 2015

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Puncak acara Narescamp yaitu penelitian dan pengabdian dilaksanakan pada hari ini. Untuk menyesuaikan audience yang dituju. Pengabdian dibagi menjadi 2 kelompok besar yang secara bergantian melakukan pengabdian serta kelompok yang tidak melaksanakan pengabdian bisa mempersiapkan pengabdian mereka ataupun merasakan field trip ke curug lawe yang jaraknya kurang lebih hanya 30 menit jalan kaki dari desa ngesrepbalong.

Tim Unnes yang mewakilkan 3 tim delegasi dalam grand final Narescamp 2015 ini, ketiganya melakukan pengabdian pada pagi hari di SDN 01 Ngesrepbalong. Seluruh murid-murid SD tersebut dengan antusias menerima dengan baik setiap ilmu yang dibagikan oleh ketiga tim unnes tersebut yang melakukan pengabdian di masing-masing kelas yang berbeda. Meskipun beberapa siswa belum bisa teratur karena masih suka berlarian sesuka hati mereka, namun itu masih dalam batas wajar anak SD. Hal terpenting dari semua ini adalah semua nilai moral yang disampaikan dapat diserap dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pukul 11.00 semua finalis kembali berkumpul di aula. Pak Much Aziz Muslim S.Kom., M.Kom. selaku pendamping UKMP UNNES memberikan materi pengarahan mengenai pentingnya penerbitan prosiding. Beberapa hal yang disampaikan yaitu dengan menerbitkan prosiding maka hasil gagasan dari para peneliti maupun pengabdi muda tidak hanya berhenti sampai laptop mereka saja namun juga akan terpublikasi secara luas sehingga bisa bermanfaat bagi keberlanjutan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Selain itu dengan menerbitakan prosiding juga akan menaikkan nilai branding diri khusunya untuk para mahasiswa yang ingin melamar menjadi dosen maupun para dosen yang ingin segera naik pangkat menjadi professor. Melalui pengarahan dari pak Aziz ini terlihat antusias yang luar biasa dari seluruh finalis untuk memperbanyak kesempatan untuk menerbitkan prosiding.

Selanjutnya 6 tim finalis lainnya melakukan pengabdian dengan mencari sendiri objek pengabdiannya, tentunya setelah dibantu oleh pimpinan sesepuh warga setempat yang telah berkonsolidasi pada malam hari sebelumnya. Seluruh finalis bagitu antusias serta penuh semangat untuk membagikan ilmu yang mereka miliki untuk diaplikasikan langsung kepada masyarakat. Begitupun masyarakat begitu tertarik dengan setiap hal yang disampaikan oleh para finalis. Harapannya yaitu apa yang disampaikan dapat mengakar kepada masyarakat dan terjadi keberlanjutan sehingga dapat meningkatkan keterampilan serta kesejahteraan warga setempat.

Diterangi oleh bulan yang dengan gagahnya menunjukkan keperkasaannya dan dengan diiringi alunan angin malam yang dinginnya cukup menusuk tulang. Pada malam ini, seluruh finalis Narescamp berkumpul di Aula untuk mendiskusikan serta menggagas berbagai ide mereka untuk Ngesrepbalong. Harapannya apa yang mereka diskusikan dan mereka gagas pada malam itu bisa didengar oleh petinggi negeri sehingga mampu menaikkan taraf kehidupan masyarakat ngesrepbalong.

Minggu, 4 Oktober 2015

Keesokan harinya, para finalis terlebih dahulu berjalan-jalan menikmati sejuknya pagi di area kebun teh yang letaknya tak jauh dari desa Ngesrepbalong. Pemandangan yang cukup indah dengan hamparan kebun teh yang sangat luas menjadikan tempat ini cocok digunakan untuk mengabadikan moment kebersamaan dengan berfoto-foto sekaligus refreshing sebelum para finalis mempresentasikan gagasan mereka di hadapan para dewan juri.

Tepat pukul 09.15 WIB presentasi pertama dimulai dengan kontingen tim Universitas Diponegoro dan diakhiri dengan presentasi tim dari UIN Maliki Malang tepat pada pukul 12.00 WIB. Pada tahap presentasi, seluruh tim masing-masing mendapat kesempatan presentasi selama 10 menit serta 8 menit tanya jawab. Untuk juri dari Narescamp kali ini merupakan dosen dengan 3 latar belakang yang berbeda yaitu keteknikan, mipa dan sosial yang didatangkan langsung dari Universitas Negeri Semarang. Ketiga juri tersebut yaitu Pak Bayu Triwibowo S.T., M.T., Pak Fajar Arif Setyawan M.Pd, Bu Martien Herna Susanti S.Sos, M.Si

Selama presentasi para finalis telah memaparkan hasil pengabdian dan penelitian mereka dengan berbagai metode dan media yang sangat baik. Para juri yang diberi amanah untuk menilai gagasan mereka pun memberikan pertanyaan yang tak kalah luar biasanya sehingga diskusi tanya jawab dari kedua belah pihak berjalalan secara efektif.

Ketika para finalis melakukan presentasi, disaat bersamaan beberapa panitia yang juga sebelumnya pernah melakukan penelitian maupun pengabdian di desa maupun di luar desa Ngesrepbalong ini juga melakuka presentasi di ruang sebelah untuk melengkapi jurnal prosiding Narescamp yang akan dibantu diterbitkan dan juga mendapatkan ISBN oleh bapak Pak Much Aziz Muslim S.Kom., M.Kom.

Setelah semua selesai melakukan presentasi, para finalis istirahat sekaligus makan bersama untuk yang terakhir kalinya di rumah bu kadus. Setelah itu kemudian finalis kembali ke homestay untuk mengemasi barang mereka untuk persiapan pulang dan kemudian kembali berkumpul di SDN Ngesrepbalong 01 untuk menghadiri pengumuman juara Narescamp 2015.

Detik-detik yang ditunggu telah tiba. Pengumuman juara menjadi salah puncak acara Narescamp kali ini. Lebih dari sekedar kompetisi, harapannya melalui berbagai gagasan terbaik dari mahasiswa Indonesia yang telah diterapkan langsung ke masyarakat tersebut bisa menjadi solusi nyata bagi warga Ngesrepbalong.

Berdasarkan rekap penilaian dari panitia yaitu dengan akumulasi penilaian 30% nilai ICP, 30% nilai implementasi gagasan dan 40% nilai presentasi di hadapan dewan juri maka dipilihlah 6 juara utama yaitu:

Juara 1. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Amalia Erlynandita P H

Juara 2. Universitas Negeri Semarang dengan ketua Eva Oktafikasari

Juara 3. Institut Pertanian Bogor dengan ketua Saiful Pratama

Juara Harapan 1. Universitas Diponegoro dengan ketua Rita Sugiarto

Juara Harapan 2. Universitas Airlangga dengan ketua Irfan Mustofa

Juara Harapan 3. UIN Maliki Malang dengan ketua Nurtamin

Semoga apa yang telah di implementasikan oleh seluruh finalis Narescamp bisa terus berlanjut kebermanfaatannya bagi warga setempat dan semoga dari ajang Narescamp kali ini lahir para peneliti dan pengabdi terbaik yang mampu menjadi solusi bagi bangsa ini.

#Narescamp2015

#SatuAksiSejutaInspirasi

Source : https://handisemangat.blogspot.com/2015/10/narescamp-2015-satu-aksi-sejuta.html

SURAT UNTUK INDONESIA

Untuk Indonesiaku

Yang Tercinta

Saya disini berbicara sebagai sebuah bagian kecil dari Negara ini, sebagai warga Negara yang sering tidak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak kami, sebagai rakyat biasa yang sering dizalimi oleh segerombolan orang yang menyebut dirinya sebagai penguasa, sebagai seorang anak yang turut marasakan sulitnya perjuangan orang tua kami dalam manyambung sebuah kehidupan, sebagai pribadi yang masih diselimutu rasa was-was, takut dan ragu akan masa depan kami di negeri tercinta ini.

ina

Gambar 1. Cinta Indonesia

Ada pepatah mengatakan,”Jangan tanyakan apa yang Negara telah berikan kepadamu, namun tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu” Ya, Saya tau itu, Saya paham, Saya pun mengerti tak patut aku menuntut seperti ini, menuntut Indonesia tercinta, menuntut bagian terkecil dari bagian hidupku, atau bahkan menuntut diriku sendiri. Ya, diri sendiri, Indonesia adalah aku, dan aku adalah Indonesia, maka tak patutlah aku menuntut kepada Indonesia.

Indonesia adalah aku, kami, kita dan mereka. Maka untuk dapat merubah Negara ini menjadi lebih baik baik dibutuhkan partisipasi semua warga Negara tanpa terkecuali, dimulai dari diri sendiri lakukan yang terbaik yang bisa diri sendiri lakukan. Apa itu? Mungkin saat ini sebagai pribadi kita semua terikat dengan aturan selalu membayar pajak ini itulah yang semoga saja uang kami digunakan dengan benar tanpa sedikitpun keluar jalur ke tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab—Aamiin. Selain itu sebagai salah satu tindakan menjadikan Negara ini menjadi lebih baik adalah mengerjakan sebaik mungkin apapun pekerjaan kita sekarang, ntah itu pelajar, pedagang, petani, supir, nelayan atau lainnnya lakukanlah dengan sepenuh hati untuk diri sendiri, untuk saudara-saudara kita, dan untuk Indonesia tercinta! Karena sebagai warga Negara kita hanya dihadapkan dengan 2 pilihan, menambah masalah di Negara ini atau menjadi solusi pemecahan masalah di Negara ini, tidak ada pilihan netral atau tidak menjadi apa-apa, yang ada hanya 2 pilihan itu, maka camkan baik-baik! bagian manakah diri kita, mau menjadi penambah masalah yang sudah terlanjur mengakar bagi Negara ini? Atau menjadi pemecah masalah bagi Negara yang selalu kita banggakan ini? Kau sendiri yang menentukan.

Untuk mengubah Negara ini maka mulailah dengan mengubah diri sendiri, Saya paham itu, namun Saya hanyalah serpihan kecil dari Negara ini yang tidak memiliki kuasa apa-apa terhadap Negara ini, ada seseorang didepan sana yang telah kami tunjuk, yang telah kami pilih, yang telah kami beri amanah untuk sebagai penjembatan pemilih kebijakan-kebijakan supaya menjadikan Negara ini menjadi lebih baik. Jangan kecewakan kami, jangan khianati kepercayaan kami, dan jangan buat kami sedih, tolong, lakukan pekerjaan kalian yang sebaik-baiknya, untuk kita semua untuk Indonesia, singkirkan semua ego bersama kita bisa, kita hanya perlu kompak, kita hanya perlu bersatu untuk menjadikan Negara ini lebih maju, bersatulah saudaraku semua aku mohon.

Negara ini telah mengukir sejarah panjang, telah terbentuk karena perjuangan besar, dan telah banyak yang mengorbankan segalanya untuk tetap menjadikan Negara ini satu. Para pendahulu kita siapapun itu telah berjuang sepenuh hati, telah mengorbankan segalanya dan menyingkirkan ego mereka untuk menyatukan kita dalam satu ikatan, Indonesia. Tak malu kita pada mereka? Apa balas jasa kita kepada mereka? Untuk itu jangan sia-siakan perjuangan mereka, sekarang lah saatnya bagi kita meneruskan perjuangan mereka, sekarang saatnya membangun lagi Negara ini, sekarang saatnya untuk buktikan pada dunia bahwa kita bukan hanya Negara yang hanya bisa mengikuti arus globalisasi, rubah diri kita mulai dari sekarang, ya sekarang, kalau tidak sekarang kapan lagi! Ayo bersatulah sabang sampai merauke, berkibarlah setinggi-tingginya merah putih. Kita adalah Indonesia dan Indonesia adalah kita, kita sudah banyak tertinggal dari Negara lain, kita telah terlena dengan sejarah-sejarah dan fakta-fakta hebat dari Negara ini, jangan hanya terlena karna perjuangan harus dilakukan setiap detik, setiap saat dan setiap waktu. Saatnya kita bangkit, bukan hanya meninggalkan ketertinggalan tapi juga meninggalkan ketertinggalan. Semangat Indonesiaku!

Mengatasi Masalah Pemanasan Global

Banyak hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah pemanasan global, langkah awalnya tentu saja kita mulai dari meningkatkan kesadaran diri sendiri untuk mencintai lingkungan sekitar, setelah kita mampu menyadarkan diri sendiri barulah kita mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa, sedikit demi sedikit kita rubah kebiasaan buruk yang berhubungan dengan perusakan lingkungan, jika dilakukan bersama cita-cita menjadikan perubahan lingkungan yang lebih baik pasti dapat terwujud sehingga anak cucu kita nantiya masih dapat menikmati indahnya alam, menghirup segarnya udara dipagi hari serta menikmati rindang dan sejuknya berteduh dibawah pepohonan. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pemanasan global.

global warming

Gambar 1. Global Warming

Yang pertama pada saat berpergian alangkah baiknya tidak menggunakan pesawat terbang, karena emisi gas pesawat terbang menghasilkan banyak gas CO2 yang menyebabkan lingkungan menjadi semakin panas karena gas CO2 merupakan gas sisa pembakaran yang bersifat racun yang dapat mencemari udara selain itu gas ini juga berbahaya bagi tubuh karena jika terhirup ke paru-paru bisa menyebabkan penyakit radang paru-paru, saat kelebihan gas CO2 maka gas-gas yang lain akan kalah keberadaanya karena gas CO2 itu berat dan sangat sulit untuk bereaksi. Selanjutnya lebih baik gunakan mobil yang bahan bakarnya berupa hybrid atau yang menggunakan bahan bakar listrik karena lebih ramah lingkungan. Jika tidak, bisa juga menggunakan angkutan transportasi umum karena dinaiki oleh banyak orang yang tentu saja emisi yang dihasilkan jadi lebih sedikit jika dibadingkan dengan penggunaan kendaraan pribadi oleh masing-masing individu yang lebih tidak efisien penggunaan bahan bakarnya. Alternatif terbaik lainnya yaitu jalan kaki karena disamping lebih menyehatkan bagi badan dengan jalan kaki tidak menggunakan bahan bakar sehingga tentu saja sama sekali tidak mencemari lingkungan. Jika agak malas berjalan bisa juga dengan bepergian menggunakan sepeda yang mempunyai manfaat sama persis dengan berjalan namun memiliki sedikit keunggulan yaitu waktu yang ditempuh lebih singkat.

Beralihlah ke energi hijau, seiring perkembangan iptek sekarang ini banyak tercipta teknologi-teknologi baru yang lebih canggih namun sayangnya kebanyakan dari itu tidak ramah lingkungan, kita biasanya hanya mengutamakan bagaimana teknologi itu bisa bermanfaat, meringankan dan memudahkan pekerjaan kita tanpa memikirkan bahwa penggunaan teknologi tersebut dapat merusak lingkungan. Mulai sekarang alangkah baiknya kita lebih mengutamakan penggunaan energi alamiah seperti memanfaatkaan tenaga angin, matahari, aliran sungai dan sebagainya yang tentu saja diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan dapat mengurangi kadar pencemaran lingkungan yang sudah terlanjur akud ini. Beberapa contoh penggunaan energi alamiah adalah penggunaan angin untuk menggerakkan kincir angin yang sekarang ini banyak digunakan oleh negara Belanda, penggunaan matahari sebagai panel surya untuk menghasilkan listrik, lalu penggunaan aliran arus sungai yang digunakan sebagai generator pembangkit listrik yang telah banyak digunakan di beberapa desa-desa yang ingin maju, dan masih banyak contoh lainnya yang dengan mudah banyak kita jumpai dilingkungan sekitar yang diharapkan penggunaannya dapat lebih meluas karna inilah teknologi hijau terbaik yang ramah lingkungan.

Banyak hal-hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi pemanasan global, dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan ada beberapa hal yang paling mungkin untuk dilakukan yaitu diantaranya gunakan lampu neon dibandingkan lampu bohlam karena penggunaan lampu neon dinilai lebih hemat energy, dibuktikan dengan lampu bohlam lebih cepat panas jika dibandingkan lampu neon. Lalu matikan peralatan elektronik jika tidak digunakan untuk penghematan energy. Jika menjemur baju jangan menggunakan alat pengering tapi manfaatkan saja jemuran karena lebih ramah lingkungan. Lalu gunakan panel surya untuk memanfaatkan matahari sebagai energy pembangkit listrik karena lebih hemat energy dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas emisi yang berbahaya bagi lingkungan.

Beli buah-buahan lokal, jangan membeli barang-barang import karena barang import tentu saja membutuhkan transportasi untuk mengirim barang tersebut dan penggunaan transportasi tersebut tentu saja menghasilkan polutan yang dapat merusak lingkungan. Beli buah-buahan, sayur-sayuran dan lain sebagainya di pasar tradisional saja karena disamping harganya lebih murah disana juga lebih ramah lingkungan bandingkan dengan mall-mall yang ada dikota besar yang didalamnya banyak menggunakan AC yang sudah kita semua ketahui menghasilkan gas CFC yang dapat merusak atmosfir bumi kita. Beli buah-buahan yang segar yang kandungan vitaminnya masih lengkap dan belum menguap bandingkan dengan buah-buahan yang sudah dibekukan karena selain kandungan vitamin yang sudah berkurang karena terlalu lama disimpan, nah menyimpannya itu pastilah menggunakan mesin pendingin yang tentu saja penggunaanya memerlukan pembangkit energy dan hal itu tentu saja menambah penggunaan pasokan energi yang ada, dengan memakan buah yang masih segar tentu saja dapat mengurangi penggunaan energy tersebut.

Banyak diantara kita yang masih menggunakan bahan-bahan sekali pakai yang tentu saja sangat tidak efisien, sekali pakai langsung dibuang dan hanya menjadi sampah yang tidak berguna, hal ini tentu saja hanya menjadi pemborosan sumber daya yang tentu saja semakin memperparah masalah kelangkaan yang telah lama mengakar. Maka dari itu alangkah baiknya kita menggunakan bahan-bahan yang dipakai berulang kali seperti tas kain untuk belanja bukannya tas kresek yang sekali pakai langsung buang, lalu gunakan kertas daur ulang karena hal itu tentu saja dapat mengurangi penggunaan kayu sebagai bahan dasar pembuatan kertas, selanjutnya jangan terlalu sering mengirim surat atau menggunakan kertas untuk hal-hal yang kurang efisien, hal ini bisa diganti misalnya dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada seperti menggunakan e-mail untuk mengirim surat, menggunakan komputer untuk mencatat suatu tulisan dan lain sebagainya. Seperti program yang telah dicanangkan oleh pemerintah yaitu program ‘KB dua anak lebih baik’ alangkah baiknya kita mengikuti saran tersebut karena semakin sedikit manusia semakin sedikit pula yang menyumbang gas CO2 bagi alam dan semakin mengurangi pula kadar pencemaran di bumi.

Daging sapi memang menyehatkan karena mengandung protein hewani yang sangat bermanfaat bagi tubuh, namun jangan terlalu banyak makan daging sapi karena selain bahaya kolesterol jika dimakan berlebihan, biarkan mereka berkembang biak dengan baik karena setiap kotoran yang dikeluarkan oleh sapi itu menghasilkan gas metana, tanpa banyak orang ketahui bahwa gas metana itu bisa digunakan sebagai biogas untuk bahan bakar pengganti batu bara. Dengan dipakainya biogas ini diharapkan bisa mengurangi efek ketergantungan terhadap bahan bakar batu bara yang ketersediaannya di alam sudah mulai menipis.

Tanamlah pohon sebanyak-banyaknya, karena telah kita semua ketahui pohon dapat menyerap gas CO2 yang berbahaya bagi lingkungan. Tanpa adanya pohon, bumi ini akan terasa panas karena banyaknya gas CO2 yang berhamburan. Dengan menanam pohon selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, pohon juga mempunyai banyak manfaat lainnya seperti dinikmati buahnya, jika berada didaerah pegunungan bisa mengurangi resiko tanah longsor melalui akar-akarnya yang mampu menguatkan tanah. Berikut ada beberapa daftar pohon penyerap karbondioksida, berikut merupakan daftar tanaman yang mempunyai daya serap karbondioksida yang tinggi berdasarkan hasil riset Endes N. Dahlan. (No, nama pohon, nama latin, daya serap).

Kenanga, Canangium odoratum, 756,59 kg/tahun
Beringin, Ficus benyamina, 535,90 kg/tahun
Mahoni, Swettiana mahagoni, 295,73 kg/tahun
Jati, Tectona grandis, 135,27 kg/tahun
Nangka, Arthocarpus heterophyllus, 126,51 kg/tahun
Sirsak, Annona muricata, 75,29 kg/tahun
Puspa, Schima wallichii, 63,31 kg/tahun
Akasia, Acacia auriculiformis, 48,68 kg/tahun
Flamboyan, Delonix regia, 42,20 kg/tahun
Sawo kecik, Maniilkara kauki, 36,19 kg/tahun
Tanjung, Mimusops elengi, 34,29 kg/tahun
Bunga merak, Caesalpinia pulcherrima, 30,95 kg/tahun
Sempur, Dilenia retusa, 24,24 kg/tahun
Akasia, Acacia mangium, 15,19 kg/tahun
Angsana, Pterocarpus indicus, 11,12 kg/tahun
Asam kranji, Pithecelobium dulce, 8,48 kg/tahun
Saputangan, Maniltoa grandiflora, 8,26 kg/tahun
Dadap merah, Erythrina cristagalli, 4,55 kg/tahun
Rambutan, Nephelium lappaceum, 2,19 kg/tahun

Katalis adalah suatu zat atau dalam hal ini suatu tindakan yang dapat mempercepat laju reaksi, dalam hal ini banyak terdapat katalis yang dapat berpengaruh dalam tindakan mengatasi masalah pemanasan global yaitu yang pertama pelajari tentang fakta-fakta yang ada lingkungan tentang bagaimana cara mengatasi pemanasan global, selanjutnya ceritakan pengalamanmu tadi kepada teman-temanmu, rekan sekolah atau rekan kerja dan siapapun saja agar perataan informasi tentang bahaya pemanasan global lebih meluas dan diharapkan mereka juga bisa ikut melakukan tindakan-tindakan dan pencegahan-pencegahan terhadap masalah pemanasan global ini, lalu rajinlah berolahraga buat dirimu sehat, kuat terhadap penyakit karena sehat itu adalah modal utama kita untuk melakukan semua aktivitas-aktivitas diatas namun jika badan kita sakit kita tidak akan bisa untuk melakukan proses pencegahan polutan diatas, jika badan kita tidak dalam kondisi yang fit maka virus-virus mudah melemahkan sistim imunitas kita dan menyebabkan kita jadi jatuh sakit.

Yang terakhir buatlah rencana anggaran keuangan agar dapat lebih menghemat uang dan lebih menghemat tenaga. Dengan adanya perencanaan yang jelas mana barang yang harus dibeli dan mana barang yang tidak terlalu penting untuk dibeli hal itu tentu saja diharapkan dapat mengurangi pembelian barang-barang yang tidak penting dan uangnya bisa disimpan dan ditabung untuk keperluan yang lebih penting.

Source : https://handiavolo.blogspot.com/2013/06/mengatasi-masalah-pemanasan-global.html

Menghargai Makna Lambang Pancasila Bagi Bangsa Indonesia

Kebanyakan orang hanya mengenal Pancasila sebagai bacaan yang rutin dibacakan disetiap upacara pada hari senin tanpa mengetahui maksud pembacaannya dan tanpa memahami makna yang terkandung didalamnya, hanya segelintir saja yang benar-benar mengamalkan butir-butir Pancasila itu padahal mereka mengku berbangsa Indonesia tapi tidak mengetahui makna dari dasar negaranya sendiri yaitu Pancasila. Jika ada pertanyaan apakah Pancasila masih digunakan sebagai dasar Negara? Jawabannya iya. Tapi jika pertanyaannya apakah Pancasila masih diterapkan di Negara ini? Jawabannya mungkin saja tidak.

pancasila

Gambar 1. Pancasila

Seiring berjalannya waktu, tanpa perlu disebutkan satu per satu kita semua tahu kian hari di televisi atau di Koran-koran lokal saja selalu bermunculan semakin berfariasi tiada hentinya berita kriminal yang tentu saja semakin menginjak-injak harga diri Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. Hal itu semakin memunculkan anggapan bahwa memang keberadaan Pancasila mulai terabaikan dan hanya dianggap sebagai lambang semata. Bukannya bermaksud untuk merendahkan karena memang seperti inilah fakta Indonesia hari ini.

Dahulu, pada masa sebelum Indonesia merdeka banyak tersebar kerajaan-kerajaan besar iantaranya Kerjaan Demak, Sriwijaya, Samudra Pasai, Banten, Mataram dan masih banyak lainnya. Mereka semua berdiri sendiri dalam memimpin wilayahnya, saat itu kecil kemungkinan untuk bersatu karna justru mereka sendiri saling berperang untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Saat Penjajah datang mereka melakukan perlawanan secara sendiri-sendiri. Apa hasilnya? Tanpa persatuan penjajah tak dapat di usir dari bumi pertiwi ini, maka dari itu sejarah baru harus segera dibuat yaitu sejarah persatuan. Berkaca dari hal itu setelah kemerdekaan tiba para pejuang terdahulu dengan susah payah dengan melakukan revisi berkali-kali akhirnya berhasil merumuskan suatu alat pemersatu bangsa yaitu Pancasila. Namun apa respon kita? Apa balas jasa kita? Adakah Pancasila didalam hati rakyat Indonesia?

Begitu kuatnya Pancasila, bahkan pada saat ada golongan tertentu yang ingin menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi lain selalu mengalami kegagalan. Salah satu contohnya yaitu saat kejadian G30/S-PK. Para oknum PKI yang pernah mencoba menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi komunis mengalami kegagalan. Maka dari itu pada tanggal 1 oktober selalu diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila sebagai peringatan saktinya Pancasila yang tak bisa digantikan oleh ideology lain dan juga untuk mengenang kukuhnya pendirian para pahlawan revolusi yang rela berkorban demi ideology Pancasila itu sendiri. Maka dari itu sudah sepantasnya seluruh rakyat Indonesia mau menyelami dan memaknai kandungan yang ada didalam Pancasila maka tanpa diragukan lagi burung garuda ini akan dapat terbang mengepakkan sayapnya setinggi langit meninggalkan segala ketertinggalan dan keterbelakangan yang ada.

Bagaimana dengan sekarang? Semuanya telah berbeda, Pancasila sudah mulai dilupakan, keberadaannya tak lagi berarti, generasi sekarang banyak yang merasa paling hebat merasa sombong dengan keberhasilannya sekarang, mereka beranggapan bahwa semua itu merupakan karena usaha sendiri. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena generasi sekarang bisa seperti sekarang tentu saja karena generasi terdahulu. Pancasila sekarang hanya dipandang sebagai lambang negara, tidak lebih. Banyak pemuda sekarang yang kurang memahami makna, simbol, arti apalagi penerapannya bahkan mungkin ada sebagian yang tak hafal sila kesatu sampai sila kelima dari Pancasila. Fakta yang sungguh mengecewakan karena memang generasi sekarang banyak yang tak mengerti tentang Pancasila dan parahnya kedua orang tua mereka tidak mengajarkan karena mereka juga sama-sama tidak peduli. Tak hanya itu kita lihat saja para pejabat tinggi dari tingkat kelurahan hinga tingkat cabinet Negara yang seharusnya dijadikan contoh dan mengayomi rakyat yang dibawah malah mereka menjadi provokator korupsi. Jika sudah seperti ini, siapakah yang patut disalahkan?

Menyikapi tentang kejadian yang baru-baru ini hebohnya tentang Provinsi Banda Aceh atau lebih dikenal dengan Serambi Mekah yang terkenal dengan syariat islamnya yang masih begitu kental di daerah itu. Belakangan ini mereka mulai membangkang dari NKRI karena tak mau tunduk kepada Negara yang lambang negaranya diadaptasi dari sebuah peradaban Hindhu-Budha. Burung Garuda Pancasila lambang Negara Indonesia memang diadaptasi dari Raja Erlangga dulu yang terkenal dengan tunggangan burung garudanya. Namun apalah arti sebuah lambang? Dengan semangat persatuan Lambang Garuda ini diciptakan sebagai lambang untuk menyatukan keseluruhan latar belakang, pendidikan, suku dan budaya yang berbeda-beda ini agar semuanya lebih seragam, setara, sehati dan sedarah yaitu merah putih. Agar tak ada lagi perbedaan, perselisihan dan perbedaan strata karena kita semua adalah satu, kita semua bersaudara. Pada dasarnya lambang Pancasila dibuat untuk dihormati bukan untuk dipuji-puji atau dituhankan, jadi kenapa harus berontak? Yang lebih penting dari  sekedar mempermasalahkan lambang itu adalah tak bisa dipungkiri lagi jika benar-benar didalami dan dipahami, isi kandungan didalamnya memang mengandung berbagai filsafat hidup yang sangat tepat dijadikan sebagai nilai dasar masing-masing individu bangsa Indonesia.

Jangan biarkan hal ini terus seperti ini. Mulai sekarang mari kita mulai mencintai negeri ini, salah satunya dengan melihat sisi positif tentang arti penting perjuangan dimasa lalu, pantaskah kita melupakan jasa para pahlawan? Maka dari itu mari selamatkan generasi selanjutnya dengan melanjutkan perjuangan apa yang telah diwariskan oleh pejuang dimasa lalu. Begitu beratnya beban yang harus dipikul oleh para generasi calon-calon pemimpin bangsa kita tercinta ini yaitu untuk menghidupkan kembali Pancasila ini, naming jika kita mau bersama pasti bisa. Bila kita memang benar-benar masih peduli, setidaknya mari bersama-sama menghormati hal yang menurut kita hanya hal kecil yang telah diperjuangkan pahlawan terdahulu dengan selalu mengamalkannya. Dan hal itu adalah Lambang Pancasila.

Source : https://handiavolo.blogspot.com/2013/07/menghargai-makna-lambang-pancasila-bagi.html

Kontribusi Kampus Konservasi Terhadap Pembangunan Berkelanjutan

  Ø  Pendahuluan

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi keperluan hidup manusia masa kini dengan tidak mengabaikan kepentingan manusia pada generasi akan datang. Konferensi lingkungan hidup dan pembangunan di Rio de Jeneiro pada tanggal 3 juni 1992 merupakan cikal bakal munculnya gagasan Pembangunan Berkelanjutan Sebagai wujud dan rasa tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup, pemerintah Indonesia telah membuat berbagai peraturan perundang-undangan khusus mengenai lingkungan hidup, yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Hal ini dimaksudkan untuk merubah sikap dan perilaku masyarakat agar ramah terhadap lingkungan. Masalah lingkungan yang dihadapi banyak ditimbulkan oleh manusia antara lain: kemiskinan, mental frontier pertumbuhan penduduk, peningkatan produksi pertanian, pengembangan industri, pencemaran lingkungan, dan konsumsi sumber-sumber alam yang tidak dapat diperbaharui makin meningkat. Oleh karena itu solusi yang tepat dalam mengatasi permasalah lingkungan adalah melalui pendekatan pendidikan pada semua jenjang

  Ø  Pembangunan Berkelanjutan

Tanggapan-tanggapan yang muncul mengenai kerusakan lingkungan dewasa ini merupakan bukti nyata bahwa masalah lingkungan hidup telah menghawatirkan kehidupan manusia. Hal ini dapat dimaklumi karena kelangsungan kehidupan manusia sangat tergantung pada keadaan lingkungan di mana dia hidup.

Bertolak dari rasa sadar akan keadaan kerusakan lingkungan, masyarakat dunia yang tergabung dalam PBB telah mengadakan konferensi di Stockholm pada tanggal 5 juni 1972. Ketika itu juga dibentuk organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan diberi nama United Nations Environment Programme (UNEP). Missi utama organisasi tersebut adalah melakukan usaha menyelamatkan bumi dari kehancuran. Pada saat itu issu yang paling hangat dibicarakan adalah bahaya pencemaran udara dari sisa industri negara-negara maju (Otto Sumarwoto, 1992: 4-5). Sejak saat itu juga gerakan lingkungan hidup secara international dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia.

Pada tahun 1984 UNEP membentuk suatu komisi yang disebut The World Commission on Environment and Development (WCED) dengan tugas mempelajari tantangan dan cara penanggulangan degradasi lingkungan dan pembangunan menjelang tahun 2000. Delapan tahun kemudian pada tanggal 3 juni 1992, PBB menyelenggarakan konferensi lingkungan hidup dan pembangunan di Rio de Jeneiro yang bertujuan untuk mengatasi masalah lingkungan dan pembangunan yang dihadapi oleh negara-negara di dunia. Pembangunan yang sedang dilaksanakan tidak boleh hanya memperhatikan kebutuhan ekonomi dan teknologi tetapi juga aspek lingkungan dan kelangsungan hidup manusia perlu diperhatikan. Gagasan tersebut dikenal sebagai “Pembangunan Berkelanjutan” (sustainable development) dan telah disepakati menjadi kebijaksanaan pembangunan semua negara di dunia.

Dalam konferensi tersebut di atas permasalahan lingkungan hidup yang dibicarakan bukan lagi terbatas pada pencemaran, tetapi sudah mencakup pada kerusakan hutan, efek rumah kaca, kemiskinan, pendidikan, dan musnahnya berbagai spesies (Valentinus Darsono, 1992: 154). Semuanya itu menggambarkan betapa keadaan ekosistem dunia saat ini telah banyak mengalami kerusakan. Nilai historis yang dihasilkan dari konferensi tersebut adalah dengan ditanda tanganinya deklarasi oleh seluruh wakil-wakil negara yang hadir dan menyepakati bahwa setiap negara masing-masing berkedaulatan memanfaatkan sumber daya alamnya, tanpa harus merusak lingkungan hidup dan bersedia untuk bekerja sama dengan negara lain dalam melestarikan lingkungan.

  Ø  Mengatasi Masalah-masalah Lingkungan

Permasalahan lingkungan cenderung akan meningkat bila tidak didukung oleh pengetahuan, sikap dan motivasi untuk berpartisipasi dari semua lapisan masyarakat dan tidak memandang lingkungan dan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya hanya sebagai objek untuk dieksploitasi bagi pemenuhan kebutuhan hidup. Bila kondisi tersebut terus berlangsung, maka masalah lingkungan seperti yang terjadi di tempat lain bukan tidak mustahil juga akan terjadi di Indonesia pada umumnya dan di Ujung Pandang pada khususnya.

Masalah lingkungan yang dihadapi negara berkembang, banyak ditimbulkan oleh kemiskinan yang memaksa rakyat merusak lingkungan alam. Hutan dibabat untuk memperoleh kayu bakar, demikian pula tanah, dan pohon merupakan sumber energi utama untuk kelangsungan hidupnya. Dilain pihak kotoran dan sampah manusia kurang terurus sehingga kesehatan lingkungan rendah karena air bersih yang tersedia di tempat pemukiman di desa dan kota belum cukup (Emil Salim, 1991: 12-15).

Chiras (1985: 549) menyatakan, bahwa akar dari kerusakan lingkungan yang terjadi pada saat ini lebih banyak disebabkan oleh manusia yang bermental frontier. Mentalitas frontier ini sudah dimiliki oleh manusia selama berpulu ribu tahun dan sampai sekarang masih mendasari usaha manusia dalam mengejar kesejahteraan hidupnya.

  Ø  Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan yang pada umumnya disingkat menjadi pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumberdaya ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan atau pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi keperluan hidup manusia masa kini dengan tidak mengabaikan kepentingan manusia pada generasi akan datang.

Konsep tersebut memberikan pengertian bahwa pemanfaatan sumberdaya alam harus didasari atas kebijakasanaan memelihara keselarasan, keserasian, keseimbangan, dan kelestarian lingkungan, sehingga dapat dinikmati oleh penghuninya dari generasi ke generasi berikutnya.

Semangat untuk mengembangkan Kehidupan Berkelanjutan (Sustainable Living) pada saat planet bumi yang hanya satu yang layak dihuni manusia ini sedang mengalami proses pencemaran dan perusakan, yang terdeteksi sudah mencapai skala meng-global, memang bukan pekerjaan gampang. Diperlukan semangat juang dan bahkan juga kerelaan berkorban seperti saat bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah pada zaman revolusi tahun 1945-an.

Pada zaman revolusi merebut hak untuk merdeka bagi bangsa Indonesia yang sudah terjajah lebih dari 250 tahun itu, semangat juang begitu berkobar, sehingga korban jiwa dari para pahlawan direlakan, apa lagi harta-benda. Bahkan seluruh kota Bandung menjadi Lutan Api, dari pada diserahkan kepada para penjajah. Semua para pejuang Kemerdekaan itu berjuang dan berkorban demi sebuah visi (cara pandang ke masa datang) bahwa kemerdekaan itu harus dimiliki Bangsa Indonesia demi kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya. Untuk itulah mereka rela berkorban betapa pun berat misi perjuangan mereka demi suatu visi yang mulia.

Semangat macam itu sekarang diperlukan lagi. Keberlanjutan Kehidupan dan Keberlanjutan Pembangunan memerlukan kreativitas Bangsa Indonesia yang sudah merdeka itu. Masalah yang dihadapi adalah “terperangkapnya” kita dalam sistem Pembangunan Ekonomi yang memboroskan Sumberdaya alam dan mencemarkan serta merusak Lingkungan sedemikian rupa, sehingga daya dukung LH-nya pun terancam. Makin dini, kita meraih kemampuan mengubah Pembangunan (ekonomi) menjadi berkelanjutan, maka besar harapan keberhasilan mencapai visi yang diidam-idamkan. Sebaliknya, makin lengah, makin sulit kelak bangsa Indonesia mencapai kemakmuran dan kesejahteraan seperti yang diidam-idamkan oleh para pejuang Kemerdekaan Indonesia terdahulu. Perjuangan mereka bisa menjadi sia-sia.

Unuk mewujudkan hal tersebut diperlukan suatu pendekatan guna mencari solusi yang tepat. Sebagai mana kita bahwa bahwa di era reformasi sekarang ini pendekatan hukum dengan mengandalkan kekuatan aturan tidaklah efektif untuk dijadikan sebagai satu-satunya modal dalam memecahkan masalah pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut dapat dimaklumi, sebab disatu sisi masyarakat melanggar aturan (merusak lingkungan) jika tidak terkontrol oleh aparat hukum yang berwewenang, sementara disisi lain petugas dapat mengatur damai di tempat jika menemukan masyarakat yang melanggar aturan. Oleh karena itu pendekatan pendidikan juga merupakan alternatif yang paling jitu dalam merubah perilaku masyarakat secara menyeluruh untuk berperilaku ramah terhadap lingkungan.

Pendidikan lingkungan merupakan salah satu sarana dalam rangka membentuk warga negara yang berwawasan lingkungan. hal ini disebabkan oleh berbagai fakta yang menunjukkan bahwa akar penyebab krisis lingkungan adalah manusia, sementara untuk mengubah segala aspek psikologis manusia tiada jalan lain kecuali melalui pendidikan.

Pendekatan pendidikan merupakan jalur strategis yang memberikan harapan untuk menunjang upaya pemecahan masalah lingkungan jangka panjang. Program pendidikan selalu berkembang dan maju dengan berbagai inovasi, agar sesuai dengan aspirasi masyarakat. Dunia pendidikan berfungsi sebagai wadah untuk memperkenalkan dan membina norma-norma baru yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan perkembangan kebudayaan nasional dan pada akhirnya kesadaran dan perilaku yang berwawasan lingkungan dari masyarakat dapat terwujud. Dengan demikian pendekatan pendidikan diperlukan sebagai salah satu alternatif terbaik guna menjawab tantangan masalah lingkungan yang berkembang pada saat ini dan yang akan datang

Pendidikan lingkungan hidup mesti disempurnakan sedemikian rupa sehingga mampu menjadi ajang pendidikan bagi upaya menuju kehidupan berkelanjutan di Bumi. Dan masyarakat tidak hanya mampu menjadi warga negara pengembang dan pengamal IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam, melainkan juga mampu menerima dan menjalankan etika dan moralitas insan Pembangunan Berkelanjutan sebagai bagian dari amal-solehnya. Amal bagi anak keturunannya di masa datang dan taqwa pada Maha penciptanya yang memberkahinya. Oleh karena itu kita perlu memiliki kometmen yang antara lain:

1.      Bahwa kita memang menyadari dan peduli serta merasa terpanggil untuk turut menyumbangkan diri pada upaya mengurangi kemosotan SDA dan pencemaran dan perusakan LH, serta mempersempit kesenjangan dan ketidak-merataan sosial-ekonomi dan sosial budaya dalam kehidupan manusia baik pada tingkat global, nasional maupun lokal.

2.      Bahwa krisis hubungan timbal balik antara Kependudukan dan SDA/LH pada dasarnya adalah krisis sosial politik dan sistem ekonomi yang dikembangkan manusia. Oleh sebab itu, masalah LH/SDA pada tingkat global, nasional serta lokal itu muncul, namun pada akhirnya manusia juga yang menderita. PBBL memberikan visi, misi dan arah yang lebih menjanjikan harapan.

3.      Bahwa keberhasilan PBBL memerlukan pendidikan tentang tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan di Bumi. Memang ruang lingkup pendidikannya bukan hanya meliputi pendidikan formal saja, melainkan memerlukan juga pendidikan non-formal dan informal pada masyarakat secara luas.

  Ø  Kebijakan Pembangunan dan Lingkungan Hidup

Pada umumnya pembangunan nasional di banyak negara berkembang selalu ditekankan pada pembangunan ekonomi. Alasan yang selalu dikemukakan karena sektor inilah yang dirasakan paling terbelakang dan dengan pembangunan dibidang ekonomi maka bidang-bidang kehidupan lain masyarakat diharapkan ikut terdorong ke arah yang lebih baik. Dari banyak kasus dan contoh diperlihatkan bahwa perhatian terhadap pembangunan dibidang ekonomi saja, tidak memberikan jaminan proses pembangunan dapat berjalan stabil dan kontinu.

Pada awalnya pembangunan hanya terpusat pada mobilisasi modal sebagai faktor strategis. Dengan kondisi ini diharapkan peningkatan pendapatan akan berjalan seiring dengan perluasan pasar. Model pembangunan seperti ini melahirkan teori “Model Pembangunan Berimbang” (balanced development). Model Pembangunan berimbang mengusahakan keseimbangan antara berbagai segi kegiatan masyarakat baik sidektor pertanian, pertambangan, industri, sektor jasa dan sebagainya.

Secara konsepsioanal model pembangunan ini cukup rasional dan dapat mengangkat masyarakat miskin, keadaan ekonomi yang lebih baik. Namun dalam jangka waktu tertentu disadari bahwa model pembangunan berimbang, masih dirasakan kurang menyentuh bagi terpenuhinya kebutuhan pokok bagi masyarakat. Padahal tujuan pembangunan ada dasarnya adalah memenuhi kebutuhan pokok (basic need) seperti pangan, sandang, papan, pendidikan dan fasilitas kesehatan. Karena pengalaman yang demikian, kemudian lahir model pembangunan kedua yang menitik beratkan prioritas pada pemenuhan kebutuhan pokok.

Dari model ini hasil pembangunan diharapkan akan dinikmati keseluruhan masyarakat luas secara proporsional. Ternyata model ini juga tidak mampu membawa perubahan struktur ekonomi masyarakat secara berarti. Dengan demikian hasil yang dicapai meleset dari tujuan pembangunan yang diharapkan. Hal tersebut ditandai dengan makin melebar ketimpangan pendapatan masyarakat dan semakin melebar perbedaan strata ekonomi di masyarakat. Dikemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak menyelesaikan masalah pembangunan negara-negara berkembang, dengan harapan bahwa masalah-masalah lain akan terselesaikan dengan sendirinya melalui laju pertumbuhan ekonomi telah menimbulkan berbagai permasalahan baru yang lebih rumit, adanya kesenjangan ekonomi dan sosial dalam masyarakat. Keadaan ini tentunya sangat tidak menguntugkan dan dapat mengoyahkan pembangunan itu sendiri. Berangkat dari pengalaman demikian, maka model pembangunan untuk selanjutnya bergeser ke “Model Pembangunan Pemerataan”. Dengan model ini pembangunan diharapkan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat secara merata.

Perkembangan pembangunan (ditambah dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup besar dan pola hidup yang boros akan jumlah dan jenis produk pada sebagian kelompok masyarakat) sangat banyak membutuhkan dan mengkonsumsi sumber daya alam. Meskipun sumber daya alam terdapat dalam jumlah yang melimpah, namun sumber daya alam tersebut mudah rusak dan memiliki kesetimbangan yang kritis. Ada ambang batas-batas yang tidak boleh dilampau untuk menjaga integritasnya, sehingga untuk menjamin kelangsungan pembangunan saat ini dan untuk masa yang akan datang diperlukan suatu perubahan perilaku pembangunan. Bertolak dari pandangan di atas lahirlah “Model Pembangunan Berkelanjutan” (sustainable deveploment) yang merupakan tahapan selanjutnya dari model pembangunan pemerataan, dimana orang tidak lagi membicarakan tentang kecukupan kebutuhan pokok atau pemerataan, tetapi lebih jauh mulai membicarakan tentang kualitas hidup yang dihasilkan dari proses pembangunan. Kualitas hidup tersebut mencakup kualitas lingkungan hidup dan kualitas diri manusia itu sendiri.

  Ø  Universitas Negeri Semarang sebagai Kampus Konservasi

Berdasarkan pemaparan diatas kami mengambil salah satu contoh universitas konservasi, yaitu universitas negeri semarang, universitas tercinta kita.

7 Pilar Konservasi UNNES

Badan Pengembang Konservasi UNNES merupakan salah satu Badan yang ada di UNNES, dan mempunyai tugas untuk mengembangkan nilai-nilai konservasi di lingkungan UNNES dan sekitarnya.

konservasi

Gambar 1. Unnes Konservasi

Badan Pengembang Konservasi UNNES mempunya 8 pilar konservasi yang terdiri dari :

1. Arsitektur Hijau dan Transportasi Internal

Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi, dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Dalam divisi ini akan dikembangkan guidline penyertaan struktur ramah lingkungan pada penggunaan gedung saat ini dengan fungsi baru, pengembangan jalur sepeda dan jalan kaki, penggunaan transportasi ramah lingkungan, pembuatan shelter sepeda, pembuatan contoh sumur resapan, dan pembuatan model bangunan hemat energi

Hal ini bertujuan membentuk budaya ramah lingkungan pada lingkungan kampus. Pada tahap awal sejak deklarasi UNNES sebagai universitas konservasi pengembangan jalur sepeda dan jalan kaki telah dilaksanakan.

2. Biodiversitas

Secara geografis, Unnes terletak di daerah pegunungan dengan topografi yang beragam dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) baik flora maupun fauna yang relatif tinggi.

Untuk meneguhkan diri menjadi sebuah universitas konservasi, telah dikembangkan “Taman Keanekaragaman Hayati” yang meliputi program penghijauan, pemilahan sampah organik dan anorganik, dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Inventarisasi awal fauna khususnya burung dan kupu-kupu di kampus pusat Unnes pada tahun 2005, 2008, dan awal 2009, berhasil mengidentifikasi sebanyak 58 jenis burung.

Dari jumlah tersebut, 14 diantaranya dilindungi peraturan dan perundangan Indonesia; 2 jenis termasuk dalam kategori spesies yang dilindungi CITES (Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix II, I dan termasuk kelompok spesies yang dilindungi IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan kategori Endangered Species: EN, dan lima jenis termasuk kategori spesies endemik Jawa.

Selain itu ditemukan sebanyak 33 jenis kupu-kupu dan salah satunya merupakan jenis yang dilindungi menurut sistem perundangan Indonesia.

3. Energi Bersih

Program ini merupakan upaya pemanfaatan sumber energi terbarukan dan penggunaan teknologi energi yang efisien dengan budaya hemat energi.

Energy surya (solar energy) merupakan sumber energy terbarukan yang paling sederhana, sehingga dengan penerapan panel surya di beberapa titik utama, kampus akan mengurangi konsumsi listrik dari PT.PLN.

Selain itu dikembangkan pula biofuel. Proses composting dari bio-massa merupakan salah satu alternatif untuk memperoleh biofuel dan dipadukan pada sistem pengolahan limbah organik.

Tenaga angin adalah sumber energy yang dapat dimanfaatkan di Unnes dengan membuat kincir angin di area terbuka kampus dan bersinergi dengan panel surya.

Selain itu sosialisasi terhadap civitas akademika UNNES dan lingkungan sekitar kampus juga dilaksanakan guna mendukung pelaksanaan kebijakan green energy

4. Seni Budaya

Bersamaan dengan upaya konservasi secara ekologis, penguatan pada aspek sikap dan perilaku segenap warga universitas serta lingkungan disekitarnya yang mencerminkan nilai konservasi menjadi program konservasi di budang budaya.

Implementasinya lewat sosialisasi dan pembudayaansikap hidup ramah lingkungan, semangat menanam sekaligus merawatnya, mengutamakan nir kertas, efisien energi sekaligur pengembangan energi ramah lingkungan yang semua bermuara pada perlindungan dan penguatan.

Sejalan dengan itu, kegiatan yang telah berlangsung akan diteruskan, difasilitasi, dan dioptimalkan. Antara lain sarasehan ‘selasa legen (rebo legen)’, sanggar tari, sanggar pedalangan, sanggar panatacara, dan pembangunan kampung budaya

Kampung budaya, secara fisik, merupakan sebuah perkampungan yang mencerminkan prinsip multikultural. Diperkampungan inilah berbagai aspek dan wujud kebudayaan dieksplorasi, diapresiasi dan dikembangkan.

Diperkampungan ini akan dibangun rumah berbagai etnis lengkap dengan uba rampe dan aktifitas yang mencerminkan entitas tiap-tiap etnis (kultur/subkultur).

5. Kaderisasi Konservasi

Program ini merupakan upaya peningkatan kader konservasi baik di lingkungan UNNES maupun masyarakat sekitar UNNES.

Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah penjaringan kader, pelatihan kader melalui pendidikan konservasi, sosialisasi, dan memperluas kerjasamadengan pihak terkait dengan kegiatan konservasi dan lingkungan hidup.

Bersamaan dengan upaya konservasi secara ekologis, penguatan pada aspek sikap dan perilaku segenap warga universitas serta lingkungan disekitarnya yang mencerminkan nilai konservasi menjadi program konservasi di budang budaya.

Implementasinya lewat sosialisasi dan pembudayaansikap hidup ramah lingkungan, semangat menanam sekaligus merawatnya, mengutamakan nir kertas, efisien energi sekaligur pengembangan energi ramah lingkungan yang semua bermuara pada perlindungan dan penguatan

Sejalan dengan itu, kegiatan yang telah berlangsung akan diteruskan, difasilitasi, dan dioptimalkan. Antara lain sarasehan ‘selasa legen (rebo legen)’, sanggar tari, sanggar pedalangan, sanggar panatacara, dan pembangunan kampung budaya

Kampung budaya, secara fisik, merupakan sebuah perkampungan yang mencerminkan prinsip multikultural. Diperkampungan inilah berbagai aspek dan wujud kebudayaan dieksplorasi, diapresiasi dan dikembangkan.

Diperkampungan ini akan dibangun rumah berbagai etnis lengkap dengan uba rampe dan aktifitas yang mencerminkan entitas tiap-tiap etnis (kultur/subkultur).

6. Kebijakan Nir Kertas

Pemanfaatan Teknologi Informasi di lingkungan Unnes diharapkan mampu membuka peluang mengurangi secara signifikan penggunaan kertas dalam surat menyurat dan dokumentasi melalui Paperless Policy.

Implementasi kebijakan ini berlaku dalam pengelolaan administrasi akademik berbasis teknologi informasi, pengelolaan administrasi dokumen perkantoran berbasis teknologi informasi dan rancangan e-Administrasi.

Dengan kata lain kebijakan nir kertas merupakan program meminimalisasi penggunaan kertas dengan memanfaatkan teknologi informasi yang dimiliki UNNES, antara lain dengan melakukan pengembangan sistem aplikasi berbasis web, pengembangan penerbitan online, peningkatan sarana pendukung, dan pengembangan organisai.

Melalui kebijakan Paperless Policy diharapkan konsumsi kertas akan semakin ditekan tanpa mengurangi efektifitas kerja dan merupakan salah satu upaya dalam pencegahan pemanasan global dan mengembalikan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia.

7. Pengolahan Limbah

Program ini melputi daur ulang kertas, plastik, logam/kaleng, pengolahan limbah laboratorium, dan pengolahan bunga/daun kering. Sejak tahun 2009 telah dilakukan pemisahan tempat sampah antara sampah organik dan sampah anorganik di setiap gedung Unnes.

Program kelanjutan dari pemisahan sampah ini adalah adanya pengelolaan yang berkelanjutan sesuai dengan jenis sampah tersebut, sampah organik dikelola menjadi pupuk kompos, sedangkan untuk sampah anorganik dilakukan pemilahan untuk dilakukan daur ulang atau dikirim ke TPA.

Selain untuk menjaga kelestarian lingkungan diperlukan pula pengelolaan lingkungan meliputi pengelolaan sampah, daur ulang sampah organik menjadi kompos dan perencanaan Unit Pengelolaan Limbah Laboratorium Kimia dan Biologi.

Dalam pengolahan kompos ini warga sekitar lingkungan kampus juga dilibatkan agar terciptanya lapangan pekerjaan bagi warga sekitar guna mendukung budaya konservasi. Pengembangan pengolahan kompos ini dilakukan bertahap seiring peningkatan produksi pupuk kompos yang diproduksi.

Daftar Pustaka:

https://konservasi.unnes.ac.id/

https://docs.google.com/file/d/0B68owKEuWwKqbEZRUkM1RkwtekE/edit?usp=sharing

Source : https://handiavolo.blogspot.com/2013/07/kontribusi-kampus-konservasi-terhadap.html