Universitas Negeri Semarang (UNNES) adalah salah satu kampus yang menggunakan prinsip konservasi. Semua kegiatan yang dijalankan di UNNES selalu berlandaskan konservasi, karena di tingkat perguruan tinggi ini merupakan tempat untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran tentang nilai-nilai lingkungan yang kemudian akan menggerakan mahasiswanya untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan demi kepentingan generasi masa sekarang dan juga generasi yang akan datang.
Di masa sekarang banyak perubahan lingkungan yang terjadi kian memburuk, buktinya telah terjadi berbagai macam bencana yang disebabkan kurangnya kesadaran dari masyarakat tentang dampak yang akan terjadi. Dengan berbasis konservasi, setidaknya mahasiswa UNNES akan turut serta dalam menjaga, melestarikan, dan menyelamatkan lingkungan.
UNNES mempunyai karakter arsitektur yang lebih sedikit mengonsumsi sumber daya alam, termasuk air, energy, dan material sehingga dampak yang di timbulkan menjadi terminimalkan. Perancangan bangunan yang menggunakan prinsip pelestarian lingkungan, tetapi tetap memperhatikan komponen lingkungan.
Kampus hijau ini juga menerapkan pendidikan konservasi dalam pengajarannya yang bertujuan untuk membangun spirit para mahasiswa tentang pentingnya lingkungan untuk pembangunan masa sekarang dan masa depan. Pendidikan konservasi juga bertujuan agar para mahasiswa mengetahui konsep dasar lingkungan sebagai bekal untuk memahami prinsip konservasi.
Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai kampus hijau telah memberikan contoh pengembangan kampus yang ramah lingkungan. Dengan konsep tersebut, maka diharapkan sarana dan prasarana yang tersedia sudah sesuai dengan prinsip ramah lingkungan.
Tata kelola UNNES yang berbasis konservasi mengacu pada 7 pilar, yaitu keanekaragaman hayati atau biodeversitas, arsitektur hijau dan system transportasi internal, pengelolaan limbah, kebijakan nirketas, energy bersih, konservasi etika, seni, dan budaya, dan yang terakhir ialah kaderisasi konservasi.