TUGAS AKHIR PERKULIAHAN PRAKTEK LABORATORIUM

BLOG 1

1bf9043c464c4d57d4bd1bcb870bd244-bpfull

Nama Pemilik : Hesti Rofika

Alamat Blog     : https://blog.unnes.ac.id/hestirofikasari/

Kelebihan/ Keunggulan : Blog dari mbk hesti ini rapih dan mudah di nikmati, cara penyajiannya tidak ribet dan tidak berantakan, tema yang dipilih oleh mbk hestipun pas.

Kekurangan/Kelemahan : Kekurangannya mungkin pada kategori, saya melihat mbk hesti ini ada beberapa kategori yang sama.

Saran / Masukan : Saya akan lebih suka lagi jika dibeberapa postingan/ tulisan dari mbk hesti ini ditambah gambar yang berkaitan dengan materi supaya pembaca tidak bosan dan lebih lucu gitu hehe juga kategorinya dirapikan begitu ya mbk hestiiiiiiiiiiiiii semangat semoga masukannya bermanfaat.

BLOG 2

10850202_728494700569518_7127339525189708408_n

Nama Pemilik : Bagus Mustofa

Alamat Blog     : https://blog.unnes.ac.id/mustofa/

Kelebihan/Keunggulan : Kelebihan dari blog bagus adalah dia memilih tema sangat laki-laki sekali, dan postingannya lucu ada gambar disetiap materi, saya suka.

Kekurangan/Kelemahan : kekurangannya adalah mungkin ukuran font kecil sekali ya dan saya melihat ada kategori yang double pada daftar menunnya

Saran/Masukan : Saran dari saya untuk mas bagus adalah bagaimana kalau ukuran fontnya dibesarkan saya kurang jelas dan bagaimana kalau dirapihkan pada kategorinya, hehehe makasih .mas bagus semoga bermanfaat saran dari saya semangat yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Lanjutkan membaca TUGAS AKHIR PERKULIAHAN PRAKTEK LABORATORIUM

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 1 : KETIMPANGAN SOSIAL SEBAGAI DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL DITENGAH GLOBALISASI

1. Konsep Ketimpangan Sosial

Ketimpangan sosial sering diartikan sebagai keadaan tidak seimbang atau adanya jarak ditengah-tengah masyarakat yang disebabkan oleh perbedaan status sosial, ekonomi, atau budaya. Pengertian ketimpangan sosial dari beberapa tokoh adalah sebagai berikut:

Menurut Andrinof A. Chaniago: Ketimpangan adalah buah dari pembangunan  yang hanya berfokus pada aspek ekonomi dan melupakan aspek sosial.

Menurut Budi Winarno: Ketimpangan merupakan akibat dari kegagalan   pembangunan di era globalisasi untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis warga masyarakat.

Menurut Jonathan Haughton & Shahidur R. Khandker: Ketimpangan sosial adalah bentuk-bentuk ketidak-adilan yang terjadi dalam proses pembangunan.

Roichatul Aswidah : Ketimpangan sosial sering dipandang sebagai dampak residual dari proses pertumbuhan ekonomi.

Ketimpangan sosial bisa disebabkan oleh adanya dua faktor dari luar (internal) dan dari dalam (eksternal). Kedua faktor itu telah menjadi penghambat sehingga menghalangi seseorang untuk memanfaatkan akses atau peluang-peluang yang tersedia. Berikut penjelasan singkat dari dua faktor penghambat tersebut:

  1. Faktor Internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti rendahnya kualitas sumber daya manusia yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan atau kesehatan. Pendidikan yang baik akan menghasilkan output yang baik pula, berupa sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan berkualitas.

  1. Faktor Eksternal

Merupakan faktor yang berasal dari luar seseorang. Ini terjadi karena birokrasi atau peraturan-peraturan resmi (kebijakan) yang dapat memperkecil akses seseorang untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Dengan kata lain, ketimpangan diakibatkan oleh hambatan-hambatan atau tekanan struktural. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab munculnya kemiskinan struktural. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 1 : KETIMPANGAN SOSIAL SEBAGAI DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL DITENGAH GLOBALISASI

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 2 : KEARIFAN LOKAN DAN PEMBERDAYAAN KOMUNITAS

https://pbs.twimg.com/profile_images/2927842976/9d4f270e598be694f6190a55cfa91f31.jpeg

A. Konsep Pemberdayaan Komunitas

  1. Pengertian Pemberdayaan Komunitas

Pemberdayaan sebagai proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan, memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatanpenekan di segala bidang dan sektor kehidupan (Sutoro Eko, 2002). Konsep pemberdayaan(masyarakat desa) dapat dipahami juga dengan dua cara pandang. Pertama, pemberdayaandimaknai dalam konteks menempatkan posisi berdiri masyarakat. Posisi masyarakat bukanlah obyek penerima manfaat (beneficiaries) yang tergantung pada pemberian daripihak luar seperti pemerintah, melainkan dalam posisi sebagai subyek (agen ataupartisipan yang bertindak) yang berbuat secara mandiri. Berbuat secara mandiri bukanberarti lepas dari tanggungjawab negara. Pemberian layanan publik (kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi dan seterusnya) kepada masyarakat tentu merupakantugas (kewajiban) negara secara given. Masyarakat yang mandiri sebagai partisipan berartiterbukanya ruang dan kapasitas mengembangkan potensi-kreasi, mengontrol lingkungandan sumberdayanya sendiri, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan ikut menentukanproses politik di ranah negara. Masyarakat ikut berpartisipasi dalam proses pembangunandan pemerintahan (Sutoro Eko, 2002).

Tujuan pemberdayaan komunitas adalah memampukan dan memandirikan masyarakat terutama dari kemiskinan dan keterbelakangan/kesenjangan/ketidakberdayaan.Kemiskinan dapat dilihat dari indikator pemenuhan kebutuhan dasar yang belummencukupi/layak. Kebutuhan dasar itu, mencakup pangan, pakaian, papan, kesehatan,pendidikan, dan transportasi. Sedangkan keterbelakangan, misalnya produktivitas yangrendah, sumberdaya manusia yang lemah, terbatasnya akses pada tanah padahalketergantungan pada sektor pertanian masih sangat kuat, melemahnya pasar-pasarlokal/tradisional karena dipergunakan untuk memasok kebutuhan perdaganganinternasional. Dengan perkataan lain masalah keterbelakangan menyangkut struktural(kebijakan) dan kultural (Sunyoto Usman, 2004).

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 2 : KEARIFAN LOKAN DAN PEMBERDAYAAN KOMUNITAS

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 3 : PERUBAHAN SOSIAL DAN DAMPAKNYA

A. HAKIKAT PERUBAHAN SOSIAL

Pengertian Perubahan Sosial

Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi di masyarakat meliputi perubahan norma-norma sosial, pola-pola sosial, interaksi sosial, pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan masyarakat, serta susunan kekuasaan dan wewenang.Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, bahkan perubahan dalam bentuk serta aturan organisasi sosial. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 3 : PERUBAHAN SOSIAL DAN DAMPAKNYA

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 4 : GLOBALISASI DAN PERUBAHAN KOMUNITAS LOKAL

A. MODERNISASI

1.Pengertian Modernisasi

Kata modernisasi dengan kata dasar modern berasal dari bahasa latin modernus yang dibentuk dari kata modo dan ernus. Modo berarti cara dan ernus menunjuk pada adanya periode waktu masa kini. Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat modern. Menurut Koentjaraningrat mendefinisikan modernisasi sebagai usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan keadaan dunia sekarang. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang biasanya terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan (social planning).

2. Ciri Manusia Modern

Menurut Alex Inkeles, terdapat 9 ciri manusia modern

  1. Memiliki sikap hidup untuk menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan
  2. Memiliki keberanian untuk menyatakan pendapat atau opini mengenai lingkungannya sendiri atau kejadian yang terjadi jauh di luar lingkungannya, serta dapat bersikap demokratis
  3. Menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu
  4. Memiliki perencanaan dan pengorganisasian
  5. Percaya diri
  6. Perhitungan
  7. Menghargai harkat hidup manusia lain
  8. Percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi
  9. Menjungjung tinggi sikap dimana imbalan yang diterima seseorang harus sesuai dengan prestasinya dalam masyarakat.

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XII BAB 4 : GLOBALISASI DAN PERUBAHAN KOMUNITAS LOKAL

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 4: METODE PENELITIAN SOSIAL

Pengertian
Kata penelitian adalah terjemahan dari kata dalam Bahasa Inggris re-search, yang berasal dari suku kata re (kembali) dan to search (mencari). Jadi, research berarti mencari kembali suatu pengetahuan. Dari pendapat para ahli tentang definisi penelitian dapat kiranya kita simpulkan bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan terorganisasi, atau penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta untuk menentukan sesuatu. Suatu penelitian yang menggunakan metode ilmiah dinamakan penelitian ilmiah. Suatu penelitian ilmiah selalu menggunakan dua unsur penting, yaitu observasi (pengamatan) dan penalaran.

Sikap dan cara berpikir seorang peneliti

Berikut sikap yang harus dikembangkan seorang peneliti:

  1. Objektif, dapat memisahkan antara pendapat pribadi (subjektif) dengan fakta yang ada (objektif)
  2. Kompeten, memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan penelitian
  3. Faktual, bekerja berdasarkan fakta yang diperoleh

Cara berpikir yang diharapkan dari seorang peneliti :

  1. Skeptik, harus selalu mempertanyakan bukti atau fakta (tidak mudah percaya)
  2. Analtis, selalu menganalisis setiap penyataan ataupun persoalan yang dihadapi
  3. Kritis

Jenis-jenis Penelitian

  1. Penelitian Dasar (pure research/basic research): Ilmu untuk ilmu, penelitian yang dilakukan dalam rangka mengembangkan suatu ilmu pengetahuan.
  2. Penelitian Terapan (Applied Research): dalam memberikan solusi pemecahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Metode Ilmiah

Metode ilmiah adalah suatu cara pengejaran atau usaha memperoleh kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.

Kriteria metode ilmiah:

  1. Berdasarkan fakta
  2. Bebas dari prasangka
  3. Menggunakan prinsip analisis
  4. Menggunakan hipotesis (dugaan/ kesimpulan sementara)
  5. Menggunakan ukuran objektif
  6. Menggunakan teknik kuantifikasi

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 4: METODE PENELITIAN SOSIAL

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 3: RAGAM GEJALA SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan industrialisasi, sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu sosiologi. Sudah barang tentu dinamika sosial serta akibat-akibat yang ditimbulkan, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif, akan selalu menarik perhatian bagi kalangan sosiolog. Beberapa persoalan seperti munculnya kelas-kelas sosial, berkembangnya kriminalitas, berkembangnya urbanisasi, berkembangnya kemiskinan, dan lain sebagainya mendapat perhatian secara serius oleh para sosiolog melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian yang dilaksanakan secara terus menerus seperti itulah yang mendorong berkembangnya ilmu sosiologi.

Pengertian

Gejala sosial dapat diartikan suatu peristiwa yang terjadi dalam lingkungan masyarakat yang biasanya dalam kajian sosiologi disebut fenomena sosial. (Gejala Sosial = Fenomena Sosial). “Keseragaman semua anggota masyarakat tentang kesadaran moral tidak dimungkinkan. Tiap individu berbeda satu sama lain karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keturunan, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial”.

Faktor-Faktor Penyebab Gejala Sosial

  1. Kultural => Adanya pertumbuhan dan perkembangan suatu nilai di masyarakat/komunitas.
  2. Struktural =>Suatu keadaan yang mempengaruhi suatu pola tertentu. Hubungan yang terjalin antara individu terhadap kelompok di lingkungan masyarakat.

Dampak Gejala Sosial di Masyarakat

  1. Dampak positif adalah Gejala yang hadir dapat disikapi secara bersikap terbuka maka perubahan tersebut akan berdampak positif dan memberikan manfaat.
  2. Dampak negatif adalah Tidak mampunya seseorang untuk menerima perubahan akan membuat seseorang mengalami perbuatan kearah yang menyimpang.

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 3: RAGAM GEJALA SOSIAL DALAM MASYARAKAT

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 2: INDIVIDU , KELOMPOK DAN HUBUNGAN SOSIAL

Pengertian Individu

Individu dalam hal ini merupakan konsep sosiologik yang berarti bahwa konsep individu tidak boleh diartikan sama dengan konsep sosial, individu menunjuk pada subjek yang melakukan sesuatu, yang mempunyai pikiran, kehendak, kebebasan, memberi arti (meaning) pada sesuatu, maupun menilai tindakan dan hasil tindakannya sendiri (aktor). Dunia yang berada diluar individu, dunia eksternal. Contoh sistem interaksi adalah kebiasaan.

Aristoteles menyatakan bahwa manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk yang selalu hidup bermasyarakat. Sedangkan ibnu khaldun menyatakan bahwa manusia itu harus hidup dimayarakat. Individu berasal dari kata in-dividere, artinya tidak dapat dibagi – bagikan. Jiwa manusia itu materiil merupakan suatu kesatuan jiwa raga yang berkegiatan sebagai keseluruhan. Jika manusia dibelah menjadi dua: yaitu belahan fisik (konkret), dan belahan non fisik (abstrak).

Individu Sebagai Makhluk Sosial

Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri hubungan dengan sesama manusia lain dalam menjalani hidup. Fredman (dalam Udin S. Winataputra, 2008) menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak dilahirkan dengan kecakapan untuk “immediate adaptatian to environment” atau kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Naluri manusia berhubungan dengan sesama dilandasi dengan alasan – alasan sebagai berikut:

  1. Keinginan manusia untuk menjadi satu dengan yang lain.
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan alam disekelilingnya.

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 2: INDIVIDU , KELOMPOK DAN HUBUNGAN SOSIAL

MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 1: FUNGSI SOSIOLOGI DALAM MENGENALI GEJALA SOSIAL DI MASYARAKAT

Lahirnya Sosiologi

Sosiologi lahir pada abad ke-19. Peristiwa besar yang mengisi lahirnya sosiologi yaitu revolusi politik (Revolusi Prancis) dan revolusi ekonomi (Revolusi Industri). Menurut Aguste Conte perubahan-perubahan tersebut berdampak negatif, yatiu terjadinya konflik antar kelas dalam masyarakat. Comte melihat, setelah pecahnya revolusi Prancis masyarakat prancis dilanda konflik antar kelas. Konflik-konflik tersebut terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat di pakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat.

Maka Comte menganjurkan supaya semua penelitian mengenai masyarakat ditingkatkan sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Tetapi Auguste Comte belum dapat mengembangkan hukum-hukum sosial itu sebagai suatu ilmu tersendiri. Comte hanya memberi istilah untuk ilmu tersebut dengan sebutan sosiologi. Istilah sosiologi muncul pertama kali pada tahun 1839 pada keterangan sebuah paragraf dalam pelajaran ke-47 Cours de la Philosophie (Kuliah Filsafat) karya Auguste Comte. Tujuan utama comte mencetuskan sosiologi adalah membangun ilmu tentang masyarakat yang dapat menjelaskan perkembangan umat manusia di masa lalu dan memperkirakan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Ia berpendapat bahwa ilmu alam telah berhasil menciptakan hukum mengenai gejala-gejala alam. Oleh karenanya Comte dikenal sebagai bapak sosiologi.

Menurut para ahli, syarat ilmu pengetahuan adalah:

  1. Kumpulan pengetahuan (knowledge).
  2. Tersusun secara sistematis.
  3. Menggunakan pemikiran (logis dan rasional).
  4. Terbuka terhadap kritik (objektif).

Sumber ilmu pengetahuan adalah philosophia (filsafat), sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka filsafat disebut dengan mater scientarium. Dari filsafat itu lahir tiga cabang ilmu pengetahuan, yaitu:

  1. Natural sciences(ilmu-ilmu alamiah), seperti: fisika, kimia, biologi, botani, astronomi, dan sebagainya.
  2. Social sciences(ilmu-ilmu sosial), seperti: sosiologi, ekonomi, politik, sejarah, antropologi, psikologi sosial, dan sebagainya.
  3. Humanities(ilmu-ilmu budaya), seperti: bahasa, agama, kesusastraan, kesenian, dan sebagainya

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X BAB 1: FUNGSI SOSIOLOGI DALAM MENGENALI GEJALA SOSIAL DI MASYARAKAT

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 1: KONSEP DASAR, PERAN FUNGSI, DAN KETERAMPILAN ANTROPOLOGI DALAM MENGKAJI KESAMAAN DAN KEBERAGAMAN BUDAYA, AGAMA, RELIGI/KEPERCAYAAN, TRADISI, DAN BAHASA

  1. KONSEP DASAR

A. Pengertian Antropologi

      Anthropology berarti “ilmu tentang manusia”, dan adalah suatu istilah yang sangat tua. Dahulu istilah itu digunakan dalam arti yang lain, yaitu “ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia” (malahan pernah juga dalam arti “ilmu anatomi”).

      Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 1: KONSEP DASAR, PERAN FUNGSI, DAN KETERAMPILAN ANTROPOLOGI DALAM MENGKAJI KESAMAAN DAN KEBERAGAMAN BUDAYA, AGAMA, RELIGI/KEPERCAYAAN, TRADISI, DAN BAHASA

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 2: BUDAYA, PERWUJUDAN, UNSUR, ISI ATAU SUBSTANSI BUDAYA, DAN NILAI BUDAYA

A. Budaya

   “Budaya” adalah “daya dan budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Budaya menurut para ahli adalah sebagai berikut:

  1. Soelaiman Soemardi & Selo Soemardjanmenerangkan bahwa suatu kebudayaan merupakan buah atau hasil karya cipta & rasa masyarakat. Suatu kebudayaan memang mempunyai hubungan yang amat erat dengan perkembangan yang ada di masyarakat.
  2. Effat al-Syarqawimendefinisikan budaya berdasarkan dari sudut pandang Agama Islam, Ia menjelaskan bahwa budaya adalah khazanah sejarah sekelompok masyarakat yang tercermin didalam kesaksian & berbagai nilai yang menggariskan bahwa suatu kehidupan harus mempunyai makna dan tujuan rohaniah.
  3. Parsudi Suparian, mengatakan budaya akan melandasi segala perilaku dalam masyarakat, karena budaya merupakan pengetahuan manusia yang seluruhnya digunakan untuk mengerti dan memahami lingkungan & pengalaman yang terjadi kepadanya.
  4. Koentjaraningrat mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan milik diri manusia dengan belajar.

   Secara umum, dapat saya simpulkan bahwa budaya adalah segala sesuatu yang melekat pada diri manusia yang diperolehnya sejak lahir kemudian diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Contohnya budaya makan menggunakan tangan kanan dan budaya bersalaman dengan orang tua sebelum berangkat ke sekolah. Sejak anak masih balita diajarkan makan menggunakan tangan kanan sehingga sampai dewasapun anak makan menggunakan tangan kanan. Dari kecil anak diajarkan untuk sopan santun kepada orang tua salah satunya melalui bersalaman dengan orang tua sebelum berangkat ke sekolah. Sampai dewasapun anak jika akan keluar rumah berpamitan dengan orang tua. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 2: BUDAYA, PERWUJUDAN, UNSUR, ISI ATAU SUBSTANSI BUDAYA, DAN NILAI BUDAYA

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 3: INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA DALAM PEMBENTUKKAN KEPRIBADIAN DAN KARAKTER

A. Definisi Internalisasi

     Secara etimologis, dalam kaidah bahasa Indonesia kata yang berakhiran-isasi mempunyai definisi sebuah proses. Sehingga internalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses. Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya.

   Proses internalisasi merupakan proses yang kita dapat sejak kita lahir, dengan memperoleh aturan-aturan melalui sebuah komunikasi, seperti sebuah sosialisasi dan pendidikan. Dalam proses internalisasi pola-pola budaya ditanamkan kedalam sistem syaraf individu yang kemudian di bentuk menjadi sebuah kepribadian. Proses internalisasi, adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat dari individu, yaitu dimulai dari dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadiannya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian saat bayi dilahirkan adalah rasa puas dan tak puas, yang menyebabkan ia menangis. Manusia memiliki bakat yang telah terkandung dalam gen untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat , nafsu dan emosi dalam kepribadian individunya. Tetapi wujud dan pengaktifannya sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulasi yang berada dalam alam sekitar, lingkungan sosial maupun budayanya. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 3: INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA DALAM PEMBENTUKKAN KEPRIBADIAN DAN KARAKTER

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 4: PERILAKU MENYIMPANG DAN SUB KEBUDAYAAN MENYIMPANG

. Perilaku Menyimpang

anak kecil perokokFenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan. Sisi yang menarik bukan saja karena pemberitaan tentang berbagai perilaku manusia yang ganjil itu dapat mendongkrak media massa dan ratting dari suatu mata acara di stasiun televisi, tetapi juga karena tindakan-tindakan menyimpang dianggap dapat mengganggu ketertiban masyarakat.

 Perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku.

  Menurut MZ. Lawang, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dari sistem sosial dan mneimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang.

    Menurut Paul B. Horton Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

  Antropologi juga mempelajari perilaku menyimpang karena orang-orang yang berperilaku menyimpang cenderung mengabaikan nilai-nilai budaya kelompok atau masyarakatnya. Melalui nilai-nilai budaya maka akan diketahui karakteristik, tata aturan, dan kaidah-kaidah yang ada dalam kehidupan suatu masyarakat. Dengan demikian akan diketahui pula berbagai perilaku spesifik dari masing-masing kelompok dan berbagai perbedaan berperilaku di antara anggota-anggota masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk memahami “penyimpangan” perilaku yang dilakukan oleh etnis atau kultur tertentu. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 4: PERILAKU MENYIMPANG DAN SUB KEBUDAYAAN MENYIMPANG

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 5: BUDAYA LOKAL, BUDAYA NASIONAL, BUDAYA ASING, HUBUNGAN ANTAR BUDAYA DI ERA GLOBALISASI

Budaya Lokal

Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. berikut penjelasannya:

  • Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
  • Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
  • Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
  • Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme

Dilihat dari stuktur dan tingkatannya budaya lokal berada pada tingat culture. Hal ini berdasarkan sebuah skema sosial budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi.

Dalam penjelasannya, kebudayaan suku bangsa adalah sama dengan budaya lokal atau budaya daerah. Sedangkan kebudayaan umum lokal adalah tergantung pada aspek ruang, biasanya ini bisa dianalisis pada ruang perkotaan dimana hadir berbagai budaya lokal atau daerah yang dibawa oleh setiap pendatang, namun ada budaya dominan yang berkembang yaitu misalnya budaya lokal yang ada dikota atau tempat tersebut. Sedangkan kebudayaan nasional adalah akumulasi dari budaya-budaya daerah.

Definisi Jakobus itu seirama dengan pandangan Koentjaraningrat (2000). Koentjaraningrat memandang budaya lokal terkait dengan istilah suku bangsa, dimana menurutnya, suku bangsa sendiri adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ’kesatuan kebudayaan’. Dalam hal ini unsur bahasa adalah ciri khasnya.

Menurut Judistira (2008:141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional.

Dalam pengertian yang luas, Judistira (2008:113)  mengatakan bahwa kebudayaan daerah bukan hanya terungkap dari bentuk dan pernyataan rasa keindahan melalui kesenian belaka; tetapi termasuk segala bentuk, dan cara-cara berperilaku, bertindak, serta pola pikiran yang berada jauh dibelakang apa yang tampak tersebut. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS X BAB 5: BUDAYA LOKAL, BUDAYA NASIONAL, BUDAYA ASING, HUBUNGAN ANTAR BUDAYA DI ERA GLOBALISASI

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XI BAB 1: KETERKAITAN ANTARA KEBERAGAMAN BUDAYA, BAHASA DIALEK, TRADISI DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT DALAM SUATU DAERAH

Keadaan geografis Indonesia menyebabkan budaya asing bebas masuk ke Indonesia. Hampir semua budaya setiap etnis mulai Asia sampai Eropa ada di Indonesia. Budaya yang masuk itu memperkaya dan memengaruhi perkembangan budaya lokal yang ada secara turun-temurun. 

Keragaman Budaya

Keragaman budaya atau “cultural diversity” di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada didaerah tersebut. Menurut Ilmu Antropologi, “Kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.”(Koentjaraningrat, 2009:144). Linton (1936) dan A.L. Kroeber (1948) melalui Hari Poerwanto mengatakan bahwa melihat kebudayaan melalui pemikiran historical particularism, budaya, dan personalitas. Dalam bukunya The Study of Man (1936), Linton mengatakan bahwa di dalam kehidupan ada dua hal penting, yakni:
1) Inti Kebudayaan (Cover Culture)
Inti kebudayaan terdiri atas:
a) Sistem nilai-nilai budaya.
b) Keyakinan-keyakinan keagamaan yang dianggap keramat.
c) Adat yang dipelajari sejak dini dalam proses sosialisasi individu warga masyarakat.
d) Adat yang memiliki fungsi yang terjaring luas dalam masyarakat.
2) Perwujudan Lahir Kebudayaan (Overt Culture)
Perwujudan lahir kebudayaan adalah bentuk fisik suatu kebudayaan, misalnya alat-alat dan benda-benda yang berguna. Covert Culture adalah bagian kebudayaan yang sulit diganti dengan kebudayaan asing atau lambat mengalami perubahaan.

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XI BAB 1: KETERKAITAN ANTARA KEBERAGAMAN BUDAYA, BAHASA DIALEK, TRADISI DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT DALAM SUATU DAERAH

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XI BAB 4: PERUBAHAN BUDAYA DAN MELEMAHNYA NILAI-NILAI TRADISIONAL

  1. PERUBAHAN BUDAYA

perubahan budayaMasyarakat setiap saat pasti mengalami perubahan baik perubahan ke arah yang lebih baik ataupun perubahan ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya. Pengertian kebudayaan dari segi praksis dan wacana seperti ini membawa implikasi cukup berarti bagi pemahaman suatu gejala sosial budaya yang dewasa ini sering kita juluki proses “globalisasi.” Dengan memahami kebudayaan sebagai praksis dan wacana, maka kebudayaan tampak sebagai, seperti apa yang dikatakan oleh Umar Kayam, “sebuah proses, sosoknya bersifat sementara, cair, dan tanpa batas-batas yang jelas.”4 Dalam arti ini, perbedaan antara kebudayaan “modern” dan “tradisional,” “asing” dan “pribumi,” “barat” dan “timur,” “asli” dan “campuran” hanyalah merupakan perbedaan-perbedaan yang semu dan sementara.

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XI BAB 4: PERUBAHAN BUDAYA DAN MELEMAHNYA NILAI-NILAI TRADISIONAL

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XI BAB 5: METODE ETNOGRAFI DAN MANFAATNYA DALAM MENCARI SOLUSI BERBAGAI PERMASALAHAN SOSIAL-BUDAYA

 

  1. Pengertian Etnografi

ETNOGRAFI      Istilah etnografi berasal dari kata ethnos yang berarti bangsa dan graphy yang berarti tulisan. Jadi, pengertian etnografi adalah deskripsi tentang bangsa-bangsa. Beberapa pendapat ahli antropologi mengenai pengertian etnografi sebagai berikut.

1. Menurut pendapat Spradley dalam Yad Mulyadi (1999), etnografi adalah kegiatan menguraikan dan menjelaskan suatu kebudayaan.

2. Menurut pendapat Spindler dalam Yad Mulyadi (1999), etnografi adalah kegiatan antropologi di lapangan.

3. Menurut pendapat Koentjaraningrat (1985), isi karangan etnografi adalah suatu deskripsi mengenai kebudayaan suatu suku bangsa.

 

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XI BAB 5: METODE ETNOGRAFI DAN MANFAATNYA DALAM MENCARI SOLUSI BERBAGAI PERMASALAHAN SOSIAL-BUDAYA

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 1: KESETARAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

  1. Kesetaraan Sosial

keberagaman-kesetaraan-sosial Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya majemuk terdiri dari berbagai kebudayaan, agama, ras, bahasa, dan sebagainya.

Meskipun Indonesia masyarakatnya majemuk tetapi terdapat kesetaraan dalam masyarakat. Kesetaraan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain. Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki tingkat atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan tersebut bersumber dari adanya pandangan bahwa semua manusia diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain. Kesetaraan sosial adalah tata politik sosial di mana semua orang yang berada dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Kesetaraan mencangkup hak yang sama di bawah hukum, merasakan keamanan, memperoleh hak suara, memiliki kebebasan dalam berbicara, dan hak lainnya yang sifatnya personal.

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 1: KESETARAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 2: PROSES GLOBALISASI DAN STRATEGI MEMPERTAHANKAN DAN MEMPERKUAT NILAI-NILAI BUDAYA INDONESIA

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 2: PROSES GLOBALISASI DAN STRATEGI MEMPERTAHANKAN DAN MEMPERKUAT NILAI-NILAI BUDAYA INDONESIA

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 3: RELATIVITAS, KETAHANAN, INOVASI, DAN ASIMILASI BUDAYA

  1. RELATIVITAS BUDAYA

sekaten  Relativitas budaya merupakan suatu standar perilaku yang berhubungan dengan kebudayaan dimana standar itu berlaku. Relativisme menganggap bahwa semua kebudayaan itu baik, tergantung konteks yang menganggapnya. Contohnya menurut masyarakat A kebudayaan B itu baik, tetapi menurut masyarakat C kebudayaan B itu buruk. Jadi, kebudayaan dianggap baik dan buruk tergantung perspektif setiap masyarakat karena kebudayaan merupakan ciri khas dari setiap daerah masing-masing. Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 3: RELATIVITAS, KETAHANAN, INOVASI, DAN ASIMILASI BUDAYA

MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 4: KARYA ILMIAH DAN METODE PENELITIAN ANTROPOLOGI

  1. Karya llmiah

Contoh Karya Ilmiah Bahasa Indonesia Karya ilmiah merupakan karangan ilmu pengetahuan yang dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karangan yang ilmiah dan karangan non-ilmiah. Penggolongan tersebut berdasarkan fakta dan cara yang disajikan dalam karangan.

  Fakta umum merupakan fakta yang disajikan dalam karangan ilmiah yang dianggap sesuai prosedur dan dapat dibuktikan kebenarannya, berbeda fakta-fakta pribadi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya oleh semua orang. Selain fakta, di dalam karya ilmiah juga memiliki bahasa ragam ilmiah. Raham ilmiah adalah ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Ragam inilahh yang disebut sebagai ragam baku dimana ragam ini ditandai dengan adanya ketentuan yang diukur dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Lanjutkan membaca MATERI PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI KELAS XII BAB 4: KARYA ILMIAH DAN METODE PENELITIAN ANTROPOLOGI

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : INTEGRASI SOSIAL DAN REINTEGRASI SOSIAL SEBAGAI UPAYA PEMECAHAN MASALAH KONFLIK DAN KEKERASAN

kaum-300x236

Pengertian Integrasi Sosial

Integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan kedudukan sosial, ras, etnik, agama, bahasa, kebiasaan, sistem nilai, dan norma.

Menurut William F. Ogburn dan Mayer Nimkof, syarat terwujudnya integrasi sosial adalah sebagaiberikut:

1. Anggota-anggota masyarakat merasa berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan di antara mereka
2. Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (konsensus) bersama mengenai norma dan nilai-nilai sosial yang dilestarikan dan dijadikan pedoman dalam hal-hal yang dilarang menurut kebudayaan
3. Norma-norma dan nilai sosial itu berlaku cukup lama, tidak mudah berubah, dan dijadikan secara konsisten oleh seluruh anggota masyarakat Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : INTEGRASI SOSIAL DAN REINTEGRASI SOSIAL SEBAGAI UPAYA PEMECAHAN MASALAH KONFLIK DAN KEKERASAN

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS XI : KONFLIK, KEKERASAN, DAN PENYELESAIANNYA

tawuran-1024x7352

Dewasa ini masyarakat indonesia mengalami banyak konflik yang  tidak bisa kita hindari. Didalam masyarakat yang multikultural, berbagai permasalahan yang dialami baik sosial, ekonomi, maupun yang lainnya diakibatkan oleh berbagai individu yang berbeda, ras, kebudayaan sehingga tak jarang konflik tersebut menimbulkan perbedaan, penekanan sosial dan kekerasan. Adapun didalam konflik dapat menciptakan sesuatu yang negatif dan positif.

  • Pengaruh Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial

Secara umum, diferensiasi dan stratifikasi sosial memberikan pengaruh positif dan negative pada masyarakat. Pengaruh positifnya, diferensiasi dan stratifikasi sosial dapat mendorong terjadinya integrase sosial, sedangkan pengaruh negatifnya adalah terjadinya disintegrasi sosial. Diferensiasi sosial dapat menimbulkan primordialisme, etnosentrisme, politik aliran, dan terjadinya proses konsolidasi. Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS XI : KONFLIK, KEKERASAN, DAN PENYELESAIANNYA

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : PERBEDAAN, KESETARAAN, HARMONI SOSIAL

1538796_491771077648761_2162015728450792514_n

“Perbedaan budaya tidak boleh memisahkan kita dari yang lain. Keragaman budaya justru harus membawa sebuah kekuatan kolektif yang dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia”. (Robert Alan)
Perbedaan dan keberagaman bukanlah sumber pemecah belah. Prinsip kesetaraan dan harmoni sosial menumbuhkan toleransi di dalam masyarakat.

Di dalam masyarakat, memang ada perbedaan atau ketidaksamaan sosial. Ketidaksamaan sosial terdiri dari ketidaksamaan sosial horizontal dan ketidaksamaan sosial vertikal. Ketidaksamaan sosial horizontal adalah perbedaan antarindividu atau kelompok yang tidak menunjukan adanya tingkatan lebih tinggi atau lebih rendah (disebut juga, differensiasi sosial). Sementara itu, ketidaksamaan sosial vertikal adalah perbedaan antar individu atau kelompok yang menunjukan adanya tingkatan lebih rendah atau lebih tinggi (disebut juga, stratifikasi sosial). Dalam interaksi sosial antarindividu yang berbeda tersebut, prinsip kesetaraan perlu diterapkan. Dengan prinsip ini, harmoni sosial dapat tercipta. Harmoni sosial merupakan kondisi dimana individu hidup sejalan dan serasi dan setiap anggota masyarakat dapat menjalani secara baik sesuai kodrat dan posisi sosialnya.

Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : PERBEDAAN, KESETARAAN, HARMONI SOSIAL

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : BERBAGAI MASALAH SOSIAL DI MASYARAKAT

NEED

A. Pengertian Masalah Sosial

Permasalahan sosial merupakan sebuah gejala atau fenomena yang muncul dalam realitas kehidupan bermasyarakat. Dalam mengidentifikasi permasalahan sosial yang ada di masyarakat berbeda-beda antara tokoh satu dengan lainnya. Berikut beberapa definisi masalah sosial yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu: Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : BERBAGAI MASALAH SOSIAL DI MASYARAKAT

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

12347749_10205132105288936_6458917620017310785_n

Proses Pembentukan Kelompok Sosial

Latar belakang terjadinya kelompok sosial didasari oleh :

  1. Naluri gregariousnes yaitu naluri manusia untuk hidup dan berinteraksi bersama
  2. Adanya unsur kesamaan (kepentingan, darah dan keturunan, daerah asal, bahasa dan kebudayaan)
  3. Adanya unsur kedekatan (tempat tinggal dan geografis)
  4. Adanya motivasi  atau dorongan (dorongan saling membutuhkan, dorongan untuk menjaga kelangsungan keturunan, dorongan faktor keamanan, dorongan untuk memperoleh efektifitas kerja)

Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – XI : PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS- X : Metode Penelitian Sosial

Penelitian Sosial

Penelitian sosial adalah istilah yang digunakan terhadap penyelidikan-penyeldikan yang dirancang untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau praktik-praktik sosial. Istilah sosial ini menunujuk pada hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga, institusi (sekolah, komunitas, organisasi, dan sebagainya), dan lingkungan yang lebih besar.

Jadi, walaupun penelitian merupakan sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi atas masalah-masalah sosial dan kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam literatur tentang bagaimana penelitian harus didefinisikan. Hussey menyatakan bahwa penelitian menyediakan suatu peluang untuk mengenali dan memilih satu masalah penelitian dan menyelidikinya secara bebas.

Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS- X : Metode Penelitian Sosial

MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – X : Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat

8

Hal yang dipelajari dalam sosiologi adalah pola-pola hubungan dalam masyarakat. Pola-pola hubungan tersebut dapat menciptakan kestabilan atau keadaan normal, namun dapat pula menimbulkan keadaan yang tidak normal, seperti penyimpangan dan masalah sosial lainnya. Gejala-gejala tersebut dikenal sebagai realitas sosial masyarakat. Lanjutkan membaca MATERI SOSIOLOGI SMA KELAS – X : Ragam Gejala Sosial dalam Masyarakat

SILABUS MATA PELAJARAN : ANTROPOLOGI SMA KELAS – XII

KI    1:   Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Lanjutkan membaca SILABUS MATA PELAJARAN : ANTROPOLOGI SMA KELAS – XII

SILABUS MATA PELAJARAN : ANTROPOLOGI SMA KELAS – XI

KI   1:    Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Lanjutkan membaca SILABUS MATA PELAJARAN : ANTROPOLOGI SMA KELAS – XI

SILABUS MATA PELAJARAN : ANTROPOLOGI SMA KELAS – X

KI     1:  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Lanjutkan membaca SILABUS MATA PELAJARAN : ANTROPOLOGI SMA KELAS – X

SILABUS MATA PELAJARAN : SOSIOLOGI SMA KELAS – XII

KI    1:   Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Lanjutkan membaca SILABUS MATA PELAJARAN : SOSIOLOGI SMA KELAS – XII

SILABUS MATA PELAJARAN: SOSIOLOGI SMA KELAS – XI

KI  1:     Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

Lanjutkan membaca SILABUS MATA PELAJARAN: SOSIOLOGI SMA KELAS – XI

SILABUS MATA PELAJARAN: SOSIOLOGI SMA KELAS – X

KI   1:    Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Lanjutkan membaca SILABUS MATA PELAJARAN: SOSIOLOGI SMA KELAS – X