Bagaimana Aku Bisa Menghentikan Mimpimu, Nak?

            Aku ingin menjadi dokter. Aku ingin menjadi dokter. Aku ingin menjadi dokter.

Setiap detik, setiap saat, setiap hari selalu saja itu yang berdengung di otakku. Hanya memikirkan tentang memakai jas putih yang pas di tubuhku membuatku selalu ingin berlonjak dan semangat belajar semakin menggebu-gebu. Alasannya sederhana saja kenapa aku ingin menjadi seorang dokter. Semua orang membutuhkan dokter dan semua orang juga menghormati dokter. Bagiku jabatan seorang dokter adalah jabatan paling prestius dan keren. Dokter seperti seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk menyembuhkan pasien. Dan aku ingin menjadi malaikat itu.

Aku orangnya memang sedikit ambisius. Setiap kali menginginkan sesuatu, aku selalu berusaha untuk mewujudkannya. Termasuk cita-citaku itu. Aku berharap sekali bisa diterima menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu Universitas favorit yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggalku. Menurutku, masalah jauh atau tidaknya itu tak masalah, yang terpenting cita-citaku untuk mendapat gelar prestisius itu terwujud.

Begitu selesai kelulusan SMA, aku segera mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang kudambakan. Sebelumnya aku belajar mati-matian agar bisa lolos seleksi itu. Saat ujian aku bisa mengerjakan soalnya dengan baik meski ada beberapa yang kupikir sangat sulit. Tapi aku optimis bahwa aku bisa masuk.

Dan ternyata, sebulan setelah mengikuti tes itu, pengumumannya menyatakan bahwa aku memang berhak bergabung menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas itu. Kalian bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Senang? Ahh, lebih dari senang. Euforia. Lebih dari euforia malah. Mungkin ini lebay, tapi aku berkata serius. Sama seperti yang kalian rasakan saat salah satu keinginan kalian tercapai.

Segera setelahnya aku mengabarkan pada Ayahku bahwa aku diterima menjadi mahasiswa kedokteran. Aku hanya mengabarkan pada Ayah karena hanya Ayah satu-satunya orang tua yang kupunya. Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur sepuluh tahun dan Ayahku tak pernah menikah lagi setelahnya. Saat aku mengabarkan berita bahagia itu, Ayahku tersenyum dan mengelus-elus rambutku. Dia berkata bahwa dia sangat bangga padaku.

Ayahku adalah orang yang kusayangi di dunia ini. Aku hanya tinggal bersama beliau selama ini, karena aku tak punya adik atau kakak. Beliau membesarkanku dengan baik dan tak pernah berkata ‘tidak’ padaku. Saat aku mengatakan pada Ayah bahwa aku sangat ingin menjadi seorang dokter, Ayahku adalah orang pertama yang mendukungku. Dan beliau berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku. Melegakan sekali rasanya mempunyai Ayah seperti Ayahku yang murah senyum dan baik hati.

Meski rasanya berat meninggalkan Ayah di rumah sendirian. Apalagi jarak antara Universitas dengan tempat tinggalku sangat jauh, yaitu harus naik kapal atau pesawat untuk menyeberang pulau dan itu butuh waktu yang lama untuk sampai. Namun karena aku harus berjuang demi cita-citaku, aku harus tangguh dan belajar mandiri.

Ayah mengantarku di pelabuhan saat aku hendak berangkat. Beliau mengatakan bahwa apapun kesusahan yang aku alami di sana aku harus menghubungi beliau, termasuk dalam hal keuangan. Ayahku memang bukan pekerja PNS, beliau hanya seorang petani di daerah kami yang terpencil, namun aku tahu bahwa Ayah bisa menepati janjinya untuk membuatku menjadi sarjana kedokteran.

Ayah melambaikan tangannya saat kapal yang aku naiki berangkat. Beliau tersenyum dan lewat sebuah gerakan isyarat, beliau menyuruhku untuk berhenti menangis. Itu adalah kali terakhirnya aku melihat senyum beliau.

Universitas tempatku menimba ilmu sangatlah elite. Biaya hidup di sana sangat mahal. Aku yang awalnya berpikir bahwa hari-hari yang kujalani bakalan mudah ternyata tak semudah yang kukira. Biaya makan menjadi dua kali bahkan tiga kali lipat dari biaya makanku di desa. Juga biaya kuliahnya sangat mahal. Aku menjadi sering meminta Ayah. Seperti yang aku bilang, meski beban biayaku sangat besar, Ayah selalu mengusahakan biaya itu untukku. Beliau tak pernah mengatakan tidak pada setiap kebutuhanku dan dalam sekejap langsung mengirimkan uang yang kubutuhkan ke ATM-ku. Hidupku menjadi berkecukupan dan aku bisa dengan fokus mengikuti kuliahnya tanpa harus memikirkan biaya hidup atau apalah itu.

Namun hanya satu yang membuatku sedih, yaitu letak daerahku yang sangat jauh sehingga aku tidak bisa pulang untuk menemui Ayah. Meski begitu aku tetap bertekad dalam hati bahwa aku akan segera menyelesaikan kuliahku dan aku akan pulang setelah menjadi sarjana. Saat aku pulang nanti, aku bisa memamerkan gelarku pada teman-temanku dan pastinya Ayah akan bangga padaku. Semua orang pasti akan mengirikanku. Itulah yang selalu aku pikirkan.

Hingga akhirnya setelah empat tahun kuliah, aku diwisuda dan menjadi sarjana kedokteran dengan IPK cumlaude. Ber-IPK cumlaude membuatku semakin tak sabar untuk memberitahukannya pada Ayah dan terutama memamerkannya pada teman-temanku yang dulu pernah menertawai cita-citaku. Aku akan memamerkan pada mereka bahwa selama bersungguh-sungguh semua orang bisa mencapai cita-citanya. Salah satunya aku.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Saat aku kembali ke kampung halamanku dengan mengenakan jas putih yang kubanggakan, aku dihadapkan pada kondisi kebingungan. Pasalnya, rumah yang dulu aku tempati kini ditempati orang lain yang sama sekali tak kukenal. Aku bertanya pada mereka tentang keberadaan Ayahku, namun mereka sama sekali tak tahu.

Akhirnya aku menelepon Ayahku sembari berpikir bahwa Ayahku pasti pindah rumah karena lingkungan di sini menjadi tak nyaman. Tapi kenapa Ayah tak memberitahuku? Saat menelepon Ayahku, aku mendengar suara perempuan yang mengangkat telepon. Dan, di sana terdengar sangat berisik. Perempuan itu bertanya tentang siapa aku dan aku menjawab bahwa aku anaknya Ayah.

“Ya Allah…” Perempuan itu bersyukur yang terdengar memang benar-benar bersyukur. Lalu perempuan itu memberitahuku tentang alamat dimana Ayahku berada. Segera aku pergi ke alamat itu. Aku sudah tak sabar untuk menemui Ayah dan memeluk beliau.

Namun yang terjadi kembali di luar dugaan, saat aku sampai di alamat yang dimaksud yang kulihat bukanlah yang aku perkirakan. Di hadapanku berdiri sebuah rumah yang tak bisa dibilang rumah. Rumah itu seperti sebuah gubuk yang sudah reyot yang bahkan atap-atap sudah tak lagi utuh sehingga kalau hujan bakal kehujanan dan kalau panas bakal kepanasan. Dindingnya terbuat dari bambu yang bagian bawahnya sudah terkikis oleh air sehingga tikus sebesar apapun bisa memasukinya. Tiang yang menyangga rumah itu bahkan terlihat miring dan dimakan rayap. Jika saja kau mendorongnya sedikit saja tentu tiang itu akan ambruk yang berarti kerobohan rumah itu.

Di tiang miring itulah tergantung sebuah bendera yang terbuat dari kertas minyak berwarna kuning. Aku tahu apa maksudnya. Dan itulah satu kenyataan yang menghantamku dengan keras. Membuatku tersungkur di tanah hingga menyebabkan jas putih yang kupakai menjadi sangat kotor terkena debu.

Ah, apalah arti dari jas ini.

Kenyataannya, Ayahku adalah orang yang telah mengorbankan hidup dan hartanya hanya demi keegoisanku untuk menjadi seorang dokter.

***

Ayah kita seringkali keberatan, tapi tak pernah ditampakkan.

Ayah sering kali merasa sakit, tapi tak pernah dirasakan.

Ayah sering merasa lelah, tapi dibiarkan.

Ayah adalah orang yang tak mungkin bisa menentang keinginan kita.

Ayah adalah malaikat, lebih dari malaikat apapun di dunia ini.

 

SELAMAT HARI AYAH

−Rabu, 12 November 2015−

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.

Published by

Ita Rahmawati

Nama : Ita Rahmawati Prodi : Fisika S1 Jurusan : Fisika Angkatan : 2014 Tempat/tanggal lahir : Pati, 25 Oktober 1995 Alamat : Ds. Panggung Royom Rt.07 Rw. II Kec. Wedarijaksa Kab. Pati E-mail : [email protected] Fb : Ita Rahmawati Twitter : @rahma2513

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: