Keinginan seringkali bertolak belakang dengan kenyaatan. Mengapa demikian ? jawabannnya adalah jika usaha dilakukan dengan tidak maksimal maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Usaha yang dilakukan sebagian orang untuk mewujudkan konservasi yang nyata, seringkali tidak didukung dengan perilaku orang sekitarnya. Hal ini terbukti dengan fenomena-fenomena yang ada disekeliling kita, seperti masalah sampah yang kian hari makin menumpuk. Walau sudah beribu-ribu kali digalangkan instruksi untuk membuang sampah pada tempatnya, namun itu hanya menjadi slogan sampah yang tidak berguna dimata masyarakat. Selain itu, masalah eksploitasi flora dan fauna yang berlebihan. Hal itu mengakibatkan ketidakstabilan rantai makanan, sehingga sampai saat ini makin banyak fauna yang dinyatakan langka bahkan punah dan parahnya generasi muda tidak mengenal flora dan fauna yang dinyatakan punah.
Solusi ?
Selain banyak yang merusak, tentu banyak pula yang ingin merawat. Oleh karena itu sekarang banyak peraturan yang mengatur tentang konservasi lingkungan. Didunia pendidikan contohnya, banyak sekolah dan universitas yang mengembangkan konservasi walau belum maksimal, tapi itu telah menjadi bukti nyata yang dapat kita lihat. Langakh dasar untuk upaya konservasi yang nyata baik dilingkungan pendidikan maupun masyarakat luas yakni menerapkan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Etika lingkungan mempunyai minimal ada sembilan prinsip, pertama adalah sikap hormat terhadap alam. Alam mempunyai hak untuk dihormati, bukan hanya karena manusia tergantung pada alam tetapi manusia dan alam adalah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Kedua, prinsip tanggung jawab. Prinsip ini menuntut orang agar terpanggil untuk senantiasa bertanggungjawab memelihara alam semesta ini sebagai milik bersama. Ketiga, solidaritas kosmis, yakni prinsip yang mendorong manusia untuk menyelamatkan semua kehidupan alam. Keempat, prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam yang merupakan prinsip moral satu arah, artinya tanpa mengharapkan suatu balasan. Kelima, prinsip tidak merugikan yakni prinsip tidak merugikan alam secara tidak perlu. Keenam, prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam yang menekankan pada nilai, kualitas, cara hidup, dan bukan kekayaan, sarana, standar material. Ketujuh, prinsip keadilan yang menekankan pada perilaku yang mempertimbangkan efek bagi lingkungan selain terhadap manusia. Kedelapan, prinsip demokrasi yang sangat terkait dengan hakikat alam. Kesembilan, prinsip integritas moral yang terutam bagi pejabat publik agar bersikap dan berperilaku yang terhormat serta memegang teguh prinsip moral yang mengamankan kepentingan publik.
Sembilan prinsip etika lingkungan dapat menjadikan filter atau pedoman manusia dalam berperilaku. Tanpa adanya prinsip, manusia tidak mempunyai arahan yang benar tentang perilaku mereka. Terwujudnya perilaku arif dan peduli akan sesama dan lingkungan menjadi poin penting dalam upaya mewujudkan konservasi yang nyata.
“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”