Perilaku Sosial dan Ekonomi Masyarakat Suku Bangsa Tengger Desa Ngadas

Abstrak

Tingkat sosial ekonomi masyarakat Desa Ngadas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo Jawa Timur sangat beragam dan kompleks. Kondisi mata pencaharian mayoritas di bidang pertanian dan lainnya sektor pariwisata sebagai pendukung mata pencaharian utama. Masyarakat Desa Ngadas mayoritas terspesifikasi pada satu bidang yaitu prtanian. Penelitian ini, membahas hal-hal yang terkait dengan perilaku sosial ekonomi pada masyarakat Desa Ngadas, dan juga memiliki tujuan untuk mengetahui aktivitas dan perilaku sosial ekonomi masyarakat Desa Ngadas. Perilaku sosial masyarakat berawal dari adanya proses sosial atau interaksi sosial yang merupakan cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila para individu dan kelompok-kelompok saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada. Atau dengan kata lain, proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Pola perilaku sosial dan ekonomi pada masyarakat Desa Ngadas sangat menjunjung tinggi kekeluargaan dan menanamkan nilai-nilai kebersamaan. Sikap gotong royong melingkupi kehidupan masyarakat Desa Ngadas pada setiap aspek kehidupannya. Selain pada penyelenggaraan ritual-ritual, pembangunan balai desa hingga rumah warga juga dilakukan secara gotong royong. Selain itu, setiap warga yang keluar dari desa untuk belajar di luar daerah, selalu diminta kembali. Dengan demikian, warga yang telah memperoleh ilmu dapat diterapkan di desanya untuk membangun desa secara keseluruhan.

Kata kunci : Desa Ngadas, Perilaku Ekonomi, Perilaku Sosial

Profil suku bangsa Tengger di Desa Ngadas

Desa Ngadas terletak di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Desa Ngadas merupakan desa yang dihuni oleh masyarakat Suku Tengger. Desa ini merupakan daerah tertinggi di Jawa Timur, atau bahkan di pulau Jawa. Desa Ngadas adalah salah satu desa di kaki Gunung Bromo yang memberikan pemandangan yang menakjubkan. Ini dibuktikkan dengan adanya area perladangan yang berada di lereng-lereng perbukitan. Sepanjang desa bisa dilihat banyak ditanami macam sayur-sayuran seperti kentang, kubis, brambang atau bawang dll. Desa Ngadas ini juga mempunyai udara yang segar, dikarenakan desa ini terletak pada ketinggian 1700 m dari permukaan laut.

Jumlah penduduk desa Ngadas ini yaitu 682 orang, dengan rincian laki-laki berjumlah 335 orang dan perempuan berjumlah 347 orang. Tengger ini mempunyai ciri khas adat istiadat dan agama yang berbeda dari masyarakat sekitarnya  Masyarakat Tengger yang sangat kuat memegang keyakinan adat istiadat ini mampu bertahan dari pengaruh luar. Mayoritas masyarakat Tengger beragama Hindu hampir 99% dari jumlah masyarakatnya. Sedangkan 1% dari masyarakat beragama Islam sekitar 5 orang..

Ritual keagamaan yang sering dilakukan oleh masyarakat suku Tengger yaitu  seperti upacara Kasada, menurut penanggalan Jawa upacara ini diadakan setiap tanggal 14 atau 15 di bulan kasada (kesepuluh). Upacara tersebut diadakan di pura, tepatnya di bawah kaki Gunung Bromo. Mereka membawa sesaji hasil pertanian sebagai tanda syukur atas nikmat yang diberikan oleh Sang Hyang Widi. Dukun adat Desa Ngadas memberikan penjelasan seputar ritual-ritual adat yang dilakukan desa tersebut dengan sangat masyhur, warisan yang turun-temurun dan dijaga kuat. Petikan wawancaranya adalah sebagai berikut :

Di dalam adat suku bangsa Tengger (khususnya desa Ngadas) ada yang namanya wujang wolu, suatu selamatan untuk membersihkan desa, memohon berkat dari Sang hyang widhi. Ada juga yang namanya ntas-ntas, yaitu mensucikan arwah para leluhur yang telah meninggal. Kemudian, hajatan mantenan, selametan, sunatan, semuanya dilakukan oleh dukun pandita. Dalam hindu, ada yang namanya mutihidup didunia ini tidak selalu manis, kadang dalam menjalani kehidupan ada juga pahitnya”.

Adapun Hari Raya Besar yang dilaksanakan suku Tengger seperti Hari Raya Galungan yang diadakan selama 6 bulan sekali. Kemudian Hari Raya Kuningan diadakan 10 hari setelah upacara Galungan yang dilaksanakan di pura lautan pasir. Ada juga Hari Raya Karo diadakan selama 15 hari berturut-turut. Masyarakatnya menyambut dengan suka cita dengan membeli pakaian baru, perabotan rumah tangga, makanan, minuman dengan tujuan mengadakan pemujaan tehadap Sang Hyang Widi. Mereka semua merayakan dengan khidmat dan penuh kegembiraan.

Tingkat sumber daya manusia Desa Ngadas termasuk menengah ke bawah dan kebanyakan pendidikannya hanya tamat SD. Mata pencaharian desa Ngadas ini mayoritas adalah petani. Selain kekayaan budaya yang terdapat didesa ini, hasil buminya pun sangat melimpah seperti kentang, kubis, bawang merah dll. Potensi alam sekitar desa Ngadas ini pun sangat menarik. Interaksi sosial dalam masyarakat desa Ngadas juga sangat baik, ditunjukkan dengan adanya kegiatan gotong royong kekeluargaan dan saling membahu satu sama lain.

Aktivitas bidang pertanian

Sektor pertanian masyarakat suku bangsa Tengger di Desa Ngadas

Mata pencaharian utama adalah bertani (sayuran), mereka mengandalkan sektor lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Mereka tidak hanya bekerja pada satu lahan pertanian, tetapi dapat juga bekerja di lahan milik orang lain. Berikut ini adalah petikan wawancara dengan Pak Dayutna :

Iya mas, warga disini pekerjaannya ya setiap hari di ladang, laki-laki dan perempuan sama-sama ke ladang, ada juga ibu-ibu yang di rumah saja ngurusin rumah tangga, tapi banyak yang di ladang membantu suami. Kalau kami ditanya penghasilan dari pekerjaan sehari-hari kami cukup apa tidak ya dicukup-cukupkan mas, biasanya dari warga yang punya ladang banyak ya diurusi semua, tapi kalau yang hanya punya satu petak ya biasanya bekerja bantu-bantu ladang milik orang lain. Jadi kami memanfaatkan yang ada mas”.

Komoditas utama hasil pertanian masyarakat desa Ngadas diantaranya adalah kentang, kubis, bawang merah, jagung, dan sayuran lain. Tanaman kentang biasanya bisa dipanen sampai tiga kali dalam satu tahun, terutama di kawasan yang subur dengan keadaan musim dan cuaca yang bagus. Sementara di dataran yang memiliki potensi air bawah tanah sedikit, juga dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, panen hanya bisa dilakukan dua kali dalam satu tahun. Harga untuk satu kilogram kentang berkisar antara Rp. 5.000,00 sampai Rp. 7.000,00. Sementara tanaman bawang memiliki waktu tanam tiga bulan dengan satu atau dua kali panen, harga satu kilogram bawang Rp. 3.000,00.

Ada juga beberapa warga yang masih mempertahankan budidaya jamurnya, yakni salah satu alternatif yang dijadkan warga setempat sebagai bentuk langkah sigap pasca erupsi Bromo beberapa tahun silam tepatnya tahun 2010. Awalnya mereka berfikir bahwa setelah erupsi, lahan sayur menjadi gersang dan tidak mampu ditumbuhi palawija, tapi kenyataannya masih bisa. Namun, banyak juga yang sudah meninggalkan budidaya jamur karena menurut sebagian warga hal itu sulit dilakukan dan cenderung merugi. Ketika kami bertanya kepada salah seorang warga yang bernama pak Joko mengenai mata pencahariannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengatakan bahwa “dari apa yang kami lakukan selama ini sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mas, meskupun tidak terlalu mewah tetapi kami sudah merasa cukup”.

Bahkan ada yang sudah mampu menguliahkan anaknya. Pak Joko juga mengatakan “cukup si cukup, tapi kalau bisa ya lebih mas, biar sama seperti warga yang lain yang punya Jeep sendiri, punya kuda sendiri, bahkan punya home-stay sendiri, walaupun memang banyak juga paguyuban Jeep, kuda, kelompok tani juga, tapi kami ingin memilikinya secara pribadi, sehingga kami bisa lebih berkecukupan lagi mas”. Kata salah seorang warga Ngadas juga.

Dari situlah tergambar dan juga diantara bentuk rumah warga satu dengan yang lainnya beberapa rumah terlihat ada yang sederhana ada yang sudah kecukupan, mengindikasikan adanya kesenjangan sosial antar warga.

Kendala ekonomi sudah pasti ada, aktifitas prtanianpun juga ada namun mereka mampu meminimalisirnya, terbukti ketika ada hama pnyakit pada tanaman mereka sudah bisa mengatasinya sendiri, dulunya pemerintah desa masih ikut membantu secara maksimal, namun karena warga sudah bisa mandiri, jadi warga melakukannya sendiri-sendiri, dengan hasil yang memuaskan pula, hasil panen mereka bagus banyak yang sampai ke luar kota termasuk wilayah kota Semarang, Surabaya dan kota-kota lainnya. Itulah gambaran kecil dari daerah yang dekat dengan pariwisata, yakni Bromo. Masyarakat mampu memanfaatkannya untuk mencukupi ekonomi mereka meskipun belum secara maksimal.

Hasil pertanian yang mereka peroleh dijual keluar desanya dengan bantuan pengepul yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya untuk membeli hasil pertanian dari Pegunungan Tengger. Namun, tidak semua hasil panen mereka jual, ada sebagian untuk dikonsumsi dan ada yang ditukarkan dengan barang yang mereka butuhkan, dalam hal ini berlaku sistem barter. Pada masyarakat Ngadas terdapat istilah kebonan, kebonan ialah lahan kecil di depan rumah yang ditanami tanaman yang hanya digunakan untuk konsumsi sendiri atau ditukarkan (barter). Tanaman ini seperti, bawang, sawi, daun seledri, dan cabai. Tanaman kebonan ini bisa dipanen sewaktu-waktu apabila pemilik sedang membutuhkan, misalnya saja ibu rumah tangga membutuhkan daun bawang untuk memasak, mereka dapat memetik daun bawang di depan rumahnya. Jadi masyarakat tidak perlu ke ladang hanya untuk mengambil sedikit hasil pertanian mereka untuk dikonsumsi.

Sistem barter yang berlaku pada masyarakat Tengger di desa Ngadas ini telah melalui kesepakatan dan kesesuaian barang yang ingin ditukarkan. Dalam sistem barter, terdapat sistem barter dalam skala kecil dan sistem barter dalam skala besar. Sistem barter dalam skala kecil ini misalnya, satu kilogram bawang ditukar dengan beberapa tahu, sayuran dengan tempe, maupun sayuran dengan daging. Tanaman jagung juga bisa dijadikan alat barter. Sistem barter dalam skala besar misalnya, masyarakat di desa Ngadas memiliki berkarung-karung jagung, tetapi mereka membutuhkan beras. Karena lahan pertanian di desa Ngadas tidak ditanami padi, sehingga jagung tadi ditukar dengan beras. Biasanya sistem barter ini terjadi pada masyarakat Tengger dengan luar desa atau kota.

Masyarakat juga masih saling pinjam meminjam uang. Aktivitas dan perilaku ekonomi masih bersifat kekeluargaan. Pembagian kerja pada aktivitas ekonomi masyarakat kelompok tani.Kelompok tani tidak semua memiliki lahan pertanian. Sehingga banyak yang menjadi buruh kesana kemari jika tidak menggarap ladang sistem borongan atau bareng-bareng, mencari kayu bakar di ladang dan dikmpulkan untuk kebutuhan. Setiap hari mencangkul dari pukul 07.00-15.00 WIB di ladang dengan upah Rp. 25.000,00-Rp.30.000,00. Dalam satu bulan jika di kalkulasikan tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Kelompok tani dibentuk karena latar belakang yang sama sebagai petani kecil dan untuk mempererat kekeluargaan karena sistem kerjanya gotong royong dan bagi hasil yang rata. Pola perilaku dan cara bersikap tidak jauh berbeda satu dengan lainya.

Fenomena dan aktivitas ekonomi yang berkembang di masyarakat, seperti aktivitas produksi, pengolahan, pemasaran dan berbagai lembaga perekonomian yang ada sesungguhnya sudah sejak lama menjadi fokus perhatian sosiologi klasik. Berbeda dengan kelompok utilitarianisme yang memahami individu sebagai makhluk yang cenderung memaksimalkan kepentingan materielnya sendiri secara rasional, Marx, Weber, dan Dukheim justru menegaskan adanya sifat-sifat sosial dari kehidupan ekonomi. Aktivitas ekonomi bukanlah realitas sosial yang soliter dan hanya berkaitan dengan transaksi jual beli barang yang menekankan untung rugi semata, melainkan didalamnya juga bertali-temali dengan aspek-aspek sosial budaya yang kompleks.

Aktifitas bidang jasa

Pada penyewaan jasa jeep hal yang paling utama dibutuhkan adalah jeep itu sendiri. Jeep yang digunakan adalah jeep keluaran tahun 60-an, meskipun usia jeep sudah sangat tua namun tenaga yang dimiliki sangat kuat untuk medan yang terjal seperti di Bromo. Selain jeep itu sendiri, hal penting yang harus ada adalah sopir. Sopir jeep yang ada di desa Ngadas  haruslah orang yang mahir dalam berkendara, dikarenakan kondisi bentang alam Bromo yang cukup sulit dengan kondisi berbatu dan pasir.

Mobil jeep yang beroperasi di Bromo, kebanyakan milik para sopir yang mengantar pengunjung. Banyak dari mereka yang hanya menjadi sopir dan bekerja untuk orang lain. Pengemudi jeep harus tergabung di dalam suatu komunitas. Mobil jeep yang dimiliki adalah milik seorang juragan yang biasanya mampunyai banyak mobil yang dipakai oleh sopir-sopirnya untuk mengantar pengunjung. Jadwal berangkat mobil jeep sudah ditentukan dan ada nomor urutnya, sehingga apabila belum tiba urutannya maka supir itu tidak bisa menggunakan jeep. Kecuali ada orang yang berhalangan hadir barulah sopir yang lain bisa menggantikan. Pendapatan setiap sopir yang bekerja ditentukan dengan cara penghasilan dikurangi biaya bensin, kemudian sisa dari pembelian dibagi dua untuk pemilik mobil dan sopir. Namun berbeda lagi apabila mobil itu milik sendiri, uangnya hanya dipotong untuk membeli bensin, dan sisanya untuk pemilik mobil.

Kondisi masyarakat cukup sejahtera, tetapi masih terdapat sedikit kesenjangan. Pada masyarakat Desa Ngadas juga terdapat pelapisan sosial, yaitu golongan atas bagi pemilik lahan pertanian luas, memiliki jeep lebih dari satu, memiliki homestay, pendidikan memadai. Kemudian ada golongan dengan kondisi standar secara sosial ekonomi, tetapi ada pula yang berada pada kelas bawah sebagai buruh atau petani biasa. Kondisi kesenjangan itu ada tetapi tidak terlalu signifikan.

Paguyuban penyewaan kuda memiliki fungsi yang sama dengan paguyuban jeep. Hanya saja paguyuban penyewaan kuda ini tidak sebesar paguyuban jeep, tidak banyak yang bergabung didalamnya. Mereka menyewakan kuda kepada wisatawan yang ingin melihat kawah Bromo atau baru saja melihat kawah Bromo dan ingin kembali ke tempat parkir jeep. Tetapi tantangan yang dihadapi oleh warga yang menyewakan kuda diataranya adalah kesulitan mendapatkan penumpang, karena untuk mencapai kawah Bromo bisa dengan berjalan kaki. Meski cukup jauh dan harus menaiki 250 anak tangga, namun tidak sedikit wisatawan yang justru menikmatinya daripada mereka menunggangi kuda.

Tarif untuk satu penumpangnya dipatok mulai harga dari Rp 20.000,00 hingga Rp 125.000,00 mengantarkan dan menjemput penumpang bagi wisatawan domestik, itu pun tergantung kepandaian wisatawan dalam menawar harga sewa. Sedangkan untuk wisatawan asing, penyewa kuda biasa memasang tarif hingga Rp. 250.000,00. Harga tergantung jasa pada jarak jauh dekatnya tujuan. Dalam satu harinya, tidak menentu berapa penumpang yang mereka dapatkan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Bapak Sutikno (52 tahun) sebagai berikut :

“Nggak banyak-banyak penumpang yang didapat setiap harinya, satu dua orang saja sudah lumayan. Paling nggak bisa untuk beli makan kuda Rp. 40.000,00, untuk beli rumput, nutrisi kuda, sama air. Kalau lagi ramai ya bisa sampai 8 penumpang sampai sore disini. Kalau enggak ya setengah hari lalu saya bekerja di ladang.”

Jasa menyewakan kuda ini tidak dilakukan satu hari penuh oleh si penyewa kuda. Biasanya mereka hanya bekerja separuh hari, dari pagi hari sampai siang hari. Lalu siang harinya mereka pergi berladang menggarap lahan pertaniannya, atau membuka warung di rumah.

Homestay adalah rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara  bagi para wisatawan. Rumah yang disewakan merupakan rumah pribadi pada musim-musim liburan atau saat ramai pengunjung. Namun ada juga rumah yang khusus dibuat oleh pemilik untuk disewakan. Pemilik homestay biasanya tinggal tidak jauh dari lokasi. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pemilik homestay dalam pengawasan dan memudahkan para wisatawan apabila ada yang membutuhkan bantuan dari pemilik homestay. Didalam homestay yang ada di desa Ngadas biasanya berisi banyak kamar, yaitu minimal 4 kamar.

Tidak banyak homestay yang ada di desa ngadas, biasanya pemilik homesaty adalah orang dari golongan ekonomi atas. Fasilitas di home stay di Desa Ngadas cukup memadai, diantaranya tempat tidur menggunakan springbed dilengkapi dengan selimut tebal, televisi, kulkas, serta kamar mandi lengkap dengan pemanas air.

Salah satu kegiatan masyarakat Desa Ngadas terkait dengan produksi oleh-oleh khas Bromo. Menurut penuturan ibu Linda dahulu ibu-ibu PKK desa Ngadas pernah ada suatu kegiatan yang mengolah hasil pertanian yang banyak dihasilkan dari daerah Ngadas, diantaranya pengolahan kentang menjadi makanan ringan agar hasil jualnya menjadi lebih tinggi. Kegiatan ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa Ngadas dalam sektor kepariwisataan karena proses pemasaran keripik kentang mengikuti laju kepariwisataan Obyek Wisata Gunung Bromo. Namun, dalam perkembangannya usaha ini terhenti karena kesibukan yang dimiliki masing-masing ibu rumah tangga yang menjadi anggota PKK, seperti : meladang, menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, dan aktifitas lainnya.

Selain berupa makanan, warga desa Ngadas juga menjual souvenir lain seperti: kaos khas Bromo,dan bunga edelweiss ( Bunga Abadi ) yang sudah diikat atau dimodifikasi dengan jenis bunga yang lain agar menghasilkan bentuk menarik. Untuk kaos, warga desa Ngadas tidak memproduksi sendiri, mereka hanya mengambil dari kecamatan Sukapura untuk selanjutnya dijual kembali ke tempat-tempat wisata yang berada di daerah Bromo. Keberadaan bunga edelweiss di gunung Bromo juga membantu ekonomi warga di sekitarnya. Meskipun sebenarnya bunga tersebut sudah dilindungi keberadaannya, pada kenyataannya masih banyak dijumpai para penjual bunga edelweiss yang secara bebas memperjual-belikan bunga langka itu. Mereka melakukan hal seperti itu guna menambah pendapatan masyarakat dan karena mereka menganggap bahwa peminat bunga edelwiss itu banyak, sehingga kesempatan memperoleh pendapatan tinggi.

            Terdapat beberapa warga masyarakat Desa Ngadas yang menjadi tour guide atau pemandu wisata. Biasanya para pemandu wisata ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, khususnya dapat berbicara bahasa inggris, dan tentunya memiliki banyak pengetahuan tentang potensi wisata yang ada di Bromo. Pada saat sekarang kebanyakan tour guide adalah para pemuda lulusan SMK Pariwisata yang berdomisili di Desa Ngadas. Jika dibandingkan dengan warga Desa Ngadas yang menjadi tour guide mereka jauh memiliki keterampilan yang lebih tertata, mengingat tata cara menjadi tour guide diajarkan di sekolah mereka. Kebanyakan tour guide yang ada di sana adalah laki-laki.

Pendidikan terbagi menjadi beberapa jenjang, dan uniknya ada yang sudah sekolah sampai jenjang menengah dan tinggi tetapi tetap kembali sebagai petani dan wisata. Ada juga beberapa anak muda yang menjadi tour guide, dan bekerja di hotel, sebagian dari yang lulusan SMK Pariwisata. Tetapi pendidikan juga berpengaruh terhadap ekonomi, terutama bagi yang dapat bekerja pada sektor lain seperti menjadi pegawai atau guru yang dapat meningtkan kualitas ekonomi.

SIMPULAN

Desan Ngadas yang terletak di Kecamatan Sukapura Kabupaten Purbalingga merupakan desa yang dihuni oleh masyarakat suku bangsa Tengger. Lokasi tersebut merupakan daerah tertinggi di Jawa Timur. Mata pencaharian suku bangsa Tengger di desa Ngadas adalah di  bidang pertanian sebagai komoditas utama, akan tetapi ada pula di bidang jasa pariwisata. Di bidang pertanian merupakan penghasil sayur mayor seperti kentang, kubis, wortel, dan sayuran lainnya, sedangkan di bidang jasa pariwisata yaitu penyewaan mobil jeep, penyewaan kuda, penyewaan homestay, dan tour guide. Selain itu terdapat sistem barter yang masih diterapkan oleh masyarakat suku bangsa Tengger di Desa Ngadas.

SARAN

Sebaiknya masyarakat suku bangsa Tengger lebih memperhatikan kebersihan di daerah wisata Gunung Bromo, terutama bagi masyarakat yang menyewakan kudanya.

Sebaiknya pendidikan di Desa Ngadas lebih diperhatikan lagi, terutama pembangunan sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Henslin, James M. 2006. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi: Edisi 6. Penerjemah: Kamanto Sunarto. Erlangga: Jakarta.

Soekanto,Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: Rajawali Pers

Usman,Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2004. Metodologi Penelitian Sosial.Jakarta: Bumi Aksara

Suyanto,Bagong. 2013. Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat Post-Modernisme.Jakarta: Kencana Prenada Media Group

One thought on “Perilaku Sosial dan Ekonomi Masyarakat Suku Bangsa Tengger Desa Ngadas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: