Gaflah merupakan penyakit yang paling berbahaya apabila menimpa umat. Penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan penghancur semangat, pun akan membuahkan su’ul khatimah. Penyakit yang membuat seseorang kehilangan tujuan, dan menghabiskan energinya. Jika gaflah mengenai seorang alim maka ia akan meninggalkannya dalam keadaan jahil, jika mengenai orang yang kaya, niscaya ia akan meninggalkannya dalam keadaan miskin, jika mengenai orang terhormat, maka ia akan mengubahnya menjadi orang yang hina.
Ia adalah kebinasaan tanpa kematian. Kesia-siaan tanpa ada yang hilang, hijabnya tampak lembut, kemudian bertambah tebal sedikit demi sedikit hingga membuat hati menjadi terbalik tanpa ada kebaikan padanya.
Sikap lalai merupakan suatu perlakuan yang salah terhadap segala energy dan potensi yang ada. Tentu saja sikap tersebut tidak memberi faidah, justru membahayakan dan membinasakan. AlQur’anul Karim menegaskan “ mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”. (ar-Ruum :7)
Dalam urusan dunia mereka amat pandai dan senang berkompetisi, sedangkan dalam urusan akhirat mereka mengabaikan dan gagal, itulah sosok lalai. Jika kita perhatikan, kelalaian sangat mengakar dalam kehidupan kita, sebut saja seperti :
- Kelalaian dari apa yang membahayakan hamba dan membuat turunnya kemurkaan Allah, yaitu kelalaian dari hal hal yang membinasakan.
- Kelalaian dari apa yang menyelamatkannya dari azab Allah, yaitu kelalaian dari hal hal yang menyelamatkan.
- Kelalaian dari modal hamba dan bekalnya dijalan, yaitu kelalaian dari usia dan waktu.
- Kelalaian dari tujuan diciptakannya manusia, yaitu kelalaian dari misi agung.
- Kelalaian dari kondisi islam dan dakwah kepada islam.
Jika semua kelalaian ini terdapat dalam diri seseorang, maka ia termasuk sosok yang lalai sangat total.
Diriwayatkan dari Hudzaifah r.a., ia berkata bahwa saya pernah mendengar Rosulullah saw. Bersabda, “ Fitnah fitnah itu mengenai hati seperti dipintalnya tikar batang demi batang, jika hati itu menyerap fitnah itu, maka padanya tertulis satu titik hitam. Jika hati itu mengingkarinya, maka padanya tertulis satu titik putih. Keduanya pun menjadi dua macam hati, yaitu hati yang hitam kelam, yang tidak mengetahui kebaikan juga tidak mengingkari kemungkaran, kecuali yang sejalan dengan hawa nafsunya, dan hati yang putih bersih, yang tidak dapat diganggu oleh fitnah selama ada langit dan bumi”.
@Riha Taslim.