PENTINGNYA SUATU PENDIDIKAN BERBASIS KONSERVASI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses pendewasaan seseorang baik secara fisik maupun mental secara terus menerus agar tercipta pribadi yang baik. Dalam dunia pendidikan banyak hal yang perlu diperbarui,oleh karena itu perlu adanya perubahan yang signifikan. Perubahan tersebut harus mencakup perbaikan pendidikan pada semua tingkat dan pada setiap bidang keilmuan yang dilakukan sebagai antisipasi persaingan global.
Proses pendidikan mencakup proses yang dilakukan secara bertahap dan tentu saja tidak dilakukan secara spontan. Pendidikan dalam pengertian ini perlu dijadikan upaya mengembangkan manusia sebagai makhluk hidup, dan makhluk yang mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun terhadap kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kesempatan untuk belajar bertanggung jawab mengenal dan menghayati serta melaksanakan nilai-nilai moral perlu ditumbuhkembangkan dalam pendidikan. Terkait dengan itu relevanlah budaya demokrasi dihidupkan dalam seluruh proses belajar mengajar. Dengan budaya seperti itu jiwa demokrasi akan tumbuh dan berkembang secara baik.
Perbaikan pendidikan dapat dilakukan dengan beberapa cara,salah satunya adalah menciptakan tempat belajar yang baik dan nyaman untuk memperoleh segala ilmu pengetahuan. Penciptaan kondisi yang nyaman untuk menjadi tempat pembelajaran dan pendewasaan diri merupakan hal yang mutlak diperlukan, hal tersebut sangat mebutuhkan peran dari lingkungan,oleh karena itu perlu adanya pendidikan yang berbasis konservasi. Konservasi merupakan upaya pelestarian lingkungan hidup dengan tetap memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh dari lingkungan.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana menerapkan pendidikan berbasis konservasi ?
- Bagaimana cara untuk mengoptimalkan pembangunan tanpa merusak lingkungan?
1.3 Tujuan Penulisan
- Menciptakan rumah ilmu yang nyaman dan berlandaskan konservasi
- Untuk menciptakan tempat belajar yang berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan hidup
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Lingkungan Hidup
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung (Pratomo, 2008: 6).
Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika berada di sekolah, lingkungan biotiknya siswa, guru, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.
Secara khusus, sering digunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.Adapun menurut UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (Pratomo, 2008: 8)
2.2 Pendidikan Lingkungan Hidup
Menurut Pratomo (2008: 26) bahwa pendidikan lingkungan hidup sangatlah penting. Dengan diberikannya pendidikan ini pada masyarakat, diharapkan munculnya kesadaran agar lingkungan tumbuh dan berkembang dengan baik, untuk selanjutnya terjadi perubahan sikap pandangan serta perilaku terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan hidup harus diberikan untuk semua tingkatan dan umur, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah. Pendidikan lingkungan merupakan salah satu faktor penting untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan hidup dan merupakan sarana yangpenting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang dapat melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Pada tahun 1986, pendidikan lingkungan hidup dimasukkan ke dalam pendidikan formal dengan dibentuknya mata pelajaran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Depdikbud merasa perlu untuk mulai mengintegrasikan PKLH ke dalam semua mata pelajaran. Pada jenjang pendidikan dasar dan menegah (menengah umum dan kejuruan), penyampaian mata ajar tentang masalah kependudukan dan lingkungan hidup secara integratif dituangkan dalam sistem kurikulum dengan memasukkan masalah-masalah kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam hampir semua mata pelajaran. Pendidikan lingkungan hidup dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dalam mencari pemecahan dan pencegahan timbulnya masalah lingkungan. Pendidikan lingkungan bertujuan meningkatkan kesadaran dan sensitifitas terhadap lingkungan dan berbagai masalahnya.
Tujuan pendidikan lingkungan hidup adalah menjadikan masyarakat sadar dan sensitif terhadap lingkungan dan berbagai masalahnya, serta memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, motivasi, dan kesediaan untuk bekerja secara perorangan atau kelompok ke arah pemecahan dan pencegahan masalah-masalah lingkungan hidup (Karim, 2003: 46). Pendidikan memainkan peranan sebagai pembentuk dan penyebar nilai-nilai baru yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan-tuntutan lingkungan. Dalam kaitannya dengan usaha pengembangan sumber daya manusia, diarahkan pada tujuan khusus seperti pembangunan nasional, pengawasan lingkungan, dan tujuan lain. Namun, pada akhirnya usaha ini harus dipahami sebagai usaha mempertinggi martabat manusia dan mempertinggi mutu hidup manusia. Inilah fungsi yang melekat pada pendidikan lingkungan, tidak hanya sekedar menjaga kelestarian kehadiran manusia di bumi, melainkan juga meraih mutu hidup tertinggi sesuai martabatnya.
Pendidikan lingkungan hidup memasukkan aspek afektif yaitu tingkah laku, nilai dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan (sustainable). Pencapaian tujuan afektif ini biasanya sukar dilakukan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru perlu memasukkan metode-metode yang memungkinkan berlangsungnya klarifikasi dan internalisasi nilai-nilai. Dalam pendidikan lingkungan hidup perlu dimunculkan atau dijelaskan bahwa dalam kehidupan nyata memang selalu terdapat perbedaan nilai-nilai yang dianut oleh individu. Perbedaan nilai tersebut dapat menimbulkan kontroversi/pertentangan pendapat. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan hidup perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun ketrampilan yang dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.
Beberapa ketrampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah diantaranya : 1) Kemampuan berkomunikasi, yakni mendengarkan, berbicara di depan umum, menulis secara persuasif, dan desain grafis; 2) Investigasi (investigation), yakni merancang survey, studi pustaka, melakukan wawancara, menganalisa data; 3) Ketrampilan bekerja dalam kelompok (group process), yakni kepemimpinan, pengambilan keputusan dan kerjasama (Zahara, 2003 : 22)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Penerapan Pendidikan Konservasi di Universitas
UNNES merupakan kampus yang berada didataran tinggi, yang secara otomatis sangat dekat dengan alam, namun justru hal tersebut merupakan permasalahan yang tidak diketahui banyak orang, kita ketahui UNNES merupakan tempat pendidikan yang berkualitas dan tentu saja gencar melakukan pembangunan yang berkelanjutan, pembangunan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memberikan fasilitas yang maksimal agar terciptanya proses pembelajaran yang efektif, pembangunan tersebut merupakan hal yang sangat positif, namun dibalik semua itu pembangunan akan merusak alam, banyak flora dan fauna yang terkena imbasnya, tentu saja keseimbangan alam akan terganggu oleh karena itu pendidikan konservasi sangatlah penting untuk diterapkan. Pelaksanaan pendidikan konservasi di didasari oleh keinginan untuk bersahabat dengan alam, jika kita menghargai alam maka alam pun menghargai kita. Dalam hal ini UNNES sudah menerapkan hal tersebut diantaranya adalah :
- Menerapkan budaya jalan kaki dan bersepeda di lingkungan UNNES.
- Membuat rumah kompos
- Membuat solar cell untuk penghematan energy
- Memanfaatkan limbah menjadi gas
- Penerapan arsitektur hijau
UNNES juga mewajbkan setiap mahasiswa memiliki 11 nilai karakter konservasi yaitu :
- Religius
- Jujur
- Cerdas
- Adil
- Tanggung Jawab
- Peduli
- Toleran
- Demokratis
- Cinta Tanah Air
- Tangguh
- Santun
3.2. Pembangunan Tanpa Merusak Lingkungan
Pembangunan merupakan upaya untuk meningkatkan infrastruktur secara berkala untuk meningkatkan sumber daya alam maupun manusia, dalam hal ini pembangunan dapat merusak lingkungan sekitar, namun semua itu harus di cari solusinya ,Di UNNES menerapkan Green Arsitektur, hal itu merupakan salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, Green arsitektur adalah arsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam, termasuk energi, air, dan material, serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Prinsip dasar arsitektur hijau adalah tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Dalam konsep arsitektur hijau penggunaan bahan bangunan sebaiknya yang bisa di daur ulang,sehingga penggunaan material dapat dihemat, caranya ialah mendesain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumber daya alam yang baru, agar sumber daya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang, sehingga penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam. UNNES sebagai universitas konsevasi memiliki komitmen untuk menjadi contoh pengembangan kampus ramah lingkungan, terutama pada gedung-gedung perkuliahan dan perkantoran sebagai manifestasi fisik kampus hijau dengan menetapkan seluruh prinsip-prinsip green arsitecture secara keseleruhan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Suatu pendidikan sangat berhubungan erat dengan pembangunan, pembangunan yang terus menerus akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu pendidikan yang berbasis konservasi mutlak diperlukan, hal tersebut dilakukan demi mengharmoniskan antara manusia dengan alam.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Pendidikan Berbasis Lingkungan. Online: Tersedia. https://tabloid_info.sumenep.go.id, di browsing tanggal 14 Mei 2013
Karim, S.A. 2003. Program PKLH Jalur Sekolah: Kajian dari Perspektif Kurikulum dan Hakekat Belajar Mengajar. Jakarta: Depdiknas.
Pratomo, Suko. 2008. Pendidikan Lingkungan. Bandung : Sonagar Press.
Suherli. 2007. Menulis Karangan Ilmiah. Depok: Arya Duta.
Zahara, T. Dj. 2003. Perilaku Berwawasan Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan Dilihat dari Keinovatifan dan Pengetahuan Tentang Lingkungan. Jakarta: Depdiknas.
Hadarti, puji.dkk. 2015. Pendidikan Konservasi. Semarang : Magnum pustaka dan pusat pengembangan kurikulum MKU Unnes Semarang
Sumber :
.https://guruidaman.blogspot.co.id/2013/11/implementasi-pendidikan-lingkungan.html