“GAP” dalam Rumah Kos

Tips-Mencari-Tempat-Kos-di-Jogja

Rumah Kos merupakan tempat berlindung utama bagi mahasiswa yang berdomisili jauh dari Kampus, hal ini menyebakan Rumah Kos harus menjadi tempat pemenuh kebutuhan sosialisai pengganti keluarga.

Begitu halnya saya, sebagai salah satu mahasiswa yang bertempat tinggal di luar Semarang maka dari itu saya harus menetap disalah satu Rumah Kos di Jalan Kalimasada. Rumah Kos yang saya tempati ini tergolong bangunan baru yangmasih baik kondisinya, dengan tembok yang tinggi dan penataan kamar yang rapi membuat kami sesama penghuni Kos dapat berinteraksi dengan baik.

Sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua kadang kita merasa kesulitan dalam menghadapi satu dan lain hal yang sebelumnya dapat kita diskusikan dengan orang tua kita, oleh karena itu teman dalam hal ini teman kos yang lebih dekat dan berinteraksi lebih lama dibanding dengan teman rombel dapat kita jadikan sebagai sandaran atau tempat berkeluh kesah.

Di tempat kos saya interaksi yang terjalin antar penghuninya sudah cukup baik karena kami saling menyadari bahwa kami membutuhkan teman yang dapat mengerti atau paling tidak dapat melepas penat bersama dengan mengobrol santai. Hal ini sering dilakukan oleh sebagian dari penghuni kos yang saya tempati, namun sebagian kecil dari mereka tidak menyadari betapa menjaga ketenangan dan kenyamanan orang lain merupakan hal terpenting dalam sebuah hubungan bersama. Mereka selalu bergurau dan bercerita tentang banyak hal dalam kehidupan mereka di kampus, tentu ini positif tapi dengan menggunakan volume keras inilah yang mengganggu penghuni lain.

Bagi mereka yang melakukannya mungkin sama sekali tak merasakan bahwa hal itu dapat disinyalir sebagai pelanggaran namun bagi orang di outgroup mereka yang akan mengeluh dan menyayangkan perbuatan ini. Yang kemudian pada akhirnya menimbulkan suatu pemisah antara sesama penghuni kos. Mereka yang terkenal dengan keberisikan dan kegaduhannya menjadi kelompok yang dapat dibilang “penguasa” atau mungkin lebih tepatnya berperan aktif dalam menyumbang keluhan-keluhan dari tetangga samping kanan kiri dan mereka yang bersikap baik-baik saja menjadi kelompok yang “manut”.

8 komentar pada ““GAP” dalam Rumah Kos

  1. wah.. ternyata ada gap seperti itu juga ya kak,, mau tanya nih,, apasih tanggapan kakak sebagai orang sosial dengan fenomena itu? makasih kakak…

    1. terimakasih mbak uti.
      sebagai seorang mahasiswa yang berkuliah di sosiologi kita hendaknya bersikap sewajarnya saja, berusaha bersosialisasi dengan sebaik mungkin. selanjutnya insyaallah biar allah yang menentukan jalan kita nantinya kan 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: