Analisis kartu ATM dan Persepsi Cantik Menggunakan Post Strukturalisme Foucault
November 16th, 2015 by Siti Muzaenatun 3401413042 sosant'13

  1. LATAR BELAKANG

Teori post-strukturalisme dibangun diatas gagasan strukturalisme, namun bergerak keluar dan menciptakan mode berpikirnya sendiri. Strukturalisme dipengaruhi oleh ilmu bahasa, bahwa bahasa sebagai simbol dapat menciptakan makna yang berlaku secara universal, sedangkan post strukturalisme tidak melihat adanya kestabilan dan universalitas makna dalam bahasa, teori post structural Foucault   menjelaskan bahwa faktor sosial budaya berpengaruh dalam mendefinisikan tubuh dengan karakter ilmiah, universal, yang tergantung pada waktu dan tempat.Bahwa ciri-ciri alamiah tubuh (laki-laki dan perempuan) bisa bermakna berbeda dalam tataran kebudayaan yang berbeda. Foucoult mengemukakan pandangannya tentang pengetahuan/kekuasaan. Pengetahuan dan kekuasaan saling berkaitan. Bahwa orang yang memiliki pengetahuan maka dia yang akan berkuasa. Sebagai contoh factor budaya dalam memaknai kata “cantik” bagi seorang perempuan, setiap daerah mempunyai persepsi cantik yang berbeda-beda setiap daerah dan pemaknaan sesuatu berdasarkan pengetahuan.

Adanya teori post strukturalisme Foucault memunculkan beberapa pertanyaan, bagaimana konsep teori post strukturalisme Foucault,dan bagaimana penerapan dari teori tersebut?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. BIOGRAFI MICHAEL FOUCAULT

Paul-Michel Foucault (lahir di Poitiers, 15 Oktober 1926 – meninggal di Paris, 25 Juni 1984 pada umur 57 tahun) adalah seorang filsuf Perancis, sejarawan, intelektual, kritikus, dan sosiolog. Semasa hidupnya, ia memegang kursi jabatan di College de France, karena karyanya yang berjudul Sejarah sistem pemikiran (History of Systems of Thought) dan juga mengajar di Universitas California, Berkeley.

Foucault paling dikenal dengan penelitian tajamnya dalam bidang institusi sosial, terutama psikiatri, kedokteran, ilmu-ilmu kemanusiaan dan sistem penjara, dan karya-karyanya tentang sejarah seksualitas. Karyanya yang menelaah kekuasaan dan hubungan antara kekuasaan, pengetahuan dan diskursus telah banyak diperdebatkan secara luas. Pada tahun 60-an Foucault sering diasosiasikan dengan gerakan strukturalis. Foucault kemudian menjauhkan dirinya dari gerakan pemikiran ini. Meski sering dikarekterisasikan sebagai seorang posmodernis, Foucault selalu menolak label Posstrukturalis dan posmodernis.

Pada usia 25 tahun dia menerima Agregasi dan pada tahun 1952 memperoleh Diploma dalam psikologi. Pada tahun 1950 dia bekerja di Rumah Sakit Jiwa dan pada tahun 1955 mengajar di Universitas Uppsala, Swedia. Karya pertamanya berjudul Kegilaan dan Ketidakbernalaran: Sejarah pada Masa Klasik, dipresentasikan untuk menempuh gelar doktoralnya pada tahun 1959 di bawah bimbingan Georges Canguilhem. Karya tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1961. Pada tahun 1970, ia diangkat sebagai dosen Sejarah Sistem Pemikiran di Perancis. Ia meninggal tahun 1984.

Secara kronologis, bisa dilihat perjalanan hidup Foucault sebagai berikut:

  • 1926 lahir dengan nama Paul-Michel Foucault
  • 1936 mendaftar di Lycee Henry-IV di Pitiers
  • 1940 mendaftar di Kolese St. Stanislas, sebuah Sekolah Yesuit kedua
  • 1945 belajar di Paris di Lycee Henry-IV untk mempersiapkan ujian masuk untuk Ecole Normale Superiure, pemikiran filsafat oleh Jean Hyppolite
  • 1945 diakui untuk Ecole Normale Superiure, di mana dia menerima lisensi filsafat (1948), lisensi filsafat (1949) dan agragasi filsafat (1952)
  • 1952 bekerja di Faculte des Lettres, Universitas di Lille, menerima Diploma Psiko-Patologi dari Institut Psikologi di Paris
  • 1955-1958 mengajar di Universitas Uppsala, Swedia
  • 1959 mengabdi sebagai direktur dari Pusat Universitas Warsaw di Perancis
  • 1960 mengajar Psikologi di Universitas Clermont-Ferrand
  • 1961 menerima gelar doktor, dengan karya-karya, Histoire de la folie a l’age classique, Antropologie in pragmatischer Hinsicht
  • 1962 menjadi profesor filsafat di Universitas Clermont-Ferrand
  • 1966 mengunjungi profesor di Universitas Tunisia
  • 1967 terpilih sebagai profesor di Universitas Paris, di Naterre, tapi kembali ke Tunisia ketika menteri pendidikan menunda ratigikasi dari pemilihan itu
  • 1968 mengabdi sebagai pimpinan di departemen filsafat pada ekperimen baru di Vincennes
  • 1969 terpilih di Kolese Perancis dengan karya “Sejarah dari Sistem Pemikiran
  • 1970 menghadiri pelajaran pertamanya di Amerika dan [Jepang]]
  • 1971 ikut mendirikan the Groupe d’information sur les Prison, sebuah organisasi yang mengkritik kondisi [penjara]] di Prancis
  • 1972 membuat perjalanan lain ke USA, termasuk mengunjungi penjara di Attica, New York
  • 1973 mengajar di New York, Montreal, dan Rio de Janeiro
  • 1875 ikut dalam protes melawan eksekusi Franco terhadap para militansi
  • 1976 mengunjungi Brazil dan California
  • 1981 ikut aktif dalam protes melawan gerakan komunis di pemerintahan Polandia dan mendukung solidaritas
  • 1983 mengajar di Universitas California di Berkeley sebagai bagian dari kesepakatan untuk berkunjung ke sana setiap tahun
  • 1984 meninggal di Paris pada 25 Juni
  1. TEORI MICHAEL FOUCAULT

Michael Foucoult adalah ahli sosiologi tubuh dan sekaligus ahli teori post-strukturalisme. Karya-karyanya yang berkaitan erat dengan teori-teori post-strukturalime untuk menjelaskan bahwa faktor sosial budaya berpengaruh dalam mendefinisikan tubuh dengan karakter ilmiah, universal, yang tergantung pada waktu dan tempat. Bahwa ciri-ciri alamiah tubuh (laki-laki dan perempuan) bisa bermakna berbeda dalam tataran kebudayaan yang berbeda. Sebagai seorang post-strukturalis Foucoult tertarik pada cara dimana berbagai bentuk ilmu pengetahuan menghasilkan cara-cara hidup. Menurutnya, aspek masyarakat yang paling signifikan untuk menjadi modern bukanlah fakta bahwa masyarakat itu ekonomi kapitalis (Marx),  atau suatu bentuk baru solidaritas (Weber) atau bersikap rasional (Weber), melainkan cara dimana bentuk-bentuk baru pengetahuan yang tidak dikenal pada masa pramodernitas itu muncul yang dapat mendefinisikan kehidupan modern.

Salah satu karya Foucoult adalah Archeology of Knowledge yang merupakan tujuan dari studinya mencari struktur pengetahuan, ide-ide dan modus dari diskursus atau wacana. Ia mempertentangkan arekeologinya itu dengan sejarah atau sejarah ide-ide. Dalam karyanya itu, Foucoult juga ingin mempelajari pernyataan-pernyataan baik lisan maupun tertulis sehinga ia dapat menemukan kondisi dasar yang memungkinkan sebuah diskursus atau wacana bisa berlangsung. Konsep kunci dari Foucoult adalah arkeologi, geneologi dan kekuasaan. Bila arkeologi memfokuskan pada kondisi historis yang ada, sementara geneologi lebih mempermasalahkan tentang proses historis yang merupakan proses tentang jaringan jaringan diskursus. Foucoult mengemukakan pandangannya tentang pengetahuan/kekuasaan. Pengetahuan dan kekuasaan saling berkaitan. Bahwa orang yang memiliki pengetahuan maka dia yang akan berkuasa.

Foucault membeberkan konstitusi subjek melalui dualisme pembentukan pengalaman manusia, yakni konstruksi subjek dari dalam dan luar yang saling berlawanan dan berkebalikan. Misalnya antara baik-buruk, besar-kecil, hitam-putih dan lain sebagainya yang masing-masing memiliki tempat baik di luar maupun di dalam. Jacques Derrida telah memiliki pendekatan dalam menganalisa dualisme ini melalui dekonstruksi, yakni pembalikan makna orisinal menjadi pasangan binernya untuk mendemonstrasikan bahwa arti kedua memiliki makna yang sama pentingnya seperti makna semula (Campbell, 2007). Misalnya pemaknaan terhadap suatu negara yang aman, terkonstitusi dan terkonstruksi pula oleh pemaknaan terhadap suatu negara yang dianggap kacau. Batasan dan pemaknaan inilah yang membuat dualisme tersebut dianggap penting. Maka dari itu, eksklusi-eksklusi tersebut turut berkontribusi untuk membentuk dunia sebagaimana kita mengkonsepsikannya (Campbell, 2007).

  1. PENERAPAN TEORI
  2. Persepsi Cantik Dulu Dan Sekarang Pada Perempuan Jawa

Melihat perempuan tidak bisa dilepaskan dari yang disebut sebagai kecantikan, meskipun ukuran kecantikan untuk melihat setiap perempuan bisa berbeda-beda. Seorang perempuan bisa disebut cantik bagi seseorang, tetapi tidak bagi orang lain. Ini artinya kecantikan adalah interpertasi. Di masa silam ada seorang perempuan yang betisnya bercahaya, sehingga membuat seorang laki-laki yang melihatnya bertekat untuk memilikinya. Perempuan yang mempunyai betis bercahaya menurut kisah sejarah wajahnya amat cantik. Kisah sejarah mengenai “wanita yang betisnya bercahaya” itu diajarkan di sekolah-sekolah melalui pelajaran sejarah. Maka menempelah nama wanita itu dalam ingatan anak-anak, bahkan mungkin hingga sekarang ingatan akan “wanita betisnya bercahaya” tidak pudar. Nama wanita itu adalah Ken Dedes permaisauri dari Tunggul Ametung.

Kata “betis” dan “bercahaya” yang menempel dalam diri perempuan adalah ember keindahan dari perempuan. Imajinasi perempuan cantik dengan sendirinya melekat pada diri Ken Dedes. Dari sini orang bisa memahami, bahwa sejak lama perempuan diletakkan disatu tempat yang “dipuja” karena kemolekan tubuhnya. Kenapa yang disampaikan dalam sejarah bukan otaknya bercahaya, tetapi malah betisnya.

Dalam kata lain, kecantikan yang riil pada masa silam, untuk masa berikutnya adalah khayal. Dari titik ini tampaknya kita bisa mencoba untuk mengerti, bahwa kecantikan adalah imajinasi. Betis bercahaya dan Ratu Kidul adalah wujud dari imajinasi itu, sebab tidak bisa dilihat warna cahaya dari betis Ken Dedes dan kualitas kecantikan Ratu Kidul. Tetapi dalam ingatan, kecantikan itu melekat, seperti tidak lepas. Sehingga kapan melihat perempuan cantik orang bisa berkomentar: wah seperti Ken Dedes, atau cantiknya seperti Ratu Kidul.

Kata “seperti” menunjukkan imajinasi kecantikan yang telah mengendap dalam ingatan. Dengan demikian bisa muncul pertanyaan, apakah tidak ada perempuan cantik pada sejarah kebudayaan jawa. Atau juga, apakah tidak ada perempuan cantik pada abad 16 di jaman Mataram sehingga yang muncul Ratu Kidul, bukan sosok perempuan yang lain. Bukan tidak mungkin ada banyak perempuan cantik di abad itu, tetapi tidak seperti yang diimajinasikan.

Dalam konteks perempuan jawa dulu, produk-produk kosmetika telah mencitrakan etnik jawa sehingga produk-produk kosmetik dalam berbagai macam bentuk disebutnya sebagai berangkat dari ramuan jawa. Berkat dari ramuan etnik itulah, konsumen bisa kelihatan cantik seperti ember jawa.Lagi-lagi kata “seperti” atau iklan yang menggunakan model etnis jawa, adalah menunjukkan imajinasi kecantikan. Ketika dikatakan kecantikan adalah embe, sebenarnya yang ditunjuk adalah tubuh. Bahwa tubuh adalah embe untuk hadir di tengah ember dalam berbagai rupa. Oleh sebab itu benar jika dikatakan, bahwa bukan pakaian yang menyesuaikan tubuh, tetapi sebaliknya tubuh yang menyesuaikan pakaian.

Selain cantik dilihat dari betis yang bercahaya,dulu perempuan jawa dulu juga menganggap bahwa cantik adalah perempuan yang memiliki tubuh molek, dan disebut dengan istilah” setu legi” yang berarti semok tur lemu ginuk-ginuk. Berbadan padat dan besar bulat dibagian pinggul supaya mudah saat melahirkan.

Namun sekarang persepsi cantik pada masyarakat jawa mulai berubah karena adanya iklan di media cetak maupun elektronik yang menggunakan model orang Jepang yang langsing, putih berambut lurus,membuat perempuan Jawa meninggalkan kepercayaannya tentang cantik, dulu perempuan jawa menganggap cantik apabila berbetis bercahaya dan setu legi namun cantik sekarang berkulit bercahaya dan langsing. Dulu wacana dalam iklan adalah cantik seperti puteri ember atau puteri Jawa, kini berganti menjadi “cantik ala wanita Jepang” seperti iklan produk kecantikan “ shinzui”.

Berawal dari iklan inilah orang mudah menemui berbagai macam perilaku perawatan tubuh agar bisa terasa cantik. Ada tubuh yang di-mandi-kan sauna. Ada yang diberi minyak pewangi yang harganya jutaan, ada yang diberi jenis pakaian dengan model up to date dengan harga amat mahal. Ada yang ember makan pada tubuh dengan jenis-jenis makanan yang harganya mahal pada tempo ini.

  1. Pemaknaan Pada Penggunaan Kartu Kredit

penggunaan kartu kredit sebagai sarana untuk pembayaran dan pembelian suatu produk barang atau jasa. Pendekatan Strukturalis melihat bahwa ada pemaknaan bahasa dalam kartu kredit yang dikeluarkan oleh sistem perbankan dan berlaku universal. Pemohon kartu kredit harus memiliki persyaratan tertentu untuk mendapatkannya. Simbol yang ada di kartu dimaknai bersama, baik oleh pembeli maupun penjual, bahwa penggunaannya hanya dengan “menggesekkan” kartu ke alat terentu dan bank akan mengeluarkan kredit pinjaman kepada pemegang kartu. Kata-kata dalam bahasa “tinggal gesek” dimaknai secara strukturalis sebagai alat kemudahan membayar. Post-strukturalis melihatnya bahwa kartu kredit tersebut kurang atau tidak bermanfaat, simbol kartu yang dimaknai sebagai alat tukar bergengsi justru dimaknai oleh post-strukturalis sebagai penciptaan masalah baru. Ada unsur ketidakstabilan. Makna “kewajiban” membayar berbeda pemaknaannya oleh pemakai kartu, karena ketidakmapunannya untuk membayar atau karena ketidakdisiplinannya dalam membayar cicilan. Bila kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemegang kartu kredit untuk melunasi atau mencicil hutang tidak dijalankan, maka ada sanksi tertentu terhadap pemegang kartu, baik denda maupun sanksi hukum, bila tidak sanggup membayar.
Bila dilihat dari sudut pandang  pengetahuan/kekuasaan, maka orang-orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan kartu, tentu akan “menguasai” kartu tersebut, dalam arti dapat memanfaatkan sebaik-baiknya. Dia akan mempelajari, berapa beban bunganya dalam sebulan atau setahun, berapa biaya adiministrasinya, berapa dendanya bila terlambat, berapa iuran anggotanya pertahun, dan setiap tanggal berapa dia harus membayar tagihan serta berapa yang harus dibayar. Pengetahuan ini yang menurut pandangan Foucoult berkaitan dengan kekuasaan. Bila nasabah/pemegang kartu  memiliki pengetahuan, maka dia akan berkuasa (kartu tersebut bermanfaat) namun bila tidak, maka pihak bank yang akan berkuasa (beruntung)

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari pembasan diatas maka dapat diambil pemahaman tentang teori post-strukturalisme, Pertama,teori foucalt saya terapkan dalam mendifinisikan tubuh pada persepsi cantik perempuan Jawa dulu cantik dilihat dari betis yang bercahaya,dulu perempuan jawa dulu juga menganggap bahwa cantik adalah perempuan yang memiliki tubuh molek, dan disebut dengan istilah” setu legi” yang berarti semok tur lemu ginuk-ginuk. Berbadan padat dan besar bulat dibagian pinggul supaya mudah saat melahirkan.

Namun sekarang persepsi cantik pada masyarakat jawa mulai berubah karena adanya iklan di media cetak maupun elektronik yang menggunakan model orang Jepang yang langsing, putih berambut lurus,membuat perempuan Jawa meninggalkan kepercayaannya tentang cantik, dulu perempuan jawa menganggap cantik apabila berbetis bercahaya dan setu legi namun cantik sekarang berkulit bercahaya dan langsing. Dulu wacana dalam iklan adalah

Kedua, pandangan Foucault tentang pengetahuan dan kekuasaan saling berkaitan Bahwa orang yang memiliki pengetahuan maka dia yang akan berkuasa saya terapkan pada pemaknaan penggunaan kartu kredit, Bila dilihat dari sudut pandang  pengetahuan/kekuasaan, maka orang-orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan kartu, tentu akan “menguasai” kartu tersebut, dalam arti dapat memanfaatkan sebaik-baiknya.. Pengetahuan ini yang menurut pandangan Foucoult berkaitan dengan kekuasaan. Bila nasabah atau pemegang kartu  memiliki pengetahuan, maka dia akan berkuasa (kartu tersebut bermanfaat) namun bila tidak, maka pihak bank yang akan berkuasa (beruntung).

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://sociolovers-ui.blogspot.com/2012/06/strukutralisme-bahasan-dalam-topik-ini.html
  2. Bryan S Turner. Teori-teori Sosiologi Modernitas-Posmodernitas. Yogyakarta. Pustaka Pelajar 2000.
  3. http://Downloads/Majalah%20TeMBI.htm
  4. Bagong Suyanto  dan M Khusna Amal (ed) Aditya Media 2010. Teori Strukturalisme. Dalam  Anatomi dan  Perkembangan Ilmu Sosial.
  5. Suhrnadji: Arkeologi Pengetahuan Michel Foucault. Dalam Dalam  Anatomi dan  Perkembangan Ilmu

3 Responses  
Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Lewat ke baris perkakas