tradisi Belian

 

Liputan6.com, Kutai Barat: Di masyarakat Dayak Tunjung, pemelian atau pengusung ritual Belian memiliki fungsi layaknya seorang dokter. Namun, secara tradisional pemelian ini memiliki cara tersendiri untuk meyembuhkan penyakit. Secara teknis, pemelian menggunakan terapi secara spiritual magis yang sakral untuk menyembuhkan para pasiennya, seperti yang diwariskan para leluhur. Pak Jino, misalnya tetua ritual Belian. Ia melewati waktu 40 tahun menjalani perjalanan spiritual sebagai seorang pemelian. Kini, Pak Jino sudah mencapai tahap tutus dalam pengertian Dayak seorang yang menjiwai dan menguasai mantra-mantra serta mampu membuat ramuan.

Kepercayaan akan keahlian seorang pemelian memang tak lepas dari kondisi permukiman warga Suku Dayak. Maklum, lokasi permukiman yang sulit dijangkau transportasi umum dan jauh dari perkotaan membuat mereka tetap mempercayai akan fungsi seorang pemelian. Mereka juga menjadi alternatif utama bila ada penderita suatu penyakit belum mendapat kesembuhan dari pengobatan dokter.

 

Ini seperti dilakukan keluarga Calu, warga Kampung Bohoq, Kutai Barat, Kaltim. Pak Jino diminta untuk menyembuhkan kejiwaan yang diderita istri Calu, Rukiyat. Kali ini, Pak Jino menggelar rangkaian prosesi ritual Belian dengan ditemani tujuh pemelian lainnya. Mereka membaca doa dan mantra di antara balai atau sesajian persembahan kepada para dewa. Prosesi awal ini meminta kepada para penguasa gaib agar dijauhkan dari pengaruh buruk yang bisa mengganggu jalannya ritual.

 

Sementara para sanak keluarga pasien mempersiapkan kebutuhan ritual Belian. Mereka secara sukarela membantu persiapan upacara penyembuhan, terutama mempersiapkan makanan sesajian maupun benda yang terkait dengan ritual. Misalnya, pembuatan daun janur kelapa yang direbus dengan kunyit dan kemangi sehingga membentuk warna merah dan kuning. Warna-warna tersebut melambangkan upacara Belian memasuki bagian puncak untuk memanggil para leluhur. Sementara kaum pria menyiapkan santapan tradisional berupa lemang yang terbuat dari beras yang dimasukkan dalam bambu-bambu kecil. Selain untuk sesaji, lemang ini juga disuguhkan kepada mereka yang mengikuti ritual Belian sekaligus simbol kesejahteraan.

 

Mereka melakukan beberapa ritual dengan mengelilingi Balai hingga delapan putaran lebih. Para pemelian atau para pengusung acara Belian menari dengan membaca mantra. Bacaan yang mirip dengan sebuah nyanyian ini khusus dibacakan untuk mengundang para dewa dan roh leluhur supaya hadir bersama di rumah. Tarian malam ini dilakukan selama delapan hari berturut-turut.

Dalam ritual ini, mereka membawa Teturi, mangkuk yang berisi beras, telur beserta lilin. Secara konsepsi Belian, praktik ini sebagai pelindung dan penunjuk jalan kepada jalan kebaikan. Hari demi hari telah dilalui, prosesi panjang dan melelahkan ini akhirnya menginjak hari terakhir. Lamanya pengadaan upacara juga terkait dengan sakit yang dialami si pasien. Mereka mempercayai penjemputan roh dan dewa bersifat berjenjang dalam persepsi dunia kayangan yang berbeda dimensi dengan dunia manusia.

 

Memasuki malam terakhir upacara Belian, prosesi mulai menginjak pada tahapan yang paling penting. Seorang pemelian dengan simbol kain merah di hadapannya memohon kembali kepada dewa-dewa agar turun ke bumi. Pemelian kembali menjalankan fungsinya sebagai perantara saat berkomunikasi dengan para Dewa. Prosesi ini ditandai dengan kedatangan roh para leluhur kepada salah seorang pemelian yang kesurupan. Saat itulah, pemelian berbicara dan menghubungkan kehendak dan pesan keluarga yang sakit. Pada saat komunikasi batin berisi petuah-petuah usai dilakukan, mereka mengadakan pengorbanan hewan ternak. Persembahan ini sebagai imbalan bagi para dewa yang dianggap telah hadir bersama mereka. Sebagai wujud ucapan terima kasih pada penguasa gaib atas petuah-petuah pengobatan yang diucapkan melalui media Belian, pihak keluarga pasien wajib berkorban berupa hewan ternak.
Sementara para pemelian terus menandakan ritus pengorbanan dengan janur merah kuning. Janur merah menandakan adanya pengurbanan darah dari hewan. Dalam hal ini, mereka mempercayai pengurbanan layaknya menghidangkan makanan bagi tamu yang datang dari kayangan. Empat tanda bahwa dewa telah hadir bersama di upacara dan akan diadakannya ritual pengurbanan binatang. Ritual terakhir penyembuhan adalah dengan mengelilingi kain batik, mereka berupaya mengembalikan dan mensucikan roh. Terakhir, mereka melakukan penyucian dan pengobatan yang ditandai dengan pemberian air suci melalui daun palem dan tangkai pinang. Dedaunan ini diyakini sebagai mandau suci yang dimiliki dewa untuk menyembuhkan penyakit.

Secara kasat mata penyembuhan ala Belian sangat berbeda dengan pengobatan tradisional lainnya. Mereka lebih menyentuh alam bawah sadar pasien dan memfokuskan pada unsur kebersamaan dan mendorong pasien secara mental. Sehingga secara psikologis baik penderita maupun keluarganya memiliki keyakinan sembuh terlebih dengan hadirnya para leluhur di sisi mereka. (ORS/Hardjuno Pramundito dan Budi Sukmadianto).

 

http://m.liputan6.com/news/read/113941/belian-pengobatan-tradisional-metode-alam-bawah-sadar (diunduh pada 7 september 2015 pukul 12:12 WIB)

Ringkasan dan Argumentasi

Konsep sehat dan sakit dalam masyarakat tidak berlaku universal karena kesehatan yang beredar dalam masyarakat dipengaruhi oleh faktor lingkungan masyarakat sekitar. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dan beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosial budaya (Maulana, 2014:65). Antropologi kesehatan itu sendiri mempunyai peranan dalam menjelaskan mengenai kepercayaan dan pelaksanaan medis dan menekankan pada unsur budaya yang mempengaruhi pandangan dan penghayatan individu terhadap suatu penyakit dan proses penyembuhannya. Kajian atropologi kesehatan itu sendiri meliputi adat istiadat, kebiasaan dan kebudayaan yang berada di sekitar daerah masyarakat setempat dalam mengatasi penyakit dan memelihara kesehatan masyarakatnya. Segala sesuatu yang berkaitan antara manusia, kebudayaan dan kesehatan menjadi ruang lingkup pembahasan antropologi kesehatan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, pelaksanaan ritual Belian pada masyarakat Dayak Tunjung bisa menjadi salah satu pembahasan yang dikaji melalui perspektif antropologi kesehatan. Pelaksanaan ritual Belian relevan dengan kajian antropologi kesehatan karena dalam ritual Belian pada masyarakat Dayak Tunjung menggambarkan rangkaian usaha masyarakat daerah setempat dalam mengatasi masalah kesehatan yang menganggu masyarakatnya. Faktor yang mempengaruhi dilaksanakannya ritual ini antara lain karena faktor lingkungan atau tempat tinggal masyarakat Dayak Tunjung yang masih sulit untuk dijangkau transportasi umum dan masih jauh dari daerah perkotaan. Sehingga mereka masih tetap mempercayai dan melaksanakan ritual Belian atau pemelian ini dalam menyembuhkan penyakit terentu yang dihadapi oleh masyarakatnya. Selain itu faktor kedua adalah warisan nenek moyang tentang pelaksanaan ritual Belian ini yang masih dianut dan dilestarikan hingga saat ini. Selain menyembuhkan penyakit yang dialami oleh seseorang dalam masyarakat ini, ritual Belian juga mengandung ikatan sosial, dimana ikatan sosial ini terjalin melalui bentuk kerjasama masyarakat dalam menyiapkan pelaksanaan ritual Belian ini. Pelaksaan ritual Belian ini mengundang arwah leluhur mereka untuk menyembuhkan penyakit masyarakat Dayak Tunjung. Mereka berangapan bahwa dengan hadirnya arwah para leluhur di sisi mereka bisa mempercepat keyakinan masyarakat yang sedang sakit untuk segera sembuh. Ritual Belian atau pemelian ini lebih memberikan pendekatan melalui kondisi psikologis pasien atau masyarakat yang sedang mengalami sakit.

Pelaksanaan ritual Belian ini merupakan wujud kebudayaan masyarakat daerah Dayak Tunjung dalam mengatasi penyakit yang mereka rasa tidak bisa disembuhkan melalui jalur medis atau kedokteran. Sehingga, mereka mempunyai alternatif lain dalam mengatasi penyakit yang dihadapi oleh masyarakat melelui jalur non medis, yaitu pelaksanaan ritual adat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://m.liputan6.com/news/read/113941/belian-pengobatan-tradisional-metode-alam-bawah-sadar (diunduh pada 7 september 2015 pukul 12:12 WIB)

Maulana, Nova. 2014. Buku Ajar Sosiologi dan antropologi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

3 comments

  1. Penulisan judul diperhatikan kak. 🙂

  2. penulisan judulnya gak konsisten ya kak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:


Skip to toolbar