Hasil Diskusi Kelompok “Materi dan Media Pembelajaran”

Pertemuan ke 5 : Senin, 9 April 2015

Setelah satu minggu kami diberi tugas oleh Bapak Agung Kuswantoro mengenai :

  1. Pembuatan Mind Mapping sesuai materi yang dipilih
  2. Memilih media yang sesuai dengan materi yang telah dipilih

Dalam bukunya Azhar Arsyad dijelaskan bahwa Model Perencanaan Penggunaan Media Efektif, sebagai berikut :

  1. Menganalisis karakteristik sasaran
  2. Merumuskan tujan pembelajaran
  3. Merancang materi dan media
  4. Menggunakan materi dan media yang tepat
  5. Meminta tanggapan dari siswa
  6. Mengevaluasi proses belajar

Dan juga dijelaskan bahwa Pertimbangan Pemilihan Media, sebagai berikut :

  1. Motivasi
  2. Perbedaan Individual
  3. Tujuan Pembelajaran
  4. Organisasi isi
  5. Pesiapan sebelum belajar
  6. Emosi
  7. Partisipasi
  8. Umpan Balik
  9. Penguatan
  10. Latihan dan pengulangan
  11. Penerapan

Tiba pada hari Senin, 9 April 2018 kami mulai mempresentasikan hasil diskusi kami (Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran Rombel A) yang terdiri dari 10 kelompok kecil dan tiap kelompok terdiri atas 5-6 Mahasiswa. Untuk teknis diskusi menggunakan model panel. Kami maju dari setiap perwakilan kelompok. Satu kelompok perwakilan satu orang yang mempresentasikan. Dalam mempresentasikannya pun kami harus menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana bentuk Mind Mapping kelompok?
  2. Materi apa yang kelompok pilih? Kemudian, mengapa memilih materi tersebut?
  3. Media apa yang kelompok pilih? Mengapa kelompok memilih media tersebut?

Kemudian perwakilan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya sebagai berikut:

  1. Kelompok yang pertama diwakilkan oleh Rizka Gia Nur Hanifah, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok pertama memilih materi mengenai Tata Ruang Kantor dengan alasan bahwa dalam penyampaian mengenai materi tata ruang kantor masih berfokus pada teori saja sehingga perlu dibuat media untuk memudahkan siswa memahami materi mengenai tata ruang kantor. Media yang dipilih yaitu miniatur tata ruang kantor yang meliputi tata ruang kantor terbuka, tata ruang kantor tertutup, tata ruang kantor gabungan.

2. Kelompok yang kedua diwakilkan oleh Nur Tauzum, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok kedua memilih materi mengenai Otomatisasi Sarana Dan Prasarana Kantor yang tidak jauh berbeda dengan kelompok pertama, alasan memilih materi karena materi yang sering didapat mengenai kearsipan dan masih kebingungan sehingga perlu pembuatan media. Media yang dipilih yaitu maket tata ruang kantor karena dianggap lebih nyata dibandingkan hanya dengan penjelasan materi.

3. Kelompok yang ketiga diwakilkan oleh Nike Norliya, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok ketiga memilih materi mengenai Arsip Dinamis sebab arsip dinamis merupakan arsip yang masih digunakan secara langsung untuk menunjang kegiatan kantor. Media yang dipilih yaitu Sterofom yang dibuat seperti jamur berbentuk kantong kemudian didalamnya berisi materi untuk disampaikan kepada siswa.

4. Kelompok yang keempat diwakilkan oleh Winarni, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok keempat memilih materi mengenai Kearsipan yang berfokus pada Siklus Hidup Arsip, dengan pertimbangan materi yang sangat banyak sehingga dibutuhkan media dalam pembelajarannya. Media yang dipilih yaitu membuat video dari tahapan siklus hidup arsip. Video tersebut berisi wawancara kepada narasumber yang sudah ahli dan kemudian memberi contoh pelaksanaan dari siklus hidup arsip.

5. Kelompok yang kelima diwakilkan oleh Monalisa , dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok kelima memilih materi mengenai Komunikasi sebab sebuah komunikasi tidak hanya teori saja namun lebih terhadap pengimplementasian dalam kehidupan sehari-hari. Media yang dipilih yaitu roda berkata (Roda yang berisi kata-kata) dan kemudian memilih metode pembelajaran role playing (bermain peran).

6. kelompok yang keenam diwakilkan oleh Rizqi Mustika Wati, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok keenam memilih materi mengenai Korespondensi yang berfokus pada Surat, dengan pertimbangan korespondensi yang materinya sangat luas jika hanya teori saja maka siswa akan mudah lupa sehingga perlu media agar siswa lebih mudah mengingat. Media yang dipilih yaitu media cetak yang berupa jenis-jenis surat seperti surat niaga, surat dinas dan surat pribadi, sterofom dan kemudian simulasi/video mengenai praktik melipat surat.

7. Kelompok ketujuh diwakilkan oleh Ninuk Dwi Agustin, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok ketujuh memilih materi mengenai Surat yang tidak jauh berbeda dengan kelompok enam yang diharapkan nantinya siswa lebih mudah memahami. Media yang dipilih yaitu sterofom yang berisi mengenai bentuk-bentuk lipatan surat.

8. Kelompok yang kedelapan diwakilkan oleh M. Rijal Lutfi, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok kedelapan memilih materi mengenai Stenografi (karundeng), dengan pertimbangan beberapa siswa kesulitan mengikuti materi. Media yang dipilih yaitu permainan monopoli.

9. Kelompok yang kesembilan diwakilkan oleh Ana Rachmawati, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok kesembilan memilih materi mengenai Arsip, sebab arsip menjadi identitas dan menjadi permasalahan yang krusial dalam administrasi perkantoran. Media yang dipilih yaitu video peraga yang dapat digunakan sebelum pembelajaran berlangsung maupun setelah pembelajaran.

10. Kelompok yang kesepuluh diwakilkan oleh Eka Tiara, dengan hasil diskusi sebagai berikut :

Kelompok kesepuluh memilih materi mengenai Sarana dan Prasarana Kantor, sebab kelas X terkhusus pada SMK Jurusan Administrasi Perkantoran belum mengenal praktik. Media yang dipilih yaitu permainan teka-teki silang dengan model pembelajaran problem promoting.

Dari kesepuluh pemilihan media tersebut seorang guru tetap berperan penting dalam menghidupkan media sebab tanpa adanya peran guru media tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Namun pada kurikulum 2013 peran guru tidak boleh mendominasi dalam pembelajaran maka dari itu pembuatan media tetap dibutuhkan dalam kegiatan belajar-mengajar agar mencapai tujuan belajar yang efektif dan efisien.
Hasil diskusi kelompok 6 :

 

 

Pemilihan Media Pembelajaran

Pertemuan ke 4 : Senin, 2 April 2018

Dosen Pengampu : Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.

Pada pertemuan keempat kali ini kita akan membahas materi mengenai pemilihan media pembelajaran yang benar. Jadi dalam pemilihan media perlu adanya pertimbangan-pertimbangan yang harus dipelajari. Dalam buku Azhar Arsyad (2015) halaman 67 hingga 78. Dalam buku tersebut dijelaskan secara terperinci mengenai pertimbangan-pertimbangan dalam memilih media pembelajaran seperti motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi, persiapan sebelum belajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan (reinforcement), latihan dan pengulangan, serta penerapan.

Dalam bukunya Azhar Arsyad dijelaskan mengenai penekanan dalam pembelajaran seperti menghafal, menerapkan keterampilan, mengaitkan hubungan-hubungan, dan berpikir lebih tinggi. Dalam pembelajaran tersebut pemilihan media yang tepat perlu diperhatikan. Beberapa contoh pemilihan media yang tepat :

  • Menghafal dapat memilih media record / mendengarkan suara rekaman secara berulang-ulang
  • Menerapkan keterampilan dapat memilih media praktik maupun melalui demonstrasi, dan lain-lain.

Jadi dalam pemilihan media pembelajaran tidak selamanya menggunakan video. Video sebagai salah satu dari banyaknya media pembelajaran. Penggunaan media perlu adanya kesesuaian terhadap materi yang akan dijelaskan. Bisa saja kita menggunakan media gambar, penjelasan melalui power point, bisa juga melalui alat peraga dan lain sebagainya.

Sebelum memillih media pembelajaran terdapat beberapa tips yang harus diperhatikan sebagai berikut :

  1. Perhatikan materi maupun mata pelajaran yang akan dibuat media pembelajaran. Apakah materi maupun mata pelajaran tersebut berupa pemahaman secara kognitif maupun berupa praktik/psikomotorik.
  2. Buatlah sebuah peta konsep maupun mind mapping sesuai dengan materi yang akan dijelaskan. Peta konsep tidak boleh terlalu meluas maknanya (secara kompleks), namun lebih spesifik agar mudah dipahami oleh siswa.
  3. Pilih media yang tepat. Jadi harus ada kesesuaian antara media yang digunakan dengan materi maupun mata pelajaran. Media digunakan sebagai alat, dengan pemilihan alat yang tepat maka pesan ataupun materi akan tersampaikan dengan baik dan lancar.

Dalam bukunya Azhar Arsyad (2015: 74) juga dijelaskan bahwa kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media pembelajaran merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Maka beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran yang baik adalah sebagai berikut :

  1. Sesuai dengan tujuan

Media pembelajaran harus dipilih berdasarkan tujuan instruksional dimana akan lebih baik jika mengacu setidaknya dua dari tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini bertujuan agar media pembelajaran sesuai dengan arahan dan tidak melenceng dari tujuan. Media pembelajaran juga bukan hanya mampu mempengaruhi aspek intelegensi siswa, namun juga aspek lain yaitu sikap dan perbuatan.

Tepat Mendukung Materi yang Bersifat Fakta, Konsep, Prinsip, dan Generalisasi. Tidak semua materi dapat disajikan secara gamblang melalui media pembelajaran, terkadang harus disajikan dalam konsep atau simbol atau sesuatu yang lebih umum baru kemudian disertakan penjelasan. Ini memerlukan proses dan keterampilan khusus dari siswa untuk memahami hingga menganalisis materi yang disajikan. Media pembelajaran yang dipilih hendaknya mampu diselaraskan menurut kemampuan dan kebutuhan siswa dalam mendalami isi materi.

2. Praktik, Luwes, dan Bertahan

Media pembelajaran yang dipilih tidak harus mahal dan selalu berbasis teknologi. Pemanfaatan lingkungan dan sesuatu yang sederhana namun secara tepat guna akan lebih efektif dibandingkan media pembelajaran yang mahal dan rumit. Simpel dan mudah dalam penggunaan, harga terjangkau dan dapat bertahan lama serta dapat digunakan secara terus menerus patut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih media pembelajaran.

3. Mampu dan Terampil Menggunakan

Apapun media yang dipilih. guru harus mampu menggunakan media tersebut. Nilai dan manfaat media pembelajaran sangat ditentukan oleh bagaimana keterampilan guru menggunakan media pembelajaran tersebut. Keterampilan penggunaan media pembelajaran ini juga nantinya dapat diturunkan kepada siswa sehingga siswa juga mampu terampil menggunakan media pembelajaran yang dipilih.

4. Pengelompokan Sasaran

Siswa terdiri dari banyak kelompok belajar yang heterogen. Antara kelompok satu dengan yang lain tentu tidak akan sama. Untuk itu pemilihan media pembelajaran tidak dapat disama ratakan, memang untuk media pembelajaran tertentu yang bersifat universal masih dapat digunakan, namun untuk yang lebih khusus masing-masing kelompok belajar harus dipertimbangkan pemilihan media pembelajaran untuk masing-masing kelompok.

Hal yang perlu diperhatikan mengenai kelompok belajar siswa sebagai sasaran ini misalnya besar kecil kelompok yang bisa digolongkan menjadi 4 yaitu kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, dan perorangan. Latar belakang secara umum tiap kelompok perli diperhatikan seperti latar belakang ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Kemampuan belajar masing-masing siswa dalam kelompok juga wajib diperhatikan untuk memilih mana media pembelajaran yang tepat untuk dipilih.

5. Mutu Teknis

Pemilihan media yang akan digunakan harum memenuhi persyaratan teknis tertentu. Guru tidak bisa asal begitu saja menentukan media pembelajaran meskipun sudah memenuhi kriteria sebelumnya. Tiap produk yang dijadikan media pembelajaran tentu memiliki standar tertentu agar produk tersebut laik digunakan, jika produk tersebut belum memiliki standar khusus guru harus mampu menentukan standar untuk produk tersebut agar dapat digunakan untuk media pembelajaran.

Pemilihan media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran yang memperhatikan kriteria-kriteria tersebut akan menghasilkan atau menemukan media pembelajaran yang berkualitas dan sesuai atau tepat digunakan untuk masing-masing materi pembelajaran. Media pembelajaran yang dipilih juga mampu dengan mudah membantu guru menyampaikan materi kepada siswa, siswa juga dapat lebih mudah menerima dan memahami materi pembelajaran dengan bantuan media pembelajaran yang sudah dipilih berdasarkan kriteria diatas.

Beberapa nilai tambah lain juga bisa didapat jika tepat dalam pemilihan media pembelajaran. Misalnya saja siswa mampu menambah atau meningkatkan keterampilan tertentu seperti mendengarkan dan konsentrasi. Dari segi keekonomisan pemilihan media pembelajaran yang mampu digunakan berkali-kali juga sangat dapat menekan biaya atau anggaran untuk pengadaan dan produksi media pembelajaran.

Referensi:

Arsyad, Azhar. 2015. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press

Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd. Dosen Pengampu Mata Kuliah Pengembangan Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran

Media Visual : Video sebagai salah satu Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran

Pertemuan ke 3:  Senin, 26 Maret 2018

Dosen pengampu Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.

Pada pertemuan minggu lalu kita sudah membahas mengenai apa itu media pembelajaran. Nahh pada pertemuan kali ini kita akan membahas mengenai video sebagai salah satu media pembelajaran. Video dapat digunakan sebagai media pembelajaran sesuai dengan subyek materi yang akan dipelajari. Video merupakan teknologi pengiriman sinyal elektronik dari suatu gambar bergerak (sumber: Wikipedia). Dengan melihat sebuah tayangan video diharapkan siswa dapat lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan oleh Bapak/Ibu Guru.

Video sebagai media pembelajaran bidang ilmu Administrasi Perkantoran

Pada pertemuan ketiga ini kita membahas mengenai video sebagai salah satu media pembelajaran dalam bidang ilmu Administrasi Perkantoran. Setelah diperlihatkan beberapa video oleh Bapak Agung Kuswantoro, terdapat beberapa jenis video pembelajaran yang biasa digunakan:

  1. Bersifat Kognitif, yaitu mengenai pemahaman siswa terhadap materi maupun berfokus pada teori. Seperti contoh pada mata pelajaran kearsipan hanya ditampilkan dalam bentuk teks maupun full Jenis video ini dianggap kurang efektif karena sama halnya dengan membaca buku namun dikemas menjadi sebuah video. Sehingga siswa kurang tertarik untuk melihat tayangan video sampai akhir.
  2. Softskill dalam bidang Administrasi Perkantoran. Jenis video ini berisi pemahaman materi namun dilakukan melalui wawancara kepada narasumber yang expert dalam bidang Administrasi Perkantoran. Jenis video ini lebih mudah dipahami karena melihat interaksi antara seseorang kepada orang lain yang sudah bekerja pada bidang Administrasi Perkantoran maupun kepada seseorang yang sudah berpengalaman. Seperti contoh: wawancara kepada sekretaris, office administration department.
  3. Bersifat Psikomotor/praktik. Jenis video ini menekankan pada pemberian stimulus atau rangsangan kepada siswa melalui sebuah gerakan. Seperti contoh pada mata pelajaran kearsipan tentang peralatan arsip, pada video tersebut memperlihatkan secara langsung jenis-jenis peralatan arsip seperti filling cabinet yang kemudian dijelaskan isinya yang terdapat berbagai macam map atau folder serta menjelaskan kegunaannya. Jenis video ini lebih menarik dan mudah dipahami karena siswa akan mudah mengingat dengan diperlihatkannya peralatan secara langsung melalui video.
  4. Praktik secara langsung di sebuah kantor atau instansi. Video ini berisi mengenai kegiatan administrasi secara menyeluruh mulai dari menerima tamu, menelepon, mengetik dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan administrasi. Jenis video ini sangat mudah dipahami karena video tesebut berisi kegiatan secara langsung sehingga siswa dengan mudah dapat memahami system dan pembagian kerja dalam bidang administrasi.

Dari berbagai jenis video yang ditayangkan ada beberapa kekurangan dan kelebihan. Dalam pembuatan video sebagai media pembelajaran perlu diperhatikan beberapa aspek-aspek yang terkait agar media yang digunakan efektif sehingga dapat mempermudah siswa dalam memahami materi. Sebuah video harus dibuat semenarik mungkin agar siswa tertarik untuk melihat, dengan ketertarikan tersebut maka siswa akan mengulang-ulang tayangan video yang dilihatnya. Dalam pembuatan video juga harus memperhatikan materi apa yang akan disampaikan, sehingga ada keterkaitan antara materi dengan video yang ditayangkan. Seperti contoh pada mata pelajaran kearsipan selain video yang berisi teori tentang menyimpan surat namun juga ada praktik menyimpan surat secara langsung oleh seorang arsiparis.

Peta Konsep

Selain media visual atau video, membuat peta konsep juga membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Dalam bidang ilmu Administrasi Perkantoran yang mencakup materi secara kompleks dapat kita jadikan peta konsep dengan mengambil sub bab dalam setiap mata pelajaran. Dengan membuat peta konsep siswa dapat lebih mudah menyimpulkan materi yang sedang dipelajari. Peta konsep adalah suatu gambar yang memaparkan struktur konsep yaitu  keterkaitan antar konsep dari suatu gambaran yang menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dari suatu materi pelajaran yang dihubungkan dengan suatu kata penghubung sehingga membentuk suatu proposisi. Karena itu, peta konsep akan mendorong siswa menghubungkan konsep-konsep selama belajar, sehingga tercapai pembelajaran yang bermakna (Dahar,1989:123).

Contoh Peta Konsep dalam Administrasi Perkantoran:

Media Pembelajaran Administrasi Perkantoran

Pertemuan ke 2:  Senin, 19 Maret 2018

Dosen pengampu Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.

Pada kali ini saya akan membahas mengenai apa itu Media Pembelajaran, pada mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran yang diampu oleh Bapak Agung Kuswantoro dan Ibu Wisudani Rahmaningtyas. Sebelumnya, sudah dijelaskan dalam buku yang berjudul Media Pembelajaran karangan Prof.Dr.Azhar Arsyad, M.A. menyebutkan bahwa interaksi yang terjadi selama proses belajar dipengaruhi lingkungannya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku, modul, selebaran, majalah, rekaman, video, atau audio) dan berbagai sumber belajar dan fasilitas (proyektor overhead, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar dan lain lain). Jadi media sebagai perantara dalam menyampaikan sebuah pesan. Media pembelajaran adalah alat atau sarana untuk membantu dan mempermudah dalam memahami pembelajaran sesuai dengan bidang keilmuan.

Banyak sekali media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar seperti yang sudah dijelaskan dalam bukunya Azhar Arsyad, namun untuk Media Pembelajaran terkhusus dalam bidang Administrasi Perkantoran masih minim sekali bahkan tidak ada saat ditelusuri dalam pencarian google. Akan sangat berbeda jika kita mencari Media Pembelajaran dalam bidang Matematika, Geografi dan Biologi. Semua bidang tersebut sangat lengkap untuk media pembelajarannya dari yang sangat sederhana hingga rumit. Seperti contoh Matematika ada bangun ruang yang dibentuk media pembelajaran secara tiga dimensi, bidang Geografi dengan media gambaran gunung meletus, dan bidang Biologi seperti pembuatan kerangka manusia. Banyak sekali contoh media pembelajaran yang digunakan dalam bidang tersebut. Namun dalam bidang Administrasi Perkantoran tidak ada media pembelajaran yang dikhususkan. Untuk itu kita sebagai mahasiswa dalam bidang Administrasi Perkantoran diharapkan dapat membuat dan menciptakan media pembelajaran sesuai dengan bidang Administrasi Perkantoran sendiri.

Kita dapat belajar dari tokoh Bapak Azhar Arsyad. Beliau merupakan dosen di Universitas Alauddin Makassar yang telah menciptakan karyanya berupa buku media pendidikan. Selain itu Bapak Adi Nurcahyono. Beliau merupakan dosen UNNES Fakultas MIPA yang fokus pada penggunaan media pembelajaran berbasis IT. Kemudian Bapak Romi Satrio Wahono, beliau merupakan Dosen Ilmu Komputer UDINUS. Dan tak lupa Bapak Agung Kuswantoro, beliau merupakan dosen UNNES pada prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Pendidikan Ekonomi yang mengampu mata kuliah Media Pembelajaran. Beliaulah yang telah mengenalkan saya kepada sosok pakar Media Pembelajaran yang telah saya sebutkan diatas.

Selain itu, Bapak Agung Kuswantoro juga menjelaskan apa itu “Gudmen”. Gudmen merupakan media pembelajaran pada mengetik manual. Media Gudmen sendiri sudah diteliti oleh Bapak Agung Kuswantoro yang dimuat di jurnal Lembar Ilmu Pendidikan. Selain itu beliau juga telah mengembangkan media pembelajaran e arsip untuk mata kuliah kearsipan. Selain itu, juga media audio pada mata kuliah stenografi. Sangat menarik bukan jika kita dapat menciptakan sebuah karya untuk pengembangan media pembelajaran terutama pada prodi sendiri yaitu Administrasi Perkantoran.

Di dalam bidang Administrasi juga mempelajari EPM dan SKM, yang saya jelaskan sebagai berikut :

          EPM (hentakan per menit) yang artinya berapa hentakan yang seharusnya terjadi dalam waktu satu menit dalam mengetik. EPM dihitung per huruf sehingga apabila ingin mengetik kalimat “Administrasi Perkantoran” maka dihitung 26 hentakan cara menghitungnya adalah dengan menghitung per huruf dan untuk huruf kapital berarti dihitung 2 kali hentakan ditambah dengan spasi yang terdapat dalam kalimat tersebut. Yang biasanya digunakan pada penghitungan mengetik manual.

          SKM (suku kata per menit) yaitu kemampuan dalam menulis yang dihitung dalam waktu satu menit. Misalnya menulis stenografi kalimat “Administrasi Perkantoran” maka dihitung 9 suku kata yaitu dengan menghitung jumlah suku kata dalam kalimat tersebut.

Sekian penjelasan saya mengenai Media Pembelajaran. Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat :)

Post Anak Kos #5

Anak kos!

Yapp Benar sekali “Anak Kos”. Bagaimana pandangan kalian mengenai dua kata itu. Kalimat apa yang terbesit pertama kali mengenai dua kata itu? Pastinya kalian menjawab anak kos sama halnya orang yang mandiri bukan?, orang yang jauh dari keluarga?, atau yang lebih parah lagi orang yang sarapan dan makan siangnya digabung jadi satu? Apapun pendapat kalian tentang anak kos itu ada benarnya juga.

Dan semua itu yang saya rasakan sekarang, semenjak kuliah di Unnes. Ya kurang lebih 3 bulan sampai sekarang. Jadi anak kos yang mencoba mandiri, jauh dari orang tua, dan bahkan saya juga udah ngrasain sarapan dan makan siang digabungin jadi satu. Dan parahnya lagi numpang mandi di kost temen, di masjid juga udah pernah saya lakukan.

Ini pengalaman pertama saya menjadi anak kos, dan dari itu pula saya menemukan berbagai macam orang dengan sifat dan watak yang berbeda-beda dari seluruh Indonesia. Dari dulu saya belum pernah terfikirkan sebelumnya, dan pertama kali saya kos yaitu di Semarang, lebih tepatnya di Sekaran, Gunungpati. Keren kan?

Jadi anak kos itu keren lohh, kok bisa sih? ada banyak alasan untuk menjawab pertanyaan itu, menurut pendapat saya sendiri ada standar kekerenan misalnya seperti dapat mandiri walaupun masih dibantu orang tua. Mandiri yang saya maksud disini kita dapat mengatur apa yang akan kita lakukan jika jauh dari orang tua, seperti mengatur pola makan, mengatur keuangan, bahkan mengatur waktu untuk diri sendiri.

Dari pengalaman pertama saya inilah saya dapat menemukan beberapa fakta mengenai anak kos, walaupun saya jadi anak kos baru 3 bulanan. Menjadi anak kos harus siap mental bahkan fisik sekalipun karena dari anak kos kita bisa belajar kerasnya hidup di perantauan meskipun uang masih pemberian dari orangtua tapi setidaknya kita bisa belajar mandiri untuk mengatur keuangan sendiri tanpa harus setiap hari meminta orangtua. Di sini saya juga harus menghadapi banyak teman yang berbeda karakter, ini dapat dikatakan seperti penyesuaian hidup dengan orang banyak yang tidak dikenal sebelumnya.

Fakta selanjutnya yang saya temukan, kita sebagai makhluk social tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, kebayang kan jika kita tidak keluar berinteraksi dengan teman kos sebelah, kita hanya mantengin smartphone atau mungkin laptop sekalipun yang katanya update biar nggak kudet, seperti facebookan, twiteran, instagraman bahkan nulis blog sekalipun. itu akan memunculkan stress dan sifat galau. Bantuan itu bukan hanya berarti pertolongan semata loh, tetapi bantuan untuk menanyakan pendapat, atau hanya ingin curhat tentang masalah pribadi. Tetapi, ada tetapinya loh ya, ada kalanya teman tidak ingin diganggu dalam kesibukannya kita liat dulu timing yang tepat. Kebanyakan dari kita jika sudah ditolong, bakalan ketergantungan untuk bergantung pada orang lain, itu jangan sampai kejadian karena bahaya buat kita sendiri. Belum tentu kan orang yang nolongin kita terus menerus tidak merasa keberatan, pasti ada anggapan bahwa kita merepotkan dia.

Fakta-fakta selanjutnya misalnya ya kita sebagai anak kos juga perlu perhatian dari keluarga kita bahkan orang tua kita sendiri. Kita juga perlu diberikan kepercayaan dari mereka untuk dapat menyelesaikan studi di tempat yang jauh. Perlu juga sesekali menghubungi orang tua, menanyakan keadaannya, bahkan meminta doa.

Fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi yaitu anak kos mempunyai kehidupan yang bebas, bebas melakukan apapun, tanpa ada seorangpun yang mengawasi termasuk keluarga kita dirumah. Kebebasan itulah yang menuntut kita untuk mandiri. Mandiri disini maksudnya melakukan sesuatu hal dengan batas sewajarnya, tidak berbuat melampaui batas yang akan merugikan diri kita sendiri juga, tidak melakuan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Inilah yang disebut mandiri, dimana kita menjadi anak kos yang dapat mengatur hidup kita sendiri dengan tidak meninggalkan ajaran yang telah diajarkan orangtua kita. Menjadi pribadi santun dan tentunya taat pada agama. Seorang pribadi yang berakhlakul karimah.

Dan fakta yang terakhir, salah bahwa kita bersaingan untuk memiliki sesuatu yang baru misalnya dalam hal fashion maupun berpakaian. Saat kita melihat teman kos kita memakai pakaian baru tentunya dari antara kita punya hasrat untuk memilikinya.Bahkan sebagian dari kita rela menghabiskan uang jajannya untuk keperluan sehari-hari digunakan untuk membeli pakaian yang baru. Hal tersebut sangat tidak etis bagi mahasiswa khususnya mahasiswa unnes sendiri. Fakta lain yang sering terjadi di sekitar kita, misalnya kita meminjam barang teman dan barang tersebut sering kita pinjam padahal barang tersebut tidak seberapa harganya dan kita mampu untuk membelinya sendiri. Kalian nggak akan pernah tahu apa yang dipikirkan orang yang meminjamkan. Siapa tahu, orang itu menganggap kamu merepotkan bahkan menggangu karena keseringan. Memang tidak dilarang meminjam, tetapi setidaknya kita tahu diri kalau perbuatan tersebut akan menjadi kebbiasaan yang buruk bahkan tidak bisa mandiri.

Menurut saya itu fakta yang saat ini saya rasakan, apakah kalian memiliki fakta maupun pengalaman lain? Coba tambahin pengalaman kalian di komentar. Sekian dari saya. Terima kasih.

”Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan ini adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

 

Bumi Sukowati #4

Selamat Datang di postingan blogku yang keempat, untuk kali ini saya akan membahas mengenai daerah asal saya. Ya, sebut saja Kabupaten Sragen. Kabupaten yang terdiri dari 20 kecamatan.

Kabupaten Sragen adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya terletak di Sragen, sekitar 30 km sebelah timur Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di utara, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di timur, Kabupaten Karanganyar di selatan, serta Kabupaten Boyolali di barat.

Kabupaten ini dikenal dengan sebutan “Bumi Sukowati”, nama yang digunakan sejak masa kekuasaan Kerajaan (Kasunanan) Surakarta. Nama Sragen dipakai karena pusat pemerintahan berada di Sragen.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sragen

Tepat sekali kalian membaca blog ini, untuk kali ini saya akan menceritakan tempat tinggal saya yaitu Kabupaten Sragen. Sragen terkenal dengan situs manusia purba yang dikenal dengan nama “Museum Purbakala Sangiran”. Sangiran merupakan tempat wisata sekaligus tempat penemuan fosil-fosil zaman purbakala. Menurut laporan UNNESCO (1995) “Sangiran diakui oleh para ilmuwan untuk menjadi salah satu situs yang paling penting di dunia untuk mempelajari fosil manusia, disejajarkan bersama situs Zhoukoudian (Cina), Willandra Lakes (Australia), Olduvai Gorge (Tanzania), dan Sterkfontein (Afrika Selatan), dan lebih baik dalam penemuan daripada yang lain.” Sangiran terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sekitar 15 km dari Solo atau 40 km dari Sragen. Menarik sekali kan? Ayo berkunjung ke Sragen.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti bidikmisi Blog Awards di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Pendidikan Konservasi #3

Di sini saya akan membahas tentang pendidikan konservasi melanjutkan blog saya yang sebelumnya.

Pendidikan konservasi merupakan sebuah proses pembelajaran untuk membangun spirit mahasiswa, tentang lingkungan untuk pembangunan berwawasan masa kini dan memerhatikan generasi mendatang. Tujuan pendidikan konservasi adalah untuk mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.

UNNES sebagai universitas konservasi harus mengusung pendidikan konservasi bagi mahasiswa baik program studi kependidikan maupun non kependidikan. Kegiatan ini merupakan pembinaan sekaligus pendidikan yang sangat nyata. Aspek penting yang diterapkan dalam pembelajaran mata kuliah ini adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif meliputi proses pemahaman dan menjaga keseimbangan lingkungan. Aspek afektif yang dapat diterapkan dalam pendidikan konservasi meliputi sikap, nilai, dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan (sustainable). Aspek psikomotorik yang diterapkan dalam pendidikan konservasi meliputi perilaku dan keterampilan mahasiswa dalam mengelola lingkungan.

Universitas Negeri Semarang (Unnes) adalah salah satu universitas yang mengedepankan pentingnya konservasi. Dalama Peraturan Rektor Universitas Negeri Semarang Nomor 27 Tahun 2012 Tentang Tata Kelola Kampus Berbasis Konservasi di Universitas Negeri Semarang pada Pasal 2 disebutkan bahwa tata kelola berbasis konservasi bertujuan mewujudkan suasana kampus yang mendukung perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan lingkungan hidup secara bijaksana melalui pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dan partisipasi, penuh dari warga unnes.

Berdasarkan pemahaman tersebut maka setiap unit kerja bertanggungjawab mendukung, menjaga, memantau, dan melakukan koordinasi untuk mewujudkan partisipasi aktif dari warga Unnes. Warga Unnes berkewajiban mendukung pelaksanaan tata kelola kampus berbasis konservasi dan setiap unit kerja wajib mendorong dan memfasilitasi pengembangan tata kelola kampus berbasis konservasi. Pada Pasal 3 juga disebutkan bahwa tata kelola kampus berbasi konservasi diwujudkan melalui 7 (tujuh) pilar utama universitas konservasi, yakni :

  1. Konservasi keaneragaman hayati
  2. Arsitektur hijau dan sistem transportasi internal
  3. Pengelolaan limbah
  4. Kebijakan nirkertas
  5. Energi bersih
  6. Konservasi, etika, seni, dan budaya
  7. Kaderisasi konservasi

Sebagai kader konservasi setiap mahasiswa unnes diwajibkan memiliki 11 nilai karakter konservasi, yaitu :

  1. Religius
  2. Jujur
  3. Cerdas
  4. Adil
  5. Tanggung jawab
  6. Peduli
  7. Toleran
  8. Demokratis
  9. Cinta tanah air
  10. Tangguh
  11. Santun

Sumber : http://www.konservasi.unnes.ac.id.17 juni 2015.

”Tulisan ini dibuat untuk mengikuti bidikmisi Blog Awards di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan”.

 

Parikan Konservasi untuk Unnes Konservasi #2

Parikan, mungkin bagi sebagian kita pernah mendengar atau bahkan pernah mempelajarinya. Dulu, waktu masih di bangku SD dan SMP bahkan SMA sekalipun dalam pelajaran bahasa jawa membahas juga tentang parikan. Parikan sendiri mirip seperti pantun, tapi menggunakan bahasa jawa. Dari wikipedia, pengertian parikan ada dalam dua versi, bahasa jawa dan bahasa indonesia. Berikut saya kutipkan pengertian parikan dari wikipedia.org:
Parikan atau kidungan adalah salah satu bagian dalam kesenian tradisional ludruk. Di dalam ludruk, ada tiga jenis parikan saat bedayan (bagian awal permainan ludruk). Yaitu, lamba (parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa berisi kisah-kisah kocak).

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Parikan
Masih dari wikipedia, dalam versi bahasa jawa, pengertian parikan adalah sebagai berikut:
Parikan iku unèn-unèn kang dumadi seka rong ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigatèn, kang kapindho minangka isi. Parikan iki kaya pantun nanging mung rong larik. Parikan migunaake purwakanthi swara.

Berikut contoh parikan tentang konservasi :

Awan – awan ngombe es,

Bareng kanca kelas administrasi

Nalika dadi warga unnes

Wajib njunjung pilar konservasi

 

Mlayu –mlayu ning rektorat,

Mampir MKU njupuk presensi

Yen kepengen jumat sehat,

Ayo bebarengan senam konservasi

 

Mangan sego sambel trasi,

Lungguh sandingan dibagi rata

Ijo – ijo kampus konservasi,

Sinawang endah ing mata

 

Menyang kantor nganggo dasi,

Ora lali nganggo klambi

Yo mung unnes konservasi,

Kang dadi nomer siji

 

Mangkat ngaji nganggo doa,

Mulih ngaji nganggo salam

Yen kepengen urip sejahtera,

Ayo podo jogo alam

 

Manuk emprit nucuk pari,

Podo jogo alam kareben lestari

Terima Kasih telah mengunjungi blog saya. Don’t be sad because god everywhere.

”Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan ini adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Membangun Rumah Ilmu untuk Mewujudkan Universitas Konservasi Bereputasi #1

Salam Konservasi!

Ya salam itu tidak asing lagi bagi mahasiswa Universitas Negeri Semarang, salam itu seringkali terdengar di telinga kita bahkan sering kita teriakan dalam berbagai acara di Universitas Negeri Semarang. Namun untuk kali ini saya tidak akan membahas tentang salam konservasi tersebut melainkan akan membahas tentang “Membangun Rumah Ilmu untuk Mewujudkan Universitas Konservasi Bereputasi” sesuai dengan tema kompetisi blog di Universitas Negeri Semarang.

Berbicara tentang rumah, tau rumah kan? Kalian juga punya rumah kan? Ya tentu saja tanpa pikir panjang lebar lagi, rumah is everything. Rumah sendiri sebagai tempat kita hidup, berlindung, berteduh dan bahkan kumpul bersama keluarga tercinta. Banyak cerita di sana, canda, tawa bahkan duka sekalipun tersimpan di dalamnya. Namun untuk membangun rumah perlu adanya pondasi yang kuat agar rumah tersebut kokoh dalam menopang kehidupan kita. Tidak dibangun begitu, perlu adanya pemikiran yang khusus untuk membangun rumah sesuai keinginan dan tujuan bersama keluarga. Seperti halnya dengan membangun rumah ilmu ya seperti yang saya jelaskan tadi membangun rumah ilmu juga perlu adanya perencanaan yang matang agar tidak terjadi masalah untuk kedepannya. Membangun rumah ilmu maksudnya disini kita disuruh untuk belajar, berlatih, bahkan mencobanya untuk mewujudkan universitas konservasi. Sebagai mahasiswa Universitas Negeri Semarang seharusnya kita bangga karena Universitas Negeri Semarang disebut sebagai kampus Konservasi. Kampus nan hijau.

Mungkin hanya ini yang bisa saya tulis di blog ini. Untuk kurang lebihnya saya mohon maaf karena ini kali pertama saya membuat blog. Jika ada kesalahan mohon kritik dan saran. Jangan bosan-bosan untuk mampir lagi di blog saya ya. Terima kasih atas kunjungan anda dan semoga bermanfaat. Sekian dan Terima Kasih.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Skip to toolbar