Asiknya Belajar Antropologi Kesehatan

SEBUAH ungkapan berbunyi, “Tak kenal, maka tak sayang” atau yang sering dimodifikasi  menjadi “Tak kenal maka taaruf“, memang patut diterapkan terlebih dahulu di sini: sebagai awalan dalam memahami keasyikan studi Antropologi. Terutama –dalam hal ini– Antropologi Kesehatan.

Berbeda dengan kesehatan dalam kajian ilmu kesehatan; kebidanan, kedokteran, dan sebagainya antropologi kesehatan dengan akar antropologi; yaitu disiplin ilmu yang mempelajari seluruh aspek perilaku manusia – yang meliputi gagasan, cipta, karya, karsa, rasa masyarakat atau singkatnya, ilmu yang mempelajari manusia dari aspek fisik, sosial maupun budaya jika meminjam ungkapan Koentjaraningrat (1984: 76), tentu menaruh fokus pada bagaimana perilaku masyarakat dengan kebudayaannya – termasuk dalam menyikapi persoalan kesehatan. Sebagaimana Foster dan Anderson (1986: 1-3) yang mendefinisikan antropologi kesehatan sebagai suatu disiplin ilmu yang memberikan perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial-budaya dari perilaku manusia, terutama mengenai cara-cara interaksi antar individu, kelompok –sepanjang sejarah kehidupan manusia– yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada diri manusia. Perilaku-perilaku demikian akan cenderung berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Maka, dengan mempelajari antropologi kesehatan kita akan belajar berbagai fenomena sehat-sakit dalam berbagai masyarakat dan kebudayaannya. Dari hal itu, seringkali kita akan memperoleh suatu paradigma baru, pengalaman baru, yang menarik untuk menjadi bahan diskusi bersama baik di suatu forum kajian yang sangat kritis penuh asumsi dan perdebatan, maupun sekadar mengisi obrolan santai dengan kenikmatan kopi yang tersaji di warung-warung pinggir jalanan.

Belajar antropologi kesehatan tidak hanya untuk kalangan intelektual akademisi, tetapi siapa saja; pekerja kantoran, wirausahawan, pelajar tingkat menengah, kaum muda yang merasa awam atau bahkan jika tidak sempat mengenyam pendidikan formal sekalipun, silahkan mencoba memahami studi antropologi kesehatan. Terlebih jika memang dirimu adalah pelajar yang menaruh minat besar terhadap kondisi sosial-humaniora, maka mempelajari antropologi kesehatan akan membawa ke realitas dunia yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dengan berbagai budaya, yang begitu luas dengan keberagaman dan lokalitasnya, dan dalam lingkup yang mikro akan memunculkan kesadaran-kesadaran, menumbuhkan tingkat kepekaan, serta berbagai cara pandang yang baru dalam menyikapi berbagai permasalahan disekitarmu.

Berbagai Warna

Sejak dahulu, masalah kesehatan telah menjadi masalah yang sangat vital bagi manusia. Naluri untuk terus berusaha mempertahankan eksistensi dari jenisnya, klannya, kaumnya, atau apapun menjadikan respon manusia terhadap penyakit atau gejala-gejalanya (sakit-sehat) menjadi cukup serius dan penuh kewaspadaan. Misalnya pada orang-orang Jawa dulu yang baru saja melahirkan, seringkali terlihat adanya sebilah pisau yang diletakkan dibawah tempat tidur si bayi. Untuk alasan kesehatan medis modern, tentu akan sedikit rumit penjabaran ilmiahnya mengenai peletakkan pisau tersebut karena memang secara medis jauh dari indikasi, penyebab si bayi menjadi kebal dari kuman, virus, ataupun bakteri yang akan menyerang si bayi. Namun akan sedikit berbeda jika dilihat menggunakan persepsi antropologi. Terdapat kajian mengenai konsep emik dan etik disana, dimana dalam memahami perilaku masyarakat sebaiknya mendahulukan pandangan emik atau berdasar sesuai persepsi masyarakat setempat. Maka yang terlihat adalah bagaimana mereka ingin menghindari ancaman ‘sakit’ pada bayi yang lebih disebabkan oleh barang alus (kekuatan-kekuatan yang mistis, ghaib) sehingga memerlukan sebilah pisau yang diyakini dapat menangkalnya. Fenomena ini dalam antropologi kesehatan masuk pada apa yang disebut etnomedisin atau sistem medis tradisional.

Karena antropologi mengkaji berbagai bentuk perilaku manusia, mempelajari antropologi kesehatan juga dapat membantu dirimu untuk lebih menghargai alam, aspek-aspek lingkungan sekitar yang ternyata turut berperan besar mempengaruhi hidupmu. Dalam hal ini, perhatian mengenai penyebab seorang mengalami sakit-sehat cukup erat kaitannya dengan lingkungan dimana ia tinggal, hidup bersama dan berkebudayaan. Dalam masyarakat desa, masyarakat yang masih tradisional, dapat dipastikan memiliki hubungan yang kuat dengan alam berikut dengan berbagai cara dalam memperlakukannya. Jika kamu amati, adakah tempat-tempat tertentu disekitarmu yang dianggap masyarakat sebagai tempat keramat? Jika ada, seberapa kuat pengaruh yang ditimbulkannya menurut keyakinan masyarakat?. Semakin kuat pengaruh yang ditimbulkannya, atau bahkan dirimu sendiri merasa sangat mewaspadainya dengan harapan terhindar dari bahaya, kesialan, atau apapun, maka dapat dikatakan masyarakat tempat tinggalmu masih bersifat tradisional, kebudayaannya masih khas, tradisi dan adat masih sangat kuat. Jika demikian tentu beberapa permasalahan sakit-sehat sangat dipengaruhi alam, lingkungan.

Misalnya pada masyarakat Jawa, ada yang namanya Kesawan. Penyakit yang satu ini biasanya diyakini terjadi ketika orang yang sakit tersebut melewati tempat keramat dengan seenaknya dan tidak ijin kepada penunggu tempat itu (berupa sesuatu yang mistis dan ghaib). Sesampainya di rumah, ia akan mengalami sakit dengan gejala umumnya; pusing, badan lemas, demam, dan sebagainya. Jika adat yang berlaku masih kuat, ia harus melakukan serangkaian upacara adat untuk meminta maaf dengan memberi sesaji, dsb agar pengaruh dari hal-hal ghaib yang diyakini penyebab dia sakit dapat hilang dan kembali sehat seperti sediakala. Hal ini tidak hanya terjadi dalam kebudayaan Jawa, berbagai suku bangsa lainnya pun tidak lepas dari fenomena yang demikian, dimana masing-masing memiliki pandangan mengenai alam yang beragam. Namun, secara garis besar menurut hemat penulis, pandangan tersebut ingin mengemukakan bahwa kita hidup, semuanya bergantung pada alam. Oleh karena itu, kita harus dapat hidup bersama secara rukun dan berdampingan, serta memanfaatkan alam harus sesuai kadar, proporsinya dalam rangka menjaganya agar tetap lestari. Sehingga, jika kita menjaga kelestarian alam, alam juga akan menjaga kelestarian kita.

Berbagai fenomena kesehatan sangat beragam di negeri seribu pulau ini. Masih banyak masyarakat di daerah pedalaman yang jarang tersentuh arus perkembangan informasi, pengetahuan, maupun teknologi. Berbagai penyakit yang menurutmu unik (karena belum pernah menjumpai sebelumnya) akan sangat terasa disini. Meskipun secara fisik hampir sama, tetapi akan menjadi sangat berbeda karena melihat penyebabnya. Tentu sebenarnya penyebab bagaimana seorang mengalami sakit secara kronologis merupakan ciptaan mereka sendiri yang diwariskan secara turun-temurun hingga kini akibat interaksi mereka dengan alam sekitarnya. Disinilah akan disusun suatu pemetaan tertentu mengenai distribusi, prevalensi (kelaziman) mengenai bentuk-bentuk penyakit tersebut. pemetaan bisa dilakukan, misalnya, pada siapa saja yang dapat terserang penyakit ‘unik’ ini, dimana saja penyakit demikian dapat terjadi, atau pada perbedaan umur, jenis kelamin, dan sebagainya hingga pada kelas sosial yang memungkinkan perbedaan perlakuan serta ritual yang dilakukan untuk menyembuhkannya. Jika hal tersebut telah kamu lakukan beserta tanggapan-tanggapan masyarakat setempat – meskipun masih dalam tingkat yang sederhana, maka sebenarnya dirimu telah mempelajari apa yang dalam antropologi kesehatan disebut dengan Epidemiologi. Menarik bukan? Mempelajari antropologi kesehatan bagi pemula (artinya baru mengenal antropologi) biasanya akan menimbulkan sensasi tersendiri. Berbagai rasa; ngeri, risih, aneh, sadar, takut, termenung, menarik, terharu sekaligus menyenangkan berputar dalam pikiran dan menyatu ingin membantu dalam rasa kemanusiaan. Bahkan jika ingin mempelajarinya lebih mendalam, antropologi kesehatan dalam kajian ‘Sindroma Kebudayaan Khusus’ juga meneliti mengenai bagaimana seorang terkadang mengalami histeris, mengamuk, dan sebagainya menurut kebudayaan mereka.

Penutup

Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa fenomena kesehatan sebenarnya merupakan fenomena perilaku manusia dengan kebudayaannya. Beragam penyakit mulai dari penyakit infeksi seperti malaria, demam berdarah, TBC, maupun non-infeksi seperti stress, depresi, kanker, hipertensi, dan sebagainya tidak selamanya hanya di identifikasi dalam segi medis modern. Meskipun telah teruji tingkat ilmiahnya, kredibilitasnya untuk menemukan obat yang sesuai dengan penyakit-penyakit tersebut, seyogyanya ditelusuri pula dalam persepsi kebudayaannya. Penulis berasumsi bahwa sebenarnya pikiran manusia lah yang mendominasi seseorang merasa sakit atau sehat. Hal ini dapat dilihat pada saat-saat kritis seorang mengalami sakit, dimana sang dokter biasanya memberikan saran pada sanak saudara yang menjenguknya untuk lebih bersikap biasa (tanpa putus asa) dan memberikan motivasi agar si sakit merasa sehat meskipun secara medis penyakitnya cukup parah. Begitu pula dengan seorang yang mengalami koma, setelah operasi, dan seterusnya.

Dengan demikian, belajar antropologi kesehatan –seperti sedikit gambaran yang telah dijelaskan– dapat memperluas wawasanmu mengenai fenomena sakit pada masyarakat masing-masing suku bangsa, bahkan tidak menutup kemungkinan dirimu dapat membuat solusi alternatif yang lebih bijak sebagai penengah yang menjembatani antara medis modern dengan budaya masyarakat. Kesehatan memang perlu mendapatkan perhatian lebih, karena dengan masyarakat yang sehat, proses perkembangan dan pembangunan kearah yang lebih maju dapat terlaksana tanpa merasa kehilangan identitas, dengan kebudayaan, menuju peradaban. []

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: