Vektor dan Gelombang AC

Vektor dan Gelombang AC

Vektor dalam matematika dan fisika adalah obyek geometri yang memiliki besar dan arah. Vektor jika digambar dilambangkan dengan tanda panah (→). Besar vektor proporsional dengan panjang panah dan arahnya bertepatan dengan arah panah. Vektor dapat melambangkan perpindahan dari titik A ke B. Vektor berperan penting dalam fisika: posisi, kecepatan dan percepatan obyek yang bergerak dan gaya dideskripsikan sebagai vektor.

Gambar 1 Panjang vektor menunjukkan amplitudo tegangan AC
Gambar 1 Panjang vektor menunjukkan amplitudo tegangan AC

Sejauh ini kita telah menyatakan nilai tegangan dan arus dengan vektor. Panjang vektor menunjukkan magnitudo (atau amplitudo) dari gelombang, seperti pada gambar ini.

Gambar 2 Sudut vektor adalah beda fasa antara dua gelombang AC
Gambar 2 Sudut vektor adalah beda fasa antara dua gelombang AC

Semakin besar amplitudo suatu gelombang, maka semakin panjang vektor nya. Sedangkan untuk sudut dari vektor menujukkan beda fase antara gelombang tersebut dengan gelombang yang dijadikan referensi (dalam derajat). Biasanya, ketika fase dari suatu gelombang dinyatakan (pada suatu rangkaian), yang menjadi referensinya adalah gelombang dari sumber tegangannya (umumnya sudut referensi dari sumber adalah 0o). Hal yang perlu diingat, fase adalah pengukuran yang relatif. Artinya, beda fase merupakan selisih fase antara dua gelombang.

Gambar 3 Beda fasa antar dua gelombang dan sudut fasa vektor
Gambar 3 Beda fasa antar dua gelombang dan sudut fasa vektor

Semakin besar derajat  beda fase antara dua gelombang, semakin besar pula beda sudut antara kedua vektor yang bersangkutan. Karena merupakan hasil pengukuran yang relatif, seperti tegangan, beda fase (sudut vektor) harus memiliki acuan atau referensi. Pada umumnya, yang menjadi referensi adalah tegangan power suplai utama dalam rangkaian tersebut. Apabila ada sumber tegangan AC lebih dari satu, maka harus dipilih sumber tegangan  yang mana yang akan dijadikan referensi untuk semua pengukuran fase dalam rangkaian tersebut. Misal, apabila dalam suatu rangkaian AC terbaca  nilai arus “24.3 mili ampere pada sudut 64 derajat”, ini berarti gelombang dari arus yang diukur itu mempunyai magnitudo sebesar 24.3 mA, dan arus itu tertinggal sebesar 64o dibelakang gelombang referensi, dimana gelombang referensi yang umum digunakan adalah gelombang dari sumber tegangan dalam rangkaian itu.

Sumber : ilmulistrik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.