Category: Uncategorized

SM3T dan Pemerataan Pendidikan

“Setelah guru-guru pulang ke tempat masing-masing maka daerah terdepan, terluar, dan tertinggal tersebut sangat mungkin untuk kembali ke posisi sebelum ada guru-guru SM3T”

SEKOLAH sehari penuh atau full day school menarik untuk dibahas. Akan tetapi, di sisi lain, di beberapa tempat di Indonesia, persoalan pendidikan masih berkutat pada sesuatu yang sederhana. Persoalan pendidikan masih berkutat pada masalah yang dianggap sepele tetapi itu adalah masalah dasar yang harus diselesaikan.

Beberapa permasalahan sederhana itu antara lain kemampuan untuk bisa bersekolah karena kekurangan biaya, cara berangkat ke sekolah karena transportasi sulit, keterbatasan guru di sekolah karena tidak banyak yang mau mengajar di daerah tersebut, dilema memilih sekolah atau membantu orang tua mencari uang di usia belia, dan halhal sederhana lain.

Tentu saja itu adalah hal yang lumrah terjadi di daerah-daerah di Indonesia, apalagi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kondisi 3T sering terabaikan karena kita sibuk dengan globalisasi atau internasionalisasi yang kadang kala belum tentu layak dibahas di daerah tertentu.

Merumuskan konsep dan pemerataan pendidikan yang tepat di sebuah negara yang sangat plural memang sulit. Perbedaan pandangan, kebutuhan, bahkan faktor geografis menjadi dasar penetuan konsep pendidikan.

Bukan hanya konsep, program pun diarahkan kepada pertimbangan-pertimbangan teknis yang tentu saja benar adanya. Salah satu program pemerintah yang terkait dengan hal tersebut adalah SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan LPTK lain menjadi institusi yang berperan di dalamnya. Tahun 2015-2016, Unnes berpartisipasi dalam SM3T di beberapa kabupaten seperti Manggarai, Ende, Belu, Sanggau, Landak, Sambas, Bengkayang, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu.

Di daerahdaerah tersebut, guru-guru SM3T Unnes mengabdikan diri sebagai guru garis depan dan ujung tombak pendidikan. Melihat konsep dasar SM3T maka hampir semua orang mengasumsikan bahwa ini bagian dari pemerataan pendidikan.

Hal tersebut benar, asalkan selanjutnya ada kepastian-kepastian yang akan didapatkan oleh daerah yang telah ditempati. Awalnya daerah-daerah tersebut kekurangan pendidik untuk meningkatkan kualitas peserta didik, datanglah guru SM3T menjadi tambahan tenaga pendidik.

Setelah satu tahun bertugas, guru SM3T pulang karena program yang dijalankan selesai. Setelah guru-guru SM3T pulang, daerah terdepan, terluar, dan tertinggal tersebut sangat mungkin untuk kembali ke posisi sebelum ada guru-guru SM3T. Guru SM3T melanjutkan tugas mengikuti PPG (Pendidikan Profesi Guru) untuk menjadi guru profesional.

Daerah terdepan, terluar, dan tertinggal berharap ada lagi program yang sama karena mereka pasti kehilangan puluhan guru yang satu tahun telah mengabdi. Dari konsep tersebut, salah satu persoalan yang membuat pendidikan di Indonesia belum merata adalah persoalan geografis.

Persoalan ini bukan hanya terkait jauh dan dekat suatu tempat, tetapi akses yang bisa digunakan untuk ke tempat tersebut. Di Mahakam Ulu misalnya, perjalanan dari Melak ke pusat ibu kota kabupaten (Ujoh Bilang), harus dilewati dengan menggunakan jalur sungai.

Tentu saja akses tersebut tidak mudah dan tidak senyaman menggunakan transportasi darat. Jalur perjalanan Melak ke Ujoh Bilang adalah salah satu persoalan yang sudah dianggap biasa di sana dibandingkan dengan jalur lain.

Misalnya, perjalanan menuju daerah yang lebih jauh dari Ujoh Bilang, seperti daerah Nyaribungan, harus ditempuh melalui riam atau jeram. Dengan demikian, akses ke tempat tersebut menjadi sulit dan membutuhkan waktu lama.

Karena akses sulit membuat segala hal menjadi tidak mudah pula, termasuk pemerataan pendidikan. Dalam persoalan pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal tersebut, guru SM3T adalah solusi sementara atau solusi jangka pendek.

Sudah seharusnya ada konsep besar lain yang bisa diterapkan di daerah tersebut. Misalnya, jika banyak guru yang tidak mau mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal karena persoalan gaji, maka naikkan gajinya.

Jika ada guru yang tidak mau mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal karena persoalan geografis, maka pemerintah semestinya mencoba mengatasi.

Program Permanen

Perlu program permanen untuk mengatasi permasalahan tersebut. Program SM3T akan menjadi salah satu solusi jika dilaksanakan pada kurun waktu tertentu. Selain itu, sangat mungkin program SM3T ini dirancang atas dasar kesiapan sekolah dan waktu pembelajaran.

Misalnya, waktu penerjunan guru SM3T ini bisa disesuaikan dengan kalender sekolah. Guru SM3T bisa masuk di awal pembelajaran sehingga mereka merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran dengan tuntas.

Jika guru SM3T diterjunkan pada pertengahan pembelajaran, sangat mungkin memunculkan kelemahan-kelemahan pada program tersebut. Para guru SM3T yang diterjunkan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Dengan adanya jeda waktu, membuat mereka lebih matang.

Selain itu, program permanen tidak selalu terkait dengan guru, sarana dan prasarana sekolah, atau pengadaan buku pelajaran. Bisa jadi solusi permanen di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal tersebut adalah akses jalan yang memadai. Akses jalan yang memadai membuat beberapa persoalan teratasi lebih cepat. (47)

Asep Purwo Yudi Utomo SPd MPd, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang