Migunani Tumraping Liyan

Kampung Bhinneka : Desa Wisata Multikultural sebagai Sarana Meningkatkan Kerukunan Sosial, Integrasi Nasional dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

Gagasan Desa Wisata Multikultural Kampung Bhinneka mengintegrasikan tiga hal yang saat ini menjadi isu penting di Indonesia, yaitu problematika dalam relasi keberagaman, pemberdayaan desa, serta momentum kebangkitan industri pariwisata nasional. Selain sebagai laboratorium sosial dalam mengenalkan praktek pendidikan multikultural secara nyata, Kampung Bhinneka juga menjadi wahana rekreasi edukatif bagi masyarakat sekaligus sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

 

Indonesia secara historis terbentuk sebagai negara dengan kemajemukan tinggi dalam kehidupan masyarakatnya. Kemajemukan secara sadar diakui dalam ketatanegaraan Indonesia sehingga diusung sebagai semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna berbeda-beda akan tetapi menjadi utuh dalam satu kesatuan. Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia membawa berbagai konsekuensi baik positif maupun negatif. Aspek keagamaan menjadi salah satu determinan menonjol yang membentuk keberagaman di Indonesia. Elemen agama juga merupakan salah satu faktor besar munculnya potensi disintegrasi bangsa di Indonesia (Syukron,2017; Asnawan,2018; Harahap, 2018). Beberapa waktu terakhir banyak dijumpai permasalahan relasi antarumat beragama khususnya terkait kasus intoleransi dan radikalisme, bahkan merembet hingga ke ranah politik bernegara. Hal tersebut merupakan ancaman besar terhadap disintegrasi bangsa. Jika kebhinnekaan bangsa tidak dapat dirawat, potensi munculnya bencana sosial menjadi ancaman serius. Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi dan solusi untuk melakukan mitigasi disintegrasi bangsa yang menjadi ancaman keberlanjutan NKRI.

Pemerintah telah mengembangkan pendidikan multikultural melalui pembelajaran di sekolah (Puslitjakdikbud, 2017),  namun masih lebih banyak menyentuh ranah kognitif dan teoritik. Oleh karena itu, diperlukan upaya mengembangkan pendidikan multikultural secara konkrit, agar lebih multi perspektif dan praksis (Banks, 2018). Di sisi lain pembangunan desa saat ini sedang gencar dilakukan di Indonesia khususnya untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Tujuan program Desa Wisata Multikultural Kampung Bhineka adalah untuk mengidentifikasi potensi modal sosial, kultural, dan natural masyarakat lokal yang terkait dengan keberagaman sosial, serta menginovasikan potensi tersebut melalui rekayasa sosial dalam bentuk Desa Wisata Multikultural “Kampung Bhinneka”, sehingga dapat menjadi role model dalam pembelajaran dan penyebarluasan nilai kebangsaan dan multikulturalisme melalui aktivitas kepariwisataan yang digemari masyarakat, sekaligus sebagai sarana pengembangan pendidikan multikultural melalui aktivitas yang lebih konkrit.

Gagasan Desa Wisata Multikultural Kampung Bhinneka mengintegrasikan tiga hal yang saat ini menjadi isu penting di Indonesia, yaitu problematika dalam relasi keberagaman, pemberdayaan desa, serta momentum kebangkitan industri pariwisata nasional. Dengan demikian, selain menjadi laboratorium sosial untuk mengenalkan dan melakukan praktek pembelajaran multikultural secara nyata, Kampung Bhinneka juga menjadi sarana rekreasi edukatif dan atraktif bagi masyarakat. Keberadaan desa wisata multikultural juga bermanfaat bagi desa sebagai rintisan BUMDES yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis potensi lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Kalimanggis memiliki potensi alam menarik sebagai daerah wisata karena terletak di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian 959 mdpl, serta memiliki iklim yang dingin dan berkabut. Selain itu, Desa Kalimanggis juga memiliki potensi keberagaman yang khas dalam aspek agama atau kepercayaan. Dari 8 dusun yang ada, potensi terbesar untuk pengembangan Kampung Bhinneka ada di Dusun Kalisat. Persebaran populasi umat beragama di Dusun Kalisat menunjukkan keragaman yang paling kuar dimana pemeluk agama Budha 37%, Islam 32%, Kristen 6%,  dan aliran kepercayaan Sapta Dharma 24%.

Secara lebih detail, potensi yang teridentifikasi  antara lain: (1) potensi alam, seperti curug, Gumuk Genjik/Gumuk Mobongan, dan Bukit Sunrise; (2) potensi pertanian, seperti padi, jagung, ketela pohon, kacang tanah, cabe, kacang panjang, kubis dan kopi; (3) potensi sosial, seperti kerukunan antar umat beragama, lembaga sosial dan keagamaan yang aktif (sekretariat Sapta Darma, PKK dan KRC/Kalisat Remaja Club); (4) potensi budaya, seperti ketoprak, kuda lumping, wayang kulit, reog, glok, soreng, tradisi merti dusun dan tradisi nyadran; (5) potensi SDM, seperti adanya tokoh masyarakat, agama, pemuda dan PKK yang dapat menjadi mentor penggerak; serta masyarakat memiliki antusiasme tinggi dan mendukung gagasan Kampung Bhinneka. Adanya potensi tersebut mendorong pengembangan Kampung Bhinneka dengan dukungan melalui infrastuktur, program pelatihan SDM, permodalan, media promosi, serta dukungan dari pemerintah setempat dan perguruan tinggi.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Desa Kalimanggis, khususnya Dusun Kalisat dengan keberagaman agama yang ada menjadi potensi dan peluang besar dikembangkannya Desa Wisata Multikultural “Kampung Bhinneka” sebagai media aktualisasi pendidikan multikulturalisme. Hasil pemetaan juga telah berhasil mengidentifikasi lanskap desa wisata Kampung Bhinneka secara visual dalam bentuk PETA WISATA KAMPUNG BHINNEKA sehingga dapat menjadi panduan dalam pengembangan dan realisasi Desa Wisata Multikultural Kampung Bhinneka.

Untuk mewujudkan model desa wisata multikultural kampung bhinneka menjadi nyata, diperlukan kerjasama yang sinergis antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, dunia usaha dan perguruan tinggi, sehingga keberlangsungan dan sustainabilitas  Kampung Bhinneka dapat terus dijaga dan dikembangkan.

Kata Kunci: Desa Wisata, Integrasi Nasional, Kampung Bhinneka, Pendidikan Multikultural, Pluralitas, 

Daftar Pustaka

Asnawan A. Relasi Konfilk dan Agama Studi Tentang Model Penyelesaian Konflik Kegamaan. FALASIFA J Stud Keislam. 2018;9(1):129–44.

Banks J. An Introduction to Multicultural Education. United Kingdom: Pearson Education; 2018.

Harahap S. Konflik Etnis Dan Agama Di Indonesia. J Ilm Sosiol Agama. 2018;1(2):1.

Puslitjakdikbud. Pendidikan Kebhinekaan di Satuan Pendidikan. Jakarta: Balitbang Kemendikbud; 2017.

Syukron B. Agama dalam Pusaran Konflik (Studi Analisis Resolusi Terhadap Munculnya Kekerasan Sosial Berbasis Agama di Indonesia). Ri’ayah J Sos dan Keagamaan. 2017;2(01):1–28.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: