Antropologi Terapan

  • Konsep Dasar Antropologi Terapan

Antropologi merupakan ilmu yang masih terbilang baru. Antropologi merupakan suatu integrasi dari beberapa ilmu yang masing-masing mempelajari komplex masalah-masalah khusus mengenai manusia. Antropologi dari setiap negara tersebut menyesuaikan ideologi dan kebutuhannya masing-masing. Hal itu disebabkan karena disamping ilmu akademis, antropologi juga mempunyai banyak segi praksisnya.

Ketika antropologi mengembangkan konsep teoritisnya, pengetahuan faktual, dan metodologi penelitian dalam mencari tahu masalah sosial, ekonomi dan teknologi kontemporer, bisa kita sebut sebagai antropologi terapan. Antropologi dapat digunakan secara praktis dalam berbagai aspek, seperti pembangunan, kesehatan, ekonomi, dan lain sebagainya. Antropologi terapan berusaha menerjemahkan hal yang bersifat teoritis kedalam hal yang praktis. Ilmu antropologi memberikan solusi dari masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan.

Cara kerja antropologi terapan tidak jauh beda dari ilmu-ilmu terapan lain. Antropologi terapan tidak hanya mendiagnosis masalah sosiokultur dalam masyarakat.

Antropologi terapan memperlihatkan konsep-konsep yang bersifat teoritis di terapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata dalam masyarakat. Diharapkan analisis dari teori yang diterapkan kedalam kehidupan nyata ini berguna untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Diharapkan pula dalam penerapannya, dapat memberikan angin baru untuk pengembangan teori dan konsep antropologi, sehingga dapat disesuaikan dengan waktu yang ada saat itu.

Pola kerja antropologi terapan tidak hanya dituntut mengetahui dan menganalisa dari suatu masalah sosiokultur yang terjadi dalam masyarakat dan memberikan recomendasi tentang bagaimana penyelesaiannya, namun antropologi terapan memberikan beberapa langkah yang berkaitan dengan cara kerja analisisnya. Setelah itu, baru melakukan penyelidikan untuk menemukan solusi yang tepat bagi masalah sosiokultur tersebbut dan menjadi tempat yang tepat sebagai penawaran solusi masalah tersebut. (Amri Marzali dikutip dari Thompson 1963:354).

Antropologi terapan dan ilmu antropologi memiliki beberapa perbedaan. Yang pertama, kajian dalam antropologi terapan yaitu budaya-budaya atau kelompok sosial yang ada saat ini, sedangkan ilmu antropologi cenderung mengkaji masyarakat dan budaya masa lampau. Kedua, yang dipelajari dari antropologi terapan berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata berkaitan dengan masalah sosiokultur dalam masyarakat pada masa kini. Jika pada ilmu antropologi, hanya menjawab masalah yng berkaitan dengan peristiwa-peristiwa masa lampau. Menjelaskan yang ada pada masa lampau, yang umumnya tidak berkaitan dengan kebututuhan dan masalah yang dihadapi masyarakat pada masa kini. Ketiga, para ahli antropologi terapan akan mengaplikasikan data, analisis, dan penemuan mereka kedalam bidang lain diluar antropologi. Akibatnya, para ahli antropologi terapan ini bekerja secara antardisipliner. Mereka seringkali bekerja dengan para ahli dari disiplin ilmu dibidang lain meneliti masalah-masalah yang ada dan mengumpulkan data-data yang sesuai dengan kondisi masa kini. Berbeda dengan ilmu antropologi, analisis data yang mereka gali cenderung untuk mempertajam keilmuan para ahli antropologi yang biasanya diperdebatkan dikalangan mereka. Sehingga pemikiran-pemikiran para ahli antropologi sangat menentukan objek kajian, masalah penelitian, dan metode penelitian. keempat, ada perbedaan karir antara antropologi terapan dengan ilmu antropologi, jika ilmu antropologi biasanya bekerja dalam bidang pendidikan dan penelitian antropologi di universitas dan bidang permuseuman, sedangkan antropologi terapan biasanya bekerja pada di bidang profesionalitas pada institusi-institusi non akademik (Amri Marzali dikutip dari Eddy dan Partrige 1987:5-6), bekerja untuk pemerintah, firma konsultasi pribadi, agensi pengembangan komunitas, organisasi amal, bahkan perusahaan yang berorientasi pada keuntungan (Agung Supriyadi 2009).

 

  • Latar Belakang Kemunculan Antropologi Terapan

Antropologi terapan merupakan cabang dari antropologi yang belum lama dikenal untuk menjawab tantangan zaman. Antropologi ini dadakan langsung untuk diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Sejak awal mula perkembangan antropologi di Inggris, Perancis dan Amerika, beberapa antropolog mulai menaruh minat untuk menggunakan pengetahuan mereka demi tujuan-tujuan praktis. Di masa kolonial, pemerintah yang paling aktif melakukan intervensi kolonialis ke berbagai negara dunia ketiga adalah Inggris. Melalui praktik kolonialisme di Afrika dan Asia, Inggris memperkenalkan struktur pemerintahan dan struktur sosialnya sendiri ke dalam masyarakat-masyarakat di wilayah Afrika. Intervensi kolonial ini demikian meluas dan mendalam, sehingga bukan hanya struktur lokal dari masyarakat atau kelompok-kelompok masyarakat di negara jajahan yang berubah, akan tetapi kebudayaan masyarakat-masyarakat daerah jajahan itu pun ikut berubah. Banyak antropolog yang berminat untuk memperoleh kesempatan melakukan penelitian lapangan di daerah-daerah jajahan yang sedang berubah ini. Akan tetapi peran antropolog pada masa itu masih dalam rangka membantu pemerintahan kolonial.

Dalam mendiskusikan pekerjaan orang-orang yang menyebut diri mereka sendiri sebagai ahli antropologi yang mempraktekkan dan mengaplikasikan antropologi, pertama-tama bagian ini harus mengetahui motivasi yang memicu perkembangan antropologi aplikasi. Lalu kita berdiskusi sejarah dan jenis penerapannya di Amerika, isu yang layak dikembangkan untuk mengusahakan peningkatan taraf kehidupan manusia, kesulitan dalam mengevaluasi apakah sebuah program memberikan keuntungan, dan masalah dalam perubahan adat kebiasaan. Dua sesi terakhir dalam bab ini membahas pengaturan sumber budaya (biasanya dilakukan arkeolog) dan antropologi forensik, bagaimana (biasanya dilakukan oleh antropologi fisik) digunakan dalam perkara yang sah secara hukum dan penyelidikan masalah criminal. Bagian selanjutnya berhubungan dengan antropologi kesehatan berupa antropologi kesehatan dan penyakit. Bagian terakhir akan mendiskusikan implikasi kebijakan dari antropologi dan penelitian  ilmu sosial yang lain dalam masalah sosial global seperti bencana,gelandangan,criminal,kekerasan rumah,konflik suku,terorisme dan perang.

Bukan hanya ahli antropologi yang mempraktekkan dan mengaplikasikan antropologi yang tertarik dalam menyelesaikan masalah, tetapi juga banyak peneliti antropologi dan ilmu sosial yang lain melakukan riset dasar dalam masalah sosial. Riset itu mungkin dapat memacu lapangan kerja untuk mengetahui berbagai macam pemikiran budaya dan berlatih tentang kesehatan, penyakit, dan kekerasan.  Riset dasar mungkin juga memacu pengujian teori tentang penyebab masalah yang khusus. Hasil dari riset  tersebut dapat memberikan suatu pemecahan masalah jika penyebabnya sudah ditemukan. Bahkan jika sebuah studi tidak langsung terhadap masalah sehari-hari, studi itu masih mempunyai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah.  Hal ini disebabkan, karena masyarakat menganggap bahwa riset dasar membutuhkan biaya yang besar.

Antropolog selalu memperhatikan dan mencemaskan masyarakat yg mereka pelajari seperti mereka memperhatikn dan mencemaskan teman-teman serta keluarga di rumah. Hal itu membingungkan jika semua keluarga di tempat mereka bekerja kehilangan bayi-bayi mereka akibat penyakit yang seharusnya bisa dikurangi dengan perawatan medis. Hal ini membingungkan saat perhatian ekonomi dan politik mengancam untuk menghilangkan lapangan kerja teman-teman anda. Antropolog juga biasanya mempelajari orang-orang yang mendapatkan kerugian akibat imperialisme, kolonialisasi, dan bentuk eksploitasi lainnya sehingga tidak mengherankan jika kita merasa protektif terhadap orang-orang yang tinggal bersama dan berbagi lingkungan

Tetapi, perhatian tidak cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan penghidupan yang lainnya. Mungkin kita butuh penelitian dasar yang membuat kita mengerti bagaimana menciptakan kondisi pelatihan yang sukses. Kata “perbaikan” mungkin saja bukan sebuah perbaikan, makna yang baik terkadang menghasilkan konsekuensi yang berbahaya dan bahkan apabila kita tahu bawa perubahan akan menjadi sebuah perbaikan, di sana masih ada masalah tentang bagimana perubahan itu terjadi. Orang-orang dipengaruhi mungkin saja tidak mau berubah, apakah etis untuk mencoba mereka sebaliknya, apakah etis untuk tidak mencoba. Antropologi terapan harus mengambil semua urusan ke dalam perlindungan untuk menetukan respon terhadap kebutuhan yang dirasakan

Antropologi terapan di Amerika Serikat berkembang di luar pengalaman antropologi personal. Dengan kerugian orang-orang di kebudayaan lain. Sekarang, antropologi juga tertarik dalam belajar dan memecahkan masalah social kita. Di sana, banyak antropologi yang sekarang bekerja dalam peraturan nonakademis. Antropologi praktis ini sering kali bekerja dalam proyek spesifik yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan manusia, selalu dengan mencoba merubah lingkungan. Antropologi itu mengawasi atau mengevaluasi kesalahan orang lain untuk membuat suatu perubahan. Biasanya, masalah dan proyek didefinisikan oleh pekerja klien, bukan oleh antropolog, tetapi ahli antropologi makin bertambah untuk berpartisipasi dalam memutuskan perbaikan apa yang mungkin dan juga bagaimana untuk meraihnya.

Pada tahun 1934, John Collier kepala kantor Amerika Serikat urusan suku Indian membuat Undang-Undang yang menyediakan perlindungan bagi suku asli Amerika Tanah tidak dapat diambil, apabila kehilangan tanah maka akan dikembalikan, pemerintah sukun asli akan dibentuk dan pinjaman akan disediakan dengan syarat. Hal ini merupakan jalan terbuka terhadap pengenalan kegunaan peran ahli  antropologi di luar latar pendidikan.Collier memperkerjakan beberapa ahli antropologi untuk memperkenalkan kebijakan baru ini. Pada waktu yang sama The Soil Conservation Service juga menyewa ahli antropologi dengan proyek yang berhubungan dengan penggunaa tanah suku asli Amerika. Tapi sampai Perang Dunia II hampir semua dari beberapa ratus ahli antropologi di amerika Serikat masih dipekerjakan di fakultas-fakultas, universitas-universitas dan museum-museum, dan penerapan antropologi secara praktis jelas tidak ada.

Peristiwa sekitar tahun 1940 memeberanikan penerapan lebih antropologi. Pada tahun 1941, ahli antropologi menemukan komunitas untuk penerapan antropologi dan sebuah buku harian baru yang menyediakan penerapan antropologi, sekarang disebut Human Organization. Selama Perang Dunia II, ahli antropologi dalam jumlah yang cukup besar oleh pemerintah Amerika Serikat. Untuk membantu dalam usaha perang. Margaret Mead memperkirakan bahwa sesuatu seperti seperti memperkerjakan 295 dari 303 ahli antropologi di Amerika Serikat waktu itu adalah salah satu cara atau cara lain partisipasi lain dalam upaya perang.

Pemerintah menyewa ahli antropologi untuk membantu memperbaiki moral, meningkatkan pengertian kita tentang musuh-musuh dan negara-negara sekutu, serta menyiapkan untuk operasi militer dan keadaan dari pulau-pulau dari Micronesia dan area lain sekitar Pasifik. Seperti contohnya, ahli antropologi terapan tersebut untuk memeberi penjelasan ketika pejabat militer Amerika Serikat bingung mengapa musuh mereka orang Jepang menolak berlaku seperti orang normal. Satu dari kebiasaan yang paling membuat pemimpin militer bingung adalah kecenderungan tentara-tentara Jepang yang mencoba bunuh diri daripada menjadi tawanan. Tentu saja, tentara Amerika Serikat yang ditawan tidak bersikap demikian. Akhirnya untuk memehami kode kehormatan orang Jepang, militer menyewa ahli antropologi sebagai konsultan untuk Divisi Analisis Moral orang Asing pada kantor Departemen Informasi Perang.

Setelah bekerja dengan ahli antropologi, militer Amerika Serikat belajar bahwa alasan utama kebiasaan aneh tawanan dari Jepang adalah suatu kepercayaan mereka bahwa mereka keadaan menyerah dalam perang, sekalipun di wajah pemimpinnya ragu-ragu untuk dijadikan tawanan, sekalipun ketika terluka atau tidak sadar dan saat menghindari penangkapan adalah suatu aib. Orang-orang Jepang mengira bahwa tentara Amerika Serikat telah membunuh semua tawanan. Demikianlah, hal ini hampir bukan kejutan bahwa banyak orang Jepang yang tertangkap lebih memilih mati terhormat dengan tangan mereka sendiri. Ketika militer Amerika Serikat belajar tentang pikiran orang Jepang, mereka membuat suatu upaya untuk menjelaskan kepada oaring Jepang bahwa mereka tidak akan menjalai hukuman mati ketika tertangkap, dengan harapan orang Jepang akan meyerah. Beberapa tawanan dari Jepang kemudian memberikan informasi kepada militer Amerika Serikat, tidak untuk melatan negara mereka sendiri tetapi mencoba membentuk hidup baru untuk mereka sendiri menghapus aib memalukan ringkasan kehidupan mereka yang terdahulu.

Ahli antropologi bersemangat membantu pemerintah Perang Dunia II karena mereka melakukan sesuatu yang besar untuk kemenangan perang. Pada perubahan ini pemerintah ingin meminta nasehan dari antropologi. Tetapi pada waktu setelah perang ada peningkatan yang lebih tinggi pada bidnag pendidikan karena kembalinya veteran dan kemudian terjadi ledakan penduduk yang pergi ke fakultas-fakultas dan ahli antropologi Amerika Serikat dapat dengan cepat menemukan pekerjaan di universitas-universitas dan fakultas-fakultas.  Antropologi menjadi sedikit mengkhawatirkan masalah terapan dan lebih khawatir lagi dengan teori dan penelitian dasar.

Situasi berubah pada akhir tahun 1970 ketika ketertarikan antropologi terapan mulai tumbuh subur. Beberapa bersifat ketertarikan pada peningkatan pada sebuah prioritas perubahan akibat Perang Vietnam. Yang lain menyebutkan kemunduran kesempatan belajar di fakultas-fakultas dan universitas-universitas. Ahli antropologi yang bekerja pada bidang terapan keluar dari semua subbagian antropologi, meskipun sebagian besar berasal dari etnologi. Mereka bekerja pada acara pribadi dan umum di rumah dan luar negeri untuk perbaikan di bidang pertanian, gizi, mental dan kesehatan fisik, perumahan, kesempatan kerja, transportrasi, pendidikan dan kehidupan perempuan serta kaum minoritas. Mereka ada yang bekerja pada bisnis. Ahli antropologi bekerja di museum atau dipekerjakan untuk belajar, mencatat dan memelihara sumber kebudayaan yang akan diganggu atau dirusak oleh proyek pembangunan. Ahli antropologi terapan yang terlatih pada antropologi fisik bekerja di tempat obat-obatan, kesehatan masyarakat, dan pemeriksaan forensic. Dan pekerjaan terapan pada pendidikan dan komunikasi sering menggunakan kemampuan berbahasa.

 

  • Pertumbuhan Dan Peran Antropologi Terapan

Berkaitan dengan aneka warna kebudayaan yang ada, para ahli antropologi sangat optimis dalam memberi tahu kepada pemerintah atau administrator atau juga diri mereka sendiri berkenaan dengan batas-batas budaya terhadap perubahan berkenaan dengan manusia. Antropologi banyak berperan diberbagai aspek kehidupan, tidak hanya pada pembangunan ekonomi namun juga tetapi juga pada sektor pembangunan semesta termasuk juga pada sektor agama, sosial, politik dan budaya.

Peranan utama antropologi terapan dalam pembangunan adalah melaksanakan penelitian terhadap masalah-masalah pembangunan. Pelaksanaan ini biasanya dilakukan untuk membantu perencanaan pembangunan dan biasanya dilaksanakan bersama dengan para ahli dari disiplin ilmu lain. disamping itu dilaksanakan oleh para pelaksana pembangunan yang memperhatikannya, dan oleh para pegawai pemerintahyang bekerja dalam badan-badan perencanaan nasional atau daerah. Jadi, ahli antropologi harus terlibat dari awal perencanaan pembangunan atau perubahan sehingga bisa mengetahui fakto-faktor apa saja yang jadi pendorong ataupun penghambat jika apa pembangunan atau perubahan.

Keterlibatan ahli antropologi mulai dari awal perencanaan hingga pasca pembangunan atau perubahan yaitu berkaitan dengan masalah-masalah evaluasi dari program-progam yang direncanakan sesuai dengan tugas antropologi terapan dalam perubahan perilaku dan kebudayaan. hal ini dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan program.

Namun, dalam kenyataannya, keterlibatan antropologi terapan belum sepenuhnya tidah sesuai dngan harapan para ahli antropologi mengenai peranannya dan perannya terhadap pembangunan. Secara kelembagaan, antropologi terapan masih perlu perjuangan oleh para ahli antropologi supaya keberadaannya dan kostribusinya dalam pembangunan disadari oleh perencana pembaruan, terutama yang menyangkut masalah manusia sebagai sumbar daya manusia dengan beragamnya sistem sosial budaya.

Posted by sella ewinda p   @   21 November 2015

Like this post? Share it!

RSS Digg Twitter StumbleUpon Delicious Technorati

0 Comments

No comments yet. Be the first to leave a comment !
Leave a Comment

Name

Email

Website

Previous Post
«
Next Post
»