MENJADI PENDIDIK BUKAN HANYA MENGAJARKAN TAPI JUGA MENJADI PANUTAN

Pendidikan seperti telah kita ketahui bersama merupakan salah satu faktor penentu kemajuan sebuah Negara, apabila pendidikannya bagus maka kemungkinan bangsa tersebut maju juga besar, akan tetapi apabila pendidikannya kurang bagus maka bangsanya pun juga kemungkinan besar kurang maju. Dengan pendidikan yang bagus di harapkan penduduk suatu Negara memiliki kemampuan yang lebih dan memiliki moral yang lebih bermartabat serta memiliki sudut pandang yang lebih luas dalam menghadapi suatu masalah ataupun perbedaan yang terjadi dalam kehidupannya. Didalam dunia pendidikan sendiri banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan Pendidikan itu sendiri seperti:
1.    Kurikulum pendidikan
2.    Sarana dan Prasarana pendidikan
3.    Biaya pendidikan
4.    Peran serta Pemerintah/ Kebijakan Pemerintah
5.    Kualitas Tenaga Pendidik

Dari segenap faktor diatas yang akan kita bahas kali ini adalah kualitas dari pendidik, kenapa kualitas pendidik ini sangat penting dalam dunia pendidikan, hal ini dikarenakan dari merekalah akan lahir generasi-generasi baru penerus bangsa. Dapat kita bayangkan apabila seorang pendidik tidak memiliki kompetensi dibidangnya bisa kita bayangkan generasi apa yang akan dilahirkannya. Berbicara tentang seorang pendidik bukan hanya berbicara tentang masalah kuantitas tapi juga berbicara tentang masalah kualitas, tidak hanya berbicara tentang gelar akademik yang diraihnya tapi juga kesesuainan antara gelar tersebut dengan kualitas yang ada dari gelar yang diraihnya.

Banyak pihak yang kurang sadar bahwa seorang pendidik haruslah orang yang benar-benar ahli dibidangnya, tidak hanya mempunyai gelar lantas langsung bisa mengajar pada suatu instansi ataupun lembaga. Seorang pendidik dituntut tidak hanya bisa mengajar atau menularkan ilmunya karena kalau hanya itu yang bisa dia lakukan lantas apa bedanya dengan seorang murid yang pintar yang mengajari temanya sesama murid yang tidak begitu bisa. Agar pendidik itu tidak sama dengan seorang murid tadi maka selain bisa mengajar, pendidik juga harus bisa menjadi panutan atau contoh yang baik untuk anak didiknya baik itu dari segi tingkah laku, tata karma atau pun cara bergaul dan yang terpenting selain hal diatas adalah pendidik harus bisa menumbuhkan semangat anak didiknya, memberi motivasi dan meyakinkan anak didiknya akan mimipi-mimpi yang ada dibenaknya akan terwujud dengan belajar sungguh-sungguh dan kerja keras.

Kalau kita mengutip sebuah pepatah “ Buah Jatuh Tidaklah Jauh dari Pohonnya” pepatah ini juga bisa berarti kualitas anak didik itu mencerminkan kualitas sang pendidik, apabila kualitas anak didik kurang bagus itu juga berarti kualitas sang pendidik juga kurang baik. Sebenarnya di negeri kita Indonesia ini tidak ada anak yang bodoh yang ada hanya anak didik yang tidak mendapatkan guru/pendidik yang terbaik, apabila anak tersebut dididik oleh pendidik yang terbaik baik dari segi kualitas dan kuantitas dan pendidik tersebut mampu meyakinkan akan mimpi-mimpinya dan memotifasinya pasti anak tersebut bisa menjadi anak yang hebat suatu saat kelak. Sebuah ilustrasi kecil yang mungkin bisa kita ambil contoh adalah seorang pemusik hebat pastilah dia berlatih dengan alat/instrument yang terbaik, tidaklah mungkin seorang pemusik hebat berlatih dengan alat yang rusak bahkan alat musik yang tidak lengkap. Dari contoh tersebut kita bisa belajar bahwa untuk mendapatkan atau menciptakan generasi yang cemerlang haruslah dari tangan-tangan terampil pendidik yang cemerlang pula.Tapi masih banyak pihak yang berfikir/berpendapat bahwa “Ada Kok Murid Hebat Yang Dilahirkan Dari Pendidik Yang Tidak Hebat” Memang benar hal itu tapi kalau kita bicara fakta berapa sih jumlahnya pastilah sangat sedikit dan itu hanya kebetulan semata. Dari sinilah semua pihak harusnya benar-benar menyadari bahwa seorang pendidik adalah tugas mulia, profesi yang sangat berat, penuh dedikasi dan loyalitas untuk negeri ini, bukan hanya sekedar mengajar dan mencari nafkah.

Untuk semua pendidik dan calon pendidik semoga sedikit tulisan ini mampu merubah paradigma selama ini bahwa pendidik hanya bertugas mengajar dan mengajar tanpa ada pertanggung jawaban yang lainnya, padahal dari tangan terampil kalianlah akan tercipta generasi-generasi berbakat baru di masa depan karena tidaklah mungkin” Kue Yang Bagus Dihasilkan Dari Cetakan Kue Yang Rusak”. Semoga pendidikan Indonesia semakin maju untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

[https://menjadi-pendidik.blogspot.co.id/]

Perbedaan Antara Pendidikan Dan Pengajaran

Pengajaran dan pendidikan atau dalam bahasa arabnya taalim dan tarbiah adalah dua perkara penting di dalam membina manusia. Pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda tetapi banyak orang yang tidak faham tentang kedua perkara ini.

Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah dan straight forward. Sedangkan pendidikan adalah pembinaan insan yang tidak saja melibatkan perkara fisik dan mental tetapi juga hati dan nafsu karena sesungguhnya yang dididik adalah hati dan nafsu. Oleh karena itu pendidikan lebih rumit dan susah. Kedua perkara ini harus kita fahami benar dalam membina insan. Keduanya diperlukan dalam pembinaan pribadi agar pandai berbakti pada Tuhan dan pada sesama manusia.

Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Ada dosen, guru, ustadz yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada murid yang belajar. Hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan (‘alim). Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh terutama ilmu agama dicoba untuk difahami dan di hayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak.

Pendidikan antara lain adalah memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Membersihkan hati insan dari sifat-sifat keji (mazmumah) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah). Pendidikan juga adalah mengembalikan hati nurani manusia kepada keadaan fitrah yang suci dan bersih. Nafsu perlu dikendalikan supaya tidak cenderung kepada kejahatan dan maksiat tetapi cenderung kepada kebaikan dan ibadah.

Namun, kita tidak bisa mendidik saja tanpa memberi ilmu, dan begitu juga sebaliknya, kita tidak bisa memberi ilmu saja tanpa mendidik. Pengajaran tanpa pendidikan akan menghasilkan masyarakat yang pandai tetapi rusak akhlaknya atau jahat. Masyarakat akan maju di berbagai bidang dan kemewahan timbul dimana-mana tetapi akan timbul hasad dengki dimana-mana karena jiwa tiap insannya tidak hidup. Manusia menjadi individual, tidak berkasih sayang, dan kemanusiaan musnah. Manusia berubah identitas. Fisiknya saja manusia tetapi perangainya seperti setan dan hewan.

Sebaliknya mendidik saja tanpa memberi ilmu akan menghasilkan individu yang baik tetapi tidak berguna di tengah masyarakat. Mendidik tanpa ilmu menyebabkan insan mempunyai jiwa yang hidup tetapi tidak ada ilmu untuk dijadikan panduan.

Tetapi perlu dipahami bahwa tidak semua orang mampu mendidik. Ada orang yang berilmu banyak tetapi tidak mampu mendidik tetapi ada juga orang yang berilmu sedikit tetapi dapat mendidik. Karena peranan pengajaran ilmu hanya sedikit saja sedangkan selebihnya adalah peranan pendidikan.

Manusia menjadi jahat bukan karena tidak tahu ilmu. Jumlah orang bodoh yang jahat hampir sama dengan jumlah orang pandai yang jahat juga. Bahkan orang pandai yang jahat lebih jahat dari pada orang bodoh yang jahat, karena orang yang pandai menggunakan kelebihan akal atau ilmunya untuk kejahatan. Manusia menjadi jahat adalah karena proses pendidikannya tidak tepat sehingga jiwanya tidak hidup.

Dalam mencari ilmu, seseorang bisa belajar dari beberapa guru karena hanya ilmu yang kita pelajari. Tetapi, dalam mendidik atau mencari pendidik, tidak bisa ada lebih dari seorang pendidik. Pendidik yang sesungguhnya adalah pemimpin, model, sekaligus contoh untuk diikuti. Kalau ada banyak pendidik maka ibarat seperti masakan yang dimasak oleh beberapa koki. Dia akan jadi rusak. “ Too many cooks spoil the brook”.

Kemudian dilihat dari segi ilmunya, tidak semua ilmu mempunyai nilai pendidikan. Ilmu agama khususnya ilmu fardlu ‘ain seperti ilmu mengenal Tuhan memang untuk mendidik. Sedangkan kebanyakan ilmu akademik seperti matematika, perdagangan, sejarah, ilmu alam dan lain-lain tidak dapat untuk mendidik dan sekedar untuk mengajar saja. Meskipun begitu, jika proses pendidikan berjalan dengan benar sehingga jiwa Tauhid hadir pada diri seseorang maka ilmu-ilmu akademik akan menambah keyakinannya dan akan menjadikannya semakin melihat betapa berkuasa dan Maha Hebatnya Tuhan.. Sebaliknya, bagi pelajar-pelajar yang kosong jiwanya dari mengenal Tuhan, ilmu-ilmu tersebut hanya akan melalaikan mereka karena mereka tidak mampu mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan Tuhan.

Dalam suatu proses membangun dan membina manusia, pengajaran dan pendidikan adalah perkara wajib. Namun pendidikanlah yang lebih diutamakan karena jika pendidikan tidak diutamakan maka akan terbangun masyarakat yang rusak dan merusakkan. Manusia akan menjadi musuh kepada manusia yang lain dan kepada Tuhannya.Didiklah manusia lebih dahulu sebelum mengajar mereka hingga pandai. Jadikan mereka berakhlak sebelum menjadikan mereka berilmu. Kenalkan Tuhan lebih dahulu sebelum mengenalkan alam semesta beserta ciptaanNya yang lain. Jadikan mereka sebagai hamba-hamba ALLAH lebih dahulu sebelum menjadikan mereka sebagai khalifahNya.

[https://www.kawansejati.org]

Akibat Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Memilih jurusan di perguruan tinggi sering diwarnai alasan-alasan pragmatis. Mudah mendapat pekerjaan, uang, atau imej merupakan alasan-alasan yang dominan. Itu saya alami ketika mau kuliah. Saya memilih jurusan yang tidak sesuai dengan kepribadian saya.

Ketika masih di SMA, saya tidak memahami pentingnya relasi antara bakat dan pemilihan jurusan. Tidak ada informasi dari guru ataupun orang tua tentang pentingnya mengambil jurusan sesuai bakat. Yang terlintas dalam pikiran adalah bagaimana agar punya gelar dan bisa kerja. Bagi orang tua saya pun- itu sudah cukup.


“Jangan pilih jurusan kuliah
karena alasan uang.”


Tahun 1982, saya berangkat ke Jakarta dengan naik kapal laut Tampomas. Setelah tiba di Jakarta, besoknya saya langsung berangkat ke Bandung untuk mengikuti ujian PERINTIS I, sebutan untuk ujian saringan masuk ke perguruan tinggi kelompok I (USU, UI, IPB, ITB, UNPAD, UGM, UNBRAW, ITS) pada waktu itu.

Ditemani oleh kenalan yang sudah dua tahun di Bandung, saya mengisi formulir pendaftaran ujian PERINTIS I. Saya tidak ragu memilih Teknik Elektro sebagai pilihan pertama, tetapi tidak punya opsi untuk pilihan kedua. Setengah jam saya mempertimbangkan pilihan kedua, tetapi tidak ada opsi yang saya kenal dan menarik.

Kenalan saya memberi beberapa usulan. Ia menawarkan jurusan Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan dan Geologi. Semuanya saya tolak. Saya menolak jurusan Teknik Mesin karena takut tidak lulus. Ranking jurusan Teknik Mesin hampir sama dengan jurusan Elektro pada waktu itu. Bila gagal di jurusan Teknik Elektro, kemungkinan besar akan gagal juga di jurusan Teknik Mesin.

Saya menolak Teknik Industri karena jurusan ini menawarkan mata kuliah ekonomi, topik yang tidak saya sukai di SMA. Jurusan Teknik Kimia juga saya tolak karena kapok dengan pelajaran Kimia Karbon di kelas III SMA. Jurusan Teknik Pertambangan dan Geologi saya tolak karena tidak pernah mendengar jurusan-jurusan ini.

Kenalan saya menawarkan usulan terakhir. “Bagaimana kalau jurusan Teknik Perminyakan?” “Jurusan ini tentang apa?” tanya saya. “Kalau lulus dari Teknik Perminyakan uangnya banyak.” sahutnya. Langsung saya katakan, “Ini saja.” Saya pun memilih jurusan Teknik Perminyakan sebagai pilihan kedua.

Beberapa waktu kemudian, hasil ujian PERINTIS I diumumkan. Ketika saya baca hasilnya di koran, nama saya tidak muncul di jurusan Teknik Elektro, tetapi muncul di jurusan Teknik Perminyakan ITB. Saya sangat senang.

Hanya dua bulan saya menikmati kuliah di Teknik Perminyakan. Setelah itu, minat kuliah sirna. Minat semakin memudar mendengar info bahwa untuk lulus dari jurusan ini butuh waktu minimal 8 tahun. Anehnya, dalam keadaan begitu, ada tawaran beasiswa dari PERTAMINA. Singkat kata, saya diterima, tapi harus di jurusan yang sama. Saya berpikir pendek. “Dari pada  8 tahun kuliah, lebih baik kuliah dengan waktu yang lebih singkat,” Begitu pikirku. Saya terpaksa kuliah di jurusan yang tidak say sukai sampai selesai studi di luar negeri.

Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di Marathon Petroleum Indonesia Ltd. Saya ditugaskan di Departemen Engineering. Namun, hanya tiga tahun saya punya gairah kerja. Kinerja tidak begitu menonjol. Delapan tahun saya ‘mengembara di padang pasir’, mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat.


“Salah Pilih Karir Mandek.”


Pada tahun 1996, saya meminta agar dipindahkan ke bagian Sumber Daya Manusia (SDM), pekerjaan yang sudah saya pertimbangkan sejak mulai kerja. Menejemen menyetujui permohonan saya. Gairah kerja mulai muncul sekalipun tidak semulus yang saya harapkan. Sampai hari ini pemikiran mengerjakan pekerjaan sesuai bakat terus tertanam dalam pikiran saya.

Renungan:

  • Bila Anda ingin kuliah, pilihlah jurusan yang sesuai dengan bakat Anda. Ini jadi bekal untuk memilih pekerjaan sesuai dengan bakat. Hindari memilih jurusan karena alasan uang atau mudah-mendapat-kerja.
  • Bila Anda telah mengambil jurusan yang salah, pertimbangkanlah untuk mengganti jurusan.
  • Bila sudah bekerja dan kinerja tidak begitu menonjol, pertimbangkanlah untuk mengganti pekerjaan. Ambillah langkah-langkah untuk memilih pekerjaan sesuai bakat Anda.

[https://www.putra-putri-indonesia.com]

Cek Kepribadian Anda Berdasarkan PIlihan Jurusan Kuliah

Sudah lulus kuliah dan punya gelar sarjanakah kamu? :p

 

Sudah lulus kuliah dan punya gelar sarjanakah kamu? :p
Sudah lulus kuliah dan punya gelar sarjanakah kamu? :p

Liputan6.com, Jakarta Anda kuliah jurusan apa? Ingatlah, memilih jurusan saat kuliah itu merupakan salah satu keputusan hidup yang penting. Keputusan ini akan memengaruhi pendidikan, karir, dan jalan hidup di masa depan.

Untuk memilihnya, Anda perlu memikirkan banyak hal. Pilihan itu sendiri mencerminkan jenis pekerjaan yang nantinya Anda nikmati, jenis pekerjaan yang Anda ingin lakukan, dan cara Anda melihat diri Anda.

Ternyata, antara pilihan jurusan dan kepribadian orang itu saling berhubungan. Berikut beberapa ciri-ciri kepribadian berdasarkan pilihan jurusan seperti dikutip Bustle, Minggu (13/9/2015):

Jurusan Pendidikan

Anda peduli dengan membantu orang untuk belajar, Anda suka membantu siswa memecahkan konsep yang sulit, dan Anda juga senang mendekorasi papan buletin.

Anda cenderung ceria, membuat beberapa orang berasumsi Anda lemah, tapi mereka segera belajar bahwa Anda memiliki kemampuan yang baik sebagai guru di masa depan.

urusan Teknik

Jurusan teknik analitis dan kreatif, bersemangat membongkar, melihat bagaimana mereka bekerja, dan kemudian membangunnya kembali.

Jurusan Bisnis

Mereka yang memilih jurusan bisnis umumnya orang yang outgoing, cerdas secara sosial yang tidak bersedia duduk-duduk dan menunggu dunia datang kepada mereka. Jika Anda mengambil jurusan bisnis , Anda membuat koneksi dengan orang-orang yang berguna di dunia nyata.

Jurusan Ilmu Politik

Anda bangga dengan diri Anda karena mengetahui apa yang terjadi di dunia sekarang, dan Anda pikir itu penting bagi orang seusia Anda. Anda mencoba untuk melihat masalah dari semua sudut dan menemukan solusi, dan ide di waktu yang tepat bisa membuka perdebatan isu-isu kebijakan selama berjam-jam.

Jurusan Bahasa Inggris

Anda yang mengambil jurusan Bahasa Inggris sedikit introvert – Anda bisa banyak bersosialisasi, tetapi Anda senang menghabiskan waktu untuk duduk di sudut yang nyaman dan membaca novel yang amat panjang.

Anda menganalisis segalanya, mungkin terkadang terlalu banyak – bagian favorit Anda dari nonton ke bioskop yakni membahas jalan ceritanya setelah film usai.

Jurusan Fisika

Tak semua ilmuwan canggung secara sosial atau antisosial. Jurusan fisika orang yang cerdas, penasaran suka memecahkan teka-teki dan mencari tahu bagaimana alam semesta terbentuk.

Jurusan Seni atau Teater

Sebagai mahasiswa jurusan seni atau teater, Anda sebetulnya lelah dengan dengan asumsi jurusan Anda tidak akan bisa diaplikasikan dalam dunia kerja. Anda bekerja keras untuk menyempurnakan kemampuan Anda dan mengekspresikan diri dengan banyak berkreasi dan keterampilan. Anda spontan, berani mengambil risiko, dan selalu bisa menemukan sisi teatrikal dalam situasi sehari-hari.

Jurusan Mode atau Desain Interior

Anda menghargai keindahan dan ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah. Anda kreatif dan praktis serta menikmati belajar dalam memecahkan masalah nyata dengan ruang dan pakaian sambil masih memastikan sisi keindahan dan keasliannya.

Jurusan Matematika

Anda adalah seseorang yang mencintai teka-teki, dan Anda menemukan sifat hitam-putih Matematika menenangkan dalam kekacauan dunia.

Jurusan Sejarah

Anda tidak hanya ingin mengetahui konten suatu hal – Anda selalu ingin tahu bagaimana mereka menjadi seperti itu. Anda seseorang yang mencintai cerita tentang dunia nyata dan belajar tentang budaya yang berbeda dari Anda sendiri.

Anda memiliki imajinasi aktif yang memungkinkan Anda setidaknya untuk melihat dunia melalui mata orang di masa lalu.

Jurusan Kedokteran

Anda adalah orang yang terencana. Anda seseorang yang menetapkan tujuan jangka panjang dan bekerja keras mencapainya. Anda menikmati ilmu pengetahuan, tapi juga tertarik pada orang.

Jurusan Bahasa Asing

Anda menyadari bahwa ada dunia besar di luar sana, dan Anda ingin menjelajahinya. Anda ingin tahu, berpetualang, dan suka belajar tentang orang-orang baru.

Psikologi

Untuk Anda, tidak ada yang lebih menarik daripada alam pikiran manusia. Anda ingin menganalisis orang di sekitar serta diri sendiri. Anda sensitif dan berempati terhadap orang lain.  Anda selalu menganggap ada yang lebih banyak yang terjadi dibanding yang dilihat. (Melly F)

[https://health.liputan6.com]

Kemenag: Pendidikan Agama Sebagai Benteng Penangkal Narkoba

Fasilitas modern seperti handphone, dan internet, menjadi sarana yang digunakan oleh jaringan narkoba untuk merusak pembentukan karakter di kalangan remaja

Kemenag: Pendidikan Agama Sebagai Benteng Penangkal Narkoba

 

Hidayatullah.com–Masyarakat sekarang menghadapi tantangan yang sangat besar yaitu arus globalisasi. Selain ada sisi positifnya tentu ada sisi negatifnya. Tapi masyarakat tidak bisa menolaknya. Karena itu, ambil sisi positifnya saja.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang unggul harus mampu meningkatkan kualitas iman dan takwa pendidiknya dan para santrinya. Pendidikan agama adalah paling utama sebagai benteng pertahanan.

Hal itu disampaikan oleh Dr Nanang Fatchurochman M.Pd dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama dalam acara Focus Group Discustion yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pesantren Hidayatullah Jakarta dan Kemenag, di aula Masjid Baitul Karim komplek Hidayatullah Jakarta, Kamis (8/9/2015).

“Fasilitas modern seperti handphone, dan internet, menjadi sarana yang digunakan oleh jaringan narkoba untuk merusak pembentukan karakter di kalangan remaja dan usia anak sekolah,” ujar Nanang.

Tantangan lainnya, kata Nanang, adalah persoalan-persoalan sosial, dan alam demokrasi membuat tatanan keluarga menjadi rapuh, sehingga banyak orangtua yang kurang memperhatikan anak-anak di lingkunagan keluarga maupun di masyarakat. Selain itu, yang mengkhawatirkan adalah masuknya jaringan narkoba internasional di Indonesia yang mengakibatkan meningkatnya pemakai narkoba di kalangan remaja dan anak usia sekolah.

Sementara itu, AKP Agus Yulianto Danardono, SE, bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN mengatakan bahwa peredaran narkoba sudah masuk pada kalangan remaja dan anak usia sekolah.

“BNN terus melakukan sosialisasi P4GN di sekolah-sekolah umum dan pesantren. Karena itu, BNN kini menggandeng Kemenag,” ujar Agus.

“Namun kerjasama ini jangan sampai membuat kesan negatif terhadap pesantren. Pesantren bukan sarang narkoba. Karena itu, BNN harus pandai mengemas dan mengkomunikasikannya. Jangan seperti BNPT yang menimbulkan kesan bahwa pesantren adalah sarang teroris,” kata Nanang.

Kerjasama Hidayatullah Jakarta Timur dengan Kemenag ini merupakan yang kedua kalinya.

“Sebelumnya kami juga pernah bekerjasama dengan Kemenag yaitu sebagai penyelenggara Musabaqah Qira’atil Kutub antar pesantren se-Jakarta Timur. Semoga kerjasama dengan BNN juga bisa ditindaklanjuti oleh Pesantren Hidayatullah lainnya,” ujar Ustadz Mahmud Efendi, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur kepada hidayatullah.com.

Acara yang bertema Kepedulian Masyarakat Melalui Pemberdayaan Lingkungan Pesantren dalam Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) ini dihadiri oleh pengurus Pesantren Hidayatullah Jadetabek, Pesantren Ulul Ilmi, Pustaka Imam Syafi’i, Yayasan Marhamah, Pos Dai, BMH, dan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se-Jakarta Timur. *

Rep: Dadang Kusmayadi

Editor: Cholis Akbar

[https://www.hidayatullah.com]

Pentingnya Pelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi

Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan anugerah melimpah dari Tuhan Yang Maha Esa. Negara kita adalah negara yang terbentang dari sabang sampai merauke. Terdiri dari beribu pulau, beraneka ragam suku, adat dan budaya yang menjadi satu bagian yaitu negara Indonesia. Setiap suku di negara Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam, dimana setiap suku mempunyai adat istiadat berbeda-beda pula, termasuk cara bertutur (berbahasa).

Penggunaan bahasa dalam satu rumpun kebudayaan yang sama hanya terjadi dalam komunikasi antar masyarakat dalam lingkup daerah tertentu. Seperti masyarakat Padang, menggunakan bahasa Minang untuk berkomunikasi antar sesama orang Padang dan masyarakat Jawa menggunakan bahasa Jawa untuk kepentingan komunikasi antar sesama orang Jawa. Hal tersebut menjadi kendala apabila di suatu daerah terdapat kumpulan warga yang berbeda, terdiri dari kumpulan masyarakat dengan latar belakang budaya yang tidak sama. Maka dibutuhkan bahasa yang dapat menjembatani kesulitan berkomunikasi dan sekaligus mempersatukan masyarakat.

Dengan latar belakang keragaman itulah pada tanggal 28 Oktober 1928 masyarakat Indonesia menyatukan kebinekaan dan menyamakan tekad kebahasaan nasional. Termasuk dalam salah satu butir Sumpah Pemuda yang berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Dengan adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, hambatan komunikasi yang disebabkan berbeda latar belakang sosial, budaya, dan bahasa daerah dapat teratasi dengan bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia.

Pada UUD 1945 menerangkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangatlah kuat. Pasal 36 berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa Indonesia”. Penjabaran pasal ini secara lebih luas dapat diartikan bahwa penggunaan bahasa Indonesia menjadi kewajiban untuk setiap kepentingan kenegaraan dan urusan tata pemerintahan. Konsekuensinya, usaha pelestarian, pembinaan, dan mengembangan bahasa Indonesia menjadi tanggung jawab setiap warga negara.

Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia secara baik dan benar menjadi prioritas. Sehingga peningkatan, mengembangkan dan pelestarian bahasa Indoesia mencakupi semua lembaga pendidikan dan menjangkau masyarakat luas. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, dijadikan tempat yang mempunyai peran penting dan stratergis untuk melaksanakan tugas tersebut. Pentingnya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia diajarkan di semua jenjang pendidikan, mulai tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Oleh karenanya, mata pelajaran bahasa Indonesia dijadikan mata pelajaran pokok yang wajib diikuti dan dimasukkan ke dalam syarat kelulusan ujian disetiap jenjang pendidikan.

Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Aktivitas menyimak dan membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan menyimak dan membaca, dapat menguatkan kemampuan siswa untuk memahami setiap maksud yang disampaikan oleh menutur baik dalam bentuk lisan dan/atau tulisan. Siswa dilatih mengingat, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.

Dengan menulis dan berbicara, siswa dapat merefleksikan hasil bacaan dan pengamatannya. Kemampuan berbahasa ekspresif yang secara produktif dapat menghasilkan tuturan bermakna dalam bentuk lisan dan tulisan sehingga difahami. Siswa dapat mengaktualisasikan setiap realitas yang terlihat dalam bentuk komunikasi dengan orang lain.

i lov

Sejarah Bahasa Indonesia

1) Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Merdeka

Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di gunakan dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.

Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan-peninggalan misalnya:

  1. Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380
  2. Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.
  3. Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.

4.Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.

  1. Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.

Dan pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:

  1. Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisia aturan-aturan hidup dan sastra.
  2. Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di indonesia
  3. Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar indonesia.
  4. Bahasa resmi kerajaan.

Bahasa melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa indonesia. (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).

2) Perkembangan Bahasa Indonesia Sesudah Merdeka

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:

1.Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.

  1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
  2. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda ini di kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Unsur yang ketiga dari “Sumpah Pemuda” merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa indonesia. Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia di nyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 di sahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 di sebutkan bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia,(pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa indonesia di pakai oleh berbagai lapisan masyarakat indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa indonesia. Bahasa indonesia di resmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagi bahasa kerja. Dari sudut pandang Linguistik, bahasa indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.

Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” di awali sejak di canangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “Imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap di gunakan.

Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang di gunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Meskipun di pahami dan di tuturkan oleh lebih dari 90% warga indonesia, bahasa indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di indonesia sebagai bahasa Ibu. Penutur Bahasa indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampur adukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa Ibunya.

Meskipun demikian , bahasa indonesia di gunakan di gunakan sangat luas di perguruan-perguruan. Di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa indonesia di gunakan oleh semua warga indonesia. Bahasa Melayu dipakai dimana-mana diwilayah nusantara serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya.Bahasa Melayu yang dipakai didaerah-daerah diwilayah nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak budaya daerah.Bahasa Melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.

Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.Perkembangan bahasa Melayu diwilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.Komikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.

Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa di samping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri cultural, yang ke dalam menunjukkan sesatuan dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.

Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu:

1.Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan.

  1. Sistem bahasa melayu sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa melayu tidak di kenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  2. Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku2 yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu menjadi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
  3. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas

2 Kedudukan Bahasa Indonesia Beserta Fungsinya

A.Sebagai Bahasa Nasional

Tanggal 28 Oktober 1928, pada hari “Sumpah Pemuda” lebih tepatnya, Dinyatakan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional memilki fungsi-fungsi sebagai berikut :

  1. Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional.
    2. Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa.
    3. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.
    4. Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, ras, adat istiadat dan Budaya. Adapun penjelasanya :
  1. Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional.

Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakan nya bahasa indonesia dalam bulir-bilir Sumpah Pemuda. Yang bunyinya sebagai berikut :
Kami poetera dan poeteri Indonesiamengakoe bertoempah darah satoe, Tanah Air Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesiamengakoe berbangsa satoe,Bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesiamendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.

  1. Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa.

Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan masih digunakannya Bahasa Indonesia sampai sekarang ini.Berbeda dengan negara-negara lain yang terjajah, mereka harus belajar dan menggunakan bahasa negara persemakmurannya.Contohnya saja India, Malaysia, dll yang harus bisa menggunakan Bahasa Inggris.

  1. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.

Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam berbagai macam media komunikasi.Misalnya saja Buku, Koran, Acara pertelevisian, Siaran Radio, Website, dll.Karena Indonesia adalah negara yang memiliki beragam bahasa dan budaya, maka harus ada bahasa pemersatu diantara semua itu. Hal ini juga berkaitan dengan Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional sebagai Alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, ras, adat istiadat dan Budaya.
4.Bahasa Indonesia sebagai Alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, ras, adat istiadat dan Budaya.

Agar semua bangsa indonesia memiliki bahasa pemersatu dalam berkomunikasi walaupun berbeda – beda asal,suku,ras dan adat

  1. Sebagai Bahasa Negara

Dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, telah ditetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Dengan demikian, selain berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara.

Pada tanggal 25-28 Februari 1975, Hasil perumusan seminar polotik bahasa Nasional yang diselenggarakan di jakarta. berikut fungsi dan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara adalah :

  1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan.
    2. Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan.
    3. Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.
    4. Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi. Adapun penjelasanya :
  1. Bahasa resmi kenegaraan

Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalam adminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. Dokumen-dokumen dan keputusankeputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badanbadan kenegaraan lain seperti DPR dan MPR ditulis di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di dalam bahasa Indonesia.

Demikian halnya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakat kita di dalam hubungannya dengan upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan.

Suhendar dan Supinah (1997) menyatakan bahwa untuk melaksanakan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan dengan sebaikbaiknya, pemakaian bahasa Indonesia di dalam pelaksanaan adminstrasi pemerintahan perlu senantiasa dibina dan dikembangkan, penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan di dalam pengembangan ketenagaan seperti penerimaan karyawan baru, kenaikan pangkat baik sipil maupun militer, dan pemberian tugas-khususbaik di dalam maupun di luar negeri.

  1. Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan

Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan dilembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Masalah pemakaian bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar di segala jenis dan tingkat pendidikan di seluruh Indonesia, menurut Suhendar dan Supinah (1997), masih merupakan masalah yang meminta perhatian.

  1. Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah

Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama.

  1. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi

Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pada itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik dalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan, dilakukan dalam bahasa Indonesia.Dengan demikian masyarakat bangsa kita tidaktergantung sepenuhnya kepada bangsa-bangsa asing di dalam usahanya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta untuk ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terkait dengan hal itu, Suhendar dan Supinah (1997) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia adalah atu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah.

keep-calm-and-damn-i-love-indonesia-6

  1. Pentingnya Mata Kuliah Bahasa Indonesia dalam Perkuliahan

Dalam bidang pendidikan proses pembelajaran menjadi pilar utama. Karena tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan nasional sangat ditentukan dari proses pembelajaran tersebut. Berbagai mata kuliah diajarkan di perkuliahan, salah satunya adalah pelajaran Bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas Bangsa Indonesia.Karena itu mata kuliahBahasa Indonesia memiliki posisi yang penting dalam perkuliahan.

Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan negara, Indonesia.Pentingnya peranan bahasa itu bersumber pada kedudukan bahasa, Indonesia sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa resmi Negara.Hal ini mempunyai fungsi sebagai alat untuk menjalankan admistrasi Negara, sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, dan media untuk mengkomunikasikan kebudayaan nasional.

Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di perkuliahan tentunya bukan hanya mahasiswa lulus dalam ujian, melainkan mereka harus mampu berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka dibimbing dalam keterampilan berbahasa agar mampu memahami bahasa yang dapat menambah pengetahuan dan pengalaman, agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar.

Pentingkah Mata kuliah Bahasa Indonesia harus diajarkan di perguruan tinggi?jawabannya iya, kenapa? pertama karena kita sendiri tinggal di Indonesia dan sebagai warga negara Indonesia alangkah tidak pantasnya jika kita tidak mempelajari bahasa dari negara kita sendiri. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional negara Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia sudah diajarkan sejak tingkat SD, SMP, dan SMA. Oleh karena itu sebaiknya setelah jenjang SMA bahasa Indonesia sudah dikuasai atau setidaknya mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Bahasa Indonesia. Namun faktanya, masih sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara maksimal.

Selain itu bahasa Indonesia itu penting untuk dipelajari diperguruan tinggi, dikarenakan di universitas setiap mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian, bahasa Indonesia sebagai panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, dll), selain itu mempelajari bahasa Indonesia bagi mahasiswa di universitas sama halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA, namun pembahasan di universitas lebih spesifik dan mendalam, dan sebagian besar mahasiswa masih tetap ingin mempelajari bahasa Indonesia dikarenakan agar mereka mampu bertata bahasa dengan baik dan benar.

Alasan inilah yang membuat Dirjen depdiknas RI memutuskan memasukan Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kuliah yang wajib diajarkan di seluruh perguruan tinggi dan seluruh jurusan. Tujuannya untuk mengasah kemampuan berbahasa dan mengembangkan kepribadian para mahasiswa. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita selaku Warga Negara Indonesia (WNI) untuk menguasai dan menerapkan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari–hari dengan baik dan benar, sehingga bahasa Indonesia dapat terjaga keasliannya.

Dalam perguruan tinggi, kita akan sering membuat karya ilmiah. Bukan hanya karya ilmiah yang akan kita buat melainkan laporan praktikum, skripsi, thesis dan karya tulis lainnya.Di perguruan tinggi, kita akan mempelajari Bahasa Indonesia dimana kita dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia. Ini dilakukan supaya tidak luntur oleh kalangan banyak pemuda dan pengaruh budaya asing yang cenderung mempengaruhi pikiran generasi muda.Di dalam mata kuliah Bahasa Indonesia, kita pasti mempelajari dan memahami arti pentingnya tata bahasa dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam pembuatan karya ilmiah dan sejenisnya. Setelah kita bisa memahami EYD dengan baik dan benar, kita akan bisa mengetahui konsep penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dimanapun kita berada. Sebagai seorang mahasiswa, selayaknya kita menambah kosakata yang sesuai dengan keilmuan yang kita tekuni di perguruan tinggi. Kita harus bisa menggunakan diksi-diksi yang baik dan kalimat-kalimat yang efektif sesuai jenjang pendidikan, bukan seperti anak SMA dan SMP lagi.

Dalam suatu karya ilmiah, penggunaan bahasa memiliki arti yang sangat penting. Bahasa adalah alat komunikasi lingual manusia, baik secara lisan maupun tertulis. Untuk penggunaan bahasa dalam suatu karya ilmiah berarti menitikberatkan suatu bahasa sebagai alat komunikasi berupa tulisan. Karena itu, penggunaan bahasa dalam karya ilmiah sangatlah penting. Pengertian dari karya ilmiah sendiri adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium , artikel jurnal, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.

Nah, untuk di tingkatan perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan https://blog.unnes.ac.id/seputarpendidikan/wp-admin/post-new.phpmenyusun laporan penelitian.Selain itu karena alasan di atas, terdapat beberapa hal lain yang membuat bahasa indonesia harus dijadikan mata kuliah di perguruan tinggi.

Dengan demikian, sangat penting untuk mengadakan mata kuliah Bahasa Indonesia di setiap perguruan tinggi selain karena bahasa indonesia merupakan bahasa negara kita sendiri dan sebagai bahasa pemersatu dengan cara ini juga kita secara tidak langsung telah melestarikan bahasa kita. siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia ini kalau bukan kita sebagai warga negara itu sendiri.

 

Ketahuilah 4 Macam Kurikulum Ini Sebagai Pertimbangan Dalam Memilih Sekolah Internasional

Apakah kurikulum yang digunakan di sekolah internasional?

Banyaknya faktor yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam memilih sekolah. Misalnya,  kualitas, lokasi, biaya, dan termasuk salah satunya adalah kurikulum sekolah atau metode pendidikan yang dipakai.

Saat ini kurikulum sekolah di Indonesia sangat berkembang. Pendidikan tidak melulu berpusat pada hal yang bersifat akademis atau dilakukan dengan cara formal, melainkan lebih bersifat praktis yang diintegrasikan lewat bermain atau dengan cara yang informal.

Berikut adalah pembahasan dari 4 kurikulum yang dijumpai di Indonesia, terutama kurikulum di jenjang prasekolah (preschool).

1. Montessori

Kurikulum Montessori mengutamakan kemandirian di mana anak belajar untuk memilih sendiri konsep apa yang ingin ia pelajari dengan menggunakan alat permainan yang edukatif. Jadi anak belajar dari kesalahan (trial and error) dan mengkoreksi diri.

Kelas di sekolah yang berbasis Montessori bisa terdiri dari murid-murid dengan umur yang berbeda atau campur sesuai dengan keterampilan yang dipelajari. Guru di kelas berfungsi sebagai seorang pengamat dan pembimbing.

Orang tua yang memilih sekolah dengan metode ini memiliki alasan karena dapat memupuk kemandirian dan sifat kepemimpinan anak. Pada awalnya metode ini mulai diperkenalkan oleh Maria Montessori di Roma sekitar tahun 1900 yang diperuntukkan bagi anak yang terbelakang secara mental. Namun praktek ini berkembang dan dapat diaplikasikan bagi anak yang normal baik dari jenjang prasekolah, SD sampai sekolah menengah.

2. Waldorf

Pendidikan dengan metode Waldorf berfokus pada keterampilan yang bersifat praktis. Di usia dini diberikan melalui permainan yang kreatif. Perkembangan anak secara moral dan sosial juga menjadi salah satu tujuan yang ingin dicapai. Maka penilaian pada anak dilakukan secara kualitatif daripada kuantitatif (berupa skor).

Metode yang awalnya dikembangkan oleh Rudolf Steiner di sekolah di Jerman ini didasarkan pada teorinya tentang perkembangan anak.

3. Reggio Emilia

Kurikulum ini berbasis proyek (project) di mana pelajaran diberikan dalam bentuk proyek yang dikerjakan oleh anak. Jadi anak akan belajar melalui eksplorasi untuk mencari jawaban dan memecahkan suatu masalah (problem-solving). Metode ini adalah buah gagasan dari Reggio Emilia dari Italia sejak tahun 1940.

4. High Scope

Kurikulum High Scope, berdasarkan teori konstruktivisme oleh Vygotsky, mengutamakan pembelajaran aktif (active learning) dan  berbasis komunitas belajar di mana interaksi secara aktif dilakukan oleh murid.

Setiap pelajaran diberikan dengan urutan Plan-Do-Review di mana anak sendiri merencanakan apa yang akan dipelajari, melakukan proses pembelajaran dan mengulang kembali apa yang sudah dipelajari.

Terdapat 8 komponen utama dalam metode yang berasal dari Amerika Serikat ini termasuk pendekatan pembelajaran, bahasa dan komunikasi, perkembangan sosial dan emosional, kesehatan jasmani, matematika, sains dan teknologi, pengetahuan sosial dan kesenian.

Semoga informasi ini berguna bagi orang tua yang sedang mencari sekolah bagi anak, dilihat dari kurikulum yang diterapkan. Orang tua perlu mengetahui pendekatan pengajaran yang dianut oleh suatu sekolah agar sesuai dengan karakter belajar anak. Sehingga hasil optimal dapat diraih oleh anak dalam proses belajarnya.

[Widya Pancadewi ]

Pendidikan Anak Usia Dini Penting Bagi Perkembangan Anak

Pendidikan anak usia dini penting bagi perkembangan anak

Perkembangan jaman tentunya menuntut adanya perubahan termasuk dalam mendidik anak. Orang tua sekarang mulai merasakan perlunya pendidikan anak usia dini di sekolah bahkan ada yang dimulai dari usia 18 bulan.

Maka, sekarang banyak sekali sekolah yang membuka pendidikan anak usia dini yang disebut kelompok bermain atau preschool di kota-kota besar di Indonesia terutama di Jakarta.

Selain preschool, Childcare juga banyak dijumpai di pusat kota termasuk Jakarta. Childcare menjadi pilihan bagi orang tua yang sibuk sebagai bentuk pendidikan anak usia dini sekaligus anak tetap mendapat perhatian dan asuhan selama orang tua bekerja.

Golden age: saat penting pendidikan anak usia dini

Periode sejak anak lahir hingga kurang lebih usia 4 tahun dipercaya sebagai periode keemasan (golden age) di mana anak mengalami perkembangan yang pesat terutama kecerdasan otak.

Proses pembelajaran pada pendidikan usia dini dapat mencapai hasil yang optimal bila anak mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan perkembangan usianya.

Anak belajar melalui observasi, eksperimen dan komunikasi dengan orang lain. Masa ini sangat penting sebagai fondasi utama bagi perkembangan anak di usia selanjutnya.

Oleh karena itu, sekarang terdapat banyak sekolah untuk pendidikan anak usia dini (preschool) dengan berbagai metode pendidikan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.

Ada 5 aspek penting dalam pendidikan anak usia dini:

  • Kemampuan motorik atau fisik: perkembangan fisik anak dikembangkan termasuk kemampuan motorik kasar seperti olahraga dan motorik halus seperti bermain puzzle, melakukan kerajinan tangan
  • Kemampuan kognitif: bagaimana anak hidup dalam lingkungannya dan bagaimana untuk memecahkan masalah
  • Kemampuan sosial: anak belajar berinteraksi dengan orang lain
  • Kemampuan emosional: anak mampu mengendalikan emosi dan percaya diri
  • Kemampuan bahasa: anak belajar berkomunikasi dengan orang lain dan bagaimana menyatakan perasaan dan emosinya melalui bahasa. 

    Mengapa sekolah penting untuk pendidikan anak usia dini?

    Menurut Kathleen McCartney, PhD, pakar pendidikan Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat di situs Parents, terdapat perbedaan hasil yang dicapai dari anak yang bersekolah sejak dini di preschool.

    Selain belajar mengenal angka, huruf dan bentuk, anak juga belajar bagaimana bersosialisasi dengan anak lainnya dengan belajar berbagi dan menghormati orang lain.

    Ia juga menambahkan bahwa anak yang mendapatkan pendidikan di preschool lebih siap ketika memasuki Taman Kanak-kanak (TK).

    Anak memiliki kemampuan yang lebih baik dalam persiapan membaca, jumlah kosa kata yang lebih banyak dan dasar matematika dibandingkan anak-anak yang tidak belajar di preschool.

    Tentunya pendidikan anak usia dini di sekolah diberikan dengan cara yang berbeda dengan anak Sekolah Dasar di mana anak akan lebih banyak belajar melalui bermain dan bernyanyi.

    Semoga informasi ini membantu orang tua dalam mencari pendidikan anak usia dini yang terbaik bagi si buah hati.

Sambut Tahun Baru Islam, Perguruan Al-Iman Gelar Diskusi Pendidikan

Suasana diskusi pendidikan yang diadakan Yayasan
Suasana diskusi pendidikan yang diadakan Yayasan

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – Kedatangan tahun baru Islam 1 Muharram  1437 H disambut umat Islam dengan berbagai acara. Misalnya, pawai, karnaval, zikir dan doa, maupun ceramah.

Yayasan Perguruan Al-Iman memaknai 1 Muharram 1437 H  dengan menggelar  diskusi pendidikan. Kegiatan tersebut diadakan di Sekolah Al-Iman Citayam, Bogor, Jawa Barat, Rabu  (14/10). Diskusi menampilkan pembicara peneliti Gerakan Indonesia Bermutu Dr Misbah Fikriyanto.

“Melalui disksusi tersebut kami  berupaya untuk  memberikan pencerahan kepada  pengurus dan para kepala sekolah Al-Iman tentang pentingnya mengelola pendidikan dengan konsep leadership yang kuat dan berkarakter,”  ujar Ketua Umum Yayasan Perguruan Al-Iman Afrizal Sinaro kepada Republika.

Afrizal menambahkan,  pada peringatan  Hari Guru Nasional 25 November  2015 Yayasan Perguruan Al-Iman dan Indonesia Bermutu akan mengadakan  pelatihan kepala sekolah Islam di Citayam. “Dr Misbah akan menjadi narasumber pelatihan tersebut,” ujar  Afrizal Sinaro.

(https://khazanah.republika.co.id)

Pendidikan Dasar Untuk Semua

gambar: sosialitas.weebly.com
gambar: sosialitas.weebly.com

Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat besar dalam memastikan anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar mendapatkan pendidikan – sekitar 97 persen dari anak-anak berusia 7 sampai 12 tahun di seluruh negeri dapat bersekolah.

Namun, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia yang seharusnya bersekolah tidak dapat menikmati pendidikan: 600.000 anak usia sekolah dasar dan 1.9 juta anak usia sekolah menengah pertama (13-15 tahun).

Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling parah. Hampir setengah dari anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tidak mampu melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama – anak-anak yang berasal dari rumah tangga termiskin memiliki kemungkinan putus sekolah 4 kali lebih besar daripada mereka yang berasal dari rumah tangga berkecukupan. Hampir 3 persen dari anak-anak usia sekolah dasar di desa tidak bersekolah, dibandingkan dengan hanya lebih dari 1 persen di daerah perkotaan.

Dari mereka yang belajar di bangku sekolah dasar, hampir 1 dari 5 anak tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama, dibandingkan 1 dari 10 anak di daerah perkotaan.

Hampir setengah dari anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tidak mampu melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama

Kemungkinan putus sekolah adalah 20 kali lebih tinggi untuk anak-anak yang ibunya tidak memiliki pendidikan daripada mereka yang memiliki ibu dengan pendidikan tinggi. Jika ini terbukti sebagai fenomena yang terjadi terus-menerus maka akan berdampak besar bagi pertumbuhan jangka panjang Indonesia, jika kurangnya pendidikan berlanjut dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Upaya memahami dan menanggapi ketimpangan ini menjadi pusat dari kegiatan dan program UNICEF dalam bidang pendidikan, yang meliputi:

    • Memperkuat pengumpulan data mengenai situasi anak-anak di sekolah, dan di luar sekolah, melalui sistem informasi yang bersumber dari masyarakat.

    • Menilai alasan-alasan mengapa banyak anak usia dini tidak berpartisipasi dalam perkembangan awal masa kanak-kanak, yang membatasi keberhasilan mereka dalam mengikuti dan menyelesaikan pendidikan dasar dan hambatan dalam pendaftaran dan penyelesaian pendidikan sekolah dasar.

    • Memperbaiki keterampilan kepala sekolah, pengawas, dan aparat pendidikan untuk mengelola dan menyampaikan pendidikan berkualitas utama yang menjangkau semua anak-anak.

  • Melibatkan komunitas dan masyarakat sipil setempat dalam menyampaikan pelayanan pendidikan yang berkualitas lebih baik bagi anak-anak yang terpinggirkan, seperti contoh melalui perbaikan manajemen berbasis sekolah.(https://www.unicef.org)