Air Terjun Suhon

https://www.putroe-aceh.com/wp-content/uploads/2015/05/air-terjun-suhom-5.jpg

via :https://www.putroe-aceh.com

Air Terjun ini berada di Desa Suhom, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Untuk bisa mencapai tempat wisata ini, Anda harus melewati jalanan naik-turun dengan pemandangan pegunungan Paro dan Kulu. Di tengah perjalanan, jangan kaget saat melihat banyak monyet berkeliaran di jalan. Monyet-monyet ini biasanya meminta buah-buahan atau makanan ringan lain pada pengguna jalan yang lewat.

Air terjun setinggi 50 meter ini dibagi menjadi tiga tingkat, namun Anda tidak diperbolehkan naik menuju tingkat dua dan tiga demi alasan keselamatan karena adanya pembangkit listrik bertegangan tinggi.

Meskipun begitu, tempat wisata di Aceh ini tetap menyajikan pemandangan yang luar biasa. Anda bisa berenang di telaga sedalam dua meter di bawah air terjun atau menemani anak-anak bermain air di kolam renang anak. Tak ingin bermain air? Silakan bersantai di gazebo yang telah disediakan sambil menikmati makanan yang banyak dijual di sekitar lokasi air terjun.

Di kelompok Candi Arjuna terdapat empat candi utama dan satu candi pendamping

Menyelisik Kompleks Candi Tertua di JawaDari kanan ke kiri: Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra. Kelompok Candi Arjuna ini terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Dataran tinggi Dieng identik dengan suhu yang dingin, panorama yang indah, aneka kuliner yang menggoda. Satu lagi, Dieng adalah gunungnya para dewa.

Menurut sejarahnya, Dieng berasal dari kata “Di” yang berarti gunung dan “Hyang” yang berarti dewa. Kedua kata tersebut yang membentuk Dieng, dengan arti gunung dimana para dewa bersemayam. Candi-candi Hindu beraliran Syiwa yang ditemukan di Dieng memperkuat cerita tersebut.

Menurut data Perpustakaan Nasional, candi-candi Dieng pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Inggris pada tahun 1814. Sekumpulan candi itu berada dalam kondisi terendam genangan air telaga. 40 tahun kemudian, Van Kinsbergen memimpin pengeringan telaga dimana candi-candi ini berada. Proses pembersihan diteruskan pada 1864, dan selanjutnya dilakukan pencatatan dan pemotretan oleh Can Kinsbergen.

Salah satu yang paling terkenal dan menarik perhatian wisatawan lokal maupun asing adalah kompleks Candi Arjuna. Terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, kompleks Candi Arjuna memiliki luas sekitar 1 hektare.

Di kelompok Candi Arjuna terdapat empat candi utama dan satu candi pendamping. Empat candi utama itu adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Keempatnya berjajar dari utara ke selatan. Satu candi pendamping bernama Candi Semar berada di sebelah barat Candi Arjuna.

Sebagian besar arca dari kompleks candi ini disimpan di Museum Kailasa yang terletak di Selatan komplek candi. Sementara, sebagian yang lain sudah hilang.

1. Candi Arjuna

Memiliki luas sekitar 4m2, tubuh candi berdiri di atas batur setinggi satu meter. Pintu masuk berada di bagian barat, dengan semacam bilik penampil yang menjorok keluar dari tubuh candi dan Kalamakara di bagian atas pintu.

Candi ini diperkirakan merupakan candi tertua di Jawa. Candi Arjuna juga merupakan satu-satunya candi dalam kelompok ini yang memiliki candi pendamping atau candi sarana, yaitu Candi Semar yang terletak menghadap Candi Arjuna.

2. Candi Semar

Seperti yang tertulis di atas, Candi Semar adalah candi pendamping Candi Arjuna. Konon, bangunan ini digunakan sebagai gudang menyimpang senjata dan perlengkapan pemujaan. Berdiri di atas batur setinggi 50 meter, dinding candi ini dihiasi lubang ventilasi. Atap candi berbentuk limasan, namun puncak atapnya sudah hilang.

3. Candi Srikandi

Tidak seperti tiga candi utama lain yang dibangun untuk menyembah Dewa Syiwa, Candi Srikandi dibangun untuk menyembah Trimurti (tiga dewa), Syiwa, Brahma dan Wisnu. Hal tersebut ditunjukkan dari pahatan yang menggambarkan Wisnu di dinding utara, Syiwa di dinding timur dan Brahma di dinding selatan. Sayangnya, atap candi ini sudah rusak, sehingga tidak terlihat bentuk aslinya.

4. Candi Puntadewa

Batur yang menjadi alas candi ini cukup tinggi, 2,5 meter. Membuat candi ini tampak paling tinggi di antara candi-candi lain di kelompok ini. Selain bentuknya yang mirip dengan candi Sembadra, atap bangunan ini juga sudah hancur. Bahkan kini Candi Puntadewa “dihiasi” instalasi kayu untuk menopang tubuh candi.

5. Candi Sembadra

Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi 50 meter. Bentuk candi ini seperti bangunan tingkat dua jika dilihat sepintas. Lagi-lagi, puncak atap candi ini juga sudah hancur.

Source : https://nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/menyelisik-kompleks-candi-tertua-di-jawa