Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Hadiah Indah untuk Guru Tercinta

index

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, demikianlah banyak orang mengartikan sederhana profesi seorang guru. Terlintas dalam benak sebuah kenangan indah bersama guru yang memberikan inspirasi besar dalam hidupku.

Derap langkah kaki terdengar tak asing lagi di telinga, saat aku tengah berbincang ria bersama kawan-kawan pagi itu di lorong sekolah. Suara derap langkah yang terdengar semakin jelas mendekatiku dan seolah berhenti tepat dibelakangku. Sejenak suasana riuh kawan-kawan yang tengah duduk bersantai hilang bersama dengan terhentinya suara derap langkah kaki itu. Seketika aku menoleh ke belakang dan benar saja seperti yang ada dalam benak, telah berdiri dibelakangku yang tak lain adalah Bapak Satarim. Akupun terdiam dan hanya menundukkan kepala, hingga Pak Satarim mengarahkan pandangan kepadaku dan berkata untuk segera menyelesaikan deadline artikel yang sudah diberikan.

Bapak Satarim adalah salah seorang guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA tempatku menimba ilmu. Selain menjadi seorang guru mata pelajaran, beliau merupakan pembina ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja) dan Mading (Majalah Dinding) di sekolahku. Jiwa yang tangguh serta sifat pekerja keras yang dimiliki membawa beliau menduduki jabatan Wakasek (Wakil Kepala Sekolah) bidang Humas (Hubungan Masyarakat) selama satu tahun terakhir sebelum aku meninggalkan bangku SMA.

Ekstrakurikuler KIR/Mading yang aku ikuti sejak duduk di kelas X membawaku dapat mengenal lebih dekat sosok Pak Satarim. Sosok yang sangat peduli dengan berbagai permasalahan yang terjadi pada siswa. Salah satu masalah yang tengah dihadapi saat itu adalah kenyataan rendahnya minat siswa di sekolahku untuk menulis. Telah lama beliau menaruh perhatian lebih terhadap ekstrakurikuler KIR/Mading yang aku ikuti. Beliau menganggap ekstrakurikuler KIR/Mading sangat bermanfaat bagi siswa untuk dapat mengasah kemampuan menulis dan meneliti. Meskipun demikian, tidak banyak siswa yang mau mengikuti ekstrakurikuler ini sehingga beliau merasa masih memiliki beban besar dalam peranan beliau sebagai seorang guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang notabene dekat dan memiliki tanggung jawab lebih dalam permasalahan ini.

Sepenggal cerita diatas merupakan salah satu cerita mengenai “uniknya” sosok pak Satarim yang banyak memberikanku motivasi hidup. Pak Satarim memiliki satu kebiasaan yang saat itu aku anggap sangat menjengkelkan. Kebiasaan yang menurutku “aneh” dan tidak biasa dilakukan oleh guru-guruku yang lain. Kebiasaan untuk memberikan deadline artikel dan menagih deadline tersebut kapanpun dan dimanapun bertemu. Pernah suatu hari aku bertemu dengan beliau saat tengah tergesa-gesa menuju kelas karena jam istirahat siang yang akan segera berakhir. Beliau menagih deadline artikel yang beberapa hari lalu diberikan. Namun karena pada saat itu aku memiliki banyak tugas, akupun belum sempat untuk menyelesaikan deadline yang diberikan. Saat itu juga Pak Satarim menahanku untuk masuk kelas dan memberikan nasehat akan pentingnya menulis. Hal tersebut terulang bukan hanya 1 atau 2 kali, namun sudah tidak terhitung lagi berapa banyak beliau melakukan hal yang sama.

Suatu hari beliau menunjukkanku pamflet berisi pengumuman lomba karya tulis ilmiah remaja tingkat kabupaten. Sambil memperlihatkan pamflet tersebut beliau berkata, “Berani terima tantangan besar dari bapak?”. Aku heran dengan sikap beliau yang tiba-tiba menantangku. Tanpa berpikir panjang dan mengetahui apa tantangan yang diberikan dengan tegas aku katakan, “Berani Pak”. Setelah itu beliau memerintahkanku untuk menemui pada sore harinya, selepas jam sekolah usai.

Sore hari kutemui pak Satarim di ruang guru. Rasa penasaran yang tinggi, dengan dugaan-dugaan yang aku pikirkan tentang tantangan yang diberikan membuatku semakin cepat ingin bertemu beliau. Sesampainya di ruang guru, terlihat pak Satarim yang telah duduk menunggu kedatanganku.

Pak Satarim menatapku dengan tajam. Beliau memulai pembicaraan dengan menunjukkan pamflet pengumuman lomba karya tulis ilmiah remaja kepadaku, dengan nada lirih beliau memulai pembicaraan. Beliau menginginkan aku untuk dapat mewujudkan cita-cita yang telah lama diimpikan. Cita-cita tulus dari hati seorang guru yang telah banyak memberikan pengaruh bagi siswanya. Cita-cita untuk dapat memajukan nama sekolah melalui prestasi yang diukir oleh siswa-siwinya dari berbagai bidang. Akupun tertegun saat melihat ekpresi wajah penuh harap dengan mata yang berkaca-kaca dari seorang guru yang saat itu aku anggap “aneh” dengan kebiasaan yang dilakukan.

Jarum jam menunjukkan angka 20.00 WIB. Tidak seperti biasanya, malam itu aku berada di laboratorium komputer sekolah dengan masih mengenakkan seragam putih abu-abu kebanggaanku. Duduk di depan komputer sekolah didampingi oleh pak Satarim yang tengah membantu mengaupload hasil karya ilmiahku. Malam itu merupakan hari terakhir peserta lomba untuk mengupload kayanya. Harapan besar menjadi modal semangat yang aku dan pak Satarim miliki. Meskipun dengan penuh keterbatasan serta minimnya dukungan, hanya optimisme tinggi yang menjadi bekalku untuk memberikan hadiah indah untuk guru yang telah banyak mengubah cara pandangku terhadap kehidupan serta dalam hal pengembangan bakat dan minat yang aku miliki.

“Selamat anda lolos tahap dua seleksi lomba karya tulis ilmiah remaja tingkat kabupaten”, demikianlah kalimat yang terlihat di depan mataku selang beberapa hari setelah aku mengupload hasil karyaku. Rasa bahagia seketika menyelimuti hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata. Meskipun pengumuman tersebut belum menjadi hasil akhir, namun setidaknya aku merasa jalan itu telah terbuka lebar didepanku. Aku masih harus berkompetisi bersama 10 orang lainnya untuk mempresentasikan hasil karya ilmiahku.

Dua hari kemudian tibalah saat yang aku tunggu-tunggu. Saat aku harus mencurahkan semua kemampuanku dalam presentasi di tahap akhir lomba karya tulis ilmiah yang aku ikuti. Bermodal doa dan dukungan dari pak Satarim dan orang tua, ku langkahkan kaki menuju medan pertempuran yang sebenarnya. Dengan beban besar yang aku pikul untuk memberikan yang terbaik untuk nama SMA-ku dan untuk mewujudkan cita-cita besar guru yang sangat aku hormati, ku tatap jalan yang terbentang panjang di depan mataku. Mengenai hasil akhir telah sepenuhnya aku pasrahkan kepada Allah Swt, pak Satarim pun tidak memberikan target juara kepadaku.

Hingga tiba saat pengumuman pemenang lomba oleh para juri. Namaku disebut sebagi runner up 1 lomba karya tulis ilmiah remaja tingkat kabupaten. Seketika air mata haru menetes membasahi wajahku, aku pulang dengan membawa piala sebagai tanda kemenangan. Terlihat pak Satarim telah menunggu di depan gerbang sekolah dengan senyum khas yang mengembang dari bibir, beliau menyambut kepulanganku bersama guru-guru lain. Telah aku dedikasikan kemenangan tersebut sebagai hadiah indah untuk guruku tercinta, bapak Satarim Nuryanto S.Pd. Beliau menatapku dan berkata “Kamu kebanggaanku nak, jadilah generasi penerusku. Jangan mudah menyerah dengan tantangan yang kamu hadapi”.

Kini aku mengerti tujuan dari kebiasaan “aneh” pak Satarim adalah untuk menguji kemampuan menulis dan melatihku agar menjadi orang yang tidak mudah menyerah. Berlatih, berusaha, dan berdoa menjadi aspek penting yang harus ada dan mengiringi di setiap langkah dalam menggapai cita-cita yang diimpikan.

(Terima Kasih Guru)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: