Rumah Sosiologi dan Antropologi

Tempat berbagi ilmu oleh Afiat Afianti

Deislamisasi Masuknya Sejarah Islam

PENDAHULUAN
Islam dan kaum muslimin punya peranan yang tidak main-main dalam perjalanan bangsa Indonesia. Datang sejak abad pertama hijriah, Islam memberikan inspirasi yang besar dalam mengantar bangsa ini menjadi Indonesia. Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari peran para pejuang muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Yang menarik, berdasarkan laporan pemerintah Belanda sendiri, bahwa peristiwa perlawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji. Ironis, sejarah yang diajarkan kepada anak-anak sekolah, tidak mengenalkan peran “Resolusi Jihad” yang dikomandoi oleh KH. Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan fatwa “wajib” bagi setiap muslim untuk mempertahankan kemerdekaan.

Dan sangat disayangkan, sejarah negeri ini tenyata tidak pernah berkata jujur tentang peran Laskar santri yang terhimpun dalam Hizbullah maupun laskar kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam berperang melawan penjajah. Ketika itu Hizbullah berada di bawah Masyumi, dimana KH. Hasyim Asy’ari menjabat sebagai Ketua Masyumi. Laskar Hizbullah (Tentara Allah) dan Sabilillah (Jalan Allah) didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang, dan mendapat latihan kemiliteran di Cibarusah, sebuah desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual KH. Hasyim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zaenul Arifin. Adapun laskar Sabilillah dipimpin oleh KH. Masykur. Konon, pemuda pesantren dan anggota Ansor NU (ANU) adalah pemasok paling besar dalam keanggotaan Hizbullah.

Saat proklamasi, Islam sangat berperan besar.Tanggal 17 agustus yang bertepatan dengan tanggal 19 ramadhan 1364 H, proklamasi dilakukan oleh Sukarno atas desakan para pemuda dan para ulama. Tadinya Bung Karno tidak berani, tapi kemudian didorong oleh Hasyim al Asy`ari. Karena pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika telah gagah berani meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki. Dalam keadaan yang seperti ini, Bung Karno menemui para ulama antara lain dari Cianjur, Abdul Mukti dari Muhamadiyah, Hasyim Al Ash`ari dari NU yang mendesak proklamasi dilakukan tanggal 17 Agustus 1945. Lalu Bung Karno mendirikan Masjid Syuhada di Yogjakarta sebagai tanda bahwa kemerdekaan tidak akan mungkin terjadi tanpa ada pengorbanan para syuhada dan pejuang. Pembangunan patung Diponegoro di lapangan Monas itu menunjukkan pesan bahwa perjuangan bangsa Indonesia dipimpin oleh para ulama di barisan depan. TNI tidak mungkin ada jika PETA yang terdiri dari 68 bataliyon tidak ada, dan kesemuanya dipimpin oleh para ulama. Tapi deislamisasi histori yang terjadi mengatakan, semuanya bukan dari kekuatan Islam tapi nasionalisme.

ANALISIS PENULIS
Sebuah penelitian menyingkap fakta tentang sejarah masuknya islam di Indonesia. Sebuah keyakinan Islam bukan masuk pada awal 13 H, tapi pada awal hijriah dan islam bukan dibawa oleh Gujarat dan Persia, itulah sebuah fakta yang yang selama ini dibelokkan sejarahnya oleh para penutur sejarah. Sebenarnya banyak sekali fakta-fakta sejarah islam dan para ulama Islam yang dibelokkan sejarahnya, yang pasti ada maksud tersendiri dari pembelokkan sejarah ini. Ada usaha untuk membelakangi Islam sejak awal yang dilakukan oleh penjajah. Realitasnya Islam sudah masuk pada abad ke 7 bukan abad ke 13. Islam bukanlah dibawa oleh pedagang Gujarat, karena Gujarat adalah pusatnya Syiah. Islam di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai yang menganut ahlu sunnah, bukan syiah. Laporan ini langsung ditulis oleh Ibnu Batutah, sedangkan laporan Snouck Hurgronje keliru. Strategi pembelokkan sejarah oleh pemerintah kolonial Belanda untuk membuat umat Islam tidak membela agamanya. Sebagai gantinya, disebutkan sejarah bahwa Indonesia terinspirasi oleh Hindu dan Budha yang masuk abad ke-5 oleh kerajaan Kutai yang lebih awal dari Islam, padahal sejak awal kenabiah, Islam sudah masuk melalui perdagangan Rosullulloh. Untuk lebih mendukung sejarah tersebut, dikatakan pesantren terinspirasi oleh sistem pendidikan Hindu. Padahal jika mau diteliti, Hindu tidak mempunyai konsep pendidikan, Timur tengahlah yang menginspirasi pendidikan Islam yang bernama madrasah. Semua dikaitkan dengan Hindu dan Budha seakan akan lebih akbar, sedangkan Islam dipandang sebagai peradaban yang meruntuhkan Indonesia.
Umat Islam punya sejarah yang panjang tentang perlawanan terhadap penjajah. Ketika pusat perdagangan Islam Malaka dikuasai portugis, Islam dari Demak maupun Aceh menghadang penyerangan Malaka. Begitu pula saat Portugis masuk ke Sunda Kelapa, perlawanan Islam dipimpin oleh WaliSongo. Fatahillah menjadi panglima perang yang memenangkan perlawanan melawan Katolik. Setelah memenangkan, nama Sunda Kelapa diubah menjadi fathan Mubina yang diambil dari Asurat al-Fath ayat 1. Sebelum penjajah Katolik dan Protestan datang ke Indonesia, Islam sudah mempunyai identitas bendera yaitu merah dan putih. Proses deislamisasi terus berjalan bahkan setelah penjajah sudah terusir dari Indonesia. Padahal yang melawan penjajah adalah umat Islam. Majapahit, Padjadjaran, tidak pernah melawan penjajah. Umat Islam yang mengatasnamakan kaum pribumilah yang telah melawan penjajah Katolik dan Kristen yang membawa bendera misionaris datang ke Indonesia.

Ditulis oleh : Eko Santoso

posted by afiatafianti in Ilmu lainnya and have Comment (1)

One Response to “Deislamisasi Masuknya Sejarah Islam”

  1. afifah says:

    Postingan yang bermanfaat sekali, dapat menambah pengetahuan mengenai kapan masuknya Islam di Indonesia

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment

Skip to toolbar