Materi Antropologi SMA KELAS XI : Perubahan Budaya dan Melemahnya Nilai – Nilai Tradisional

nilai

Perubahan Budaya dalam Masyarakat

Budaya dan nilai-nilai tradisonal merupakan  sesuatu yang hidup dan berkembang di masyarakat. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami perkembangan. Perkembangan sendiri berarti perubahan. Perubahan budaya dan nilai-nilai tradisional adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia yang tak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang bermasyarakat. Keterikatan dan keterkaitan budaya dengan manusia itulah yang mengakibatkan budaya itu menjadi tidak statis, atau dengan kata lain budaya itu bersifat dinamis.

Arus global berimbas pula pada keberadaan budaya dan nilai-nilai tradisional  Indonesia di masyarakat. Sebelum membahasnya lebih lanjut, perlu kita pahami terlebih dahulu pengertian nilai. Nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Keterikatan orang atau kelompok terhadap nilai relatif sangat kuat dan bahkan bersifat emosional yang dapat dilihat sebagai tujuan kehidupan manusia itu sendiri. Sejalan dengan perkembangannya, budaya mengalami suatu pergesaran. Pergesaran budaya dan pemertahanan budaya sebenarnya seperti dua sisi mata uang, budaya menggeser budaya lain atau budaya yang tak tergeser oleh budaya. Pergeseran budaya menunjukkan adanya suatu budaya yang benar-benar ditinggalkan atau diakulturasi oleh masyarakatnya. Hal ini berarti bahwa ketika pergeseran budaya terjadi, anggota suatu komunitas budaya secara kolektif lebih memilih menggunakan budaya baru daripada budaya lama.

Masyarakat dan budaya di mana pun selalu dalam keadaan berubah. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faaktor yaitu sebab perubahan budaya dari masyarakat dan lingkungannya sendiri,misalnya perubahan jumlah dan komposisi. Saat manusia  itu punah, ada kemungkinan budaya yang dimiliki akan punah. Sebab selanjutnya yaitu adanya perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah secara lebih cepat. Yang terakhir yaitu adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.

Dalam masyarakat maju, perubahan kebudayaan biasanya terjadi melalui penemuan (discovery) dalam bentuk ciptaan baru (inovation) dan melalui proses difusi. Discovery merupakan penemuan baru yang mengubah persepsi mengenai hakikat suatu gejala mengenai hubungan dua gejala atau lebih. Invention adalah suatu penciptaan bentuk baru yang berupa benda (pengetahuan) yang dilakukan melalui penciptaan dan didasarkan atas pengkom-binasian pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada mengenai benda dan gejala yang dimaksud.

Ada empat bentuk peristiwa perubahan kebudayaan. Pertama, cultural lag, yaitu perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Dengan kata lain, cultural lag dapat diartikan sebagai bentuk ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut. Kedua, cultural survival, yaitu suatu konsep untuk meng-gambarkan suatu praktik yang telah kehilangan fungsi pentingnya seratus persen, yang tetap hidup, dan berlaku semata-mata hanya di atas landasan adat-istiadat semata-mata. Jadi, cultural survival adalah pengertian adanya suatu cara tradisional yang tak mengalami perubahan sejak dahulu hingga sekarang. Ketiga, pertentangan kebudayaan (cultural conflict), yaitu proses pertentangan antara budaya yang satu dengan budaya yang lain. Konflik budaya terjadi akibat terjadinya perbedaan kepercayaan atau keyakinan antara anggota kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Keempat, guncangan kebudayaan (cultural shock), yaitu proses guncangan kebudayaan sebagai akibat terjadinya perpindahan secara tiba-tiba dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya.

Ada empat tahap yang membentuk siklus cultural shock, yaitu: (1) tahap inkubasi, yaitu tahap pengenalan terhadap budaya baru, (2) tahap kritis, ditandai dengan suatu perasaan dendam; pada saat ini terjadi korbancultural shock, (3) tahap kesembuhan, yaitu proses melampaui tahap kedua, hidup dengan damai, dan (4) tahap penyesuaian diri; pada saat ini orang sudah membanggakan sesuatu yang dilihat dan dirasakan dalam kondisi yang baru itu; sementara itu rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.

Memahami proses perubahan kebudayaan dan masyarakat merupakan tujuan yang paling penting dan fundamental dalam disiplin Antopologi. Di bawah ini akan dijelaskan gambaran sekilas tentang pandangan beberapaa ahli tentang perubahan sosial dan kebudayaan.

  • Aliran Evolusi

Menurut konsepsi tentang proses evolusi social yang universal, manusia dengan segala cirinya yaitu biologis dan budaya termasuk di dalamnya bahasa, telah menjalani perkembangan yang lambat (evolusi) dari tingkat rendah dan sederhana ke tingkat yang makin lama makin tinggi dan kompleks.

Proses evolusi seperti itu akan dialami oleh manusia tetapi dengan kecepatan yang tidak selalu sama (Koentjaraningrat, 1980:31)

Menurut Morgan dan Tylor, tiap kebudayaan itu berkembang sendiri-sendiri mengikuti sejarah perkembangannya sendiri melalui serangkaian tahapan yang sama yang bersifat unilinear (Murdock, 1969:131). Dengan kata lain kecepatan perkembangan kebudayaan itu antara masyarakat yang satu dengan yang lain tidak sama tetapi tahap-tahap yang dilalui pasti sama.

  • Aliran Difusi

Prinsip dasar teori ini menurut para ahli antara lain Koentjaraningrat dan Woods, adalah sebagai berikut:

  1. Makhluk manusia pada dasarnya tidak menemukan satu unsure kebudayaan baru untuk dua kali.
  2. Persamaan kebudayaan di berbagai tempat di muka bumi ini terjadi karena adanya difusi
  3. Dalam proses difusi kebudayaan Mesir memegang peranan penting sebagai sumber utama.
  • Aliran Neo Evolusi

Aliran neoevolusi dipelopori oleh Leslie White dan Julian Steward (1902-1972). Pandangan White mengenai perkembangan kebudayaan dihubungkan dengan energy. Ia mengemukakan bahwa kebudayaan terdiri dari tiga subsistem yaitu (1) Teknologi, (2) sosiologi, (3) ideology.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa White menganggap perkembangan kebudayaan manusia itu mula-mula berjalan sangat lambat, kemudian bertambah cepat sesudah manusia dapat menguasai energy atau berbagai macam sumber tenaga. Penemuan sumber tenaga yang baru akhirnya akan menjadi cultural mutations atau pendorong gerak kebudayaan.

Perubahan Budaya

Perubahan budaya dalam suatu masyarakat disebabkan oleh berbagai factor dengan melalui beberapa cara.

  1. Faktor-Faktor penyebab perubahan budaya
  2. Faktor internal
  3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Perkembangan yang semakin luas akan menghasilkan teknologi yang semakin baik, yang kemudian mengubah hidup manusia

  1. Jumlah penduduk

     Masalah penduduk yang menimbulkan perubahan perubahan budaya pada umumnya adalah pertambahan jumlah penduduk akibat urbanisasi. Demikian juga berkurangnya jumlah penduduk pada daerah-daerah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang berurbanisasi. Urbanisasi akan menimbulkan ketidakseimbangan antara desa yang kehilangan/kekurangan tenaga kerja dan kota yang terjadi pertambahan jumlah penduduk. Dengan demikian di kota akan terjadi kesenjangan kebudayaan dan sosial antara penduduk yang berasal dari desa, yang memiliki budaya dan kebiasaan hidup pertanian dan gotong royong menghadapi kehidupan kota yang dinamis, cepat, berpola industry, dan lebih individual.

  1. Pertentangan atau Konflik

     Adanya pertentangan atau konflik mengakibatkan nilai-nilai,norma, adat-istiadat yang telah lama dijadikan pedoman atau penuntun dalam bersikap maupun berperilaku akan menimbulkan perubahan sosial-budaya. Hal ini terjadi apabila mereka beralih dai nilai-nilai, norma-norma, adat-istiadat yang telah mereka laksanakan. Misalnya pandangan umum masyarakat Indonesia bahwa “makin banyak anak makin banyak rezeki”. Untuk saat ini pandangan tersebut sudah tidak dapat diterima karena kenyataan menunjukkan bahwa banyak anak berarti semakin besar beban yang harus ditanggung oleh keluarga.

  1. Faktor eksternal
  2. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

       Perubahan budaya dapat terjaadi baik adanya interaksi langsung antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain maupun melalui komunikasi satu arah dengan media-media massa. Respons psikologis individu terhadap kontak antar budaya menurut Furnhan dan Bochner dibedakan menjadi empat kemungkinan, yaitu: (i) typed passing,individu menolak kebudayaan asli dan mengadopsi kebudayaan baru bila statusnya lebih tinggi, (ii) typed chauvinist, individu menolak sama sekali kebudayaan asing, (iii) typed marginal, mereka terombang ambing-ambing antar kebudayaan yang asli dan kebudayaan yang baru/asing, (iv) typed mediating, mereka menyatukan bermacam-macam identitas budaya, mempunyai keseimbangan integrasi dan memperoleh dua atau beberapa kebudayaan.

  1. Peperangan

Dampak yang ditimbulkan dari adanya peperangan antar anggota masyarakat maupun dengan masyarakat lain adalah perubahan sosial budaya yang pada umumnya mempunyai nilai negative.

  1. Penyebab dari alam

       Perubahan budaya dapat terjadi bila di masyarakat terjadi suatu bencana alam yang mengakibatkan penduduk harus berpindah ke tempat lain. Di tempat yang baru tersebut mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan budaya yang baru, sehingga nilai-nilai, budaya yang telah lama dilaksanakan akan berubah atau berbaur dengan yang baru.

      Dampak perubahan budaya salah satunya adalah melemanya nilai-nilai tradisional yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Hal ini tentunya memiliki dua dampak yang tidak bisa dipisahkan, yaitu dampak negative da positif. Dampak negative dari perubahan budaya dari budaya tradisional ke budaya modern yang disebabkan oleh berbagai factor seperti yang telah disebutkan diatas salah satunya yaitu melemahnya nilai-nilai tradisional dalam masyarakat. Nilai tradisional yang luhur warisan dari nenek moyang kita seharusnya kita pertahankan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di masyarakat. Misalnya saja proses globaisasi yang terjadi sekarang ini telah menghilangkan nilai-nilai tradisional yang luhur yang dimiliki bangsa Indonesia, misalnya saya nilai-nilai tentang kesopanan dan gotong royong dan nilai-nilai tersebut perlahaan-lahan berubah menjadi individualitas. Sedangkan dampak negative yang terjadi akibat dari perubahan nilai-nilai tradisional ke modern adalah meningkatnya optimism,lebih menghargai waktu, dan memiliki pikiran yang terbuka terhadap perubahan.

  1. Sumber Terjadinya Perubahan Kebudayaan
  2. Dari dalam

Immanen: terjadi apabila ide baru diciptakan dan dikembangkan oleh warga suatu masyarakat tanpa adanya pengaruh dari pihak luar, dan akhirnya ide baru tsb menyebar ke seluruh sistem sosial.

2.Dari luar

Kontak: Perubahan terjadi sebagai gejala ‘antar sistem’ bererti ide baru tersebut berasal dari luar sistem sosial suatu masyarakat.

  1. Jenis Perubahan Kontak
  2. Selektif

Perubahan kontak selektif terjadi apabila warga suatu sistem sosial bersikap terbuka terhadap pengaruh yang datang dari luar (berdasarkan kebutuhan sendiri).

  1. Terarah

Perubahan kontak terarah atau terencana memang disengaja oleh pihak luar, misalnya para change agent secara intensif guna suatu tujuan untuk mengenalkan ide baru.

  1. Proses Dalam Perubahan Budaya
  1. Proses Akulturasi

Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah proses sosial yang terjadi terhadap manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dalam suatu masyarakat dipengaruhi oleh unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, lambat laun diakomodasi dan diintegrasikan ke dalam kebudayaannya tanpa kehilangan kepribadian kebudayaan yang dimilikinya. Dengan kata lain, akulturasi adalah suatu bentuk perubahan karena adanya pengaruh dari kebudayaan asing yang lambat laun diterima tanpa kehilangan kepribadian kebudayaan aslinya.

  1. Proses Asimilasi

Menurut Koentjaraningrat asimilasi adalah bertemunya dua kebudayaan atau lebih kemudian masing-masing kebudayaan tersebut mengalami perubahan, baik dalam sifat maupun wujud unsur-unsurnya dan berbaur menjadi satu kebudayaan yang baru. Secara umum Asimilasi adalah sebuah proses berbaurnya dua atau lebih kebudayaan yang berbeda, lalu membentuk suatu kebudayaan baru dan kebudayaan asli hilang oleh perbauran budaya yang berbeda tersebut. Percampuran kedua atau lebih kebudayaan tersebut membentuk suatu kebudayaan yang baru yang tidak memiliki lagi ciri kebudayaan yang lama. Koentjaraningrat mengatakan bahwa asimilasi dapat terjadi karena:

1) golongan manusia dengan latar belakang yang berbeda,

2) hubungan terjalin cukup lama, sehingga masing-masing cirri khas menjadi luntur dan

    membentuk percampuran unsur kebudayaan yang baru,

3) masing-masing kebudayaan mengalami perubahan dan kehilangan ciri khasnya hingga

    akhirnya terbentuk kebudayaan baru yang berupa kebudayaan campuran.

  1. Proses difusi kebudayaan

Difusi adalah proses penyebaran kebudayaan melalui perpindahan bangsa-bangsa. Kebudayaan tersebar dikarenakan terbawa oleh bangsa-bangsa yang melakukan migrasi. Dengan demikian proses penyebaran kebudayaan tersebut terjadi melalui peristiwa geografis. Menurut Koentjaraningrat, difusi adalah proses pembiakan dan gerak penyebaran atau migrasi yang disertai dengan proses penyesuaian atau adaptasi fisik dan sosial budaya dari makhluk manusia dalam jangka waktu beratus-ratus ribu tahun lamanya sejak zaman purba. Dengan kata lain, difusi adalah suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia. Contoh terjadinya proses difusi sebagai proses penyebaran kebudayaan pada masa prehistori yaitu ketika kelompok manusia berburu berpindah ke daerah lain yang jauh sekali dan membawa budaya berburu ke daerah tempat mereka berpindah. Penyebaran unsur kebudayaan melalui pertemuan kelompok individu yang bertetangga.

Lemahnya Nilai-nilai Tradisional

Pada dasarnya,  budaya memiliki nilai-nilai yang senantiasa dwariskan, ditafsirkan, dan dilaksanakan seiring dengan proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Pelaksanaan nilai-nilai budaya merupakan manifestasi, dan legitimasi masyarakat terhadap budaya. Eksistensi budaya dan keragaman nilai-nilai tradisional kebudayaan sangat berguna untuk membentuk karakter bangsa Indonesia.  Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi budaya dan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sampai saat ini belum optimal dalam upaya membangun karakter bangsa. Lebih lanjut, berbagai macam tindakan yang dilakukan masyarakat  berakibat pada kehancuran suatu bangsa seperti menurunnya perilaku sopan santun, menurunnya perilaku kejujuran, menurunnya rasa kebersamaan, dan menurunnya rasa gotong royong diantara anggota masyarakat.

Dalam kaitannya dengan nilai-nilai tradisional dalam budaya, ada beberapa contoh yang dapat ditemukan di masyarakat. Seperti, kurangnya kesadaran cinta budaya lokal yang ditunjukan oleh masyarakat dari budaya tersebut. Anak muda di Jawa jarang menggunakan bahasa jawa sebagai alat komunikasi. Mereka lebih prestise dengan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi. Bahasa Jawajarang digunakan  oleh masyarakat karena malu. Contoh, di kampus  atau sekolah sering dijumpai banyak mahasiswa berbicara dengan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa. Di kalangan mereka, jangankan bahasa Jawa krama alus, bahasa Jawa ngoko pun sudah jarang digunakan. Mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, tidak jarang juga dicampur dengan bahasa Inggris. Selain contoh diatas, ada pula contoh lemahnya nilai-nilai tradisional yang dapat dilihat dari sisi kecintaan terhadap kesenian daerah. Dahulu, wayang dan kethoprak merupakan hiburan yang sangat dinantikan oleh masyarakat baik dari kalngan muda hingga kalangan tua. Saat ini, nilai kecintaan terhadap kesenian tersebut luntur digantikan dengan banyaknya antusias masyarakat yang lebih senang melihat sinetron di televisi.

Daftar Pustaka :

Joyomartono, Mulyono. 1991. Perubahan Kebudayaan dan Masyarakat dalam Pembangunan. Semarang: IKIP Semarang Press

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Bayu Indrayanto. 2010. Fenomena Tingkat Tutur dalam Bahasa Jawa Akibat Tingkat Sosial Masyarakat. Jurnal Magistra No. 72 Th. XXII

Handoyo, Eko, dkk. 2007. Studi Masyarakat Indonesia. Semarang : FIS UNNES.

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta : Balai Pustaka.

http://blog.unnes.ac.id/arsiwakhida/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: