SISTEM PERKAWINAN DAN KEKERABATAN DI DESA NGADAS, KAB. PROBOLINGGO.

Oleh: Andhika Cahya Purwanto

    A. Pendahuluan

Ada sebuah desa adat di puncak Kabupaten Malang yang mana desa adat itu adalah salah satu dari 36 jumlah desa dalam Masyarakat Tengger, Masyarakat Tengger sendiri tersebar ke dalam 4 wilayah. Desa indah nan sejuk ini bernama Desa Ngadas, lokasinya yang begitu tinggi membuat tanah di Desa Ngadas menjadi sangat subur. Maka dari itu, mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Masyarakat Desa Ngadas sangat bertumpu dalam sektor pertanian, hal tersebut jelas digambarkan oleh lereng-lereng bukit yang dipenuhi oleh lahan-lahan pertanian. Sebenarnya ada juga sebagian dari mereka yang bekerja dalam sektor pariwisata, tetapi jumlahnya tergolong sedikit dan tidak terlalu banyak.

Masyarakat Tengger berada di wilayah yang dikelilingi oleh beberapa Gunung yang tinggi membuat Masyarakat Adat Tengger tidak dapat terlepas dari aktivitas dari gunung-gunung tersebut. Ketika mereka melaksanakan upacara adat, mereka selalu melaksanakannya disekitar gunung-gunung tersebut.

Pada dasarnya, Masyarakat Tengger sangat menjunjung tinggi adat istiadat mereka. Agama bagi mereka hanyalah pegangan dalam hidupnya. Sedangkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka lebih mementingkan faktor budayanya. Agama yang dipegang oleh Masyarakat Tengger adalah Agama Hindu, namun ada juga sebagian kecil Masyarakat Tengger yang beragama Islam. Bahkan hanya 1 desa saja yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tenggang rasa dan sikap saling menghargai sangat dicerminkan oleh mereka, hal ini dapat terlihat dari kehidupan mereka yang saling rukun satu sama lainnya. Walaupun mereka (yang beragama hindu) berdampingan dengan orang-orang Islam, mereka dapat hidup berdampingan dengan rukun dan saling tolong-menolong. Hal ini disebabkan tenggang rasa dan sikap saling menghargai sudah ditanamkan sejak kecil oleh orang tuanya.

Kegiatan Masyarakat Tengger dimulai sejak pagi buta. Hal ini dapat terlihat karena ada beberapa masyarakat yang menyediakan jasanya untuk mengantar tamu ke Puncak Pananjakan untuk melihat indahnya matahari terbit, selain itu ada juga yang menyediakan berbagai macam perlengkapan untuk menghangatkan badan. Sementara itu beberapa warga yang berada di rumah sejak pagi hari sudah mulai meramaikan ladang. Anak-anak yang masih sekolah biasanya masuk sekolah pukul 08.00, hal itu menimbang karena udaranya yang sangat dingin dan tidak memungkinkan untuk mereka beraktivitas. Ketika malam menjelang, terlihat beberapa warga yang menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri mereka, di tempat itu juga terlihat beberapa warga yang ikut menghangatkan badan.

Masyarakat Tengger sangat memegang teguh budayanya. Hal ini dapat terlihat ketika diselenggarakannya upacara adat, acara pernikahan, upacara kematian, dan lain sebagainya disambut dengan baik dan dijalankan dengan gotong-royong. Masyarakat Tengger pun terkenal keras dalam mengatur tamu-tamunya, hal ini pun dibuktikan oleh perkataan Dukun Panditha yang dianggap sebagai orang yang suci sekaligus tokoh adat di Masyarakat Tengger.

Ada satu hal yang sangat tidak dapat di toleransi oleh Masyarakat Tengger, yaitu apabila tidak mengikuti atau tidak mematuhi aturan adat. Ketika seseorang tidak mengikuti upacara adat, maka dia akan dikeluarkan oleh Masyarakat karena dianggap tidak mematuhi aturan-aturan adat yang berlaku. Dapat kita ketahui bahwa semua peraturan di Masyarakat pasti menggunakan beberapa asas. Di Masyarakat Tengger sendiri dalam peraturan adat istiadatnya mengutamakan asas gotong-royong. Maka dari itu, mereka beranggapan bahwa kesuksesan bersama adalah hal yang utama, sementara kesuksesan pribadi akan mengikuti kesuksesan bersama tersebut. Ketika ada anggota masyarakat yang berada di luar daerah, maka Masyarakat Tengger mengharapkan kesediaannya untuk kembali ke Desa untuk membantu perkembangan desa.

Akhir-akhir ini, globalisasi dan modernisasi sudah mulai merambah di tengah-tengah Masyarakat Tengger. Hal ini terlihat dari cara berpakaiannya yang sudah sedikit mengikuti perkembangan zaman, dan banyak pula remaja-remaja yang sudah menggunakan “Gadget” yang bervariasi.

 

 

 

 

Sistem Perkawinan dan Kekerabatan Masyarakat desa Ngadas.

B.1. Sistem Perkawinan

 

Perkawinan merupakan suatu kejadian yang sangat penting di dalam suatu Masyarakat. Perkawinan merupakan proses yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti untuk melanjutkan keturunan atau regenerasi, untuk membangun sebuah lembaga keluarga yang baru, dan lain sebagainya.

Seperti masyarakat pada umumnya, masyarakat Tengger ,khususnya desa Ngadas, pun melakukan perkawinan. Perkawinan di dalam masyarakat desa Ngadas diatur oleh adat setempat. Hal ini dibuktikan dengan adanya aturan-aturan yang mengatur tentang sistem perkawinan di Masyarakat Tengger.

Namun globalisasi sudah mulai merambah desa Ngadas. Karena hal itu, sebagian kecil di sistem perkawinannya sudah mulai bergeser tidak seperti dulu lagi. Dulu mereka hanya melaksanakan perkawinan endogami, yaitu perkawinan yang dilakukan antara dua orang yang berasal dari dalam desa Ngadas tersebut. Nyatanya sekarang sudah banyak yang melakukan perkawinan dengan orang dari luar desa Ngadas tersebut.

Pola menetap yang diterapkan sebelumnya adalah menetap di dalam desa Ngadas itu sendiri. Tetapi belakangan banyak yang sudah merantau dan memilih tinggal bersama pasangannya di luar desa Ngadas. Akan tetapi beberapa dari yang merantau pun banyak yang tinggal di desa Ngadas. Apabila ada seseorang dari masyarakat Ngadas yang tinggal di luar desa Ngadas, dia akan diminta kesediannya untuk kembali ke desa Ngadas untuk ikut membantu membangun desanya dengan ilmu yang ia dapat dari luar Masyarakat Tengger.

Mengenai maskawin masyarakat desa Ngadas dahulunya memang mengatur tentang mahar yang digunakan. Akan tetapi sekarang disesuaikan dengan kemampuan si pelamar karena ditakutkan akan menyulitkan si pelamar untuk melamar si gadis.

Apabila seorang pemuda atau pemudi dari masyarakat desa Ngadas hendak melamar atau dilamar oleh orang yang berbeda agama, dahulunya, si pelamar akan masuk agama dari orang yang dilamarnya. Seperti contoh ketika si A yang beragama Hindu dari desa Ngadas hendak melamar C yang beragama Islam, maka si A sudah siap menerima konsekuensi untuk berpindah agama. Akan tetapi sekarang ini sistem tersebut sudah mulai pudar karena adanya toleransi beragama. Jadi sekarang ini mereka bebas memilih akan memasuki agama yang mana untuk mereka jalani.

 

B.2. Sistem Kekerabatan

Mengenai sistem kekerabatan sendiri, hampir seluruhnya mirip dengan sistem kekerabatan yang ada di Jawa. Tetapi ada sedikit perbedaan yang mencolok untuk pemanggilan terhadap kerabat tersebut, contohnya adalah Mak Lek yang digunakan untuk memanggil nenek.

Hubungan antar kerabat yang ada di desa Ngadas masih sangatlah baik dan kental. Hal itu dibuktikan dengan adanya kunjungan antar kerabat pada hari-hari tertentu.

Gotong royong antar kerabat pun masih dijalani dengan baik. Hal ini terlihat apabila ada upacara perkawinan yang sakral, maka kerabat-kerabatnya pun turut membantu apa yang harus dilakukannya, atau dalam kata lain ada pembagian kerjanya.

 

Penutup

Masyarakat desa Ngadas atau Masyarakat Tengger pada umumnya yang bertempat tinggal di Kawasan Gunung Bromo sangatlah beraneka ragam. Hal ini dapat terlihat ketika kita mendalami dan memasuki serta memahami kebiasaan mereka untuk di kaji lebih lanjut.

Untuk mengenai sistem perkawinan dan kekerabatan, hampir sebagian besar masih terpengaruh oleh masyarakat Jawa, dan kebebasan untuk mereka, yaitu si calon pengantin, sudah terpengaruh oleh masyarakat luar. Akan tetapi budaya dan intisari dari Masyarakat Tengger itu tidak luntur dan masih dominan. Perkawinan sendiri dikembalikan pada diri masing-masing karena mereka dirasa sudah cukup dewasa untuk berpikir bagaimana baiknya.

Sistem kekerabatannya pun hampir sama dengan masyarakat Jawa, hanya sedikit berbeda pada sistem pemanggilannya saja.