ABSTRAK

Dalam masyarakat Jawa terdapat pemahaman dan pemaknaan sendiri terhadap agama yaitu agami ageming aji. Artinya semua agama mengajarkan petunjuk hidup. Salah satu contoh masyarakat yang menghargai pluralitas agama adalah masyarakat Desa Ngadas, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur yang masih merupakan penduduk asli dari Suku Tengger. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang terbentuknya pluralitas agama di masyarakat Ngadas serta mengetahui hubungan-hubungan sosial yang terjalin diantara mereka. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Ngadas dan di dukung oleh informan dari masyarakat Desa sekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa latar belakang terbentuknya pluralitas agama di Desa Ngadas terkait dengan beberapa faktor pendorong yaitu faktor historis, faktor keberadaan pendatang, dan faktor perkawinan. Hubungan soaial yang terjadi umat beragama Desa Ngadas berlangsung dengan harmonis, hal tersebut tercermin dalam relasi yang terjadi pada aspek perkawinan, aktivitas sosial masyarakat, perekonomian dan pendidikan.

Kata Kunci: Pluralitas, Hubungan Sosial, Agama.


ABSTRACT

In the Javanese community there an own understanding and interpretation of religio.it is AgamiAgemingAji. Its means that all religions always teach us about way of live.For example about the plurality of religion is Ngadas society in Probolinggo, East Java. They are he original inhabitants of Tengger ethnic. The purpose of this research is to know the background of religion pluralism in Ngadas society and to know how the social relation can be formed in their society. The subject of this research is Ngadas Society and supported by the other village society. Based on the conclution of this research, we can conclude that background of religion pluralism are formed by some factors. They are historical factor, urban society factor, and marriage factor. Social relation which happened among the different religious can be practiced harmoniously. It is can be seen in marriage relation aspect, social activities aspect, economic aspect, and education aspect.

Keywords: Pluralism, Social relation, Religion.


PENDAHULUAN

Masyarakat Tengger adalah suatu komunitas kecil yang letaknya berada di beberapa wilayah Pegunungan Semeru-Bromo di Jawa Timur.Salah satunya di Desa Ngadas, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.Dari bahasa Sanskerta dalam penamaan Gunung Bromo, Bromo diambil dari kata Brahma, salah seorang Dewa utama dalam kepercayan agama Hindu.Masyarakat Tengger bertempat tinggal sekitar 20 Km dari kawah Gunung Bromo yang mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.Masyarakat Tengger merupakan suatu kelompok masyarakat yang sampai sekarang masih ada sejak zaman dahulu. Masyarakat Tengger merupakan sub Suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010.

Menurut keyakinan masyarakat asli Desa Ngadas, pemaknaan kata Tengger yang merupakan nama dari komunitas mereka adalah bahwa mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger.

Dari sejarah di atas, warga Tengger terutama Desa Ngadas juga memaparkan bahwa mereka memilki rasa hormat terhadap warga yang memiliki keyakinan yang berbeda mengingat ada dua agama yaitu Hindu dan Islam.Tampak terlihat jelas bahwa agama yang diyakini masyarakat Tengger berbeda-beda mulai dari agama yang diyakini oleh individu sampai komunitas agama atau kelompok. Dari perbedaan tersebut, agama yang paling menonjol diantara masyarakat Tengger adalah agama Hindu dan juga agama Islam, kemudian ada juga agama-agama yang dianut masyarakat Tengger dengan jumlah kecil yaitu agama Kristen, agama Khatolik dan agama Budha. Perbedaan agama ini menjadi pemisah pola pengelompokantempat tinggal Masyarakat Tengger, contohnya adalah Desa Ngadas yang menjadi tempat tinggal kelompok masyarakat berkeyakinan Hindu dan kemudian di Desa Wanakerta menjadi tempat tinggal masyarakat beragama Islam. Hal inimenjadi kondisi masyarkat dengan adanya perbedaan agama yang dianut dan diyakini oleh masing-masing individu atau masing-masing kelompok masyarakat.Desa Ngadas sebagai wilayah tempat tinggal salah satu warga Tengger yang berdiri diatas pluralitas. Pluralitas yang diyakininya sebagai salah satu penyokong integrasi antar warga. Pluralitas yang berdiri tegak di tengah-tengah masyarakat tergambar dalam religi yang mereka yakini, pekerjaan yang mereka jalankan, budaya yang mereka junjung, dan lain-lain. Salah satu yang paling menonjol dari adanya pluralitas tersebut adalah agama atau religi tersebut. Agama menjadi titik tengah sorotan dalam sistem sosial kehidupan yang berputar dipusaran desa Ngadas.

Terlihat aktivitas yang menjadi sebuah relasi atau hubungan yang begitu erat antara masyarakat agama Hindu dengan masyarakat beragama Islam yang menunjukkan tidak adanya konflik atau pertentangan antar masyarakat.Rasa toleransi antar sesama, rasa persaudaraan yang kuat dan rasa kebersamaan yang menunjukkan kehidupan harmonis diantara masyarakat yang plural dengan agama yang berbeda menciptakan suatu kemajuan dan kesejahteraan di berbagi bidang. Berdasarkan fenomena diatas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

Rumusan Masalah:

  1. Bagaimana latar belakang Terbentuknya Pluralitas Agama di masyarakat Tengger?
  2. Bagaimana Hubungan Antar Masyarakat Tengger dengan Agama yang berbeda?

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naturalistik. Lokasi penelitian ini adalah di desa Ngadas, Kabupaten Probolinggo, ProvinsiJawa Timur Sum­ber data primer dalam penelitian ini dipero­leh secara langsung melalui wawancara dan observasi dengan informan di lapangan. Data sekunder diperoleh dari arsip dan buku-buku yang berhubungan mengenai pluralitas agama di Desa Ngadas. Teknis pengumpulan informasi dan data dilakukan melalui kunjungan lapangan dan studi kepustakaan. Kunjungan lapangan dilakukan untuk memperoleh informasi dan data primer yaitu dengan cara pengamatan langsung ke desa Ngadas sebagai desa yang berada dekat dengan lokasi pariwisata Bromo yang masih menjunjung nilai-nilai tradisi dan agama. Mengumpulkan dan menggunakan informasi dan data tertulis, lisan, dan tindakan yang didapati dari sumber-sumber artikel, buku-buku, langsung datang melakukan observasi lapangan dan wawancara dengan masyarakat setempat mengenai keadaan pluralitas agama yang ada. Studi pustaka dilakukan melalui penelusuran informasi dari laporan, buku-buku literatur yang berhubungan erat dengan obyek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yang digunakan dalam usaha mencari dan mengumpulkan data, menyusun, menggunakan serta menafsirkan data yang sudah ada. Untuk menguraikan secara lengkap, teratur dan teliti terhadap suatu obyek penelitian. Metode deskriptif adalah memberikan gambaran yang jelas dan akurat tentang material atau fenomena yang diselidiki.


HASIL DAN PEMBAHASAN

1. GambaranUmum Desa Ngadas Kabupaten Probolinggo

Jumlah penduduk di wilayah Ngadas adalah sekitar kurang lebih 1.315 orang dan sekitar 358 KK(Kepala Keluarga).Matapencaharian Mayoritas masyarakat Ngadas adalah pertanian dan peternakan yang memanfaatkan keadaan alam sebagai pendukung dari kegiatan ekonomi tersebut.Untuk segi pertanian, keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai di ketinggian 3000 diataspermukaan laut yaitu lereng Gunung Bromo. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, wortel, jagung,bawang prei(plompong tengger) dan sasyur-sayuran yang lain.Kemudian dari segi peternakan, jenis hewan piaraan yang ada antara lain lembu, kambing, babi dan ayam kampung. Jenis binatang yang hidup secara liar di hutan-hutan adalah babi hutan (sus scrofa) rusa timur (cervus timorensis), serigala atau (muncak muntiacus), dan berkembang pula jenis macam tutul (panthera pardus), terdapat pula species burung-burungan, misalnya burung air.

Masyarakat Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan,walaupun ada yang namanya Dukun adat yang mereka sebut dengan dukun pandita. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat, Suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang mereka sebut dengan Petinggi yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara Adat.Proses pemilihan seorang Petinggi,dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat, melalui proses pemilihan petinggi.Sedang untuk pemilihan Dukun,dilakukan melalui beberapa tahapan-tahapan (menyangkut diri pribadi calon Dukun) yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen (ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa) yang diucapkan pada waktu Upacara Kasada bertempat di Poten Gunung Bromo.

2. Latar Belakang Terbentuknya Pluralitas Agama di Tengger

     Faktor Historis

Sesuai dengan data yang kami dapat dari masyarakat secara interview, masyarakat Tengger mengakui bahwa mereka merupakan penduduk asli Jawa Timur yang sudah ada sejak dulu sebelum kerajaan Majapahit. Namun kemudian saat masuknya Islam di Indonesia tepatnya di pulau Jawa saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merupakan pusat agama hindu pada saat itu, merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian para penduduk Majapahit melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini tinggal dengan waktu yang lama, kemudian orang-orang Majapahit yang melarikan diri tersebut berinteraksi dengan masyarakat asli Tengger, hidup membaur, berkomunikasi dan berelasi sehingga lama kelamaan terjadilah generalisasi agama hindu yang dibawa oleh orang-orang Majapahit kepada masyarakat Tengger pada saat itu. Kerajaan Majapahit yang pada saat itu mengalami pelarian dan persinggungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa datang dan menetap di wilayah Gunung Bromo tepatnya di sekitar Desa Ngadas.

Agama di masyarakat Tengger khususnya Desa Ngadas bukan Hindu Tengger seperti yang telah di kenal banyak kalangan dan sering diidentikkan dengan Hindu Bali. Hindu yang mereka anut adalah Hindu Darma danmeskipun begitu, Hindu padamasyarakat Tengger memiliki beberapa perbedaan dengan Hindu pada masyarakat Bali. Hindu padamasyarakat Tengger khususnya desa Ngadas tidak mengenal ngaben sebagaiupacara kematian mereka tidak mengenal Kasta seperti Hindu yang di anut oleh masyarakat Bali. Masyarakat Ngadas sangat taat dengan aturan agama Hindu. Gunung Bromodipercayai sebagai gunung suci yang digunakan untuk mengadakan berbagai macam upacara-upacara yang dipimpin oleh seorang dukun yang sangat dihormati dan disegani. Masyarakat Tengger lebih memilih tidak mempunyai kepala pemerintahan desa dari pada tidak memiliki pemimpin ritual atau yang mereka sebut dengan Dukun Pandita. Namun, masyarakat Tengger di desa Ngadas tetap dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau petinggi yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun Pandita diposisikan sebagai pemimpin ritual atauupacara adat.Proses pemilihan seorang kepala desa,dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat. Sedang untuk pemilihan Dukun Pandita dilakukanmelalui beberapa tahapan tahapan yang diakhiri melalui ujian Mulunen ( ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa ) yang diucapkan bertepatan dengan waktu Upacara Kasada di Poten Gunung Bromo.Posisi yang dipegang oleh dukun pandita tidak bisa dijabat sembarang orang.Keputusan untuk melantik seorang Dukun Pandita juga bukan berasal dari keturunan melainkan melalui syarat-syarat yang telah ditentukan tersebut.

        Faktor Pendatang

Sejak adanya para pendatang dari luar Desa Ngadas dan maupun dari luar masyarakat Tengger yang berpindah di Ngadas dan kemudian beralih agama menjadi agama Hindu melalui hubungan perkawinan, hubungan pekerjaan dan hubungan social masyarakat yang lain, namun di Desa Wanakerta yang bersebelahan dengan Desa Ngadas 99% masyarakat beragama Islam. Hal ini pada mulanya para pedagang-pedagang islam luar daerah yang dating sangat tertarik dengan holtikultural yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian masyarakat Ngadas yang menjadi pusat matapencaharian. Hal ini menyebabkan hubungan kerja antara petani dengan pedagang semakin erat hingga mengakibatkan keintiman dari hubungan tersebut. Untuk mencegah pengaruh perbedaan paham dan perbedaan agama para pedagang-pedagang islam lebih memilih bertempat tinggal di Desa Wanakerta yang berada di sebelah timur Desa Ngadas.

Di dukung dengan keterbukaan masyarakat Tengger dengan kedatangan para tamu pendatang, pengaruh agama lain dari luar juga semakin kuat. Masyarakat Ngadas tidak pernah mementingkan agama sebagai pedoman yang hingga membuat mereka terisolasi dengan keadaan social dari luar karena mereka lebih meyakini bahwa orang yang mertamu atau para kaum pendatang adalah suatu kehormatan bagi mereka ada para pendatang yang mau mengunjungi dan bertamu di wilayah mereka dan kebetulan temperamen orang-orang di Desa Ngadas cenderung ramah-tamah dan suka menunjukan sesuatu yang merekapunyai yang membuat orang terkagum-kagum, kerena bagi mereka hal ini adalah sarana masyarakat untuk menambah persaudaraan antar sesame dan ini merupakan sarana untuk saling mengenal, saling berinteraksi, saling berhubungan, saling bersilaturahmi dan saling bantu-membantu antar sesama. Terlebih dengan keadaan lingkungan Desa Ngadas dengan keelokan panorama Gunung Bromo ini akan semakin menambah dan memperkuat minat para pendatang untuk sekedar berwisata di DesaNgadas dan bahkan bertempat tinggal disana.

Menurut pengamatan yang kami amati, bahkan masyarakat Desa Ngadas yang mengaku tidak pernah merasakan bangku sekolah malah dapat menguasai bahasa-bahasa internasional mulai dari bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jerman dan bahasa Russia yang mereka gunakan untuk menyambut kedatangan para turis dari negara-negara luar dan mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan para turis. Tampak jelas terlihat seorang penjual jasa tunggang kuda menawarkan kudanya kepada turis-turis yang dating dengan menggunakan bahasa-bahasa yang mereka kuasai, dan seorang pedagang makanan-makanan tradisional keliling sedang bercanda ria dengan seorang turis asal Russia dan ada pula orang yang memiliki jasa kamar mandi di tengah luasnya tanah lapang lautan pasir Gunung Bromo sedang berbicara dengan touris asal Swedia.

      Faktor Perkawinan

Terbentuknya pluralitas agama di masyarkat Ngadas juga ditandai dengan adanya perkawinan yang dilakukakan dari kelompok dalam dengan kelompok luar. Para pendatang yang membawa agama yang berbeda yang bertempat tinggal di daerah sekitar Ngadas akan banyak menjalin hubungan perkawinan dengan masyarakat Ngadas. Masyarakat tidak ingin agama menjadi masalah dan konflik dalam menjalin hubungan sesama, bagi masyarakat agama adalah keyakinan pribadi seseorang terhadap sang penciptanya dan masyarakat Ngadas juga memiliki prinsip asal perkawinan dilandasi rasa saling mencintai, rasa saling menyayangi dan rasa saling tresna antar kedua pasangan maka tidak ada penghalang bagi merka untuk melakukan perkawinan. Perkawinan yang dilakukan dengan agama yang berbeda tidak di tekankan pada salah satu agama tetapi masyarakat memberikan kebebasan individu yang menikah untuk memilih agama yang ia hendaki. Dengan kebebasan menikah tersebut maka pluralitas agama akan semakin tampak pada masyarakat dan jumlah kelompok yang menyebabkan pluralitas agama tersebut akan semakin bertambah dan mendominasi keadaan plural agaa tersebut.

3. HubunganAntarPemeluk Agama pada Masyarakat Tengger

      Hubungan dalam aspek perkawinan

Dalam hubungan antar pemeluk agama, masyarakat Tengger memiliki sikap toleransi yangsalah satunya ditunjukan dalam hal perkawinan. Sistem perkawinan pada masyarakat Tengger, khususnya masyarakat Ngadas bersifat eksogami dan heterogami.Hal ini berarti tidak adanya larangan untuk menikah dengan anggota masyarakat pada lapisan sosial yang berbeda atau anggota masyarakat luar masyarakat Tenggerdengan berbeda agama. Perempuan-perempuan Ngadas yang beragama hindu tidak ada larangan untuk menikah dengan laki-laki dari daerah lain atau dari luar masyarakat Tengger yang berbeda agama. Kemudian dalam pelaksanaan prosesi pernikahanya, calon mempelai diharuskan menggunakan adat Tengger dan tetap berada di daerah Tengger lebih khususnya di daerah Ngadas. Apabila perempuan tersebut lebih memilih untuk bertempat tinggal di daerah pasanganya, maka perempuan tersebut dianggap telah keluar dari keanggotaan masyarakat Tengger di desa Ngadas. Selain upaya masyarakat untuk mempertahankan wanita agar tetap berada di dalam lingkungan masyarakat desa Ngadas, cara ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap perempuan. Tidak ada larangan untuk berpindah agama ketika mereka menikah dengan pasangan beda agama. Segenap keluarga mempelai pun tidak pernah mempermasalahkan jika putra putrinya memilih untuk mempercayai kepercayaan lain.Seperti narasumber yang kami temui di desa Ngadas yang bernama ibu Heri.Sebelum menikah, ibu Heri beragama Hindu yang kemudian menikah dengan suaminya yang bernama pak Heri yang beragama Islam.Kemudian setelah menikah ibu Heri mengikuti suaminya yang beragama Islam.Ibu Heri menuturkan bahwa keputusannya untuk berpindah agama bukan karena paksaan dari suaminya, namun karena keinginannya sendiri.Setelah menikah, ibu heri tidak kemudian dikucilkan oleh keluarganya yang beragama Hindu.Karena tidak ada larangan dari orang tuanya untuk berpindah agama selagi agama yang mereka anut baik. Agama merupakan hal murni terhadap keyakinan sedangkan posisi warga masyarakat di desa Ngadas dijalani menurut adat istiadat desa Ngadas.

      Hubungan Dalam Aspek Sosial

Meskipun agama masyarakat berbeda namun antara masyarakat Hindu dengan masyarakat Islam hidup rukun dan sering bantu-membantu dalam berbagai kesempatan. Bahkan saat Umat Hindu Desa Ngadas sedang merayakan Hari Rayanya, umat Islam berkunjung ke kediaman warga yang memeluk agama Hindu. Dan begitu sebaliknya ketika umat islam merayakan Hari Raya Idul Fitri, umat Hindu di desa Ngadas berkunjung ke kediaman umat Islam. Menurut salah satu warga di desa Ngadas, Suku Tengger yang beragama Hindu dan Islam sudah ada sejak zaman Jepang dan tidak pernah berkonflik.

Hubungan baik antar pemeluk agama juga terlihat dari sikap gotong-royong yangbiasa ditunjukan ketika mereka mendirikan bangunan umum dan rumah pribadi salah seorang warga. Mereka tetap menjunjung sifat persatuan dalam melakukan berbagai hal. Tidak pernah memandang antar pemeluk agama, apakah Hindu ataupun Islam. Sikap dan pandangan hidup masyarakat Ngadas tercermin pada harapan LIMA W (5 W) yang selalu dilekatkan dalam hati masing-masing Individu yaitu waras (sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil).

Keharmonisan masyarakat Desa Ngadas terlihat pula dari para petinggi desa maupun dari Dukun Pandita. Kepala desa di desa ini adalah Bapak Sumartono dan Bapak Sasmita bertindak sebagai Dukun Pandita. Sekat agama yang memisahkan jurang kepercayaan, tak menyulutkan rasa hormat kepada mereka yang bertegur sapa dengan masayarakat desa Ngadas.Hal tersebut terbukti dengan salam tiga bahasaHon Hulung Basuki Langgeng (salam dengan bahasa Jawa), Om Swastyastu(dari nenek moyang) yang kemudian tidak lupa diikuti ucapanAssalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh. Makna dari kalimat tersebut adalah semoga keselamatan,rahmat dan barokah selalu di limpahkan Tuhan untukmu. Hal tersebut jelas mengindikasikan bahwa mereka menghormati agama lain.

       Hubungan Dalam Aspek Ekonomi

Bisnis maupun usaha yang mereka lakukan tidak memandang agama.Salah satu keluarga Islam yaitu keluarga Bapak Heri yang mendiami desa Ngadas ternyata memberikan banyak pengaruh dalam hal perekonomian. Pemilik usaha SUMBER MAKMUR yang bergerak dalam penyewaan hartopitu memiliki tiga puluh hartop. Keluarga tersebut memberikan lapangan pekerjaan untuk pemuda desa Ngadas yang menganggur dengan menitipkan hartopnya untuk dikendarai. Walaupun pekerjanya banyak yang beragama Hindu, mereka tetap menghormati hak masing-masing.

       Hubungan Dalam Aspek Pendidikan

Hubungan sosial dikalangan pendidikan di desa Ngadas pun tak luput dari keharmonisan. Warga yang berada dalam institusi pendidikan pun tetap berinteraksi dengan wajar tanpa menaruh rasa sentimentperbedaan agama. Interaksi sosial yang mereka jalani umumnya hanya terjadi di sekolah dan jarang berlanjut setelah keluar dari ranah sekolah. Hal tersebut terjadi karena di desa Ngadas tidak ada institusi pendidikan tingkat dasar. Sehingga anak-anak di desa Ngadas bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 2 Wonokerto yang warganya beragama Islam. Para pengajar mayoritas beragama Islam. Orang tua murid dari mereka yang beragama Hindu dan mayoritas berasal dari Ngadas pun tak mempermasalahkan jika anak-anak mereka di ampu oleh seorang Muslim. Namun untuk mengatasi dan menghindari perbedaan agama tersebut masyarakat memiliki kesepakatan terhadap pihak sekolah untuk membangun kelas hindu yang khusus untuk mengajarkan pelajaran agama hindu bagi anak didik yang beragama hindu dan kelas islam khusus untuk megajarkan pelajaran agama islam bagi kaum muslim.

Begitu pula dengan mereka yang mengeyam pedidikan tingkat atas khususnya Sekolah Menengah Kejuruan yang berada di luar desa. Dari informan yang kita wawancarai yang bernama Bapak Klemon, Beliau mengatakan bahwa sekolah umum khususnya SMK tempat dimana anaknya mengenyam pendidikan memiliki guru yang memeluk Islam. Uniknya hampir semua dari murid yang bersekolah di SMK tersebut beragama Hindu. Meskipun begitu, guru-guru disana tidak pernah memaksa atau bahkan memberikan pengaruh bagi murid-muridnya agar memeluk agama Islam. Itulah salah satu bentuk pluralitas yang agama yang menyangkut aspek pendidikan.

SIMPULAN

Desa Ngadas merupakan suatu komunitas kecil yang letaknya berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.Desa yang dihuni oleh masyarakat Tengger.Pluralitas adalah satu kemurnian yang mereka bentuk di atas perbedaan agama.Pluralitas yang didasarkan oleh agama tersebut terjadi oleh beberapa faktor pendorong meliputi faktor historis, faktor pendatang, dan faktor perkawinan.Yang pertama adalah faktor historis menjelaskan bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit menyebabkan masyarakat Desa Ngadas mengenal dan mulai meyakini adanya agama Hindu.Kemudian yang kedua adalah faktor pendatangyang datang dari luar daerah Ngadas yang membawa pengaruh agama Islam terhadap masyarakat Desa Ngadas melalui hubungan-hubungan tertentu. Dan selanjutnya disusul dengan adanya faktor perkawinan dimana faktor perkawinan secara eksogami yang beda agama antar masyarakat dalam dengan masyarakat pendatang, tentunya sangat menentukan terjadinya pluralitas agama.

Hubungan sosial antar masyarakat beda agama juga terjalin sangat kuat yang ditunjukkan dengan adanya keharmonisan dalam beberapa aspek kehidupan. Aspek kehidupan tersebut meliputi hubungan yang dibentuk dalam aspek perkawinan, aspek sosial aktivitas masyarakat, aspek ekonomi dan juga aspek pendidikan. Dari pemaparan fenomena diatas dapat kita lihat adanya pluralitas agama dan hubungan-hubungan sosial masyarakat desa Ngadas tidak mpengaruhi konflik yang menjadi masalah atau sekat di antara masyarakat beda agama di Ngadas tersebut.

Kemudia dalam penelitian ini juga mencatat dari segi historis bahwa sebelum kaum Majapahit datang di Desa Ngadas dan membawa pengaruh agama hindu, masyarakat kurang mengetahui agama apa yang mereka anut, menurut para informan dari penelitian ini mengatakan bahwa agama Hindu sudah ada sejak nenek moyang masyarkat Tengger Desa Ngadas.


DAFTAR PUSTAKA

BPHN. 2011. Laporan Akhir Tim Pemantauan Dan Inventarisasi Perkembangan Hukum Adat Badan Pembinaan Hukum Nasional. Yogyakarta : BPHN

Ibrahim, Jabal Tarik.2003. Sosiologi Pedesaan. Malang: UMM Pres.

Soekanto, Soerjono.2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pres.

Sunarto, Kamanto.2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.