-
Kehidupan Nelayan di Rembang
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang mempunyai lautan yang luas dan terdiri dari ribuan kepulauan. Dari hal tersebut mempengaruhi mata pencaharian penduduk Indonesia. Karena Indonesia mempunyai lautan yang luas, maka kebanyakan mata pencaharian masyarakat Indonesia adalah nelayan.
- Rumusan Masalah
Pada penelitian kali ini, penulis memfokuskan pada masalah umum dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan.
- Tujuan
Tujuan diadakannya observasi ini adalah untuk mengetahui kehidupan yang dijalani oleh masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan.
- Manfaat
Laporan ini semoga bermanfaat bagi para pembaca untuk bisa mengetahui gambaran dan masalah umum yang dihadapi oleh masyarakah yang berprofesi sebagai nelayan.
- Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan metode wawancara.
- Waktu dan Tempat
Penulis melakukan kunjungan ke TPI Tasik Agung Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang, pada hari senin tanggal 6 Oktober 2014.
BAB II
ISI
Rembang merupakan sebuah kabupaten di jawa tengah yang letaknya di pantai utara. Karena letak geografisnya berada di sepanjang pantai utara, maka kebanyakan mata pencaharian masyarakat rembang adalah nelayan. Di rembang sendiri terdapat banyak tempat tempat pelelangan ikan diantaranya di daerah Tasik Agung, Binangun, Sluke, Pandangan, Kragan. Disini penulis melakukan observasi di TPI Tasik Agung. Disini penulis mengkaji tentang sekelumit gambaran kehidupan dan permasalahan umum para nelayan di Tasik Agung, Rembang dan membagi hasil observasi di beberapa aspek.
Pendidikan
merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan, tak terkecuali untuk masyarakat nelayan di Tasik Agung. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Menurut pemaran narasumber Bapak Solikan (39), masyarakat disini sudah sadar akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan jaman sekarang. Anak anak disini rata rata sudah lulus SMA/SMK, hal ini sudah menggambarkan bahwa masyarakat disini sudah sadar dengan pentingnya pendidikan. mereka beranggapan bahwa pekerjaan sebagai nelayan tidak menentu dan kurang menyejahterakan bagi masa depan. Sehingga pendidikan memang sangat penting bagi anak-anak mereka. Biasanya di kampung nelayan yang lain sang anak nelayan tidak boleh bersekolah dan diwajibkan untuk membantu orang tuanya melaut tetapi di Desa Tasik Agung sang anak dibebaskan untuk memilih membantu orang tuanya melaut atau bersekolah. Setelah lulus SMA/SMK biasanya anak anak disini memilih untuk pekerjaan lain yang lebih baik, da nada juga melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Tetapi ada juga yang memilih menjadi nelayan untuk membantu orang tuanya.
Cara dan Proses Melaut
Kegiatan yang sangan penting dan vital bagi seorang nelayan adalah melaut mencari ikan di laut. Karena dari kegiatan melautlah para nelayan dapat memenuhi kebutuhan mereka dan meneruskan kehidupan mereka. Dan laut merupakan sumber penghidupan bari para nelayan mereka menyadari laut sangat penting bagi kehidupan mereka. Oleh karena itu dalam melaut mereka tidak menggunakan alat alat dan bahan bahan yang dapat membahayakan ekosistem laut. Jika ekosistem laut rusak/ tidak terjaga, maka mereka akan mendapatkan dampaknya. Salah satu dampaknya adalah hasil tangkapan mereka akan berkurang.
Dalam melaut, nelayan tasik agung sudah mulai menggunakan teknologi yang dapat membantu mereka dalam melaut, tetapi alat / bahannya tetap ramah lingkungan. Tetapi alat alat ini biasanya digunakan oleh kapal kapal yang sudah berskala besar. Sedangkan perahu perahu kecil hanya sedikit yang sudah menggunakan alat alat tersebut. Alat yang digunakan para nelayan Tasik Agung diantaranya adalah Global Positioning System atau yang biasa disebut GPS. GPS ini digunakan para nelayan Desa Tasik Agung untuk mendeteksi posisi pulau di tengah lautan dan posisi ikan. Alat lainnya yang digunakan oleh nelayan Tasik Agung adalah Sounder. Sounder digunakan oleh para nelayan Tasik Agung untuk mengetahui posisi kerang yang ada di lautan sehingga bisa mengetahui dimana posisi karang yang ada untuk menghindari kecelakaan. Sedangkan alat lain yang digunakan adalah Orari. Orari biasa digunakan oleh para nelayan Tasik Agung untuk berkomunikasi. Orari ini mirip dengan walkie talkie yang biasa digunakan oleh para polisi. Sedangkan untuk alat menangkap ikan mereka menggunakan jarring yang besar.
Dengan alat alat tersebut para nelayan Tasik Agung berharap bisa menunjang kegiatan melaut mereka menjadi lebih baik lagi. Hasil tangkapan ikan yang mereka peroleh tidak menentu. Kapal yang berskala kecil biasanya bisa mendapatkan 4-5 buah tong ikan. Sedangkan kapal kapal yang berskala besar bisa mencapai puluhan tong ikan. Meskipun hasil tangkapan mereka tidak menentu, namun mereka tetap bersyukur karena masih bisa melakukan kegiatan melaut secara berkesinambungan dan terus menerus. Jumlah awak kapal yang dibutuhkan tiap masing masing kapal pun berbeda beda. Tergantung pada besar kecilnya kapal yang mereka gunakan. Jika kapal yang mereka gunakan kecil, maka jumlah awak kapal mereka sekitar 10an orang. Sedangkan jumlah awak kapal yang berskala besar adalah sekitar 20an orang. Sedangkan modal yang digunakan para nelayan tergantung skala kapal dan jumlah awak kapalnya. Jika modal kapal kecil sekitar 50 jutaan dan harga kapal kecil sekitar 50 jutaan. Sedangkan jika skalanya besar modalnya berkisar ratusan juta dan harga kapal skala besar harganya milyaran. Biasanya kapal kapal yang dimiliki oleh individu adalah kapal yang berskala kecil. Sedangkan kapal kapal yang berskala besar dimiliki oleh perusahaan perusahaan, salah satu perusahaannya adalah PT. Karya Mina.
Dalam melaut ada suatu periode dimana antara bulan januari sampai februari ada masa terbaik untuk menangkap ikan karena sedang banyak-banyaknya. Sebelum menangkap ikan para nelayan di Desa Tasik Agung melakukan suatu prosesi upacara adat yang disebut Manakib. Suatu prosesi yang disebut syukuran agar hasil tangkapan bisa berkah dan para awak nelayan diberi keselamatan serta berkah dalam menangkap ikan. Manakib dalam tradisi jawa biasa disebut Bancakan dengan Nasi udug, kering, mie kuning, tahu, dan ayam kampung sebagai sesajinya yang setelah di doakan diberikan kepada warga sekitar. Sedangkan dalam setahun juga ada ritual/ acara syukuran kepada laut yang biasa disebut dengan istilah sedekah laut. Acara sedekah laut di tasik agung sendiri tergolong besar. Karena anggaran yang dibutuhkan ratusan juta rupiah. Para nelayan di Tasik Agung sendiri tidak mempermasalahkan biaya sedekah laut yang besar tersebut. Karena itu merupakan bentuk rasa syukur mereka para nelayan kepada laut. Hiburan yang selalu ada dalam sedekah laut adalah music dangdut.
Pembagian Peran
Dalam pembagian peran yang dilakukan oleh para nelayan adalah sesuai spesialisasi mereka. Sedangkan pembagian peran antara laki laki dan perempuan belum begitu ada. Sebab menurut pemaparan bapak Solikan (39) wanita yang sudah menikah hanya diberi tugas sebagai ibu rumah tangga saja.
Pemasaran Ikan
Hasil tangkapan dari para nelayan di Tasik Agung dipasarkan dengan berbagai cara. Jika hasil ikan yang dibawa oleh kapal kapal berskala besar akan diolah dan dikirim ke luar daerah. Contohnya adalah PT. Karya Mina yang mengirim hasil ikan ke luar daerah. Sedangkan hasil tangkapan ikan yang dibawa oleh kapal kapal kecil Ada yang dijual langsung ke pedagang di TPI, ada yang dijual ke pengepul/tengkulak. Tetapi mereka lebih senang menjual langsung ke pedagang karena harga jualnya yang tinggi. Sedangkan menjual ikan ke para pengepul/tengkulak biasanya harga jualnya sangat rendah.
Masalah Nelayan di Desa Tasik Agung
Masalah klasik yang biasa dihadapi oleh para nelayan adalah harga ikan yang tidak stabil dan sering naik turun. Masalah tersebut juga dialami oleh para nelayan yang ada di Tasik Agung. Mereka akan mengeluh jika harga ikannya turun, sedangkan saat harga ikannya naik mereka akan merasa senang. Naik turunnya harga ikan juga dipengaruhi oleh cuaca. Jika cuacanya bagus biasanya harganya biasa biasa saja bahkan bisa turun. Sedangkan saat cuacanya buruk maka harga ikan akan melambung tinggi. Meskipun cuaca agak buruk , menurut pak Solikin (39) para nelayan akan tetap melaut tetapi dengan hati hati yang sangat ekstra. Dalam hal tersebut biasanya saat cuaca buruk datang saat para nelayan sedang melaut, mereka para nelayan akan berlingung di pulau terdekat.
Selain harga ikan yang tidak stabil dan cuaca buruk hal yang menjadi permasalahan para nelayan di tasik Agung adalah harga solar yang mahal. Karena jika harga solar akan naik lagi akan menambah biaya operasional mereka. Tetapi mau tidak mau mereka akan tetap membeli solar walaupun harganya naik sekalipun. Karena jika mereka tidak membeli, maka mereka tidak bisa melaut. Permasalahan lainnya adalah tidak adanya bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada para nelayan di Tasik Agung. Padahal para nelayan disini mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan dan mempunyai lautan yang membentang luas. Hal tersebut berdampak pada mata pencaharian masyarakat. Daerah rembang letaknya di daerah pantura yang dekat dengan lautan. Khususnya Desa Tasik Agung yang 70-80% mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai nelayan. Sebagai seorang nelayan sudah sewajarnya mereka bekerja menangkap ikan di laut. Dan mereka juga harus menjaga lautan supaya ekosistemnya tetap seimbang. Karena hal tersebut nelayan di Desa Tasik Agung menggunakan alat dan bahan yang ramah lingkungan dalam mencari ikan supaya tidak merusak ekosistem lautan.
Dalam hal melaut sendiri nelayan Tasik Agung juga mempunyai beberapa masalah dalam pekerjaannya. Antara lain adalah harga ikan yang tidak stabil, cuaca buruk, permainan tengkulak, dan tidak adanya bantuan pemerintah. Meskipun masalah – masalah tersebut tidak bisa dihindari, para nelayan di Desa Tasik Agung tetap melaut karena untuk menyambung hidup mereka.
Saran
Dalam suatu masyarakat pasti terdapat berbagai macam perbedaan di dalamnya. Kita sebagai makhluk sosial harus menyikapi perbedaan tersebut sebagai sebuah kekayaan budaya dan kearifan lokal. Persatuan dan kesatuan harus dijunjung tinggi untuk menciptakan keharmonisan dalam masyrakat.
Resiprositas pada Masyarakat Lasem SILABUS MATA PELAJARAN ANTROPOLOGI (PEMINATAN ILMU BAHASA DAN BUDAYA)
17 thoughts on “Kehidupan Nelayan di Rembang”
Tinggalkan Balasan
Kehidupan Nelayan di Rembang
Pengunjung ke:
kunjungi juga:
Pos-pos Terbaru
Arsip
Kategori
gan itu nomor 1-6 yang di atas gaje banget, mohon di edit gan :ngakak
bagus banget jib, berapaan
Sebauknya judulnya ditambah dengan kata makalah, karena ini lebih condong ke makalah bukan artikel
cukup bagus..sangat bermanfaat, tapi sayangnya tampilannya artikelnya kurang rapi. :thumbup
nice
terimakasih sangat bermanfaat
tampilannya bisa dirapikan sedikit agar memperindah tampilan
mungkin tulisannya bisa diperbaiki lagi kak.. jarak antar paragraf bisa diperpendek lagi
mohon bab bab nya di hilangkan saja
Lebih baik hasil pengamatan saja yang ditulis, dan komponen ainnya dimasukkan kedalamnya..
tidak usah terstruktur seperti makalah, agar bahasannya lebih menarik dan tidak kaku
[…] untuk lebih lengkapnya dapat diunduh di: Silabus Antropologi kelas XII […]
Kajian yg menarik
tata penulisan bisa di perbaiki lagi, biar lebih enak dan menarik untuk di baca, selebihnya sudah menarik 🙂
sudah bagus, akan tetapitidak disertakan sumbernya
rata kanan kirinya ya kakak :2thumbup
Bagus, namun alangkah baiknya klo disertskan foto
bagus, lebih baik lika jika didukung oleh foto