Perisakan Akal

Perisakan Akal

Dimuat di Koran Tempo, 3 Mei 2015

Saat menginginkan atau mendapatkan mainan baru, anak kecil kerap segera melupakan mainan lamanya sekaligus menggumuni atau menyukainya mainan barunya dengan berlebihan. Kadang tidak cukup dengan melupakan yang lama, tetapi kadang disertai memburuk-burukkan yang lama. Tampaknya, perilaku seperti ini tertanam pada beberapa orang sampai dewasa, tanpa disadarinya.

Demikian pula pada dunia gagasan. Sesaat mendapatkan suatu gagasan baru dan melihat kebaikannya, orang kerap begitu menggumuninya sekaligus menjelek-jelekkan yang lama.

Dikotomis

One wayPerilakunya seperti bandul ayunan, yang selalu berada di posisi ektrem mutlak. Jika tidak menggumuni sesuatu, ya menjelek-jelekkannya sampai terkesan mem-bully atau merisak yang lama. Berpikirnya dikotomis, jika tidak +1 ya -1. Tak ada antaranya, atau malah tak ada kemauan melihat keunggulan dan kekurangan keduanya.

Perilaku bak bandul ayunan ini juga dapat dirasakan saat muncul gagasan “Pendidikan Karakter” atau Kurikulum 2013 di dunia pendidikan nasional. Saat itu, kata “kognitif” jadi bulan-bulanan. Jika ada tawuran pelajar atau kecurangan, dibilang itu karena persekolahan kita menekankan unsur “kognitif” atau akal. Kambing hitam keadaan yang tak baik sudah divonis, yaitu pendidikan yang menekankan akal.

Padahal jika disimak kenyataan yang ada, pendidikan kita justru jauh dari berhasil membelajarkan akal. Fakta bahwa siswa kita berada di peringkat kedua dari bawah dalam kemampuan kognitif ini misalnya dapat ditemukan dalam Laporan PISA sejak satu dekade lampau sampai sekarang. Dari situ dapat dikatakan justru pendidikan kita belum berhasil membelajarkan akal. Sebaliknya bukankah fakta di atas itu justru menyiratkan bahwa permasalahan sosial seperti tawuran pelajar justru mungkin dikarenakan persekolahan kita gagal membelajarkan akal?

Akal tentulah dibutuhkan untuk mengembangkan karakter masing-masing kita. Sulit membelajarkan dampak buruk korupsi atau intoleransi, misalnya, jika akal tidak berkembang dengan berimbang. Pendidikan karakter sejatinya bukan berarti bahwa akal tak dibutuhkan lagi.

EQ1Saat masyarakat mulai berkenalan dengan gagasan EQ atau Kecerdasan Emosional serta kecerdasan lainnya, saat itu pula IQ yang sudah dikenal lama disepelekan, sampai malah dijelek-jelekkan. Kursus dan sekolah-sekolah saling berlomba membuat spanduk dengan berbagai jargon gagasan baru EQ, SQ, dan yang lain-lainnya. Kursus komersial pengembangan diri dengan iming-iming kecerdasasan “baru” ini menjamur. Gelombang menggumuni yang baru dan sekaligus menyinyiri yang lama ini tetap berlanjut sampai sekarang.

Demikian pula saat dirasa unsur “rasa” penting dalam pendidikan bahkan dalam budaya berilmu-pengetahuan, lalu berdatanganlah gelombang menggumuni “rasa” itu sekaligus gelombang merisak “akal”. Bahkan sampai ada yang mencap pendidikan “akal” ini salah, seharusnya “rasa”.

Maka berayunlah bandul ke ujung ekstrem baru. Dari satu ujung ekstrem Akal berayun secara mutlak ke ujung ekstrem lainnya, yakni Rasa. Menggumuni Rasa, merisak Akal. Yang berkembang jadinya cara berpikir secara dikotomis semata. Hitam-putih.

Padahal, bukankah hidup sama-sama membutuhkan keduanya, baik akal maupun rasa? Walau keduanya memang berbeda dan dapat dikaji secara terpisah, namun bukankah dalam menjalani kehidupan ini manusia menggunakan keduanya sekaligus dan tanpa dapat menyadarinya dengan mutlak? Manusia melibatkan keduanya secara bersamaan dalam memutuskan sesuatu. Hampir mustahil manusia menggunakan yang satu semata sekaligus mengabaikan secara mutlak yang lainnya di saat membuat pertimbangan pada masalah di kehidupan nyata.

Pendikotomian akal dan rasa ini selain mustahil dalam praktik kehidupan, juga tak perlu sekaligus menentang sejarah. Di Jaman Pencerahan, akal dan rasa dikembangkan oleh ilmuwan yang seniman dan seniman yang ilmuwan. Di jaman itu tak ada segregasi ilmu pengetahuan dan seni.

Rasa berakal

Bersains dan bermatematika kerap dicitrakan sebagai kegiatan yang mengandalkan akal dan mengabaikan rasa. Sebaliknya, berkesenian kerap dicitrakan sebagai kegiatan yang mengandalkan rasa dan mengabaikan akal.

Relativity, M.C. Escher, 1953

Padahal untuk bersains dan bermatematika justru dibutuhkan unsur rasa. Matematikawan seperti G.H. Hardy malah berkata bahwa ujian pertama teori matematika terletak pada keindahannya, bukan kebenarannya. Beliau melanjutkan lagi bahwa tak ada tempat untuk matematika yang jelek. Rasa mutlak dibutuhkan dalam bermatematika dan rasa merupakan unsur utama yang mendorong manusia berhasrat bermatematika.

Sedang di sisi lainnya, untuk berkesenian dibutuhkan akal yang sama sekali tidak sepele. Demikian pula bidang desain yang sarat menggunakan akal selain rasa.

Hasil karya seniman seperti Mondrian, Picasso, Leonardo Da Vinci, Escher, Beethoven, Bach, dsb menunjukkan bahwa akal terjalin menyatu erat dalam proses berkesenian. Itulah rasa yang melibatkan akal atau rasa berakal. ***

[https://www.bincangedukasi.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: