Linguistik dan MEA 2015

URGENSI KEMAMPUAN LINGUISTIK GENERASI MUDA
(Kesiapan Generasi Muda Berkarakter dalam Menghadapi Mea)

MEA

MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau AEC (ASEAN Economic Community) merupakan realisasi tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2020 yang diwujudkan dengan adanya sistem perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian MEA pada KTT ASEAN di Bali. Negara-negara ASEAN akan diubah menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi. Selain itu, MEA akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal yang berorientasi untuk menjadikan ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dalam persaingan ekonomi asing. Berbagai rencana tersebut diwujudkan melalui mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan ekononomi yang inisiatif, mempercepat integrasi regional di sektor-sektor yang menjadi prioritas utama, memfasilitasi pergerakan bisnis, memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN, serta peningkatan tenaga kerja yang terampil dan berbakat.

Perdebatan tentang seberapa siap Indonesia menghadapi MEA telah banyak dilakukan oleh masyarakat. Belakangan ini, banyak media seakan berlomba menjadikan MEA sebagai tema utama serta menghadirkan berbagai informasi di dalamnya. Bahkan berbagai ahli dan pengamat diundang untuk memberikan analisis seberapa siap Indonesia menghadapi era keterbukaan aliran produk, tenaga kerja, dan modal. Namun seberapa pun banyak masyarakat membahas mengenai realita yang terjadi, siap atau tidak siap era MEA akan datang, sehingga kesiapan sebenarnya bukan menjadi perdebatan utama. Saat era MEA telah datang dan resmi dimulai, wilayah ASEAN seakan menjadi satu kolam ekonomi besar. Ikan-ikan bebas menjelajahi sudut manapun dari kolam yang paling banyak menyimpan cadangan makanan dan udara bersih. Keadaan demikian tentu sangat mencemaskan, seiring dengan peluang yang terbuka lebar muncul pula tantangan yang sama besarnya.

Berkaitan dengan semakin dekatnya tahun 2015 yang menandakan era MEA akan resmi dimulai, masyarakat khususnya generasi muda Indonesia harus segera berbenah. Generasi muda sebagai penerus dan tonggak kemajuan bangsa ini harus mampu mengubah dan memperbaiki keadaan. Menyiapkan diri dengan berbagai bekal kemampuan dan keterampilan yang dapat menunjang kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) dalam proses persaingan, menyusun rencana untuk menggapai peluang yang ada, serta memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dengan kehadiran MEA di Indonesia.

Levi-Strauss rnengambil model analisis linguistik sturktural yang dikembangkan oleh Ferdinad de Saussure. Saussure berpendapat bahwa bahasa memiliki dua aspek yaitu langue dan parole. Bahasa sebagai kondisi kebudayaan dalam arti diakronis, artinya bahasa mendahului kebudayaan karena melalui bahasa manusia rnengetahui budaya di dalam suatu masyarakat. Bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya adalah material yang sama jenisnya dengan material yang membentuk kebudayaan itu sendiri. (Ahimsa-putra, 2001: 25)

Berlandaskan pada pernyataan Levi-Strauss mengenai model analisis linguistik struktural dan pandangannya terhadap bahasa, jelas terlihat bahasa menjadi aspek yang sangat urgen dalam kehidupan. Bahasa memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Setiap manusia berusaha untuk memperoleh, mempelajari dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sekaligus sebagai simbol sosial kemanusiaan. Dengan menggunakan bahasa seseorang dapat membuat pernyataan, menyampaikan fakta dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan sesuatu, dan menjaga integrasi sosial antar masyarakat yang memiliki kebudayaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan bahasa, seseorang dapat mengekspresikan ide-ide, gagasan, perasaan, informasi yang dimiliki melalui komunikasi.

Kemampuan linguistik dan kebahasaan asing menjadi kemampuan yang sangat urgen bagi generasi muda Indonesia saat ini. Bahasa asing merupakan salah satu modal utama yang harus disiapkan generasi muda, selain berbagai kesiapan lainnya dalam menghadapi era MEA. Bahasa menjadi kemampuan yang digunakan untuk dapat menembus pasar persaingan internasional, karena bahasa dapat berfungsi sebagai media dalam melakukan kerjasama dan kesepakatan ekonomi.

Pernyataan mengenai urgensi kemampuan linguistik generasi muda dalam menghadapi era MEA juga didukung oleh Dr. Murphin Joshua Sembiring, Rektor Universitas Widya Kartika Surabaya, yang mengatakan skill yang harus dimiliki calon tenaga kerja Indonesia adalah kemampuan untuk berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Mandarin. Selain bahasa Inggris, bahasa Mandarin kini juga menjadi salah satu bahasa internasional kedua, sehingga diharapkan mampu dikuasai oleh SDM Indonesia. Pesatnya perekonomian Cina, serta tingginya angka pengusaha Cina yang menguasai sektor-sektor perdagangan di berbagai negara, menjadi salah satu faktor pentingnya menguasai bahasa Mandarin.

Kemampuan linguistik dan kebahasaan generasi muda Indonesia harus semakin ditingkatkan, seiring dengan data dunia yang menunjukkan kemampuan berbahasa asing masyarakat Indonesia tergolong rendah. Menurut data World Bank, skill berbahasa asing tenaga kerja Indonesia sangat lemah, hanya sekitar 44% tenaga kerja yang memiliki kemampuan berbahasa, terutama bahasa Inggris. Jika keadaan demikian terus dibiarkan, maka tidak dapat dipungkiri hal tersebut akan menghambat bahkan mempersulit daya saing masyarakat Indonesia di era MEA. Terlebih Indonesia akan tetap berada pada penempatan posisi dan level kesejahteraan tenaga kerja Indonesia yang dinilai oleh negara-negara ASEAN lainnya rendah, tidak terampil, dan tidak memiliki kemampuan yang memadai.
Keberadaan MEA di Indonesia bagai permainan dadu di meja judi. Jika pemain dapat memanfaatkan peluang dan memprediksi dadu secara tepat, maka pemain akan memperoleh keuntungan. Namun sebaliknya jika tidak dapat mengikuti permainan dengan baik, maka pemain akan mengambil kerugian di dalamnya. Pernyataan tersebut nampaknya menjadi analogi tepat bagi masyarakat Indonesia menyambut diresmikannya MEA di tahun 2015 mendatang. Sama halnya dengan era MEA, jika masyarakat Indonesia mampu memanfaatkan peluang dalam persaingan serta memprediksikan secara tepat, maka Indonesia akan mendapatkan keuntungan besar. Namun, jika masyarakat tidak dapat berpacu dengan persaingan yang ada serta tidak mampu memanfaatkan peluang dan memprediksikan secara tepat, maka Indonesia akan kalah bahkan gugur dalam persaingan di era MEA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: