Register / Log in

Manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial. sebagai makhluk individu, manusia mempunyai keterikatan dengan yang menciptakannya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia merupakan makhluk yang selalau membutuhkan orang lain dalam proses kehidupannya. Untuk mampu bersatu dengan orang lain, diperlukan adanya interaksi yang baik, interaksi yang mampu menghangatkan suasana, interaksi yang mampu menimbulkan kemistri antara orang yang melakukan interaksi tersebut. dalam proses interaksi, diperlukan cara-cara yang baik, diperlukan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan manusia. Aturan-aturan itu sering disebut sebagai nilai tentang tingkah laku. Inilah yang menjadi teka-teki bagi saya, mengapa selama ini saya harus melakukan aturan-aturan dalam berinteraksi, mengapa harus ada aturan-aturan tersebut, maka muncul keinginan dalam hati saya untuk mengetahui akan hal itu, dan ternyata aturan-aturan tersebut merupakan aturan tentang bagaimana kehidupan ini menurut pandangan budaya jawa, untuk itulah saya menulis tulisan ini, yang berisi tentang bagaimana pemahaman saya mengenai aturan-aturan hidup yang selama ini saya ketahui, serta bagaimana aturan hidup yang belum saya ketahui, yang ternyata itu harus saya terapkan dalam kehidupan saya.

Untuk mengawali tulisan ini, saya terlebih dahulu membawa anda menuju pengertian awal mengenai masyarakat. Masyarakat merupakan sekelompok orang yang tinggal secara  bersama dalam suatu lokasi atau suatu wilayah tertentu, mereka mempunyai tujuan yang sama, dimana dengan tujuan yang sama itulah muncul keinginan yang kuat pada diri setiap masing-masing dari mereka untuk bersatu dengan orang lain, untuk berkelompok dengan orang lain, sehingga terciptalah suatu kehidupan bermasyarakat. Hendropuspito sebagaimana dikutip oleh Handoyo (2015:1) mendefinisikan bahwa “masyarakat merupakan suatu kesatuan yang tetap dari orang-orang yang hidup di daerah tertentu dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok berdasarkan kebudayaan yang sama untuk mencapai kepentingan yang sama”. Dalam hidup bermasyarakat, seseorang dituntut untuk mematuhi dan menjalankan aturan-aturan hidup yang telah dibuat dan disepakati bersama oleh semua anggota masyarakat, dimana aturan-aturan itulah yang menjadi pedoman oleh anggota masyarakat dalam menjalani kehidupan mereka.

Berbicara tentang masyarakat, Negara Indonesia sendiri  merupakan negara yang memiliki komposisi masyarakat yang sangat banyak dan beragam atau heterogen, dimana dengan keadaan masyarakat yang heterogen itulah yang menjadikan Negara Indonesia ini menjadi suatu negara yang indah, negara yang didalamnya terdapat berjuta keragaman yang saling rukun dan  bersatu membentuk suatu kesatuan yang utuh, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu masyarakat yang ada di Indonesia yaitu masyarakat jawa. Masyarakat jawa merupakan suatu masyarakat yang sangat kental dengan nilai-nilai kebudayaan jawanya. Banyak dari mereka yang hingga saat ini masih senantiasa memegang teguh nilai-nilai budaya jawa yang telah diajarkan oleh nenek moyang mereka. Mereka memandang bahwa, nilai-nilai budaya tersebut merupakan suatu konsensus bersama yang harus dipatuhi dan dijadikan sebagai suatu pedoman, serta pegangan bagi mereka dalam menjalani proses kehidupan sehari-hari. Tidak terkecuali adalah saya sendiri, dimana dalam keseharian hidup saya, saya masih memegang nilai-nilai kebudayaan jawa yang selama ini ditanamkan oleh orang tua saya dalam diri saya, sehingga menjadikan saya hidup dalam aturan-aturan yang mengikat dan membelenggu saya untuk berperilaku serta beraktivitas sesuai dengan aturan-aturan jawa tersebut.

Banyak sekali nilai-nilai kehidupan jawa yang menurut saya telah saya terapkan serta saya implementasikan dalam proses kehidupan saya selama ini. Beberapa diantaranya yaitu nilai-nilai tentang bagaimana cara saya bersikap dan berinteraksi dengan orang lain, baik itu dengan orang yang lebih muda, dengan sesama, ataupun dengan orang yang usianya lebih tua dari saya. Selain itu ada juga nilai-nilai tentang bagaimana sikap yang harus saya lakukan terhadap Tuhan saya, yaitu ALLAH SWT. Berkat keseriusan orang tua saya dalam mendidik serta mengajarkan kepada saya mengenai nilai-nilai serta aturan-aturan tentang kehidupan masyarakat jawa tersebut, menjadikan nilai-nilai tersebut telah melekat dan tertanam kuat dalam diri saya, sehingga sangat sulit bagi saya untuk menghindar, apalagi beranjak untuk pergi  meninggalkan aturan-aturan tersebut dalam keseharian hidup saya. Semua nilai serta aturan tersebut diajarkan oleh orang tua saya, dan selama ini saya telah mencoba untuk merealisasikan atau menerapkan nilai-nilai kebudayaan jawa tersebut dalam kehidupan sehari-hari saya.

Berbicara tentang nilai-nilai dalam budaya jawa, tidak hanya sebatas bagaiman perilku yang seharusnya diterapkan oleh manusia dalam menjalani kehidupan, namun juga ada nilai-nilai tentang konsep kehidupan masyarakat jawa yang sejati. Pandangan mengenai bagaimana kehidupan masyarakat jawa yang sejati terdapat dalam pemahaman masyarakat jawa terkait dengan konsep kehidupan sangkan paraning dumadi manunggaling kawula Gusti. Konsep budaya jawa yang satu ini merupakan konsep baru bagi saya, karena sebelumnya saya belum mengetahui tentang konsep ini, maka setelah mempelajari tentang konsep budaya jawa tentang sangkan paraning dumadi manunggaling kawula Gusti ini,  membuat hati dan fikiran saya menjadi lebih terbuka dalam mengetahui serta memahami bagaimana sesungguhnya manusia itu, apa tujuan manusia hidup di dunia, serta kemana manusia akan kembali setelah manusia itu meninggal dunia.

Sebelum saya mempelajari serta memperdalam tentang konsep ini, saya memang sudah sedikit mengetahui tentang arti kehidupan bagi manusia, namun hal itu ternyata masih sangat kurang sekali. Konsep kehidupan manusia sejati yang selama ini saya ketahui ternyata hanyalah sebagian kecil dari konsep kehidupan manusia sejati yang sesungguhnya. Sebelumnya saya hanya mengetahui tentang darimana manusia itu ada, yaitu diciptakan oleh sang Maha Kuasa yaitu ALLAH SWT, kemudian untuk tujuan hidup manusia hidup di bumi menurut pemahaman saya sebelumnya adalah untuk beribadah kepada ALLAH, dan kemana manusia akan kembali yaitu kembali kepada ALLAH.

Hal itu memang benar adanya demikian, namun itu merupakan konsep kehidupan manusia menurut ajaran agama saya, yaitu agama Islam.

Setelah saya mempelajari dan memperdalam mengenai konsep kehidupan sangkan paraning dumadi manunggaling kawula Gusti, saya menjadi lebih mengetahui bagaimana konsep kehidupan manusia yang sejati menurut kebudayaan jawa, dan hal itu menjadikan pengetahuan saya tentang konsep kehidupan manusia sejati semakin bertambah. Tidak hanya menurut pandangan agama, namun juga menurut pandangan budaya.

Endraswara (2003:240) menjelaskan bahwa “Konsep manunggaling kawula Gusti memberikan pengertian pada beberapa hal menyangkut asal dan tujuan hidup manusia”. Konsep sangkan paraning dumadi manunggaling kawula Gusti merupakan konsep hidup orang jawa yang di dalamnya menjelaskan tentang dari mana asal-usul manusia, yaitu berasal dari sang kuasa/ diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konsep tersebut juga menjelaskan tentang apa tujuan manusia hidup di dunia, yaitu untuk menyembah tuhannya, sebagai bentuk terimakasih atas semua yang telah tuhan berikan kepada manusia, dan juga manusia hidup itu untuk berbuat baik, agar mendapatkan kebahagiaan hidup yang sejati, kebahagiaan hidup yang kekal abadi, yaitu kebahagiaan hidup di surga ilahi. Manusia harus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang mampu mengantarkan mereka menuju kebahagiaan hidup yang sejati tersebut. Dalam konsep sangkan paraning dumadi ini juga menjelaskan tentang kemana manusia akan kembali, bagaimana kehidupan yang akan dijalani manusia setelah meninggalkan dunia ini, yaitu kembali kepada yang menciptakan mereka, kembali kepada Sang Ilahi.

Setelah saya mempelajari serta memperdalam tentang itu semua, saya menjadi lebih tau banyak tentang bagaimana konsep kehidupan masyarakat jawa yang sebenarnya, konsep kehidupan yang selama ini dijadikan sebagai pedoman oleh masyarakat jawa dalam menjalani kehidupan mereka. Dengan ini saya menjadi lebih mengetahui tentang bagaimana orang jawa itu memaknai kehidupan. Sebagai bagian dari masyarakat jawa, sudah sepatutnya saya harus tahu dan menerapkan tentang konsep budaya jawa tersebut dalam kehidupan pribadi saya, maka inilah yang menjadikan saya berfikir untuk mencoba berusaha menerapkan konsep budaya jawa tersebut dalam kehidupan pribadi saya. Dengan mengetahui akan konsep kehidupan yang sejati tersebut, kini saya menjadi sering berintrospeksi diri, apakah selama ini kehidupan yang saya jalani sudah sesuai dengan konsep kehidupan menurut budaya jawa apa belum, apakah kehidupan yang saya jalani selama ini justru bertentangan dengan konsep tersebut. dengan hal inilah yang menjadikan saya untuk lebih peka dalam memaknai kehidupan, lebih bersabar terhadap suatu ujian, dan lebih pandai bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada saya.

Saya menyadari bahwa dulu sebelum saya mempelajari dan juga memperdalam tentang konsep sangkan paraning dumadi manunggaling kawula gusti ini, jujur saya memang belum tahu-menahu banyak mengenai bagaimana konsep kehidupan ini menurut orang jawa atau menurut kebudayaan jawa yang sesungguhnya. Dalam kehidupan sehari-hari, saya hanya patuh dengan berbagai macam aturan ataupun berbagai kebiasaan yang diperintahkan oleh orang tua saya kepada saya, tanpa mengetahui apa alasan mereka dan juga mengapa mereka (orang tua saya) memerintahan saya untuk berbuat demikian dalam keseharian hidup saya. Mengapa dengan gigih kedua orang tua saya menyuruh dan membimbing saya untuk menerapkan aturan-aturan tersebut dalam keseharian saya. Setelah saya mempelajari ilmu ini, saya menjadi tahu mengapa orang tua saya bersikukuh mendidik dan membimbing saya mengenai etika-etika kehidupan, mengenai pola perilaku yang harus saya lakukan. Ternyata itu semua merupakan salah satu identitas yang menandakan bahwa saya ini adalah bagian dari masyarakat jawa, bagian dari pemilik kebudayaan jawa, maka sudah seharusnya saya menerapkan kebudayaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari saya.

 

Daftar Pustaka:

  • Endraswara, Suwardi. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Penerbit Cakrawala.
  • Handoyo, Eko, dkk. 2015. Studi Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Penerbit   Ombak.

“Pekikan semangat Pancasilais di tanggal 1 Juni yang sering kita kenal dengan hari lahir Pancasila, kini sudah tidak senyaring dulu lagi. Hal ini terjadi semenjak munculnya musuh-musuh dalam selimut, yang dengan liciknya merong-rong kesatuan semangat Pancasilais Bangsa Indonesia”. Itulah ungkapan yang kiranya sesuai dengan kondisi yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini.

Seperti yang telah terpatri dalam benak kita masing-masing, bahwa 1 Juni 1945 merupakan hari lahirnya Pancasila. 1 Juni 1945 merupakan hari dimana presiden pertama kita, bapak Ir. Soekarno mengungkapkan istilah “Pancasila” untuk yang pertama kali dalam pidatonya. Dengan disampaikannya pidato tersebut, maka setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya “Pancasila”.

Adapun proses perumusan hingga pengesahan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, dilakukan dalam sidang yang diberi nama sidang BPUPKI. Proses ini bukanlah suatu hal sepele yang bisa dilakukan begitu saja oleh sembarang orang. Ini merupakan suatu hal yang sangat fundamental, dimana para tokoh negara saat itu melakukan ijtihad secara keras, untuk memilih poin-poin apa saja yang akan digunakan sebagai dasar Negara Indonesia, yang bisa merangkul semua kalangan, yang bisa diakui dan dilaksanakan oleh semua rakyat Indonesia yang sangat multikultur ini. Bung Karno sebagai pemikir dan pencetus dasar Negara Indonesia, memandang Pancasila dengan Perspektif Rasional. Jenderal Sudirman memandang Pancasila sebagai sesuatu yang mistis. Terminologi kesaktiannya hanya mampu dihayati dan difahami dengan kesadaran mistis yang tinggi. Pada saat itu, terdapat beberapa rumusan dasar Negara Indonesia yang diungkapkan oleh beberapa tokoh terdahulu, hingga muncul kesepakatan bersama bahwa dasar Negara Indonesia adalah “Pancasila”, yang berisikan lima dasar yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari.

Lima dasar negara  tersebut tercantum dalam UUD 1945, yaitu; Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dengan kelima dasar ini lah, integrasi masyarakat Indonesia mulai menguat. Kendati demikian, jika kita melihat fenomena yang akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia, tentu sangat riskan sekali, dimana integrasi masyarakat Indonesia akan Pancasila sudah mulai menurun, bahkan ada beberapa masyarakat Indonesia yang berusaha keras  untuk menghilangkan kesaktian Pancasila dari Negara Indonesia.

Salah satu penyebab disintegrasi tersebut adalah akibat muncul dan berkembangnya arus globalisasi yang semakin menguasai dunia. Selo Soemardjan mengungkapkan bahwa, globalisasi merupakan sebuah proses terbentuknya suatu sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat yang berbeda di seluruh dunia yang bertujuan untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama. Dengan adanya globalisasi, akses hubungan antara negara menjadi semakin mudah, sehingga akan memudahkan pula para pendatang untuk keluar-masuk di suatu negara, termasuk salah satunya yaitu di Indonesia. Semenjak masuk dan berkembangnya beberapa penyusup di Indonesia, membawa dampak yang sangat buruk terhadap kesatuan NKRI dan juga semangat nasional Bangsa Indonesia, termasuk semangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesaktian Pancasila.

Dengan dalih menegakkan ajaran Islam yang benar, para penyususp ini dengan mudahnya masuk dalam beberapa Organisasi kemayarakatan (Ormas) Islam di Indonesia. Jika umat Islam berhasil mereka kuasai, maka hampir sebagian penduduk di Indonesia akan berada dibawah kekuasaan mereka. Dengan demikian, maka dengan mudah mereka bisa menggulingkan sistem pemerintahan Indonesia. Mereka menyatakan bahwa, percaya akan kesaktian Pancasila merupakan suatu hal yang musrik (dosa besar), sehingga mereka dengan gigihnya berusaha untuk menumbangkan Pancasila. Mereka dengan terang-terangan menyatakan bahwa sistem pemerintahan di Indonesia tidak sesuai dengan ajaran islam yang sesungguhnya, dan mereka ingin agar pemerintahan di Indonesia harus benar-benar sesuai dengan ajaran Islam yang murni, salah satunya yaitu dengan mengganti sistem pemerintahan demokrasi menjadi sistem pemerintahan khilafah (pemerintahan Islam). Kebijakan ini tentu sangat mustahil diterapakan di Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang multikutural dalam segala aspek, salah satunya yaitu dalam hal agama. Agama di Indonesia bukan hanya Agam Islam, melainkan juga terdapat beberapa agama lain di luar Islam, jadi dalam proses pemerintahan juga harus memperhatikan agama-agama lain tersebut. Inilah yang kemudian menyebabkan eksistensi dari Pancasila menjadi terancam oleh keberadaan mereka.

Adapun salah satu Ormas radikal yang sudah secara terang-terangan menentang hukum di Indonesia adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam hal ini, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, menuturkan bahwa; Sebagai Ormas yang berbadan hukum, HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, azaz, dan ciri yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana diatur dalam UU NO. 17 Th. 2013 tentang Ormas. Aktifitas yang dilakukan oleh HTI dinilai telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayaan keutuhan NKRI. Dengan berbagai fenomena yang ada, HTI secara jelas sangat mengancam eksistensi nilai-nilai Pancasila, dan secara nyata telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.

Menyikapi akan hal ini, Tanggal 8 Mei 2017, pemeritah secara resmi telah mengambil sikap tegas terhadap keberadaan HTI. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengumumkan bahwa pemerintah akan membubarkan organisasi tersebut untuk mengarahkannya agar sesuai dengan koridor Undang-Undang Ormas yang berlaku di Indonesia ini. (tribun-medan.com, Jakarta)

Keputusan pemerintah untuk membubarkan HTI merupakan suatu hadiah terindah bagi Pancasila di hari yang bersejarah ini, yaitu 1 Juni 2017. Pasalnya, dengan dibubarkannya HTI, diharapkan tidak ada lagi yang mengusik kesaktian nilai-nilai Pancasila, sehingga Pancasila akan senentiasa eksis sebagai dasar negara yang mutlak di Indonesia, yang senantiasa dijunjung tinggi oleh Bangsa Indonesia sebagai suatu warisan budaya para pejuang bangsa terdahulu. Pembubaran akan HTI ini merupakan suatu hadiah yang luar biasa, merupakan suatu kado spesial di hari ulang tahun Pancasila tahun 2017 ini, yang diberikan oleh pemerintah terhadap dasar negara kita, yaitu “Pancasila”.

23
September

Masyarakat dan keanekaragamannya (heterogenitas) merupakan suatu bentuk permasalahan yang memang selalu ada dalam klehidupan masyarakat. Suatu masyarakat itu terbentuk karena adanya perbedaan, sementara perbedaan sendiri menjadikan kehidupan dalam bermasyarakat menjadi lebih hidup, lebih menarik dan layak untuk diperbincangkan.

Ada dua macam heterogenitas yang paling sering muncul di masyarakat:

  1. Heterogenitas masyarakat berdasarkan berdasarkan profesi/pekerjaan

Masyarakat Indonesia yang besar ini penduduknya terdiri dari berbagai profesi; seperti pegawai negeri, tentara, pedagang, pegawai swasta, dan sebagainya. Setiap pekerjaan memerlukan tuntutan profesionalisme agar dapat dikatakan berhasil. Untuk itu, diperlukan penguasaan ilmu dan melatih ketrampilan yang berkaitan dengan setiap pekerjaan tersebut. Setiap pekerjaan juga memiliki fungsi di masyarakat, karena merupakan bagian dari struktur masyarakat itu sendiri. Hubungan antar profesi atau orang yang memiliki profesi yang berbeda, hendaknya merupakan hubungan horizontal dan hubungan saling menghargai. biarpun berbeda fungsi, tugas, bahkan berbeda penghasilan.

     2. Heterogenitas atas dasar jenis kelamin

Di Indonesia biarpun secara konstitusional tidak terdapat diskriminasi sosial atas dasar jenis kelamin, namun pandangan “gender” masih dianut sebagaian besar masyarakat di Indonesia. Pandangan gender ini ada dikarenakan faktor kebudayaan dan agama. Apabila kita melihat kemajuan Indoensia sekarang ini, banyak sekali kaum perempuan yang berhasil mengusai IPTEK dan memiliki posisi yang strategis dalam masyarakat, yang hampir menyamai kedudukan kaum laki-laki, maka sudah selayaknya perbedaan jenis kelamin ini dikatagorikan secara horizontal, yakni hubungan kesejajaran yang saling membutuhkan dan saling melengkapi diantara keduanya.

Dari kedua macam heterogenitas tersebut, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, melalui suatu hetrogenitas (perbedaan), dapat memunculkan adanya  suatu profesionalisme dalam pekerjaan, keterampilan-keterampilan khusus (skill), spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, penyadaran HAM, dan lain sebagainya.

Dilihat dari segela keberadaannya, keadaan geografis dan sejarahnya di masa lampau, telah membentuk Indonesia ini menjadi salah satu negara paling beragam di seluruh dunia. Coba kita lihat dari segi geografisnya, dimana negara Indonesia ini merupakan suatu negara kepulauan dengan jumlah pulau terbanyak di dunia membuat tingkat keberagaman di Indonesia menjadi amat sangat tinggi. Dengan tingginya angka heterogenitas atau keberagaman tersebut, sering kali memunculkan berbagai bentuk sistem masyarakat yang ada di Indonesia ini, salah satunya yaitu stratifikasi sosial.

Menurut Max Weber (dalam belajar.kemdiknas.go.id), stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, privilege, dan prestise. Dengan keberadaannya yang sangat heterogen, stratifikasi sosial masyarakat di Indonesia kemudian ditentukan oleh banyak hal. Pun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa perbedaan-perbedaan vertikal yang kemudian membentuk stratifikasi sosial ini nampak sangat tajam di Indonesia (Nasikun 1995).

Stratifikasi sosial dibuat sesuai dengan lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, privilege, dan prestise, sementara ketiga dimensi itu sendiri terbentuk dengan dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan horizontal seperti perbedaan agama, adat, serta perbedaan kedaerahan. Di Indonesia, tingkat keberagaman agama dan adat termasuk amat sangat tinggi sehingga adalah tidak mudah untuk mempersatukan mereka semua. Pada masa Hindia-Belanda, masyarakat Indonesia tumbuh dengan keadaan yang bersistem kasta tanpa ikatan agama (Nasikun 1995). Secara langsung dapat diketahui bahwa perbedaan vertikal pada masa itu amat sangat dalam.

Tiap-tiap golongan masyarakat, memiliki sumber nilai kebenarannya masing-masing, yang mereka anggap paling benar, tanpa membuka diri untuk mempelajari sumber nilai dari golongan lain. Pada masa itu juga, masyarakat pribum tergolong sebagai masyarakat berkasta rendah, sebab Indonesia berada pada kekuasaan penjajah.

Seiring dengan berjalannya waktu, secara khusus pasca Indonesia merdeka, telah terjadi banyak sekali perubahan pada stratifikasi masyarakat di Indonesia. Sistem kasta secara perlahan mulai ditinggalkan, dan masyarakat Indonesia yang heterogen tersebut mulai memaknai istilah masyarakat majemuk. Namun, Pertumbuhan sektor ekonomi modern beserta organisasi administrasi nasional yang mengikutinya membuat jurang kelas tidak menyempit, dan pada beberapa aspek justru makin melebar. Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pada nyatanya tidak mempersempit jurang antara masyarakat pedesaan yang tradisional dan masyarakat perkotaan yang lebih modern. Hingga hari ini, sesungguhnya masih didapati bahwa stratifikasi sosial atau sistem kelas yang diciptakan berdasar pada kekuasaan, privilege, dan prestise masih eksis. Lantas kemudian apakah struktur sosial yang sedemikian memicu terjadinya konflik? Tentu saja. Konflik seringkali timbul dari kelas bawah yang merasa tidak mendapatkan perlakuan layak dan yang seharusnya dari kelas atas yaitu kaum penguasa.

Pada masa Hindia-Belanda, yaitu pada masa sistem kasta masih eksis, potensi terjadinya konflik justru minim karena kasta dianggap sebagai bagian dari adat dan sebagian lain dari kepercayaan dan agama. Semenjak Indoensia merdeka, sistem kasta sedikit demi sedikit memudar, hingga kemudian menjadi agak diabaikan. Pada masa ini justru potensi konflik antar kelas meningkat, karena masing-masing anggota masyarakat merasa memiliki hak yang sama satu dengan yang lain. Namun demikian, perlu juga dipaparkan bahwa kemerdekaan membuat intensitas diskriminasi, khususnya terhadap kaum pribumi semakin menipis.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial sesungguhnya agak sukar dihapuskan. Penghapusan stratifikasi sosial secara ideal menandakan terjadinya kesetaraan yang adil dalam hitungan materiil terhadap seluruh rakyat suatu negara, dan agaknya hal tersebut mustahil diwujudkan. Walau stratifikasi sosial tetap ada, namun seiring dengan berjalannya waktu masyarakat Indonesia semakin mengerti tentang heterogenitas dan kemajemukan, sehingga semakin hari masyarakat Indonesia nampak semakin menghargai perbedaan. Revolusi kemerdekaan menurut penulis bukan menghilangkan atau mengurangi keberagaman. Menurut penulis, keberagaman tersebut justru merupakan aset kekayaan yang perlu dipertahankan. Namun, revolusi kemerdekaan membuat masyarakat Indonesia semakin terbuka tentang perbedaan, toleransi dan rasa saling menerima, sehingga perbedaan tidak lagi dipandang sebagai masalah melainkan berkah.

 

DAFTAR PUSTAKA:

          Dalam rangka mengurangi kerusakan lingkungan, yang salah satunya disebabkan oleh banyaknya penggunaan kertas, maka berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dunia dari berbagai lini, termasuk juga masyarakat kolektif yang mempunyai sedikit rasa kepedulian terhadap keasrian dan keselamatan bumi ini. Salah satu solusi yang muncul yaitu dengan penggunaan media pembelajaran elektronik dalam pembelajaran, guna mengurangi penggunaan kertas yang semakin ke sini semakin meningkat.

          Sudah menjadi sebuah rutinitas yang dilakukan oleh pihak Jurusan Sosiologi & Antropologi Universitas Negeri Semarang, bahwa setiap awal semester ganjil perkuliahan (tepatnya yaitu setelah penerimaan mahasiswa baru) Jurusan Sosiologi & Antropologi Unnes mengadakan kegiatan kuliah umum dengan mendatangkan para tokoh ilmuan dalam mengisi acara tersebut, baik dari Negara Indonesia sendiri maupun negara lain dengan mengusung berbagai tema yang sangat menarik tentunya, yang juga relevan dengan kondisi sosial budaya yang terjadi saat ini.

          Selasa, 12 September 2017. Kembali hadir kegiatan stadium general tersebut, dimana pada kegiatan stadium general kali ini, dihadirkan tokoh ilmuan yang sangat luar biasa dari manca negara, tepatnya yaitu dari Negara Filipina, Prof. Luis Carmelo L Buenaventura (yang akrab dipanggil doktor B/ Doc.B). Beliau merupakan salah satu dosen militan di salah satu Universitas di Filipina. Adapun stadium general kali in mengusung tema “The Use Of Schoolbook As An Educational Online Portal Utilized For Teaching, Learning, And Besearch”.

          Secara garis besar, pada stadium general kali ini membahas tentang salah satu solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dunia pada masa sekarang ini, yakni tentang global warming. Dalam stadium kali ini, dipaparkan mengenai salah satu solusi efektif atau upaya dalam menanggulangi permasalahan yang saat ini tengah dihadapi oleh masyarakat dunia tersebut, yang salah satu penyebabnya adalah penggunaan kertas yang semakin meningkat. Oleh sebab itu, Doc B ini menghadirkan suatu inovasi baru yang sangat tepat digunakan untuk mengurangi penggunaan kertas. Adapun inovasi tersebut yaitu inovasi dalam dunia pendidikan, yakni menyediakan media pembelajaran online bagi mahasiswa, yang disebut dengan istilah School Book.

          Diantara beberapa alasan yang melatar belakangi Doc B untuk menghadirkan aplikasi School Book ini yaitu, ketika beliau mendapati banyak diantara mahasiswa beliau yang tidak berangkat kuliah dkarenakan cuaca ekstrem. Tanpa adanya tatap muka secara langsung, maka kegiatan perkuliahan tidak bisa dilaksanakan. Oleh sebab itu, munculah ide kreatif dari Doc B untuk menjawab pertanyaan mengenai “Bagaimana kegiatan kuliah itu dapat berlangsung mekipun antara dosen dan mahasiswanya tidak bertemu secara face to face?” akhirnya muncullah ide untuk membuat aplikasi belajar yang menjembatani antara dosen dan mahasiswanya guna melaksanakan kegiatan perkuliahan tanpa bertemu face to face, yakni dengan menciptakan media School Book untuk dosen dan mahasiswa.

         Adapun proses perkuliahan melalui aplikasi School Book ini yaitu, melaksanakan perkuliahan dengan membuka komputer, laptop, notebok, maupun android yang di dalamnya, dosen bisa mengunggah atau mengupload materi-materi perkuliahan, untuk kemudian diakses atau dibaca oleh para mahasiswanya. Kalau ada pertanyaan-pertanyaan, baik itu tentang materi perkuliahan ataupun yang lain, bisa dikirim ke e-mail dosennya, yang nantinya akan dibalas oleh dosen yang bersangkutan. Hampir sama seperti kegiatan perkuliahan pada umumnya, tiap semester ada biaya untuk bisa mengakses School Book ini, namun lebih hemat jika dibandingkan dengan menggunakan kertas dalam pembelajaran.

          Banyak sekali manfaat adanya Schol Book ini, diantaranya yaitu dosen dan mahasiswa tidak perlu lagi bertemu langsung untuk melaksanakan kegiatan perkuliahan. Dosen dan juga mahasiswa bisa mengakses School Book ini dimana saja dan kapan saja. Dosen yang berada di luar negeri pun bisa memantau kegiatan perkuliahan mahasiswanya melalui aplikasi Schol Book ini. Jadi meskipun terhalang jarak yang begitu jauh, baik anatara mahasiswa maupun dosen masih bisa melaksanakan kegiatan perkuliahan. Begitu juga dengan orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sehinga kurang dapat memperhatikan kegiatan pendidikan anaknya. Melalui aplikasi School Book ini orang tua bisa memantau sejauh mana perkembangan belajar dari anak-anaknya.

          Dari sisi mahasiswa sangat mendukung sekali dengan adanya School Book ini, karena mereke merasa sangat diuntungkan. Dengan adanya School Book ini, para mahasiswa tidak perlu lagi datang jauh-jauh ke kampus guna melaksanakan kegiatan perkuliahan. Mereka tetap bisa berkuliah meskipun hanya dengan duduk santai di rumah, atau sambil berlibur sekalipun. Yang saat ini masih menjadi kendali di sini adalah dari pihak dosen-dosen yang sudah tua, karena mereka sulit untuk menyesuaikan dengan sistem yang ada. Para dosen tua ini harus banyak belajar untuk mahir menggunakan media online guna menjalankan School Book dalam pendidikan yang dilakukannnya.

          Kekurangan yang lain yaitu, sering kali mahasiswa telat dalam mengumpulkan tugas yang diberikan oleh dosen. Alasan mereka yaitu dikarenakan minimnya quota ataupun kekuatan sinyal yang buruk. Alasan-alasan semacam ini sering dilontarkan oleh para mahasiswa yang telat dalam mengakses ataupun mengumpulkan tugas kuliahnya, yang dengan ini masih menjadi kendala untuk kelancaran penggunaan School Book ini dalam kegiatan pembelajaran.

          Terlepas dari itu semua, kemunculan School Book ini sangat patut untuk mendapatkan apresiasi lebih. Jika dibandingkan sisi negatifnya, lebih banyak sisi positif yang menyertai munculnya media pembelajaran School Book ini. Sisi positif dan sisi negatif memang tidak akan pernah lepas dari setiap hal, termasuk dalam munculnya School Book ini, namun yang menjadi upaya yang harus kita laksanakan adalah bagaimana menjadikan sisi positif ini sebagai suatu motifasi bagi kita dan menjadikan sisi negatifnya sebagai suatu hal yang harus mendapatkan perhatian lebih, guna meningkatkan mutu pendidikan serta mewujudkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien.

          Berbicara mengenai religi, tentunya telah banyak tokoh-tokoh terkemuka yang menyampaikan pendapat serta pemikirannya mengenai hal tersebut. Secara umum, para tokoh tersebut mendefinisikan religi sebagai suatu sistem kepercayaan mengenai hal-hal magic yang berkaitan dengan agama, dimana dalam sistem religi, terdapat beberapa bahasan mengenai bagaimana seseorang itu menjalankan kewajibannya terhadap Tuhannya berdasarkan agama yang telah dianutnya. Religi membahas mengenai seberapa jauh tingkat pengetahuan seseorang, serta membahas mengenai seberapa dalam penghayatan seseorang terkait dengan hal agama yang diyakini serta dianut olehnya. Religi merupakan dorongan naluri seseorang untuk meyakini serta melaksanakan agama yang telah diyakini dan dianutnya, dalam hal ini, religi diwujudkan sebagai bentuk taat kepada agama yang dianutnya, meliputi keyakinan kepada tuhan, peribadatan, norma-norma yang mengatur manusia dengan Tuhan.

          Wulf mengungkapkan bahwa religiusitas merupakan sesuatu yang dirasakan sangat dalam, yang bersentuhan dengan keinginan seseorang, membutuhkan ketaatan dan memberikan imbalan atau mengikat seseorang dalam masyarakat (Fuad, 2002). Selain beberapa asumsi di atas, disini akan dijelaskan mengenai bagaimana konsep religi berdasarkan perspektif teori-teori sosial. Diantaranya yaitu,

  1. Religi Menurut Teori Evolusi

          Dalam menjelaskan tentang bagaimana teori evolusi memaknai atau memandang konsep mengenai religi, di sini terdapat salah satu tokoh evolusi ternama di masanya yang menjelaskan serta mengungkapkan asumsinya mengenai religi, Ia adalah Edward B Tylor (1832 – 1917). Salah satu buku karangan Tylor yaitu berjudul Primitive Culture: Language Art and Custom (1874).

          Dalam buku karangannya ini, Tylor juga mengajukan teorinya tentang asal mula religi, yang berbunyi “Asal mula religi adalah kesadaran akan adanya jiwa”. Pada tingkat tertua dari evolusi religi, manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus itulah yang yang menempati alam sekeliling tempat tinggalnya. Makhluk tersebut bertubuh halus, sehingga tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia, yang mampu berbuat hal-hal yang tidak bisa diperbuat oleh manusia. Religi itulah yang oleh Tyor disebut dengan istilah Animisme.

          Tylor melajutkan teorinya tentang religi dengan suatu uraian tentang evolusi religi. Pertama yaitu tentang Animisme, yang pada dasarnya merupakan keyakinan terhadap adanya roh yang mendiami alam semesta sekeliling tempat tinggal manusia, merupakan bentuk religi yang tertua. Pada tingkat kedua dalam evolusi religi, manusia meyakini bahwa gerak alam yang hidup juga disebabkan adanya jiwa dibelakang peristiwa-peristiwa serta gejala alam itu. Jiwa alam itu kemudian dipersonifikasikan dan diangap sebagai makhluk-makhluk yang mempunyai suatu kepribadian degan kemauan dan pikiran, yang disebut dengan dewa-dewa alam.

         Pada tingkat ketiga dari evolusi religi yaitu, bersama dengan munculnya susunan kenegaraan dalammasyarakat manusia, muncul pula keyakinan bahwa dewa-dewa alam itu juga hidup dalam suatu susunan kenegaraan, serupa dengan dunia makhluk manusia, maka terdapat pula susunan pangkat pada dewa, mulai dari raja dewa (dikenal dengan istilah trimurti), sampai pada dewa-dewa yang terendah pangkatnya. Susunan para dewa ini lambat laun menimbulkan kesadaran manusia bahwa semua dewa itu pada dasarnya merupakan penjelmaan dari satu dewa saja, yaitu dewa yang tertinggi. Akibat dar keyakinan itulah berkembang keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan dan timbul dari religi-religi yang bersifat monotheisme sebagai tingkat yang terakhir dalam evolusi religi manusia.

        2. Religi Menurut Teori Difusi

          Dalam melihat religi berdasarkan teori difusi, di sini akan dijelaskan bagaimana teori difusi memandang tentang religi. Lewat salah satu tokoh teori difusi, yaitu Koenjaraningrat, akan dipaparkan mengenai bagaimana teori difusi itu memandang akan religi.

             Dalam kamus antropologi, Koenjaraningrat memaparkan pemikirannya mengenai religi. Ia berasumsi bahwa religi merupakan sistem yang terdiri dari konsep-konsep yang dipercaya dan menjadi keyakinan secara mutlak suatu ummat beragama dan upacara-upacara beserta pemuka-pemuka agama yang melaksanakannya. Dalam sistem religi, didalamnya mengatur tentang bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan dan juga dengan dunia gaib, hubungan manusia dengan manusia, serta bagaimana hubungan manusia dengan alam sekitarnya, yang dijiwai oleh suasana yang dirasakan sebagai suasana kekerabatan oleh orang-orang yang menganutnya.

          Teori difusi, yang dalam hal ini diwakil oleh Koentjaraningrat sebagai salah satu tokoh yang ada di dalamnya, menjelaskan bahwa teori difusi memandang religi sebagai suatu sistem sosial yang di dalamnya terdapat seperangkat konsep atau aturan-aturan yang harus ditaati dan juga harus dilakukan oleh orang-orang yang mempercayai akan adanya beberapa konsep tersebut dalam kehidupan mereka.

     3. Religi Menurut Teori Fungsionalis

          Pembahasan selanjutnya yaitu bagaimana teori fungsionalis memandang akan adanya religi dalam kehidupan masyarakat. Pandangan fungsional mengenai religi dapat kita jumpai dalam suatu premis mendasar, yang menyatakan bahwa religi merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang terbentuk karena manusia ingin menciptakan atau mengkonstruksikan makna dan identitas dari agama atau religi tersebut.

          Pemahaman yang lebih sempit dari agama atau religi yaitu dari ilmuan Amerika, Milton Yinger (1970) yang mengungkapkan bahwa agama atau religi merupakan suatu sistem kepercayaan dan prakyik yang dilakukan oleh sekelompok manusia dalam pergaulan sehari-hari dengan berbagai pemasalahan utama kehidupan. Teori fungsionalis memandang bahwa, religi atau kepercayaan apapun yang menimbulkan efek konstruktif dalam masyarakat lebih berfungsi secara sosial dari pada sebuah agama atau kepercayaan yang kompleks serta sibuk dengan memenuhi nubuatnya sendiri untuk kepentingan kelompok-kelompok tetentu. Teori fungsionalisme juga memandang bahwa religi merupakan sebuah lembaga sosial yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat dipenuhi kebutuhan nilai-nilai duniawi, namun tidak mengungkit hakekat apapun yang ada di luar atau referensi transedental.

       4. Religi Menurut Teori Struktural Fungsionalis

          Teori struktural fungsional dibangun oleh Talcott Parsons serta dipengaruhi oleh para Sosiolog Eropa, yang menyebabkan teori struktural fungsional ini bersifat empiris positivistik dan ideal. Pandagannya tentang tindakan manusia bersifat voluntaristik, yang artinya tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan dengan mengindahkan nilai, ide, dan norma yang disepakati.

          Berbicara mengenai bagaimana konsep religi menurut teori struktural fungsional, Talcott Parsons memandang bahwa, religi merupakan suatu bentuk komitmen terhadap perilaku. Religi tidak hanya berkembang dengan ide saja, namun merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar. Religi berfungsi mengintegrasikan perilaku masyarakat, baik perilaku lahirnya maupun simbolik. Struktural fungsional memandang bahwa religi menuntut terbentuknya moral sosial yang langsung berasal dari Tuhan. Religi tidak hanya sebuah kepercayaan, namun juga berupa perilaku atau amalan.

         Talcott Parsons juga melihat religi sebagai sesuatu yang melekat pada sistem dan struktur sosial dan penafsiran masing-masing individu, atau yang dikenal dengan istilah religius. Religius itu berakar dari kesadaran individu dan juga kesadaran kolektif. Pendekatan Parsons lebih dekat pada pendekatan yang digunakan Weber, yaitu dengan melakukan pemahaman atau interpretasi atas tindakan sosial individu, karena inti dari tindakan sosial dari Parsons adalah adanya tujuan dan sebagai alat individu untuk bertindak dalam sebuah situasi sosial agama setempat.

       5. Contoh Fenomena Religi dalam Masyarakat

          Dalam hal ini, kita akan sama-sama melihat bagaimana fenomena religi yang ada di masyarakat Irian Jaya, tepatnya yaitu di Kecamatan Waropen Bawah, Kabupaten Yapen Waropen. Dalam hal religi dan kepercayaan, masyarakat Waropen masih belum bisa melupakan kebiasaan lama mereka yaitu Animisme, meskipun sudah ada agama yang masuk ke sana, yaitu agama Protestan. Masyarakat Waropen mempercayai adanya roh ‘rosea’ (bayangan) orang yang sudah meninggal, yang dipercayai mempunyai berbagai bentuk, diantaranya sebagai kalong (binatang hitam yang bisa terbang). Ada juga masyarakat Waropen yang beranggapan bahwa roh-roh tersebut dibayangkan sebagai burung atau binatang lainnya, yang bisa terbang tanpa suara di malam hari dan mendiami tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar, seperti gua-gua, pohon besar, sungai, dan tempat keramat lainnya.

          Selain itu, masyarakat Waropen juga mempunyai kepercayaan adanya kekuatan gaib (masyarakat sana menyebutnya dengan istilah Aiwo), yang bertempat di pohon-pohon besar, salah satunya adalah pohon beringin. Aiwo tersebut dipercaya bergabung dengan roh-roh jahat yang akan membuat bencana. Secara umum, Aiwo digunakan untuk tujuan yang tidak benar, misalnya digunakan untuk membinasakan orang lain, namun Aiwo juga dapat digunakan untuk menolak penyakit yang membahayakan. Masyarakat Waropen juga mempercayai adanya Sema Suanggi, yang mempunyai kekuatan sakti untuk membunuh atau menghidupkan seseorang. Selain itu, masyarakat Waropen juga mempercayai kekuatan atau kesaktian wanita tua yang disebut Ghasawin, yang tugasnya adalah memimpin upacara adat dan mempunyai kekuatan gaib untuk mengobati orang sakit secara tradisional. Kepercayaan-kepercayaan tersebut hingga kini masih diyakini oleh masyarakat Waropen di Irian Jaya meskipun mereka sudah memeluk agama Kristen Protestan.

          Secara tradisional, masyarakat Waropen juga mempunyai ritual atau upacara-upacara adat. Misalnya yaitu Munaba dan Saira. Munaba merupakan bentuk upacara adat yang dilakukan untuk memelihara hubungan antara orang yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal. Sedangkan Saira merupakan upacara adat yang digunakan saat acara pemotongan rambut, penusukan hidung, dan pemasangan gelang kaki pada seorang anak. Berbagai kepercayaan serta kegiatan-kegiatan adat yang ada di Waropen Irian Jaya ini masih dipegang erat dan masih dilaksanakan oleh masyarakat sana hingga sekarang.

       6. Analisis Fenomena Religi

          Seperti yang telah kita bahas di atas, bahwa Religi merupakan suatu konsep yang di dalamnya membahas mengenai seberapa jauh tingkat pengetahuan seseorang, serta membahas mengenai seberapa dalam penghayatan seseorang terkait dengan hal agama yang diyakini serta dianut olehnya. Kami mengangkat salah satu bentuk religi yang ada di masyarakat, tepatnya yaitu di masyarakat Waropen Bawah, Kabupaten Yapen Waropen, Irian Jaya. Seperti yang ada pada pembahasan diatas, bahwa masyarakat Waropen masih memegang teguh sistem Animisme dalam kehidupan sehari-hari mereka, meskipun sudah ada agama yang masuk di wilayah tersebut.

          Dalam pembahasan mengenai bagaimana religi yang ada di masyarakat Waropen, telah mengambarkan bahwa teori yang tepat untuk melihat “konsep religi” yang ada di sana adalah teori evolusi. Salah satu tokoh evolusi agama (Tylor) mengungkapkan bahwa “asal mula religi adalah kesadaran akan adanya jiwa”. Pada tingkat tertua dari evolusi religi, manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus itulah yang yang menempati alam sekeliling tempat tinggalnya. Makhluk-mkhluk halus yang tinggal dekat tempat tinggal manusia itu, bertubuh halus sehingga tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia, yang mampu berbuat hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, mendapat tempat yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sehingga menjadi objek penghormatan dan penyembahannya, yang disertai dengan berbagai upacara berupa doa, sajian, atau kurban. Religi itulah yang oleh Tyor disebut dengan istilah Animisme.

        Hal ini sesuai dengan konsep religi yang ada d masyarakat Waropen, dimana dalam masyarakat Waropen terdapat sistem Animisme, yang hingga saat ini masih senantiasa dijaga, serta dilestarikan keberadaaan dari Animisme tersebut. Dalam Animisme masyarakat Waropen, terdapat berbagai kepercayaan mengenai berbagai roh-roh halus yang mempunyai kekuatan supera natural yang mendiami tempat-tempat tertentu yang diangap keramat oleh masyarakat Waropen, Irian Jaya. Hal ini sejalan dengan bagaimana konsep religi dari teori evolusi religi, tepatnya yaitu dari salah satu tokoh evolusi religi tersebut (Edward B Tylor).

 

DAFTAR PUSTAKA 

  • Fuad Nashori dan Rachmy Diana Muchtaram. 2002. Mengembangkan Kreatifitas dalam Prespektif Psikologi Islami. Yogyakarta: Menara Kudus Jogjakarta.
  • https://books.google.co.id/books?id=EpcADgAAQBAJ&pg=PA7&lpg=P7dq=CERITA+RELIGI+DI+MASYARAKAT
  • http://staffnew.uny.ac.id/upload/131862252/pendidikan/Agama+dan+Masyarakat,+4.pdf
  • http://www.kompasiana.com/nurulwidad/sistem-religi-dan-kepercayaan/
  • http://www.latarbelakang.com/2016/08/pengertian-agama-konsep-religi-fungsi.html

 

12
September

Silabus Antropologi SMA 2013

Written by Nur Rohmat. No comments Posted in: Antropologi SMA

SILABUS ANTROPOLOGI SMA X

07
September

Silabus Sosiologi SMA/MA

Written by Nur Rohmat. No comments Posted in: Sosiologi SMA

SILABUS SOSIOLOGI SMA X(1)

07
September

HEMBUSAN NAFAS TRADISI DALAM GLOBALISASI

Nur Rohmat,

Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Rohmat@students.unnes.ac.id  

Nampak jelas dari kejauhan, seorang pria sedang duduk terpekur di pinggir laju modernisasi kota ini. Usianya kisaran lima puluh tahun, dengan kacamata usang melekat di wajahnya yang terlihat menyilaukan terkena cahaya surya. Ia seakan-akan tak mau enyah dari posisi nyamannya dan masih asyik menerawang dinding-dinding bangunan besar sisa-sisa peradaban zaman yang masih kokoh menantang langit. Tatapan kosong pria tersebut, seakan-akan penuh pertanyaan serta kekaguman, dimana sekarang ia masih bisa melihat salah satu peninggalan sejarah peradaban masa lalu di masa yang antah-berantah ini, di masa yang orang-orang sering menginterpretasikannya dengan masa atau era globalisasi.

Kota lama, sebagaimana orang-orang saat ini menyebutnya. Kota Lama merupakan salah satu ikon utama dari Kota Semarang, dimana tempat tersebut dahulu merupakan Kampung Belanda (Little Netherland), yang digunakan sebagai pusat pemerintahan pada saat itu. Kota lama merupakan salah satu budaya atau tradisi masyarakat Semarang, dimana ia masih tetap berdiri kokoh di tengah-tengah peradaban masa kini, ia masih kuat meskipun diterpa badai globalisasi serta modernisasi yang merasuki jiwa negeri ini. Kota Lama Semarang merupakan suatu tempat dimana, disana terdiri dari bangunan-bangunan besar yang usianya sudah cukup tua, namun bangunan-bangunan tersebut masih begitu kuat dan kokohnya (meskipun ada beberapa bagian bangunan yang sudah agak usang). Bangunan-bangunan besar dan tinggi tersebut merupakan saksi bisu dari sejarah Kota Semarang pada masa itu. Bangunan-bangunan besar tersebut merupakan bangunan-bangunan peninggalan Belanda ketika menduduki Kota Semarang. Dari segi arsitektur dan juga ukuran serta daya kuat bangunan, tentu berbeda dengan bangunan-bangunan lain di sekitar Kota Semarang, hal itu dikarenakan bangunan-bangunan tersebut didesain, dibuat, serta diselesaikan oleh arsitek-arsitek Belanda pada masa itu, jadi wajar saja bila bangunan tersebut masih kokoh hingga saat ini.

Berbicara tentang Kota Lama Semarang, tak terasa kita telah membicarakan tentang salah satu dari sekian banyak budaya atau tradisi yang ada di Kota Semarang ini. Kota Semarang, yang juga menjadi ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah, yang letaknya berada di sebelah utara Pulau Jawa ini merupakan salah satu kota yang di dalamnya terdapat sekian banyak unsur budaya dan tradisi yang membangunnya, yang menjadikan Kota Semarang ini ada dan berkembang hingga saat ini. Sekian banyak tradisi dan budaya yang ada di Kota Semarang ini saling bersinergi antara satu budaya dengan budaya lain, antara suatu tradisi dengan tradisi yang lain, sehingga dengan banyaknya tradisi serta budaya tersebut, Kota Semarang mampu mempertahankan eksistensinya hingga saat ini.

Dari sekian ribu penduduk Kota Semarang, di dalamnya terdapat kekayaan tradisi serta budaya yang sangat harmoni dengan kekhasannya masing-masing. Meskipun dari sekian banyak tradisi dan juga budaya tersebut notabennya masing-masing dari mereka adalah berbeda, namun integrasi yang terbangun diantara mereka sangatlah kuat. Di Semarang juga berkembang beberapa suku, seperti Jawa, Arab, Tionghua, serta mempunyai budaya atau tradisi yang menarik, yang merupakan perpaduan dari sekian banyak budaya yang ada, yang dahulunya merupakan cikal-bakal dari Kota Semarang. Jika melihat dari bangunan sejarah dan juga nama-nama tempat yang ada di Kota Semarang, maka kita bisa melihat bahwa di Semarang terdapat macam-macam tradisi yang masih ada hingga saat iini, seperti Islam, Tionghua, Eropa, serta Jawa (pribumi). Keempat tradisi tersebut berbaur dan menyatu sehingga sangat berpengaruh terhadap perkembangan Kota Semarang.

Tempat-tempat yang menjadi pusat peradaban budaya yang hingga saat ini masih terkenal eksistensinya di Kota Semarang terbagi menjadi 4 wilayah atau tradisi, yaitu Kampung Kauman, Kampung Pecinan, Kampung Belanda, dan Kampung Melayu. Kampung Kauman saat itu banyak dihuni oleh keturunan jawa, sekarang keturunan Arab juga ada di sana. Kampung Pecinan dihuni oleh para keturunan Tionghua serta warga Cina yang menetap di Indonesia, dan di Kota Semarang pada khususnya. Kampung Belanda merupakan daerah pemerintahan pada saat itu, yang sekarang terkenal dengan nama Kota Lama Semarang. Sementara Kampung Melayu lebih banyak dihuni oleh keturunan Arab pada saat itu, dan pada saat sekarang ini, masyarakat Jawalah yang mendominasi Kampung Melayu tersebut.

Di Semarang juga terdapat tradisi atau budaya lain yang tak kalah menariknya. Tradisi atau budaya tersebut yaitu Tari Semarang. Dilihat dari namanya saja, orang sudah mempunyai segudang pertanyaan akan nama tersebut, bagaimana tidak, suatu gerakan tari yang begitu lenturnya diberi nama dengan salah satu nama kota yang besar, yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang luar biasa. Dari nama tersebut kemudian orang juga berfikir, “kira-kira bagaimana ya gerakan dan juga seni dari Tari Semarang tersebut?”

Tari Semarang merupakan tarian asli dari Kota Semarang. Tarian ini mempunyai 3 jenis gerakan dasar, yaitu ngendok, ngenyek, dan juga genjot. Seperti letak geografis kotanya, gerakan-gerakan dalam tarian tersebut juga diberi nama atau sebutan menggunakan istilah-istilah atau kosa kata Jawa, yang masing-masing gerakan tersebut tentunya mempunyai makna masing-masing.

Salah satu hal yang menarik dari tata cara tradisi, serta budaya yang ada di masyarakat Kota Semarang adalah perpaduan dari unsur-unsur etnis yang dikombinasikan dalam satu tradisi. Hal ini dikarenakan di Semarang sendiri tidak hanya dihuni oleh masyarakat Etnis Jawa saja, melainkan terdapat Etnis-etnis lain, yang salah satunya yaitu Etnis Tionghua, maka dari itu, tradisi dan budaya yang ada di Semarang terlihat lebih cantik dan indah, karena unsur Jawa Oriental yang begitu kental. Salah satu jenis budaya atau tradisi yang ada di Semarang yang terdapat unsur Jawa Oriental selain Tari Semarang yaitu Gambang Semarang. Tradisi atau budaya yang satu ini mungkin menjadi salah satu kesenian yang cukup menarik perhatian sekian banyak masyarakat Indonesia, dan masyarakat Semarang pada umumnya.

Dalam Gambang Semarang ini, di dalamnya terdiri dari kolaborasi seni-seni khas yang menarik, seperti unsur musik, vokal, lawak/ lelucon, serta dipadu dengan tarian-tarian tradisional. Semakin kesini, seiring dengan laju modernisasi, Gambang Semarang juga dipadukan dengan seni gerak tari, yang pada dasarnya merupakan warisan budaya jaman dulu. Seni tari Gambang Semarang memiliki gerakan yang berpusat pada pinggul penarinya.  Selain sebagai salah satu kekayaan budaya di Kota Semarang, Gambang Semarang ini juga bisa dijadikan sebagai suatu hiburan yang pas untuk mengobati kepenatan diri seteah lelah menjalankan peran di panggung sandiwara globalisasi ini.

Dari sekian banyak budaya atau tradisi yang tersebuar luas di Kota Semarang, semuanya dikemas menjadi satu dalam bentuk tradisi unik dan paling esensial di Kota Semarang ini, yaitu tradisi atau budaya Warak Ngendok, dimana Warak Ngendok ini bisa disaksikan oleh semua masyarakat pada Perayaan Dukderan di Kota Semarang. Warak Ngendok merupakan sebuah replika boneka yang berbentuk binatang raksasa yang dalam bentuknya tersebut menggambarkan arti atau makna yang sangat luar biasa, dimana replika boneka raksasa tersebut mempunyai unsur mitologi sebagai simbol atau perwakilan dari bentuk akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di Kota Semarang. Bagian-bagian dari Warak Ngendok tersebut, masing-masing mewakili etnis yang ada di Kota Semarang. Bagian-bagian tubuh dari Warak Ngendok tersebut terdiri dari kepala naga (Etnis Cina), badan buraq (Etnis Arab), dan kaki kambing (Etnis Jawa). Kata “Warak” sendiri merupakan penggalan kata yang diangkat dari Bahasa Arab yaitu “Wara’i”, yang artinya berhati-hati dalam bertingkah laku (masyarakat Semarang mengartikannya dengan suci), kemudian kata Endog (telur), disimbolkan sebagai hasil pahala yang diperoleh dari proses menjaga tingkah laku atau telah menjalani proses suci sebelumnya. Secara istilah, “Warak Ngendog” dapat diartikan sebagai barang siapa yang menjaga tingkah laku (dalam hal ini adalah kesucian) di bulan ramadhan, maka kelak di akhir bulan ia akan mendapat pahala di hari lebaran.

Selain beberapa bentuk tradisi atau budaya di atas, masih banyak lagi tradisi-tradisi atau kebudayaan yang ada di Kota Semarang. Beberapa tradisi atau kebudayaan di atas hanyalah merupakan sedikit dari sekian banyak tradisi, serta budaya yang ada di Kota Semarang, yang tersebar luas di berbagai wilayah Kota Semarang, yang hingga saat ini, tradisi-tradisi serta kebudayaan tersebut masih tetap eksis dan masih senantiasa menghembuskan nafas kelestarian bagi seluruh masyarakat kota semarang, dan menjadi salah satu jagar budaya yang ada di indonesia tercinta ini.

“Lestarikan budaya lokal, jagalah agar mereka tetap bisa bernafas di tengah polusi modernisasi Negeri ini”, mungkin itulah kalimat yang sesui dengan kondisi sosial saat ini. Menjaga kelestarian budaya sama artinya dengan menjaga kekayaan bangsa kita, menjaga kekayaan bangsa sama artinya dengan menjaga kehormatan serta wibawa diri kita.

07
September

Ringkasan Kurikulum 2013

Written by Nur Rohmat. No comments Posted in: Umum

1. LATAR BELAKANG KURIKULUM 2013

Pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana dalam pembangunan bangsa dan karakter. Penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang jaman. Oleh karena kurikulum dipandang sebagai salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik, maka kurikulum  2013 perlu dikembangkan, dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi:

  1. Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah;
  2. Manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri;
  3. Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

 

2. LANDASAN PENYEMPURNAAN KURIKULUM 2013

Landasan Yuridis;

  • Pancasila dan UUD 1945,
  • UU no. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas,PP nomor 19 tahun 2005,
  • Permendiknas no. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan,
  • Permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.

Landasan Filosofis;

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional maka pengembangan kurikulum haruslah berakar pada budaya bangsa. Oleh karena itu, melalui pendidikan, berbagai nilai dan keunggulan budaya di masa lampau diperkenalkan, dikaji, dan dikembangkan menjadi budaya dirinya, masyarakat, dan bangsa yang sesuai dengan zaman dimana peserta didik tersebut hidup dan mengembangkan diri.

Landasan Teoritis;

Kurikulum dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standar dan teori pendidikan berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional sebagai kualitas minimal hasil belajar yang berlaku untuk setiap kurikulum. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan yang mencakup sikap, pengetahuan, danketerampilan (PP nomor 19 tahun 2005).

Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang dirancang baik dalam bentuk dokumen, proses, maupun penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan pelajaran serta penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan.

Landasan Empiris;

Sebagai bangsa yang besar dari segi geografis, suku bangsa, potensi ekonomi, dan beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain,sekecil apapun ancaman disintegrasi bangsa masih tetap ada. Kurikulum harusmampu membentuk manusia Indonesia yang dapat menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia.

 

3. PRINSIP PENGEMBANGAN DALAM KURIKULUM 2013

  • Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi,
  • Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan,
  • Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi.

 

4. CIRI KHAS KURIKULUM 2013

  • Belajar Tuntas

Belajar tuntas, yaitu peserta didik  tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar.

  • Penilaian Autentik

Penilaian autentik dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Memandang penilaian dan pembelajaran merupakan hal yang saling berkaitan,
  2. Mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah,
  3. Menggunakan berbagai cara dan kriteria penilain,
  4. Holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap),
  5. Penilaian autentik tidak hanya mengukur hal yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur hal yang dapat dilakukan oleh peserta didik.
  •  Penilaian Berkesinambungan

Penilaian dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan selama pembelajaran berlangsung. Untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus-menerus dalam bentuk penilaian proses dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan.

  • Menggunakan Teknik Penilaian yang Bervariasi

Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, pengamatan, dan penilaian diri.

  • Berdasarkan Acuan Kriteria

Penilaian berdasarkan acuan kriteria maksudnya penilaian harus didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Kemampuan peserta didik tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap kriteria yang ditetapkan, misalya ketuntasan belajar minimal (KKM).

 

5. KELEBIHAN dan KEKURANGAN KURIKULUM 2013

A. Secara Umum

     Kelebihan

dalam kurikulum 2013 proses pembelajaran murid aktif, guru sebagai fasilitator maupun motivator, semua aspek kehidupan bisa menjadi sumber pembelajaran, serta melahirkan manusia pembelajar

     Kekurangan

  1. kurikulum 2013 penuh kontradiksi,
  2. penggunaan Ujian Nasional (UN) sebagai evaluasi standar proses pembelajaran siswa aktif,
  3. kurikulum 2013 cocok untuk sekolah yang sudah maju dan gurunya punya semangat belajar tinggi.

B. Menurut Para Guru

     Kelebihan

  1. kurikulum 2013 melatih anak untuk lebih mandiri, kreatif, dan inovatif,
  2. kurikulum ini juga kembali mengajak anak-anak untuk membudayakan membaca, salah satu kebiasaan yang mulai menurun pada generasi saat ini,
  3. penerapan kurikulum 2013 juga memiliki tujuan yang baik yaitu mendorong anak untuk memiliki sikap yang lebih baik di sekolah, pada teman sejawat, dan terhadap lingkungannya.

      Kekurangan

  1. sistem penilaian yang dinilai guru terlalu rumit,
  2. kurangnya sarana dan prasarana yang belum memadai dan merata untuk menjalankan kurikulum 2013.

 

6. PERUBAHAN YANG TERJADI ANTARA KURIKULUM 2013 dengan KURIKULUM SEBELUMNYA

  • Pertama

Terkait dengan penataan sistem perbukuan. Lazim berlaku selama ini, buku ditentukan oleh penerbit, baik menyangkut isi maupun harga, sehingga beban berat dipikul peserta didik dan orang tua. Sedangkan penataan sistem perbukuan dalam implementasi Kurikulum 2013 dikelola oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan dan substansinya diarahkan oleh tim pengarah dan pengembang kurikulum. Tujuannya agar isi dapat dikendalikan dan kualitas lebih baik. Selain itu, harga bisa ditekan lebih wajar.

  • Kedua

Penataan Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) di dalam penyiapan dan pengadaan guru.

  • Ketiga

Penataan terhadap pola pelatihan guru. Pengalaman pada pelaksanaan pelatihan instruktur nasional, guru inti, dan guru sasaran untuk implementasi Kurikulum 2013, misalnya, banyak pendekatan pelatihan yang harus disesuaikan, baik menyangkut materi pelatihan maupun model dan pola pelatihan.

  • Keempat

Memperkuat budaya sekolah melalui pengintegrasian kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler, serta penguatan peran guru bimbingan dan konseling (BK).

  • Kelima

Terkait dengan memperkuat NKRI. Melalui kegiatan ekstrakurikuler kepramukaanlah, peserta didik diharapkan mendapat porsi tambahan pendidikan karakter, baik menyangkut nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, toleransi dan lainnya.

  • Keenam

Memperkuat integrasi pengetahuan bahasa budaya.  Pada Kurikulum 2013, peran bahasa Indonesia menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik, sehingga bahasa berkedudukan sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain. Melalui cara ini, maka pembelajaran bahasa Indonesia termasuk kebudayaan, dapat dibuat menjadi kontekstual.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

05
September

My Prifile

Written by Nur Rohmat. No comments Posted in: Umum

Jangan khawatir ketika anda diacuhkan, namun berjuanglah menjadi seseorang yang layak untuk dikenal”_ Abraham Lincoln.

Assalamualaikum,

Sebelumnya perkenalkan, saya Nur Rohmat, mahasiswa UNNES jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi angkatan 2015. Saya lahir di Rembang, pada tanggal 12 Maret, tahun 1997.

Tujuan awal saya membuat blog ini adalah, untuk menjadikannya sebagai salah satu media pembelajaran dalam mata kuliah Produksi Media Audio-Visual di semester ini. Adapun rencana kedepan dari pembuatan blog ini adalah, untuk memberikan suatu media pembelajaran inovatif, yang di dalamnya menyajikan beberapa materi yang nantinya mampu diakses oleh para pelajar, guna membantu mereka dalam mencukupi kebutuhan akan pengetahuan, sehingga dengan hal ini diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas dan mutu sistem pendidikan di Indonesia.

See you next time….

Wassalamualaikum,