Bagaimana munculnya masyarakat
Munculnya masyarakat menurut Simmel dikenal dengan istilah vergesellschaftung yang secara harfiah berarti “proses terjadinya masyarakat”, atau disebut juga dengan istilah “Sosiasi” (sociation). Jadi munculnya masyarakat terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang mana dalam proses tersebut individu akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Masyarakat lebih daripada jumlah individu yang membentuknya lalu ditambah dengan pola interaksi timbal balik dimana mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi masyarakat tidak akan pernah ada sebagai suatu benda objektif yang terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu terdiri dari kenyataan proses interaksi timbal balik. Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya pada individu yang rill) dan pandangan realis atau teori organik (yang mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersifat independen dari individu yang membentuknya).
Contoh terbentuknya masyarakat menurut Simmel, misalnya sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di terminal lapangan udara tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi kalau ada pengumuman yang mengatakan bahwa kapal akan tertunda beberapa jam karena tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang disampingnya, dan disanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini masyarakat (sosietalisasi) yang muncul akan sangat rapuh dan semetara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya itu bersifat sementara saja.
Proses munculnya masyarakat sangat banyak macamnya, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing ditempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosiasi ini mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi satu masyarakat (kelompok / sosiasi). Masyarakat ada pada tingkat tertentu dimana dan apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.
Apa beda hubungan Diad dan Triad? Bagaimana dengan hubungan kelompok keempatan dan seterusnya?
Adapun yang membedakan antara hubungan diad dan triad adalah jumlah orang yang terlibat dalam interaksi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Simmel begitu jumlah orang yang terlibat dalam interaksi berubah, maka bentuk interaksi merekapun berubah dengan teratur dan dapat diramalkan.
Diad :
Bentuk duaan memperlihatkan ciri khas yang unik sifatnya yang tidak terdapat dalam satuan sosial apapun yang lebih besar. Hal ini muncul dari kenyataan bahwa masing-masin individu dikonfrontasikan oleh hanya seorang yang lainnya, tanpa adanya suatu kolektivitas yang bersifat superpersonal (suatu kolektivias yang kelihatannya mengatasi para anggota individu). Oleh karena itulah pengaruh yang potensial dari seseorang individu terhadap satuan sosial lebih besar daripada dalam tipe satuan sosial apapun lainnya. Dilain pihak, kalau seseorang individu memilih untuk keluar dari suatu kelompok duaan maka satuan sosial itu sendiri akan hilang lenyap. Sebaliknya, dalam semua kelompok lainnya, hilangnya satu orang anggota tidak ikut menghancurkan keseluruhan satuan sosial itu.
Keunikan bentuk duaan yang lain adalah dengan adanya istilah berdua itu sepasang, bertiga menjadi kerumunan (two is company, three is a crowd). Semua orang percaya bahwa rahasia dapat dijaga oleh satu orang, dan tidak lebih dari itu. Karena setiap orang dalam kelompok duaan hanya berhadapan dengan satu orang saja, maka kebutuhan tertentu, keinginan dan karakteristik pribadi dari teman lain itu dapat ditanggapi dengan lebih sunguh-sungguh daripada yang mungkin dapat dibuat dalam kelompok yang lebih besar. Akibatnya, hubunga duaan menjadi intim dan unik secara emosional yang tidak mungki terjadi dalam bentuk sosial lainnya. Hal ini menimbulkan sifat yang ekslusivistik kepercayaan bahwa kehidupan yang dihayati oleh dua orang tidak dapat dihayati bersama orang lain, dan tidak ada hubungan lain yang memiliki tingkat kekayaan emosional yang sama dengan itu.
Hubungan duaan tidak selalu disertai oleh perasaan-perasaan positif. Dalam situasi konflik, apapun masalah dan sebab musababnya, hubungan yang sangat intim seringkali membuat konflik malah menjadi lebih parah. Masalah konflik yang kelihatannya sepele bagi orang luar, ditanggapi dengan sangat emosional. Sesungguhnya keterbukaan mereka satu sama lain pada tingkat kepribadian yang sangat dalam membuat mereka mudah saling menyerang yang berhubungan dengan masalah kepribadian ini.
Apabila terjadi penambahan jumlah orang (artinya lebih dari tiga), maka hal itu mempunyai akibat tertentu terhadap hakikat interaksi dalam suatu kelompok. Simmel pernah mengemukakan suatu hipotesa yang menyatakan, bahwa semakin besar suatu kelompok semakin besar pula kecenderungan terjadinya bentuk interaksi seperti dyad. Selama terjadinya proses menuju bentuk hubungan sebagaimana halnya dengan suatu dyad dalam suatu kelompok besar, setiap pihak atau kategori cenderung menerima anggota-anggota yang memiliki ciri-ciri pokok sama, misalnya : kekayaan, pola sikap tindak, dan lain-lain
Contohnya adalah, suami dan isteri, dua orang sahabat karib dan seterusnya.
Triad :
Triad disini diartikan sebagai pihak ketiga. Salah satu pokok pikiran Simmel yang terkenal adalah diskusinya mengenai berbagai peran yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Peran-peran ini yang tak mungkin kita temukan dalam bentuk duaan, meliputi penengah, wasit, tertius gaudens (pihak ketiga yang menyenangkan) dan orang yang memecah belah dan menaklukan (divider and conqueror). Dalam berbagai situasi, peran penengahlah yang muncul karena ikata antara kedua anggota dalam bentuk duaan itu didasarkan terutama pada hubungan mereka bersama pada pihak ketiga. Artinya, ikatan duaan bersifat tidak langsung. Misalnya, hubungan antara seorang ibu mertua dengan menantu perempuan didasarkan pada hubungan bersamanya dengan anak-suami yang mempunyai hubungan dengan keduanya secara terpisah. Namun dalam banyak situasi lainnya, kedua anggota duaan itu langsung berhubungan satu sama lain dan juga dengan pihak ketiga. Atau contoh lain, misalnya suami istri berhubungan satu sama lain, dan juga mempunyai ikatan bersama terhadap anak-anaknya. Karena alasan inilah, anak-anak sering merupakan faktor yang memperkuat perkawinan, artinya mereka memberikan suatu ikatan tambahan lagi pada kedua pasangan itu.
Hubungan keempatan atau lebih :
Dengan adanya tambahan orang lebih banyak lagi dalam suatu hubungan yang diperluas seperti hubungan keempatan, merupakan suatu kelompok yang terdiri dari empat orang adalah kelompok yang paling kecil dimana dapat terjadi pembentukan koalisi dengan ukuran yang persis sama. Kelompok yang terdiri dari lima orang adalah kelompok yang paling kecil dimana dapat terjadi pembentukan koalisi dengan ukuran yang tidak sama.
Karena kelompok tumbuh menjadi lebih besar, kemungkinan pembentukan sub kelompok internal itu bertambah besar. Kalau hal ini terjadi bentuk-bentuk sosial yang sesuai dengan jumlah yang terdapat dalam berbagai sub kelompok itu akan menjadi dominan.
Interaksionisme Simbolik
Gaya adalah bentuk relasi sosial yang menginginkan orang menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya bersifat dialektis yang berarti keberhasilan dan persebaran gaya akan berujung pada kegagalan. Hal positif yang muncul dari adanya interaksi bisa terjadi melalui terjalinnya solidaritas masyarakat, dan hal negatif adalah berupa adanya konflik. Minat Simmel pada bentuk interaksi menuai banyak kritikan. Ia dituduh memaksa suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan menghasilkan studi yang tidak saling terkait yang akhirnya sama sekali tidak menerapkan tatanan yang lebih baik pada realitas sosial. Menurut bentuknya terdapat konsep yang disebut dengan Subordinasi (ketaatan) dan Superordinasi (dominasi), jika kita ulas lebih lanjut tentang kedua hal tersebut ada beberapa kata kunci untuk memahaminya yaitu antara lain :
1.    Dominasi merupakan suatu bentuk interaksi. Bahkan dalam bentuk paling ekstrim subordinasi, ada beberapa kebebasan pribadi.
2.    Otoritas berwibawa menunjukkan perilaku yang dapat menjadi tujuan atau supra-individu, serta fakta bahwa kekuatan supra-individu mungkin rompi seseorang dengan penuh wibawa. Prestige adalah individu dan tidak memiliki objektivitas supra-individual.
3.    Para pemimpin dan yang dipimpin saling terkait dalam sociation dengan cara timbal balik, mereka tidak mengecualikan satu sama lain, sebaliknya, mereka menyiratkan satu sama lain.
4.    Interaksi adalah penting bagi gagasan hukum. Tidak akan ada timbal balik antara penguasa dan yang dikuasai ketika penguasa dipilih berdasarkan kontrak bersama antara yang diperintah.Dalam kasus ini tidak ada timbal balik.

Implementasi Teori Georg Simmel dalam Masyarakat
Teori Konflik
Interaksi yang terjadi baik antar individu maupun antar kelompok kadang menimbulkan konflik, dan konflik merupakan pokok bahasan tersendiri yang diuraikan oleh Simmel,menurut Simmel masalah mendasar dari setiap masyarakat adalah konflik antara kekuatan-kekuatan sosial dan individu, karena, pertama, sosial melekat kepada setiap individu dan, kedua, sosial dan unsur-unsur individu dapat berbenturan dalam individu, meskipun pada sisi lain dari konflik merupakan sarana mengintegrasikan individu-individu. Karena setiap individu meiliki kepentingan yang berbeda-beda dan adanya benturan-benturan kepentingan tersebut mencerminkan dari sikap-sikap individu tersebut dalam usahanya memenuhi kebutuhannya, dari sikap yang nampak ini Simmel memiliki sebuah pemikiran yang menghasilkan konsep individualisme ini (dari kepribadian yang berbeda) terwujud dalam prinsip-prinsip ekonomi, masing-masing, persaingan bebas dan pembagian kerja.
Kelompok Kecil
Dalam pembagian-pembagian kerja, individu terbentuk dalam kelompok-kelompok kecil , kelompok ini menurut Simmel memiliki analisa tersendiri dimana terdiri dari satu, dua, dan tiga orang. Satu orang atau singkatnya individu berada dalam posisi sendirian, tidak terjadi interaksi dan ia akan mendapat penolakan dari masyarakat, maka itu Simmel menghadirkan konsep dyad dan triad dimana menurut pandangan Simmel bahwa kebebasan tidak akan terjadi jika seseorang itu sendirian, tetapi jika ia ada dalam kelompok. Simmel memiliki filosofi tentang angka 2 dan 3, angka dua adalah bentuk yang paling sederhana sociation, antara dua orang atas mana hal itu sepenuhnya tergantung, angka  dua adalah sepele dan intim, perkawinan terjadi antara dua orang dan setelah lahir anak diantara mereka konsep dyad ini sepenuhnya berubah menjadi triad dan hadirnya orang ketiga menjadi penghancur.
Kerahasiaan : Studi Kasus Sosiologi Georg Simmel
Simmel berangkat dari fakta dasar bahwa orang pasti mengetahui beberapa hal tentang orsng lain agar bisa berinteraksi dengannnya, namun hal tersebut juga bisa menjadi penghancur atas dirinya. Penghancur ini merupakan hal yang paling dihindari, interaksi seseorang tentu memiliki tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam hidupnya, interaksi yang terjadi kadang menuntut sebuah keterbukaan namun dapat dipastikan seterbuka apapun seseorang ia tidak akan mengungkapkannya secara seluruhnya karena hal itu justru dapat menjatuhkan dirinya sendiri karena orang lain akan tahu apa yang jadi tujuan kita padahal pada faktanya antara individu yang satu dengan yang lain memiliki kemampuan yang berbeda meskipun pada satu tujuan yang sama dan pastinya seseorang tidak ingin apa yang  menjadi targetnya diambil orang lain.
Dari uraian tersebut Simmel membuat konsep masyarakat rahasia (yaitu keberadaan kelompok merupakan rahasia, atau keanggotaan dalam kelompok yang dikenal adalah rahasia) memiliki tujuan perlindungan melalui kepercayaan. Kepercayaan di antara para anggotanya sangat penting, mereka harus menjaga rahasia, tetapi situasi ini tidak stabil. Diam adalah teknik yang diperlukan untuk menjaga rahasia, sementara komunikasi tertulis bertentangan dengan semua rahasia (misalnya huruf). Kerahasiaan bisa menjadi tujuan pembentukan sosial (misalnya perkumpulan rahasia), dan mencegah orang dari sociation mengungkapkan rahasia karena isolasi yang counterbalances hasil dari menyimpan rahasia. Oleh karena itu, masyarakat rahasia memiliki ritual khusus, yang harus dilakukan dan yang harus dijaga sebagai sebuah rahasia, itu klaim individu, membuatnya anggota perkumpulan rahasia. Perkumpulan rahasia juga memiliki derajat kebebasan yang hilang dalam masyarakat pada umumnya, masyarakat rahasia mengkompensasi kurangnya kebebasan dalam masyarakat umum. Dibandingkan dengan sociation pada umumnya, perkumpulan rahasia terpisah, formal dan sadar, mereka memiliki sistem rumit tanda-tanda yang aman dalam kohesi dan mengasingkan diri dari luar; para anggotanya merasa superior, dan dimulai untuk material dan secara resmi mendirikan pengasingan dari masyarakat, mereka egois dalam hal rahasia memusuhi masyarakat dan masyarakat umum, rahasia masyarakat memiliki ikatan sangat kuat, mereka mengecualikan konflik-konflik batin, dan mereka terpusat (buta ketaatan kepada para pemimpin), para anggota de-individual, setara, anonim , dan karena mereka pada dasarnya menolak upaya pemerintah pemersatu dalam masyarakat pada umumnya, mereka muncul sebagai berbahaya.
Interaksi manusia secara umum dibangun oleh kerahasiaan dan logika lawannya, yaitu pengkhiatan. Rahasia selalu dibarengi secara dialektis oleh kemungkinan bahwa dia dapat ditemukan. Pengkhianatan bisa berasal dari dua sumber. Secara eksternal, orang lain dapat menemukan rahasia kita, sementara secara internal, selalu ada kemungkinan bahwa kita akan mengungkapkan rahasia kita kepada orang lain. “Rahasia menjadi penghalang antar manusia, namun pada suatu saat yang sama dia menjadi tantangan yang menggairahkan untuk diterobos, dengan gosip dan pengakuan …. Dari persaingan antar kedua kepentingan, dalam menyembunyikan dan mengungkapkan, tumbuh nuansa dan nasib interaksi manusia yang berlangsung secara menyeluruh”  ( Simmel, 1906/1950 : 334 )
Pertikaian dan Persaingan
1.    Pertikaian
Signifikansi Sosiologis dari pertikaian, secara prinsipil belum pernah disangkal. Pertikaian dapat menjadi penyebab atau pengubah kelompok-kelompok kepentingan, organisasi-organisasi, kesatuan-kesatuan, dsb. Dalam kenyataan, faktor-faktor disosiatif seperti kebencian, kecemburuan, dan selanjutnya, memang merupakan penyebab terjadinya pertikaian. Dengan demikian, pertiakaian ada untuk mengatasi pelbagai dualisme yang berbeda. Pertikaian mengatasi ketegangan antara hal-hal yang bertentangan.
Terdapat dua masalah yang secara konsisten menjadi objek telaah ilmu-ilmu tentang manusia, yakni manusia dan kelompok, sehingga tidak ada masalah ketiga. Ada pertikaian yang tampaknya menyampingkan semua unsur, misalnya, apabila terjadi perkelahian antara perampok dengan korbannya. Apabila perkelahian itu bertujuan untuk membunuh atau menghancurkan pihak lain, maka sama sekali tidak ada unsur-unsur pemersatu. Namun apabila ada pembatasan terhadap berlakunya kekerasan, maka ada faktor kerjasama, walaupun hanya sebagai suatu kualifikasi terhadap kekerasan.
1.    Persaingan
Suatu ciri yang menonjol dari persaingan adalah bahwa dalam proses itu terjadi pertikaian yang tidak langsung. Apabila satu pihak menindas musuhnya atau merugikannya secara langsung, maka tidak terjadi persaingan. Secara umum persaingan hanya menunjuk pada kegiatan yang dilakukan secara paralel, untuk mencapai tujuan yang sama. Pada persaingan terdapat dua kombinasi :
a)      Apabila suatu kemenangan terhadap lawan merupakan kebutuhan pertama secara kronologis, maka hal itu sendiri tak akan ada artinya. Dengan demikian, hasil suatu persaingan tidak berisikan tujuannya, sebagaimana halnya apabila seseorang marah, balas dendam, dan lain sebagainya, yang merupakan unsur yang mendorong terjadinya perkelahian.
b)      Tipe persaingan yang kedua sangat berbeda dengan bentuk atau jenis pertikaian lainnya. Dalam hal ini persaingan hanya berlangsung antara pihak-pihak, tanpa usaha menyingkirkan lawan. Yang menjadi prioritas utama adalah tujuan, dan bukan lawan.
Persaingan secara modern digambarkan sebagai suatu perjuangan dari semua terhadap semua, dan dari semua untuk semua. Tidak jarang sebagai akibatnya timbul tragedi yang berakibat unsur-unsur sosial suatu kesatuan saling bertentangan. Akan tetapi semua akibat tersebut, sebenarnya merupakan tambahan pada kekuatan persaingan untuk mempersatukan. Persaingan, secara sosiologis merupakan suatu jaringan konsentrasi terhadap pikiran, perasaan, dan kemauan sesama manusia.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2008. Teori Sosiologi. Bantul : Kreasi Wacana
http://library-lbhjakarta.org/index.php?P=show_detail&ide=3293
Giddens, Anthoni, dkk. 2009. Sosiologi sejarah dan berbagai pemikirannya. Jogjakarta : Kreasi Wacana Jogjakarta.
Prasetiyo, Andri. 2011. Teori Geog Simmel (http://crewetsbit.blogspot.com/2011/12/teori-george-simmel.html) diakses pada 13 September 2013.