Archive for ◊ June, 2024 ◊

• Wednesday, June 05th, 2024

Apa Kriteria Orang disebut Guru/Kiai?

Oleh Agung Kuswantoro

Wa ammakhtiyarul ustadzi fayambaghi an yakhtarol ‘alama wal auro’a wal asanna. Artinya: Adapun cara memilih guru atau kiai yaitu carilah kiai yang ‘alim bersifat waro dan yang lebih tua. (ta’lim al-muta’allim karangan Syaikh Az-Zurnuji faslu fi ikhtiyaril ‘ilmi wal ustadzi).

Dari keterangan tersebut menjadikan saya berpikir: bahwa tidak semua orang itu “dianggap” atau “dinilai” sebagai “guru” atau “kiai”. Menjadi seorang guru atau kiai itu memiliki beberapa  kriteria yaitu: ‘alim/berilmu, waro/meninggalkan apa yang diragukan dan melakukan yang tidak diragukan, serta cukup usianya. Jika seseorang memiliki ketiga kriteria tersebut, maka kita harus memilihnya sebagai guru/kiai.

Demikian juga, kita harus selektif kepada seseorang yang akan dijadikan sebagai guru/kiai. Artinya: keturunan dari seorang guru/kiai, juga belum tentu menjadi guru/kiai. Mengapa? Karena, ketiga sifat tersebut, bisa jadi tidak melekat pada orang tersebut. Sebaliknya, orang biasa pun, layak menjadi guru/kiai, karena dia telah memiliki ketiga kriteria tersebut. Mari, kita selektif terhadap orang dalam memanggil dan mencari sosok guru/kiai. Semoga kita lebih selektif dan bijak dalam istilah guru/kiai. []

Semarang, 2 Juni 2024/25 Dzulqoidah 1445, Ditulis di Rumah, jam 19.30 – 19.40 Wib dalam kondisi litrik padam.

• Wednesday, June 05th, 2024

Ikhlas

Oleh Agung Kuswantoro

“Gus yang Ikhlas, ya?” kalimat itulah yang sering diucapkan oleh KH Abdullah Sidiq (almarhum). Dulu, beliau adalah pengasuh pondok pesantren Salafiyah Kauman Pemalang.

Kalimat tersebut sering diucapkan saat siang jam 14.00 hingga 14.30 Wib secara langsung kepada saya ketika baru datang ketika tiba di kelas Madrasah Diniyah Wustho – Ulya Salafiyah Kauman Pemalang.

Saat itu, saya mendengarkan kalimat tersebut, biasa saja. Sekarang, ternyata kalimat tersebut sangat bermakna. Ketika membuka kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Az-Zurnuji, fasal finniyati hal at-ta’allam, bahwa niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridho Allah. Wayanbaghi an-anwiya al-muta’allim bitholabil ‘ilmi ridho Allahi ta’ala. Kalimat dalam kitab tersebut yang perlu diperhatikan adalah ridho Allah. Beberapa pendapat memaknai ridho Allah dengan kalimat ikhlas.

Saya jadi teringat kalimat KH. Abdullah Sidiq: Ikhlas ya, Gus”. Mungkin ada korelasi/hubungan antara ucapan yang disampaikan dengan KH. Abdullah Sidiq dengan kitab tersebut. Dimana, niat mencari ilmu bagi pelajar/santri itu, ikhlas/ridho.

Yang namanya cari ilmu itu, pasti: kepanasan, lapar, kesusahan, dan merasa kekurangan lainnya. Sehingga niat mencari ilmu harus kuat. Ikhlas/ridho itulah kuncinya, dalam mencari ilmu. Jika tidak Ikhlas dalam mencari ilmu, maka akan kesusahan.

Demikian juga, bagi orang yang mampu/bertetangga/orang yang mampu agar membantu orang yang sedang menuntut ilmu. Jadi, jika ada orang mencari ilmu, jangan (malahan) dimanfaatkan untuk diambil uangnya. Misal: kos dengan harga diluar batas pasar, mematok dengan harga tinggi untuk makan siang, membagikan sarapan gratis, dan mempermudah langkah santri/siswa/mahasiswa dalam menuntut ilmu. Intinya mempermudah siswa/santri untuk belajar dan tidak mempersulit mereka dalam belajar. Tetap semangatlah para santri/siswa/mahasiswa dalam menuntut ilmu. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Ridho, ridho, dan ridho. []

Semarang, 28 Mei 2024/20 Dzulqoidah 1445. Ditulis di FEB jam 10.40 – 10.47 Wib.

• Saturday, June 01st, 2024

Siapa yang Membuat Fitnah di Masyarakat?
Oleh Agung Kuswantoro

Ada sebuah siir dalam kitab Ta’lim al-Muta‘allim karangan Syaikh Az-Zurnuji fasal finniati hal ta’allam (niat dalam mencari ilmu), berikut siirnya:

Fasadun kabirun ‘alimun mutahattiku, wakbaru minhu jahilun mutanassiku
Huma fitnatun fil “alamina ‘adzimatun, liman bihima fi dinihi yatamassaku.

Artinya:
Orang yang tekun beribadah tapi bodoh bahayanya lebih besar daripada orang alim tapi durhaka. Keduanya adalam penyebab fitnah dikalangan umat. Yaitu bagi orang yang menjadikan mereka sebagai panutan dalam urusan agama.

Saya menangkap dalam nadzom tersebut bahwa ada 2 orang/golongan yang bisa merusak tatanan masyarakat. Adapun bentuk yang menjadikan rusak tatanan masyarakat yaitu fitnah. Fitnah yang berasal dari orang yang tekun beribadah tapi bodoh dan orang pintar tetapi durhaka.

Mendengarkan dan meresapi nadzom tersebut, hati saya terasa “merinding”. Doa saya, semoga saya dan kita terhindar dari perbuatan fitnah. Dan, semoga kita menjadi hamba yang berilmu dalam beribadah.

Dengan adanya nadzom tersebut, menjadikan saya ingin menjadi manusia yang tekun beribadah yang penuh/kuat ilmu. Artinya: ibadah yang dilakukan atas dasar ilmu. Mencari dan mendapat ilmu untuk bekal ibadah. Setelah mendapatkan ilmu, harapannya kita menjadi manusia yang taat kepada Allah dan baik antar sesama manusia. []

Semarang, 28 Mei 2024/20 Dzulqoidah 1445. Ditulis di FEB, jam 10.15 – 10.22 Wib.