Materi Antropologi Kelas XII : Karya Ilmiah dan Metode Penelitian Antropologi

Karya Ilmiah
karya ilmiah adalah suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah. Karya tulis ilmiah sebagai sarana komunikasi ilmu pengetahuan yang berbentuk tulisan demgan menggunakan sistematika yang dapat diterima oleh komunitas keilmuan melalui suatu sistematika penulisan yang disepakati.
Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik yang bersifat teknis, berisikan apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel yang cenderung menyajikan hasil penelitian dan aplikasi dari hasil penelitian tersebut dalam subtansi keilmuannya.
Ciri-Ciri Karya Ilmiah :
• Objektif
• Netral
• Sistematis
• Logis
• Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan)
Bentuk karya tulis ilmiah ada dua macam, yaitu :
1. Panjang, contohnya skripsi, tesis atau laporan penelitian,
2. Dalam versi pendek, contohnya artikel jurnal dan makalah simposium.
Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain:
1. Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
2. Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
3. Alur pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
4. Karya tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gambar, yang tersusun mendukung alur pikir yang teratur.
5. Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
6. Karya tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).
Metode Penelitian
Studi Kualitatif dan Kuantitatif
1. Studi Kuantitatif
Studi kuantitatif adalah studi yang mementingkan hasil, bukan proses. Hasil studi berwujud laporan dengan menggunakan lambang dan bilangan. Hasil studi didasarkan pada data empiris yang diperoleh dari lapangan yang sudah ditata dan direncanakan sedemikian rupa. Data lapangan masih merupakan informasi atau data kasar, yang harus diolah dan dianalisis dengan menggunakan statistik agar dapat menjawab permasalahan studi. Statistik yang digunakan dapat berupa persentase, media, mean, simpangan baku dan korelasi. Pada umumnya data akan ditampakkan dengan menggunakan tabel, grafik, diagram dan prosedurnya.
Ada beberapa ciri studi kuantitatif, yaitu :
• Penelitian kuantitatif pada umumnya bertujuan membuktikan suatu hipotesis yang dimunculkan secara jelas dengan data empirik.
• Penelitian kuantitatif menggunakan penyusunan dan penghitungan data yang berujud angka-angka.
• Penelitian kualitatif menggunakan asisten, angket, atau interviuw yang berstruktur untuk memperoleh dan mengumpulkan data.
• Penelitian kuantitatif menggunakan prosedur bertingkat untuk menilai data, mengolahnya dengan menggunakan statistik serta memberikan hasil statistik sebagai jawaban terhadap permasalahan.
• Penelitian kualitatif menyajikan data dalam bentuk angka-angka, baik frekuensi atau teknik penyajian data yang lain.
2. Studi Kualitatif
Studi kualitatif berusaha mendekati dan memecahkan permasalahan yang tidak dapat dipecahkan oleh studi kuantitatif. Dibalik keberhasilan studi kuantitif memecahkan berbagai permasalahan, masih banyak juga tersisa persoalan yang tidak terpecahkan, oleh karena itu diperlukan studi kualitatif. Dalam hal ini sangat banyak studi Antropologi yang menggunakan studi kualitatif. Contohnya; bagaimana proses adaptasi budaya budaya dari anak yang baru masuk sekolah? Bagaimana akulturasi budaya terjadi pada setiap masyarakat? Sejauh mana pengaruh agama dan sistem religi terhadap kebudayaan manusia?
Beberapa hal penting mengenai studi kualitatif antara lain:
1. Studi kualitatif mempunyai latar belakang alami. Studi akan menghabiskan banyak waktu di daerah studi untuk mengamati dan memahami permasalahan secara mendalam. Orang yang melakukan studi terjun langsung dan tinggal di lapangan agar bisa memahami konteks yang ada. Perilaku akan lebih mudah dipahami apabila dilakukan observasi langsung di daerah kejadian.
2. Studi kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih banyak berupa kata atau gambar daripada data dalam ujud angkaangka. Laporan yang ditulis sering mengutip data dalam rangka menunjukkan sesuatu yang dihadapi. Studi kualitatif memiliki asumsi bahwa dalam studi tidak ada teka teki yang lepas sama sekali dari konteksnya. Sesuatu hal pasti ada kaitannya dengan hal lainnya kalau dipelajari secara menyeluruh. Misalnya; Mengapa dimalam yang dingin ada orang yang tidur di luar rumah?
3. Studi kualitatif lebih menekankan proses daripada produk. Biasanya studi kualitatif menjawab pertanyaan “bagaimana” atau “mengapa”. Misalnya; Bagaimana sikap anggota masyarakat terhadap masyarakatnya? Jawaban terhadap pertanyaan itu akan mempengaruhi perilakunya terhadap masyarakatnya. Pertanyaan jenis ini menghendaki jawaban yang mengambarkan proses, bukan hasil.
4. Studi kualitatif cenderung menganalisis data secara induktif.

Daftar Pustaka
Supriyanto. 2009. Antropologi Kontekstual : Untuk SMA dan MA Program Bahasa Kelas XII. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
https://www.scribd.com/doc/262573945/KARYA-ILMIAH-NON-ILMIAH-DAN-SEMI-ILMIAH-SERTA-METODE-ILMIAH-pdf#scribd (diakses tanggal 8 Desember 2015)
https://teguhsasmitosdp1.files.wordpress.com/2010/06/32-kode-05-b6-menulis-karya-ilmiah.pdf (diakses tanggal 8 desember 2015)

blog.unnes.ac.id/anisaauliaazmi

Tulisan ini dipublikasikan di Pembelajaran Antropologi SMA, Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: