Saat ini banyak anak lebih tertarik dengan permainan modern, seperti PlayStation atau game online yang terkadang justru mengajarkan beberapa hal-hal negatif, antara lain kekerasan. Di tengah maraknya beberapa permainan modern tersebut, keberadaan permainan tradisional tidak lagi populer sehingga anak-anak jarang yang mengenalnya apalagi memainkannya. Namun, masyarakat di Dususn Pandes, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta justru gencar mengambangkan permainan tradisional anak. Mereka menyebut kampung mereka Kampung Dolanan (mainan) Anak.

Pelestarian permainan tradisional merupakan cara yang ditempuh oleh masyarakat di dusun tersebut untuk melestarikan budaya. Salah seorang penggagas ide ini adalah Wahyudi Anggoro Budi. Dia merasa prihatin dengan kondisi permainan tradisional. Berangkat dari keprihatinan tersebut, bersama dengan rekan-rekannya dia mendirikan suatu komunitas, yaitu Pojok Budaya. Komunitas ini memiliki fungsi untuk melstarikan nilai-nilai dalam budaya tradisional yang terdapat pada  mainan tradisional.

Ada tiga hal utama yang hendak dilakukan lewat pembentukan komunitas tersebut. Pertama, pelestarian tradisi dengan cara memberi kesempatan bagi semua pihak yang ingin mengerti dan memahami cara bermain dan membuat permainan tradisional. Kedua, pewarisan nilai-nilai lokal yang cocok dengan karakter bangsa yang terkandung dalam permainan tradisional. Ketiga, pendidikan.

Di kampung dolanan ini, bukan hanya cara membuat dan memainkan dolanan, yang coba disosialisasikan. Lagu-lagu daerah dan tradisi aktifitas warga pedesaan juga diajarkan. Contohnya, kegiatan menumbuk padi dengan lagu “Ancak-ancak Alis” atau permainan baris berbaris.

Menurut Wahyudi, permainan tradisional mengandung beberapa fungsi, yaitu wicoro (berbicaraa), wirogo (olah raga), wiroso (merasakan), wiromo (mengikuti iramaa). Wicoro adalah fungsi permainan untuk menyampaikan sesuatu. Wirogo adalah fungsi permainan untuk meningkatkan rasa sosial pada anak melalui gerak. Wiroso adalah fungsi permainan tradisional untuk meningkatkan spiritualitas anak melalui empati. Wiromo adalah fungsi permainan yang mengajarkan anak untuk meningkatkan keselarasan dan harmoni. Selain itu, dalam permainan tradisional juga terdapat beberapa nilai lain, seperti kemandirian, peduli lingkungan, dan kerjasama.

Wahyudi mengatakan bahwa arus globalisasi tidak dapat dibendung. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan cara menanamkan nilai-nilai lewat permainan tradisional.

Sumber:

Maryati, Kun & Suryawati, Juju. 2013. Sosiologi dan Antropologi untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Esis imprint dari Penerbit Erlangga