Pencari kerja sejatinya adalah pencari tempat persembunyian uang. Namun mereka justru harus mengeluarkan uang. Contohnya pada saat pendaftaran dan pengumpulan surat lamaran pekerjaan, mereka harus mengeluarkan biaya terlebih dahulu. Baik untuk ongkos transport maupun biaya pendaftaran itu sendiri. Di sana, mereka juga harus berdesakan, kepanasan, tentunya mereka lelah, butuh makan dan minum. Setelah mengantar surat lamaran, bukan berarti urusannya sudah selesai dan langsung bekerja. Mereka harus menunggu cukup lama untuk mengetahui pengumuman apakah diterima atau ditolak.
Nah, ketika pengumuman, ternyata banyak dari mereka yang ditolak. Siapa yang tidak kecewa, sudah buang duit tapi tidak diterima.
Kebanyakan yang diterima karena bantuan dari orang dalam. Hal ini menunjukan bahwa org yg tdk diterima kerja bukan melulu karena kurang memiliki ketrampilan. Akan tetapi lebih karena adanya permainan “orang dalam” menyerupai kolusi & nepotisme. Kata penyair, Dua sejoli (korupsi & nepotisme) itu sepertinya sudah menyerupai jamur di musim semi, dimanaana tumbuh banyak sekali. Tidak hanya di lini pemerintahan, di masyarakat biasa pun ada. Mengapa? Karena sepertinya keduanya merupakan hal yang mustahil ditepiskan dari kepala-kepala penghuni negeri ini. Namun tidak bisa bisa dipungkiri. masih banyak faktor yang menyulitkan seseorang memperoleh pekerjaan. Bukan hanya disebabkan karena kolusi dan nepotisme saja. Tapi juga faktor  urbanisasi, pertumbuhan penduduk, persebaran penduduk, perkembangan teknologi, dan pendidikan. 

Melihat fenomena tersebut di atas. Pasti penguasa bisa melihat. Rakyatnya masih banyak yang kesulitan karena belum memiliki pekerjaan. Lantas, apakah para penguasa berencana menambah kesulitan lagi dengan merampas rumah-rumah rakyat?

Sudah ada ribuan rakyat yang mati. Jadi Jangan mematikan rakyat yang masih hidup. Jangan buat negeri ini dipenuhi orang mati ya?
#save_para_pencari_kerja
#save_slamet