“PERILAKU SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA NGADAS”

bromo-202

Abstrak

Laporan ini membahas hal-hal yang terkait dengan perilaku sosial ekonomi pada masyarakat desa Ngadas yang sangat beragam dan kompleks. Perilaku sosial berawal dari adanya proses sosial atau interaksi sosial yang merupakan cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila para individu dan kelompok-kelompok saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada. Atau dengan perkataan lain, proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Mata pencaharian utama masyarakat desa Ngadas adalah pertanian dan lainnya adalah sektor pariwisata sebagai pendukung mata pencaharian utama. Pola perilaku sosial dan ekonomi pada masyarakat desa Ngadas sangat menjunjung tinggi kekeluargaan dan menanamkan nilai-nilai kebersamaan.

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari interaksi,komunikasi dan hubungan sosial. Dengan adanya keterkaitan hubungan antara satu dengan lainya menghasilkan adanya pola perilaku dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perilaku sosial dan ekonomi. Erat kaitannya dengan 7 unsur kebudayaan menurut C. Kluckhohn dengan salah satu diantaranya adalah sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi. Sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi memiliki fungsi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan produksi,distribusi maupun konsumsi. Dalam kehidupan masyarakat pola perilaku sosial dan ekonomi tidak dapat dipisahkan bahkan saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Perilaku sosial misalnya adalah pola hubungan dan interaksi sosial yang terjadi di masyarakat, sedangkan pola ekonomi adalah kondisi dan pola masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam penelitian ini ada beberapa hal yang akan dibahas mengenai perilaku sosial ekonomi masyarakat desa Ngadas.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan urutan :1) menyusun instrumen pertanyaan, 2) peneliti terjun angsung dalam masyarakat, 3) wawancara langsung dengan masyarakat dan pengumpulan dokumentasi, 4) mempelajari suatu proses atau penemuan yang terjadi secara alami, 5) mencatat, 6) menganalisis, 7) menafsirkan dan melaporkan, 8) menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi : pengumpulan data, diperoleh dari hasil wawancara dan observasi dari narasumber di desa Ngadas. Penyajian data dalam laporan penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif. Penyajian data disajikan dalam bab pembahasan. Penarikan kesimpulan dari penelitian ini dilakukan dengan melihat hasil pada bab pembahasan, dan kumpulan data hasil wawancara dan observasi.

PEMBAHASAN

Desa Ngadas yang berada pada ketinggian 1970 mdpl. Menurut beberapa sumber yang didapat, desa ini merupakan tertinggi di jawa timur, atau bahkan di pulau Jawa. Dengan karakter dinginnya hawa pegunungan dan hangatnya keramahan masyarakat suku Tengger. desa Ngadas terletak dilereng gunung bromo dan masyarakat yang mendiami desa ini merupakan keturunan asli suku Tengger. Masyarakat Tengger ini mempunyai ciri khas adat istiadat dan agama yang berbeda dari masyarakat sekitarnya. Ada tiga macam agama yang berkembang di desa ini yaitu Hindu, Budha, dan Islam dengan adat Tengger yang masih melekat kuat ketiga komponen tersebut dapat hidup rukun berdampingan. Masyarakat Tengger yang sangat kuat memegang keyakinan adat istiadat sehingga mampu bertahan dari pengaruh luar. Interakasi sosial dalam masyarakat desa Ngadas juga sangat baik. ditunjukkan dengan adanya kegiatan gotong royong kekeluargaan dan saling membahu satu sama lain. Selain kekayaan budaya yang terdapat didesa ini, hasil bumi pun sangat melimpah seperti kentang, kubis, dll dan juga potensi alam sekitar desa Ngadas ini sangat menarik. Jumlah penduduk desa Ngadas adalah 682 jiwa dengan jumlah laki-laki 335 jiwa dan perempuan 347 jiwa. Komoditas utama masyarakat desa Ngadas adalah sebagai petani. Kemudian disusul penghasilan dari sektor lain yaitu sektor pariwisata yang meliputi paguyuban-paguyuban kelompok jeep ( hartop), paguyuban sewa kuda, paguyuban souvenir,Yang lainya adalah kelompok tani,pemilik dan penyewa home stay serta warung kelontong. Hasil pertanian masyarakat desa Ngadas diantaranya adalah kentang,kubis,bawang merah,jagung dan sayuran lain. Sementara untuk desa sebelahnya yaitu desa Wonokerto terdapat komoditi jamur kancing dan sayuran. Sistem distribusi ekonomi pada masyarakat adalah penjualan langsung hasil komoditas yang dihasilkan, sistem tebas/ ijon oleh para tengkulak (juragan) untuk di jual keluar kota atau disalurkan ke pasar, dan sistem barter atau saling menukar untuk memenuhi dan melengkapi kebutuhan.  Masyarakat desa Ngadas juga berusaha mengolah lahan milik pribadi bagi yang memiliki lahan atau milik orang lain bagi yang tidak memiliki ( sistem paron ) ketika mereka menunggu masa panen. Masyarakat tidak hanya sebagai konsumen sayuran tetapi juga produsen sayuran. Masa panen untuk desa Ngadas sebelah Barat terjadi dua kali sayuran panen dalam setiap penanaman sedangkan bagian Timur dua kali panen jagung dan satu kali panen sayuran. Salah satu contoh sistem barter yang terjadi adalah penukaran 1kg bawang merah dengan beberapa tahu, yang dilakukan antara orang perorangan, warga dengan warga atau masyarakat dengan Masyarakat serta dengan masyarakat luar daerah,barter jagung dengan beras atau daging dengan sayur dalam jumlah besar. Pembagian kerja dalam keluarga, laki-laki ketika malam hingga dini hari bergabung ke dalam paguyuban jeep club atau paguyuban sewa kuda sedangkan pagi hari perempuan ke ladang, jika memiliki anak dan tidak sekolah anak juga membantu di ladang. Ketika hari siang laki-laki pulang membantu perempuan diladang hingga sore. Penghasilan rata-rata kurang lebih Rp. 2.000.000,00/bulan. Jika pendapatan masyarakat meningkat berarti kondisi ekonomi masyarakat semakin maju dan sejahtera. Kondisi lain yang terjadi adalah ketika harga pasar sayuran di tentukan atau di kuasai oleh para juragan maka harga sayuran dari masyarakat mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan harga 1kg kubis hanya Rp. 1.000,00. Dengan adanya pariwisata gunung Bromo perekonomian masyarakat mengalami peningkatan dan lebih maju, di sisi harus tetap waspada karena gunung Bromo merupakan salah satu gunung yang masih aktif. Mengingat pasca erupsi tahun 2010 perekonomian masyarakat mengalami kendala karena banyak warga gagal panen. Organisasi koperasi dapat ditemukan pada paguyuban jeep club yang menyediakan beberapa kebutuhan bagi anggotanya, terutama untuk onderdil jeep(hartop). Dengan adanya pariwisata meningkatkan penghasilan masyarakat, pendidikan terbagi menjadi beberapa jenjang, dan uniknya ada yang sudah sekolah sampai jenjang menengah dan tinggi tetapi tetap kembali sebagai petani dan wisata. Ada juga beberapa anak muda yang menjadi tour guide, dan bekerja di hotel, sebagian dari yang lulusan SMK Pariwisata. Tetapi pendidikan juga berpengaruh terhadap ekonomi, terutama bagi yang dapat bekerja pada sektor lain seperti menjadi pegawai atau guru yang dapat meningtkan kualitas ekonomi. Pertanian juga tergantung pada modal awal, jika modal awal besar maka dapat meningkatkan penghasilan, tetapi jika modal awal standar atau tidak terlalu banyak kemungkinan keuntungannya sedikit,terkadang mengalami kemrosotan penghasilan. Kondisi masyarakat cukup sejahtera, tetapi masih terdapat sedikit kesenjangan. Modal awal didapat dari usaha awal masing-masing, ada yang awalnya belum memiliki Hartop/jeep kemudian belajar mengemudi jeep lalu bergabung dengan paguyuban jeep, ada yang membantu petani yang memiliki ladang, ada yang bergabung dengan paguyuban souvenir dan ada yang bergabung dengan kelompok tani. Upah dari hasil bekerja di kumpulkan untuk menjadi modal awal. Pada masyrakat desa Ngadas juga terdapat pelapisan sosial, yaitu golongan atas bagi pemilik lahan pertanian luas,memiliki jeep lebih dari satu, memiliki home stay,pendidikan memadai. Kemudian ada golongan dengan kondisi standar secara sosial ekonomi, tetapi ada pula yang berada pada kelas bawah sebagai buruh atau petani biasa. Alat pertanian masih menggunakan cangkul memngingat dengan kondisi lahan, tetapi sudah menggunakan pupuk untuk tanaman. Disamping itu masyarakat ternyata memanfaatkan lahan pertanian sebagai tempat edukasi bagi pengunjung, diantaranya diajarkan proses penanaman, jenis pupuk,lahan dll. Potensi utama adalah pertanian. Faktor penghambat perekonomian diantaranya cuaca,modal,harga pasar. Kondisi ekonomi awal adalah sebagai petani, kemudian dengan adanya pariwisata ada beberapa yang juga memanfaatkan adanya pariwisata, tetapi yang utama adalah pertanian. Pengaruh teknologi terdapat pada transportasi dan penggunaan alat-alat pertanian pada masyarakat desa Ngadas. Jeep atau hartop ada yang dimiliki oleh pengelola wisata Bromo, tetapi ada pula milik warga pribadi, tetapi mereka tergabung/ terwadahi dalam sebuah paguyuban. Kelompok tani ada,koperasi ada,paguyuban ada kelompok remaja dulu ada tetapi sekarang tidak ada. Kaitan anatara konsumsi dan penghasilan sudah cukup sepadan, penghasilan cukup digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainya.  Masyarakat juga masih saling pinjam meminjam uang. Aktivitas dan perilaku ekonomi masih bersifat kekeluargaan. Kondisi kesenjangan itu ada tetapi tidak terlalu signifikan. Untuk sistem bagi hasil dalam satu keluarga tetap ada misalkan antara ayah ibu dan anak, dalam masyarakat juga tetap ada antara pemilik lahan dengan penggarap. Pembagian kerja pada aktivitas ekonomi masyarakat kelompok tani.Kelompok tani tidak semua memiliki lahan pertanian. Sehingga banyak yang menjadi buruh kesana kemari jika tidak menggarap ladang sistem borongan atau bareng-bareng, mencari kayu bakar di ladang dan dikmpulkan untuk kebutuhan. Setiap hari mencangkul dari pukul 07.00-15.00 WIB di ladang dengan upah Rp. 25.000,00-Rp.30.000,00. Dalam satu bulan jika di kalkulasikan tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Kelompok tani dibentuk karena latar belakang yang sama sebagai petani kecil dan untuk mempererat kekeluargaan karena sistem kerjanya gotong royong dan bagi hasil yang rata. Pola perilaku dan cara bersikap tidak jauh berbeda satu dengan lainya.

SIMPULAN

Perilaku sosial ekonomi masyarakat desa Ngadas sangat berkaitan satu sama lain. Dengan mata pencaharian utama adalah pertanian dan interaksi sosial yang bersifat kekeluargaan. Pada sisi lain, pendidikan memiliki pengaruh baik secara sosial atau ekonomi masyarakat desa Ngadas. Sebagai contoh nyata adalah terjadinya kelas sosial dan rendahnya minat pendidikan. Mayoritas masyarakat berada pada sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat. Tetapi pada saat sekarang dengan adanya sektor pariwisata Bromo, membawa pengaruh meningkatnya perekonomian masyarakat serta semakin banyaknya kelompok-kelompok sosial pada masyarakat desa Ngadas dengan berbagai paguyuban.

DAFTAR  PUSTAKA

Soekanto,Soerjono.2012.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:RAJAWALI PERS

http://integral8.blogspot.com/2012/05/7-unsur-kebudayaan-universal.html

Usman,Husaini dan Purnomo Setiady Akbar.2004.Metodologi Penelitian Sosial.Jakarta:Bumi Aksara

6 thoughts on ““PERILAKU SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA NGADAS””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: