Archive for ◊ October, 2022 ◊

• Friday, October 28th, 2022

 

Madrasah di Rumah (11): Materi Qunut dan Mahfudhot

 

Madrasah di Rumah 11: Materi Qunut dan Mahfudhot
Oleh Agung Kuswantoro

Madrasah di rumah beberapa pertemuan ini, belajar tentang fiqih dengan materi doa qunut dan mahfudhot. Adapun kitab fiqih yang saya gunakan adalah fasolatan. Sedangkan pelajaran mahfudhot materi yang disampaikan bertema “Man”, salah satunya adalah Man jadda wajada, Man zaro’a khasada, Man shomata salima, dan Man-man lainnya. Adapun kitab yang digunakan adalah “al munta khoblatu fil maghfudhot juz awwal.

Mohon doa dan semangatnya untuk kami agar tetap istikamah dalam belajar di rumah. Demikian juga, Anda! Amin.

Semarang, 27 Oktober 2022
Ditulis di Rumah jam 04.36 – 04.40 Wib.

• Thursday, October 27th, 2022

 

Penulis Buku
Oleh Agung Kuswantoro

Membaca dan mempraktikkan beberapa buku mengenai aplikasi statistik, menjadikan saya harus bijak dalam menentukan sumber referensi. Dari beberapa referensi yang saya dapat, ada penulis yang berlatar belakang “bukan pendidikan”, sehingga kurang tajam dalam menganalisa. Ada juga penulis yang berlatar belakang sesuai bidang yang dikaji, sehingga mampu memperdalam analisa sesuai aplikasinya.

Jika yang menulis itu “bukan ahlinya”, menerangkannya lebih pada bagian-bagian dari sistemnya. Tidak mengurai makna/interpretasinya. Berbeda dengan penulis yang “dibidangnya”, dalam menjelaskan lebih ke “model-model” yang ditawarkan dalam sistem tersebut. Jadi, tidak menekankan pada menu-menu aplikasi tersebut. Bahkan penulis yang sesuai bidangnya, mampu memberikan contoh-contoh sesuai “modelnya”.

Sebagai pembelajaran bagi saya yang sedang belajar, bahwa harus selektif dalam membaca buku, terlebih sedang menyelesaikan tugas akademik/menulis karya ilmiah agar tulisan berbobot dan berisi. []

Semarang, 27 Oktober 2022
Ditulis di Rumah jam 04.30 – 04.35 Wib.

• Tuesday, October 25th, 2022

Kajian Arbain Nawawi (42): Makna Perlafal: Diam

Oleh Agung Kuswantoro

 

“Atau (hendaklah) diam”. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Ahli bahasa mengatakan disebutkan shamata yashmutu dengan huruf mim yang di-dhammah-kan – shamtan, shumuutan, shumaatan artinya diam”. Maksudnya adalah ketika tidak mampu berkata yang baik – bahkan perkataan yang tidak buruk, tetapi tidak memiliki manfaat – hendaklah dihindari sebagai upaya memperbagus kualitas keislaman seseorang.

 

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Hasan (2020) mengatakan: “pada hadits ini, terdapat penjelasan agar dia menahan diri dari uapan yang tidak ada kebaikan dan tidak juga buruk karena hal itu termasuk hal yang tidak bermanfaat – serta di antara baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan yang tidak bermanfaat – dan karena hal itu telah “menggiring” perkataan yang mubah menjadi haram. Hal ini biasa dan banyak terjadi.

 

Faqihuzzaman Syekh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah dalam syarah Arbain Nawawi mengatakan: “Maksud dari bentuk kalimat ini adalah anjuran  dan motivasi agar berkata yang baik atau diam”, ini seakan-akan beliau bersabda: “Jika engkau beriman kepada Allah dan hari Akhir, uapkanlah kebaikan atau diam. Jika kita perhatikan, substansi dari kalimat ini adalah bimbingan Rasulullah saw kepada umatnya untuk menjaga lisan.

 

Bersambung.

 

Sumber rujukan:

Kitab Azwadul Musthofawiyah karangan KH Bisri Mustofa, Rembang.

Kitab Majalis Saniah, Karangan Syeikh Ahmad Bin Syeikh Al-Fasyaini.

Hasan, F.N. 2020. Syarah Hadist Arba’in An-Nawawi. Depok: Gema Insani.

 

Semarang, 26 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04.00-04.10 Wib.

• Saturday, October 22nd, 2022

Takwa

Oleh Agung Kuswantoro

 

Jika kami bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemadharatan kepadamu (Qs. Ali-Imron: 12)

 

Ada sebuah pertanyaan: mengapa wasiat/pesan khotib kepada jamaah itu (selalu) takwa? Mengapa: tidak wasiat/pesan solat, puasa, zakat, haji, atau melaksanakan akhlak baik/mulia?

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pahami: apa itu takwa (ontologi), bagaimana/metode takwa (epistemologi), dan apa manfaat (aksiologi) takwa.

 

Secara umum takwa dimaknai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah (Imtisalu amaminhi wajtinafu yawahihi). Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) takwa diartikan (1) terpeliharanya sifat diri untuk tetap melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya; (2) keinsafan yang diikuti oleh kepatuhan dengan perbuatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, dan (3) kesalehan hidup.

 

Shihab (2008) pengertian takwa dalam arti KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tidak jauh beda dengan makna dari segi agama Islam. Takwa berasal dari kata waqo yaqi (dalam ilmu sorof termasuk bina’ lafif) artinya: menjaga atau melindungi dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan. Ada juga yang mengatakan takwa berasal dari kata waqwa, kemudian huruf wawu pada awal diganti dengan huruf ta, sehingga menjadi takwa yang artinya penghalang.

 

Umar bin Khottob menjelaskan makna takwa kepada Ubay bin Ka’ab makna takwa dengan ilustrasi seperti berikut: “Pernahkah engkau berjalan di jalan penuh duri?”, kata Umar. Ubay menjawab: “Ya”. “Apa yang kamu lakukan?”, tanya Umar. “Aku sangat berhati-hati”, jawab Ubay. “Lalu Umar mengatakan: “Itulah, makna takwa.”

 

Cerita tersebut di atas menunjukkan takwa memiliki arti kehati-hatian. Kehati-hatian inilah dalam menjalankannya membutuhkan petunjuk/SOP/hukum. Adapun, SOP/hukum/petunjuknya berdasarkan al-Qur’an dan hadist.

 

Adapun ciri-ciri orang bertakwa adalah (1) percaya kepada yang ghaib, (2) melaksanakan solat dengan baik dan berkesinambungan,  (3) menafkahkan sebagian rizki yang telah diperoleh, (4) percaya pada al-Qur’an dan kitab sebelum al-Qur’an, (5) percaya akan kehadiran hari akhir (Qs. al-Baqarah: 2-4).

 

Ciri inilah, ada yang memaknai dengan cara menggapai ketakwaan. Ada juga yang mengatakan agar bisa bertakwa melalui puasa, sehingga puasa itu ditujukan kepada orang beriman (QS. al-Baqarah:183). Hal ini pula dikuatkan pada surat Ali Imron ayat 102, dimana sebutkan: Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya (haqqo tuqotih).

 

Dari beberapa ayat tersebut ada semacam syarat bahwa untuk menuju takwa, salah satu jalannya adalah beriman. Iman menjadi kunci utama agar orang bisa melakukan perjalanan takwa. Jika beriman, orang akan bisa melakukan puasa wajib, solat khusyuk, sedekah, dan mudah melakukan amal kebajikan. Memang tidaklah mudah, namun perlu dipraktikkan. Karena perintah takwa berlaku dalam berbagai dimensi (semua keadaan) Khaisu la yahtasib, baik dalam dimensi: waktu, tempat, maupun keadaan manusianya.

 

Takwa seorang dosen – sekaligus pejabat – dengan menolak tawaran uang agar seseorang dari orang tertentu agar bisa masuk dalam prodi yang bergengsi. Takwa seorang mahasiswa dengan jujur dalam mengerjakan mid semester. Takwa seorang yang bekerja/tendik/fungsional dengan berdoa saat memulai pekerjaan dan ikhlas dalam bekerja. Takwa seorang suami/bapak dengan mengingatkan dan mengajak anak dan istri untuk melakukan solat lima waktu. Takwa seorang anak kepada orang tua dengan cara berbakti. Takwa istri kepada suami dengan taat, dan contoh lainnya.

 

Dalam kitab syarah Arbain Nawawi dan Majalisus saniyyah; bahwa hasil/manfaat takwa ada bebebrapa manfaat/hasil takwa. Manfaat takwa yang pertama adalah pembeda (al-furqon). Orang yang bertakwa mampu membedakan antara hak dan batil, antara haram dan halal, ya ayyuhal ladzi na amanu in tattaqullaha yaj’al lakum furqonan (Qs. al-Anfal:2).

 

Kedua, dihapuskan keburukan dan diampuni dosa (takfirus sayyiat wal ghufron). (Qs. al-Anfal:29). Ketiga, diberikan pahala yang besar (ajrun ‘adzim).

 

Keempat, keberkahan dalam hidup (al-barokat) dalam Qs. al-A’rof:96). Kelima, jalan keluar (al-makhroj) dalam Qs. at-Tholaq:2. Keenam, diberikan rizki, wa yar yuqu min khaisu la yahtasib  (Qs at-Tholaq:3). Dan, ketujuh, kemudahan (al-yusro).

 

Astubul buruj berkaitan dengan hadist ini: ittaqillah haisuma kunta, dimana Abu Dzar telah masuk Islam di kota Mekkah. Nabi Muhammad saw berkata kepada Abu Dzar: “Temuilah kaummu, mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada mereka dengan perantaraanmu/ keberadaan Abi Dzar”.

 

Ketika Nabi Muhammad saw melihat keinginannya, bahwa ingin bersamanya dan Nabi Muhammad tidak mampu melakukan itu, maka Nabi Muhammad bersabda, Ittaqillaha haisuma kunta (takutlah kepada Allah dimanapun engkau berada).

 

Hadist ini mengajarkan kepada kita bahwa nasihat berisi takwa itu bersifat global/menyeluruh. Artinya nasihat ini diberikan kepada umat muslim, tidak hanya Abu Dzar saja, tetapi kepada semua orang Islam. Oleh karenanya, biasakan kita bernasihat takwa kepada sesama. Pastinya, orang yang mengajak bertakwa, dirinya telah memenuhi standar keimanan menuju ketakwaan.

 

Sebagai penutup ada beberapa simpulan bahwa:

 

  1. Takwa itu bermakna melakukanlah segala yang diperintahkan Allah semampunya; tinggalkan segala yang dilarang Allah tanpa banyak alasan. Memang berat, tapi perlu dilatih dengan ketekunan dan mengerahkan tenaga (bisa jadi material).

 

  1. Agar mudah menuju jalan ketakwaan, maka keimanan sebagai metode dasar yang harus dicapai. Adapun dengan caranya: (a) percaya kepada yang ghaib, (b) melaksanakan solat dengan baik dan berkesinambungan, (c) menafkahkan sebagian rizki yang telah diperoleh, (d) percaya pada al-Qur’an dan kitab sebelum al-Qur’an, (e) percaya akan kehadiran hari akhir.

 

  1. Hasil/manfaat takwa adalah (a) pembeda; (b) dihapuskan keburukan dan diampuni dosa; (c) diberikan pahala yang besar; (d) keberkahan dalam hidup; (e) jalan keluar; (f) rejeki, (g) dan kemudahan.

 

Semoga kita menjadi hamba yang bertakwa. Amin. []

 

Semarang, 13 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 13.00 – 13.15 Wib dan 18. 15 – 18.30 Wib.

 

Daftar Pustaka

 

Al-Quranul karim.

 

Kitab Majalisus Saniyyah, asy-Syeh Ahmad bin Syeikh al-Fasyani

 

Kurianto, F. 2016. Jalan Takwa Meraih Bahagia. Jakarta: Elexmedia Komputindo

 

Hasan, N. F. 2020. Syarah hadist Arbain an-Nawawi. Jakarta: Gema Insani

 

Shihab, Q. 2018. M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman. Tangerang: Lentera hati

 

Bisri, M. A. 2019. Saleh Ritual, Saleh Sosial. Yogyakarta: Divapress.

• Thursday, October 20th, 2022

Kajian Arbain Nawawi (42): Makna Perlafal Hadist Ke-15

Oleh Agung Kuswantoro

 

Maka hendaklah berkata baik”, merupakan perintah (amr) yang menunjukkan kewajiban karena huruf lam berfungsi didalamnya (yaitu pada kata falyaqul) Adapun fungsinya sebagai perintah dan himbauan (lam lil amr). Oleh karena itu, wajib bagi seorang Mukmin untuk berkata yang baik.

 

Jika tidak mampu berkata baik, wajib pula baginya diam. Hal ini sesuai kaidah al-ashlu fil amri lil wujud (hukum dasar dari perintah menunjukkan kewajiban). Syekh Isma’il al-Anshari dalam Hasan (2020) menjelaskan” “huruf lam di sini adalah lam berfungsi untuk perintah, boleh disukunkan dan dikasrahkan, karena posisinya setelah huruf fa.

 

Khairan (perkataan yang baik) banyak contohnya, seperti berkata jujur dan benar, berdzikir kepada Allah Swt, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan menyampaikan ilmu yang  bermanfaat.

 

Sumber rujukan:

Kitab Azwadul Musthofawiyah karangan KH Bisri Mustofa, Rembang.

Kitab Majalis Saniah, Karangan Syeikh Ahmad Bin Syeikh Al-Fasyaini.

Hasan, F.N. 2020. Syarah Hadist Arba’in An-Nawawi. Depok: Gema Insani.

 

Semarang, 21 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04.00-04.10 Wib.

• Sunday, October 16th, 2022

Kajian Arbain Nawawi (41): Makna Perlafal Hadist Ke-15

Oleh Agung Kuswantoro

 

Barangsiapa yang beriman kepada Allah”, maksudnya adalah siapa saja yang beriman dengan keimanan yang benar dan sempurna kepada Allah. Syekh Isma’il bin Muhammad al-Anshari rahimahullah dalam Hasan (2020) berkata: “Yu’minu (mengimani) adalah iman yang sempurna, yang dapat menyelamatkan dari azab Allah, dan dapat menyampaikannya pada ridha-Nya. Billaahi (kepada Allah) adalah Dialah yang menciptakannya.”

 

“Dan hari akhir”, maksudnya adalah beriman pada hari kiamat dan semua kejadian setelahnya, seperti yaumul ba’ts (hari Dibangkitkan), yaumul mahsyar (hari Dikumpulkan di Padang Mahsyar), yaaumul mizan (hari Ditimbang amal), yaumul hisab  (hari Perhitungan Amal), dan yaumul jazza  (hari Pembalasan). Syekh Isma’il al-Anshari dalam Hasan (2020) berkata: “Hari Akhir  (maksudnya) adalah pada saat itulah amalnya akan diberikan balasan. Sementara itu, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah meringkas sebagai berikut, “(Yaitu) barangsiapa beriman kepada Allah yang telah menciptakannya dan beriman bahwa dia akan  dibalas karena amalnya maka kerjakanlah perbuatan-perbuatan yang disebutkan.”

 

Bersambung.

 

Sumber rujukan:

Kitab Azwadul Musthofawiyah karangan KH Bisri Mustofa, Rembang.

Kitab Majalis Saniah, Karangan Syeikh Ahmad Bin Syeikh Al-Fasyaini.

Hasan, F.N. 2020. Syarah Hadist Arba’in An-Nawawi. Depok: Gema Insani.

 

Semarang, 17 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 18.15-18.23 Wib.

• Sunday, October 16th, 2022

Madrasah di Rumah (10): Ujian Mid Semester

Oleh Agung Kuswantoro

 

Seperti Madrasah (baca: sekolah anak) pada umumnya pada bulan Maulid – biasanya – dilaksanakan ujian mid semester. Secara kalender akademik dilakukan evaluasi pembelajaran dengan semester melalui ulangan.

 

Saya – selaku guru/ustad membuat kisi-kisi dari kompetensi yang pernah saya sampaikan kepada anak saya (selaku santri). Adapun kisi-kisinya meliputi kompetensi:  akhlak, fiqih, al-Qur’an, tafsir, bahasa Arab, tauhid, mahfudhot, imla, tarikh, hadis, dan khod. Adapun soal dalam bentuk option/pilihan soal option ada dua puluh pertanyaan dan satu soal esai. Dari soal-soal tersebut, Mubin santri saya, tidak bisa menjawab 1 pertanyaan soal option dan untuk soal esai dapat menjawab dengan sangat baik.

 

Itulah cara saya dan keluarga dalam menguatkan ilmu (agama), meskipun Madrasah di rumah. Namun tetap ada ujian mid semester. Semoga kita tetap semangat untuk mendidik putra-putri kita di rumah. Amin.

 

Semarang, 9 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 03.40 – 03.46 Wib.

 

 

 

 

 

 

 

 

• Saturday, October 15th, 2022

Berkolaborasi dengan Dosen UM

Oleh Agung Kuswantoro

Dalam mewujudkan Kampus Merdeka salah satunya adalah mengajar berkolaborasi dengan antar dosen dari perguruan tinggi yang lainnya. Adalah mata kuliah media pembelajaran administrasi perkantoran—yang saya ampu—saya berkolaborasi dengan Bapak Muhammad Arif.

 

Dalam referensi yang saya temukan bahwa Pak Arif – panggilan Muhammad Arif – adalah dosen yang mendalami manajemen. Sangat tampak sekali saat saya mengikuti mata kuliah yang beliau sampaikan dimana mendemonstrasikan berbagai “manajemen” media yang sudah dipersiapkan. Ia membuat medianya di hotel. Artinya, malam harinya ia membuat media untuk ditampilkan di kelas.

 

Mahasiswa pun senang dan aktif mengikuti perkuliahan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Arif atas kesempatan dan waktunya, sehingga saya dapat belajar mengenai pengelolaan media administrasi perkantoran. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan jurusan yang telah menerima mata kuliah yanga saya ampu untuk dijadikan bahan kolaborasi. Semoga pertemuan ini memberikan manfaat kepada kedua institusi yaitu UNNES dan UM. Amin. [ ]

 

Semarang,  9 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04. 25 – 04.30 Wib.

 

• Saturday, October 15th, 2022

Silaturahim dan Diskusi Perkantoran

Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Administrasi Perkantoran yang menjadi semangat kami untuk berdiskusi di rumah Bapak Muhsin. Kami ke rumah beliau. Tidak hanya saya, tetapi keluarga pun saya ajak. Niatnya, memang silaturahim. Jadi keluarga perlu kami ajak untuk saling mengenal kepada para guru-guru saya.

 

Selain silaturahim, kami berdiskusi panjang lebar seputar ilmu administrasi perkantoran dan masa depan dari ilmu tersebut.

 

Dalam pertemuan tersebut, saya sangat senang karena bisa saling bertemu dengan guru-guru saya seperti Pak Muhsin, Bu Nanik, Pak Marimin, Bu Nina, dan guru-guru yang lain. Akrab dan intim, itu yang saya peroleh dari pertemuan tersebut.

 

Semoga apa yang didiskusikan menjadi bahan untuk bisa diselesaikan dengan baik dan menghasilkan suatu hasil yang sangat berguna bagi masyarakat dan bangsa. Amin. []

 

Semarang, 9 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04.00 – 04.05 Wib.

Silaturahim dan Diskusi Perkantoran

Oleh Agung Kuswantoro

 

Adalah Administrasi Perkantoran yang menjadi semangat kami untuk berdiskusi di rumah Bapak Muhsin. Kami ke rumah beliau. Tidak hanya saya, tetapi keluarga pun saya ajak. Niatnya, memang silaturahim. Jadi keluarga perlu kami ajak untuk saling mengenal kepada para guru-guru saya.

 

Selain silaturahim, kami berdiskusi panjang lebar seputar ilmu administrasi perkantoran dan masa depan dari ilmu tersebut.

 

Dalam pertemuan tersebut, saya sangat senang karena bisa saling bertemu dengan guru-guru saya seperti Pak Muhsin, Bu Nanik, Pak Marimin, Bu Nina, dan guru-guru yang lain. Akrab dan intim, itu yang saya peroleh dari pertemuan tersebut.

 

Semoga apa yang didiskusikan menjadi bahan untuk bisa diselesaikan dengan baik dan menghasilkan suatu hasil yang sangat berguna bagi masyarakat dan bangsa. Amin. []

 

Semarang, 9 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04.00 – 04.05 Wib.

Oleh Agung Kuswantoro

 

Adalah Administrasi Perkantoran yang menjadi semangat kami untuk berdiskusi di rumah Bapak Muhsin. Kami ke rumah beliau. Tidak hanya saya, tetapi keluarga pun saya ajak. Niatnya, memang silaturahim. Jadi keluarga perlu kami ajak untuk saling mengenal kepada para guru-guru saya.

 

Selain silaturahim, kami berdiskusi panjang lebar seputar ilmu administrasi perkantoran dan masa depan dari ilmu tersebut.

 

Dalam pertemuan tersebut, saya sangat senang karena bisa saling bertemu dengan guru-guru saya seperti Pak Muhsin, Bu Nanik, Pak Marimin, Bu Nina, dan guru-guru yang lain. Akrab dan intim, itu yang saya peroleh dari pertemuan tersebut.

 

Semoga apa yang didiskusikan menjadi bahan untuk bisa diselesaikan dengan baik dan menghasilkan suatu hasil yang sangat berguna bagi masyarakat dan bangsa. Amin. []

 

Semarang, 9 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04.00 – 04.05 Wib.

• Wednesday, October 12th, 2022

Belajar Bersama Agama

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saya mengajak kepada mahasiswa untuk belajar agama Islam. Pastinya, bagi mahasiswa yang beragama Islam. Saya ingin melanjutkan perjuangan saya setelah Madrasah (anak) dan kajian mahasiswa mengaji.

 

Memang konsepnya belajar dan mencari ilmu, bukan hal yang mudah. Namanya saja, mencari. Bukan menemukan. Kalau menemukan, pasti hasilnya berupa temuan. Tapi, kalau mencari, hasilnya belum tentu ada. Bisa jadi, malah tidak ada. Nah itulah, belajar.

 

Dengan niat lillahita’ala, saya mencoba untuk “bangkit” lagi untuk belajar dengan mahasiswa. Mohon dukungan dan doanya agar berjalan lancar. Amin. []

 

Semarang, 9 Oktober 2022

Ditulis di Rumah jam 04. 35 – 04.40 Wib.