Pendidikan Formal di Masyarakat Desa Ngadas Suku Tengger

20140402_083504  20140402_083515

ABSTRAK

Pendidikan adalah salah satu usaha manusia dalam rangka untuk mengembangkan berbagai potensi – potensi yang ada dalam dirinya. Atau dengan kata lain, hal demikian adalah suatu upaya sadar yang dilakukan manusia dalam melaksanakan proses pendidikan. Salah satu bentuknya adalah pendidikan formal yang banyak yang diselenggarakan baik pihak swasta maupun pemerintah. Agaknya hal yang demikian dapat berjalan secara sebaik mungkin dalam masyarakat apabila di dalam masyarakat tersebut sudah tertanam ideologi akan sebuah pendidikan formal yang harus di dapatkan. Ideologi yang terletak pada ranah kognitif manusia harus memiliki kesadaran akan makna, tertutama fungsinya baik laten maupun manifesnya. Masyarakat yang telah mencapai kesadaran kognitifnya tentunya memiliki persepsi tersendiri di mana tentunya pendidikan formal akan lebih dipandang sebagai sebuah kebutuhan primer. Terlepas problematikan ideologi pada ranah kognitif tersebut, kondisi kebudyaan itu tersendiri memiliki andil di dalamnya. Kultur sosial ekonomi maupun kultur sosio gerografis juga erat kaitannya pada kajian artikel ini.

Kata kunci : pendidikan formal, masyarakat

ABSTRACT

Education is one of the human effort in framework to developing various potential in human. Or in other word this thing is an effort which doing by awaraness of human in education process. On of the it’s kind is formal education which held both by government and private side. This thing can be run as well as in society, if the in society has planted the ideology of formal education must be gotten. Ideology has a place in domain of human kognitive must has a awaraness to the purpose of it, especially in it’s function both the laten and manifest functions. The society which has reached the awareness of their kognitive make sure they have their perception own where formal education definitely look as primary human need. Let from the ideology problematic in domain of kognitive, condition of it’s culture has contribution inside of it. Socio – economic culture or socio – geographic culture have the correlation in learn this article.

Keywords : formal eduction, society

PENDAHULUAN

Suku Tengger merupakan suku yang tinggal di sekitar gunung Bromo, Jawa Timur yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Desa Ngadas merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukapura berbatasan dengan Desa Wonokerto dan Desa Jetak.

Pada masyarakat Desa Ngadas mayoritas hidup dari bercocok tanam di kebun, ladang, dan lahan pertanian yang terdapat di lereng pegunungan Bromo. Sebagian kecil dari mereka berprofesi sebagai pegawai negeri, buruh, dan pengusaha jasa. Para remaja laki-laki, lebih banyak berprofesi sebagai sopir angkutan pedesaan yang menghubungkan desa-desa suku Tengger dengan desa lain di Kabupaten dan Kota Probolinggo dan Pasuruan. Sebagian menyediakan jasa transportasi dan penyewaan kendaraan bagi para wisatawan yang datang ke Gunung Bromo, yaitu kendaraan jenis jeep atau hard-top dan kuda tunggang. Sedangkan para remaja perempuan Desa Ngadas biasanya mencari kayu di hutan lereng pegunungan Bromo dan Pananjakan, serta membantu orang tua mereka berjualan disamping bekerja di lahan pertanian lereng gunung.

Masa remaja adalah masa-masa terbaik untuk mengenyam bangku pendidikan dan memperoleh berbagai pengalaman hidup. Oleh karena itu tidak dapat disangkal lagi, mereka sangat membutuhkan ilmu pengetahuan, keahlian maupun ketrampilan di samping pengetahuan umum yang dapat menjadi bekal hidup dan modal mereka nantinya baik dalam menyesuaikan diri dengan hidup yang lebih baik dan kehidupan maupun dalam memperbaiki taraf kehidupannya.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No. 20 tahun 2003). Pendidikan dibedakan menjadi tiga, yaitu pendidikan formal, informal, dan nonformal.

Pendidikan formal merupakan salah satu solusi utama untuk membentuk SDM yang berkualitas, karena dengan pendidikan memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan akademis maupun keterampilan lain yang dimiliki peserta didik sehingga dapat digunakan secara efisien untuk bekal hidupnya. Tolok ukur keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan salah satunya dapat dilihat dari cara belajar, hasil belajar, baik pada tingkat dasar maupun lanjutan merupakan masalah yang dianggap selalu penting karena merupakan suatu bentuk keberhasilan seseorang dalam belajarnya.

Salah satu fungsi pendidikan yang amat penting dan strategis adalah mendorong perkembangan kebudayaan dan peradaban pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individu, pendidikan membantu mengembangkan potensi diri menjadi manusia yang berakhlak mulia, berwatak, cerdas, dan kreatif. Selanjutnya, pendidikan juga menimbulkan kemampuan individu menghargai dan menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka dan demokratis. Dengan demikian, semakin banyak orang yang terdidik dengan baik, maka semakin dapat dijamin adanya toleransi dan kerjasama antar budaya dalam suasana yang demokratis sehingga akan membentuk integrasi budaya nasional dan regional.

Berdasarkan uraian di atas maka dalam artikel ini akan membahas tentang Persepsi Masyarakat di Desa Ngadas Suku Tengger Terhadap Pendidikan Formal serta Pendidikan Formal yang Ada di Desa Ngadas Suku Tengger. Pembahasan mengenai pendidikan formal di Desa Ngadas ini dihadirkan dengan harapan dapat menjadi sarana pembelajaran, pelestarian, pengapresiasian segala hal yang berkaitan dengan pendidikan formal di DesaNgadas.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Desa Ngadas dan Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura padatanggal 1 dan 2 April 2014. Pendekatanpenelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data meliputi: Wawancara. Wawancara ini dilakukan dengan cara komunikasi tatap muka. Dalam pelaksanaannya pewawancara membawa pedoman yang merupakan garis besar mengenai hal-hal yang akan ditanyakan, adapun narasumber peneliti wawancarai meliputi: Kepala SDN WonokertoIbu Su Erlina,beberapa murid SDN Wonokeroyaitu :Zaski (kelas 4 SD) dan Geofani (kelas 5 SD), dan beberapa masyarakat yang kami temui saat penelitian. Selain itu, untuk memperkuat data yang dicari, peneliti mengambil beberapa gambar dan melakukan observasi.

Sumber data dalam penelitian ini meliputi data primer. Sumber data primer dari penelitian ini adalah dari Kepala SDN Wonokerto dan warga Desa Ngadas dan Wonokerto. Data sekunder dalam penelitian ini adalah buku, jurnal, sumber internet yang berkenaan dengan penelitian ini. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi: 1) pengumpulan data, dapat diperoleh dari hasil wawancara dan observasi dari Kepala SDN Wonokerto dan warg Desa Ngadas dan Wonokerto, 2) penyajian data, penyajian data dalam laporan penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif. Penyajian data disajikan dalam bab deskripsi hasil penelitian dan analisis hasil pembahasan, 3) penarikan kesimpulan, penarikan kesimpulan dari penelitian ini dilakukan dengan melihat objek penelitian yaitu di desa Ngadas dan Wonokerto.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persepsi Masyarakat di Desa Ngadas Suku Tengger Terhadap Pendidikan Formal

Penduduk suku Tengger sudah modern dan sejahtera dari kehidupan perekonomian sebagai petani yang tanaman komoditas utamanya adalah sayuran, tetapi di bidang pendidikan masih tergolong kurang memadai. Hal ini terlihat dari data penduduk mengenai pendidikan. Pendidikan yang paling tinggi di Desa Ngadas yaitu S1 hanya ada 3 orang, sedangkan tingkat SMA ada 62 orang baik yang masih menempuh maupun yang sudah lulus. Untuk tingkat SMP ada 120an orang, selebihnya pada tingkat SD, belum sekolah atau bahkan tidak sekolah.Selain itu, bangunan sekolah yang masih kurang layak untuk masyarakat anak-anak Tengger.

Letak Desa Ngadas dan Desa Wonokerto bersebelahan, tetapi pandangan masyarakat tentang pendidikan berbeda. Di desa Ngadas masyarakat yang sadar akanpentingnyapendidikanmasihsedikit, untukmenyekolahkananaknya paling tinggisampaitingkat SMA. Walaupundarisegiekonomimasyarakatnyasejahtera, tetapiuntukmenyekolahkansampaikeperguruantinggihanyabeberapa orang saja tergantungdarikesadaran orang tua.

            Hal ini diungkapkan oleh salah satu warga yang merupakan siswa SMPN 7 Sukapura : “Saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke pergurun tinggi karena melalui pendidikan yang tinggi saya dapat memperoleh pekerjaan yang lebih layak, namun semua itu tergantung dari orang tua saya mau membiayai atau tidak”

Sedangkan di Desa Wonokerto, masyarakat sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Tingkat pendidikan di desa ini sudah tinggi karena banyak warga di Desa Wonokerto yang menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Bahkan di Desa Wonokerto masyarakatnya berlomba-lomba menyekolahkan anak setinggi-tingginya. Masyarakat Desa Wonokerto menganggap bahwa semakin tinggi kemampuan keluarga menyekolahkan anak-anaknya semakin tinggi pula status sosial dalam masyarakat.

Masyarakat Desa Ngadas mayoritas bekerja sebagai petani dengan pendapatan rata-rata mencapai Rp 2.000.000,00 per bulan. Namun, pandangan masyarakat tentang pendidikan masih sangat kurang. Banyak orang tua yang menganggap pendidikan bukan prioritas utama, tetapi lahan pertanian yang harus lebih diutamakan. Ideologi masyarakat yang tertanam kuat mengenai pendidikan tersebut menyebabkan banyak orang tua menyekolahkan anaknya paling tinggi sampai tingkat SMA. Setelah anak-anak tamat sekolah, secara tidak langsung mereka dituntut oleh orang tuanya untuk membantu menggarap lahan pertanian.

Tetapi, masyarakat yang sudah sadar akan pentingnya pendidikan mulai menyekolahkan anaknya sampai tingkat perguruan tinggi, walaupun di Desa Ngadas hanya ada 3 orang yang sedang belajar di perguruan tinggi. Harapan orang tua yang menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi adalah agar kehidupan anaknya lebih baik dari pada kehidupan orang tuanya.

Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Nunik bahwa: “ Harapan saya menyekolahkan anak saya di perguruan tinggi agar nantinya kehidupan anak saya lebih dari saya sekarang yang minim pendidikan”. Contoh kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan yaitu pada syarat mendaftar sebagai kepala desa dan dukun adat, dimana ditetapkan minimal pendidikannya lulusan SMA. Jika seseorang tidak bersekolah sampai tingkat SMA maka orang itu tidak bisa mendaftar kepala desa atau dukun adat.

Pendidikan Formal yang Ada di Desa Ngadas Suku Tengger

Di desa Ngadas tidak terdapat pendidikan formal. SD, SMP, dan SMA berada di luar desa. Pada tingkat SD, anak-anak desa Ngadas harus bergabungdengan anak-anak desa Wonokerto, yaitu di SDN Wonokerto. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk di Desa Ngadas yang sedikit, sehingga tidak memungkinkan untuk didirikan suatu sekolah dasar. Meskipun sekolah dasar tersebut siswanya sudah digabung, tetapi jumlah mereka masih sedikit. Jumlah keseluruhan siswa di SDN Wonokerto adalah 81 siswa, dimana setiap kelas hanya terdapat belasan siswa. Fasilitas, sarana dan prasarana, serta jumlah tenaga pengajar di sekolah dasar tersebut belum memadahi.

Fasilitas di SDN Wonokerto hanya memiliki laptop dan komputer. Bantuan pemerintah hanya terpusat pada perpustakaan saja. Sedangkan, penunjang pendidikan bukan hanya dari buku saja melainkan dari peralatan lain seperti alat peraga. Tenaga pengajar di SDN Wonokerto berasal dari kecamatan Sukapura. Jumlah karyawan di SDN Wonokerto ada 9 orang yang meliputi kepala sekolah, guru mata pelajaran, dan penjaga sekolah. Pegawai Negeri Sipil di sekolah tersebut hanya tiga orang dan enam orang lainnya sebagai guru tidak tetap. Kekurangan tenaga pengajar ada pada mata pelajaran olah raga. Pada saat pelajaran olah raga, siswa hanya belajar sendiri atau terkadang dibantu oleh penjaga sekolah. Meskipun ada keterbatasan tenaga pengajar, tetapi siswa-siswi tetap bisa berprestasi dengan masuknya tim bola voli ke tingkat provinsi. Selain tenaga kerja yang kurang, ada juga guru yang kekurangan jam mengajar. Jam mengajar guru dalam seminggu adalah minimal 24 jam dan maksimal 40 jam, hal ini seperti yang ada dalam UU nomor 14 tahun 2005 pasal 35 ayat 2 yang mewajibkan beban kerja guru minimal 24 jam tatap muka perminggu dan maksimal 40 jam tatap muka perminggu. Sehingga, untuk memenuhi jam mengajar guru tersebut mencari tambahan jam mengajar dan mendapatkan nya di Yayasan. Pembelajaran tidak hanya dilakukan di pagihari, melainkan di sore hari seperti adanya ekstra kulikuler seperti ekstra tari, lukis, pramuka, dan batik.

Kurikulum yang digunakan di SDN Wonokerto masih memakai KTSP. Hal ini tidak sesuai yang disampaikan Mendikbud M. Nuh melalui surat bernomor: 0128/MPK/KR/2013 tertanggal 5 Juni 2013, yang ditujukan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.“Untuk tahun pertama implementasi Kurikulum 2013, pemerintah melaksanakan secara bertahap dan terbatas, mencakup 6.325 sekolah sasaran yang tersebar di seluruh provinsi dan 295 kabupaten/kota,” tulis M. Nuh.

Namun, Sosialisasi kurikulum 2013 di Kabupaten Probolinggo belum merata, baru kepala sekolah yang mendapatkan sosialisasi kurikulum 2013 sedangkan para guru akan mendapat sosialisasi dari kepala sekolah bulan April ini yang belum jelas kapan tanggalnya. Kurikulum 2013 akan digunakan mulai tahun ajaran baru besok. Selama ini di SDN Wonokerto penggunaan KTSP tidak ada hambatan dikarenakan para guru membuat sendiri kurikulum dan silabus. Apabila diterapkan kurikulum 2013 hambatannya terjadi pada kelas 4,5,6 dan kelas 1,2,3 tidak ada hambatan. Hambatan tersebut, guru harus membuat tematik sendiri. Selain itu, belum ada buku panduan kurikulum 2013 yang digunakan untuk mengajar.

Kebijakan pemerintah seperti adanya BOS hanya mampu memberi sarana pembelajaran seperti buku yang dipinjamkan kepada siswa. Tetapi untuk buku tugas atau lembar kerja siswa masih dikenai biaya. Dan untuk SPP siswa hanya dikenakan Rp 16.000,00 per bulan.

Untuk anak-anak Desa Ngadas yang belajar kejenjang SMP dan SMA, mereka harus pergi ke kecamatan atau kabupaten dengan menempuh jarak yang jauh menggunakan sepeda motor atau taksi (di daerah lain disebut dengan shutle). Tetapi ada juga yang ngekos dan pulang seminggu sekali karena jarak yang jauh. Selama ini tidak ada hambatan untuk memperoleh pendidikan baik dari faktor ekonomi, transportasi, akses jalan, dsb.

Ada pula anak-anak yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Mereka yang melanjutkan kuliah memilih mengambil perguruan tinggi di daerah Malang dan Bali. Dikarenakan di desa tersebut mayoritas pekerjaannya petani dan adanya pariwisata maka mereka mengambil jurusan pertanian dan pariwisata.

Penyebab rendahnya tingkat pendidikan di Desa Ngadas dan Wonokerto sebenarnya bukan pada masalah keuangan, namun sarana dan prasarana lembaga pendidikan yang masih rendah, kurangnya lembaga pendidikan di daerah Suku Tengger, jarak antara rumah dengan sekolah yang jauh, dan persepsi masyarakat terhadap pendidikan masih rendah.

Dengan demikian sesuai dengan konsep Brosnilaw Malinowsky (1884 – 1942), seorang pendekar Antropologi yang tereknal memperkenalkan teori Fungsionalisme yang memiliki hipotesa dasar, bahwasannya segala akivitas kebudayaan sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah pelbagai kebutuhan (A. Scientific Theory Culture and Other Essay.1944). Pendidikan formal hadir di Desa Ngadas dan Wonokerto bila dilihat dari persepektif Fungsionalisme maka pendidikan dapat dianggap sebagai kebudyaan (culture) sebagai rangkaian kebutuhan manusia (masyarakat desa Ngadas) akan sebuah pendidikan terutama pendidikan formal. Di mana kebudyaan (pendidikan) tersebut memberikan fungsi – funsgi bagi masyarakat. Atau dapat digeneralisasi dengan bagiaman pendidikan formal yang demikian dapat memberikan kontribusi fungsi – fungsi terhadap masyarakat dalam rangka memenuhi rangkaian pelbagai kebutuhannya. Namun teori Fungsionalisme hanya memberikan batasan bagaimana kebudayaan dalam hal ini pendidikan memeberikan atau berkontribusi terhadap masyarakatnya, desa Ngadas dan Wonokerto.

KESIMPULAN

Pendidikan merupakan salah satu solusi utama untuk membentuk SDM yang berkualitas, karena dengan pendidikan memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan akademis maupun keterampilan lain yang dimiliki peserta didik sehingga dapat digunakan secara efisien untuk bekal hidupnya. Namun pandangan masyarakat di Desa Ngadas yang sadar akan pentingnya pendidikan masih sedikit, untuk menyekolahkan anaknya paling tinggi sampai tingkat SMA.Sedangkan di Desa Wonokerto, masyarakat sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Tingkat pendidikan di desa ini sudah tinggi karena banyak warga di Desa Wonokerto yang menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.

Di desa Ngadas tidak terdapat pendidikan formal. SD, SMP, dan SMA berada di luar desa. Pada tingkat SD, anak-anak desa Ngadas harus bergabung dengan anak-anak desa Wonokerto, yaitu di SDN Wonokerto. Fasilitas, sarana dan prasarana, serta jumlah tenaga pengajar di sekolah dasar tersebut belum memadahi. Rendahnya tingkat pendidikan di Desa Ngadas dan Wonokerto disebabkanoleh sarana dan prasarana lembaga pendidikan yang masih rendah, kurangnya lembaga pendidikan di daerah Suku Tengger, jarak antara rumah dengan sekolah yang jauh, dan persepsi masyarakat terhadap pendidikan masih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

http://birokrasi.kompasiana.com/2014/02/17/beban-mengajar-guru-bersertifikat-profesi-633849.html

http://www.kopertis12.or.id/2013/06/07/surat-mendikbud-tentang-implementasi-kurikulum-2013.html

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas/

Koentjaraningrat.2009.Sejarah Teori Antropologi1.Jakarta: UI Press

Sutrisno, Mudji dan Hendar Pranoto.2005.Teori-Teori Kebudayaan.Yogyakarta: Kansius

8 comments to Pendidikan Formal di Masyarakat Desa Ngadas Suku Tengger

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: