Monthly Archives: November 2015

Curhatku untuk mahsiswa #2

Hei Mahasiswa, katanya mau konservasi, tapi kok masih buang sampah sembarangan? Katanya konservasi, tapi kok masih aja nggak mau ngrawat tanaman? Begitulah sekarang perkataan memang lebih mudah dari pada melakukannya.

Tren dikalangan mahasiswa kali ini adalah naik-naik ke puncak gunung, terus foto bersama selembar kertas yang ditulis untuk seseorang, habis itu apa yang mereka lakukan? Setelah mereka foto kertas itu hanya tergeletak dan menjadi sampah di puncak gunung, apa itu mahasiswa? Kebanyakan pelakunya adalah mahasiswa. Katanya ke gunung mau mensyukuri nikmat Allah SWT, tapi kok seenaknya ya buang sampah di sana, kalau mensyukuri harusnya juga menjaga dan merawatnya. Banyak kasus yang terjadi gunung-gunung sudah banyak dengan sampah yang diwa oleh pendaki. Malah lebih parahnya lagi yang memunguti sampah dan membawanya ke bawah adalah orang-orang dari luar negeri, rasanya itu maluuu banget.

Apa sih tugas mahasiswa sebenarnya, tentu mencerdaskan anak bangsa ya, tapi itu bagi calon guru. Kemudian memberikan kontribusi di dalam masyarakat, membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Tapi bagaimana keadaan sekarang? Hanya sebagian kecil saja yang ikut andil dan berkontribusi nyata. Terus yang lainnya kemana? mungkin mereka sibuk belajar untuk mencerdaskan anak bangsa #amiinnn…

Mahasiswa dan Universitas itu menjadi rumah ilmu bagi bangsa ini. Mereka harus menjadi contoh pada masyarakat Indonesia khususnya, dan jika sebagai contoh maka mahasiswa dan Universitas harus lebih memperhatikan perbuatannya, karena jika mahasiswa dan Universitas salah dalam melangkah maka masyarakatpun juga dipastikan akan ikut salah melangkah

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan

Cerpen : RATU LANGIT

Penduduk desa khawatir akan tiba bencana yang besar di desanya, bagaimana tidak di atas langit sana terdapat dua ratu yang saling bermusuhan. Mereka berdua adalah Ratu Cerah dan Ratu Mendung. Kedua ratu ini tidak bisa akur entah apa sebabnya. Mereka hanya mementingkan ego masing-masing.

“Hei Ratu Cerah, aku ingin awan mendungku yang akan menutupi desa ini.” kata sang Ratu Mendung pada Ratu Cerah.

“Enak saja, kamu pikir desa ini milikmu saja. Sebaiknya kamu yang pergi… penduduk desa ini sangat menyukai awan ku yang putih seperti kapas tidak seperti punyamu yang hitam menakutkan.“ ejek Ratu Cerah dengan berkacak pinggang.

DDUUUAARRRRRR………….

Petir menyambar-nyambar di langit, menandakan Ratu Mendung sangat marah. Tanpa diketahui Ratu Mendung, petir yang dihasilkannya menyambar sebatang pohon besar, pohon itu pun terbakar dan jatuh berguling-guling menuju ke rumah penduduk desa. Penduduk pun lari keluar rumah menyelamatkan diri, tak berapa lama banyak rumah penduduk yang hangus terbakar. Penduduk desa sedih dan kecewa, harta benda mereka telah hangus terbakar. Mereka bingung bagaimana untuk menyelesaikan pertengkaran antara Ratu Cerah dan Ratu Mendung.

“Pak Kepala Desa bagaimana ini ? Saya sudah tidak punya rumah, rumah saya hangus terbakar.“ tanya salah satu penduduk yang kehilangan rumahnya kepada Pak Kepala Desa.

“Sementara ini Bapak dan Ibu yang rumahnya terbakar bisa mengungsi di Balai Desa terlebih dahulu, dan besok kita bersama-sama membangun rumah kalian yang telah hangus terbakar.“ saran Pak Kepala Desa dengan bijak.

Penduduk sangat resah terhadap perilaku kedua ratu langit tersebut. Setiap hari ada saja pertengkaran yang terjadi.

Penduduk desa dan Pak Kepala Desa bermusyawarah untuk menyelesaikan perkara ini, mereka telah menemukan cara untuk mendamaikan kedua ratu langit.

Keesokan pagi, kedua ratu langit sedang bertengkar, sekarang Ratu Cerah yang sangat marah dengan Ratu Mendung.

“Ratu Mendung ada apa dengan mu ? Mengapa kamu mengirim awan mendung di atas awan milikku ?” ujar Ratu Cerah marah.

“Terserah aku donk ! Salah siapa awan mu menghalangi jalan awan ku.“ jawab Ratu Mendung sombong.

Kemarahan Ratu Cerah mengakibatkan cuaca hari itu sangat cerah hingga membuat penduduk di bawahnya merasa kepanasan.

Akhirnya penduduk dan Pak Kepala Desa menuju bukit, tempat yang paling tinggi di desa itu. Mereka ingin bertemu dengan kedua ratu langit.

“Selamat pagi Ratu Cerah dan Ratu Mendung, saya mewakili penduduk desa ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.“ kata Pak Kepala Desa dengan sopan.

“Ada apa kamu semua ingin bicara dengan kami ?“ Tanya Ratu Mendung.

“Maafkan kami para ratu, kami semua merasa dirugikan akibat pertengkaran kalian di langit, rumah kami terbakar karena petir yang di buat oleh Ratu Mendung, kami merasa kepanasan saat Ratu Cerah marah, dan juga tanaman kami tidak tumbuh dengan baik karena cuaca yang berubah-ubah. Kami semua ingin kalian berdamai, jikalau boleh kami ketahui ada masalah apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian para ratu ?“ tanya Pak Kepala Desa dengan hati-hati.

“Owh jadi itu maksud kalian ingin bertemu dengan kami. Kami ingin awan kami masing-masing yang menutupi desa kalian, kami saling berebut hingga menimbulkan kemarahan kami sendiri.“ jawab Ratu Cerah dengan lembut.

“Kami bingung membagi waktu untuk bergantian menutupi desa kalian. Kami minta maaf kalau kemarahan kami berimbas pada kalian penduduk desa.“ kata Ratu Mendung menyesal.

“Tak apa para ratu, kami hanya ingin kalian berdamai, kami akan berusaha untuk memberikan solusi yang terbaik untuk kita bersama, kami telah merundingkan solusinya, bagaimana jika Ratu Cerah menyelimuti desa kami pada bulan April sampai September, dan Ratu Mendung menyelimuti desa kami pada bulan Oktober sampai Maret ?“ tanya Pak Kepala Desa memberikan solusi.

Para Ratu Langit kemudian berunding. Tak berapa lama para ratu pun selesai, mereka menyetujui usulan dari Pak Kepala Desa.

Beberapa bulan kemudian desa itu pun sangat makmur, tanaman-tanaman tumbuh dengan subur, sesekali setelah hujan turun dan kembali cerah muncul pelangi yang sangat indah, inilah hasil dari kedamaian diantara para ratu langit. Para penduduk pun bahagia selama-lamanya. Inilah indahnya perdamaian seindah pelangi diatas langit sana.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan

Universitas Konservasi #1

Sering kali kita mendengar mahasiswa yang berkoar-koar tentang Universitas Konservasi. Dan disinilah kita menimba ilmu, tapi apa sih maksud dan arti dari Universitas konservasi itu? Apa sudah pahamkah kita tentang universitas Konsevasi? Saya yakin masih banyak mahasiswa yang belum paham maksud dan arti dari Universitas konservasi. Disini kita akan belajar tentang Universitas konservasi.

Akhir-akhir ini banyak sekali perusakan-perusakan alam yang pelakunya adalah manusia. Allah telah menciptakan manusia itu sebagai khalifah dimuka bumi ini yang harus menjaga kelestarian bumi bukan malah merusaknya, dan akhirnya alam pun memblasnya. Di Riau kabut asap sangat pekat dan mencapai tahap sangat berbahaya. Pohon – pohon yang ada di hutan kalimantan pun ikut merasakan egoisnya manusia.

Dari sinilah wajib kita berkontribusi untuk ikut andil dalam konservasi. Tapi dalam Universitas Konservasi ini tidak hanya tentang konservasi alam tetapi juga moral, seni, budaya, dan lain sebagainya. Untuk mengetahui lebih lanjut kita harus mengetahui 7 pilar konservasi.

  • Pertama keaneka ragaman hayati (biodiversitas)

Bertujuan untuk melakukan perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengembangan secara arif dan berkelanjutan terhadap lingkungan hidup, flora dan fauna (https://lailatulfitriyah6.wordpress.com/2015/03/21/tujuh-pilar-konservasi-konservasi-unnes/) di Unnes sendiri sebagai Universitas konservasi telah melakukan biodiversitas yaitu telah membangun rumah kupu-kupu sebagai sarana untuk melestarikan kupu-kupu, kemudian juga sebagai sarana belajar bagi anak-anak yang berkunjung disana.

  • Arsitektur hijau dan transportasi internal

Disini Unnes telah melakukan pembibitan dan penghijauan di halaman kampus Unnes khususnya. Apabila kita berjalan dari gedung satuke gedung lainnya kita tidak akan merasa kepanasan karena memang telah ada pohon-pohon yang akan meneduhkan kita disepanjang jalan. Walupun masih ada yang belum banyak pohon tapi rata-rata pohon besar sudahmenyeluruh penanamannya.

  • Pengelolaan limbah

Karena di Unnes sendiri telah banyak pohon yang ditanam dan bahkan menjadi hutan mini di antara fakultas mipa dan fakultas bahasa dan seni, maka tidak heran banyak sampah organik daun berserakan dimana-mana. Untuk memanfaatkan ini, maka pihak Unnes sendiri telah membangun rumah kompos sebagai fungsi membuat pupuk dari sampah organik.

  • Kebijakan nirkertas

Kebijakan yang melakukan program dimana meminimalisir adanya kertas sehingga penggunaan kertas tidak akan banyak dan berharap dapat melestarikan pohon-pohon hutan.

  • Energi bersih
  • Konservasi etika, seni dan budaya
  • Kaderisasi Konservasi

Telah dijabarkan semoga dengan adanya 7 pilar konservasi dapat membuat Unnes dan mahasiswa Unnes khususnya sebagai rumah ilmu yang dapat melestarikan kehidupan bumi ini dan juga dapat memberikan inovasi-inovasi terbarukan demi kepentingan masyarakat dan bangsa.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.

Kain Rajut Simbah

“Uhuk-uhuk.” aku terbatuk saat debu-debu beterbangan setelah ku kibas kain rajut yang aku ambil di lemari tua yang sudah dimakan usia, aku ingat lemari berwarna coklat susu itu ku gunakan menyimpan baju–baju ku di saat usia ku masiih berumur 8 tahun. Mataku kembali memperhatikan kain rajut yang sedang aku pegang terlihat kusam dan penuh debu, Aku baru tersadar bahwa itu adalah kain yang aku buat bersama simbah, terlihat coraknya yang sebagian lebih bagus dan rapi, dan sebagian lagi tak beraturan, ya memang bagian yang tak beraturan itu adalah bikinanku dan yang lebih bagus adalah bikinan simbah.

Terbayang-bayang memoriku bersama simbah, saat berumur 9 tahun aku meminta kepada simbah untuk mengajari cara merajut, walaupun susah aku tetap bersemangat.

“Nduk mbok uwis leh ngrajut di rampungke sesuk wae, wis bengi iki ndang turu.” Kata simbah sambil mengambil rajutan yang ada di tangan ku

“Halah….simbah ki lho gek seru ki mbah, hoaamm…” kata ku sambil menguap.

“Kae to wis ngantuk, ayo ndang turu mengko di seneni ibu bapak mu lho.” Kata simbahku sambil menggandeng tanganku menuju kamar ku.

Karena mengantuk aku menurut saja saat tangan simbah menggandeng tanganku. Setelah sampai di kamar aku langsung meletakkan badanku di atas kasur, disaat itu pula simbah menutupiku dengan selimut.

“Mbah mbok sekali-kali simbah bobok sama aku! Disini!” kataku sambil menepuk-nepuk kasur.

“Yo ra iso to nduk wong kasur mu iku cilik mengko nek ambrol ora sido turu, njuk kepriwe.” Kata simbah sambil mengelus rambutku.

“Gak pa pa mbah, nih masih cukup kan buat simbah.” Aku menggeser badanku sampai kira-kira simbah bisa tidur denganku,

“Yo wis simbah nunggu ning kene wae yo.” Kata simbah dengan menarik kursi belajar ku untuk di dudukinya.

“Horeee….tapi mbah aku di garuki ya, ben cepet bubuk.” Kata ku sambil membelakangi simbah.

“Yo kene punggung to sing di garuki?” kata simbah mulai menggaruk punggungku.

Aku sudah tidak bisa menjawab lagi hanya kepala ku sajalah yang bisa mengangguk.

Setelah pagi tiba terlihat kain rajutku yang semalam terletak di meja ruang tv sudah selesai dirajut dengan baik.

Dalam hati ku “pasti simbah yang bikin.”

“Simbaaah……pasti simbah ya yang nyelesai-in rajutan ku?”

Aku selalu tersenyum saat mengenang peristiwa ini, karena peristiwa ini aku merasa simbah ada di dekat ku selalu.

Tetapi aku juga merasa sedih simbah sekarang hanya ada di bayang-bayangan ku saja sekarang dia tidak lagi nyata. Aku bergegas untuk mencuci kain rajutan itu. Dan akan ku pakai besok saat kuliah.

Esok harinya di kampus, aku senang sekali saat memakai kain rajut ini. Kain rajut ini tidak seperti kain rajut biasa, model nya yang seperti rompi dan bernuansa modern saat ku padankan dengan baju ku. Dan kain rajut ini juga membuat ku merasa lebih dekat dengan simbah.

“Rompi mu bagus Dhill, beli dimana?” tanya Dea saat bertemu denganku di lorong kampus. Dea adalah temanku dari kecil, Dea juga kenal baik dengan simbah ku.

“Aku nggak beli kok? Emang beneran bagus ya?” jawabku sambil memperhatikan bajuku.

“Serius bikin sendiri? Aku ajari juga donk!”

“Boleh, tapi aku sedikit lupa nih cara bikinnya.”

“Emang kapan kamu bikinnya Dhill?”

“Waktu umurku 9 tahun.”

“Hah? Lama amat, kamu inget-inget dulu deh cara bikinnya!”

“Iya deh, hmm..masuk yuk” tak terasa kelas sudah ada di depan mata, kami pun masuk dan duduk berdampingan.

Aku tak mengira kalau teman-teman kampusku merespon positif kain rajut ini, banyak dari mereka memuji dan malah ingin membelinya.

Aku hari ini berniat untuk mengunjungi makam simbah setelah pulang kuliah. Tak lupa aku membeli bunga terlebih dahulu di toko bunga. Sesampainya ditoko bunga aku bertemu dengan seorang cowok yang familiar dan seumuran denganku, tapi aku tak ingat itu siapa.

“Hmm…bajunya bagus mbak.”

“Makasih mas.” Aku tersipu.

“Buat sendiri?”

“Iya.”

“Baru pertama kali saya melihat baju yang anda kenakan. Oh iya perkenalkan saya Rudi Lou, boleh saya meminta nomor telepon anda? Mungkin kita bisa membuat bisnis bersama.”

“Maaf Rudi Lou yang desainer itu ya? Oh tentu boleh.”

Tak kusangka aku bertemu dengan desainer terkenal, dan dia mengajakku berbisnis bersama.

Sesampainya di makam simbah. Aku menceritakan semua yang aku alami itu di depan makam simbah, dan berterimakasih atas pelajaran merajutnya simbah, karena kesabaran simbah aku bisa merajut, dan dengan kain rajutan itu aku bisa menuju dunia perbisnisan yang telah lama aku impikan.

Terimakasih simbah, aku bangga dan bahagia punya simbah seperti simbah ku semoga semua pelajaran dari simbah untuk ku bisa aku tularkan kepada orang lain. Dan semoga simbah bahagia di samping Allah SWT. Terimakasih simbah, aku sayang simbah

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.

Bagaimana satelit buatan diluncurkan dan dapat mengorbit sesuai orbitnya?

Satelit buatan tentu saja berbeda dengan satelit alami seperti bulan yang mengelilingi bumi. Satelit buatan diluncurkan ke luar angkasa oleh manusia dengan melakukan pengontrolan dari bumi. Tapi bagaimanakah cara satelit buatan ini meluncur ke luar angkasa dan berputar mengelilingi bumi? Mengapa bisa satelit buatan tidak jatuh ke bumi? Dan berapa kecepatan dari satelit buatan ini? Disini kita akan membahas satu per satu.

Manusia di bumi jika akan meluncurkan satelit ke luar angkasa menggunakan roket yang digunakan untuk membawa muatan dari bumi enuju luar angkasa. Sebuah roket harus  memiliki kecepatan minimal 25.039 mph untuk benar-benar keluar dari gravitasi  bumi, mungkin apabila kurang dari keepatan itu roket tidak akan bisa keluar dari gravitasi bumi. Pada mulanya roket meluncur ke lur angkasa dengan jarak 100 – 200 km diatas permukaan bumi. Kemudian setelah di ketinggian orbit telah ditentukan, biasanya berada pada Orbit Geostationer, roket mulai menuju kesamping dengan kecepatan hingga 18.000 mil per jam. Menurut Jonathan McDowell, astronom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts, agar satelit buatan dapat tetap pada lintasannya, maka satelit tersebut harus memiliki gaya-gaya seperti yang dimiliki bulan. Perbedaannya gaya tarik bumi yang menarik satelit buatan lebih besar daripada yang menarik bulan, karena letak satelit itu lebih dekat ke bumi dari pada ke bulan. Kemudian letak peluncuran harus mempunyai lahan yang luas dan terletak di dekat khatulistiwa ke arah timur agar dapat memanfaatkan kecepatan rotasi bumi (465 m/s) secara maksimum dan merupakan orientasi yang baik untuk menuju sebuah orbit geostationer

Untuk mendapatkan keseimbangan, antara gaya tarik bumi dan gaya gerak menjauh itu, satelit buatan harus bergerak lebih cepat daripada bulan. Jika satelit bergerak terlalu lambat, maka satelit itu akan jatuh kembali ke bumi. Sebaliknya, jika terlalu cepat, maka satelit itu akan terlepas dari gaya tarik bumi. Keseimbangan antara kedua gaya itu dapat dicapai jika kecepatan satelit itu sekitar 40.000 km/jam. Pada kecepatan itu, satelit akan tetap beredar mengelilingi bumi. Sesuai persamaan berikut ini:

Vsatelit =        , dengan V= kecepatan satelit mengelilingi bumi

g= medan gravitasi bumi senilai g = GM/R*2

M= massa bumi

R= radius bumi

Kecepatan yang dibutuhkan tergantung pada ketinggian satelit karena geometri satelit Bumi dan karena tingkat di mana satelit jatuh ke bumi tergantung pada kekuatan gravitasi di ketinggiannya.

Kecepatan orbital adalah kecepatan yang dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan antara tarik gravitasi bumi pada satelit dengan inersia  dari gerakan satelit. Tanpa gravitasi , inersia satelit akan membawanya ke ruang angkasa. Jika satelit beredar terlalu cepat maka  akhirnya satelit akan    terbang jauh  dan sebaliknya jika satelit beredar terlalu lambat maka gravitasi kana menariknya kembali ke bumi.

Gerak satelit dapat dilihat sebagai menciptakan gaya sentrifugal yang menentang daya tarik gravitasi. Sebagai contoh, bayangkan melampirkan obyek ke string dan berayun dalam lingkaran. Tujuannya menarik keluar terhadap string, dan bahwa kekuatan luar (gaya sentrifugal) menjadi lebih besar semakin cepat ayunan objek. Pada kecepatan yang tepat, gaya sentrifugal dari satelit karena gerak mengelilingi bumi hanya menyeimbangkan tarikan gravitasi, dan satelit tetap di orbit.

Karena tarikan gravitasi tumbuh lebih lemah lebih lanjut satelit adalah dari bumi, gaya sentrifugal yang diperlukan untuk menyeimbangkan gravitasi juga menurun dengan jarak dari Bumi. Semakin tinggi orbit satelit, semakin rendah kecepatan orbitnya.

Bergantian, satelit dapat dilihat sebagai terus jatuh menuju pusat bumi. Namun, karena satelit juga bergerak sejajar dengan permukaan bumi, bumi terus kurva jauh dari satelit. Dalam orbit melingkar, kecepatan satelit adalah persis apa yang dibutuhkan sehingga terus jatuh tapi terus jarak konstan dari Bumi. Kecepatan yang dibutuhkan tergantung pada ketinggian satelit karena geometri satelit Bumi dan karena tingkat di mana satelit jatuh ke bumi tergantung pada kekuatan gravitasi di ketinggiannya. Jadi semakin jauh ketinggian satelit maka semakin rendah kecepatan orbitalnya.

Kecepatan orbital satelit tergantung ketinggiannya di atas bumi. Semakin dekat ke bumi maka semakin cepat kecepatan orbital yang diperlukan.  Pada ketinggian 124 mil, kecepatan orbital yang diperlukan adalah lebih dari 17000 mph. Untuk mempertahankan orbit di ketinggian 22.223 mil di atas bumi diperlukan kecepatan orbital satelit  sebesar  7000 mph.

 

 

Pada grafik diatas dimana periode orbit terhadap ketinggian dapat diketahui bahwa semakin tinggi satelit di luar angkasa maka semakin besar pula periode orbitnya. Untuk orbit ketinggian rendah (ketinggian beberapa ratus kilometer), periode adalah sekitar 90 menit; pada ketinggian yang lebih tinggi, periode meningkat. Sejak satu hari kira-kira 1.440 menit, plot menunjukkan bahwa satelit di ketinggian sekitar 36.000 kilometer mengorbit sekali sehari-pada tingkat yang sama bumi berputar. Orbit tersebut disebut geosynchronous. Sebuah satelit ditempatkan di orbit geosynchronous di atas khatulistiwa adalah unik karena itu tetap di atas titik yang sama di bumi. Orbit geostasioner tersebut memiliki kegunaan penting.

Satelit tetap di orbit dan tidak jatuh kembali ke bumi dikarenakan efek dari kekuatan Sentrifugal seperti berputar mengelilingi bumi.   Satelit di ruang angkasa juga mengalami tarikan dari gravitasi matahari  yang cenderung menarik satelit keluar dari orbitnya tetapi  diseimbangkan dengan adanya roket pendorong yang secara berkala ditembakkan/diaktifkan  dan membakar propelan khusus  untuk menghasilkan gas.  Gas  tersebut  yang memindahkan satelit seperti balon berisi  udara akan bergerak jika beberapa udara  yang dikeluarkan. Sesuai dengan Hukum Newton ketiga. Gerakan-gerakan tersebut kecil  tetapi membantu  menjaga satelit agar tetap  pada posisi orbit. Propelan (bahan bakar roket) digunkan oleh roket  untuk 10-15 tahun dan menentukan masa guna satelit. Menjelang  akhir   masa  guna satelit , operator satelit dapat memperpanjang  umur satelit  dengan melestarikan propelan  dan memungkinkan  satelit perlahan tertidur saja.

 

 

Reference :

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.